Podsi Dukung Lomba Dayung Hut Kodam

Gambar ; Para TNI sedang berlomba.
Gambar ; Para TNI sedang berlomba.

Oleh Mariyadi

MABMonline.org, Pontianak–Ketua Umum Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Kalimantan Barat, Sukiman, sangat menudukung lomba dayung perahu karet (LCR) yang diadakan  dalam rangka ulang HUT Kodam/Tpr Ke-55. Minggu (30/6/2013). “Hal ini menunjukan bahwa TNI kita dekat dengan masyarakat,” ujarnya.

Sukiman menjelaskan bahwa  prajurit TNI memiliki andil untuk melestarikan dayung di Kalimantan Barat ini dan para TNI  juga memiliki potensi turut andil dalam menorehkan prestasi dayung Kalbar. “Saya berharap TNI kedepannya dapat juga ikut serta dalam menoreh prestasi di tingkat nasional maupun internasional,” tambahnya.

“Podsi sangat menyambut baik karena baru pertama kali lomba dayung karet di adakan  di Kalimantan Barat ini,”  ungkap Abdi Nurkamil, Ketua Harian Podsi.

Menurut Abdi untuk LCR, baru pertama kali ini saja di adakan di Kalimantan Barat. Karena persiapan terbatas dan sebagian besar merupakan TNI jadi mereka tidak terlalu maksimal dalam lomba dayung ini. “Meski jarang latihan, Podsi acungi jempol terhadap semangat para TNI,”

“Podsi berharap kedepannya lomba ini tidak hanya sebatas untuk atlit, bahkan mencapai semua golongan dan kedepannya di PON nanti kita ikut semua nomor,” kata Abdi.

 

Optimis Peserta O2SN Kalbar Berprestasi

Gambar : Para peserta O2SN Sedang melakukan persiapan.
Gambar : Para peserta O2SN Sedang melakukan persiapan.

Oleh Mariyadi

MABMonline.org, Pontianak—Mustarudi selaku Kepala Bidang Pendidikan Menengah dan Tinggi (Dikmenti) Dinas Pendidikan Kalimantan Barat (Kalbar) mengaku optimis para atlet pelajar Kalbar siap memberikan prestasi terbaik dalam ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) yang akan dilaksanakan pada 30 Juni-06 Juli di Samarinda Kalimantan Timur. Optimisme itu mengemuka saat melepas secara simbolik para peserta di Hotel Merpati Sabtu (29/6) malam. “Saya yakin dan optimis bahwa para peserta kita dapat menorehkan prestasi untuk Kalbar,” ungkapnya.

Menurut Mustarudi, bukti nyata dapat dilihat pada Festival lomba Seni Siswa Nasional kemaren kita dapat memperoleh prestasi yang baik. Olah karena prosesnya telah kita lakukan dinilai baik, kita yakin dan optimis peserta dari Kalimantan Barat bisa menorehkan prestasi yang baik pada ajang kali ini.

Mustarudi menerangkan, peserta-peserta yang dikirim merata dari daerah-daerah. Ada 196 atlet yang akan ikut dan  terbagi atas pelajar-pelajar tingkat  Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Akhir (SMA). “Peserta-peserta kita berpencar dari daerah-daerah,” ujar Mustarudi. “Yang penting mereka berusaha secara maksimal, masalah target yang penting meraka sudah melakukan yang terbaik,” tambah Mustarudi.

Mustarudi menekankan kepada seluruh peserta agar bisa menjaga emosi, tidak terpengaruh terhadap kondisi-kondisi yang akan di jalani di sana. Karena memang pada event-event olah raga ini terkadang kesebaran peserta diuji, baik itu dalam hal teknis dan lain sebagainya.

“Kalau potensi peserta-peserta ini maksimal, ada wacana untuk menawarkan Sekolah Keterbakatan untuk cabang olah raga,” tambah Mustarudi.

Mustarudi juga mengatakan, ia telah berbicara pada Dinas Pemuda dan Olah Raga dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mengenai pengembangan potensi olahragawan di Kalbar ini. Kita mewacanakan membuat Sekolah Keterbakatan Cabang Olah raga jika  potensi para atlet yang akan dikirim  di ajang Nasional ini bisa memberikan prestasi yang baik. “Karena, peserta-pesertanya kebanyakan dari SD. Maka, kita masih ada waktu mengembangkan bakat-bakat mereka,” pungkasnya.

KSR PMI Unit Untan Adakan Acara Youth Volunter Camp Se-Kalimantan Barat

Gambar : Tampak tenda  yang di dalmnya ada beberapa pesetra yang sedang istirahat
Gambar : Tampak tenda yang di dalmnya ada beberapa pesetra yang sedang istirahat

Oleh Mariyadi

MABMonline.org, Pontianak–Korps Suka Rela (KSR) Palang Merah Indonesia (PMI) Unit Untan, Kamis (27/6), mengadakan Acara Youth Volunter Camp Se-Kalimantan Barat. Acara tersebut Adalah sebagai peringatan Hari Kesehatan dan Palang Merah Sedunia.

“Kegiatan ini sudah tiap tahun kita adakan,” Rozi memulai.

Acara ini adalah sebagai peringatan Hari Kesehatan dan Palang Merah Sedunia (HKPMS) yang tiap tahun kami adakan dan tahun ini sudah yang ke-13 kalinya.

“Acara ini bertema Mewujudkan Relawan yang Berperan Aktif Berinisiatif Tinggi dan Berjiwa Sosial Kemanusiaan,” ungkap Muhammad Rozzi  Hambali selaku ketua panitia.

Acara  yang diadakan selama satu minggu, dimulai pada 23 Juni s/d 28 Juni ini, bertemakan Mewujudkan Relawan yang Berperan Aktif Berinisiatif Tinggi dan Berjiwa Sosial Kemanusiaan  dan bertujuan  untuk mempertemukan para anggota PMR, dan meningkatkan solidaritas anggota PMR khusunya di Kalimantan Barat ini.

“Pesertanya sekitar 300 orang,” ungkap Rozi.

Menurut Rozi jumlah peserta semuanya terdiri dari 15 sekolah yang ikut dalam acara ini. pesertanya kita bagi dengan tim putra dan tim putri. Dihitung rata-rata sekitar 300  peserta dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Se-Kalimantan Barat meskipun ada juga yang tidak mengirim pesertanya yaitu dari Sintang dan Ngabang.

“Kegiatanya ada lomba dan non lomba,” tambah Rozi

Menurut rozzi, kegiatan ini terbagi atas dua kegiatan, ada yang berbentuk lomba dan ada pula yang berbentuk non lomba. Acara lomba diantaranya lomba Pertolongan Pertama, Lomba Pembuatan Tandu, Lomba Melewati Halang Rintang, Lomba Asah Terampil seputar PMI, Lomba Pentas Seni, Desain Poster, Lomba Hasta Karya, dan  Pemilihan Duta PMI putra dan putri yang di isi dengan tanya jawab seputar PMI.

“Kita juga adakan Aksi Donor Darah,” ujar Rozi.

Rozi mengatakan acara non lomba di isi dengan acara Aksi Donor Darah, Perkemahan, Upacara Seremonial untuk memperingati hari palang merah, ada upacara penutupan sekaligus pembagian hadia pada para pemenang lomba, acara sosial yaitu mengadakan aksi sanitasi lingkungan di jalan media  yang juga dibantu oleh warga setempat.

“Untuk saat ini, kendalanya hanya kebersihan,” kata Rozi.

Rozzi menambahkan, air minum dan air bersih untuk mandi dan minum. Karena memang untuk dilapangan dan musim panas ini memang masalah air menjadi hal yang sangat wajar. Namun, kami selaku pantia selalu berusaha untuk mengurangi kendala tersebut.

Biografi Harmi Cahyani, Penulis Muda Kalbar

Oleh Hesti Amanda

MABMonline.org, Pontianak — Harmi Cahyani, penulis muda yang berasal dari Kalimantan Barat. Ia lahir pada tanggal 1 Mei 1985 di Pontianak dari pasangan Drs. H. Asbani A. Rahman dan Hj. Junaidah MS.  Masa kecilnya ia habiskan di Pontianak. Ia hanya memiliki satu abang semata wayang bernama Fery Kurniadi, ST, M.Sc.
Harmi yang kerap dipanggil dengan panggilan Mimi ini menyenangi dunia tulis menulis sejak usia belia. Semua berawal saat ia berusia 8 tahun. Sang Ayah berlangganan majalah BOBO, salah satu majalah anak-anak yang sangat digemari di Indonesia. Dalam waktu 20 menit saja, satu majalah itu habis ia lalap dalam sekali duduk. Dari membaca majalah BOBO lah Mimi mengenal apa itu cerpen, cerbung, cergam dan lainnya. Iapun jadi senang membaca dan berimajinasi. Masa itu ia sangat menyenangi tulisan-tulisan Widya Suwarna dan Kemala P.

“Widya Suwarna dan Kemala P itu, punya sense unik dalam membangun imajinasi indera kita. Mereka pandai menceritakan kisah sehari-hari dengan dibubuhi keindahan-keindahan deskripsi. Misalnya jika menceritakan tokoh cerita yang sedang membeli sabun colek, minum es sirup, kepedesan saat makan rujak di siang bolong, dan sebagainya. Sungguh sedap untuk dibaca anak-anak. Belum lagi pesan moralnya sangat mudah dipahami oleh pembaca-pembaca seusia kami pada masa itu” papar Mimi.
Dimulai dari kecintaan membaca, Mimi kecil juga senang “membongkar” buku-buku bekas milik sepupunya. Ia senang sekali bisa menemukan majalah Ananda dan kisah-kisah rakyat dari koleksi buku milik sepupunya itu. Melihat kecintaan sang putri terhadap bacaan, sang ayah yang pada masa itu bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Dinas Pendidikan dan kebudayaan, seringkali membawanya ke perpustakaan kantor dan membiarkannya memilih dan membaca buku-buku yang ada. Sebagian adalah buku-buku sastra. Salah satu yang paling sering ia baca adalah karya-karya sastra angkatan Balai Pustaka.
“Saya ingat dulu, waktu berkunjung ke rumah sepupu. Saya bongkar kardus bukunya. Ada buku yang udah lecek dan bertaburan rayap. Tetap saya baca. Padahal baunya itu lho, apek banget….” kenang Mimi.
Beranjak dari senang membaca, Mimi mulai mencoba untuk menulis. Sejak kelas 3 SD ia paling senang pelajaran mengarang dan menulis. Dan ia pun sering mendapat nilai yang bagus dari guru Bahasa Indonesianya.

Pada masa itu pulalah ia mulai menulis diary. Diary warna-warni yang ia beli dari uang jajannya itu, rutin ia isi setiap harinya. Isinya masih seputar tentang kronologi saat bangun pagi dan kejadian-kejadian di sekolah. Semuanya ia tulis dengan rapi dan dengan ragam bentuk tulisan yang berbeda-beda. Kebetulan Mimi memiliki kemampuan meniru bentuk tulisan orang lain. Sehingga setiap diary yang ia miliki, tertera beragam bentuk tulisan dengan bentuk yang berlainan.
“Saya itu suka niru tulisan orang. Yang bentuknya rangkai, lurus, bulat, besar. Semuanya saya coba ikuti. Makanya di diary saya, bentuk tulisan saya beragam” kata penggemar bakso ini sambil tertawa mengingat kebiasaan anehnya dulu.

Selain berisi kejadian harian, Diary yang Mimi miliki juga berisi tentang sinopsis film yang baru ia tonton. Dan sebagian besar adalah film action yang dibintangi oleh Sylvester Stallone, Arnold Schwarzenegger dan Jean Claude van Damme. Masa itu memang TV swasta di Indonesia sedang booming-nya menayangkan film 3 tokoh action ini. Dan dengan cukup detail (untuk anak seusianya), Mimi menuliskan kembali jalan cerita dari tiap-tiap film yang ia tonton dalam bentuk sebuah sinopsis.

“Kalau habis nonton film laga, saya langsung buka diary dan menuliskannya. Itu film biasanya selesai pukul 10 malam. Saya pun asyik di kamar menulis sampai berlembar-lembar jalan cerita dari film itu. Jika tidak selesai, akan saya lanjutkan besok.  Saya menuliskannya dengan cukup detail. Padahal masih kelas 4 SD masa itu” paparnya panjang lebar.

Seringkali ia juga menulis cerpen dengan tokoh anak-anak. Tapi ternyata seringkali terjadi tiap cerita tak selesai, karena ia sering kehilangan ide untuk menemukan ending dari ceritanya.
“Sudah setengah cerita. Akhirnya kandas karena ngga nemu ending. Itu writing block saya pada masa itu” tawanya mengenang masa kecilnya.

Memasuki Usia SMP, Mimi mulai menyukai bacaan-bacaan remaja. Dan ia sangat menyukai novel ber-genre horror. Buku-buku karya R.L Stine menjadi bagian dari bacaan yang kerap ia lalap pada masa itu. Goosebumps dan Fear Street menjadi bacaan yang paling ia cari. Buku-buku tersebut kebanyakan ia sewa di tempat penyewaan buku di dekat sekolahnya, Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pontianak yang berlokasi di Jl. Alianyang Pontianak. Selain itu ia juga pemburu serial Lupus karya Hilman dan Boim Lebon.

“Dulu zaman SMP, hampir sebagian uang jajan saya, saya alokasikan buat nyewa novel. Lapar perut bisa ditahan. Tapi lapar untuk nemuin imajinasi baru dari bacaan, itu yang tak tertahankan. Kadang Ibu sampai marah kalau tau uang jajan saya terpakai untuk menyewa buku” tawanya. “Dulu belum sanggup untuk beli. Jadi bisanya yaa cuma nyewa..” lanjutnya lagi.

Saat akan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, Mimi memilih untuk lanjut ke SMU 1 Pontianak. Salah satu SMA favorit di kotanya. Iapun berhasil masuk kesana, dan berharap bisa menyesuaikan diri dengan masa remajanya yang akan ia mulai masa itu. Ternyata kehidupan remaja SMA yang dinamis dan serba baru, turut memberikan pengaruh padanya. Masa itu ia sangat berharap bisa bergabung dengan salah satu eskul yang ada di sekolahnya. Salah satu yang paling ia dambakan adalah KIR (Karya Ilmiah Remaja).
“Disana ada banyak pilihan Eskul. Ada Pecinta alam, PMR, Paskibra, Rohis, Pramuka, dan lain lain. Tapi karna saya sangat menyukai menulis, ya tentu saja saya memilih KIR. Besar harapan saya, saya bisa menemukan sesuatu yang bisa mengasah saya jika saya bergabung dengan senior-senior yang ada disana” kenangnya.

Dengan penuh keyakinan dan kemauan, iapun bergabung dan mengajukan formulir. Posisi yang ia pilih adalah wartawan. Serangkaian tes harus dijalani. Mulai dari tes menulis, wawancara, wawancara Bahasa Inggris dll. Berdasarkan info yang ia peroleh, ia mendapat nilai yang baik pada setiap sesi. Bahkan nilai menulisnya mendapat nilai 95.
Namun alangkah kecewanya ia, saat tahu ia sama sekali tak lolos sebagai anggota KIR. Ia pun berusaha mencari tau ke salah satu senior yang ada.
“Dan Out of record….Saya tak berhasil lolos dengan alasan dari sana, karena saya tak punya motor” katanya sambil tertawa. Ternyata posisi sebagai wartawan sekolah yang ia pilih, dirasa tak memungkinkan jika tak memiliki kendaraan, minimal motor.

Kesal, tentu saja. Ia jadikan itu sebagai dendam positif. Masa remaja merupakan masa penuh keinginan untuk mencari jati diri. Dan terkadang bercampur-campur dengan emosi. Melihat temannya yang ia pikir tak begitu bagus dalam kemampuan menulis namun berhasil lolos dalam posisi wartawan yang ia incar, Mimi marah dan sedih. Ia pun “banting stir”    dan mencoba jalur lain.
“Apapun yang terkait dunia menulis, saya coba” katanya.
Iapun mencoba bergabung di Rohis SMU 1 Pontianak yang bernama FDRM (Forum Dialog Remaja Muslim). Awalnya ia enggan untuk bergabung disana karena pada masa itu ia malah belum berjilbab. Kontras sekali dengan anggota rohis yang semuanya berjilbab bahkan lebar. Sempat tidak PD dengan lingkungan barunya, toh pada akhirnya ia bisa juga berbaur. Ia memilih bergabung disana karena Rohis memiliki wadah untuk menulis. Mulai dari Mading hingga Majalah. Mimi berharap ia bisa ikut serta untuk belajar menulis dan bisa menayangkan karyanya untuk dapat dinikmati orang banyak.

Ternyata seiring berjalannya waktu, Mimi senang dan produktif berada di forum ini. Beberapa karya puisi dan cerpen yang ia tulis mendapat respon yang positif dari mereka yang membacanya.
“Saya pikir, itulah batu loncatan pertama saya. Kali pertama saya bisa unjuk karya. Hal ini menjadikan saya yakin bahwa saya harus mengasah terus kemampuan menulis ini bersama komunitas yang memiliki visi yang serupa dengan saya” paparnya.

Lalu ia pun bergabung di majalah RIHLAH. Disana ia bertugas dibagian fiksi. Cerbungnya yang berjudul “Return to the Real Eternity”, diminati para pembaca.
“Cerbung itu bertemakan kejadian 11 September yang pada tahun itu sedang ramai diperbincangkan dan menjadi peristiwa internasional yang fenomenal. Sayapun membuat cerbungnya dalam beberapa episode cerita. Ngga nyangka, banyak yang suka dan menunggu-nunggu kelanjutan ceritanya” kenangnya.
Dari sanalah ia bertemu dengan banyak orang dengan minat membaca dan menulis yang sama. Dan semuanya menjadi batu loncatan bagi Mimi untuk lebih percaya diri dalam berkarya.

2006, Novel Pertama Terbit
Pada tahun 2006, saat ia berada di semester akhir di kampus Akademi Bahasa Asing Pontianak, Mimi mendapatkan kenangan yang tak terlupakan di hidupnya. Sepucuk surat dari salah satu penerbit besar di Bandung, memberitahukan bahwa naskah novelnya yang berjudul “Ashley : Somebody Help Me!” layak terbit. Bagai kejatuhan pelangi di siang bolong, Mimi bersyukur dengan kejutan yang ia dapatkan.
“Awalnya Dar! Mizan Bandung membuka sebuah sayembara dengan hadiah yang menggiurkan. Tapi saya ngga melihat juara nya. Yang ada di pikiran saya adalah, bagaimana naskah saya ini bisa lolos dan terbit. Itu saja. Jadi saya memilih genre yang kira-kira ngga pasaran. Horor. Kebetulan saya juga menggemari genre ini” paparnya lagi.

Dan ternyata impiannya terkabul. 2006, Novel perdananya terbit di seluruh nusantara. Ia pun memakai nama pena Mimi Catz. Yang di gubah oleh penerbit menjadi Mimi Chatz.
“Itu nama pena iseng aja,  nick name saya dulu waktu tahun 2002, saat chatting di MiRC . Chatting disana pakai nick atau nama chatting-an. Langsung deh keterusan sampe sekarang. Jadi terkadang, agak ngga PEDE juga kalau diundang jadi pembicara, panitia menggunakan nama pena saya “Mimi Catz”. Kesannya alay gitu..hehe” jelas Mimi yang juga pecinta kucing ini.

Novel “Ashley : Somebody Help Me” sendiri merupakan sebuah novel remaja yang mengusung tema horror. Mengisahkan tentang sang tokoh cerita, Ashley McGriffith, yang mengalami mimpi berantai sepanjang malam, sesaat setelah ia berjumpa dengan abang tertuanya yang terusir dari rumah, Jeff McGriffith.  Novel ini sedikit mengangkat tentang ragam dunia remaja dan kehidupan mereka yang penuh kekosongan dan tanpa arah, sehingga menjadikan manusia-manusia ini bergabung dengan perkumpulan pemuja setan seperti satanic dabblers.

Cita-cita terpendam
Kalau ditanya masalah cita-cita, sejak kecil Mimi ingin sekali bergelung di dunia jurnalis. Cita-citanya adalah menjadi seorang reporter berita. Ia waktu kecil sangat suka menonton acara berita. Masa itu ada penyiar berita bernama Desi Anwar, Dana Iswara dan Zsa Zsa Yusharyahya yang ia kagumi. Sayang, orang tua tidak mengizinkannya untuk kuliah di luar Kalimantan. Sang Ibu menginginkannya menjadi seorang tenaga pendidik, seorang guru sebagaimana pengabdian ibunya selama ini.

Walau demikian, keinginan terpendam itu coba ia lanjutkan. Pada tahun 2007 ia bergabung dengan PT. Swara Mas Mujahidin Madani. Melalui sebuah seleksi yang cukup ketat sebagai penyiar radio yang diikuti oleh 80-an orang, ia berhasil lolos. Ia pun bergabung di Radio Mujahidin FM. Sebuah radio yang pada awal berdirinya sudah cukup mendapat pengakuan dari masyarakat. Disinilah ia memulai dunia baru di bidang broadcasting. Berbagai kemampuanpun berkembang.

“Serunya jadi broadcaster atau penyiar itu, kita terasah dalam pengumpulan, pengeditan dan penulisan naskah. Benar-benar menyeimbangkan kemampuan tekstual dan oral. Banyak hal saya dapatkan dari dunia penyiaran..Belum lagi keharusan dalam mereportase sesuatu dalam setiap keadaan. Ini cocok dengan jiwa saya. Saya senang dengan dunia broadcasting ini,” ujarnya.

Tentu ada suka dan dukanya juga. Sebuah kisah lucu pernah terjadi.
“Pernah di suatu Sabtu, saya siaran duet, di sebuah program pagi. Entah mengapa pagi itu, teman duet saya membacakan naskah tentang ayam. Saya tertawa tiba-tiba waktu dengar kata “ayam”. Rekan saya pun akhirnya ikutan tertawa. Celakanya, tuh ketawa bener-bener ngga bisa berhenti, sampai operator pun kebingungan. Ngikik aja di belakang mik. Dengan harap-harap ngga ada pendengar yang denger. Padahal mana mungkin? Walhasil, Operator langsung menutup suara kami dengan memutarkan nasyid…Haduh….saat jeda, telpon kantor langsung bunyi dan kami berdua dapat teguran..hehehe.”

Dari sini juga ia dapat banyak sekali teman baru, termasuk pendengar setia. Salah satu program acara yang ia pegang adalah Pena Muda. Program seputar sastra dan dunia kepenulisan. Di program ini Mimi ber duet dengan penyiar cilik Filang Ridho Ananda.
Di tahun 2011 Mimi juga sempat bergabung dengan TVRI Kalimantan Barat dan sempat merasakan pengalaman sebagai penyiar berita dan presenter di beberapa acara.

“Saya pernah juga mengisi di TV lokal seperti KCTV dan KTV, sebagai bentuk kerjasama dengan Radio Mujahidin. Lalu di 2011 saya bergabung dengan TVRI Kalimantan Barat. Seru juga. Pengalaman penyiaran bertambah terus. Tapi sayangnya tidak terlalu lama, karena setelah menikah dan hamil, saya harus banyak istirahat dan men-stop segala kegiatan broadcasting saya itu” ceritanya lagi.

Mimi juga sempat bergabung dengan Lentera Community. Sebuah komunitas yang berisi penulis-penulis muda Kalimantan Barat. Pada 2009 mereka berhasil me-launching antalogi berjudul “Coretan di Langit Kapuas”. Buku ini di launching dengan menghadirkan Nur Iskandar (Pemred Borneo Tribune) dan Ferry Hadary (Penulis buku “Sapa Cinta dari Negeri Sakura”).
“Oh iya saya juga sempat menjadi Pembina KIR di MAN 2 Pontianak. Ternyata banyak juga adik-adik muda yang senang dan rutin menulis. Beberapa diantara mereka juga memiliki bakat yang baik di dunia menulis” ceritanya.

Selain aktif mengajar (guru Bahasa Inggris), dan siaran, Mimi juga kerap di undang di pelatihan atau workshop-workshop kepenulisan sebagai pembicara. Terkadang ia juga disandingkan dengan penulis-penulis lain. Pernah juga ia berkesempatan menjadi MC di acara launching buku rekan-rekannya. Antara lain buku “Sepok” milik Pay Jarot Sujarwo, yang merupakan buku berbahasa melayu yang mengangkat kisah saat sang penulis mengunjungi Bulgaria.
“Seringkali juga di undang to jadi MC di acara-acara luar kepenulisan. Biasanya di acara MUI, atau organisasi kemasyarakatan. Yang paling berkesan saat jadi MC untuk Zaskya Adya Mecca dan juga (almh) Ibu Yoyoh Yusroh, anggota DPR RI yang terkenal sangat produktif dalam beraktivitas dan luar biasa disiplin” paparnya.

Di tahun 2011, kembali ia gabung dengan teman-teman FLP Kalimantan Barat, menerbitkan sebuah buku antalogi berjudul “Mozaik Peradaban dari Khatulistiwa”. Launchingnya di buka langsung oleh penulis buku Ayat Ayat Cinta, Habiburrahman Elshirazy yang langsung datang ke Pontianak. Mimi bertugas pula sebagai MC pada acara launching tersebut.

Mereka yang menginspirasi
Berbicara tentang mereka yang menginspirasi, Mimi merasa terlalu banyak orang yang turut andil baik secara langsung maupun tidak langsung dalam hidupnya.
“Orang tua, tentu saja. Karena merekalah skup terdekat dalam keseharian.”
Dalam hal kepenulisan sendiri, Mimi saat duduk di bangku kuliah mulai menyukai karya sastra berupa puisi.

“Ibnu Hazm Elandalusy salah satu yang sangat saya sukai,” katanya. Puisi-puisi karya Ahmadun Yosi Herfanda juga menjadi yang ia cermati.  “ Saat saya pertama kali memiliki blog pada tahun 2006, karya-karya mereka turut andil dalam inspirasi saya menuliskan puisi dan tulisan.”
Pada tahun 2008, Mimi juga sangat bersyukur dapat bertemu dengan sastrawan Indonesia, Habiburrahman Elshirazy dan Anif Sirsaeba saat mengikti serangkaian karantina di Depok.
“Dulu kan Ayat-Ayat Cinta lagi booming yah..Alhamdulillah saya berkesempatan untuk bertemu langsung dengan dua penulis kakak beradik ini. Saya cermati, saya amati mereka. Termasuk saat Kang Abik membacakan puisi tentang Palestina dengan penuh kharisma. Dan saya amati juga public speaking beliau. Dari situ saya banyak belajar” ceritanya lagi.

“Selain itu, saya juga sangat menggandrungi Asma Nadia. Mungkin karena tema yang di usung Asma Nadia itu lincah dan tidak membosankan. Baik karya fiksi dan non-fiksinya. Apalagi saat sekarang saya sudah berumah tangga. Sungguh terasa semakin dekat dan nyambung dengan karya-karya beliau…” ujarnya.
“Karya luar juga tentu suka. Novel-novel remaja populer pun masih saya baca. Mulai dari novelnya Dan Brown, JK Rowling, Stephanie Meyer. Harry Potter itu justru sebagai pil perangsang saya untuk menyelesaikan novel “Ashley: Somebody Help Me” saya dahulu. Saya ingat betul, saat stuck ngetik naskah, saya langsung lalap Harry Potter. Dan ide saya langsung bermunculan. Aneh ya. Tapi yah begitulah keadaannya…” kenangnya lagi.
“Yang lucu itu waktu pengalaman saya hamil kemarin. Tiba-tiba saya ngidamnya pengen baca karya-karyanya Sir Arthur Conan Doyle. Ngga pernah-pernah suka baca buku detektif. Akhirnya dibeliin juga sama suami..hehe” katanya sambil tertawa.

Suka horor
Mimi sangat menyukai menonton film horror. Saat menikah di tahun 2011, sang suami yang tidak suka film genre horror ataupun thriller terpaksa mengikuti hobi istrinya ini. Salah satu film yang paling berkesan buat Mimi adalah The Last Exorcism yang dibintangi oleh Patrick Fabian. Terkadang terpikir di benaknya untuk kembali menerbitkan sebuah novel dengan tema exorcism atau pengusiran setan. Tapi mungkin belum saatnya.

“Sukanya nonton film horror. Padahal aslinya malah penakut” katanya sambil tertawa. Tapi begitulah kenyataannya. Salah satu kebiasaan yang ia lakukan sebelum tidur biasanya nonton film. Kalau suami membawakan film bergenre horror thriller, senangnya bukan main.
“Lewat film kita juga bisa eksplore cerita. Ini juga membantu kita lho, dalam proses menulis..” kata lulusan FKIP Bahasa Inggris Universitas Tanjungpura Pontianak ini.

Menulis itu merancang skenario dengan cara yang menyenangkan
Tentang menulis, Mimi sangat yakin bahwa setiap orang adalah makhluk penulis.
“Yang membedakan hanyalah, orang biasa hanya bisa menulis. Tapi seorang penulis, dia menulis dengan seni,” katanya.
Diperlukan latihan secara rutin dan gemar akan membaca. Apa yang kita baca, itulah yang akan kita tulis.
“Kalau seneng fiksi, biasanya senengnya juga nulis fiksi. Kalau bacaanya buku motivasi, tulisannya ya ngga jauh-jauh juga dari motivasi. Suka baca puisi, tulisannya juga kebanyakan bentuk puisi. Yang jelas, apapun itu, terus saja membaca. Nanti “hormon menulis” akan datang dengan sendirinya..” papar Mimi mantap.

“Dan yang terpenting adalah, terus berkarya. Jangan jatuh karena kritikan. Dan jangan jatuh pula karena pujian. Menulis itu proses panjang dan menyenangkan. Jadi nikmati saja. Prinsip saya, kritikan itu adalah vitamin. Sedangkan pujian itu adalah cemilan. Jadi, porsikan mereka sebaik-baiknya….” Lanjutnya lagi.
“Meminjam istilah Putu Wijaya, ‘Lapar menulis’. Kalau sudah ada sense ini, wah bakal luar biasanya produktivitas seorang penulis. Kalau ngga nulis, dia tersiksa” jelasnya.

Jadi bagi Mimi, menulis itu ibarat kita merancang sebuah skenario sendiri. Semakin baik wawasan, maka skenario yang di buat juga akan semakin indah dan bagus. Penulis bak sutradara yang bebas mengarahkan dan memaparkan imajinasinya dalam tulisan yang ia buat. Ia merancang, membuat tulisan menari dan meliuk-liuk diatas kertas. Penulis memoles dan me-make over setiap kalimat, sehingga deretan kata tadi tumbuh subur dengan cantik dan sedap dibaca. Sungguh menyenangkan aktivitas menulis itu.

Istri dari Muhammad Zuhri ST ini juga menjelaskan bahwasanya banyak orang mengatakan menulis itu susah. Padahal jika sudah ada kemauan, maka muncul kemampuan.
“Kemauan itu sanggup mengalahkan ketidak mampuan, lho” tegasnya. “Menulis itu hanya butuh kemauan, lalu lalukan. Apa yang kita rasa, tulis. Apa yang kita lihat, tulis. Ibarat pena kita itu sebagai “capture” dari sebuah kejadian. Saya ingat waktu saya keguguran Oktober 2011 kemarin, saya sedih. Janin saya dalam kandungan yang berusia 4 bulan harus di evakuasi. Saat proses itu selesai, dan saya kehilangan anak laki-laki saya, saya tulis surat untuk anak saya yang berada di Syurga. Saya jabarkan perasaan saya, penyesalan saya, kerinduan saya. Hingga jadilah beberapa tulisan dalam bentuk bererapa pucuk surat. Yah begitulah. Menulis terkadang butuh emosi-emosi tertentu yang menjadikan tangan ini terus bergerak. Asal ada kemauan saja, itu sudah jadi modal awal yang bagus” beber wanita berjilbab ini.
“Apalagi sekarang media untuk menulis sangat banyak. Bahkan dengan mengirim sms sekalipun, kita bisa berlatih mengasah keindahan menulis. Update status facebook juga merupakan wadah paling mudah dan sederhana untuk latihan merangkai kalimat per kalimat. Jadi rasanya susah untuk mengatakan kita malas untuk menulis,” imbuhnya.

Sebagai penutup, Mimi memiliki harapan kelak ia bisa kembali menerbitkan sebuah buku. Lebih produktif dan lebih banyak memiliki teman dan kolega dalam minat serupa.
“Pengennya sih punya karya best seller. Dan impian saya dari dulu, punya keluarga penulis. Bisa duet menulis dengan suami seperti Gola Gong dan Tyas Tatanka. Atau memiliki anak-anak yang jago menulis buku dan karya sebagaimana  Putra putrinya Asma Nadia ; Cha Cha dan Adam. Atau Abdurrahman Faiz, anak dari Helvy Tiana Rossa. Semoga Allah kabulkan…” tutup Mimi sebagai harapannya di masa mendatang.

Asal Nama Dusun Keladang

Oleh Florentina

MABMonline.org, Sanggau--Sabtu, 18 Mei 2013 pukul 06.00 pagi ku pacu laju sepeda motorku untuk berangkat menuju dusun Keladang, desa Sotok, kecamatan Sekayam, kabupaten Sanggau. Ada hal yang membuatku cukup khawatir dengan cuaca yang agak mendung seperti akan turun hujan, ternyata hal itu memang terjadi. Di sepanjang perjalananku menuju tempat tujuanku, aku ditemani dengan air hujan yang terus-menerus membasahi bumi dan sekaligus membuatku basah kuyup.  Aku tiba di sana kira-kira pukul 12.00 siang. Untung saja ada tempat kerabat yang bisa ku singgahi untuk sekedar mengeringkan pakaianku yang basah.

Tujuan utama dari perjalan yang kutempuh adalah untuk mengambil data penelitian yang akan ku teliti, membuat proposal penelitian bahasa yang akan ku ajukan dan sekalian aku ingin bertemu dengan seorang yang mengetahui asal mula penamaan dusun Keladang. Kansianus Koncang A.S, itulah namanya, seorang mantan kepala dusun di Keladang dan sekarang pekerjaan sehari-harinya bertani yang kebetulan mengetahui asal mula penamaan dusun Keladang tersebut.

Siang (18/5) sekitar pukul 01.00, aku mendatangi kediaman Pak Koncang tak jauh dari tempat tinggal pamanku, sekedar bermaksud untuk membuat janji pertemuan untuk melakukan wawancara tentang asal mula penamaan Keladang. Kebetulan saja siang itu ia tak memiliki kesibukan. lalu ia pun mulai bercerita panjang lebar mengenai asal mula penamaan dusun Keladang.

Pak Koncang mulai bercerita, awal mulanya penamaan dusun keladang. Dahulu di daerah ini terdapat dusun Kubing yang sekarang terpisah dengan dusun Keladang. Dusun Kubing termasuk kecamatan Beduai sedangkan dusun Keladang termasuk kecamatan Sekayam. Awal mulanya, apada jaman dahulu ada tiga orang bersaudara, laki-laki semua yang berangkat dari Kubing menuju ke Keladang yang belum ada penghuni. Mereka pindah ke Keladang karena ingin memisahkan diri dari Kubing. Katanya karena sudah tidak ada tempat lagi untuk mendirikan pelaman. Lagi pula jarak dari Keladang dekat dengan ladang yang sudah ada dan mereka pergilah ke Keladang membuat pelaman untuk mereka masing-masing satu pelaman yang jaraknya berdekatan.

Kemudian, selang beberapa tahun datang rombongan orang Belanda melintasi dusun Keladang dan mereka bertanya mengapa daerah tersebut sunyi? Seperti tak berpenghuni. Salah satu dari tiga bersaudara itu berkata, “memang sunyi, karena semua orang pergi ke ladang semua, dari kampung sebelah pun pergi keladang semua lewat daerah ini. Lagi pula di sini hanya kami bertiga saja yang baru mendirikan pelaman.” Lalu orang Belanda tersebut bertanya lagi “Apa nama daerah ini?” Mereka pun saling berpandangan satu sama lainnya, dan menjawab “belum ada namanya, kami pun bingung mau diberi nama apa.” Kemudian orang Belanda pun memberi saran “Nah karena belum ada namanya, bagaimana kalau kita beri nama daerah ini Keladang saja, karena orang-orang dari kampung sebelahkan juga melintasi daerah ini untuk pergi ke ladang?”. Mereka pun menyetujui penamaan dusun Keladang tersebut.

“Jadi masyarakat yang ada di dusun Keladang ini masih mempunyai hubungan keluarga. Sekarang sudah ada 1 atau 2 orang saja yang bukan asli masyarakat dayak di dusun Keladang ini, ya bisa dibilang masyarakat pendatang, karena mobilitas serta ada perusahaan sawit yang ada di sekitar daerah tersebut sehingga sudah ada masyarakat pendatang yang tinggal di Keladang,” Ujar Koncang.

Menurut Koncang, apa yang telah disampaikan dan diceritakannya mungkin ada yang terlewatkan dan ada kekeliruan. Hanya ini saja yang bisa disampaikan, apabila ada kekurangan mohon dibantu agar tidak terjadi kekeliruan yang menyimpang. Semoga semua ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

 

Kebuli Sapi Spesial Bu Nur

Oleh Hira Wahyuni

MABMonline.org, Sungai Pinyuh Azan subuh telah berkumandang membangunkan tidur lelap Bu Nur dan suaminya yang biasa dikenal dengan sebutan Pak Udin. Pak Udin kemudian bersiap-siap ke masjid menunaikan sholat subuh, demikian juga Bu Nur. Beliau sholat di rumahnya saja. Setelah pulang dari masjid Pak Udin pun menjalankan rutinitasnya yaitu menyusun segala perlengkapan jualan istrinya, mulai dari menyapu lantai, mengepel, mengangkat meja, kursi, sendok, garpu, piring, mangkuk, sampai mengunting tissue. Hal ini bisa dilakukan oleh karyawannya, tetapi oleh karena telah terbiasa sibuk seperti itu, Pak Udin tak segan melakukannya.

Pukul 06.00 WIB, Bu Nur pun mengendarai motornya untuk berbelanja segala keperluan berjualan hari ini. Bu Nur dan Pak Udin memiliki sebuah warung yang biasa dikenal dengan sebutan “Warung Bubur Bu Nur”. Warung ini terletak di Sungai Pinyuh, sengaja dibangun di depan rumahnya. Di sini terdapat beraneka ragam menu sarapan mulai dari bubur nasi, nasi kuning, lontong sayur, sate ayam dan sapi, bakso, nasi goreng, mie tiaw, juga terdapat sajian khas Timur Tengah yaitu nasi kebuli dengan sensasi rasa yang menggoyang lidah.

Ternyata tidak perlu jauh-jauh kita ke Arab, di sini kita juga bisa merasakan makanan khas Arab itu.   Hari Minggu, Bu Nur dan karyawannya tampak sibuk melayani pelanggan setianya. Memang tidak sesuai dengan nama rumah makannya, karena rumah makan ini awalnya merupakan tempat sarapan favorit dipagi hari bagi warga sekitar Sungai Pinyuh, bahkan luar kawasan Sungai Pinyuh. Warung Bubur Bu Nur ini terletak di Jalan Seliung yang menjadi jalur transportasi antarnegara yaitu Malaysia. Meskipun yang dijual di warung ini adalah jenis-jenis makanan yang merakyat tetapi yang mencicipi bahkan berlanggaanan merupakan kalangan perkantoran dan pejabat tinggi di Kalimantan Barat.

Berawal dari acara selamatan atas lahirnya cucu pertama, Bu Nur menyajikan nasi kebuli untuk para tamunya. Ternyata para tamu merasakan gurihnya nasi kebuli tersebut dan menyarankan agar Bu Nur memasukkan nasi kebuli ke dalam daftar menu jualannya. Bu Nur pun mencobanya dan tak disangka-sangka, ternyata sangat digemari oleh para pelanggan. “padahal sebelumnya saya tidak pernah berpikir untuk membuat nasi kebuli ini sebagai menu jualan saya. Ternyata banyak juga penggemarnya.” Ujarnya sambil tertawa.

Saya pun tak sabar ingin merasakan nikmatnya nasi kebuli ini. Sesampainya di sana saya langsung memesan seporsi Nasi Kebuli Sapi yang menjadi menu spesial di warung itu. Sedangkan teman saya memesan mie tiaw. Sambil menunggu saya memesan es teh dan sebotol air mineral.Selang sepuluh menit akhirnya nasi kebuli dan mie tiaw goreng tersaji di meja. Harum aroma rempah yang menguap dari nasi kebuli menggugah nafsu makan saya. Nasinya disajikan di atas piring ceper berupa nasi kebuli dengan pelengkap potongan daging sapi semur ala Bu Nur dan diletakkan di atas nasi kebuli tersebut. Selain itu ada irisan tomat. Adapula tambahan acar yang terdiri dari irisan nanas dan mentimun, serta sambal yang rasanya manis, pedas dan segar, sehingga mampu mengimbangi rasa gurih nasi kebuli yang terasa agak berat. Sambal tersebut dicampur irisan bawang bombay dan tomat yang dicincang kasar. Bumbu rempah khas masakan Arab seperti jinten, ketumbar, cengkeh, lada, biji pala membuat aroma harum merebak dari nasi kebuli. Satu lagi bumbu yang paling khas yang membuat rasa masakan ini semakin kentara khas dari Arab, yaitu kapulaga. Kapulaga memiliki aroma yang khas dan harum. “masakan arab memang tak pernah ketinggalan kapulaga dan jintan hitamnya” kata Nadira, adik Bu Nur yang ikut berkecimpung dalam usaha kulinernya.

Bu Nur juga tidak keberatan untuk memberitahukan bagaimana cara memasak nasi kebuli ini, “nasi putih ditumis bersama bawang putih, bawang merah, lada hitam, cengkeh, ketumbar, jintan, kapulaga, kayu manis, pala, dan minyak samin. Kemudian daging sapi dimasak bersama dengan nasi setengah matang hingga benar-benar matang. “Oh ya, nasi kebuli di sini tak pakai minyak samin karena tak semua orang suka minyak jenis ini karena aromanya yang menyengat.”katanya.
Harumnya nasi kebuli benar-benar membuat saya tak sabar untuk menyantapnya. Benar saja, suapan pertama langsung membuat lidah saya tak berhenti bergoyang. Bumbunya sangat terasa namun tidak berlebihan, sangat pas. Selain kapulaga, aroma cengkih, kayu manis, merica dan bawang terasa cukup kuat. Nasinya pulen dan tidak terlampau berminyak.
Yang membuat saya terkesan adalah empuk daging sapinya. Bumbunya benar-benar meresap hingga ke dalam dagingnya. Meskipun nasi kebuli yang biasa dikenal karena daging kambingnya, tetapi kebuli sapi inipun tak kalah nikmatnya dan tak menghapus cita rasa timur tengahnya

Bu Nur mengatakan kepada saya, beliau merintis usaha ini dari nol. Susah payah dan jatuh bangun pun telah dirasakannya. Dalam mengembangkan usahanya, Bu Nur dibantu tiga orang karyawannya. Kurang lebih tiga tahun ia berjualan di lokasi ini.  Saat ini ia sudah mendapatkan pelanggan tetap. Dalam sehari, penjualan nasi kebuli bisa mencapai 30 porsi, menu lainnya yang disajikan juga tak kalah laris manisnya dengan nasi kebuli ini. Satu porsi dijual seharga Rp.15.000,-. “Harge merakyat, tapi tak kalah rasenye dengan makanan konglomerat.” Kata Ayu pelanggan tetap Bu Nur. Begitu nasi kebuli diletakkan di atas meja, kepulan aromanya benar-benar membangkitkan selera. Meski warnanya mirip nasi goreng, tapi begitu masuk ke mulut, rasanya begitu kompleks dan lazis. Bagi yang ingin merasakan lezatnya kebuli sapi spesial langsung datang ke Warung Bubur Bu Nur, di Jl. Seliung Sungai Pinyuh. Dijamin enak!

Penulis Muda, Rohani Syawaliyah

Oleh Hira Wahyuni

MABMonline.org, Pontianak — Rohani Syawaliah, seorang sastrawan yang berasal dari Jawai, Sambas, Kalimantan Barat, yang terkenal dalam buah karyanya berupa novel yang ia beri judul “Memamah Jantungmu”. Anak kedua dari lima bersaudara ini lahir di Bakau, pada tanggal 25 Juni 1986. Dikalangan satu suku, ia biasa dipanggil dengan sebutan Kak Ngah, sedangkan dikalangam teman-temannya ia dipanggil dengan nama Hani.
“Nama lengkapku Rohani Syawaliah Listia Evita. Tapi, rasanya terlalu panjang, jadi ya…disingkat saja menjadi Rohani Syawaliah,” ujarnya seraya tertawa.
Wanita semampai,berkulit sawo matang ini bekerja sebagai penyiar radio di Volare FM ia tinggal bersama adik kecilnya, Fahd. Waktu yang ia miliki selalu ia sisihkan untuk adik kesayangannya itu. Hampir 24 jam dalam sehari mereka selalu bersama. Tidur dan bangun pasti bertemu.
Sejak kecil, wanita berjilbab ini tinggal bersama neneknya. Ia pernah mengenyam bangku SD di SDN 21 Bakau, Jawai. Setelah lulus, ia kemudian melanjutkan sekolah di SMP Negeri 1 Dungun Laut, Jawai. Setelah lulus SMP, setelah tamat, ia melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri 1 Pemangkat, ia mengambil jurusan Bahasa, dan sekarang ia tercatat sebagai mahasiswa FKIP Untan, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Ia mulai suka menulis sejak duduk di bangku SD, karena ingin menghasilkan karya seperti orang lainnya yang sering dibaca dari tabloid Bobo. Di bangku SMP ia mulai menulis kisah-kisah cinta seperti dalam komik Jepang. Di SMA ia juga mulai menulis puisi karena bacaannya tak hanya Bobo dan komik tapi majalah sastra seperti Horison dan novel-novel karya sastrawan terkenal.

Pada masa-masa kecilnya, sekitar umur 6 tahun. Ia berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Sekitar 15 menit ia telah sampai ke sekolah. Setelah menginjak kelas 5 SD, ia dibelikan sebuah sepeda. Ia diminta agar segera belajar untuk mengendarai sepeda tersebut. Ia dipaksa untuk belajar mengendarai sepeda tersebut agar bisa berangkat ke sekolah dengan sepeda itu sehingga ia tidak berjalan kaki atau menumpang dengan teman lagi. Jarak antara sekolah dan rumahnya sekitar 15 kilometer. Dengan terpaksa ia belajar. Terjatuh dari sepeda sering ia rasakan dalam tahap belajar tersebut. Alhasil, badan luka-luka, biru lebam. Sampai akhirnya, guru agamanya yang memaksa ia untuk belajar mengendarai sepeda, dengan paksaan itu menjadikannya bisa.

Sebagai seorang manusia, ia juga pernah merasakan suka-duka kehidupan. Di kampungnya ia pernah bekerja sebagai penjaga warung milik keturunan warga tionghoa. Ia memiliki jiwa dagang yang besar. Sejak SD ia sudah berjualan. Waktu ia masih berumur 18 tahun. Pada permulaan bekerja, bos tidak mempercayainya untuk hal yang berhubungan dengan laci tempat menyimpan uang di warung itu. Ia juga memiliki fatner kerja dan dipereri kepercayaan penuh oleh bosnya. Ternyata orang yang dipercayakan sepenuhnya itu berkhianat. Ia mencuri uang milik si bos. Dari situ ia dapat menyimpulkan bahwa dalam berdagang modal terbesar adalah kejujuran.

“Sekali kita berbuat curang, akan membuat kita selamanya tak dipercayai oleh orang lain,” ujarnya.
Jiwa dagangnya timbul sejak ia masih duduk dibangku Sekolah Dasar. Ia sudah bisa mencari uang dengan menjajakan kue. Hingga saat inipun ia masih memiliki naluri berdagang yang hebat, salah satunya bisnis yang ia tekuni sekarang ialah bisnis oriflame.

Ia mengatakan bahwa inspirasi terbesar di dalam kehidupannya untuk menulis adalah dirinya sendiri. Ia juga menempatkan dirinya sebagai orang yang paling berpengaruh di dalam kehidupannya. Pada saat usianya menginjak 15 tahun, ia sudah hidup mandiri, terpisah dari keluarganya sehingga ia harus menggantungkan hidup pada dirinya sendiri.
Ia mengambil keputusan dan langkah apa pun untuk diri sendiri. Harus tanya pada diri sendiri. Jadi motivasi terbesar di dalam kehidupannya adalah membahagiakan dirinya sendiri. Ketika suasana hati sedang buruk, ia harus bisa mengubah moodnya saat itu.

Hani juga mempunyai cita-cita untuk kehidupannya yang belum ia capai sampai pada saat ini. Ia ingin segera menikah dan punya anak. Cita-cita dalam karir juga masih belum tercapai antara lain ia ingin novel perdananya belum menjadi best seller serta go international dan difilmkan.
Ia berpendapat bahwa setiap orang punya mimpi. Sebesar atau sekecil apa pun sebuah mimpi itu akan menjadi sebuah harapan yang baru untuk seseorang melanjutkan kehidupannya. Tanpa impian, apa indahnya coba hidup ini? Ia sendiri punya impian yang selalu dipupuk dan disirami setiap malam di dalam tidurnya. Ia memiliki impian menerbitkan sebuah buku. Buku hasil karyanya. Pastinya fiksi karena kesukaannya pada cerita. Sebagai seorang perempuan berdarah campuran termasuk di dalamnya Melayu ia termasuk orang yang suka bercerita.

Ada hal yang ia anggap paling menyedihkan di dalam hidupnya, yaitu ketika kakek kesayangannya meninggal dunia saat usianya menginjak 16 tahun. Di saat ia belum bisa membuktikan bahwa dirinya berhasil menggapai cita-cita, kakek tercinta telah meninggalkannya lebih dulu.
Hal yang dinilai paling membuatnya senang adalah pada saat bertemu orang yang kenal dengannya karena buku-bukunya. Buku pertama yang tidak pernah ia sangka bisa meraih penghargaan di Borneo Book Award pada Desember 2011 lalu.
“Siapa sangka seorang penulis biasa seperti saya bisa dihargai karyanya. Diakui oleh banyak orang. Itu kebahagiaan yang paling saya ingat hari ini,” katanya beberapa waktu lalu.

Wanita yang telah menghasilkan dua buah novel, puluhan cerpen, serta cerbung ratusan episode ini menjatuhkan pilihannya terhadap karya sastranya sendiri yang paling mengesankan baginya yaitu pada novel “Memamah Jantungmu”. Sebenarnya banyak lagi karya-karya lainnya, antara lain antologinya yang berjudul Dear Papa, surat untuk Jodohku, Tahu Bagaimana Rasanya, Terpana, Salah, Baby Says, Menari, Dance With My Father, Cemburu, Love The Way You Lie, dan Bimbang, Don’t Stop Me Now.

Dalam novel  “Memamah Jantungmu”, ia mengisahkan tentang petualangan perempuan yang ingin menyelamatkan penemuan ayahnya, yaitu vaksin HIV. Di novel ini ia ingin menyampaikan kepada orang-orang agar tidak mendiskriminasikan ODHA. Inspirasi ini ia dapat dari orang-orang yang terkena HIV yang dikucilkan oleh orang sekelilingnya.
Cerpennya yang berjudul Ayam Kampus berhasil memenangkan hadiah ke-dua. “Memang tidak berbentuk uang tapi saya tetap senang. Buku yang memuat karya saya tersebut dicetak dan disebarkan ke seluruh perpustakaan kampus di Indonesia,” katanya.

Kegiatannya menulis ini awalnya bertentangan dengan orang-orang sekitarnya, terutama ibunya. Tetapi, akhirnya ibunya lah yang mendukung ia dalam mengembangkan imajinasinya.
Novel “Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur” karya Muhidin merupakan buku favoritnya yang banyak memberikan inspirasi untuknya menulis. Novel ini sangat ia senangi, meskipun terdapat novel lain yang juga menjadi inspirasi baginya. Di dalam novel ini ia menemukan keberanian seorang penulis untuk menuliskan sesuatu secara berbeda. Di sini ia dapat melihat bahwa karya sastra tak selamanya harus menceritakan yang indah-indah. Novel ini memberikannya pembelajaran dari luka tokoh.

Ia berharap untuk ke depannya ia dapat menghasilkan karya yang lebih banyak dan menjadi best seller dan yang paling utama ialah dapat bermanfaat bagi banyak orang. Banyak usaha yan ia tempuh untuk membuat karyanya dapat dikenal banyak orang. Ia sering mengikuti lomba menulis cerpen di beberapa tempat dan mengirim tulisannya ke surat kabar tapi belum pernah menang dan dimuat. Ia selalu menjadikan ketidakmenangannya itu sebagai sebuah motivasi agar dirinya bisa menulis lebih baik lagi.
Ia merupakan manusia yang selalu optimis dalam menangani hidupnya, terutama yang menyangkut tulisan-tulisannya. Ia begitu memgang prinsip hidup. Ia percaya bahwa selama bumi masih berputar kesempatan untuk menerbitkan tulisannya pasti masih ada.

“Saya sering membayangkan sedang duduk di depan meja dan melayani orang yang menyodorkan novel karya saya dan meminta tanda tangan. Seperti yang sering sastrawan lain lakukan.” kata Hani.
Filosofi hidupnya  yaitu “sejauh apapun kita melangkah, setinggi apapun kita berada, keluarga adalah pondasi yang membuat kita berada di sana.”

Menjemput Rezeki di Taman Alun-alun Kapuas

Oleh Eviana

taman alun kapuasMABMonline.org, Pontianak — Mastiah, nenek paruh baya itu (60) menjalankan rutinitasnya sebagai penjual sate. Nenek itu  berjuang demi menyambung hidupnya. Suami tercinta sudah lima tahun meninggal. Di Taman Alun-alun Kapuas, ia menjemput rezeki. Ia berjualan sate dari sore hari hingga tengah malam.

Sore itu terlihat mendung. Awan hitam menggumpal menutupi langit biru. Saya yang baru saja sampai di Alun-alun, berjalan santai mengelilingi taman yang berada di tepian Sungai Kapuas.  Taman ini terletak di Jalan Rahadi Usman atau di depan kantor Walikota Pontianak. Dulu, Taman Alun-alun Kapuas sering  disebut “Depan Korem”. Tahun 1999 taman tersebut direnovasi hingga sekarang. Pemerintah terus mengadakan pembenahan agar pengunjung merasa nyaman. Taman Alun-alun Kapuas merupakan tempat wisata masyarakat.

Dahulu, ada berita dari mulut ke mulut yang mengatakan bahwa Taman Alun-alun Kapuas itu adalah tempat berkumpulnya para PSK. Berita itu tersebar dan tidak pernah tahu entah dari siapa. Sebagian orang mengganggap Korem itu tempat yang tidak baik. Orang pun tidak begitu ramai yang datang ke taman tersebut. Akan tetapi, setelah direnovasi dan pembenahan oleh pemerintah kota Pontianak, orang tidak lagi memperdulikan berita miring tersebut. Mereka sangat menikmati dan senang berada di taman itu.

Ketika saya berjalan, sesekali tercium aroma sate, jagung bakar, jagung rebus, kacang rebus, dan sosis yang digoreng di sepanjang jalan itu. Suasana begitu ramai, semakin senja, semakin ramai pula pengunjung yang datang. Ada yang datang bersama keluarga, ada yang berpasang-pasangan, dan ada juga yang datang bersama teman-teman mereka.

Angin yang bertiup sepoi-sepoi, terasa dingin menyapa kulit. Menambah sejuknya suasana di taman itu. Ditambah hamparan Sungai Kapuas dengan arus yang tenang memanjakan mata yang memandang. Di taman itu juga terdapat replika Tugu Khatulistiwa yang dikelilingi air mancur. Ia akan terlihat lebih indah ketika dilihat pada malam hari. Hal itulah yang membuat orang senang dan betah duduk dan bersantai di sana.

Taman Alun-alun Kapuas itu semakin bertambah indahnya dengan penataan taman-taman kecil yang dikelilingi tempat duduk. Hal yang tidak kalah penting adalah kebersihan taman itu sendiri. Apalagi tempat tersebut ramai penjual dan pengunjung. Taman tersebut sudah disediakan tempat sampah agar pengunjung dapat membuang sampah pada tempatnya. Sepanjang perjalanan, saya tidak menemukan sampah. Dengan demikian, pengunjung dan penjual sudah memiliki kesadaran akan kebersihan lingkungan.

Tempat yang sangat ramai dikunjungi orang seperti itu tidak akan pernah sepi oleh penjual. Baik penjual makanan, minuman, pakaian, dompet, jam tangan, bahkan VCD. Kesempatan seperti ini tidak akan dilepaskan oleh penjual begitu saja. Hal itulah yang akan mereka manfaatkan untuk berjualan untuk mengais rezeki. Hampir semuanya ada dijual di tempat itu, bahkan tempat membuat tato.

Sambil duduk-duduk di taman yang menghadap ke sungai. Terlihat remaja-remaja yang asyik berfoto-foto. Ada juga keluarga yang sedang bersenda gurau, dan pasangan yang asyik memadu kasih. Ada juga yang menjadikan taman itu sebagai lokasi foto pre-wedding.

Di tengah kepungan aktifitas di Alun Kapuas, aku terpaku kepada sosok seorang ibu tua. Nenek tepatnya. Nenek yang menggunakan baju hijau itu tanpa lelah mengipas sate agar tidak gosong. Nenek penjual sate inilah yang mampu menghentikan langkahku.

Mastiah tinggal di Jalan Pak Kasih bersama anaknya yang bernama Bambang. Bambang sudah mempunyai istri dan tiga orang anak. Mastiah hidup tanpa adanya sosok suami yang selalu menemani. Segala sesuatu ia lakukan sendiri. Melihat keadaan ibu yang seperti itu, Bambang mengajak ibunya untuk tinggal bersama mereka. Mereka hidup dengan sangat sederhana. Mastiah merasa tidak enak hati jika hanya berdiam diri di rumah. “Die kan udah punye anak tige, besak dah tanggung jawabnye. Saye pon tak enak hati gak mao’ bediam diri di rumah. Daripade tak ade buat di rumah, bagos jual sate di sini. Hitong-hitong bantu anak la, si Bambang tu,” ujar nenek yang menggunakan jilbab biru itu.

Dalam hati saya berkata, nenek ini sudah cukup tua tetapi ia masih saja memikirkan orang lain dan tetap semangat menjalani hidupnya. Saya salut dan merasa sangat kagum dengan sosok nenek yang berada tepat di depan saya. Pembeli semakin ramai yang datang dan memesan beberapa porsi sate. Mastiah dan anaknya terlihat begitu sibuk melayani pembeli yang datang. Mereka tidak hanya menjual sate tetapi ada es teh, es campur, dan es kelapa muda. Pembeli datang dengan serbuan pesanan. Nenek itu terlihat lelah, tetapi itu semua tidak ia hiraukan. Yang ada di pikirannya, bagaimana cara mendapatkan pembeli yang banyak dan dagangannya habis terjual. Sesekali ia duduk sejenak untuk melepas lelahnya setelah itu ia langsung melanjutkan kerjanya.

Banyaknya penghasilan yang mereka dapatkan bervariasi. Jika pada hari-hari biasa, penghasilan yang didapat sekitar Rp.100.000 – Rp.150.000 akan tetapi, jika pada hari libur, penghasilan lebih banyak sekitar Rp.300.000 – Rp.400.000. Hal tersebut dipertegas  oleh Bambang, “kalau hari-hari biase, cume dapat seratos sampai seratos lima puluh. Kalau hari libor, agak banyak siket la, sekitar tige ratos sampai empat ratosan gitu la,” tegasnya.

Batas waktu berjualan mulai pukul 17.00 – 24.00 WIB. “Pukul setengah empat udah mulai ngemas-ngemaskan barang-barang dan tenda, jam lima udah siap semue. Lagi pon, jam segitu, udah ramai dah yang datang,” tutur Mastiah. “Tapi kalau harinye agi tak bagos, misalnye ujan, baleknye agak awal,” tambah Bambang. Sedikit atau banyaknya pembeli bukanlah masalah besar bagi mereka. Banyaknya penjual lainnya tak mengalahkan kerja keras mereka. Mastiah mengatakan meskipun di taman tersebut sangat banyak penjual seperti mereka tetapi ia tetap yakin bahwa rezeki telah diatur dan ditentukan oleh Allah, dan rezeki tidak akan pernah tertukar.

Tugu Khatulistiwa, ikon wisata kota Pontianak

Oleh Fransiskus Ningkan

tuguMABMonline.org, Pontianak —Tugu ini terletak di Kota Pontianak, tepatnya di pinggir Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara. Dengan jarak yang tak begitu jauh dari pusat Kota Pontianak, dapat ditempuh menggunakan dua jalur perjalanan. Apabila anda tidak ingin melakukan perjalanan terlalu jauh, anda bisa menaiki feri yang khusus menyeberangkan penumpang melintasi sungai Kapuas. Dermaga ini bisa temukan di sebelah Alun-alun Kapuas, Jalan Tanjungpura Pontianak. Setelah melintasi sungai Kapuas, Anda tinggal melanjutkan perjalanan sekitar 3 km ke arah Mempawah.

Sedangkan alternatif lainnya, jaraknya lebih jauh. Anda harus menyeberangi sungai Kapuas melalui Jembatan Kapuas I, kemudian meneruskan perjalanan sampai melintasi Jembatan Sungai Landak. Setelah itu Anda masih harus melintasi daerah Siantan sebelum Anda menemukan Tugu Khatulistiwa. Untuk yang menggunakan jalur ini, ada kemungkinan Anda sedikit tersesat kalau tidak tahu dimana harus berbelok, dan jarak tempuh dari jembatan Kapuas I sekitar 30 menit.

Tugu Khatulistiwa atau Equator Monument berada di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara, Propinsi Kalimantan Barat. Lokasinya berada sekitar 3 km dari pusat Kota Pontianak, ke arah kota Mempawah. Tugu ini menjadi salah satu ikon wisata Kota Pontianak dan selalu dikunjungi masyarakat, khususnya wisatawan yang datang ke Kota Pontianak. Sejarah mengenai pembangunan tugu ini dapat dibaca pada catatan yang terdapat di dalam gedung.

Dalam catatan tersebut disebutkan bahwa : Berdasarkan catatan yang diperoleh pada tahun 1941 dari V. en. W oleh Opzichter Wiese dikutip dari Bijdragen tot de geographie dari Chef Van den topographischen dienst in Nederlandsch- Indië : Den 31 sten Maart 1928 telah datang di Pontianak satu ekspedisi Internasional yang dipimpin oleh seorang ahli Geografi berkebangsaan Belanda untuk menentukan titik/tonggak garis equator di kota Pontianak dengan konstruksi sebagai berikut :
a. Tugu pertama dibangun tahun 1928 berbentuk tonggak dengan anak panah.
b. Tahun 1930 disempurnakan, berbentuk tonggak dengan lingkarang dan anak panah.
c. Tahun 1938 dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh opzicter / architech Silaban. Tugu asli tersebut dapat dilihat pada bagian dalam.
d. Tahun tahun 1990, kembali Tugu Khatulistiwa tersebut direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran lima kali lebih besar dari tugu yang aslinya. Peresmiannya pada tanggal 21 September 1991. Bangunan tugu terdiri dari 4 buah tonggak kayu belian (kayu besi), masing-masing berdiameter 0,30 meter, dengan ketinggian tonggak bagian depan sebanyak dua buah setinggi 3,05 meter dan tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah setinggi 4,40 meter.

“Diameter lingkaran yang ditengahnya terdapat tulisan EVENAAR sepanjang 2,11 meter. Panjang penunjuk arah 2,15 meter. Tulisan plat di bawah anak panah tertera 109o 20′ OLvGr menunjukkan letak berdirinya tugu khatulistiwa pada garis Bujur Timur,” jelas Rubiah, petugas UPT tugu khatulistiwa. Dia menambahkan, “Peristiwa Titik Kulminasi Matahari terjadi 2 (dua) kali dalam setahun yaitu antara tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September. Peristiwa alam ini menjadi event tahunan Kota Pontianak yang menarik minat wisatawan untuk datang ke Pontianak..

Masyarakat Pontianak dan Kalimantan Barat umumnya, cukup bangga dengan keistimewaan ini. Itu tercermin dalam kehidupan sehari-hari, seperti banyaknya cendera mata miniatur Tugu Khatulistiwa, penginapan dan jalan yang menggunakan nama Khatulistiwa atau Ekuator. Termasuk unsur Garis Khatulistiwa dimasukkan ke dalam lambang Pemerintah Daerah. Garis Khatulistiwa yang melingkari tengah-tengah bumi, sebenarnya melewati beberapa propinsi di Indonesia dan beberapa negara lain.

Museum Kalimantan Barat

Oleh Anita

museum1MABMonline.org, Pontianak Museum Kalbar merupakan salah satu bangunan bersejarah yang menjadi bagian dari wajah lama kota Pontianak ini. Wajah lama kota yang dibangun pada tahun 1975. Tanggal 4 Oktober 1983 mulai difungsikan meskipun masih banyak kekurangan. Lokasinya tepat di depan rumah dinas Gubernur Kalbar, Jl. Jenderal A. Yani Pontianak. Di sana terdapat bangunan-bangunan tua yang bernilai sejarah.

Di dalam museum tersimpan beberapa benda bersejarah antara lain batu-batu bertulis seperti batu Replika, Miniatur Tungku Pembakaran Keramik, Miniatur Rumah Lanting, Miniatur Lancang Kuning, Miniatur Lumbung/ Dango yang masing-masingnya tertulis tentang sejarah asal-usul batu tersebut. Selain itu, terdapat rumah-rumah kecil atau biasa disebut Miniatur rumah kopra yang dianggap merupakan kebudayaan penduduk asli yaitu Dayak dan Melayu. Namun untuk penduduk pendatang juga dipamerkan kebudayaannya seperti rumah budaya Tionghoa.

Baca juga: Perpustakaan Kota Pontianak, Berbenah Menjaring Pencinta Ilmu

Kadang museum juga menjadi tempat diadakannya beberapa kegiatan yang melibatkan masyarakat umum seperti pameran, karya tulis, survei, pengadaan koleksi, ceramah, sarasehan, sosialisasi, diskusi, penelitian, lomba lukis, cerdas cermat, dll. “Misi dari museum Kalbar yaitu untuk membina dan mengembangkan kebudayaan dan pariwisata di Kalimantan Barat. Juga sebagai sarana membina budaya lokal/daerah untuk memperkaya kebudayaan nasional, melestarikan budaya lokal sebagai aset pariwisata daerah dan nasional, menjadikan museum sebagai pusat pendidikan, penelitian, dan pengembangan kebudayaan, dan menanamkan nilai-nilai luhur budaya bangsa untuk memperkokoh semangat persatuan,” ungkap salah satu petugas museum Kalbar.

Di depan Museum ada dua buah meriam kuno berusia ratusan tahun. Sedangkan di halaman museum terdapat sebuah tiang bendera yang terbuat dari ulin dilengkapi pengerek. Museum Kalbar buka mulai hari Selasa-Minggu dengan jam kunjungan 08.00-14.00 jumat 08.00-11.00 dan 12.30-14.00, sedangkan hari Senin dan libur nasional tutup.