Karapan Sapi: Pemersatu Budaya dan Etnis

Oleh Rizqiyah

Gambar : para panitia dan acara karapan sapi.
Gambar : para panitia dan acara karapan sapi.

MABMonline.org, Pontianak- Karapan sapi merupakan salah satu kebudayaan yang ada pada masyarakat madura, sabtu dan minggu tanggal 6 dan 7 april 2013 bertempat di Desa Kula Dua Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya, dilaksankan karapan sapi yang di helat oleh Ketua Ikatan Keluarag Besar Madura (IKBM) Kabupaten Kubu Raya bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kubu Raya.

Acara yang di laksankan dua hari ini, cukup menyedot perhatian masyarakt, tidak hanya di hadiri oleh warga Madura saja namun, etnis lain juga turut tumpah ruah dalam acara pacuan sapi itu.

Karapan sapi sudah lama tidak di pertontonkan selama terjadi kerusuhan sosial yang terjadi antar etnis di Kalimantan Barat, sehingga pacuan sapi ini menajdi tontonan yang menarik buat warga yang haus akan kebudyaan mereka, sebelumnya acara yang sama telah di helat di Kabupaten pontianak tepatnya di Galang.

Karapan sapi ini menjadi momentum dalam menajlin komonikasi budaya, sehingga orang lain juga dapat mengenal karapan sapi, pada pembuakaan acara tersebut di meriahkan juga oleh pertunjukan tari khas Dayak, melayu dan china, tidak hanya itu namun juga tokoh antar etnis itu juga turut hadir dalam acara tersebut.

Seperti yang di tuturkan oleh panitia yang sekaligus sebagai ketua IKBM KKR Irsan, dalam sambutannya ‘’ kegiatan ini tidak hanya di laksanakan atas dasar etnis saja namun, lebih dari itu bahwa kita sebagai anak bangsa wajib melestarikan kebudayaan yang di wariskan oleh nenek moyang kita, untuk itu kami berharap ini semua menjadi tontonan yang dapat menajlin komonikasi antar budaya’’.

‘’Pada acara karapan sapi ini panitia mengambil tema ‘’MADURA SAHABAT SEMUA ETNIS’’, ini menujukkan bahwa warga Madura membuka diri untuk bersahabat dengan siapa pun sehingga kedepan tidak ada lagi konflik yang merugikan kita semua’’ demikian yang di sampaikan oleh Nagian Imawan sekretaris IKBM Kal-Bar, dalam sambutannya.

GAWAI DAYAK TRADISI KEBUDAYAAN KALIMANTAN BARAT

Oleh Fradita Yulia Sari

MABMonline.org, Pontianak — Seperti yang diketahui, Gawai Dayak tradisional adalah pelaksanaan upacara pasca panen yang meliputi serangkaian upacara adat sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan
(Jubata) atas kelimpahan hasil panen. Gawai Dayak tradisional pelaksanaannya dapat memakan waktu hingga tiga bulan, yaitu biasanya pada bulan April sampai Juni.

Pelaku upacara adat akan mengenakan pakaian tradisional berikut perhiasan tradisional seperti manik orang ulu (kampung) dan kerajinan perak tradisional.Dalam upacara Gawai Dayak, terlebih dahulu akan diadakan ngampar bide atau menggelar tikar. Upacara ini hanya dan khusus digelar menjelang pelaksanaan upacara Gawai Dayak yang biasanya berlangsung di rumah Betang Panjang, rumah adat di Kalimantan Barat. Tujuannya adalah memohon kelancaran dan kemudahan selama pelaksanaan upacara Gawai Dayak.
Dalam ngampar bide sendiri terdapat serangkaian tahapan pelaksanaan, yaitu nyangahathn manta’ (pelantunan doa atau mantra) sebelum seluruh kelengkapan upacara disiapkan dan ngadap buis, yakni tahapan penyerahan sesaji (buis) kepada Jubata (Tuhan).

Nyangahatn manta’ terbagi menjadi tiga bagian, yaitu matik (semacam upacara pemberitahuan kepada awa pama atau roh leluhur dan Jubata (Tuhan) tentang akan diadakannya upacara tersebut, yaitu ngalantekatn (memohon keselamatan bagi semua pihak pelaksanaan upacara); dan mibis (semacam
upacara pemurnian agar kotoran musnah). Dalam upacara nyangahatn manta, sesuai namanya sesaji yang disiapkan biasanya adalah bahan yang belum masak atau mentah (manta).
Upacara selanjutnya disebut ngadap buis (nyangahatn masak); merupakan upacara adat puncak dari keseluruhan proses ngampar bide dimana seluruh peraga adat sudah tersedia. Pada tahapan ini, sesaji (buis) yang berupa makanan masak dipersembahkan kepada awa pama dan Jubata, sebagai wujud rasa syukur sekaligus permohonan berkat.

Ngampar bide dihadiri para tokoh Dayak yang berperan dalam menyiapkan Gawai. Mereka membahas persiapan, menyiapkan, dan tentunya melaksanakan acara inti, yaitu memohon perlindungan Jubata atas kelancaran upacara.

Pada upacara penutupan akan digelar gulung bide (gulung tikar) yang menandai berakhirnya upacara.
Pekan Gawai Dayak (Gawai Dayak modern) masih melaksanakan serangkaian upacara tersebut di atas tetapi tidak memakan waktu berbulan-bulan. Sesuai namanya, upacara ini hanya dilaksanakan dalam waktu sepekan, setiap 20 Mei sebagaimana diarahkan oleh Gubernur Kalimantan Barat terdahulu, Kadarusno sampai dengan Gubernur sekarang Cornelis. Pekan adat ini tidak hanya diramaikan oleh
kegiatan upacara tetapi juga beragam kegiatan seni yang melibatkan banyak kalangan masyarakat di Kalimantan.

Seminar budaya, pementasan tari tradisional yang biasanya menandai dimulainya Pekan Gawai Dayak akan pula mewarnai acara tersebut. Ada pula beragam atraksi budaya khas Dayak, termasuk ditampilkannya beberapa permainan tradisional. Ada juga beragam stand sebagai tempat menyuguhkan aneka budaya dan produk budaya khas Dayak, seperti karajinan tangan, produk seni, dan makanan khas
tradisional Dayak. Bahkan, ada pula sejumlah perlombaan yang berlangsung selama Pekan Gawai Dayak, misalnya lomba memasak masakan tradisional, acara tarian menampi beras dan acara-acara unik lainnya.

Ada Makna Di Balik Perayaan Robok-Robok

Oleh Novian Suhendar

MABMonline.org, PontianakMakna perayaan tradisi robok-robok menurut Pangeran Ratu Mardan sebagai napak tilas kedatangan Opu Daeng Manambon. “Ketika itu para pengikut Opu Daeng Manambon, terdiri atas berbagai etnis dan agama,” katanya. Dengan begitu robok-robok diyakini sarat dengan pesan persatuan dari semua etnis dan agama yang ada di Kalbar. Pesan itu merupakan warisan yang ditinggalkan Opu Daeng Manambon ketika mendirikan Kota Mempawah.

“Mereka berkumpul pada hari Rabu akhir bulan Safar. Bersama-sama mereka membangun Mempawah. Ada makna harmonis antar etnis dan agama di balik perayaan robok-robok ini,” jelas Pangeran Ratu Mardan. Bukti lain dari adanya keharmonisan itu, lanjut Mardan, bisa dilihat di kompleks pemakaman Opu Daeng Manambon. Di makam tersebut juga terdapat makam Panglima Hitam orang Dayak, Patih Humantir dan Damarwulan orang Jawa, Lo Tai Pak orang Tionghoa, dan beberapa makam etnis lainnya.

“Peringatan robok-robok tahun ini yang disatukan dengan Festival Melayu dan Festival Keraton Nusantara memberi warna baru untuk meningkatan seni budaya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan robok-robok yang sudah menjadi salah satu kalender wisata nasional ini menjadi hiburan gratis masyarakat. Sejumlah hiburan ditampilkan seperti kontes motor air, busana adat, qasidah, karaoke lagu daerah, hadrah, albarzanji, panjat pinang, tepuk bantal, tarik tambang, tenis meja, bola voli, sepakbola anak gawang, lomba sampan, tarian daerah dan atraksi kesenian lainnya yang ada di Kabupaten Pontianak.

Kegiatan ini berlangsung di tepi Sungai Mempawah sejak pagi hingga malam hari. Robok-robok bagi sebagian masyarakat lokal menjadi berkah tersendiri. Mereka mendulang rupiah dengan berjualan berbagai produk di deretan kios di sekitar lokasi yang berubah menjadi pasar kaget. Biasanya mereka berjualan seminggu sebelum dan sesudah pelaksanaan robok-robok.

Membangun Asa, Mencapai Kebahagian Atas Kerja Keras

Oleh Siti Munawwarah

Pontianak — Menghirup udara kabin pesawat, saat itu sekitar pukul 09.30 pagi wib. Serombongan mahasiswa dari Universitas Tanjungpura mendapat undangan istimewa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Duduk di atas ketinggian ratusan kaki membuat adrenalin naik turun mengikuti arah gravitasi pesawat terbang yang mereka naiki. Perjalanan kali ini dilalui untuk menghadiri forum pertama mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi. Acara yang disebut forbiminas (forum bidikmisi nasional) ini dihadiri oleh 470 mahasiswa dari seluruh Universitas dan Politeknik yang ada di Indonesia.

Menginjak tanah Jakarta, waktu itu pukul 10.30 wib. Kami mulai menuruni badan pesawat berjalan menuju bandara Soekarno-Hatta. Ditemani ransel di punggung dengan semangat dan senang hati kami masuki gedung utama Soetta itu. Beberapa menit menunggu, seorang pria dengan kepala sedikit botak dan seorang lagi laki-laki berperawakan mahasiswa khas Jakarta  datang menghampiri kami.

Di tangannya tergenggam kain rentang bertuliskan “selamat datang mahasiswa peserta forbiminas”, dengan senyum yang ramah mereka menuntun kami ke arah parkir bandara.

Di sana sudah ada beberapa mahasiswa dari timur Indonesia. Sama seperti kami mereka juga mahasiswa peserta forbiminas yang sedang menunggu jemputan dari panitia. Panas saat itu tak seperti biasanya, di kota metropolitan seperti Jakarta panasnya tak akan sama seperti yang kau temui di kota kecil seperti Pontianak.

Sengat mentari yang menusuk-nusuk kuduk membuat kami agak gerah menunggu di sana. Sebelumnya kami saling berkenalan dengan mahasiswa dari Indonesia Timur itu.

“Sudah waktunya makan siang, ayo makan dulu.” Pria yang tadi membuka mobil dan mengeluarkan box-box makanan. Kami makan siang di parkiran itu, mencari tempat teduh di tengah gersangnya bandara Internasional tersebut.

Perjalanan dilanjutkan, kami digiring ke halte bus bandara. Sambil menyeret koper kami berjalan menyeberangi jalan bandara yang padat itu. Sampainya di halte, dari jauh memang sudah kulihat yang telah duduk duluan di deretan panjang kursi halte itu pastilah rakyat negeri kasuari. Almamaternya warna kuning dan krem, rambutnya kriting serta kulitnya hitam menggelapkan mata. Aku duduk di samping seorang laki-laki dengan kepang kecil dan banyak di kepalanya. Tak saling menyapa, aku tidak tau apakah mereka adalah orang-orang yang ramah. Aku tidak peduli, sampai bus datang dia pun hanya berlalu tanpa kata. Baru kali itu ku temui orang-orang Papua. Sepertinya ini akan menjadi perjalanan menarik melihat rakyat Indonesia sesungguhnya, satu persatu suku akan ku temui di sini.

Melihat jalanan Jakarta, padat dan panas namun cukup agung untuk ukuran orang kampung seperti saya. Gedung-gedungnya yang megah dan mencakar-cakar buana cukup memikat hati serta jalan betonnya yang mencengkram pertiwi. Aku melewati kawasan Jakarta yang bisa dikatakan elit. Plaza EX, Gelora Bung Karno, Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta beberapa mal besar telah dilewati. Sesampainya di hotel, rombongan Universitas Tanjungpura menginap di hotel Ambara. Setelah melalui proses registrasi dan pembagian kamar. Kami bersiap untuk acara pembukaan.

Pukul 19.00 wib, kami tiba di aula Dikti Kemendikbud. Acara pembukaan sebentar lagi namun sebelum itu seluruh peserta dijamu makan malam terlebih dahulu. Ruang makan tumpah ruah dengan ratusan mahasiswa. 30 menit kemudian kami sudah berada di aula, acara pembukaan kali itu di buka oleh mahasiswa Universitas Indonesia sekaligus  duta kewirausahaan Indonesia. Setelah serangkaian kata sambutan, tiba saat yang ditunggu.

Bertemu langsung dengan Muhammad Nuh. Sosok pemimpin yang rendah hati dan peduli pendidikan. M.Nuh mengatakan “Belilah masa depan dengan harga sekarang”. Ungkapan yang sedikit menggelitik perasaan untuk termotivasi. Banyak yang disampaikan oleh pak Menteri semuanya bertujuan untuk kesejahteraan peserta didik saat ini demi kehidupan Indonesia yang lebih baik.

Dari sekian ratus sosok manusia di aula tersebut. Ada satu perhatian yang cukup menarik mata batin saya untuk melihat kondisi Indonesia sebenarnya. Empat orang mahasiswa asal Papua dari program afirmasi dari Kemendikbud cukup mencolok dari ratusan mahasiswa yang ada. Ada cerita lucu yang jika dilihat sebenarnya menyedihkan. Saat akan menyanyikan lagu Indonesia Raya mereka tidak hafal. Setidaknya itu yang teman saya ceritakan yang kebetulan saat itu duduk disamping mahasiswa asal Papua tersebut. “Mereka tidak hafal lagu Indonesia Raya,” bisik Ahirul Habib.
Tidak hanya itu, lagu Indonesia Pusaka bahkan sama sekali tidak mereka ketahui. “Lagu apa ini? Ungkapnya dengan logat bahasanya yang kental. Kami hanya tersenyum sambil menuntunnya menyanyikan lagu tersebut.

Acara yang diisi dengan berbagai seminar, pelatihan serta acara jalan-jalan ini sangat berkesan khususnya bagi saya. Banyak yang dapat saya rasakan dan pelajari dari forum ini. Mahasiswa-mahasiswa berprestasi yang berhamburan di negeri Jawa, Sumatera, dan Sulawesi cukup membuat saya berpikir betapa kecilnya saya di hadapan dunia setidaknya dunia Indonesia.

Dari sekian banyak rangkaian acara, ada satu acara yang dapat dikatakan talkshow dengan seorang CEO GE Indonesia. Seorang pria yang memiliki jiwa sekuat tebing di antara jurang yang menjulang walaupun sebenarnya fisiknya serapuh batu kapur.

Hendry Satriago, pria berkepala botak yang selalu menggunakan kursi roda sejak ia positif mengidap kanker sum-sum tulang ini sungguh memiliki semangat yang jauh sangat kuat dari besi yang menyangga tubuhnya itu. Ia mengajarkan kepada kami artinya hidup, bahwa hidup haruslah terus berjalan dengan inovasi dan kerja keras. Ia belajar bahwa hidup berawal dari mimpi. “Manusia bisa dibungkam, dilumpuhkan, bahkan dibunuh tapi mimpi tetap akan hidup,” ungkapnya dengan penuh wibawa.

Satu kutipan yang membuat saya terpecut dan sadar ialah “Menjadi pemimpin bermula dari memimpin diri sendiri. Mewujudkan mimpi yang ingin dicapai tidak perlu membayar orang untuk menjadi pengikut. Jika mereka melihat Anda dengan penuh keyakinan berani memimpin diri sendiri, mereka akan mengikuti dan membantu Anda dengan tulus, serta percaya pada kepemimpinan Anda,” papar Santriago.

Satu pesan yang tetap saya ingat dari seorang Hendry Satriago ialah, “Pekerjaan rumah Anda sebagai pemimpin Indonesia tidaklah mudah, tidak berarti tembok besar dan ribuan panah api bisa menghentikan langkah Anda untuk berperang.”  Sebuah hal luar biasa bisa menemui laki-laki hebat ini di kota Batavia, di tengah menggeliatnya sekularis di tengah pelajar di negeri metropolitan yang korup.

Satu yang dapat saya simpulkan dari perjalananan ini. Hidup adalah belajar setiap saat, tak peduli kau sedang di bangku atau di tembok kotor yang sedang terlewat. Belajar bukan berarti menghafal rumusan statistik atau menumpuk teori.
Belajar adalah berpikir bagaimana kehidupan dapat berlaku baik kepada alam, kepada sesama, serta mengabdi untuk Tuhan. Dari belajar kita akan menemukan jawaban sesungguhnya dari peliknya ajaran hidup yang selama ini dikotak-kotakkan oleh perbedaan. Dan tujuan akhir dari sebuah kehidupan adalah mencapai kebahagian atas kerja keras.

Himbasi Ajak Masyarakat Berkarya

logo Himbasi
logo Himbasi

Oleh  Dina Apriana

MABMonline.org, Pontianak– Sekelompok mahasiswa terlihat sedang berkumpul melingkar di sebuah ruangan kecil. Mereka terlihat serius mempersiapkan perayaan hari ulang tahun Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia ke-26 dan peringatan Chairil Anwar (14/3). “Rapat ini merupakan rapat internal persiapan perayaan hari ulang tahun ke-26 Himbasi dan Peringatan Chairil Anwar. Himbasi merupakan satu di antara Hima (Himpunan Mahasiswa) yang terdapat di FKIP dan sudah berdiri sejak tahun 1987 tepatnya pada tanggal 21 April,” ungkap Zainal selaku Ketua Himbasi periode 2012/2013.

“Peringatan Chairil Anwar merupakan suatu kegiatan yang dilaksanakan Himbasi yang bertepatan dengan HUT Himbasi setiap tahunnya untuk mengenang hari kematian sastrawan besar Indonesia, Chairil Anwar, dan merupakan ranah kerja bidang Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia (PPBSI),” sambung Ria Lestari yang merupakan Kepala Bidang PPBSI ketika ditanya tentang kegiatan Chairil Anwar dan HUT ke-26 Himbasi. Menurutnya, terdapat nuansa yang berbeda antara perayaan tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya terutama dari segi konsep acara. “Perayaan tahun ini tidak terlalu banyak digunakan untuk perlombaan dan acaranya tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Hanya ada enam acara, yaitu pembukaan dan penutupan, lomba cipta puisi tingkat umum, musikalisasi puisi tingkat umum, bakti sosial, dan bedah buku dan kami menginginkan dengan acara yang tidak terlalu banyak kami dapat membuat perayaan ini se-wah mungkin dengan kerja sama yang baik antara panitia, pengurus, dan pengarah.”

Himbasi yang pengurus serta anggotanya berasal dari mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada dasarnya mengharapkan generasi muda tidak berhenti berkarya dengan budaya dan bahasa yang kita miliki sebagai warga Indonesia. “Oleh karena itu, kami mengusung tema ‘Cipta Karya, Lestarikan Budaya, dan Bina Bahasa melalui Peringatan Chairil Anwar dan HUT ke-26 Himbasi FKIP Untan 2013’ dan berharap perayaan ini dapat menjadi wadah untuk berkreasi,” ujar wanita bertubuh tinggi tersebut. Sebgai tambahan, wanita yang akrab disapa Ria itu pun mengajak seluruh masyarakat khususnya para generasi muda untuk berpartisipasi menyukseskan perayaan Chairil Anwar dan HUT ke-26 Himbasi, “Silahkan mendaftar untuk lomba Musikalisasi Puisi, Cipta Puisi, dan Bedah Buku yang seluruhnya dilaksanakan pada April mendatang.”

Laskar Ungu Menyisakan Nama

Oleh: Hendra Sanjaya

MABMonline.org, Pontianak

Berdiri untuk diminati tapi tak begitu dikenali
Terombang-ambing oleh jati diri
Kini berjalan dikabut kelabu sunyi
Gajah mati meninggalkan gadingnya
Harimau mati meninggalkan belangnya
Laskar Ungu vakum menyisakan sejarahnya

Laskar Unggu, Ungu Mengudara.
Begitulah jargon yang sering diucapkan sejumlah aktivis seni yang tergabung dalam komunitas Laskar Ungu ketika mengakhiri latihan.
Berkenaan dengan Laskar Ungu, banyak orang yang belum mengetahui Laskar Ungu, termasuk mahasiswa yang ada di kampus FKIP yang tidak mengetahui bahkan anda para pembaca mungkin tidak tahu apa Laskar Ungu itu?
Diungkapkan seorang pria berkulit kuning langsat, berfostur 156 cm, Bahrudin namanya. Sambil diiringi
instrumen musik sendu dan dinginnya hembusan angin malam, dirinya mengatakan bahwa “Laskar Ungu ini dicetus oleh 2 mahasiswa PBSI angkatan 2008 yaitu Edi Sahudi dan Majinur Darlisanto, kecintaan mereka terhadap seni peran menjadikan tercetusnya ide untuk membuat komunitas Laskar Ungu.”

Laskar Ungu merupakan komunitas yang digaungi oleh mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) regular A. Laskar Ungu ini ada karena sebagian mahasiswa Prodi PBSI yang sering mengisi acara dalam agenda-agenda yang dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (Himbasi).

Sebagian mahasiswa PBSI mengenal Laskar Ungu sebagai wadah mahasiswa PBSI untuk mengembang minat dan bakatnya dalam memainkan peran, padahal Laskar Ungu ini adalah sebuah komunitas yang bertujuan untuk mengembangkan minat dan bakatnya seperti teater atau seni peran, tari, musik,
vokal, akustik, dan sebagainya. “Memang, sebagian besar anggota Himbasi bahkan baik di dalam maupun di luar menganggap Laskar Ungu hanyalah teater, sedangkan tari, vokal, musik itu ndak, sebenarnya semua itu juga Laskar Ungu. Hanya  pada saat itu kendalanya adalah tidak adanya pelatih dan yang ada hanya pelatih teater sehingga orang mengenal Laskar Ungu itu komunitas teater atau seni peran.”

Laskar Ungu sendiri sudah sering unjuk kebolehan dalam membintangi beberapa acara yang diselenggarakan oleh Hima-Hima dan UKM yang ada di kampus FKIP atau kegiatan yang ada di luar kampus.
Eksistensi yang tinggi pada saat itu menjadikan komunitas Laskar Ungu sempat memperkenalkan diri pada komunitas-komunitas lain dalam pertemuan komunitas seni dalam acara parade teater yang diselenggarakan di Taman Budaya (TB) Pontianak. Ini membuktikan bahwa komunitas Laskar Ungu
sempat berjaya dimasa terbentuknya.
Sampai saat ini Laskar Ungu hanya terdengar sebuah nama, keberadaannya yang vakum membuat komunitas Laskar Ungu mulai terabaikan. ”Sebenarnya kata terabaikan itu tidak tepat karena Laskar Ungu selalu tampil pada saat acara yang diselenggarakan Himbasi, hanya karena jarak agenda yang terlalu jauh sehingga Laskar Ungu pun jarang tampil dan seolah-olah hilang.” Diungkapnya kembali. Bagaimana tidak dikatakan terabaikan, eksistensi Laskar Ungu yang kini hanya berpatokan pada agenda besar Himbasi turut memprihatinkan, sedangkan jarak agenda besar Himbasi membutuhkan 2-3 bulan ke depan baru diselenggarakan agenda tersebut, itu waktu yang sangat lama untuk Laskar Ungu unjuk kebolehan.

Sebagai komunitas yang berbaur positif sudah sepantasnya untuk dipertahankan, mengingat tidak banyak pemuda yang begitu antusias terhadap seni karena telah dikalahkan oleh era teknologi. Maka besar harapan kami bahwa Komunitas Laskar Ungu yang digaungi oleh para mahasiswa PBSI bisa terus maju dan membuktikan kempuannya dan tidak lagi hanya menyisakan nama.

Pasar Flamboyan Tak Lagi Strategis

Sumber : www.equator-news.com
Sumber : www.equator-news.com

Oleh Hendra Sanjaya

MABMonline.org, Pontianak – Pasar Flamboyan yang bertempat di Jalan Veteran merupakan tempat penjualan berbagai produk dan bahan sembako dengan harga murah meriah seperti tempe, tahu,  telur, sayur, daging, ayam, tomat, pisang, peralatan dapur,  dan sebagainya. Pasar ini dibuka pada setiap harinya dari pagi hingga sore.

Menurut seorang penjual di Pasar Flamboyan yang akrab dipanggil Pak Saleh, semenjak di pindahkannya tempat lokasi jualan, pengunjung tidak seramai di lokasi yang lama pasalnya banyak warga yang kurang tahu. “Pelanggan sekarang banyak lari karena banyak bingung,” ujarnya. Menurut beliau lokasi yang sekarang tidak begitu strategis, sehingga banyak warga yang kurang  tahu lokasi pasar tersebut “Dulu kan nyaman tempatnya bujur sekarangkan banyak kios makanya banyak yang ndak tahu,” tambahnya lagi.

Pasar Flamboyan di lokasi yang baru ini dibuka pada tanggal 9 Februari 2013 di Jalan Veteran. Dibukanya Pasar Flamboyan yang baru bertujuan untuk memperbaiki sarana dan prasarana lokasi yang lama, setelah selesai dibangun nanti maka akan pindah ke tempat awal “Nanti pindah lagi ke tempat awal tapi ndak tahu juga kalau orang yang bukan asli Flamboyan, kalau orang asli Flamboyan sih pasti pindah,” ujarnya. Ia juga berharap untuk lokasi jualan nanti jangan dipindah-pindah ”Bapak sih berharap kalau tempat jualannya jangan suka dipindah-pindah, takut pelanggan bingung nantinya.”

Es Rosul dan Rujak Es Krim Makanan Berkah dan Toyib

Oleh : Ria Lestari

MABMonline.org, Pontianak-Es rosul dan rujak es krim mulai menjajaki kuliner di Pontianak. Makanan yang tersaji di Kedai Bento ini mulai digemari oleh masyarakat. Nama dan rasa yang unik dari kedua makanan ini menjadi andalan bagi penjual untuk menarik pelanggan di pasar. Selain itu, harganya relatif murah dan yang penting halal. Jumat (17/4), “Sejauh ini makanan es rosul dan rujak eskrim mendapat komentar baik dari pelanggan yang pernah mencobanya, dan rata-rata mereka bilang enak, rasanya unik, khususnya rujak es krim yang memiliki rasa kolaborasi manis, pedas, asam, dan asin.” papar Sandy pemilik Kedai Bento.

Saat ini banyak warung-warung yang menjual makanan-makanan baru yang unik dan menarik. Baik dari namanya maupun  penyajiannya. Sebut saja kedai Bento. “Bento itu singkatan dari (berkah dan toyib).  Ide ini berangkat filosofi bahwa makanan itu harus berkah dan toyib/ baik untuk dimakan. Di Kedai Bento ini ada dua menu yang kami tawarkan, yaitu: es rosul dan rujak es krim.” papar  pemuda asal Pontianak ini ketika di temui.

“Es rosul merupakan singkatan dari es rosella susu legi (manis). Es ini dibuat dengan bahan dasar teh rosella, lalu di campur susu. Rasanya manis dan segar.” Jelas pemuda yang bernama lengkap Sandy Yudha Wijaya ini.

Selain itu, Sandy juga memaparkan bahwa Kedai Bento ini juga menjual rujak es krim. Rujak es krim merupakan kombinasi antara rujak dengan es krim. Seperti rujak pada umumnya, rujak ini dibuat dari buah bengkuang, nanas, jambu,dll. lalu ditambah es krim yang dibuat sendiri. Cara penyajiannya sederhana saja, rujak yang telah disiapkan di wadah lalu ditambahkan es krim lalu disiramkan susu kental manis di atasnya. Rasanya kolaboratif sekali, manis, pedas, asama, dan asin.

Makanan-makanan ini mendapat sambutan baik dari pelanggan yang telah mencobanya. “Pelanggan yang telah mencoba makanan kami, saya suruh tulis komentarnya di facebook. Rata-rata komentarnya enak dan segar. Ada satu komentar dari pelanggan yang paling menarik menurut saya, komentarnya seperti ini ‘Wah..orang belum tahu kalau ini enak’ .” papar mahasiswa semester 6 Prodi Sosiologi FKIP Untan ini.

Sementara ini kedai bento belum beroperasi secara maksimal, berhubung tersangkut oleh kesibukan perkuliahan. “Kedai Bento untuk saat ini hanya buka setiap hari sabtu dan minggu. Karena hari lainnya saya sibuk kuliah. Kedai bento ini  terletak di Jalan 28 Oktober, Siantan tepat di rumah saya sendiri. Namun jika ada yang memesan langsung pada hari lainnya juga bisa.” tambah mantan Kabid Keuangan di sebuah organisasi keagamaan di FKIP ini.

 

 

Sarana dan Prasarana FKIP Belum Memadai

Gambar: Tampak dari depan papan nama FKIP Untan. MJ.
Gambar: Tampak dari depan papan nama FKIP Untan. MJ.


Oleh  Ria Lestari

MABMonline.org, Pontianak-Sarana Prasarana di FKIP Untan hingga saat ini belum memadai. Baik kelayakan fasilitas, keamanan maupun kedisiplinan cukup memprihatinkan di Kampus Oren ini. “Sarana dan prasarana di FKIP belum efektif memenuhi kebutuhan masyarakat FKIP sendiri” papar Damai Yanti, mahasiswa semester 8 ketika diwawancarai, Kamis(14/3). “ Kita bisa lihat sendiri fasilitas parkir yang kurang memadai dan kondisi area parkir yang cukup memprihatinkan itu. Belum lagi pelayanan di ruang baca yang belum memenuhi aturan  pendisiplinan waktu buka-tutup ruang baca. Selain itu, keamanan  di kampus juga masih memprihatinkan, mengingat sering terjadinya kehilangan helm, labtop, dompet, dll. di area kampus misalnya: parkir, mesjid dan ruang baca,” tegas Menteri Pendidikan BEM FKIP periode 2012/2013 ini.

Menurut Damai atau biasa akrab di panggil Kak Damai ini, solusi untuk menangani masalah tersebut tidak lain tidak bukan adalah ketegasan dari pemimpin di FKIP sendiri. “Perlunya tindakan tegas dari pemimpin untuk mendisiplinkan apa yang memang seharusnya dijalankan oleh petugas-petugas di kampus ini. Apalagi FKIP yang katanya dijadikan sebagai zona integritas kampus. Selain itu, untuk mengantisipasi tindakan pencurian perlu di pasang CCTV dibeberapa area rawan, misalnya: masjid, ruang baca, dll,” papar mahasiswa asal Sambas ini di tengah-tengah kesibukannya.

Sama dengan mahasiswa FKIP lainnya, Damai berharap sarana dan prasarana yang ada FKIP dapat diadakan dan difungsikan semaksimal mungkin. “Saya berharap penatalaksanaan segala sarana dan prasarana yang ada di FKIP bisa dimaksimalkan dan dapat difungsikan sebagaimana mestinya,” tuturnya dengan tersenyum penuh harap.

 

Jajanan Malam Khas Kemuning

Gambar : Bentuk Pasar kemuning dari depan
Gambar : Bentuk Pasar kemuning dari depan

MABMonline.org, Pontianak-(4/4) kamis malam lepas isya tepatnya pukul 19.30. Geliat ekonomi penduduk sekitar jalan Prof. M. Yamin, kecamatan Kota Baru Potianak baru saja berganti. Jajanan-jajanan malam khas pasar baru saja memulai aktifitasnya. Berbagai macam pedagang menjajakan jualannya berjejer di sepanjang jalan menggunakan gerobak mereka masing-masing. Mulai dari molen, apam pinang, martabak, kacang hijau, hingga es tebu ada di sana.

Aminah, seorang penjual kacang hijau dan sekoteng di sana mengatakan malam hari adalah waktu di mana orang-orang mulai keluar mencari jajanan biasanya setelah lelah seharian beraktifitas. Menurutnya, kebanyakan pelanggannya adalah orang-orang kantoran dan mahasiswa yang biasanya melepas lelah atau hanya sekedar berkumpul di sana. “Kebanyakan pelanggan saya itu orang kerjanya di kantor atau mahasiswa yang lagi pengen keluar atau nyari yang anget-anget.” Tutur Aminah. Aminah juga mengatakan bahan-bahan yang digunakan untuk dagangannya mengguanakan bahan-bahan yang alami dan tidak menggunakan bahan campuran kimia. “Kalau ini saya buatnya pake kacang hijau asli, sama sekotengnya gak pake bahan yang aneh-aneh, gak bagus buat badan, rasanya pun jadi tidak enak.” Kata Aminah.

Lain lagi Nalim, pedagang martabak yang sudah lima tahun berdagang di sana mengaku sudah akrab dengan aktifitas malam di sana. Kebanyakan para pelanggannyaa adalah para ibu-ibu atau atau para pasangan muda yang kebetulan sedang melintas atau memang sengaja ingin membeli martabaknya. “Yang beli biasanya sih ibu-ibu bawa anaknya, sama anak-anak muda yang lagi pacaran ada juga.” Kata Nalim saat ditemui di tempat berjualannya. Keunikan lainnya adalah pedagang di sana juga berinovasi dengan barang dagangannya, misalnya Siam, ibu satu orang anak ini melakukan inovasi dengan molen dagangannya. Ibu Siam mengganti isi molen yang biasanya pisang menjadi rasa kacang hijau dan coklat. Sehingga menciptakan rasa yang unik dan tergolong baru. “Awalnya sih coba-coba, karena yang jualan molen sudah banyak, jadi ibu buat model baru molen isi kacang hijau dan coklat. Hasilnya lumayan, banyak yang nyari molen saya. Sekarang jadi laris.” Ungkap Siam.

Saat ditanya mengenai omset yang didapatnya sehari, baik Amniah, Siam maupun Nalim tidak mengatakan secara rinci, mereka sama-sama mengatakan cukup untuk kebutuhan sehari-hari. “Yah cukuplah untuk menutupi kebutuhan sehari-hari sama buat modal jualan lagi.” Tutur Aminah sembari melayani pembeli lainnya. Para pedagang di sana bukan berarti tidak mendapat rintangan, menurut Nalim, halangannya dalam berjualannya di sana jika saat hujan, jualannya cenderung sepi karena tidak ada orang yang lewat. “Yah namanya juga orang jualan mas, kadang untung, kadang juga rugi,tapi tetep harus jualan biarpun hujan.” Kata Nalim.

Saat ini, terdapat sekitar tigapuluhan pedagang yang mejajakan dagangannya di jalan depan pasar kemuning itu. Dengan berbagai pilihan dan citra rasanya. Tinggal tergantung pada selera pembeli akan memilih yang mana.