Para Pengantar Jenazah

Oleh Siska Rahmawati

MABMonlie.org,Pontianak–Di hari itu speed boat Digjoyo melaju dengan kencang menyusuri panjangnya aliran sungai Kapuas. Speed putih berkapasitas sekitar 20 orang itu hanya diisi 11 orang dan seorang lelaki yang telah terbujur kaku. Memang keberadaan mereka di dalam speed itu hanya untuk seorang yang telah terbujur kaku tak berdaya. Mereka adalah para pengantar jenazah yang akan membawanya ke tempat peristirahatan terakhir.

Di malam sebelumnya tepat pukul 01.00 dini hari tanggal 2 januari seorang lelaki berusia 45 tahun telah menghembuskan nafas terakhir di ruang ICU rumah sakit Promedika Pontianak. Setelah mendapatkan perawatan intensif selama 12 jam akhirnya dia Sukanda tidak mempunyai daya lagi membuka mata untuk selama-lamanya. Seketika kesenyapan ruang ICU pecah oleh suara tangisan istri, adik-adik, dan abang sepupu mereka yang berada di sekitar jenazah.

Istrinya Adminah (42 tahun) tidak kuasa membendung luapan kesedihan yang tiba-tiba berubah menjadi duka yang teramat dalam. Ia pun nyaris pingsan mengetahui kondisi suaminya yang telah tiada akibat penyakit yang dideritanya selama hampir setengah tahun ini.

Adik kembarnya Sisu dan Kasmin (31 tahun) hanya mampu mengusap-usap pundak kakak kandungnya yang telah lemah. Meskipun usapan itu tidak mampu mengurangi kedukaan Adminah, akan tetapi sedikit membantu untuk menguatkannya. Ruangan ICU bercat putih itu menjadi saksi bisu lepasnya nyawa seorang yang dicintai mereka.

Abang sepupunya Darman (46 tahun) telah berada di sana 1 jam sebelum Sukanda meninggal. Darman pun segera menghubungi semua sanak saudara untuk mengabarkan bahwa Sukanda telah meninggal dunia dikarenakan penyakit gagal ginjal yang dideritanya. Selepas menghubungi keluarga Darman segera menghubungi pemilik speed boat Digjoyo untuk mencarter speed. Karena memang kampung halaman kami hanya dapat ditempuh menggunakan jalur air, dan kendaraan yang paling cepat untuk mengantarkan kami hanyalah speed boat.

Pihak suster rumah sakit mempersilakan mereka untuk memberikan salam pelukan terakhir untuk almarhum. Karena selepas itu pakaian jenazah akan dilepaskan dan tubuh yang terbujur kaku itu akan dibersihkan. Mereka pun dipersilakan menunggu di kursi yang berada di luar ruangan ICU sembari jenazah dibersihkan.

Di kursi tunggu Adminah masih tidak kuasa untuk menghentikan tetesan air matanya yang terus mengalir. “Waktu datang ke rumah sakit kemarin dia masih sehat, masih bisa berjalan sendiri memasuki ruang UGD. Ya Allah, kenapa begitu cepat,” ujar Adminah yang masih terus menangis. Di sampingnya, jari-jemari tangan kanan Sisu adik kandungnya masih sibuk mengetik telepon genggam yang berada di tangannya untuk menghubungi anak-anak kakaknya yang berada di kampung. Sementara tangan kirinya mengusap pundak kakaknya Adminah.

Telepon pun tersambung dengan telepon keponakannya yang berada di kampung seberang sana. Setelah memberi kabar bahwa ayahnya telah tiada, sontak suara speaker telepon genggam tersebut seakan pecah oleh teriakan keponakannya yang bernama Devi itu. Terdengar tangisannya yang tidak percaya bahwa ayahnya yang selama ini memanjakannya telah berpulang untuk selama-lamanya.

Sementara di ruang administrasi Kasmin mengurus segala keperluan administrasi selama tiga hari di rawat di rumah sakit. Serta memesan ambulan rumah sakit agar esok hari jenazah dapat diantarkan ke Rasau Jaya.

Di tempat berbeda di depan ruang ICU suster yang telah selesai membersihkan tubuh jenazah segera menghampiri pihak keluarga, dan memberitahukan bahwa jenazah harus segera dipindahkan karena tidak mungkin akan diletakkan di ruang inap lagi. Dikhawatirkan pasien-pasien yang lain akan merasa tidak nyaman. Suster dan pihak rumah sakit juga mengabarkan berita yang tidak nyaman di dengar. Mereka mengatakan bahwa di rumah sakit ini tidak memiliki fasilitas kamar jenazah, jadi mau tidak mau kalau pihak keluarga menyetujui jenazah akan diletakkan di ruang penyimpanan keperluan rumah sakit.

Seketika tangis Adminah memuncak “Ya Allah, kenapa begini nasib suamiku,” ujar Adminah. Akhirnya setelah melalui pembicaraan cukup lama jenazah di bawa ke lantai 1 dan diletakkan di ruang perlengkapan. Setibanya di ruang perlengkapan ternyata apa yang di bayangkan pihak keluarga tidak seperti sebelumnya. Ruang perlengkapan di rumah sakit itu bersih dan tidak terlalu berdebu. Pihak keluarga menjadi sedikit lebih lega.

Adminah, adik-adik, dan Darman abang sepupunya membentangkan tikar berwarna-warni yang sebelumnya Darman antarkan sebelum jenazah meninggal untuk menjadi tempat istirahat bagi yang menjaga Sukanda. Akan tetapi malahan menjadi tempat istirahat untuk menunggu jenazah suami Adminah tercinta.

Mereka pun melepas lelah sejenak, membujurkan kaki untuk menenangkan diri masing-masing di atas bentangan tikar tersebut. Tidak ada satupun mata yang dapat terlelap, karena masih terngiang-ngiang detik-detik terakhir Sukanda meregang nyawa.

Pukul 03.00 dini hari Darman pamit pulang sebentar untuk mempersiapkan pakaian yang akan Ia bawa ke kampung halaman untuk mengantarkan jenazah Sukanda. Darman menuju tempat parkir dan sesegera mungkin beranjak dari rumah sakit. 20 menit kemudian Darman tiba di rumah, istinya Siti telah menunggu kedatangan kami. Siti seakan tidak percaya Sukanda akan meninggal secepat ini. Darman bergegas memasukkan pakaian seperlunya untuk dibawa ke kampung sambil bercerita apa yang telah Ia alami di rumah sakit. istrinya hanya bisa menyimak dengan baik dan meneteskan air matanya.

Pukul 06.00 Darman, istrinya Siti, dan anak keduanya yang masih berusia 4 tahun bergegas ke rumah sakit setelah sebelumnya menghubungi Pakde Bardi yang memiliki mobil kijang keluaran pertama agar mengantarkan kami ke rumah sakit setelah itu menuju Dermaga Rasau Jaya.

Setibanya mereka di rumah sakit, beberapa sanak famili yang berada di Pontianak telah datang ke rumah sakit, dan sedikit-demi sedikit ruang belakang rumah sakit dipenuhi orang-orang yang ingin menyampaikan belasungkawa.

Pukul 08.30 mobil jenazah akhirnya siap digunakan untuk mengantarkan jenazah Sukanda. Setelah jenazah dimasukkan ke dalam mobil, Kasmin dan Adminah ikut masuk ke dalam mobil jenazah. Sedangkan abang sepupunya Darman duduk di samping supir ambulan. Siti istri Darman, sisu serta keluarga yang akan pulang kampung juga segera masuk ke dalam mobil Pakde Bardi. Mereka pun pergi ke dermaga speed boat Rasau Jaya diiringi oleh sanak famili yang menggunakan sepeda motor.

Ternyata kedatangan mereka di pelabuhan speed telah ditunggu pemilik speed, keponakan Darman bernama Andre dan ayahnya Yanto yang juga akan ikut ke kampung halaman di Kecamatan Seponti Jaya, Kabupaten kayong Utara yang biasa disebut juga dengan Paket 5.

Jenazah langsung diletakkan di tengah-tengan speed, sebelumnya sandaran bangku telah dilipat terlebih dahulu agar lebih mudah meletakkan jenazah. Barang-barang mereka pun dimasukkan terlebih dahulu ke dalam speed. Sembari menunggu barang-barang selesai diangkut, Darman berpamitan kepada istri dan anaknya yang hanya bisa ikut mengantar hingga ke Dermaga Rasau Jaya saja. Dengan meminta doanya mereka pun pergi menuju kampung halaman Desa Seponti Jaya Kabupaten Kayong Utara yang berjarak sekitar 250 km dari Pontianak.

Aku duduk tepat di samping jenazah kaki Sukanda yang merupakan pamanku. Perjalanan begitu mengharukan. Terlebih Adminah yang duduk di bangku paling depan yang juga merupakan bibiku sesekali menangis menghadapi kenyataan pahit yang menimpanya ini. Speed melaju dengan kencang menabrak ombak-ombak kecil yang membuat tubuh kami para penumpang sedikit terhempas di atas tempat duduk. Terlebih saat speed berkecepatan tinggi itu melewati tikungan sungai, seakan-akan kami akan terlempar dan terjatuh ke dalam sungai terpanjang di Indonesia ini.

Tak lama perjalanan, speed kami tiba-tiba berhenti. Ternyata nahkoda speed merasakan ada sesuatu di baling-baling kipas speed yang dikendarainya. Dengan cekatan ia pun melihat keadaan kipas, ternyata terdapat kantong plastik yang tersangkut. Selepas membersihkan kipas perjalanan pun kembali dilanjutkan.

Sempat beberapa kali aku memegang kaki pamanku yang telah dingin terbujur kaku. Sekelebat aku teringat kenangan-kenangan yang pernah terukir saat ruhnya masih ada dalam raganya. Terasa pilu apabila mengingat hal-hal itu. Keindahan-keindahan lukisan tangan Allah yang berada di sepanjang sungai sedikit mampu mengusir duka yang menggelayuti hati ini.

Tidak terasa sudah dua jam setengah kami para pengantar jenazah berada dalam Digjoyo. Perjalanan kami lalui dengan lancar dan tidak ada kendala yang berarti. Akhirnya kami pun sampai di dermaga Seponti Jaya Paket 5 lebih cepat setengah jam dari biasanya. Dari kejauhan terlihat begitu ramai para tetangga dan keluarga telah menunggu kami terutama jenazah pamanku Sukanda. Seketika tangis bibiku Adminah pecah membahana memecah kerasnya suara mesin speed yang meraung.

Saat tali tambang speed dilontarkan ke dermaga dengan sigap orang-orang yang menunggu di atas dermaga menyambut dan mengikatkan tali agar kami dapat merapat sesegera mungkin. Satu persatu kami ke luar dari dalam speed. Tangis bibiku tak kunjung reda. Saat aku beranjak dari kursiku menuju bagian depan speed, langkahku mulai gontai akibat ombak-ombak kecil yang menabraki pinggiran speed Digjoyo putih itu. Ketika kaki kananku melangkah ternyata pijakkanku tidak tepat. Sandal gunung coklatku menginjak kaca speed yang terbuat dari plastik sehingga kaca tersebut pecah. Perasaanku begitu tidak nyaman berulang kali aku lontarkan kata maaf untuk menebus kesalahanku. Syukurnya nahkoda speed begitu baik dan membiarkanku segera pergi mengikuti jejak langkah para penumpang yang lain.

Ternyata aku telah dijemput oleh pamanku Darsam yang merupakan adik kandung ayahku, aku pun segera mengambil tangan kanannya dan menciumnya. Setelah jenazah di masukkan ke dalam ambulan milik puskesmas kecamatan  segera aku duduk di belakang motor Yamaha mio hijau milik pamanku. Di sepanjang jalan dari dermaga hingga ke rumah jenazah begitu banyak orang yang mengikuti ambulan. Orang-orang selururuh kampung seakan keluar ikut mengantar mengiringi kepergiannya. Aku begitu takjub, karena memang semasa hidupnya beliau tidak pernah mengusik kehidupan orang lain.

Setibanya di rumah duka, ternyata keadaan lebih ramai lagi. Segala sesuatu keperluan jenazah telah selesai dipersiapkan termasuk peti jenazah dan persipan untuk menadikannya. Aku segera turun dari motor pamanku ternyata pamanku yang lain juga telah berada di sana duluan. Setelah bersalaman aku segera masuk ke rumah duka melalui pintu garasi rumahnya yang terbuka lebar.

Di dalam rumah seketika terdengar jerit tangis anak perempuannya Devi yang seakan tidak terima ruh ayahnya telah direnggut oleh malaikat Isroil. sedang anak lelakinya Dodi terus saja mengurung diri di kamarnya setelah mengetahui ayahnya telah tiada. Tidak ada sedikitpun bibir tersenyum, semua wajah dirundung duka mendalam. Tiba-tiba ada seseorang yang tersenyum ke arahku. Senyuman itu adalah senyuman nenekku yang bahagia dan terkejut melihat kedatanganku. Aku segera memeluk dan mencium tangannya yang telah keriput dimakan usia.

Di samping garasi, jenazah tengah dimandikan oleh pihak keluarga. Para ibu-ibu mengelilingi dan membaca sholawat sepanjang prosesi pemandian jenazah dilakukan. Usai dimandikan jenazah dibawa masuk ke dalam ruang tamu rumah duka dan segera dikafankan. Jenazah telah rapi terbungkus kain putih, pakaian terakhir yang wajib dikenakan saat seorang muslim meninggal yang tersisa hanya bagian wajah. Orang-orang pun memanggil istri, anak, dan mertua jenazah agar melihat jenazah untuk terakhir kalinya. Setelah itu akhirnya tali putih pun diikatkan dan wajah pucat pasi itu pun tertutup untuk selama-lamanya, dan selepas itu jenazah pun disalatkan.

Sebelum dibawa ke pusara terakhirnya seorang ustaz yang telah ditunjuk pihak keluarga menyampaikan pesan dan khotbah untuk keluaraga dan semua orang yang ada di sana. Jenazah yang telah dimasukkan ke dalam peti pun akhirnya di gotong setelah khotbah yang disampaikan ustaz selesai. Beramai-ramai, berbondong-bondong orang mengikuti jenazah hingga akhirnya tiba ke liang lahat. Tapi pada saat itu aku tidak ingin ikut bersama rombongan yang lain, karena aku takut tak mampu membendung air mata ini. Akhirnya aku berada di rumah duka dan bersilaturahmi dengan keluarga-keluarga yang berada di rumah duka.

Hanya sekitar beberapa waktu saja aku di sana. Karena aku harus pulang ke rumah nenekku atau biasa ku panggil dengan sebutan mbah. Aku menginap di rumah mbah selama 2 hari saja. Selama di sana sempat beberapa kali aku mendatangi rumah bibiku Adminah. Memberikan semangat padanya meskipun mungkin kecil semoga mampu menghibur hatinya. Ia sudah tampak tegar menerima kenyataan pahit ini. “Mungkin ini sudah jadi yang terbaik untuknya, karena sudah menahan sakit selama ini, semoga dia bisa tenang di sana,” ujar bibiku yang bertubuh agak gemuk itu. Kedatanganku ke rumahnya kali itu juga ingin berpamitan dengannya karena keesokan harinya aku sudah akan kembali ke Pontianak bersama Ayahku.

Keesokan harinya aku dan ayahku telah siap untuk kembali ke Pontianak menaiki speed boat yang berbeda dengan yang kami naikki saat kami pergi. Perjalanan kali ini begitu singkat namun terasa sangat panjang. Tidak sedikitpun kami merasakan lelah. Entah mengapa fisik kami begitu kuat meskipun kami jarang tidur saat berada di sana. Seakan-akan Allah memberikan kami kekuatan lebih saat berada di sana.

Kami tiba di dermaga paket Seponti Jaya diantar oleh paman-pamanku. Pukul 08.00 speed boat kami pun tiba. Segera kami melangkah masuk ke dalam pesawat air itu. Selama tiga jam kami melaju mengarungi sungai yang sama saat kami pergi mengantarkan jenazah. Kini saat semua telah usai aku merasakan lelah yang begitu hebat. Akhirnya disepanjang perjalanan banyak waktu kuhabiskan untuk melelapkan ragaku dan menaruh kepalaku pada sandaran kursi yang kududuki.

Hidangan Lezat Asal Serambi Mekah

Oleh Siska Rahmawati

mie aceh di pontianak
MABMonline.org, Pontianak–
(18/4) Masyarakat Kalimantan Barat khususnya Pontianak terkenal gemar mencicipi kuliner di luar ketimbang memasak sendiri di rumah. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor  seperti banyaknya warung makan-warung makan yang menjual berbagai makanan enak yang terjangkau dan meningkatnya taraf hidup masyarakat.

Satu diantara warung makan yang terdapat di Pontianak adalah Warung Makan Mie Aceh di depan SPBU Jl. Imam Bonjol. Dari namanya saja sudah tampak bahwa warung makan ini menjual mie khas yang berasal dari Tanah Serambi Mekah atau lebih dikenal dengan Aceh.

M. Nasir pemilik warung makan ini memang berasal dari Aceh. Setelah sempat beberapa kali berpindah dari satu kota ke kota lainnya untuk berjualan mie aceh, akhirnya kini M. Nasir menetap dan berjualan di Pontianak. Warung makan mie aceh ini berdiri di Pontianak baru sekitar beberapa minggu lalu tepatnya tanggal 18 April. Akan tetapi omzet penjualan mie aceh ini sangat memuaskan. Dengan cita rasa berempah khas Aceh mampu menarik minat pelanggan untuk datang dan mencicipi mie aceh tersebut.

Baca juga: Lempeng Sagu: Kue Tradisional yang Jarang di Pasar

“Mie aceh sendiri terbuat dari 22 macam bumbu. Beberapa di antaranya cabai kering, kacang tanah, bawang merah dan putih, pala, jahe, kayu manis, kemiri, udang, kerang, kemudian diberi emping dan acar,” ujar pria berusia 26 tahun ini.

Pria asal aceh ini juga mengatakan bahwa resep mie aceh yang dimilikinya ini merupakan resep asli yang dia bawa dari aceh. Resep tersebut juga memiliki sedikit perbedaan dengan mie aceh lainnya. Karena masing-masing penjual memiliki teknik tersendiri dalam proses membuat serta mengolahnya sehingga menjadikan mie aceh memiliki rasa yang sedikit berbeda-beda.

Warung makan yang dia miliki menawarkan berbagai macam olahan mie aceh seperti: mie aceh rebus, mie aceh goreng, mie aceh goreng seafood, mie aceh goreng basah spesial. Bahkan warung makan ini juga menjual nasi goreng.

“Rencananya saya akan membuka cabang lagi kalau hasil penjualan disini menunjukkan hasil yang baik,” pungkas pria yang pernah berjualan di Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Jombang, Madura, Malang, Solo, dan Cirebon ini.

Kebersihan TPS Pasar Flamboyan

Gambar : TPS Pasar Flamboyan.
Gambar : TPS Pasar Flamboyan.

Oleh Siska Rahmawati

MABMonline.org, Pontianak–Tempat Penampungan Sementara Pasar Flamboyan atau TPS, merupakan pasar semi permanen yang dibangun oleh Pemda Kota Pontianak untuk menampung para pedagang pasar yang sebelumnya berjualan di Pasar Flamboyan. TPS ini terletak di Jalan Veteran, dan kurang lebih selama enam bulan ini mampu menampung sebagian besar pedagang yang sebelumnya berjualan di Pasar Flamboyan yang saat ini tengah direhab. TPS ini dibangun lebih rapi tata letaknya dan terjaga kebersihannya.

Para pedagang dan pengunjung pasar juga merasakan kenyamanan saat  bertransaksi, karena lantai-lantai pasar bersih dan tidak berlumpur seperti pasar sebelumnya yang saat ini tengah dalam proses pembangunan. Satu diantara pedagang pasar  Asan (22) saat ditemui kemarin (20/3) mengungkapkan pernyataanya “Pasar sekarang jauh lebih bersih dibandingkan pasar yang lama, pasar yang lama itu tidak akan bisa bersih karena selalu becek terus. Petugas kebersihan di sini juga nonstop bekerja, sehingga keadaan pasar selalu tetap bersih dan kalaupun kotor tidak terlalu parah,” ujar pedagang telur ayam ini.

Selain itu para pembeli di TPS Flamboyan ini juga menyatakan bahwa pasar lebih bersih dan nyaman, sehingga lebih fokus berbelanjan. Beliau berharap agar pasar yang saat ini tengah dibangun akan lebih bersih, nyaman, dan fokus tata letaknya sehingga semakin mempermudah pembeli dalam berbelanja.

Di TPS ini para petugas kebersihan dan petugas keamanan di naungi oleh Asosiasi Pasar Flamboyan. Asosiasi ini telah disahkan oleh Disperindag Kota Pontianak pada tanggal 26 Desember tahun lalu. Asosiasi ini didirikan atas permintaan para pedagang yang menginginkan adanya lembaga yang menaungi mereka. Sehingga dapat mengurusi masalah-masalah yang tidak bisa para padagang urus sendiri.

Asosiasi ini dibendaharai oleh Syarif Usman (42 th). “Kebersihan di pasar saat ini memang lebih diperhatikan. Bukan berarti di pasar yang dulu tidak, tapi dulu itu pasar becek bahkan pembeli sampai memakai sepatu boat kalau ke pasar. Tapi kalau di TPS ini lantai terbuat dari papan dan petugas kebersihan bekerja dari pukul 9 pagi hingga pukul 1 siang,” ucap pedagang ikan ini.

“Insya Allah pasar yang akan di bangun ini akan seperti di TPS ini, akan lebih bersih dan lebih baik lagi. Kita sekarang bisa lihat atap pasar sudah jadi. Kemungkinan sebelum puasa kita sudah pindah kesana,” pungkas Syarif Usman.

Akhyari (50 th) satu diantara petugas kebersihan TPS Pasar Flamboyan menyatakan “Pekerjaan di sini sama-sama berat dengan saat di Pasar Flamboyan sebelumnya. Sampah-sampah yang kami kumpulkan di sini kemudian akan dibawa Dinas Kebersihan Kota Pontianak ke TPA Siantan,” ungkap bapak yang telah bekerja di Flamboyan sejak tahun 80-an ini.

Suami dari Sumiati ini juga menambahkan “Penghasilan kami sebagai petugas kebersihan di sini lebih baik sejak kami berada di bawah asosiasi. Dulu di sana hanya 700ribu, kalau di sini 800ribu. Tapi semua itu harus disyukuri.

San-Sam Tak Sehening Dulu

Oleh Adrianus Andika R.

Asa’ dua’ taru apat lima’ anam jo’…
Ae’ Jubata Sabakal, Jubata Kayu, Jubata Sangkaro…

Tawar…tawar…tawar…

Suasana san-sam?

Aku ingat betul peristiwa itu. Waktu aku masih SD, lumayan untuk ingatan seorang anak seumur itu.

MABMonline.org, Pontianak–Suasana sekonyong-konyong sunyi di desa ku di kala sore menjelang petang. Tak seperti hari biasanya yang selalu ada hiburan dan teriakan anak-anak bermain di luar. Juga binatang-binatang yang kesehariannya selalu bersuara, tiba-tiba seperti di setel diam pada sore itu. Orang-orang yang berkerja pun harus pulang ke rumah masing-masing. Tidak boleh ada aktivitas di luar.

Dari kejauhan tampak seorang kakek hampir bungkuk yang membawa teko. Saya tahu persis di dalam teko itu berisi air tawar dan seonggok daung juang yang diikat. Air tawar yang berwarna putih.

Tibalah giliran kakek bungkuk itu di rumah kami. Saya, adik, abang, serta kedua orang tua langsung duduk mengambil posisi masing.

“Asa’ dua’ taru apat lima’ anam jo’…
Ae’ Jubata Sabakal, Jubata Kayu, Jubata Sangkaro…Tawar…tawar…tawar….”
kata-kata itulah yang keluar dari mulut kakek bungkuk sambil memercikkan kami air tawar dengan daun juang yang dibawanya. Kemudian memercikanya di dalam kamar, dan dapur. Selanjutnya kakek bungkuk membacakan mantra di depan sesajian yang telah kami sediakan. Setelah semuanya selesai kakek kembali melanjutkan pekerjaannya di rumah-rumah berikutnya. Kegiatan itu dilakukan saat sore dan pagi. Begitu seterusnya dilakukan kakek bungkuk. Kegiatan itu dilakukan selama dua hari. Itulah acara adat san-sam atau tutup tahun untuk memulai tahun yang baru.

Apa hakikat upacara san-sam itu?

Karena ada tugas mata kuliah Jurnalistik. Saya jadi teringat akan upacara adat san-sam di kampung. Langsung saya menelpon bapak di rumah, untuk menanyakan seputar masalah upacara adat san-sam. Kebetulan bapak adalah ketua RW di kampong kami dan sering membantu ketua adat saat proses upacara adat apapun yang dilakukan di kampung. Langsung ia bercerita kepadaku. “Menurut ketua adat di Desa Sebunga, Sama Uhek. San-sam adalah upacara adat tutup tahun. Artinya menutup tahun sebelumnya dengan cara bersyukur kepada Tuhan atau dalam bahasa Dayak Bakatik disebut Jabata. Tetapi istilah san-sam sebenarnya bukan hanya ditujukan kepada upacara tutup tahun saja. istilah san-sam digunakan untuk menetralkan penyakit, hama, dan sesuatu yang buruk yang menimpa kampung. San-sam berarti memperbaiki keadaan sesuai dengan keadaan normal”. Ujar Bapak.

Karena hubungan bapak dengan ketua adat bisa dikatakan dekat, jadi bapak sering menanyakan hal-hal tentang adat Dayak di kampungku.

Asal mula upacara San-sam.

“Pada mulanya upacara san-sam dilakukan oleh nenek moyang orang Dayak Kecamatan Sajingan Besar. Menurut orang Dayak, Jubata sangkaro adalah pencipta alam semesta. Jadi manusia yang telah memanfaatkan alam semesta semestinya berterimakasih kepada penciptannya. Bentuk terimakasih itu berupa persembahan sesajian. Yang kelak disebut san-sam oleh masyarakat Dayak” jelas Bapak.

“Acara san-sam ini oleh orang jaman dahulu merupakan acara yang sakral. Apabila ada orang yang melanggar, maka akan dihukum secara adat. Bagi orang jaman dahulu, hukuman itu terbilang cukup berat. Si pelaku yang melanggar harus mempersiapkan seekor ayam, tempayan kecil, dan didoakan secara adat. Tetapi bukan itu yang menjadi hukuman itu ditakuti. Orang yang melanggar akan mengalami beban moral karena telah berbuat yang tidak baik. Iya akan menjadi bahan bicara masyarakat  setempat atas perbuatanya” tukas bapak menjelaskan dengan lancar.

Setelah itu saya berterimakasih kepada bapak karena telah memberi informasi kepadaku tentang adat san-sam. Kemudian menutup telepon. Saya mencoba dengan pengetahuan diintegrasikan dengan pengalamanku. Karena memang saya telah sering menyaksikan upacara itu dikampung. Jadi saya tahu betul apa bahan-bahan yang harus disediakan saat upacara san-sam.

Sesajian dalam upacara san-sam.

Sesajian ini sebagai simbol. Sesajian dalam upacara san-sam terdiri dari ayam kampung, tumpi’ gambung (cucur), lemang, ketupat, bendera kecil berwarna putih, kue (dibuat dari tepung gandum berbentuk angka 8,9, segi tiga, delima yang digoreng), beras hijau, beras kuning, minyak, beras pulut, beras biasa. telur, uang logam, buah pinang, daun sirih, kapur sirih. Semua sesajian itu dipersembahkan kepada Jubata dengan mantra-mantra yang diucapkan oleh ketua adat di tempat penyembahan. Oh ya, tempat penyembahan itu berupa rumah kecil yang dibuat dengan kayu besi (belian). Rumahnya sangat mungil, dengan atap kayu besi (belian) hanya memiliki satu tiang penyangga dari kayu besi juga. Di dalam rumah munggil tersebut ditempatkan sesajian yang telah disediakan. Dan rumah mungil tersebut juga dihiaskan dengan bendera kecil dengan kain putih.

Tetapi bagaimana san-sam sekarang?

Saya masih ingat bentul. Waktu saya masih SMA. Waktu itu upacara san-sam pun dilakukan seperti yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya. Orang tidak terlalu menggaap upacara itu sesuatu yang sakral. Tampak dari perbuatan mereka. Saat upacara san-sam mereka dengan bebas keluar rumah. Berkumpul di salah satu rumah atau warung. Lebih parahnya lagi mereka berjudi. Kesempatan upacara san-sam dimanfaatkan untuk berkumpul beramai-ramai disalah satu rumah. Karena disaat upacara san-sam orang tidak boleh bekerja. Misalnya menebang, berburu, bahkan menghidupkan api. Perbuatan itu tentu tidak sesuai dengan hakikat upacara san-sam sebenarnya yang telah diyakini oleh masyarakat dayak sejak jaman dahulu. Jika dahulu, saat upacara san-sam, orang tidak boleh keluar rumah, apalagi rebut-ribut.

Apa yang menyebabkan hal itu terjadi?

Seiring perkembangan jaman. Manusia yang memiliki akal pikiran pun juga turut berkembang. Permasalahanya apakah pemikiran  manusia akan selalu berkembang pada hal yang positif? Tentu tidak seutuhnya demikian. Hal ini juga terjadi pada masyarakat dayak Desa Sebunga. Mereka menganggap upacara san-sam tidak terlalu penting. Sesuatu yang bersifat adat tidak terlalu diindahkan. Tampak dari perbuatan mereka. Saat upacara san-sam dilakukan mereka lebih suka berkumpul dirumah yang lain dan di warung kemudian berjudi. Mereka tidak takut akan hukuman adat yang ada. Mungkin bagi mereka hukuman tersebut tidak terlalu berat. Hanya membeli seekor ayam dan tempayan kecil. Siapa saja pasti mampu. Rasa malu mereka seakan tidak ada lagi bila telah melanggar hukum. Malah ada pada waktu itu terjadi penghukuman terhadap orang yang melanggar upacara san-sam secara beramai-rama. Waktu itu saya masih SMA. Selain itu mereka beranggapan jaman sekarang tidak akan mungkin mendapatnkan panen yang melimpah sementara tanah sudah tidak adat. Beras bisa diperoleh dengan cara membeli di pasar dengan harga yang terjangkau dan lebih instan. Lauk-pauk juga bisa dengan mudah diperoleh di pasar.

Eksistensi kebudayaan berupa uacara san-sam.

San-sam adalah upacara adat yang keberadaannya telah lama ada dalam kehidupan masyarakat Dayak khusunya adi kecamatan Sajingan Besar. Upacara adat tersebut diyakini dapat memberi berkah terhadap hasil panen tahun berikutnya. Pada jaman dahulu hal itu memang benar-menar nyata. Panen selalu melimpah setiap tahunnya. Lalu mengapa upacara yang bersifat positif itu ditinggalkan pada jaman sekarang? Eksistensi adat istiadat jaman dahulu yang berkaitan erat dengan kemakmuran kehidupan masyarakat dayak tidak diragukan lagi. Aku masih ingat, waktu dulu kami tidak pernah kekurangan beras, selalu melimpah hasil ladang kami. Begitu juga nenekku pernah bercerita padaku. Jaman ia dahulu juga begitu. Orang-orang kampung selalu panen melimpah, bahkan sampai dijual ke negara tetangga (Malaysia) padi dan hasil ladang lainya.

Bagaiman menghidupkan kembali kesadaran masyarakat terhadap upacara san-sam?

Eksistensi kebudayaan dayak jaman dahulu memang tidak dapat dipungkiri lagi. Tetapi apakah kebudayaan itu akan selalu eksis selama perkembangan jaman. Tentu kenyatanya tidak demikian yang terlihat. Faktor redupnya kebudayaan seperti upacara san-sam adalah akibat kesadaran masyarakat dayak yang kurang akan kebudayaannya. Tanggungjawabnya adalah kepada generasi penerus atau generasi muda. Mereka harusnya bangga akan kebudayaannya. Melestarikan apa yang telah diwariskan oleh generasi pendahulunya. Terkecuali kebudayaan itu besifat merugikan, maka tidak perlu dilestarikan, seperti hal mengayau orang dayak. Itu merupakan kebudayaan yang tidak baik sehinggaa harus dihapuskan. Tetapi upacara san-sam adalah kebudayaan yang positif maka wajib dilestarikan. Cara melestarikan kebudayaan khusunya upacara san-sam bisa dengan cara menghargai kebudayaan tersebut. Dalam arti saat dilakukan upacar tersebut maka benar-benarlah menjalaninya. Jangan sampai melanggar peraturan adat yang telah ada sebelumnya. Toh juga tidak menguranggi rezeki, malah memberi keuntungan.

Gema Takbir Menggemuruh Muktamar Khilafah

New Picture (1)Oleh Sabhan Rasyid

Pontianak, mabmonline.org, Pontianak— Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menggelar muktamar khilafah kemarin (26/5). Muktamar yang mengusung tema “Perubahan Besar Dunia Menuju Khilafah” tersebut dihadiri oleh ratusan massa muslim yang datang dari berbagai daerah dan berbagai kalangan. Menurut Fuad Setiadi selaku panitia kegiatan, pendaftar pada H-2 sudah mencapai 700 orang.

Acara muktmar yang berlangsung di Aula Polnep tersebut diawali dengan nasyid yang ditampilkan oleh tim nasyid Syabab Khatulistiwa. Kegiatan tersebut juga dinaungi ketenangan setelah qori Jamali Ja’far melantunkan ayat suci Alquran.

Muktamar yang isinya berisi orasi-orasi tentang perubahan dunia menuju khilafah ini diramaikan oleh ratusan peserta dari berbagai daerah.

“Muktamar ini tidak hanya dihadiri umat muslim dari Pontianak, tetapi ratusan umat dari Ketapang, Sambas, Mempawah, Melawi, Singkawang, dan daerah lain juga hadir di sini,” ungkap Ahmad Luthfi selaku pimpinan DPD 1 HTI Kalbar.

Muktamar HTI Kalbar ini mengusung pembahasan tentang konsep pemerintahan khilafah. Dalam makalah yang dibagikan kepada peserta diungkapkan bahwa sistem pemerintahan yang sudah ada sejak zaman Rasulullah telah diruntuhkan tepatnya pada bulan Rajab 1343 Hijriah oleh Mustapha Kemal di Turki.

Keruntuhan khilafah tersebut membuat dunia mengalami berbagai masalah setelah sistem demokrasi nasionalis diterapkan. Ustad Muslim yang menyampaikan orasi dengan tema “Kewajiban Memperjuangkan Tegaknya Negara Khilafah” mengungkapkan bahwa tidak ada satu pun yang sanggup menghancurkan perjuangan kita karena Allah bersama kita.

Gema takbir terus menggemuruh Aula Polnep di setiap penyampaian orasi dari tokoh-tokoh HTI. Syamsudin Ramadhan dalam pidato politiknya mengatakan bahwa menegakkan khilafah merupakan perjuangan yang diatur dalam syariat Islam. “ Khilafah mencakupi tiga hal, yaitu menjalankan syariat Islam, persatuan Islam, dan memperjaungkan perlindungan politik dunia,” ungkap Syamsudin selaku perwakilan DPP HTI.

 

Maut Mengintai di Simpang Tayan (Catatan Perjalanan)

Oleh Hendara Sanjaya 

MABMonline.org, Pontianak—Panas  terik matahari pukul 14.00 WIB tidak menyurutkan keinginan sejumlah mahasiswa yang baru saja selesai ujian untuk pulang kampung. Kerinduan besar kepada orangtua dan keluarga, serta tugas sastra daerah dari Dr. Christanto Syam mendorong kami untuk segera bergegas ke kampung halaman, Sabtu, (17/4).

Aku, Hendra Sanjaya satu di antara mahasiswa yang punya keinginan kuat untuk balik kampung. Saat itu aku belum pernah balik ke kampung dengan mengendarai motor. Namun, dengan keinginan dan tekad yang kuat, aku memberanikan diri untuk pulang dengan mengendarai motor. Waktu itu aku juga membawa seorang gadis jangkung, berkulit putih, dengan gaya ala-ala Korea. Aku membiarkannya duduk di belakangku, namanya Ria Lestari. Dia adalah teman sekelas sekaligus teman satu daerah. Jadi, pada saat itu dia pulang bersamaku. Terlebih rumahnya satu arah dengan tempatku. Oh ya, temanku yang lainya adalah Sugiono, Gracia Ganesha, dan Lidia Wati. Mereka mengendarai motor masing-masing.

Sebenarnya, perjalanan dari Pontianak ke Sekadau bisa ditempuh dalam waktu sekitar 6 jam bagi orang yang sudah terbiasa mengendarai motor. Akan tetapi, tidak untuk kami. Kami menempuh dari kota Pontianak pada pukul 14.00 WIB hingga sampai di tempat tujuanku desa Rawak Hilir pada pukul 21.45 WIB. Bayangkan! Waktu yang begitu lama.

Dalam perjalanan, banyaknya kendaraan beroda empat, seperti truk dan mobil, cukup membuat kami khawatir karena kecepatan rata-rata kendaraan tersebut di atas maksimum. Jalanan yang berbelok-belok juga memperparah kegelisahan kami. Posisi kami yang terselip di antara kendaraan tersebut, semakin menambah rasa gemetar. Terasa gemetar bukan karena teman di belakangku, tetapi bahaya yang siap untuk menyergap kami.

Sesampai di daerah yang kendaraan beroda empatnya kurang banyak itu, aku merasa letih dan mengantuk, sehingga motor yang aku kendarai itu hampir terpeleset. Motorku terlalu ke tepi jalan hingga banyak orang yang mengendarai motor mengingatkan kami. Sontak saat kejadian tersebut terjadi, Ria teman di belakangku menyarankan, “Hen, kalau capek atau ngantuk kita giliran posisi jak, aku yang bawa motor.” Yah, pada saat itu aku memilih untuk masih mengendarai motor, sebenarnya sedikit gengsi karena dibawa sama cewek.

Cahaya Matahari sudah mulai memudar, tetapi perjalanan masih cukup panjang. Badan sudah sangat terasa letih karena itu baru kali pertamanya saya balik menggunakan motor. Walau tidak merasa sesal, terasa sekali penat pada kedua tangan. Di jalanan yang mulai berbelok, menanjak, dan menurun aku mulai merendahkan kecepatan motor, seiring dengan semilir angin sejuk yang menerpa badan. Aku kembali melajukan kecepatan di jalan yang mulai lurus walaupun masih banyak tikungan. Itu kulakukan karena kami terlalu jauh tertinggal dari teman yang lain.

Seratus kilometer per jam kecepatan motor yang ku kendarai membuat kami melaju kencang, tak ada kekhawatiran pada saat di perjalanan yang sudah mulai dekat dengan simpang jalan Tayan. Ada satu hal yang perlu para pembaca ketahui bahwa haruslah berhati-hati meskipun anda sudah pandai mengendarai motor dan jangan mengabaikan rambu lalu lintas karena pada saat anda mengabaikan itu, maut siap menyergapmu tanpa kamu sadari. Seperti kesalahan yang aku lakukan. Kecepatan motor yang terlalu kencang, serta aku yang mengabaikan rambu lalu lintas hampir membuat kami jatuh ke dalam jurang maut. Bagaimana tidak, rambu lalu lintas yang bertuliskan 20 km/jam, aku tempuh dengan 100 km/jam. Aku mencoba untuk memperlambat kendaraan, sedangkan jalan yang kami hadapi tikungannya terlalu membentuk huruf U, dan rem motor yang aku tekan tidak mampu untuk menghentikan kecepatan yang sudah terlanjur kencang. Motor menjadi tidak seimbang, di depan kami ada jurang yang cukup dalam, rasa aman tadi mulai berubah mencekam, perasaan menjadi lebur karena tak bisa berpikir jernih, ditambah lagi tiba-tiba 2 truk melintas, meskipun kecepatannya tidak terlalu kencang, tapi membuat jantung berdebar kencang. Untungnya pada saat itu motor yang aku kendarai sudah berhenti, tapi kami berada di tepi jurang dan kami berada di jalur yang salah. Sopir truk tersebut hanya terpana melihat kami, terpana bukan karena kami begitu hebatnya, melainkan begitu cerobohnya sehingga hampir menceburkan diri ke dalam jurang yang akan membawa kematian.

Kutenangkan perasaan walaupun sedikit terganggu oleh omelan teman jangkungku. Aku melihat di tanah yang kupijak terdapat banyak serpihan kaca akibat kendaraan yang terjatuh. Wajar saja teman jangkungku mengomeliku. Kami hampir saja berakhir di jurang tersebut. Banyaknya serpihan kaca itu sebagai bukti bahwa tikungan itu hampir merenggut jiwa kami.

Kami mulai bertukar posisi. Teman jangkungku itu yang giliran mengendarai motor. Perasaan gengsi ku tinggalkan sebentar karena badanku yang masih gemetar tak lagi bisa mengendarai motor.

Dalam perjalanan aku merasa begitu aman. Teman jangkungku itu mengendarai motor dengan santai. Dia terlihat sangat berhati-hati mengendarai motor. Dia seolah-olah ingin menunjukan cara mengendarai motor dengan baik. Setiba mendekati pemukiman. Dia mengarahkan motor kesamping kanan, sambil melihat ke belakang. Perilakunya itu membutku terheran. Ternyata, ia mengarahkan motor ke suatu warung. Warung tersebut adalah tempat penjualan berbagai produk minuman dan makanan. Kami segera memilih makanan dan minuman. Pikiranku yang begitu kacau sekarang sudah terasa jernih. Kami pun mulai melanjutkan perjalanan.

Motor masih dikuasai teman jangkungku. Dia membawa motor begitu santai. Terlintas dalam pikiran bodohku. “Begitu lambatnya dia mengendarai motor.” Padahal itu demi keselamatan kami. Tidak terasa, kami sudah berada di jalan Tayan. Teman jangkungku menghentikan motor yang sedang ia kendarai. Aku dan teman jangkungku mulai menghubungi teman yang lain. Ternyata mereka sudah berada di warung makanan. Entah apa nama warung tersebut yang pasti warung tersebut tidak jauh dari persimpangan jalan Tayan. Kami pun mulai melirik ke arah  beberapa warung. Bak pencuri yang sedang mengintai sasaran. Kami pun menemukan sasaran yang diintai. Kami beristirahat di warung tersebut, sambil bercerita tentang kajadian yang hampir merenggut jiwaku dan teman jangkungku itu.

Beberapa saat kami beristirahat. Sugiono teman alimku itu mengajak salat. Harus para pembaca ketahui bahwa di warung tersebut tersedia tempat untuk salat. Jadi, tidak perlu khawatir jika mau salat. Kami pun melaksanakan salat asar berjamaah. Walaupun ruangannya tidak begitu besar, cukuplah untuk 5—7 orang untuk salat. Di ruangan itu juga tersedia mukena, sajadah, peci, dan sarung. Setelah itu kami pun minum dan makan di warung itu.

Kami mulai melanjutkan perjalanan. Kini aku kembali menguasai motor lagi. Teman-temanku pun mulai menasehati. ”Hen, bawak motornya santai jak, kita ndak usah ngebut.” Aku bagaikan mendapat pembelajaran 2 SKS dari dosen. “Iya,” hanya itu jawabanku.

Sudah cukup jauh perjalanan yang kami tempuh. Situasi di jalan yang kami tempuh bertolak belakang dari jalan sebelumnya. Jika jalan dari Pontianak sampai ke jalan simpang Tayan itu mulus, berbelok menanjak, dan menurun, jalan Tayan menuju Sosok itu berlubang, berlumpur, dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Mungkin untuk orang gemuk ini bisa menjadi satu di antara cara menurunkan berat badan karena Anda harus siap untuk muntah-muntah dan nafsu makan hilang. Bagaimana tidak? Badan anda tergoncang bagaikan minuman Coca cola yang dikocok dan ketika dibuka tutupnya akan mengeluarkan banyak buih-buih. Begitulah rasanya ketika melewati jalan Tayan tersebut.

Kini kami sudah berada di Sosok. Hari sudah memperlihatkan sisi gelapnya. Kumandang azan magrib terdengar saling bersahutan. Kami semua memperlambatkan kendaraan. Sesekali kami melewati lampu yang bersinar di tepian jalan. Semilir angin menambah sejuknya perjalanan.

Aku mulai menambah kecepatan motor. Dari kejauhan terlihat sinar lampu mobil. Pada saat itu kami sudah menuju Sanggau. Kaca helm kubuka ke atas karena warnanya gelap. Sinar terang pada lampu mobil membuat penglihatan silau. Ketika berpapasan dengan mobil itu, aku mengarahkan motor ke tepian jalan. Aku tidak menyangka ternyata jalan yang kami lewati begitu hancur sehingga kami masuk ke dalam lubang dan terlambung ke atas. Kami melepaskan sedikit tawa pada saat kejadian tersebut. Hanya dalam beberapa senggang waktu kami terus mendapatkan rintangan di perjalanan.

Sanggau pun sudah berada di pijakan kami. Saat kami berhenti, aku mencari ponselku. Ternyata ponselku tidak ada. Aku baru menyadari ketika di perjalanan. Kami terpental karena masuk lubang.  Kemungkinan ponselku terjatuh pada saat itu. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa mengambil hikmah dari kejadian tersebut. Bagiku ponsel hilang bisa dibeli, tapi jiwa hilang tak kan pernah bisa dibeli.

Pada saat di persimpangan kami mulai berpisah di persimpangan itu. Aku tidak tahu apa nama persimpangan itu. Kedua temanku, Gracia Ganesha dan Lidia Wati harus menentukan jalan mereka. Walau berat untuk berpisah karena tak bersama lagi, tiga hari kemudian kami pasti akan bersama kembali. Aku yakin itu.

Kami pun tinggal bertiga, yaitu aku, teman jangkungku, dan Sugiono. Kami menentukan perjalanan kami menuju Kota Sekadau. Kini teman jangkungku yang mengendarai motor. Ketika kami berada di pertengahan jalan menuju Kota Sekadau, entah tiba-tiba teman jangkungku mulai bersikap aneh. Dia mengatakan, “Kok motornya berjalan sendiri ya? Padahal, aku ndak ada ngegas motor.” Sedangkan yang ku pikir itu hal yang sangat wajar karena kami berada di jalan yang menurun. Aku mulai kasihan dengan teman jangkungku, mungkin dia sudah kecapaian mengendarai motor dan rintangan yang kami lewati—atau mungkin saja dia sudah gila.

Pada saat di Jembatan Semuntai giliran aku yang mengendarai motor karena aku merasa kasihan kepada teman jangkungku itu. Jadi, aku memaksa untuk mengendarai motor.

Tak terasa kami sudah masuk ke Sekadau. Tak berapa lama kami sudah berada di depan rumah temanku si jangkung yang berada di daerah Ensalang. Kami diminta untuk beristirahat sejenak. Temanku pun membuatkanku kopi dan menghidangkan roti. Malam yang dingin menjadi hangat setelah minum kopi itu. Kami pun (aku dan Sugiono) berpamitan kepada temanku itu dan keluarganya. Kini tinggal kami berdua.

Kemudian sampailah kami berada di rumah tercinta. Perjalanan yang begitu mencekam tak kuceritakan pada orangtuaku karena aku anak yang baik. Aku hanya melaporkan bahwa ponselku hilang di perjalanan—dengan harapan akan dibelikan ponsel baru. Oh ya, temanku Sugiono itu menginap di tempatku karena daerahnya masih jauh. Jadi, dia memilih untuk menginap.

Aku sadar bahwa aku anak yang sangat ceroboh. Aku selalu mengabaikan hal kecil yang berujung fatal, dan ketahuilah bahwa seseorang yang terjatuh bukan karena batu yang besar, tetapi karena batu yang kecil. Batu yang besar sudah jelas tampaknya, sedangkan batu kecil yang selalu diabaikan itulah sebab orang terjatuh. Aku termasuk orang yang selalu mengabaikan batu yang kecil tersebut.

Ambil hal yang positif sebagai pembelajaran dan jadikan yang negatif sebagai pengetahuan tapi bukan untuk dicoba.

Wisata Ke Pantai Kijing

pantai kijing

Oleh Siti Rohmawati
MABMonline.org, Pontianak-
– Pagi itu cerah. Tepatnya pada 27 Oktober 2012, kami berwisata ke Pantai Kijing. Pantai Kijing merupakan satu di antara obyek wisata di Kalimantan Barat, letaknya cukup jauh dari pusat kota Pontianak. Untuk sampai ke tempat ini, kami harus menempuh jarak sekitar 93 km dari kota Pontianak atau 15 km ke arah utara Mempawah. Akan tetapi, hal ini tidak menyurutkan semangat kami. Pukul 8.15 pagi kami start. Dengan menggunakan lima motor, kami berangkat ke tempat tujuan.

Sekitar 35 menit perjalanan kami sampai juga di Pantai Kijing. Plang batu bertuliskan Pantai Kijing menyambut kami. Akan tetapi, perjalanan belum berakhir. Masih perlu menempuh jarak sekitar 300 m dari mulut gang untuk sampai ke pantainya. Setelah sekitar 5 menit kemudian sampailah kami di pintu masuk. Sampai di pintu masuk, kami harus membeli tiket. Harga tiket hanya 5 ribu rupiah per orang. Begitu masuk daerah wisata, angin pantai terasa sejuk dan segar menyergap tubuh kami.

“Oh, ternyata seperti ini to Pantai Kijing,” kata Imam, salah seorang teman kami. Sebuah senyum yang cukup lebar terkembang di bibir kami.

Tak jauh dari pintu masuk, terlihat beberapa kantin. Kantin ini menyediakan berbagai makanan. Mulai dari makanan ringan, minuman, hingga makanan berat bisa dibeli pengunjung di kantin-kantin ini. Beberapa orang tampak sedang menikmati makanannya sambil berbincang-bincang.

Pantai Kijing memang indah. Hamparan laut yang luas langsung terlihat begitu memasuki kawasan ini. Warna airnya tampak kecoklatan di pinggir pantai. Makin ke tengah makin membiru. Ombak kecil tampak berkejar-kejaran diterpa angin. Satu dua kapal tampak berlayar di laut itu.

Di bagian selatan terdapat sebuah bukit yang dipenuhi dengan berbagai jenis tumbuhan dan pohon. Akan tetapi, tempat pertama yang kami tuju adalah bagian utara. Daratan kurang lebih 3 m dari bibir pantai dipenuhi dengan pohon kelapa. Pohon ini tinggi-tinggi.

Kami berjalan di bawah pohon-pohon kelapa menggunakan motor. Pohon-pohon kelapa ini berbaris rapi dengan jarak antar pohon yang nyaris sama. Hamparan rumput-rumput liar yang hijau tumbuh di antara deretan pohon kelapa ini. Belum jauh kami berjalan, terdapat sebuah bangunan dari semen. Kami pikir bangunan itu adalah toilet karena bagian tengahnya ada seperti sebuah ruang kosong. Akan tetapi, terrnyata bangunan itu adalah panggung pertunjukan, satu di antara fasilitas yang tersedia di Pantai Kijing. Sayang, panggung itu tampak sudah tidak terawat lagi. Warna hijau tua yang terlihat bukanlan cat panggung, melainkan tumbuhan lumut yang menyelimuti sebagian besar badan panggung. Sampah-sampah juga banyak  terlihat.

Kami kembali berjalan. Meskipun merupakan wilayah yang ditumbuhi pohon kelapa dan hamparan rumput liar di antara akar-akarnya, terdapat sebuah jalan setapak yang berpasir. Jalan ini panjang dan lonjong melingkar. Salah seorang dari kami berkata bahwa jalan ini biasanya untuk racing motor.

Tiba di sebuah tempat yang kami rasa cukup nyaman dan aman, kami berhenti. Kami letakkan barang-barang bawaan kami di bawah sebatang pohon kelapa yang tidak begitu tinggi. Setelah itu kami segera berlarian menuju pantai. Ada yang bermain air, ada yang bermain pasir, dan ada juga yang berfoto-foto.

Hamparan pasir membentang sangat panjang ke arah utara sampai tak kelihatan ujungnya. Pasir itu terasa hangat terkena matahari dan percikan air pantai. Terdapat juga kulit-kulit kerang kecil yang ditemukan di balik pasir dan air pantai itu. Kami terus bermain.

Tak terasa waktu berlalu. Pukul 11.05. Matahari mulai naik dan panas. Pasir pun terasa makin panas. Kami kembali ke pinggir, di bawah pohon kelapa. Kami beristirahat sambil makan makanan yang kami bawa. Setelah itu kami tidur-tiduran di atas pasir. Serasa menjadi anak pantai.

Pukul 14.30 kami kembali berjalan-jalan. Kali ini kami menuju ke arah selatan, kembali lagi melewati jalan tadi. Kami menuju bukit yang ada di awal kami masuk. Sampai di bawah bukit kami segera memarkirkan motor kami. Kami melihat ada penjual rambutan dan membeli beberapa ikat. Setelah itu, kami menaiki bukit tersebut. Bukit itu tidak terlalu tinggi. Terdapat sebuah jalan tangga dari semen. Akan tetapi, jalan itu sudah rusak. Beberapa bagian sudah hilang, tinggal tanah berbatu dan memperlihatkan akar-akar pohon. Hal ini membuat kami tekadang harus saling berpegangan agar tidak tergelincir.

Gambar : Foto Pantai Kijing
Ceria di Pantai Kijing

Tiba di badan bukit yang cukup datar kami berhenti sejenak. Ternyata terdapat beberapa kantin yang ada di badan bukit ini. Akan tetapi sayang, kantin-kantin disini sepertinya sudah tidak dipakai lagi. Padahal panorama bawah bukit yang terlihat dari badan bukit ini cukup indah. Air pantai menggenangi bagian bawah pohon kelapa. Batu-batu besar tampak membantu pohon kelapa menghadang ombak pantai.

Tak lama, kamipun melanjutkan perjalanan. Kali ini kami berjalan turun mengikuti jalan kecil yang tampaknya sering dilewati. Tiba di bawah, kami masih harus berjalan beberapa meter untuk sampai di balik bukit. Banyak pohon kerisan yang menutupi jalan.

Tiba di balik bukit, pemandangan yang terlihat tak kalah indahnya dengan pantai tadi. Bukan pasir yang menghiasi bibir pantai, melainkan hamparan batu-batu yang besar. Suara ombak yang menerpa batu-batu itu memperindah pemandangan. Terlihat dua orang yang duduk di atas sebuah batu besar sambil memancing ikan. Segera saja kami naik di atas batu-batu itu. Kami bermain-main melompati batu, duduk-duduk, dan berfoto-foto.

Sepotong Kisah Delegasi Pontianak di Yogyakarta

Oleh Dina Apriana

MABMonline.org, Pontianak–Udara masih sangat dingin ketika kami tiba di Bandara Supadio Pontianak, pukul 5.30. Kami akan menembus langit Pontianak menuju Yogyakarta sebagai delegasi Universitas Tanjungpura untuk mengikuti kegiatan dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) Yogyakarta. Menurut jadwal kami harus melakukan check in dua jam sebelum keberangkatan, yaitu pukul 5.00. Akan tetapi, loket check in ternyata masih belum dibuka hingga pukul 6.00. Tepat pukul 6.15 loket check in sebuah maskapai penerbangan yang kami tumpangi dibuka. Usai melakukan check in kami menuju ruang tunggu penumpang yang melalui sebuah loket dan pintu-pintu pemeriksaan.

Sebelumnya, ketika menunggu loket check in dibuka, sebuah keluarga mempercayakan kami untuk membantu ibunya selama dalam perjalanan. “Saya minta tolong ya, ibu saya baru pertama kali naik pesawat sendirian sehingga tidak terlalu mengerti.” Sang ibu mengaku selama ini ia selalu berpergian bersama suaminya. Namun, kali ini ia harus berangkat sendirian karena suaminya telah lebih dulu berangkat mengurusi pekerjaannya di Yogyakarta.

Usai menunggu keterlambatan check in selama satu jam ternyata penumpang masih harus menunggu dan memaklumi keterbatasan fasilitas yang telah dibayar mahal, delay. Penerbangan yang seharusnya dilakukan pukul 7.00 WIB terlambat selama dua jam. Mungkin kebiasaan seperti inilah yang sering menjadi bahan olokan orang ketika yang lain terlambat, “maklum Indonesia.”

Penerbangan dilakukan selama satu setengah jam dari Bandara Supadio Pontianak menuju Bandara Adisutjipto Yogyakarta. Tepat pukul 10.30 kami tiba. Disambut dengan sapaan angin dan gerimis Kota Yogyakarta. Kami menuju ruang pengambilan bagasi dan penjemputan. Kami dijemput oleh dua orang panitia Gugur Gunung yang berasal dari Kamasutra (Keluarga Besar Mahasiswa Sastra) FIB UGM Yogyakarta. Uniknya penjemput tak memberitahu ciri-ciri mereka agar mudah dikenali, justru mereka menayakan ciri-ciri orang yang akan mereka jemput.

Bandara Adisutjipto Yogyakarta sangat kental dengan budaya Jawa. Memasuki ruang bandara Anda akan banyak menemukan motif batik, kerajinan khas Jawa khusuunya Yogyakarta, serta tulisan dan plang-plang di Bandara yang ditulis menggunakan huruf Jawa.

“Mbak dan Mas delegasi dari Pontianak ya?” tanya seorang perempuan yang memakai behel tersebut. “Saya Hany, selamat datang di Yogyakarta,” sambungnya setelah yakin bahwa yang disapa adalah orang yang tepat.

Pontianak-Yogyakarta, dua kota yang sungguh jauh berbeda. Kebudayaan, iklim, kondisi perkotaan, hingga sarana transportasi. Jika di Pontianak anda melihat kondisi lalu lintas yang lancar, Anda tidak akan menemukannya di Yogyakarta. Kondisi lalu lintas Yogyakarta sangat padat. Tata ruang kota di Yogyakarta pun sangat padat. Mungkin karena luas wilayah Yogyakarta berkali-kali lipat lebih sempit. Akan tetapi Anda tak perlu khawatir karena akan tetap menemukan ruang-ruang hijau di tengah kota dan fasilitas pejalan kaki yang sangat memadai. Perbedaan lain yang akan sangat jarang Anda temui di kota lain adalah becak dan delman yang beriringan dengan besi-besi bermesin di jalan raya. Sungguh mengagumkan.

Kurang lebih setengah jam kami telah tiba di sebuah hotel. Hotel yang lebih mirip seperti penginapan biasa atau wisma. Hotel Museum Batik. Dinamai begitu karena di dalam komplek hotel tersebut terdapat sebuah museum yang berisi batik. Hotel Museum Batik terbilang murah meriah. Biaya menginap satu malam dengan fasilitas kamar, yaitu empat tempat tidur, pendingin ruangan, televisi, lemari, dan kamar mandi serta sarapan dalam bentuk prasmanan hanya berkisar Rp 70.000. Akan tetapi, tak banyak yang mengetahui keberadaan hotel tersebut. Mungkin terkalahkan oleh banyaknya hotel di Kota Yogyakarta.

“Jika ada keperluan silakan menghubungi kami,” ucap Hany, gadis yang menjemput kami di Bandara seraya pamit.

Perut yang sejak pagi hanya diisi sepotong roti ternyata mulai meronta kelaparan dan tak mau diajak kompromi. Bermodal nekat karena lapar dan rasa ingin tahu tentang Yogyakarta kami yang sama sekali tak tahu-menahu jalan di Yogyakarta pergi mencari sebuah warung makan. Di sana kebutuhan untuk mengisi perut tak perlu Anda keluhkan karena harganya sangat murah.

23 November 2012

Pagi

Pagi yang cerah. Pagi pertama di Yogyakarta. Kami bersama delegasi lainnya dari Surakarta, Bandung, Solo, dan Semarang menuju bangunan utama hotel untuk sarapan bersama. Sebenarnya masih ada satu delegasi yang belum hadir, yaitu delegasi dari Bali karena masih dalam perjalanan. Usai sarapan, kami saling berkenalan antardelegasi dan panitia.

Hari ini adalah hari pertama kegiatan Gugur Gunung yang diadakan oleh Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara (Kamasutra) dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) Yogyakarta . Kegiatan ini merupakan program kerja divisi Kamasutra sub-divisi Sosial Masyarakat yang berfokus pada implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi khususnya pada bidang pengabdian masyarakat melalui seni.

Pukul 9.00 kami harus berangkat menuju Auditorium FIB UGM Yogyakarta untuk mengikuti Seminar Nasional dengan tema “Akselerasi Nilai-Nilai Tradisional sebagai Penyelaras Masyarakat Global” yang khusus membahas tentang rekonstruksi pemahaman mantra sebagai media pembelajaran masyarakat. Seminar itu dihadiri oleh Suwardi Endraswara seorang penulis buku sastra yang banyak digunakan sebagai literatur sastra di berbagai universitas, para akademisi, praktisi budaya, dan peneliti.

Malam

Mendung masih menggelayuti langit Yogyakarta meski awan sudah banyak yang menjelma menjadi hujan sejak sore. Nampaknya masih banyak awan yang akan menjelmakan dirinya ke bumi.

Di temani rintik-rintik hujan yang lumayan deras rombongan delegasi yang merupakan peserta Gugur Gunung berangkat menuju Pendopo Ambarrukmo Yogyakarta untuk menyaksikan festival Tari Klasik Nusantara tepat pukul 20.00.

Pendopo Ambarrukmo merupakan bagian dari Hotel Ambarrukmo. Hotel termewah di Yogyakarta. Selain nama sebuah hotel, Ambarrukmo juga merupakan nama sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Yogyakarta. Tak hanya besar tetapi megah juga. Letaknya bersebrangan dengan Hotel Ambarrukmo.

Festival Tari Klasik Nusantara menampilkan banyak tari tradisional yang mengagumkan yang pesertanya merupakan penari-penari andal. Tarian yang ditampilkan di antaranya adalah Tari Gambyong Surakarta, Tari Oleg Tambulilingan (Bali), Tari Golek Ayun-Ayun (Yogyakarta), dan masih banyak tarian-tarian lainnya. Festival Tari Klasik Nusantara berkahir pukul 1.00 dini hari yang ditutup dengan pengumuman pemenang serta pesan dan kesan delegasi.

Para delegasi seperti tak bisa lelah, termasuk kami. Pukul satu dini hari rupanya tak menghalangi kami untuk mencicipi makanan yang disebut sebagai angkringan oleh masyarakat Yogyakarta yang juga sudah bisa Anda temui di Pontianak. Angkringan Petruk-Gareng Yogyakarta yang menjadi tempat persinggahan kami.

Angkringan merupakan makanan yang cara penyajiannya sangat khas. Semua lauknya ditusuk seperti sate, ada sosis, telur puyuh, daging ayam, jeroan, dan lain-lain. Pengunjung tinggal memilihnya sendiri dan penjual akan menghangatkannya dulu baru kemudian mengantarkannya. Juga nasi yang porsinya tidak terlalu banyak, orang biasa menyebutnya sebagai nasi kucing, yang juga memiliki berbagai campuran rasa.

24 November 2012

Pagi

Hari ini adalah hari terkahir berlangsungnya kegiatan Gugur Gunung. Seperti hari sebelumnya para delegasi menuju gedung utama hotel untuk sarapan. Usai sarapan para delegasi saling berguarau dan bercanda ria, diselingi tawa yang pecah di antara teriakan kecil suara peserta delegasi perempuan yang paling heboh, kawan sekamarku.

Pagi yang cerah. Penuh semangat. Kegiatan hari ini adalah mengunjungi Keraton Yogyakarta dan ke Pusat Oleh-Oleh Bakpia Pathok serta Malioboro.

Sepanjang perjalanan menuju keraton kami tak henti-hentinya melempar olokan yang diakhiri dengan pecahan tawa dan rajukan seorang delegasi yang menjadi “korban.” Sesampainya di wilayah keraton kami disambut dengan pemandangan menakjubkan yang membuat tangan terasa gatal untuk mengeluarkan uang dari tempatnya, berbelanja. Banyak sekali kerajinan tangan dan cendra mata. Namun, kami diimbau untuk segera memasuki keraton.

Kawasan keraton sangat luas. Di sana terdapat 63 batang pohon sawo yang usianya sudah puluhan bahkan ratusan tahun yang melambangkan usia Nabi Muhammad SAW. Selain itu terdapat dau buah patung naga di sebuah pintu gerbang yang konon apabila seseorang bisa menemukan perbedaannya maka apa  yang diinginkan bisa terwujud.

“Di sini terdapat upacara pembuatan teh setiap pukul 10.00 pagi dan sangat beruntung kalau adik-adik bisa melihatnya,” ujar seorang pemandu wisata di keraton.

Beruntungnya kami. Kami melihat iring-iringan laki-laki dan perempuan yang berpakaian khas keraton tanpa mengenakan alas kaki. Rupanya mereka adalah iring-iringan yang akan melakukan upacara pembuatan teh. Mereka memasuki sebuah gedung yang disebut sebagai dapur. Di gedung tersebut terdapat banyak peralatan dapur yang digunakan keluarga Sri Sultan Hamengkubuwono dari masa ke masa.

Di gedung lain yang merupakan bagian dari keraton terdapat lukisan dan foto-foto keluarga keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono. Terdapat sebuah lukisan tiga dimensi yang dilukis oleh seorang pelukis Indonesia dan merupakan lukisan tiga dimensi pertama di dunia. Lukisan tersebut benar-benar tampak hidup. Arah bola mata dan beberapa bagian tubuhnya selalu berubah mengikuti dari arah mana kita melihatnya.

Tepat saat adzan Zuhur kami dan rombongan keluar dari wilayah keraton. Kami melakukan solat zuhur di sebuah masjid tak jauh dari keraton dan makan siang. Setelah itu kami menuju Malioboro dan Pusat Oleh-Oleh Bakpia Pathok. Kami berpencar menjadi beberapa kelompok yang dipimpin oleh soerang panitia. Rupanya ada trik yang harus dilakukan agar mendapatkan harga yang murah. Menggunakan bahasa Jawa. Kebetulan teman-teman delegasi dalam kelompok kami memang banyak yang berasal dari daerah Jawa. Akhirnya dengan bantuan mereka kami berhasil memboyong beberapa oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Pontianak.

Malam

Beruntung malam ini tak diguyur hujan seperti malam sebelumnya. Seperti yang tertera pada jadwal, malam ini kami akan menonton pertunjukan wayang kulit di Dusun Beluran, Desa Sidomoyo, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Seperti sebuah pesta rakyat, kegiatan wayang kulit banyak dihadiri oleh masyarakat dusun tersebut. Kami disambut baik oleh kepala dusun. Dihidangkan makanan khas Yogyakarta, Gudeg.

Kegiatan Wayang Kulit tersebut menghadirkan Ki Mas Lurah Cermo Radya Harsono sebagai dalang dengan lakon Sekar Candra Basengkara. Kegiatan yang dilakukan semalam suntuk ini menggunakan disajikan menggunakan bahasa Jawa yang tingkatannya sangat halus sehingga para delegasi yang berasal dari Jawa pun sulit memahaminya.

Meski semalam suntuk, tetapi kami tak mengikutinya hingga selesai karena para delegasi sudah lelah. Akhirnya pukul 00.00 kami kembali pulang ke hotel. Menghabiskan malam terakhir di Yogyakarta dan bersiap untuk pulang ke tempat asal masing-masing besok pagi.

25 November 2012

Kepulangan

Pagi yang sedikit berbeda. Semua delegasi masih sibuk di kamar masing-masing. Semuanya berbenah, mengemasi barang-barang ke dalam tas dan koper masing-masing. Ketika waktu menunjukkan pukul 9.00, kami baru keluar kamar menuju gedung utama hotel. Sarapan bersama yang terakhir.

Sebelum pukul 12.00 akhirnya kami benar-benar berpencar, menuju perhentian terakhir di Yogyakarta untuk kembali pulang menuju daerah utusan masing-masing. Membawa dan meninggalkan banyak kenangan, Pontianak—Yogyakarta.

 

Napak Tilas “My Trip”; Pontianak-Kuching-Kuala Lumpur-Penang

 Oleh Mellisa Jupitasari

MABMonline.org, Pontianak– Bus tujuan Kuching, Malaysia melaju kencang melewati jalan di antara lembah-lembah hutan Kalimantan. Jalan-jalan trans-Kalimantan terlihat tidak terlalu besar. Begitu pula dengan rumah-rumah di sepanjang jalan menuju Entikong. Tidak ada kesan mewah di antara rumah-rumah itu. Semua terlihat biasa. Rimbunan pohon-pohon sawit juga terlihat kontras di beberapa titik-titik tempat tertentu, bahkan bukit-bukit pun terlihat ditanami pohon sawit.

Perjalanan ini benar-benar menjadi perjalanan yang cukup berharga. Jelas saja, melalui perjalanan ini, 3 orang mahasiswi ini dapat melihat sisi lain sudut-sudut pedalaman Kalimantan sebelum akhirnya sampai di negeri jiran itu. Jalan yang menanjak, tikungan tajamnya, beserta jurang-jurang yang tampaknya akan selalu ada di tepi tikungan jalan trans—Kalimantan. Jalanan yang dilewati tidaklah selalu mulus, ada beberapa jalan yang belum diperbaiki, hal ini sangat terasa. Mobil sebesar SJS saja masih bergoyang-goyang ketika melewati jalan di daerah sekitar Tayan dan Sosok. “Jalan di sekitaran situ Tayan dan Sosok masih rusak,” ucap Dede Melda, satu di antara mahasiswa yang mengikuti perjalanan itu. Tapi tentunya tak menyulutkan semangat 3 mahasiswi itu untuk melanjutkan perjalanan bersama dua dosennya ini.

Bus tiba-tiba berhenti di depan rumah makan Padang. Tepatnya di Sosok, Kabupaten Sanggau. Tampaknya bus-bus ini memang menjadikan rumah makan Padang ini sebagai tempat perhentiannya guna untuk beristirahat maupun untuk mengisi kampung tengah. Betapa kagetnya kami. Waktu turun dari bus beberapa calo mengeluarkan uang ringgit untuk dijual kepadad setiap penumpang bus yang akan menuju ke negeri sebelah. Kami hanya diam saja dan tidak memperdulikan. Sesampainya di Entikong, pihak imigrasi dari Indonesia mengecek kelengkapan administrasi. Antrian cukup panjang kala itu. Lagi-lagi kami disuguhkan dengan pemandangan yang sama ketika di rumah makan itu yakni  ditawarkan ringgit sama beberapa calo. Heran. Itulah yang ada di benak kami. Begitulah mungkin satu di antara cara orang perbatasan mengais rezeki.

Setelah kami menyelesaikan administrasi mulai dari pengecekan paspor dan pengecekan barang bawaaan, baik di kantor imigrasi Indonesia maupun di kantor imigrasi Malaysia kami pun melanjutkan perjalanan. Kami diperlihatkan dengan pemandangan bukit-bukit yang indah. Lekuk-lekuk bukit menjulang seakan menunjukkan kegagahannya menyambut setiap pengguna jalan yang selalu melewati kawasannya. Rintik-rintik langit pun tak mau kalah dengan julangan bukit yang memamerkan keindahan lekuk-lekuknya.

Segenap rintik-rintik langit itu turun dengan derasnya. Kedatangan kami benar-benar disambut oleh rintikkan hujan kala itu. Sejenak dendangan Chrisye dibus ini seakan bersahut-sahutan juga dengan hujan yang turun waktu itu. Alunan syahdunya mengalun-alun seakan menari bersama rintik hujan yang jatuh kala itu. Suasana syahdu pecah.  Tiba-tiba di tengah perjalanan kami diberhentikan oleh beberapa polisi.

Mungkin itu polisi yang bertugas di daerah yang tak jauh dari perbatasan untuk mengecek kelengkapan paspor dan mengecek barang bawaan. Lagi-lagi begini. Setelah selesai bus pun terus melaju. Pada saat di perjalanan lagi-lagi bus berhenti. Mata tertuju pada SPBU yang ada di negeri tetangga ini. Tidak satu orang pun yang menjaga tempat pengisian bahan bakar minyak ini. Pembeli benar-benar melayani dirinya sendiri. Ini sangat kontras sekali dengan pemandangan di negeri sendiri.


Bus pun melanjutkan perjalanannya lagi. Waktu lebih cepat satu jam dari biasanya. Jelas saja negara ini memiliki waktu lebih cepat dari waktu Indonesia bagian barat. Jadi kami harus membiasakan diri dan menyesuaikan diri dengan waktu yang lebih cepat ini. Kami pun sampai di Kuching. Ya, tepatnya di Kuching Sentral. Penglihatan masih meraba-meraba apakah ini pusat perbelanjaan atau terminal. Ternyata tempat ini merupakan tempat perhentian bus dan taksi yang dilengkapi pusat perbelanjaan di dalamnya yang menjadi sebuah sentral. Ya cukup menarik dan menginspirasi.

Bus ini pun memberhentikan penumpang di terminal sentral ini. “Perbedaan terminal kita dengan mereka jauh sekali,” lanjut Dede Melda. Jelas saja terminal di Kuching Sentral ini lebih tertata daripada terminal sendiri.

Dua dosen laki-laki dan tiga mahasiswa perempuan ini berhenti sejenak di sentral tersebut setelah setengah hari melakukan perjalanan yang cukup melelahkan, sebelum melanjutkan perjalanan lagi ke bandara Kuching Internasional Airport. Setelah rehat sejenak, perjalanan pun dilanjutkan. Kami menggunakan taksi dan membayar RM 20 atau sekitar Rp. 60.000. Perjalanan ternyata kurang lebih 5 menit dan ternyata jarak antara Kuching Sentral dengan bandara tersebut tidak terlalu jauh.  Agak Mahal. Tapi wajarlah fenomena ini juga sering kita temukan di negara sendiri. Pengais rezeki kadang-kadang memanfaatkan lahan yang ada untuk meraup rezeki sebanyak-banyaknya apalagi di tempat-tepat seperti itu. Hal ini tentu akan menjadi lahan basah pengais rezeki untuk menuai pundi-pundi yang ada.

Waktu keberangkatan menuju Kuala Lumpur masih lama sekitar 3 jam lagi. Kampung tengah mulai berdendang, bernyanyi-nyanyi riang. Entah apa yang dinyanyikannya, alunan nadanya pun tak jelas, entah dangdut entah keroncong. Tak ada yang bisa menghentikannya selain mengganjalnya dengan sesuap nasi. Perbedaan kultur mulai tampak dari makanan negara ini. KFC yang biasanya dengan nasi putih di negara sendiri sekarang disulap dengan nasi lemak. Nasi yang berempah yang sangat terasa lemak.  “Kalau ayamnya di negara kita lebih besar dari dari negara mereka,” ucap Dede Melda anak bungsu dari 2 bersaudara itu. “Ayam kita juga lebih krispy dari ayam mereka,” lanjut Siska. Hal ini dinilai sangat wajar, jangankan makanan lintas negara. Makanan di lintas propinsi saja antara Jawa dan Kalimantan misalnya sangat terasa bedanya. Ya kadang kultur turut andil dalam perbedaan ini, kecil perbedaannya namun kontras terasa.

Beberapa jam setelah makan, kami pun berangkat menggunakan pesawat Air Asia. Perjalanan menuju Kuala Lumpur 1 jam 45 menit, cukup lama dibandingkan Jakarta-Pontianak yang hanya berjarak 1 jam saja apabila menggunakan pesawat. Kadang yang membuat lamanya bukan dalam perjalanannya namun menunggu pesawatnya karena pesawat di Indonesia seringkali delay.

Aku pun lupa tepatnya pukul berapa kami sampai, selanjutnya …

Wisata Akademik dan Budaya ke ‘Surga Bawah Laut’ Wakatobi

Oleh Dedy Ari Asfar

MAMBonline.org, Pontianak–Mungkin sudah tidak asing bagi siapa saja yang berangkat ke Jakarta melalui bandara Supadio akan melihat pemandangan menakjubkan indahnya bumi Kalimantan Barat dari atas udara. Apanya yang menakjubkan? Lihat saja Sungai Kapuas yang meliuk-liuk bak ular Sawa’ (pyton) raksasa yang sedang berjalan menuju ke timur (hulu). Dalam mitos Iban bak Ular Nabau yang berjalan menyusuri rawa-rawa hutan Kalimantan. Dari Hilir Kapuas ada dua cabang yang bermuara langsung ke laut. Itu terlihat dengan jelas dari udara. Pertemuan dua sungai Kapuas yang dipisahkan oleh delta Kapuas ini dari udara seakan-akan menyandingkan dua pasangan yang sudah lama saling merindukan, bak Adam dan Hawa ketika bertemu pertama kali di bumi. Mereka bertemu dan menyatu, lalu hanyut bersama mengarungi bahtera menuju ”istana” kehidupan demi kebahagian makhluk hidup di sisi mereka.

Sungai Kapuas mengalir demi menyenangkan ekosistem Lembah Kapuas dan pihak-pihak yang membutuhkan pertolongan dan kedermawanannya dalam kehidupan sehari-hari. Air sangat penting bagi makhluk  hidup. Kalau tidak ada air pasti tidak ada yang mampu bertahan di muka bumi. Bukankah karena air pula yang menyebabkan Planet Bumi paling layak ditempati oleh manusia? Sungai Kapuas mengalirkan air untuk kebutuhan tubuh, pertanian, perikanan, dll. Sayangnya, manusia sering alpa hal yang satu ini sehingga air Kapuas mulai dicemari dengan berbagai sampah dan bahan kimia, seperti mercuri. Padahal, air Kapuas merupakan urat nadi bagi masyarakat di tebing atau tepian Lembah Kapuas mulai dari hilir sampai ke hulu. Bahkan, air PAM yang sehari-hari mengalir sampai ke kran-kran rumah penduduk Kota Pontianak bersumber dari Sungai Kapuas.

Tanggal 30 November 2008 suatu pagi di Bandara Supadio.

”Sebelah sini Pak!”

”Tit tit tit…” Sesuatu berbunyi saat aku melewati gerbang pemindai bandara.

”HPnya Pak. Tolong letakkan ditempatnya,” seru seorang petugas.

Itulah kasak-kusuk penumpang dan petugas bandara saat berjumpa di gerbang pemindai barang dan penumpang saat akan chek in. Aku bergegas mengantri di konter Sriwijaya. Saat mengantri terdengar suara penumpang berkata pada temannya.

Delay

”Apanya delay?

”Pesawat kita”

Dari percakapan dua calon penumpang didepanku, pesawat Sriwijaya yang kutumpangi mengalami masalah besar di Bandara Supadio Pontianak. Pesawat yang seyogianya berangkat pukul 07.55 WIB harus delay.

”Bapak mau ke Jakarta ya, maaf Pak pesawat kita delay sampai pukul 10.00,” kata seorang perempuan di konter itu kepadaku.

”Wah, saya harus dapat penerbangan pagi ini juga, sebab saya harus langsung sambung ke penerbangan berikutnya menuju Kendari,” kataku.

”Baik Bapak, kita uruskan. Bapak ikut Bapak ini,” kata perempuan tersebut sembari menyerahkan tiketku kepada seorang lelaki berpakaian bercirikan Sriwijaya Air.

Aku pun mengikuti lelaki tersebut menuju kantor Sriwijaya di dalam Bandara Supadio Pontianak. Di ruangan yang luasnya sekitar 4X4 M aku dihadapkan dengan seorang pria yang tampak gagah dan berwibawa, sepertinya orang yang paling bertanggung jawab di ruangan itu.

”Bapak mau ke mana?” pria itu membuka pembicaraan.

”Saya mau ke Kendari,” cukup tegas suaraku menjawab pertanyaan pria gagah tersebut.

”Maaf Pak, boleh saya lihat tiketnya,” kata si pria.

Ia memeriksa tiketku dengan teliti lalu berkata ”Kami mengalami penundaan penerbangan tetapi Bapak jangan khawatir akan kita pindahkan ke pesawat lain,” kata pria tersebut.

”Ya, jangan sampai saya tidak terbang pagi ini karena saya harus bergabung dengan rombongan di Jakarta menuju Kendari dengan pesawat Sriwijaya pukul 11.00 WIB, kalau berangkat pukul 10.00 pasti tidak akan bertemu dengan rombongan” seruku dengan suara yang dibuat agak diberat-beratkan agar tampak berwibawa.

”Sebentar ya Pak, kami akan uruskan,” seru pria berseragam merah bertuliskan Sriwijaya Air tersebut berusaha ramah.

”Ton, Ton, Toni kamu di mana?” kata pria tersebut memanggil-manggil seseorang melalui alat talky-talky yang selalu dipegangnya. Sekejap sang lelaki yang dipanggil muncul.

”Ini satu lagi, tolong minta kursi lagi ke Batavia. Cepat ya,” seru si pria berseragam merah kepada orang yang dipanggil Toni tersebut.

Sepertinya, aku tidak sendirian yang meminta transfer pesawat agar tidak ketinggalan dengan penerbangan berikutnya. Penumpang lain juga menjadikan Jakarta (Soekarno-Hatta) hanya jadi tempat transit bukan tujuan sebenarnya. Takkurang dari lima menit, muncul seorang pria yang kemudian kuketahui bernama Pak Gunawan. Dia pun mengadukan hal serupa.

”Tolong carikan saya pesawat agar dapat terbang pagi ini, saya hanya transit ke Jakarta dan harus ke Batam,” katanya.

”Boleh saya lihat tiketnya Pak?” kata pria berseragam merah.

”Wah, Bapak tidak pakai Sriwijaya ya dari Jakarta ke Batam,” kata petugas Sriwijaya.

”Iya, saya pakai Lion,” kata Pak Gunawan.

”Ini akan kita uruskan tapi Bapak dikenakan biaya selisih dengan harga tiket pesawat yang baru,” kata si petugas.

”Tidak apa, saya bayar, yang penting saya terbang pagi ini. Uruskan sekalian tiketnya,” kata Pak Gunawan dengan nada sedikit keras dan ekspresi wajah menunjukkan kekesalan.

Di luar ruangan tersebut terdengar salah satu penumpang berceletuk.

”Agak ngaco juga delay Sriwijaya ini ya, delay kok sampai beberapa jam”.

Seorang perempuan yang bertugas melayani jual-beli tiket di dalam ruangan itu pun merespon dengan menjelaskan bahwa ”Sebenarnya, pesawat kami mengalami gangguan dan harus menunggu pesawat lain dari Solo (?) karena itu, agak lama delaynya,” seru si perempuan.

Tiba-tiba ruangan kecil ini mulai didatangi beberapa penumpang yang bertanya dan mengeluh penundaan keberangkatan Sriwijaya.

”Anton mana, Anton?” kata pria berbaju merah agak sedikit marah bertanya kepada petugas perempuan yang ada di ruangan itu.

Tetapi, tidak direspon karena sang perempuan juga sibuk melayani konsumen.

”Ton, Ton, carikan Anton, suruh ke sini. Ke mana aja si Anton ini” pria berbaju merah ini menggerutu kepada Toni melalui talky-talkynya.

Tidak beberapa lama, muncul seorang pria berseragam merah. Pria tersebut berperawakan tinggi putih dengan raut muka mirip orang Cina. ”Kemana aja kamu, dicari-cari dari tadi malah menghilang. Urus tiket Ibu itu!” perintah si pria berbaju merah kepada pria yang ditenggarai bernama Anton tersebut.

”Saya ngurus orang chek in Pak,” kata Anton berusaha membela diri.

”Sudah, jangan kemana-mana, di sini aja,” seru si pria dengan nada kesal.

Urusan chek in dan transfer ke Batavia sudah selesai. Aku lalu menuju ruang tunggu keberangkatan. Lihat kanan-kiri tampak kursi yang disediakan cukup penuh, ada dua tiga kursi yang masih kosong. Orang sibuk dengan urusannya masing-masing, ada yang berbicara dengan orang disebelahnya; ada yang membaca koran; ada yang asyik dengan telepon genggamnya; ada yang makan roti, dan sebagainya. Tidak beberapa lama duduk di ruang tunggu tersebut, panggilan keberangkatan pesawat Batavia pun terdengar, kulihat waktu menunjukkan pukul 07.55 WIB.

Tiba di Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 09.30 WIB, aku langsung menuju tempat transit. Setelah chek in aku pun beranjak menuju ruang tunggu dalam bandara. Melewati meja petugas pajak bandara, lalu membayar sebesar Rp 30.000,00. Sebelum masuk ke ruang tunggu keberangkatan aku singgah di sebuah kafe untuk makan sambil mengamati dan menunggu siapa tahu ada rombongan orang dari Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jakarta yang aku kenal melintas.

Sambil makan dan minum mataku terus mengawasi lalu lintas orang yang masuk ke dalam ruang tunggu keberangkatan tetapi tidak satupun yang dikenal. Aku sangat khawatir karena kontak dengan rombongan ATL hanya dilakukan Dr. Chairil Effendy selaku Ketua ATL Kalbar. Beliaulah yang mengutusku (selaku sekretaris ATL) untuk berpartisipasi dalam kegiatan Lisan VI yang diselenggarakan oleh ATL dengan tema Oral Tradition as Cultural Strength to Build Civilization. Aku diminta beliau untuk membentangkan makalah dalam acara tersebut. Kebetulan aku dan Dr. Chairil Effendy menulis bersama makalah yang akan disampaikan dalam Seminar Internasional Tradisi Lisan Nusantara di Wakatobi. Oleh karena kesibukan beliau sebagai Rektor Universitas Tanjungpura dan berbagai kegiatan lainnya di Jakarta, beliau tidak bisa mengikuti kegiatan seminar di Wakatobi yang kebetulan dilaksanakan pada tanggal 1—3 Desember 2008. Oleh karena itu, aku pun menjadi penggantinya dalam acara tersebut.

Mujur sekali aku dapat kepercayaan penuh Dr. Chairil Effendy untuk mengikuti kegiatan di Wakatobi dan beliau mempersiapkan anggaran keberangkatan ke sana sehingga tidak merepotkanku dari segi keuangan. Bahkan, informasi keberangkatan rombongan ATL Jakarta ke Wakatobi melalui Sriwijaya pada hari ini (Minggu, 30 November 2008) Dr. Chairil Effendy yang menginformasikannya kepadaku sebab beliau dapat kontak langsung dari Dr. Pudentia selaku Ketua ATL Pusat, Jakarta.

”Nanti, Dedy cari saja rombongan ATL Jakarta yang menuju ke Kendari pakai Sriwijaya karena hanya satu-satunya penerbangan Sriwijaya yang berangkat pukul 11.00 ke sana,” kata Dr. Chairil Effendy berbicara kepadaku dua hari sebelum keberangkatan.

10.00 WIB Soekarno Hatta

Setelah menyelesaikan sarapan di kafe dalam bandara, aku pun beranjak masuk ke dalam ruang tunggu keberangkatan. Kulihat masih belum ramai orang yang duduk di ruang tunggu. Sekitar 4 orang calon penumpang yang ada dalam ruangan tersebut. Aku berjalan di sekitar ruangan sambil menikmati pemandangan hijau di balik kaca ruang tunggu. Tampak tanaman hijau menghiasi bandara, ada beberapa jenis bunga dan pohon Ketapang menghiasi taman dalam bandara Soekarno-Hatta. Sekali-kali mataku melihat orang yang masuk ke dalam ruang tunggu, dengan harap-harap cemas siapa tahu ada rombongan ATL yang teridentifikasi. Benar juga selang beberapa menit berdiri di ruang tunggu keberangkatan tampak rombongan orang masuk ke dalam ruang tunggu. ”Gaya mereka menunjukkan kalau rombongan ini adalah rombongan ATL Pusat, Jakarta,” aku membatin sendiri.

Kulihat ada beberapa bule yang turut dalam kelompok ini. Aku mencoba mendekati seorang lelaki dan perempuan yang duduk di ruangan itu. Aku pun duduk di samping mereka. Kucoba memberanikan diri menyapa dan beramah-tamah.

”Bapak mau ke mana?” kataku pada seorang lelaki sambil tersenyum ramah.

”Oh, mau ke Wakatobi,” katanya.

Mendengar jawaban lelaki ini, perasaan lega luar biasa lepas dari dadaku. Aku pun mengenalkan diri kepada pria dan wanita di sebelahnya. Yang pria bernama Samuel seorang desainer dari Jakarta yang sengaja diundang oleh Dr. Pudentia (Bu Teti) untuk ikut dalam rombongan ke Wakatobi dan yang perempuan adalah Bu Ratna yang kemudian kuketahui berperan sebagai moderator dalam acara seminar dan istri dari Pak N. Riantiarno seorang sutradara dan penulis skenario dunia teater Indonesia yang ternama.

Kami berbincang-bincang sebentar selang beberapa menit muncul lagi seorang pria menggunakan kaos Melayu Online. Bu Ratna memperkenalkan orang tersebut kepadaku. ”Ini orang Kalimantan,” ujar Bu Ratna.

”Kenedi,” katanya memperkenalkan diri.

”Dedy dari Pontianak,” sahutku.

”Oh dari Pontianak, pukul berapa sampai?” tanyanya.

”Pukul 09.30 sudah mendarat,” kataku.

”Wah langsung masuk ya ke sini, nggak keluar bandara lagi,” tegas Mas Kenedi yang kemudian kuketahui adalah seorang wartawan senior yang sudah 20 tahun di Kompas.

Kami berbicara cukup lama dan akrab juga. Beliau menceritakan pengalamannya naik pesawat dari Pontianak—Kuching, bertanya tentang perbatasan, dan sebagainya. Kulihat ada juga dua orang yang tidak asing bagiku di ruang tunggu itu. Ada dua orang dari Melayu Online, Pak Mahyudin Almudra (bos Melayu Online) dan Mas Hadi Kuriawan wakilnya yang kukenal saat kunjungan mereka ke Majelis Adat dan Budaya Melayu (MABM) Kalbar. Rupa-rupanya mereka juga turut dalam rombongan ke Wakatobi. Mas Kenedi menyapa mereka terlebih dahulu kemudian aku pun beranjak dari tempat duduk mendekati mereka. Kami juga larut dalam perbincangan, sekali-kali Mas Kenedi dari Kompas membuat guyonan.

Sekitar pukul 11.00 WIB kami sudah di dalam pesawat. Di dalam pesawat orang sudah pada duduk termasuk aku. Orang terakhir yang masuk pesawat adalah Bu Teti,Ketua ATL Pusat, Jakarta. Perempuan ini kukenali wajahnya karena beliau juga sebagai pemakalah dalam Kongres IX Bahasa Indonesia di Jakarta yang kebetulan aku hadiri. Ia menyapa semua penumpang di pesawat termasuk aku. Aku malah sempat berbicara sembari mengenalkan diri dan menyampaikan salam dari Rektor Universitas Tanjungpura Pontianak yang juga Ketua ATL Kalbar Dr. Chairil Effendy. Kukatakan Pak Chairil tidak sempat hadir karena beliau sedang sibuk dan ada beberapa kegiatan yang tidak bisa beliau tinggalkan, sehingga beliau mengutus saya untuk ikut dalam kegiatan ini.

”Oh wakil Pak Chairil,” katanya.

”Iya,” sahutku singkat.

”Ada bawa barang di bagasi?” tanyanya.

”Tidak ada,” kataku.

”Bagus karena kita akan langsung pindah pesawat setibanya di Makassar,” jelas Bu Teti. Aku sempat tertegun mendengar penjelasan Bu Teti. Pikirku, bukankah pesawat Sriwijaya ini akan terbang ke Kendari dan hanya transit di Makassar. ”Ah, sudahlah, ikuti saja ke mana rombongan ATL ini,” aku membatin. Setelah berbicara denganku, ia terus berlalu ke kursi belakang. Beberapa menit kemudian, pesawat pun lepas landas.

Aku duduk tepat di sisi kaca pesawat, nomor kursi 6 A. Di sebelahku duduk seorang ibu dan anaknya yang kira-kira berumur dua atau tiga tahun. Sepanjang perjalanan, anak tersebut bernyanyi terus. Mengingatkan pada anak perempuanku Daffa di rumah. Perjalanan pesawat dari Jakarta—Makassar didukung dengan cuaca yang sangat cerah. Tanpa terasa, 10 menit sudah berlalu. Aku berpikir mungkin pesawat masih di pinggir Jakarta karena mulai dari lepas landas, pemandangan rumah penduduk dan pulau tampak jelas terlihat tidak berhenti. Mungkin sekitar kepulauan seribu pikirku.

Tampak lautan biru membentang, sesekali terlewati pulau yang berpenghuni dan tidak berpenghuni. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Namun, kemudian aku sempat terlelap sekitar 1 jam perjalanan. Lalu terbangun, kulihat pulau-pulau indah yang dikelilingi laut biru. Anehnya, air laut di sisi atau pinggiran pulau tampak menghijau. Aku bertanya pada diri sendiri, ”Mengapa bisa begitu ya?” Mungkin karena air tepian pantai pulau tersebut agak dangkal sehingga tampaklah keindahan karang dan ekosistem hijau bawah lautnya. Aku juga berpikir ini mungkin sudah masuk perairan Laut Sulawesi yang terkenal dengan biota bawah lautnya yang indah dan menawan.

Sesekali pesawat yang kutumpangi melewati kumpulan awan yang agak mendung. Mungkin awan ini yang dapat menjadi hujan karena proses penguapan dari air laut yang kemudian membentuk awan hitam. Ada juga pergerakan gerombolan awan putih yang kami lalui, bergeraknya awan-awan putih tersebut seperti gerombolan makhluk gaib yang serbaputih berjalan-jalan di angkasa, terbayangkan tidak? Kalau susah jangan dipikirkan karena imaji khayalku yang mengada-ada saja. Entah sudah berapa lama aku menikmati pemandangan menakjubkan bukti kebesaran dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa ini. Aku terus mengagumi dan mensyukuri kekuasaan-Nya itu. Tiba-tiba terdengar suara pramugari berkata.

”Beberapa menit lagi kita akan sampai di Makassar. Terdapat perbedaan waktu 1 jam antara Makassar dan Jakarta.”

Sembari mendengar perkataan dari pramugari, mataku terus melihat pemandangan di balik kaca. Dari tempat dudukku jelas terlihat beberapa kapal dan perahu tradisional yang bergerak mengarungi Lautan Sulawesi, entah ke mana tujuan mereka. Akhirnya tepat pukul 14.20 waktu Indonesia bagian tengah kami mendarat di Bandara Sultan Hasanudin Makassar.

Selanjutnya di…
Surga Nyata Bawah Laut Wakatobi