Kabar Terkini
Home » 2013 » March

Monthly Archives: March 2013

Bahasa, Buku, dan Listrik Harus Menjadi Perhatian di Jagoi Babang

dedyPenulis: Dedy Ari Asfar

MABMonline.org, Bengkayang–“Pengaruh bahasa Malaysia cukup tinggi, misal basikal, kasut, beg, sain, dan buk sering siswa ucapkan dalam lingkungan sekolah,” ujar Sabinus K, S.Pd. wakil kepala sekolah bidang kurikulum SMPN I Jagoi Babang saat ditemui di ruangannya (9/27/2012). Masalah lain dalam pembelajaran di sekolah-sekolah perbatasan adalah listrik dan buku. Dampaknya siswa dan guru tidak dapat melaksanakan proses belajar mengajar yang efektif. Tambahan lagi, teknologi informasi dan multimedia tidak dapat diterapkan maksimal dalam pembelajaran di sekolah.

Sabinus yang juga Ketua PGRI Jagoi Babang ini mengeluhkan listrik yang sering byar pet saat mengajar menggunakan multimedia. Lebih lanjut Sabinus mengemukakan bahwa pembelajaran teknologi informasi pun kerap tidak bisa dilaksanakan dengan maksimal akibat keterbatasan daya listrik di sekolah. Keluhan sama juga disampaikan Join, S.Pd. tentang SMPN 3 Jagoi Babang tempatnya mengajar yang masih belum dialiri listrik.

Selain masalah listrik masalah buku juga menjadi persoalan yang sangat memprihatinkan. Terutama buku sebagai penunjang dan pelengkap dalam pembelajaran siswa di sekolah. Sabinus menegaskan buku menjadi kebutuhan yang mendesak untuk ditambah. Terutama buku-buku bagi koleksi perpustakaan sekolah. Pernyataan senada juga diungkapkan Kepala Sekolah SMPN 3 Jagoi Babang Join, S.Pd. “Perpustakaan ada tetapi buku masih minim kalau tidak mau dikatakan tidak ada sama sekali.” “Saya harus akui perpustakaan lebih banyak kosongnya, saya memerintahkan guru BI untuk memanfaatkan perpus secara maksimal menjadi bagian dalam pembelajaran” tegas Join.

Sabinus dan Join mengakui program satu buku satu siswa sudah berjalan tetapi masih dipinjamkan saja karena akan dipakai oleh adik-adik kelas tahun berikutnya. Kedua pendidik ini pun berharap kebijakan satu siswa satu buku ditingkatkan menjadi satu siswa plus buku penunjang lainnya dengan menambah satu buku satu siswa dari penerbit lain atau buku-buku pengayaan yang bermanfaat bagi pembelajaran di sekolah.
Sabinus dan Join menceritakan sarana dan prasarana laboratorium komputer juga sudah ada. Namun, sarana tersebut masih belum dapat digunakan secara maksimal karena listrik sering padam dan byar pet akibat daya yang masih kurang besar. Lebih parah lagi SMPN 3 Jagoi Babang tidak ada aliran listrik yang mengaliri sekolah ini. Akibatnya, banyak kegiatan pembelajaran yang tidak bisa memanfaatkan teknologi informasi dan multimedia.

Menghadapi tantangan dalam pembelajaran di wilayah perbatasan Malaysia, Pemkab Kabupaten Bengkayang sudah membuat kebijakan dengan menatar dan melatih guru-guru mata pelajaran. Kebijakan lokal ini pun banyak membantu guru menambah wawasan. “Kebijakan Pemkab Bengkayang cukup tinggi dalam meningkatkan kapasitas guru mata pelajaran,” jelas Sabinus. Menurut Sabinus dan Join kebijakan yang cukup baik harus didukung dengan infrastruktur dan prasarana yang harus segera dibenahi agar menjadi lebih baik demi pembelajaran siswa di wilayah perbatasan.

Pentingnya PERDA “CSR”

Oleh: Ismail Ruslan

Masyarakat Kalimantan Barat sejatinya memberikan apresiasi kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)Kalimantan Barat (Komisi B) sedang menyusun Rancangan Peraturan Daerah (Perda) tentang Corporate Social Responsibility (CSR).  Upaya ini sebagai  ikhtiar untuk memformulasikan aturan normative sebagai payung hukum pemberlakuan CSR di Kalimantan Barat.
Dari sisi waktu inisiatif ini agak “terlambat”. Pemerintah Pusat sebagai stakeholder justru sudah merespon keinginan masyarakat  sejak tahun 2007, dengan melahirkan Undang-Undang No. 40 dan telah disyahkan oleh DPR tanggal 20 Juli 2007. UU ini mengharuskan perusahaan yang bergerak dalam pengolahan atau berkaitan dengan sumberdaya alam untuk melakukan CSR. Pasal 74 UU tersebut berbunyi :
1) Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan atau berkaitan dengan sumberdaya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
2) Tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kewajiban perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.
3) Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tanggungjawab sosial dan lingkungan diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Undang-undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal juga menegaskan dalam pasal 15 huruf b berbunyi; setiap penanam modal berkewajiban melaksanakan tanggungjawab sosial perusahaan. Kemudian pada pasal 34 ayat 1 disebutkan bahwa apabila tidak, maka dapat dikenai sanksi mulai dari peringatan tertulis, pembatasan kegiatan usaha, pembekuan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal, atau pencabutan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal.
Walaupun terlambat, upaya ini sebagai sikap responsif anggota “parlemen” terhadap tuntutan masyarakat agar perusahaan di Kalimantan Barat peduli terhadap persoalan lingkungan dan relasi sosial. Dan menggunakan dana sosial tersebut untuk memberdayakan masyarakat miskin di Kalimantan Barat.

Konsep CSR
CSR menjadi isu yang mencuat cukup santer. Sejak tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan menjadi sebuah kegiatan yang bersifat mandatory atau kewajiban. Karena selama ini kegiatan CSR dimaknai sebagai tindakan yang bersifat sukarela atau voluntary sebagaimana kegiatan-kegiatan kepekaan sosial serta ibadah-ibadah sosial lainnya.

Konsep CSR adalah kewajiban setiap perusahaan, BUMN dengan menyisihkan dana keuntungan untuk membantu masyarakat miskin dari sisi pendidikan, kesehatan, pra sarana dan sarana umum.

CSR merupakan sebuah komitmen bisnis perusahaan untuk berperilaku etis dan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, seraya meningkatkan kualitas hidup karyawan dan keluarganya, komunitas lokal dan masyarakat luas (Herrizal, 2007).

Masukan Perda CSR
Selama ini masyarakat kesulitan untuk  “memaksa” maupun mengawasi perusahaan yang memanfaatkan sumber daya alam di daerah mereka untuk memberdayakan dana CSR tersebut. Hal ini dikarenakan belum adanya peraturan daerah (Perda) sebagai payung hukum. Pemerintah Daerah masih sebatas menghimbau setiap perusahaan untuk menyalurkan dana sosialnya. Oleh karena itu, Perda CSR menjadi penting untuk dirumuskan dan disahkan.

Di sisi yang lain, program CSR yang dirancang oleh perusahaan hanya bersifat “sedekah” dan habis dikonsumsi masyarakat. Program yang dirancang tidak menyentuh kebutuhan masyarakat, karena tidak tepat sasaran.

Perusahaan tidak memiliki “peta” lokasi penduduk miskin dan apa yang dibutuhkan masyarakat. Peraturan Daerah mestinya juga memberikan ruang,  setiap perusahaan wajib bekerja sama dengan universitas, akademisi untuk melakukan research awal dan memetakan daerah miskin dan kebutuhan masyarakat.

Untuk menghasilkan Perda yang pro poor, perlu diatur  lembaga yang mengontrol pengeluaran dana dan program CSR tiap perusahaan, sehingga akuntabilitas pengeluaran dan distribusi dana CSR tersalur dengan benar.

Pengalaman Pemerintah Kota Semarang dan perusahaan yang berhimpun, duduk bersama dan menghilangkan ego sektoral, serta membagi wilayah yang akan didistribusikan dana CSR menjadi pengetahuan dan masukan bagi kalangan DPRD Kalimantan Barat.

Pengentasan kemiskinan di Kalimantan Barat, terasa sulit karena masing-masing institusi merasa memiliki peran yang lebih baik dari institusi lainnya, ego sektoral. Semoga Komisi B DPRD Kalbar mampu merumuskan Perda pro poor.

Hidup Sampai Tua, Belajar Sampai Tua

oleh: Dedy Ari Asfar

Minggu pukul 10.30 saya dan teman-teman tiba di sekretariat Yayasan Asali. Di dalam bangunan yayasan yang di desain terbuka itu sudah menunggu seorang lelaki sepuh. Usia boleh tidak muda lagi, tetapi  lelaki sepuh itu masih tampak segar dan bugar. Ia menyambut kedatangan saya dan teman-teman yang berhasrat menulis tentang orang Tionghoa di Kalimantan Barat. Lelaki ini dikenal sebagai tokoh masyarakat Tionghoa Kalimantan Barat. Namanya Lie Sau Fat atau nama bekennya Xaverius Fuad Asali.

Lelaki Tionghoa ini sangat ramah. Pembicaraan kami tentang Tionghoa berjalan sangat lancar dan mengesankan. Lelaki sepuh ini bercerita bak air sungai mengalir. Kisah-kisah yang didiskusikan bercabang-cabang dan bermanfaat bagi kami yang sedang haus dengan pengetahuan tentang orang Cina di Kalimantan Barat. Petuah-petuah Cina muncul dalam diskusi. Ilmu ekonomi praktis orang Cina diajarkan. Sejarah Cina terurai. Bahkan, situasi Kalimantan Barat zaman Jepang dan Belanda pun masih diingatnya. Ia menegaskan keberhasilan Cina di Kalimantan Barat tidak terlepas dari kerja keras dan pendidikan.

Kerja keraslah yang telah mengantarkan X.F Asali menjadi Presiden Direktur PT Trio Constant Mandiri. Banyak lika-liku, pahit-manis, onak duri, dan suka-duka dilaluinya dalam menakluki kerasnya hidup di tanah Kalimantan Barat. Citra Cina yang kurang baik pada masa-masa kecil dan remaja tidak membuatnya surut dan kalah dengan keadaan. Ia berjuang keras dari  bawah. Pekerjaan sebagai petani pun pernah dilakoninya. Prinsipnya, “Semua bisa jadi uang, tidak ada yang menjadi sampah”. Sampai akhirnya, buah kerja keras dan kejujuran mengantarkannya menginjak tanah  negara-negara di lima benua, “Kecuali Afrika, saya belum pernah,” kata lelaki sepuh ini tersenyum. Rahasia paling penting bagi keberhasilan orang-orang Cina adalah mengutamakan pendidikan.

“Dulu, tiap-tiap desa ada sekolah Cina di Pemangkat. Itu yang membuat orang Cina maju,” tegas X.F.Asali

Asali masih ingat di dalam tubuhnya mengalir darah orang Dayak. Generasi pertama yang menjadi leluhurnya di Kalimantan Barat menikah dengan orang Dayak. Asali sendiri merupakan generasi keempat. Terlepas dari banyaknya fenomena dan pengetahuan kecinaaan yang diceritakannya. Hobi sosok lelaki Cina ini lebih menarik untuk diceritakan. Lelaki yang sangat menggilai dunia tulis-menulis dan membaca ini selalu mengupdate pengetahuannya. “Belajar tak ada batas, seperti pepatah Cina berbunyi Siek hai lu ya ‘seperti laut tanpa batas’”. Prinsip ini yang membuat Asali berkembang dan maju. Menurut Asali batasnya adalah rajin. Rajin akan membuat orang ingin tahu dan terus bekerja keras.

Asali adalah produk pendidikan berbahasa Belanda dan Mandarin. Tidak mengherankan, lelaki yang lahir tahun 1932 ini baru bisa bahasa Melayu dengan lancar pada tahun 1951. Itu setelah ia berhijrah dan menetap di Pontianak. Sebagai penutur berbahasa Ibu Hakka. Asali muda memang kesulitan mengerti  buku-buku berbahasa Indonesia. “Bisa baca tapi tak bisa mengerti,” kenang X.F. Asali. Dia bersikeras ingin mengikuti kursus bahasa Indonesia, tetapi dilarang oleh gurunya.  “Tak usah, Saufat kamu banyak baca surat kabar saja,” kata gurunya. Nasehat gurunya pun diikuti. Malahan, ia banyak membaca buku berbahasa Indonesia. Bacaan favorit yang mengantarkannya pandai berbahasa Indonesia pada tahun 1951 adalah buku berjudul Matahari Terbit jilid ketiga. Sampai sekarang pun buku menjadi oleh-oleh setiap datang dari luar negeri. “Saya harus bayar over weight karena beratnya buku.” Hasil membaca ini pula yang membuat lelaki Tionghoa ini menulis buku berjudul “Aneka Budaya Tionghoa di Kalimantan Barat”. Lelaki sepuh ini berbagi tips dalam belajar “Huak tau lau, siek tau lau ‘hidup sampai tua, belajar sampai tua’” tegas Asali. Prinsipnya, selama masih bernapas, selama itu pula ia harus belajar. Tidak mengherankan, tokoh Tionghoa yang sudah berusia 79 tahun ini masih ingin terus belajar. Benar juga kata pepatah Melayu “Belajarlah engkau sejak masih dalam ayunan sampai masuk ke liang kubur”. Artinya, kita harus belajar seumur hidup (long life education).

Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Masjid

Oleh: Ismail Ruslan

Umat Islam sebagai penduduk mayoritas memiliki potensi ekonomi luar biasa. Namun potensi tersebut belum dikelola secara baik. Salah satu potensi umat yang belum diberdayakan adalah masjid—diharapkan sebagai pusat pertumbuhan dan pengembangan ekonomi umat Islam.

Sejak tahun 2007 Pusat Inkubasi Usaha Kecil (PINBUK Kalbar) mencatat telah berdiri 29 Lembaga Keuangan Mikro Syari’ah (LKMS) / Baitul Maal Wa At Tamwil (BMT) di Kalimantan Barat, 7 diantaranya bersifat koordinatif dan berlokasi di masjid. Di antara 29 lembaga itu, 18 di antaranya berkedudukan di Kota Pontianak, termasuk 6 BMT juga berkoordinasi dan berada di masjid.

Pengelola masjid yang melakukan pemberdayaan ekonomi belumlah sebanding dengan jumlah masjid dan surau yang ada di Kota Pontianak. Jumlah  BMT yang berada di masjid yang ada yakni hanya 6. Untuk wilayah Kecamatan Pontianak Selatan dari 63 masjid hanya 3 masjid saja yang sudah memiliki BMT, sedangkan Kecamatan Pontianak Barat baru 2 buah dari 21 masjid yang ada, Kecamatan Pontianak Kota hanya 1 masjid yang sudah berdiri BMT. Ketiga kecamatan itu lebih mujur dibanding dua kecamatan lainnya, Pontianak Timur dengan 20 masjid dan  Utara 36 masjid belum memiliki BMT.

Pertumbuhan masjid dan surau di Kota Pontianak begitu pesat, ibarat jamur di musim hujan. Data Departemen Agama Kota Pontianak tahun 2008 menyebutkan masjid berjumlah 207 buah dan surau 336 buah. Namun jumlah tersebut tidak disertai dengan aktivitas yang maksimal dan bermanfaat lainnya bagi perkembangan ekonomi masyarakat muslim. Begitu pula dari sisi jumlah, masyarakat muslim di Kota Pontianak mayoritas, tentunya jumlah ini berpotensi untuk dilakukannya pemberdayaan, baik dari sisi sumber daya manusia maupun sumber daya alam (termasuk dana umat Islam)

Masih ada pandangan masyarakat muslim, masjid hanya difahami dan diperkenalkan sebagai tempat kegiatan ibadah makhdoh saja (sujud), dan tidak untuk aktivitas ekonomi, sosial dan politik. Padahal dalam aspek sejarah, sejak zaman nabi hingga sahabat menjadikan masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah saja tetapi juga digunakan sebagai tempat kajian ilmu pengetahuan, pembinaan umat Islam, pusat da’wah dan  perkembangan kebudayaan Islam. Masjid menjadi basis kebangkitan umat Islam termasuk pemberdayaan ekonomi umat.

Konsep Pemberdayaan

Pemberdayaan dipandang merupakan konsep ideal karena selalu mengedepankan iklim komunikatif, kondusif, dan iklim yang memungkinkan masyarakat berkembang dan maju secara bersama-sama. Oleh karena itu pemberdayaan bukanlah merupakan upaya pemaksaan kehendak atau proses yang dipaksakan atau kegiatan yang diprakarsai dari pihak luar. Dengan pemberdayaan dapat berpengaruh terhadap terjadinya inisiatif dan respon, sehingga seluruh masalah yang dihadapi dapat diselesaikan dengan cepat dan fleksibel (Pranarka dan Vidhyandika dalam Harry, 2006).

Pemberdayaan dan partisipasi merupakan strategi yang sangat potensial dalam rangka meningkatkan ekonomi, sosial dan transformasi budaya. Proses ini pada akhirnya akan dapat menciptakan pembangunan yang lebih berpusat pada rakyat.  Sementara itu pemberdayaan meletakkan partisipasi aktif masyarakat ke dalam efektivitas, efisiensi, dan sikap kemandirian. Secara khusus, pemberdayaan dilaksanakan melalui kegiatan kerja sama dengan para sukarelawan, bukan bersumber dari pemerintah, tetapi dari LSM, termasuk organisasi dan pergerakan masyarakat (Harry, 2006).

Memberdayakan Masjid

Proses pemberdayaan idealnya juga dapat dilakukan di masjid-masjid, mengingat begitu besarnya aset yang dimiliki masjid salah satunya adalah dana ummat yang terkumpul baik dari zakat, infaq dan shadaqah setiap tahunnya serta dana lainnya.

Dalam perjalanan waktu, tumbuh dan berkembangnya lembaga perekonomian umat seperti LKMS / BMT merupakan indikasi telah terjadi perubahan paradigma masyarakat muslim Kota Pontianak dan sudah ada upaya reaktualisasi terhadap fungsi masjid. Artinya, masjid tidak lagi tabu untuk digunakan berbagai aktivitas lainnya termasuk melakukan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Atas dasar itu, maka keberadaan masjid yang sudah memiliki BMT merupakan potensi yang mestinya terus dikembangkan ke arah pemberdayaan, dan penguatan ekonomi masyarakat muslim di Kota Pontianak.

Sedangkan bagi masjid-masjid yang belum melakukan pemberdayaan ekonomi,  maka pembinaan hendaknya dilakukan berbagai pihak, misalnya oleh Pusat Inkubasi Usaha Kecil (PINBUK) Kalimantan Barat, pengelola masjid yang memiliki BMT dan yang tidak kalah pentingnya adalah kalangan stakeholder di Kota Pontianak serta kalangan perbankan.

Adapun pembinaan yang harus dilakukan pada aspek manajerial, meliputi kemampuan pengelolaan keuangan, perusahaan dan sumber daya manusia. Lebih lanjut, pembinaan dari sisi keuangan juga merupakan point yang tidak kalah pentingnya, sebab banyak masjid yang memiliki BMT tidak memiliki sisi keuangan yang optimal. Selama ini ”pemilik modal” lembaga masih didominasi oleh orang-perorang yang kemampuannya terbatas, akan lebih baik, jika lembaga keuangan seperti perbankan melakukan hal yang sama.

Jika semua aspek di atas terpenuhi, maka pemberdayaan di masjid akan lebih optimal dan tentunya akan mendorong percepatan pemberdayaan terhadap masyarakat di Kota Pontianak. Puncak dari itu semua adalah masyarakat akan lebih mandiri, memiliki keterampilan serta akan mampu berwirausaha dengan baik.

Pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis masjid adalah sebuah konsep reaktualisasi peran masjid dari tafsir tekstual masyarakat selama ini. Mengikis habis kemiskinan di masyarakat bukan pekerjaan mudah, tetapi sekecil apapun tawaran untuk turut serta mambantu masyarakat bebas dari keterkungkungan kemiskinan merupakan pekerjaan mulia. Jika demikian adanya, maka pemberdayaan masjid akan sangat berarti jika saja mampu memberikan warna lain dari konsep pengentasan kemiskinan yang sudah ada selama ini.

Himsos FKIP Gelar Kompetisi Futsal

Oleh: Sabhan Rasyid

Pontianak- Himpunan Mahasiswa Sosiologi (Himsos) FKIP Universitas Tanjungpura menggelar kompetisi futsal dimulai 25 Maret kemarin. Kompetisi yang diikuti 21 tim dari himpunan dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FKIP ini bertujuan mencari bibit pemain futsal di kalangan mahasiswa khususnya FKIP Untan. “Kompetisi ini bertujuan mencari bibit pemain futsal di FKIP,” ujar Muhammad Widyan selaku ketua panitia SEFC.

Kompetisi futsal yang diberi nama “Sosiology Education Futsal Competition 1st” ini melibatkan peserta yang berasal dari angkatan 2010 dan 2011. “Kompetisi ini melibatkan peserta dari mahasiswa FKIP yang mewakili hima dan UKM dari angkatan 2010 dan 2011,” ungkap ketua panitia SEFC.

Kompetisi seperti ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa di FKIP demi menjalin persaudaraan antar Hima dan UKM yang ada. Seorang penonton bernama Dina mengungkapkan bahwa kegiatan seperti ini sangat bagus untuk menjalin kekeluargaan mahasiswa di FKIP Untan. Mahasiswi yang hadir untuk mendukung tim himpunannya ini dengan antusias penuh mengikuti jalannya pertandingan antara Himbasi dan Himsos (26/3).

Kegiatan seperti ini tentu sangat berdampak positif dan menjadi agenda yang pantas untuk dilanjutkan di tahun-tahun selanjutnya. “Tahun depan akan diusahakan mengadakan kompetisi tingkat umum,” ujar Widyan yang merupakan mahasiswa angkatan 2010 ini. SEFC ini akan menjadi kegiatan yang baik jika terus dilanjutkan sebagai wadah bersaing secara positif bagi mahasiswa FKIP. “ Semoga kegiatan ini dapat menjadi titik tolak untuk turnamen selanjutnya agar lebih baik” tambah Widyan dengan penuh harap. SR

Asosiasi Nasyid Nusantara Sukses Menggelar Festival Nasyid

oleh: Mariyadi

Dalam rangka ulang tahunnya yang Ke-5, Asosiasi Nasid Nusantara (ANN) bekerjasama dengan BEM Fakultas MIPA Untan dan lembaga dakwah Fakulatas MIPA (Fikri) Untan mengadakan  Festival Nasyid dan Band Islam di gedung Anex Universitas Tanjungpura (Untan). Minggu (24/3).

Acara tersebut diikuti oleh 50 peserta yang terdiri atas beberapa daerah di Kal-Bar yakni Sambas, Singkawang, Sungai Pinyuh, Kubu Raya, dan Pontianak. Ada 3 hal yang menjadi kategori dalam festival ini yaitu kategori band Religi, Nasyid, dan penyanyi solo Islmi.

“Sebenarnya acara ini dalam rangka ulang tahun ANN yang ke-5” ujar Yoga Satri Putra ketua panitia acara.

Menurut Yoga Satria Putra, Dosen FMIPA selaligus ketua panitia, acara ini seharusnya dilaksanakan pada tanggal 23 Maret bertepatan pada momen ulang tahun ANN.Namun, dikarenakan pada hari Sabtu masih banyak yang belum libur jadi, panitia undur pada tanggal 24.

Pada kegiatan ini peserta dan penonton sangat antusias dalam mengikuti serangakaian acara dari pagi hingga sore hari. Meskipun dalam gedung Anex Untan yang banyak terdapat kerusakan-kerusakan karena  kurang mendapat perhatian dari pihak Untan dan pihak-pihak berwenang lainnya. Hal tersebut tak menyurutkan semangat berkompetisi antar peserta. Bahkan juri-juri yang berkompeten di bidang musik tidak menyangka akan menilai banyak peserta dengan karakter vokal bermacam-macam.

“Baru di ANN ini kami menilai peserta yang rata-rata baru pertama mengikuti festival musik namun memiliki karakter vokal luar biasa.” Tutur Fari Safa, satu di antara juri lomba.

Sukses dengan festival nasyid ini, ANN kembali menghimbau bagi semua kalangan yang memiliki bakat musik Islam, untuk ditantang kembali pada kegiatan ANN selanjutnya yaitu Idola Nasyid Khatulistiwa yang rencana akan dilaksanakan tiga bulan mendatang.

HIMDIKA FKIP Untan dan FLP Kalbar Sukses Menggelar Workshop serta Bedah Buku

Munculkan ide, Gagasan dan Motivasi Menulis Bagi Pemula

Oleh: Ria Tri Wahyuni dan FLP

Berawal dari visi dan misi ketua Himpunan Pendidikan Kimia (HIMDIKA) yaitu mengoptimalisasi kader dengan  meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mahasiswa dalam berbagai kegiatan. Satu diantaranya adalah kegiatan workshop kepenulisan “Manifesto ide, dari gagasan ke tulisan” dan bedah buku karya FLP Kalbar “Mutiara Cinta di Pelangi Khatulistiwa” yang diadakan oleh HIMDIKA bekerja sama dengan Forum Lingkar Pena (FLP) Kalbar di Aula FKIP Untan (23/03/2013).

Berdasarkan pantauan, sebagian mahasiswa memiliki kemampuan berpikir kritis, menulis, dan mengemukakan gagasan yang minim. Apa lagi terhadap mahasiswa baru yang kurang memahami gaya menulis fiksi maupun ilmiah. Hal inilah yang menjadi latar belakang adanya Workshop kepenulisan ini dengan menghadirkan pemateri seorang jurnalis, Heriyanto dan seorang penulis sekaligus ketua FLP Kalbar, Aspari Ismail.

Meskipun terkesan kegiatan ini terfokus pada bahasan fiksi, padahal dominan mahasiswa kimia ini membuat karya ilmiah namun hal tersebut dapat membangkitkan antusias mahasiswa dan termotivasi dalam keinginan membuat karya. Tujuannya supaya mahasiswa mampu menimbulkan ide atau gagasan baru untuk kedepannya. Seperti yang dikatakan oleh Zikrie selaku ketua HIMDIKA “Meskipun kami lebih sering membuat karya ilmiah, namun yang kami dapatkan dari hasil materi adalah bagaimana kami dapat memunculkan ide atau gagasan baru dan motivasi dari penulis untuk terus berkarya baik itu fiksi maupun karya ilmiah.”

Kegiatan yang memadatkan aula FKIP Untan ini sesuai target yang diharapakan. FLP Kalbar begitu berperan penting dalam hal ini sehingga mampu membuka wawasan mengenai ide baru untuk menulis maupun motivasi terhadap penulis-penulis pemula. Hal ini berlanjut dengan antusias mahasiswa pada sesi bedah buku FLP Kalbar yang menghadirkan Rohani Syawaliah (Penulis Novel Memamah Jantungmu, Pemenang Man of the Year tahun 2011 kategori buku fiksi) dan Farninda Aditya (Penulis muda produktif, penggiat Club Menulis STAIN Pontianak. Berbagai pertanyaan dilontarkan seputar bedah buku ini, seperti terkait pada proses kreatif para penulis dalam membuat tulisan dan motivasi dalam memunculkan ide.

“Buku ini sangat istimewa. Saya menemukan hal-hal sederhana tapi terkadang luput dari perhatian pembaca. Saya ikut tenggelam dan menikmati alur cerita dalam buku ini. Buku ini akan memberikan manfaat buat siapapun pembacanya. Singkat kata, buku ini bagus,” jelas Rohani Syawaliah yang dilanjutkan oleh tuturan Farninda Aditya

“Buku ini ‘Mutiara Cinta di Pelangi Khatuliswa’ menjadi spesial karena dibedah bertepatan dengan perayaan titik Kulminasi Khatulistiwa. Dalam buku ini kita disajikan beragam kisah yang mengharu biru, menggugah, ada sentuhan religi dan menyodorkan kearifan lokal Kalbar. Dengan membaca buku ini, rasa cinta kita akan semakin tumbuh terlebih kepada orangtua dan saudara.”

Sukses dengan kegiatan kepenulisan ini dan banyak kegiatan sebelumnya yang sering dibicarakan di media masa ini, FLP Kalbar juga mengajak bagi semua kalangan yang suka menulis untuk bergabung dalam komunitas ini dengan mengikuti program wajib rekuitmen pelatihan dasar menulis (Pedasmen 6) yang rencananya akan diadakan bulan Mei mendatang.

Sukan Kesehatan Muhibah Borneo “Membangun Kesehatan di wilayah Borneo”

Oleh:Gusti Ekha Firmanda

Pontianak – Sukan Kesehatan Muhibah Borneo adalah pertandingan persahabatan olahraga dan seni budaya. Demikianlah yang diungkapkan oleh sekretaris panitia, Hary Agung Tjahyadi ketika ditemui usai pembukaan acara, Kamis (21/3).
Kegiatan ini berlangsung selama dua hari dan diikuti oleh empat tim dari tiga negara. Tim-tim yang berpartisipasi adalah tim Kal-Bal, Kal-Tim, Sarawak, dan Brunai Darussalam. Hanya Labuan dan Sabah yang tidak ikut berpartisipasi pada tahun ini karena alasan keamanan. Sabah hanya mengutus satu orang perwakilan, sedangkan Labuan tidak ada mengirim perwakilan sama sekali.
Tercatat sekitar 530 peserta akan mengikuti sukan kesehatan kali ini. Acara sukan tahun ini adalah acara yang ke enam kalinya setelah berhasil tahun lalu digelar di Sarawak. Sedangkan Kal-Bar baru kali ini dipercayai menjadi tuan rumah sukan kesehatan ini.
Adapun rangkaian kegiatan yang akan dipertandingkan adalah delapan cabang olahraga prestasi seperti sepakbola, futsal, volly, tennis meja, tennis, badminton, bilyard, golf  dan dua cabang olah raga hiburan seperti poco-poco dan tarik tambang. Sedangkan seni budaya yakni karaoke berpasangan dan tarian budaya. Pada tahun ini kegiatan ditambah dengan acara pendukung seperti seminar dan pameran kesehatan.
Tujuan akhir dari acara ini sendiri adalah untuk menjalin kerjasama ketiga negara di bidang kesehatan agar bisa membangun kesehatan di wilayah Kalimantan ini. Seperti yang di katakan oleh Hary Agung Tjahyadi, “Peningkatan kerjasama kesepemahaman dalam membangun kesehatan di wilayah Borneo agar insan-insan kesehatan ini bisa memberikan contoh dengan style hidup sehat”.

Orasi Mahasiswa Tolak UU PT

Oleh: Mariyadi

Sejumlah mahasiswa dari berbagai elemen, GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, dan HMKR (Himpunan Mahasiswa Kubu Raya), berorasi di bundaran Digulist, Jum’at (22/03)  pukul  10 pagi.

Para demonstran menilai betapa bobroknya sistem pendidikan kita. Mereka menuntut pencabutan UUPT (Undang-undang Pendidikan Tinggi), Tolak RUU Kamnas (Rencana Undang- Undang Keamanan Nasional), bubarkan partai korupsi, tuntaskan korupsi di Kal-Bar, mendesak SBY-BUDIONO turun dari jabatannya, dan terakhir tingkatkan harga-harga produk lokal Kalbar.

“UUPT mendiskriminasi rakyat untuk menempuh pendidikan,” ujar Irham koordinator orasi hari itu. Menurut Irham, UUPT akan mendiskriminasi masyarakat untuk menempuh pendidikan. Jika undang-undang pendidikan tinggi menganut Liberalisasi. Dari liberalilasi tersebut biaya yang akan dibayar oleh masyarakat pastinya akan tinggi (mahal). “insyaalah kami akan turun aksi kembali,” ujar Irham.

Menurut Irham, tanggal 25 Maret nanti, jika ada konsolidasi, mereka akan kembali turun ke jalan untuk orasi. Harapan mereka, mahasiswa se-Indonesia lebih kritis dengan bersama-sama meminta MK membatalkan UUPT.

Jalan Rusak Picu Kecelakaan

JALAN: Sepanjang ruas jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo rusak parah. Tidak ada perbaikan jalan dari Pemerintah.

PONTIANAK – Pengemudi roda dua maupun roda empat sering terjebak kondisi jalan yang rusak, berlubang dan bergelombang, sehingga berakibat terjadinya kecelakaan. “Pernah terjadi kecelakaan di depan rumah saya. Saya tidak melihat secara langsung kejadiannya karena saya takut dengan kecelakaaan, yang saya tahu dari warga yang minta air putih dengan saya berkata pengemudi sepada motor itu berdarah dan butuh air untuk minum,” kata Rina warga setempat, Senin (25/2).

Rika pengguna jalan mengeluhkan rusaknya jalan Dr. Wahidin. “Padahal ini jalan yang menjadi akses ke sekolah saya. Pagi-pagi sudah terjebak macet akibat orang-orang memilih jalan yang bagus alias tidak berlubang dan tidak berbatu. Saya pernah melihat setiap jalan yang berlubang selalu ditambah aspal, ya cuma ditambah setelah itu rusak lagi,” katanya. Rika juga mengatakan ketika malam hari jalan gelap karena kurangnya penerangan lampu jalan dan banyaknya pasir yang bertebaran disepanjang jalan dan membuat jalan itu berdebu.

“Penyebab terjadinya kecelakaan bukan hanya jalan yang rusak tapi pengguna jalan tersebut yang tidak mau memilih jalan yang rusak, sehingga mereka memilih jalan yang bagus, walaupun jalan yang bagus itu bukan jalur untuk mereka gunakan dan bisa terjadi kecelakaan,” kata Iwan pengguna jalan. Lebih lanjut Iwan mengungkapkan kondisi kerusakan jalan sudah berlangsung dua tahun tidak juga kunjung membaik. “Padahal, sudah cukup sering pejabat yang melintasi kawasan ini, tetapi jalan tetap hancur. Bahkan kini kondisinya sangat memprihatinkan, rusak parah, hancur lebur seperti kubangan. Apalagi dimusim penghujan. Entah sampai kapan pemerintah menunjukkan kepeduliannya,” kata Iwan dengan kesal. Menurut Iwan ruas jalan Dr. Wahidin seakan tidak diperdulikan, kalaupun ada kepedulian, hanyalah berupa tambal yang paling hanya bertahan beberapa minggu saja. Tambal sini, berlubang di sana, tambal di sana berlubang di sini. Begitu terus sampai bosan.

Pengaspalan jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo, diungkapkan Waldi, sudah sejak lama didambakan warga. Sebab, jalan Dr. Wahidin menjadi akses jalan ke Pal, Sungai Jawi, Pangeran Natakusuma dan Danau Sentarum. “Kondisi jalan semakin hancur lantaran setiap hari jalan dilewati truk, molen atau beben roda kendaraan berat dan akan memicu terjadinya kecelakaan. Sedikit demi sedikit warga memperbaiki jalan, walaupun pakai semen dan itu pun tidak semua jalan disemen karena kurangnya biaya,” ungkapnya. Waldi mengharapkan agar pemerintah segera mengambil tindak lanjut untuk memperbaiki jalan yang rusak. (Jumiatin Asri Rahmadhanti)

BIGTheme.net • Free Website Templates - Downlaod Full Themes