Asal Mula Nama Teluk Keramat

Oleh Roslina

MABMonline.org, SambasTeluk Keramat adalah nama sebuah kecamatan di Kabupaten Sambas. Kecamatan ini memiliki luas 554.53 Km2, dengan jumlah penduduk sebanyak 58.723 jiwa (1). Adapun batas wilayah kecamatan teluk keramat di sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Tengaran, di arah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Tekarang dan Kecamatan Sambas, di sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Sejangkung dan Kecamatan Sambas, dan di sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Jawai Selatan.

Kecamatan yang memiliki 24 desa ini secara geografis memang sebagian besar wilayahnya dikelilingi oleh sungai. Oleh karena itu, tak heran jika daerah ini juga mempunyai banyak teluk, salah satu teluknya terdapat di pinggir Sungai Serabek di Desa Sekura, yang juga merupakan lokasi pemakaman muslim warga setempat. Desa Sekura mempunyai ciri khas selain teluk, desa ini juga memiliki suatu tempat yang disebut “keramat” oleh masyarakat setempat. Dari sini lah asal mula munculnya nama “Teluk Keramat”.

Menurut kisah yang disampaikan oleh Ibu Nani Roziah (65) warga tua di Desa Sekura, dahulu kala ketika Kesultanan Sambas masih berjaya, Desa Sekura masih berupa hutan belantara di sebagian besar wilayahnya dan hanya ada sedikit orang yang tinggal di desa ini. Pada suatu hari, sepasang suami istri asal Sambas, Wan Alif dan Tan Jaliah (kakek dan nenek narasumber), merupakan salah satu pionir waktu itu, membuka lahan untuk membuat ladang di daerah yang sekarang disebut dengan nama Jalan Keramat. Di tengah penebangan hutan dan pembersihan lahan, suami istri itu menemukan satu buah guci berornamen naga melingkar berwarna keabu-abuan, maka diambillah guci tersebut dan dibawa pulang untuk dibersihkan dan disimpan.

Merasa senang mendapatkan harta tak terduga sebelumnya, mereka pun menceritakan perihal guci tersebut kepada orang-orang dekat mereka. Berita tersebut menyebar dengan cepat ke desa lain, hal ini membuat banyak orang mendatangi tempat penemuan guci tersebut untuk menggali dan berharap menemukan lagi guci yang dianggap bertuah itu. Namun, usaha orang-orang tersebut sia-sia, berhentilah mereka menggali.

Pasangan Wan Alif dan Tan Jaliah pun memulai pekerjaan meladang mereka. Tak dinyana, pada saat menggali tanah untuk digemburkan, si istri kembali menemukan sebuah guci dengan ukuran yang lebih kecil. Lalu kejadian yang sama terulang lagi seminggu kemudian. Alhasil, dapatlah pasangan itu tiga buah guci berornamen naga, satu buah dengan ukuran besar dan dua buah berukuran lebih kecil. Akhirnya, sampailah berita penemuan guci bertuah tersebut ke telinga Sultan Sambas yang memerintah kala itu (tidak diketahui oleh narasumber siapa nama persis Sultan tersebut). Sultan tertarik untuk memiliki guci yang dianggap bertuah itu, maka datanglah sultan bersama para pengawalnya ke Desa Sekura.

Sultan melihat dan meminta sendiri ketiga guci tersebut kepada pasangan suami istri tadi, merasa terhormat didatangi Sultan, Wan Alif dan Tan Jaliah pun mengiyakan keinginan Sultan. Dikisahkan, kekeramatan tempat ditemukannya guci bukanlah dimulai pada rentang waktu penemuan guci sampai permintaan Sultan. Tempat itu mulai disebut “keramat” beberapa waktu setelahnya, tak diketahui apa yang menyebabkan tempat tersebut dikeramatkan. Dilihat secara kasat mata, keramat hanyalah berbentuk gundukan tanah yang dipagari sekelilingnya menyerupai sebuah makam. Sejak saat itu banyak warga yang merasa takut melintasi tempat tersebut dengan berbagai alasan, padahal belum pernah ada kejadian mistis atau kecelakaan di sekitar keramat tersebut.

Tidak diketahui secara pasti siapa yang memulai penyebutan Teluk Keramat ini, juga tidak ada catatan atau arsip resmi mengenai penetapan nama tersebut. Akan tetapi, sejak berdiri menjadi sebuah kecamatan pada tahun 1952, kecamatan ini sudah disebut Kecamatan Teluk Keramat, dengan pusat pemerintahan kecamatan pada waktu itu sebuah dusun yang juga bernama Teluk Keramat, namun karena satu dan lain hal ibukota kecamatan kemudian dipindahkan ke Desa Sekura.

Seiring berjalannya waktu, daerah di mana keramat berada sudah tidak menjadi tempat menakutkan seperti dulu. Kini masyarakat telah banyak menyadap karet di dekat keramat itu, bahkan kini sudah ada gang baru yang mengarah ke keramat, yaitu Gang Permai. Tak ada yang perlu ditakutkan dan tak ada yang perlu dikeramatkan, karena keramat hanyalah gundukan tanah tempat penggalian guci yang dianggap bertuah oleh masyarakat terdahulu. Namun tak dapat dipungkiri bahwa keberadaan keramat merupakan salah satu kekayaan sejarah Desa Sekura yang layak untuk diketahui oleh generasi muda Desa Sekura khususnya dan masyarakat Kabupaten Sambas pada umumnya.

Sumber:
(1) www.sambas.go.id. Jumlah Penduduk Kabupaten Sambas

MABMKB Peduli: Donasi Infaq dan Sedekah untuk Panti Asuhan

MABMonline.org, Pontianak — MAJELIS ADAT BUDAYA MELAYU KALIMANTAN BARAT (MABMKB), Insya Allah akan melaksanakan kegiatan sosial berupa pengumpulan donasi infaq dan sedekah, yang akan disalurkan ke yayasan panti asuhan di sekitar Pontianak.
Penyaluran hasil donasi infaq dan sedekah Insya Allah akan dilaksanakan pada
Hari / Tanggal:  Jum’at, 2 Agustus 2013.

MABMKB Insya Allah siap menyalurkan donasi infaq dan sedekah Bapak/Ibu, Saudara/Saudari yang berkenan untuk berinfaq dan bersedekah.

Donasi Infaq dan Sedekah dapat disalurkan ke nomor rekening:
BRI SYARIAH KC. PONTIANAK G. SULUNG
No. Rekening  :  101 2198 112
Nama                 :  Gusti Iwan Adi Saputra, SE
Konfirmasi      :  087819070907

Daftar donatur yang telah turut menyumbang:

NO. NAMA  SUMBANGAN
1 H. CHAIRIL EFFENDY  Rp 1.000.000
2 H. KASHMIR BAFIROES  BERAS 1 KARUNG
3 MUSTAFA MS  Rp 500.000
4 AGUS FITRI ANGGA  Rp 500.000
5 M. YASER  Rp 500.000
6 DEDY ARI ASFAR  BERAS 2 KARUNG
7 AGUS SYAHRANI  Rp 300.000
8 ALI  BERAS 1 KARUNG
9 H. GARUDA WIKO  Rp 4.000.000
10 H. RADIAN  Rp 300.000
11 H. IQBAL ARSYAD  Rp 1.000.000
12 Hj. HAIRIAH  Rp 500.000
13 JUMADI  Rp 350.000
14 GUSTI IWAN  Rp 100.000
15 DEDY ZULFANI  Rp 300.000
16
17
18
19
20

Kami juga masih menunggu sampai hari Kamis, 1 Agustus 2013 bagi yang lain yang ingin turut menyumbang, sebelum penyerahan donasi pada hari Jum’at, 2 Agustus 2013.

Terima kasih juga atas Infaq dan Sedekah yang telah diberikan, semoga diberkahi dan diridhoi Allah SWT dan diberikan pahala yang berlipat ganda. Insya Allah.
Amin ya Rabbal ‘alamiin.

MABM Gelar Buka Puasa Bersama di Rumah Melayu

Oleh: Sabhan Arasyid

mabm kalbar, buka bersamaMABMonline.org, Pontianak- Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalimantan Barat menggelar buka puasa bersama. Kegiatan ini dilakukan di Rumah Melayu Kalbar pada hari Ahad, (28/07). Pengurus MABM dan tokoh Melayu Kalimantan Barat terlihat ramai dan antusias menghadiri buka puasa bersama. “Mempererat silaturahmi dan ukhuwah islamiah antarsesama pengurus dan tokoh masyarakat Melayu Kalimantan Barat,” ujar Chairil Effendy, Ketua Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat.

Lebih lanjut Ketua MABM Kalbar ini juga menegaskan bahwa buka puasa bersama ini digelar untuk memperingati Nuzulul Quran. Bagi umat Islam, Nuzulul Quran selalu diperingati setiap tanggal 17 Ramadan. Pada tanggal ini merupakan waktu Alquran pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. “Momentum Nuzulul Quran di bulan Ramadan ini harus dipetik hikmahnya bagi umat Islam, terutama pengurus MABM dan orang Melayu,” jelas Mantan Ketua Forum Rektor Indonesia ini.

Tausiah buka puasa ini disampaikan oleh ustaz H. Rasmi Sattar. Ia mengingatkan perlunya menjadi insan yang muttaqin. “Ada empat anak tangga untuk mencapai level muttaqin, pertama harus Muslim, kedua mukmin, ketiga ihsan, dan keempat mukhlis,” urai Rasmi Sattar. Lebih lanjut ia menegaskan “Orang Muslim belum tentu mukmin, orang mukmin sudah pasti muslim.” Tausyiah ini diakhiri oleh sang ustaz dengan pantun “Buah singkong buah kuini, cukup sampai di sini.”

Dalam buka puasa bersama di Rumah Melayu Kalimantan Barat ini dihadiri tamu istimewa dari Jakarta untuk bersilaturahmi dengan pengurus MABM, yaitu Direktur Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Dr. H. Abidinsyah Siregar. Ia merupakan keturunan Melayu Deli yang melakukan kunjungan kerja untuk mengawasi praktik kesehatan tradisional dan alternatif yang ada di Kalimantan Barat.

Festival Seni Budaya Melayu Kalimantan Barat IX Tahun 2013

Oleh: MABMonline.org

BALIHO FSBM OKEMABMonline.org, Pontianak — Seni Budaya Melayu yang hidup, tumbuh dan berkembang tersebar diseluruh wilayah Kalimantan Barat merupakan hasil dari kreativitas para seniman dan sastrawan yang patut mendapatkan apresiasi. Di sisi lain Seni Budaya Melayu yang beraneka ragam corak dan gayanya dapat menambah kekayaan khasanah seni budaya daerah Kalimantan Barat yang tidak ternilai harganya, namun dengan terjadinya pergeseran nilai-nilai budaya yang berkembang di masyarakat dikhawatirkan dapat menurunkan sikap saling menghargai terhadap keberadaan Seni Budaya Melayu, bahkan dapat terjadi pergeseran pada fungsi seni itu sendiri.

Beberapa jenis kesenian tradisi yang sarat dengan nilai-nilai kearifan budaya lokal cenderung semakin ditinggalkan masyarakat dan ada beberapa diantaranya mengalami stagnasi serta rentan terhadap perubahan akibat dari perkembangan teknologi informasi dan globalisasi. Oleh karena itu harus ada tindakan Penggalian, Perlindungan, Pelestarian dan Pengembangan Seni Budaya.

MAJELIS ADAT BUDAYA MELAYU KALIMANTAN BARAT (MABMKB) sebagai wadah yang membina dan menjaga Kelestarian Seni Budaya Melayu di wilayah Kalimantan Barat. Hal ini sesuai dengan Visi dan Misi MAJELIS ADAT BUDAYA MELAYU KALIMANTAN BARAT (MABMKB) yaitu “ Terwujudnya masyarakat Melayu Kalimantan Barat sebagai bagian Bangsa Indonesia yang Bertamadun, Berpendidikan serta sejahtera lahir dan batin “.

Berdasarkan pemikiran tersebut di atas MAJELIS ADAT BUDAYA MELAYU KALIMANTAN BARAT (MABMKB) melaksanakan kegiatan Festival Seni Budaya Melayu Kalimantan Barat (FSBMKB) IX Tahun 2013 dimana sudah menjadi agenda tahunan sebagai bentuk penyatuan gerak dan langkah orang Melayu melalui kegiatan Lomba Seni, Olah Raga Tradisional yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat melayu, Gelar Upacara Adat, Peragaan Busana Melayu, Pameran Budaya dan Makanan Khas Melayu dengan tujuan agar dapat menjalin sinergi dengan komponen lain dalam bingkai budaya daerah yang tak terpisahkan sebagai bagian dari kebudayaan nasional.

Dengan mengusung tema ” ADAT DIJUNJUNG BUDAYA DISANJUNG “, festival ini diselenggarakan agar menjadi pendorong generasi Muda Melayu agar selalu bertindak positif dan berakar kepada kekuatan kebudayaan sendiri, sehingga dapat terhindar dari pergaulan buruk yang mengiringi kebebasan gaya hidup di era kebebasan informasi dan globalisasi.

Kegiatan Festival Seni Budaya Melayu Kalimantan Barat (FSBMKB) IX Tahun 2013 ini akan dilaksanakan pada tanggal 24 s/d 31 Agustus 2013 di Kabupaten Sambas, dengan peserta adalah Utusan dari MAJELIS ADAT BUDAYA MELAYU KABUPATEN/KOTA se-Kalimantan Barat.
Kegiatan ini dilaksanakan juga berkaitan dengan agenda peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan ke-68 Republik Indonesia, Ulang Tahun Pemindahan Ibukota Kabupaten Sambas, serta acara Halal Bi Halal 1434 H Masyarakat Melayu Kalimantan Barat.

Berbagai bentuk kegiatan akan diselenggarakan dalam Festival Seni Budaya Melayu Kalimantan Barat (FSBMKB) IX Tahun 2013 kali ini, meliputi:
1. Pembukaan.
Dibuka secara resmi pada:
Hari / Tanggal    : Sabtu, 24 Agustus 2013
Waktu                 : 19.30 Wib
Tempat               : Alun-alun Istana Alwatzikhoebillah Sambas

2. Perlombaan.
Lomba yang akan dilaksanakan meliputi:

  1. Rumpun Seni Musik (berupa: Tangkai Menyanyikan Lagu Melayu dan Tangkai Vocal Group Lagu Daerah)
  2. Rumpun Seni Tari (berupa: Tangkai Seni Hadrah dan Tangkai Tari Jepin Tradisional)
  3. Rumpun Seni Sastra (berupa: Tangkai Syair Melayu, Tangkai Berbalas Pantun, dan Tangkai Bertutur)
  4. Rumpun Rias dan Busana Melayu (berupa: Tangkai Merias Pengantin dan Tangkai Peragaan Busana Melayu Tingkat Anak-anak)
  5. Rumpun Olah Raga Tradisional (berupa: Tangkai Sampan Bidar dan Tangkai Pangkak dan Uri Gasing)
  6. Rumpun Seni Bela Diri (berupa: Tangkai Seni Silat)
  7. Rumpun Arsitektur Melayu (berupa: Tangkai Stand Pameran)
  8. Rumpun Seni Lukis (berupa: Tangkai Rancang Motif Melayu)

3. Eksibisi.
Acara yang akan dilaksanakan:

  1. Rumpun Adat Istiadat (berupa: Gelar Upacara Adat)

4. Pameran Budaya dan Kuliner (makanan) serta Kue Tradisional

5. Acara Penutupan

Jadwal kegiatan Festival Seni Budaya Melayu Kalimantan Barat ( FSBMKB) IX ini akan dimulai pada tanggal 24-31 Agustus 2013. Agenda yang akan dilaksanakan yakni:
Sabtu, 24 Agustus 2013.
Waktu:
19.30-22.30 Wib. Agenda: Upacara Pembukaan Festival Seni Budaya Melayu Kalimantan Barat (FSBMKB) IX Tahun 2013

Minggu, 25 Agustus 2013.
Waktu:
08.00-11.00 Wib. Agenda: Pelepasan Pawai Budaya dan Pembukaan Pameran serta Kuliner Tradisional.
14.00-17.00 Wib. Agenda: Workshop Seni Otar-otar.
14.30-22.30 Wib. Agenda: Lomba Lagu Melayu.

Senin, 26 Agustus 2013.
Waktu:
08.00            Wib. Agenda: Pameran Outdoor dan Kuliner.
08.00-11.00 Wib. Agenda: Sunatan Massal dan permainan Tradisional Anak.
14.00-17.00 Wib. Agenda: Workshop Tanda Sambas dan Alok Gambang.
19.30-22.30 Wib. Agenda: Lomba Vocal Group Lagu Daerah.

Selasa, 27 Agustus 2013.
Waktu:
08.00            Wib. Agenda: Pameran dan Kuliner.
08.00-11.00 Wib. Agenda: Pangka dan Uri Gasing serta Gelar Upacara Adat.
14.00-17.00 Wib. Agenda: Workshop Jepin Lembut.
19.30-22.30 Wib. Agenda: Lomba Seni Hadrah.

Rabu, 28 Agustus 2013.
Waktu:
08.00            Wib. Agenda: Pameran dan Kuliner.
08.00-11.00 Wib. Agenda: Syair dan Rancang Motif Melayu.
14.00-22.30 Wib. Agenda: Lomba Bertutur.

Kamis, 29 Agustus 2013.
Waktu:
08.00            Wib. Agenda: Pameran dan Kuliner.
08.00-11.00 Wib. Agenda: Peragaan Busana Anak-anak.
13.30-17.30 Wib. Agenda: Lomba Bunga Silat.
19.30-22.30 Wib. Agenda: Lomba Berbalas Pantun.

Jum’at, 30 Agustus 2013.
Waktu:
08.00            Wib. Agenda: Pameran dan Kuliner.
08.00-22.30 Wib. Agenda: Seminar.
13.00-17.30 Wib. Agenda: Lomba Merias dan Menyanggul Pengantin
19.30-22.30 Wib. Agenda: Lomba Tari Jepin Tradisional.

Sabtu, 31 Agustus 2013.
Waktu:
08.00            Wib. Agenda: Pameran dan Kuliner.
08.00-17.00 Wib. Agenda: Lomba Sampan Tradisional
20.00-22.30 Wib. Agenda: Malam Anugerah Seni dan Penutupan.

Darah Akhwal vs Keturunan Syarif

Oleh Mellisa Jupitasari

MABMonline.org, Pontianak — Jumat, 7 Juni 2013. Deru suara motor dan mobil hinggap di telinga. Hiruk pikuk kota Pontianak mungkin selalu membuat lelah mata ketika memandangnya. Pukul 10.00 pagi matahari benar-benar menyibak langit kala itu. Sinar terangnya selalu membuat jelas keadaan disekitar. Matahari sudah mulai mengeluarkan hawa panas terhadap bumi. Hawa panas yang mulai terasa ketika menyentuh kulit para anak manusia. Jalanan di kota Pontianak terlihat seperti biasa selalu padat merayap, begitulah istilah yang sering dipakai untuk menggambarkan keadaan kota yang penuh sesak dengan kendaraan. Melewati aspal demi aspal aroma jalanan selalu tercium khas ditambah hawa panas yang ikut turut andil dalam terciptanya aroma jalanan itu. Melewati beberapa traffic light sampai juga perjalanan itu pada traffic light terakhir sebelum memasuki jalan Uray Bawadi, jalan yang terkenal dengan sebutan ‘Jalan Jawa’ itu berada di sebelah kanan jalan apabila arah perjalanan menuju Kotabaru.

Gereja yang cukup besar terlihat jelas tepat berada di hadapan ‘Jalan Jawa’ itu. Namanya Gereja Katolik Keluarga Kudus. Memasuki jalan Uray Bawadi yang berada tepat di sebelah kanan kantor Kehutanan Propinsi dan di sebelah kiri kantor Perindustrian dan Perdagangan, jalanan tampak terlihat tidak juga dikatakan ramai, dan juga tidak dikatakan sepi. Samping kiri kanan jalan terlihat banyak kedai makanan. Angin semilir menyapih dedaunan di pohon-pohon yang berdiri tegak di bibir Jalan Uray Bawadi. Setidaknya angin itu dapat mengobati panas matahari yang sudah semakin terik kala itu. Memasuki setapak demi setapak jalan Uray Bawadi, akhirnya perjalanan itu sampai juga pada sebuah toko yang bertuliskan “Tugiran”. Nama itu kental sekali dengan nama-nama peranakan Jawa pada umumnya. Dua motor berjejer di depan toko yang menjual berbagai bahan pokok makanan itu.

Kedatangan ke toko itu disambut baik dengan senyum sumringah para pemilik toko. Toko bercat putih itu memang tak terlalu besar. Sama seperti toko-toko Tionghoa pada umumnya, toko tersebut juga bersatu dengan rumah tempat bernaungnya para pemilik toko. Datangnya tamu kala itu benar-benar disambut baik oleh ‘Ibu Yah’ begitulah ia  sering dipanggil keponakan-keponakannya. Nama lengkapnya Syarifah Sofiah Al-ba’bud.  Seorang istri yang berwajah tidak tirus dan tidak juga oval. Anak ke 7 dari 8 bersaudara ini telah dikarunia 2 jagoan cilik. Ikhsan Adit Nugroho dan Arif Risky Rahmatullah nama 2 jagoan cilik itu. Anaknya tidak memiliki gelar seperti ibunya. Hal ini jelas karena suaminya adalah peranakan jawa dan tidaklah bergaris keturunan Rasulullah. Syarif dan Syarifah merupakan gelar kebangsawanan atau sebutan bagi keturunan Nabi Muhammad Saw. yang langsung dari Husein cucu dari Rasulullah. Apabila Syarifah menikah dengan orang yang bukan Syarif maka gelar Syarif dan Syarifah pun hilang seketika.

Masalah kontroversi antara boleh dan tidak bolehnya pernikahan campur antara Syarifah dengan akhwal begitulah sebutan bagi perisitilahan orang yang bukan keturunan Syarif,  mungkin bukan hal yang tabu lagi didengar orang awam. Bahkan hal ini sering menuai perdebatan panjang. Begitu pulalah yang terjadi dengan Syarifah Sofiah Alba’bud (36). “Awalnya tidak setuju, tapi akhirnya setuju,” ucap Sofiah sambil tertawa ketika menanggapi pertanyaan mengenai pernikahannya dengan suaminya. Menikah dengan Tugiran (35), seorang lelaki berdarah Jawa yang telah lama menetap di Pontianak ini bukanlah perkara mudah. Atas dasar ‘Islam’ saja, hal ini tak cukup dan tak bisa diterima oleh abah Sofiah. Tugiran bukanlah orang Syarif. Bukanlah orang yang bergaris keturunan Rosulullah. Dia hanyalah akhwal yang tulus mencintai seorang Syarifah.

1997 awal pertemuan itu dan awal perkenalan itu. Sofiah tahu jelas bahwa hubungan yang terjalin kala itu pasti tidak akan pernah disetujui oleh orangtuanya terutama abahnya yang masih kolot memegang tradisi. Tahun demi tahun berjalan, hubungan itu belum juga mendapat restu. Sampai akhirnya abahnya berinisiatif ingin menjodohkannya dengan seorang laki-laki Syarif. “Awalnya, abah sempat ingin menjodohkan saya sama orang Syarif, tapi saya tidak mau,” ujar Sofiah. Lagi-lagi masalah rezeki, kematian, dan jodoh manusia adalah sepenuhnya ketetapan Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Tidak ada yang dapat melebihkan dan mengurangi rezeki selain Allah, tidak ada yang dapat menangguhkan dan mempercepat kematian selain Allah, dan tidak ada yang dapat menetapkan jodoh selain Allah. 9 tahun lamanya Sofia menunggu restu. Akhirnya Sofia dan Tugiran direstui juga. “Pada saat itu, abah sedang sakit keras. Saya dan suami saya datang untuk meminta restu, dan akhirnya kami direstui,” ucap Sofiah kala itu. ‘Ya sudah terserahlah’ ucap abah Sofiah saat Sofiah menceritakan ucapan abahnya ketika menyetujui hubungannya bersama Tugiran.

Tugiran seorang sarjana teknik yang berdarah Jawa akhirnya berhasil mempersunting Syarifah Sofiah Alba’bud pada tanggal 9 Juli 2006. Berkantongkan persetujuan abahnya, itu  sudah cukup membuat Sofiah lega. “Alhamdulillah, semua keluarga datang pada saat pernikahan,” ucap perempuan berkulit sawo matang itu sambil tersenyum manis dengan lesung pipi yang menghiasi kiri dan kanan pipinya.

Hal yang kurang lebih sama terjadi juga pada Syarifah Syapinah (47). Anak kedua dari 6 bersaudara ini mungkin lebih beruntung dari Sofiah. Dia adalah anak yatim yang ditinggal pergi abahnya pada tahun 1982. Ibunya Syarifah Asmah Al idrus, memang tak sekolot abahnya Sofiah. Ibunya cukup legowo ketika mengetahui anaknya ingin menikah dengan Jumadi laki-laki berdarah Jawa, bungsu peranakan Kulon Progo, Yogyakarta. Pertemuan yang tak sengaja di sebuah toko mengantarkannya pada jalan jodoh yang telah diatur oleh Allah. 15 Desember 1991, akad nikah dilaksanakan yang diwalikan oleh adik laki-lakinya yang keempat. Pada kasus kali ini yang tidak setuju adalah paman dari sebelah ibunya, atau lebih tepatnya abang ibunya. Namun hal ini tak mengurungkan niatnya untuk tetap menikah dengan lelaki pilihannya. “Yang penting ibu saya setuju, masalah paman dan banyak keluarga saya yang tidak datang di acara pernikahan saya itu tidak masalah,” ujar Syapinah.

Syapinah juga sempat bertunangan dengan laki-laki Syarif bermarga Al-idrus, namun hubungan itu kandas di tengah jalan. “Dari pada memilih Syarif yang belum tentu baik, lebih baik memilih yang lain,” ucapnya. “Namun, kalau abah dan kakek masih hidup, mungkin saya tidak akan disetujui,” kenang Syapinah terhadap abah dan kakeknya.

Menelusuri sudut-sudut daerah Siantan perjalanan kembali memasuki daerah yang terkenal dengan tempat bernaungannya pabrik karet. 23 Juni, pada pukul 06.30 pagi, bau hangat  matahari pagi baru saja menghiasi pagi minggu yang cerah itu. Entah mengapa bau karet tak tercium pada saat itu, biasanya hidung selalu diasingkan dengan bau aneh ‘karet-karet’ itu, hanya bau-bau khas aspal saja yang menghiasi bibir jalan yang tercium kala itu. Memasuki Gang Selat Bangka, laki-laki kurus jangkung berkumis mengantarkan dua orang perempuan pada Gang Malaka, rumah seorang Habib yang cukup dihormati oleh orang sekitar. Pembicaraan baru bisa dimulai pukul 11.00 siang karena habib tersebut akan pergi pada acara walimahan tetangganya. Pukul 11.00 tiba, kali ini laki-laki kurus jangkung berkumis itu membawa sepupunya yang berpostur tubuh kurang lebih sama dengan lelaki kurus jangkung itu, hanya bedanya ia tidak berkumis dan sedikit lebih tinggi dari Syarif Hasan Alwi Alqadrie, begitulah nama lengkap lelaki kurus jangkung berkumis itu. Matahari cukup menyengat siang itu. Lelehan keringat menghiasi sisi terluar kulit tamu-tamu Habib itu, ketika sampai pada rumah yang masih bertekstur kayu dan belum ada sentuhan modernisasi itu.

Habib itu bernama Muhammad Al Hadad. ‘Habib Muhammad’, begitulah panggilan akrabnya, dinilai Syarif Hasan Alwi Alqadrie cukup berilmu untuk menjelaskan mengenai kejelasan boleh atau tidaknya pernikahan campur yang sering terjadi ini. Jelas saja, dia adalah mantan santri jebolan pesantren Darul Na’im yang terletak di daerah Ampera Kota Pontianak yang sempat menjadi pengajar di sana  selama 1 tahun dan sebentar lagi akan melanjutkan studinya ke Hadramaut, negara Yaman. Ditanya mengenai hukum pernikahan campur, laki-laki berkulit kuning langsat itu pun langsung menjelaskan dengan nada lantang. Suara yang awalnya lemah lembut dan datar tiba-tiba saja mengalami pembesaran volume. Sambil duduk, dia pun menjelaskan. Bicara masalah nikah, maka hal ini erat kaitannya mengenai kafa’ah atau kita sering mengenalnya dengan ‘sekufu’ atau sederajat.

Kafa’ah ini terbagi menjadi enam jelasnya lagi. Pertama, Kafa’ah ini ditinjau dari segi agama, misalnya pria yang mualaff yang lahir tidak dalam keadaan islam berarti tidak sederajatkan agamanya dengan wanita yang dari lahir telah beragama islam, namun apabila si mempelai wanita dan wali menyetujuinya maka pernikahannya sah dan gugur kafa’ahnya; Ke dua, Kafa’ah ini ditinjau dari kesehatan, misalnya ada lelaki yang berpenyakit impoten dijodohkan dengan wanita yang sehat dan tidak ada cacat sedikit pun namun apabila perempuan ini setuju dan wali meridhoinya maka pernikahan sah dan gugur kafa’ahnya; Ke tiga, Kafa’ah ini ditinjau dari iffah atau kehormataan, contoh seorang lelaki yang ahli maksiat dijodohkan  sama perempuan yang sholehah berarti itu tidak sekufu atau sederajat, tapi tatkala perempuan itu rela dan walinya ridho maka gugur itu kafa’ahnya dan pernikahan itu sah. Ke empat, kafa’ah ditinjau dari pekerjaan, contoh seorang lelaki anak tukang jahit, petani atau nelayan dijodohkan sama perempuan anak pejabat, presiden atau anak anggota DPR berarti itu tidak sederajat. Namun tatkala perempuan itu rela dan walinya ridho maka kafa’ahnya gugur dan pernikahan itu juga sah; Kelima, kafa’ah ditinjau dari kemerdekaannya walaupun sekarang tidak ada lagi yang berstatus budak, misalnya wanita yang merdeka dan dijodohkan dengan budak tentu itu tidak sekufu, namun lagi-lagi tatkala perempuan itu rela dan walinya ridho maka kafa’ahnya gugur dan pernikahan itu juga sah; Dan terakhir yang ke enam, yang tidak ada rukhsoh atau tidak ada keringannya dan  tidak ada dispensasinya ialah masalah nasab. Misalkan orang Arab yang perempuan dinikahkan dengan bukan orang Arab tapi masih bisa tatkala perempuannya rela dan walinya ridho maka kafaahnya gugur dan pernikahanya sah. Akan tetapi, apabila seorang wanita syarifah keturunan Nabi Muhammad yang mulia dijodohkan sama laki-laki yang non syarif yang bukan habib yang bukan syarif itu tidak boleh dan tidak sederajat karena ini keturunan nasab yang mulia, walaupun walinya ridho dan Syarifahnya ridho tetap saja kafa’ah itu tidak akan gugur untuk masalah ini, tapi masalah lain yang sebelumnya disebutkan itu masih bisa membuat kafa’ah itu gugur, itu mazhab Imam Syafiie yang sering dipakai seperti itu,” ucap laki-laki berwajah oval kelahiran Pontianak itu dengan mengebu-gebu bahkan setiap penjelasan mengenai bagian-bagian kafa’ah, ia selalu menepuk tangannya saking terlalu semangatnya ia menjelaskan mengenai kesetaraan dalam pernikahan.

Ada yang pro, ada juga yang kontra. Hal itu sudah menjadi suatu keniscayaan yang tak bisa dielakkan keberadaannya. Habib Muhammad adalah orang yang paling menentang pernikahan campur ini. “Bahkan ada yang mengatakan apabila syarifah menikah dengan orang akhwal atau non syarif maka anaknya itu dihukum anak zina yang dihalalkan, mengapa zina yang dihalalkan karena kalau zina yang asli biasanya orang merasa bersalah melakukannya namun zina ini dia merasa halal namun itu sebenarnya haram hukumnya dan itu tidak boleh,” ucap ustaz muda kelahiran tahun 1992 itu mempertegas perkataannya. “Kalau ditanya nash hadist dan alquran yang mengharamkan hal ini, memang tidak ada namun ada hadist yang bisa dianalogikan dalam masalah ini,” ucapnya lagi untuk memperkuat pendapatnya.

Segala ketidaksetujuan itu terjawab atas dasar sebuah pernyataan “tidak ada dosa yang paling besar, kecuali dosa memutuskan nasab keturunan aku,” ucap habib Muhammad yang mengatakan bahwa pernyataan itu adalah pernyataan langsung dari Rosullullah. Perempuan yang bertanya mengenai hal itu kemudian bertanya lagi mengenai perawi hadits tersebut agar pendapat itu jelas dan tidak timpang sebelah. Namun sayangnya Habib Muhammad lupa siapa perawi dari hadits yang dirunut sebagai pendapat yang dipakai. “Wah saya tidak lihat perawinya siapa, padahal itu penting. Saya hanya melihat terjemahan dari hadist itu, tapi insyaAllah itu hadits yang shohih,” ujarnya yakin dengan hadits tersebut.

Perempuan itu bertanya lagi mengenai hadits mengenai seorang lelaki yang datang menemui Al-Hasan bin Ali RA, meminta nasihat dengan lelaki yang bagaimanakah yang layak dikawinkan dengan putrinya. Ia berkata: “Anak perempuanku dipinang oleh beberapa orang lelaki, dengan siapakah yang sebaiknya aku mengawinkannya?” Al- Hasan menjawab: “Kawinkanlah dia dengan lelaki yang bertaqwa kepada Allah, sebab kalau ia mencintai isterinya ia pasti menghormatinya, tetapi kalau tidak menyukainya ia pasti tidak akan berlaku dzalim terhadapnya.” Serta kasus para lelaki Syarif yang kurang dalam agamanya. Sang habib membenarkan pernyataan itu dan sedikit menyalahkan Syarif yang kurang dalam mempelajari agama padahal dia adalah orang yang bergaris keturunan mulia. “Memang betul tapi tetap saja dia menyalahi aturan dengan memutus nasab nabi dan nabi akan meminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat, dengan menikah dengan syarif, setidaknya dia telah meneruskan nasab keturunan Nabi Muhammad Saw,” ujar habib Muhammad yang tetap saja taqlid terhadap hadits yang mendasari pernyataannya di atas, pernyataan tersebut seakan tidak mau memperdulikan hadits itu.

Kasus yang berbeda apabila Syarif menikahi akhwal menurutnya tidaklah mengapa, hal ini dikarenakan garis keturunan berasal dari laki-laki bukan perempuan. Akan tetapi, ada juga yang berpendapat bahwa apabila dalam keadaan darurat Syarifah boleh menikah dengan akhwal dengan syarat jika di sebuah kampung tidak ada orang Syarif atau tidak ada yang mau dengan si Syarifah, karena ditakutkan si Syarifah akan melakukan zina, maka hal itu diperbolehkan karena hal itu lebih baik daripada melakukan kemudharotan yang besar. Ada juga yang berpendapat bahwa akhwal yang ingin menikahi Syarifah itu harus memenuhi dua syarat yaitu akhwal tersebut harus meminta izin kepada seluruh ahlul bait atau keluarga Rosul diseluruh muka bumi ini dan akhwal tidak boleh memerintah Syarifah karena dia merupakan keturunan mulia, jelas Habib Muhammad.

Pendapat yang berbeda dinyatakan oleh Harfiani seorang wanita yang juga keturunan syarif yang lebih memilih seorang suami Ustaz dari keturunan Jawa dari pada memilih syarif yang kurang dalam agamanya. Saat ditemui di komplek perumahan Didis Permai yang tak jauh dari Pondok Pesantren Assalam yang terletak di pal 5, perempuan jebolan Universitas Brawijaya Malang ini pun sedikit bercerita mengenai pengalamannya yang akhirnya tidak memilih Syarif. “Awalnya saya sangat berkeinginan untuk bersuamikan orang syarif, apalagi abah saya,” ungkap perempuan bercadar yang telah dikaruniai seorang anak laki-laki itu. Lagi-lagi urusan jodoh memang telah menjadi hak prerogatif Yang Maha Kuasa. Harfiani dan abahnya mungkin punya harapan, namun Allahlah yang maha penentu garis kehidupan. Harfiani juga sempat mencari hadist mengenai pernikahan ahlul bait namun sepengetahuannya tak pernah ada hadist yang melarang mengenai pernikahan Syarifah dengan akhwal.  Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad Saw bersabda:

إِذَا أَتَا كُمْ مَن تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ، إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُن فِتْنَةٌ فِى اْلأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ

“Jika ( seorang lelaki) datang ( untuk meminang anak perempuan kamu) dan kamu berpuas hati dengan agamanya serta akhlaknya, nikahkanlah ia ( dengan anak perempuan kamu). Jika hal itu tidak kamu lakukan maka akan terjadi fitnah di (muka) bumi.”

Pernikahan itu pun terjadi, melalui taaruf Harfiani pun resmi dipersunting lelaki berdarah Jawa yang sering dikenal dengan sebutan Abu Dzar. Abu Dzar merupakan satu di antara ustaz pengajar di ponpes Assalam. “Saya sudah berusaha mencari orang syarif yang sesuai kriteria saya yang baik agamanya dan akhlaknya, mungkin ada tapi tidak saya temukan,” ujarnya sambil mengendong Ibrahim jagoan kecilnya. Untungnya abahnya tidak sekolot orang syarif pada umumnya. Atas dasar agama dan akhlak yang baik serta mau berkerja keras itu sudah cukup jadi pegangan abahnya dalam menerima calon jodoh anaknya. “Abah tidak pernah memaksakan, abah menyerahkan semuanya pada anak-anaknya, meskipun sebelumnya disuruh mencari yang syarif dulu” ujar perempuan kelahiran Pontianak, 29 Desember 1980 ini. Meskipun akhirnya berdampak pada suami yang dikucilkan oleh sebagian dari keluarganya, Harfiani tidak mempermasalahkan hal itu. “Dampaknya memang ke suami, suami pernah tidak mau disalami oleh satu diantara keluarga saya,” kenangnya yang sempat sedih saat mengingat kejadian itu. Namun lagi-lagi yang menentukan selamat dan tidak selamatnya seseorang di akhirat bukanlah anak keturunan siapa dan siapa tapi seberapa besarnya keimanan seseorang dimata Allah, bukankah Fatimah pernah menangis karena diperingatkan Rosulullah bahwa Dia tidak akan pernah dapat menolong Fatimah kelak di akhirat?

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, makamereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur: 55 ).

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Artinya: Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu ke dalam beberapa derajat (QS. Al-Mujadillah 58:11)

Perbedaan lagi-lagi adalah suatu keniscayaan yang mungkin tidak dapat dielakkan. Beda pemikirian maupun pendapat merupakan makanan manusia setiap harinya. Islam adalah agama yang tidak menyukai perpecahan belahan. Allah pernah berpesan dalam surah Al Anfal yakni, “Janganlah kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu.” (QS. Al-Anfal: 46)

Meskipun demikian perbedaan pendapat harus disyukuri karena merupakan suatu rahmat yang telah diberikan Allah kepada manusia di muka bumi ini. Selalu ada alternatif dari setiap perbedaan yang ada.

“Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)

Beda itu pasti, namun memiliki satu konsep yang searah itu wajib kita raih, agar tidak ada yang saling tersakiti dan segala perbedaan itu dapat teratasi. Wallahu a’lam.

Titik Nol Kilometer Indonesia: Pulau Weh?

Oleh Edi Yanto

sabang atau breueh
MABMonline.org, NAD
—Dengan potensi bahari yang maha indah, Pulau Weh juga menarik karena klaim ‘Kilometer Nol’ Indonesia dimulai di sini. Dan gunung api paling barat di Indonesia juga ada di sini.

Terbang di rute Jakarta-Banda Aceh, kami tahu berada persis di ujung pesisir timur daratan Nangroe Aceh Darussalam, lalu berbelok ke barat ketika daratan… telah menghilang. Itu tandanya pesawat sekejap mendarat di Banda Aceh. Pulau Sumatera telah habis hingga ke ujungnya, sehingga pesawat berputar balik. Nah, saat pesawat bermanuver untuk menyesuaikan arah dan ketinggian, kita bisa melihat beberapa pulau yang mengitari ujung utara Aceh seperti Pulau Weh dan Rubiah, Pulau Bunta, Nasi, Teumon, Breueh. Sementara di kejauhan, menyendiri, adalah pulau Rondo.

Pulau Weh, punya posisi penting bukan hanya bagi Aceh, tetapi juga Indonesia. dari sinilah kata ‘Sabang’ muncul. Karena di pulau inilah terletak kota Sabang. Pulau ini menarik bila kita lihat dari udara, karena tampak bergunung-gunung, lalu bisa kita lihat ada sebuah runway airport kecil -kini lebih banyak digunakan untuk kepentingan militer.

Banyak orang menulis letak Sabang sebagai ujung paling barat di Indonesia. tapi pernyataan itu mesti dikoreksi, karena dari ujung kontinen Aceh, letak Sabang sebenarnya lebih ke utara atau barat laut dari tepi daratan Aceh. Sedangkan kalau mengukurnya ke arah barat, maka Pulau Breueh berada lebih di Barat ketimbang Pulau Weh. Dari Banda Aceh, jarak Sabang sekitar 22,5 km, yang bisa ditempuh selama dua jam jika menggunakan feri atau 45 menit jika memiliki kapal cepat. Pulau Weh sendiri dimasukkan ke dalam jajaran andalan pariwisata Aceh karena potensi wisata baharinya, baik pantai maupun diving spot.

Pada masa lalu, Kota Sabang sekaligus Pulau Weh dikenal sebagai tempat transit bagi jamaah haji yang ingin berangkat ke Mekkah. Itu pula muasalnya Aceh dijuluki ‘Serambi Mekkah’. Konon dahulu pernah ada 44 orang yang siap berangkat ke Tanah Suci menggunakan kapal kayu, kapal tersebut pecah dihantam gelombang, sedang para penumpangnya tercerai berai ke pulau-pulau yang ada di sekitar Pulau Weh. Itulah sebabnya beberapa daerah di sekitar Sabang diberi nama sesuai nama para jamaah haji itu seperti Pulau Rubiah, Pulau Klah dan sebagainya.

Dengan luas 121 km², Pulau Weh sebenarnya tergolong pulau vulkanik. Dahulunya terhubungkan dengan daratan Pulau Sumatera. Namun pada masa Plaistosen gunung apinya meletus yang mengakibatkan terputusnya daratan itu sehingga menjadi pulau tersendiri. Tahun 1982 Pemerintah Indonesia menetapkan wilayah 34 km² di daratan dan 26 km² di perairan Pulau Weh sebagai suaka alam. Di perairan Laut Andaman, di mana terletak Pulau Weh ini terdapat spesies hiu bermulut besar. Selain itu, di Pulau Weh juga terdapat habitat katak yang statusnya terancam yakni Bufo valhalle.

Pulau Weh punya dua kota pelabuhan, yakni Sabang dan Balohan. Karena kealamian pelabuhan dengan air yang dalam serta terlindungi dengan baik, pemerintah Hindia Belanda membuka Sabang sebagai pelabuhan, sejak tahun 1883. Awalnya untuk pangkalan batubara dan angkatan laut kerajaan, tetapi kemudian menjadi pelabuhan untuk kapal dagang. Sekarang, pelabuhan Sabang –yang terletak di utara pulau, sudah dikembangkan menjadi International Freeport. Tapi kalau kita naik kapal cepat dari pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, kita akan merapat di pelabuhan Balohan yang berada di sisi selatan pulau.

Karakter wisata di Pulau Weh sendiri bersandar pada potensi baharinya. Setidaknya ada 26 titik potensial tujuan wisata di sekitar Kota Sabang, namun yang paling popular adalah Pantai Gapang, Pantai Robiah, dan Pantai Iboih dengan keindahan taman lautnya. Pantai-pantai di Pulau Weh kebanyakan berpasir putih. Selain itu, untuk beraktivitas diving, di lokasi-lokasi tersebut tersedia penyewaan alat-alat diving hingga kursusnya. Semua kawasan itu mudah dijangkau dari Kota Sabang, atau bahkan dari pelabuhan Balohan.

Kilometer Nol Indonesia
Dari mana bentang alam Negara Indonesia diukur? Dari Sabang sampai Merauke. Maka di Sabang ada tugu ‘Kilometer Nol’ Indonesia, letaknya di kawasan hutan wisata di Kecamatan Sukakarya. Jalan kesini terbilang menanjak dan berliku, di tengah udara yang menyegarkan. Butuh waktu sekitar satu jam berkendara dari pelabuhan Balohan. Di situ ada prasasti penentu posisi geografis kilometer nol oleh BPPT yang ditandatangani pada 24 September 1997, Prof. Dr. Ing BJ Habibie. Di situ terpahat posisi geografisnya pada Lintang Utara 05º 54’ 21.42”, lalu Bujur Timur 95º 13’ 00.50”, ditempatkan di ketinggian 43,6 meter dari permukaan laut. Letak tugu ini di ujung barat laut Pulau Weh. Nah, di situ juga ditemukan sebuah prasasti yang memperlihatkan posisi geografis stasiun GPS KM 0 Sabang, yang tercatat pada Lintang Utara 05º 54’ 21.99”, lalu Bujur Timur 95º 12’ 59.02”.

Saat mengunjungi tugu ini, kita mendapat sertifikat telah mengunjungi Kilometer Nol Indonesia. Untuk itu perlu meminta panduan atau sopir, di mana sertifikatnya bisa diambil keesokan harinya. Namun itu hanya berlaku pada hari kerja. Kondisi tugu sendiri saat ini terbilang kurang terawat di daerah yang sepi itu. Memang ada beberapa pedagang mangkal di situ, juga sebelumnya kita mesti melewati pos penjagaan Paskhas TNI-AU. Pemerintah Aceh sendiri berencana merenovasi tugu ini pada tahun anggaran 2013.

Tapi ada yang mengganggu saya. Ketika berdiri di tepian ujung barat laut Pulau Weh, saya berfoto dengan latar belakang Laut Andaman. Namun, di latar belakang saya, arah barat, ada lagi sebuah pulau. Saya pun mengeceknya pada digital map ponsel android saya. Menurut peta satelit digital yang juga dirilis US Navy itu, pulau yang tampak di belakang saya adalah Pulau Breueh dan Pulau Nasi. Lho.. berarti Sabang bukan ‘Kilometer Nol Indonesia’?

Secara faktual, di ujung utara dan barat laut NAD terdapat beberapa pulau. Didukung teknologi navigasi yang maju, peta dan fakta menunjukkan bahwa bila mengikuti garis bujur, maka Pulau Breueh berada lebih barat ketimbang Pulau Weh. Ujung barat Pulau Breueh ada pada Bujur Timur 95º 00’ 40.02”, jelas lebih barat dari Pulau Weh. Kalau mengikuti skema garis bujur, maka Pulau Breueh-lah yang mestinya jadi ‘Kilometer Nol’ Indonesia.

Namun kalau mengikuti skema lintang, di arah utara-barat laut pulau Weh masih ada pulau lain, yakni Pulau Rondo. Terjemahan Pulau Rondo adalah ‘Pulau Janda’, karena menyepi sendiri di tepian ujung Indonesia, dikepung Laut Andaman, berbatasan dengan Kepulauan Nikobar milik India. Pulau seluas 0,650 km² ini berada di koordinat 6º 4’ 30” LU, 95º 6’ 45” BT, jelas lebih luar ketimbang Pulau Weh.

Jadi bagaimana dengan lagu “Dari Sabang sampai Merauke”? Mungkin dulu teknologi navigasi dan akses informasi belum semaju sekarang, sehingga belum jelas benar mana wilayah terluar Indonesia. Lagi pula kondisi setingkat kota hanya ada di Sabang. Di Pulau Breueh tidak ada kota. Sedang di Pulau Rondo malah tak ada penghuninya kecuali prajurit TNI-AL yang menjaga tapal batas. Lagu itu mesti dianggap simbol persatuan Indonesia. Hanya, soal ‘Kilometer Nol’ bisa saja menimbulkan polemik kelak.

Jaboi: The Ring Starts Here
Membentang sepanjang 15 km, topografi Pulau Weh berbukit-bukit. Dan uniknya, ada sebuah gunung berapi di sini, yakni gunung berapi fumarolik Jaboih yang tingginya 617 meter. Letusan terakhir gunung ini diperkirakan terjadi pada zaman Pleistosen yang mengakibatkan sebagian dari gunung ini hancur, terisi denga laut dan terbentuklah pulau yang terpisah dari daratan Sumatera. Dengan demikian, inilah gunung api paling barat di Indonesia. Barisan “Cincin Api” Indonesia dari arah barat dimulai di sini.

Jarak tempuh ke Gunung Jaboi dari Sabang hanya sekitar 15 km, letaknya di Kecamatan Sukakarya. Kawasan jungle trekking bagi para pecinta alam ini tergolong kawasan konservasi. Dengan hutan tropis yang masih rapat dan keanekaragaman satwa seperti burung, monyet, ular, babi hutan, reptil, hutan di Jaboi juga tempat untuk pengamatan burung seperti Nicobar Pigeon, Srigunting, Beo dan sebagainya.

Mendaki Gunung Jaboi bisa dibilang santai saja, karena aksesnya mudah, dari tepi jalan kita cukup mendaki berjalan kaki sekitar 20 menit. Sejak awal, bau belerang sudah mewarnai atmosfer. Di beberapa lokasi kita bisa jumpai beberapa spot fumarolik, air belerang mendidih mengeluarkan asap.

Menurut pemandu kami, luas kawasan fumarolik itu bertambah secara bertahap, memakan pepohonan hutan di sekitarnya. Dari bagian atasnya, pemandangan ke laut dan arah Balohan bisa kita lihat. Indah.

Sotong Pangkong Melayu

oleh: Dedy Ari Asfar

Bau sotong pangkong menyeruak saat berada di Jalan Merdeka tepatnya mulai depan Masjid Sirajul Islam. Bau itu semakin kentara apabila bergerak maju menuju Jalan Merdeka ujung. Bunyi tok… tok… tok… sahut-menyahut terdengar menggema. Bunyi dari sebuah palu yang sedang memukul atau memangkong sotong panggang. Ritme itu begitu menghentak dan menjadikan suasana malam menjadi menggeliat.

Sepanjang jalan saya melihat pemandangan yang tidak lazim dijumpai pada malam bukan bulan Ramadan. Sekitar 62 gerobak penjual sotong pangkong mangkal di sisi kiri-kanan jalan. Ada pedagang yang memanfaatkan trotoar jalan, halaman ruko, dan di atas jembatan untuk melayani para penikmat sotong pangkong.

Gerobak-gerobak berukuran satu meter saling berdekatan. Saya mencoba singgah. Tidak ada saling rebut pembeli. Masing-masing pedagang duduk menunggu pembeli menghampiri. Saya memesan satu sotong pangkong kepada seorang perempuan beranak lima. Perempuan setengah baya ini menjadi pedagang musiman di bulan Ramadan. Konon, ia adalah seorang buruh cuci. Malam bulan Ramadan membawa berkah pada perempuan penjual sotong pangkong dan juga sang suami. Suaminya juga menghasilkan uang dengan menjadi tukang parkir. Perempuan ini dapat menghasilkan uang Rp 200.000 (dua ratus ribu) dalam satu malam. Modalnya hanya satu kilo sotong yang dibeli dengan harga 150 ribu. Satu kilo dapat dihabiskan selama tiga hari.

“Beli’ yang mane Bang?”

“Berape hargenye?”

“Yang kecik 5000, ini 7000, itu 10.000, yang paling besak 15.000,” jelas sang penjual. Saya memilih harga yang paling murah, yaitu Rp 5000.

“Silelah Bang dudok,” seru perempuan penjual sotong pangkong. Sotong pun dipanggang dan dipukul-pukul dengan palu pada sebuah kayu yang dibuat mirip kursi panjang persegi empat berukuran kecil. Tidak lama, pesanan pun datang.

Saya menghirup aroma sotong pangkong bakar. Tangan saya meraih sambal cair yang ada di atas meja. Ada dua pilihan sambal cair. Jenis pertama cabai dan ebi dengan rasa agak asam-asam manis. Jenis kedua cabai dan ulekan kacang dengan rasa asam-asam pedas. Tidak puas dengan satu sotong pangkong, saya menambah pesanan. Banyak muda-mudi dan rombongan keluarga yang menikmati jajanan khas Ramadan ini. Semakin malam, semakin ramai pengunjung yang datang. Tidak hanya sotong, jagung bakar pun tersedia. Walaupun, tidak semua penjual sotong pangkong menyediakan jajanan jagung bakar.

Penelusuran saya terhadap kuliner khas Pontianak ini tidak berhenti pada satu tempat. Saya beranjak ke tempat lain. Pilihan saya jatuh pada sebuah jembatan yang dijadikan lesehan dengan meja dilengkapi gelas berpelita. Malam remang-remang menjadi romantis dengan suasana candle light. Ada dua meja kosong, saya menempati meja paling belakang sehingga bisa mengawasi pasangan muda-mudi menikmati sotong di atas jembatan yang di bawahnya mengalir air. Tempat kedua ternyata teknik sajiannya berbeda. Sotong tidak dipangkong tetapi digiling. Saya mendapatkan pembenaran dari penjual yang menggunakan alat giling ini. “Kamek tadak pakai pangkong Bang, pakai alat gileng, bumbu lebeh meresap. Alat ni belik di Malaysia, tak ade jual di sinek,” ujar sang penjual berpromosi. Saya membeli sotong dengan ukuran yang sama dengan penjual pertama tetapi harga berbeda. Ukuran yang paling kecil dijual Rp8000, ada juga yang dijual seharga Rp10.000, Rp13.000, 15.000, 20.000, dan 25.000 bergantung ukuran besar-kecilnya sotong. Persis di seberang jalan depan Masjid Sirajul Islam, sotong juga disajikan dengan teknik sotong digiling. Harga paling murah yang ditawarkan Rp 20.000.

Menikmati sotong pangkong dan/atau sotong giling merupakan pengalaman yang mengesankan. Jajanan di sepanjang Jalan Merdeka merupakan satu apresiasi masyarakat lokal membuat festival makanan jalanan ala sotong bakar dengan berbagai variasi rasa dan teknik olahan. Jajanan khas Ramadan ini menjadikan Kota Pontianak sebagai kota Sotong Pangkong Melayu yang mungkin tidak akan ditemukan pada semua kota metropolitan di seluruh Indonesia.

Budaya Korea “Meledak” di Indonesia

Oleh : Ahmad Yani

MABMonline.org, Pontianak — Pada era globalisasi saat ini faktor budaya merupakan penentu yang sangat besar dalam mempengaruhi pola perilaku serta konsumsi masyarakat. Sekarang dapat dikatakan sebagai era budaya Korea yang kian marak dan berkembang dengan pesat dikalangan remaja bahkan hingga dewasa. Fenomena ini layak di katakan sebagai sebuah wabah berupa demam yang menyebar begitu cepat yang dimulai dari musik, film, wisata, bahkan kuliner. Salah satu negara yang terkena wabah tersebut adalah Indonesia.

Masyarakat Indonesia memang terkenal sebagai negara yang sangat mudah menyerap budaya-budaya asing yang dianggap menarik untuk diikuti dan menjadi panduan dalam berekspresi. Gaya hidup mereka juga turut berubah karena begitu kuatnya rasa cinta terhadap budaya tersebut, baik dari segi berpakaian atau dalam bersikap. Banyak dari mereka yang rela menghabiskan waktu dan materi hanya untuk menunjukkan betapa cintanya terhadap budaya tersebut, Mulai dari menonton film atau drama Korea, menghadiri konser, dan melancong ke negeri ginseng tersebut demi suatu kepuasan tersendiri.

Tidak jarang ada penggemar berat dari budaya korea ini bertindak cukup tragis dalam mengekspresikan rasa cintanya terhadap hal ini. Ada yang membeli VCD drama Korea dan menontonnya hingga berjam-jam, bahkan ada yang satu harian penuh menikmatinya. Ada juga penggemar berat dari grup musik atau artis asal Korea yang rela mengeluarkan cukup banyak uang hanya untuk menonton konser atau mengikuti gaya mereka.

Dalam beberapa tahun terakhir, ratusan film, lagu, dan drama dipertontonkan di setiap media hiburan. Hampir setiap saluran televisi di Indonesia menayangkan tontonan yang berbau Korea. Banyak beredar media cetak yang menuliskan tentang kepopuleran para pesohor dari Korea. Para pekerja seni Indonesia juga mulai tersaingi akan peningkatan kepopuleran para pesohor dari Korea tersebut. Industri musik yang beraliran rock, melayu dan pop, atau film dan sinetron yang berciri khas Indonesia mulai kurang peminatnya. Jika kita berkunjung ke toko-toko kaset, VCD dan DVD yang ada di Indonesia, maka kita akan menemukan dominasi dari produk-produk korea yang cukup banyak pembelinya.

Musik beraliran K-Pop (Korean Pop) masuk dengan cepat ke industri musik di Indonesia. Fenomena ini dimanfaatkan para pekerja di dunia musik tanah air untuk mengadopsi gaya dan ciri budaya Korea sebagai penarik minat penonton. Muncul grup musik seperti Boy-band dan Girl-band yang sebelumnya dipopulerkan oleh artis-artis asal Korea. Baik lagu maupun gaya dari artisnya juga bisa dibilang meniru gaya artis-artis asal Korea tersebut. Masyarakatpun sangat antusias dengan hal ini. Para pendatang baru juga berbondong-bondong ikut memanfaatkan kesempatan ini dengan membentuk grup musik dengan bergaya ala-Korea.

Selain di dunia hiburan, gaya dalam berekspresi bertemakan Korea juga banyak ditemui di sekitar kita. Tidak hanya artis, masyarakat umum juga turut aktif mengikuti gaya tersebut. Gaya berpakaian mereka menunjukan fanatisme yang luar biasa terhadap budaya tersebut. Para produsen tekstil juga turut andil dalam hal ini. Model pakaian ala-korea sudah tidak asing lagi kita temui dijual di pasar-pasar. Penggunanya juga tidak lagi memandang kelas ekonomi. Hampir setiap kalangan turut andil dengan trend yang masih marak di masyarakat Indonesia ini.

Gaya hidup dalam budaya Korea cenderung bebas dan kurang sesuai dengan citra masyarakat Indonesia pada umumnya. Masyarakat Indonesia bisa dikatakan latah dalam segala hal yang sedang marak-maraknya terjadi, seperti demam Korea. Hal ini layak disebut sebagai suatu masalah yang dihadapi oleh para generasi muda di Indonesia. Ada baiknya bagi masyarakat Indonesia untuk dapat sadar bahwa hal yang mengganjal ketika budaya negara lain lebih dicintai dari pada budaya negeri kita sendiri dan berkurangnya rasa bangga yang nyata dari hati masyarakat Indonesia sendiri. Jangan tenggelamkan budaya negara kita sendiri hanya karena munculnya budaya luar yang mungkin lebih bagus namun kurang baik untuk negara kita. Mari kita belajar untuk mencintai produk negara kita sendiri. Belajar menghargai hasil karya anak bangsa dan menomorduakan budaya luar.

Lupa dan Jenuh dalam Belajar

Oleh Tiyas Erayati

MABMonline.org, Pontianak — Belajar adalah istilah kunci (key term) yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Belajar merupakan salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan. Dengan belajar seseorang akan dapat memperoleh ilmu baik di dalam kegiatan formal (seperti sekolah) maupun eksternal (diluar sekolah). Namun ada peristiwa yang sulit untuk dihindari dalam belajar yaitu sering munculnya lupa dan kejenuhan dalam belajar. Peristiwa tersebut terjadi karena beberapa faktor yang mungkin dapat mendorong terjadinya peristiwa tersebut.

Pada artikel ini akan dibahas hal-hal pokok dalam belajar yaitu faktor-faktor yang menyebabkan lupa, kiat mengurangi lupa, dan selain itu gejala negatif yang akan dibahas yaitu kejenuhan dalam belajar.

Peristiwa Lupa dalam Belajar
Lupa (forgetting) ialah hilangnya kemampuan untuk menyebut atau memproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya telah kita pelajari. Secara sederhana, Gulo (1982) dan Reber (1988) mendefinisikan lupa sebagai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami. Dengan demikian lupa bukanlah peristiwa hilangnya item informasi dan pengetahuan dari akal kita akan tetapi sulitnya kita dalam mengingat kembali apa yang telah dipelajari dan dialami sebelumnya.
Dapatkah lupa dalam belajar diukur secara langsung?
Witting (1981) menyimpulkan berdasarkan penelitiannya, peristiwa lupa yang dialami seseorang  tak mungkin dapat diukur secara langsung.

Faktor-faktor yang penyebab lupa
1.    Lupa dapat terjadi kerena gangguan konflik antara item-item informasi atau materi yang ada dalam sistem memori siswa. Dalam konflik ini terbagi dua macam, yaitu Proactive interference dan retroactive interverence (Reber 1988; Best, 1989; Anderson, 1990).
Seseorang akan mengalami gangguan proaktif apabila materi pelajaran lama yang sudah tersimpan dalam subsistem akal permanennya mengganggu masuknya materi pelajaran baru. Sedangkan gangguan retroaktif apabila materi pelajaran baru membawa konflik dan gangguan terhadap pemanggilan kembali materi pelajaran lama yang telah terlebih dahulu tersimpan dalam subsistem akal permanen siswa tersebut.
2.    Lupa dapat terjadi pada seseorang karena adanya tekanan terhadap item yang telah ada baik sengaja maupun tidak sengaja. Penekanan ini terjadi karena beberapa kemungkinan, yaitu:
–    Karena item informasi ( berupa pengetahuan, tanggapan, kesan dan sebagainya) yang diterima siswa kurang menyenangkan, dan sehingga ia dengan sengaja menekannya hingga kealam ketidaksadaran.
–    Karena item informasi yang baru secara otomatis menekan iten informasi yang telah ada, jdi sama dengan fenomena retroaktif.
–    Karena item informasi yang akan direproduksi (diingat kembali) itu tertekan kea lam bawah sadar dengan sendirinya lantaran tidak pernah dipergunakan.
3.    Lupa dapat terjadi pada siswa karena perubahan sitiuasi lingkungan antara waktu belajar dengan waktu mengingat kembali (Anderson 1990)
4.    Lupa dapat terjadi karena perubahan sikap dan minat siswa terhadap proses dan situasi belajar tertentu.
5.    Menurut Law of disuse (Hilgard & Bower 1975), lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan atau dihafalkan siswa.
6.    Lupa dikarenakan perubahan urat syarat otak. Perubahan urat syatar otak ini biasanya terjadi karena sesorang terserang penyakit seperti keracunan atau kecanduan alkohol dan gegar otak, mereka akan kehilangan ingatan atas item-item informasi yang ada dalam memori permanennya.

Kiat Mengurangi Lupa dalam Belajar
Sebagai calon guru atau guru professional dapatkah Anda mencegah peristiwa lupa yang sering dialami para siswa itu? Lupa itu manusiawi dan mungkin Anda tak akan mampu mencegahnya secara keseluruhan. Namun, sekedar berusaha mengurangi proses terjadinya lupa sering dialami para siswa dapat Anda lakukan dengan berbagai kiat.

Kiat terbaik untuk mengurangi lupa adalah dengan cara meningkatkan daya ingat akal siswa. Banyak ragam kiat yang dapat dicoba siswa dalam meningkatkan daya ingatannya, antara lain menurut Barlow (1985), Reber (1988), dan Anderson (1990) adalah sebagai berikut:
1.    Overlearning
Overlearning (belajar lebih) artinya upaya belajar yang melebihi batas penguasaan dasar atas materi pelajaran  tertentu.
2.    Extra Study Time
Extra Study Time (tambahan waktu belajar) ialah upaya penambahan alokasi waktu belajar atau penambahan frekuensi (kekerapan) aktifitas belajar.
3.    Mnemonic devide
Mnemonic devide (muslihat memori) yang sering juga hanya disebut mnemonic itu berarti kiat khusus yang dijadikan “alat pengait” mental untuk memasukan item-item informasi ke dalam sistem akal siswa. Muslihat mnemonic ini banyak ragamnya, tetapi yang paling menonjol adalah sebagaimana terurai dibawah ini.
•    Rima (Rhyme), yakni sajak yang dibuat sedemikian rupa yang isinya terdiri atas kata dan istilah yang harus diingat siswa. Rima sangat cocok apabila diterapkan pada anak TK, penyampaian materi pelajaran dengan diiringi nyanyian atau not-not akan menjadi lebih asyik dan mudah diterima oleh peserta didik.
•    Singkatan, yakni terdiri atas huruf-huruf awal nama atau istilah yang harus diingat siswa. Contohnya, jika seorang siswa hendak menghafal nama Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim dan Nabi Musa, dapat menyingkatnya dengan ANIM.
•    Sistem kata pasak (peg word system), yakni sejenis teknik mnemonic yang menggunakan komponen-komponen yang sebelumnya telah dikuasai sebagai pasak (paku) pengait memori baru. Sebagai contonya yaitu kata yang memiliki watak hampir sama seperti merah-saga, panas-api, pasangan kata langit dan bumi dan lain-lain.
•    Metode losai (Method of Loci), yaitu ikat mnemonic yang menggunakan tempat-tempat khusus yang terkenal sebagai sarana penempatan kata dan istilah tertentu yang harus diingat siswa. Contohnya nama ibu kota Amerika Serikat untuk mengingat nama presiden pertama negara itu (George Washington) dan lain-lain.
•    Sistem kata kunci (key word system). Kiat mnenomik yang satu ini tergolong baru dibandingkan dengan kiat-kiat mnenomik lainnya. Kiat yang satu ini sangat cocok dalam menghafal kata dan istilah asing. Sistem ini berbentuk daftar kata yang terdiri atas unsur-unsur sebagai berikut: 1) kata asing; 2) kata-kata kunci; dan 3) arti-arti kata asing tersebut.
4.    Pengelompokan
Maksud pengelompokan (clustering)  ialah menata ulang item-item materi menjadi kelompok-kelompok kecil yang dianggap lebih logis dalam arti bahwa item-item tersebut memiliki signifikan dan lafal yang sama atau sangat mirip.

Peristiwa Jenuh dalam Belajar
Secara harfiah, arti jenuh ialah padat atau penuh sehingga tidah mampu lagi memuat apapun. Selain itu, jenuh dapat berarti jemu atau bosan. Dalam belajar, di samping siswa sering mengalami kelupaan, ia juga terkadang mengalami peristiwa negative lainnya yang disebut jenuh belajar yang dalam bahasa psikologi lazim disebut Learning plateau. Peristiwa jenuh ini kalau dialami seorang siswa yang sedang dalam proses belajar (kejenuhan belajar) dapat membuat siswa tersebut telah memubazirkan usahanya.

Kejenuhan belajar ialah rentang waktu tertentu yang digunakan untuk belajar, tetapi tidak mendatangkan hasil (Reber, 1988). Seorang siswa yang mengalami kejenuhan belajar merasa seakan-akan pengetahuan dan kecakapan yang diperolehnya dari belajar tidak ada kemajuan. Tidak adanya kemajuan hasil belajar ini pada umumnya tidak berlangsung selamanya, tetapi dalam rentang waktu tertentu saja, misalnya seminggu. Namun tidak sedikit siswa yang mengalami rentang waktu yang membawa kejenuhan itu berkali-kali dalam satu periode belajar tertentu.

Jadi, lupa dan kejenuhan dalam belajar memang tidak dapat di hindari karena kedua peristiwa tersebut pasti akan terjadi, tapi untuk mencegahnya Anda dapat menggunakan kiat-kiat yang dapat membantu Anda dalam menghindari peristiwa tersebut seperti yang sudah tertera di atas.

Pendidikan Daerah Terpencil

Oleh Verawati

MABMonline.org, Pontianak — Pendidikan memegang peranan penting dalam pembangunan nasional, sebagaimana tujuan pembangunan nasional dalam bidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang adil makmur dan berdasap berdasarkan pancasila dan UUD 1945.

Kualitas pendidikan yang baik akan melahirkan manusia yang kompeten dan mampu bersaing di era globalisasi. Pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah pun harus mampu menjangkau semua lapisan masyarakat baik di  perkotaan, pedesaan bahkan di daerah terpencil. Agar ketimpangan dan kesenjangan sosial dapat dikurangi, karena pelaksanaan pendidikan di perkotaan dengan segala kelengkapan fasilitasnya yang sangat berbanding terbalik dengan pendidikan yang dirasakan oleh anak-anak di daerah yang merasakan pendidikan dengan perlengkapan seadanya.

Alasan tidak meratanya pendidikan di negeri ini salah satunya dikarenakan letak geografis Indonesia yang bersifat kepulauan sehingga berpengaruh signifikan pada perkembangan suatu daerah. Daerah yang berada dalam lintas ekonomi utama seperti pulau Jawa akan menjadi cepat berkembang dan maju karena pembangunan terpusat di dearah tersebut, sebaliknya daerah yang bukan berada dalam lintas ekonomi utama perkembangannya akan lambat seperti Nusa Tenggara maupun Irian Jaya  bahkan untuk Kalimantan Barat sendiri beberapa daerah masih dapat dikatakan belum tersentuh pendidikan.

Sudah saatnya pemerintah lebih memperhatikan dan memfokuskan pendidikan untuk masyarakat yang berada di daerah terpencil karena mereka mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan  penghidupan dan pendidikan yang layak sebagaimana  yang telah disebutkan dalam undang-undang. Meskipun saat ini pemerintah telah membuat beberapa program pendidikan untuk daerah terpencil namun dirasa masih sangat kurang karena banyaknya daerah yang harus dijangkau mengingat daerah Indonesia sangat luas.

Selain alasan letak geografis dari sisi pendidik, banyak pendidik yang enggan untuk di tugaskan di daerah terpencil. Selain itu kompetensi guru juga terbilang kurang, untuk itu harus ditingkatkan agar kualitas pendidikan lebih baik,  namun pemerintah harus tetap mengupayakan pemerataan pendidikan.  Hal yang paling penting dari penyelenggaraan pendidikan di daerah terpencil adalah mengubah pola pikir masyarakat untuk memahami akan pentingnya pendidikan, karena sebagian besar masyarakat di daerah terpencil banyak yang belum sadar betapa pentingnya pendidikan.

Paradigma dan pola pikir masyarakat yang tradisional dapat menjadi penghalang untuk memajukan pendidikan, terlebih lagi karena alasan tuntutan hidup mereka lebih memilih bekerja dari pada sekolah, namun  banyak juga yang mempunyai semangat tinggi untuk mengenyam pendidikan meskipun dengan berbagai keterbatasan baik dari segi sarana prasarana di sekolah, hingga perjuangan mereka untuk sampai ke sekolah dengan berjalan kaki berjam-jam dan dengan medan yang tidak mudah dan berbahaya.

Tentunya semangat ini harus tetap dipertahankan untuk itu pemerintah seharusnya lebih mendukung mereka agar mereka merasa lebih diperhatikan dan kesenjangan dapat diatasi. Kepedulian masyarakat untuk melaksanakan pendidikan juga dapat terlihat dari adanya swadaya masyarakat yang peduli akan pendidikan untuk mendirikan sekolah-sekolah, tentunya hal ini juga harus mendapatkan bantuan dan dukungan pemerintah. Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama dan berusaha agar masyarakat di daerah terpencil dapat mengenyam pendidikan yang layak. Perbaikan sarana dan prasarana harus tetap ditingkatkan dan diperbaiki, termasuk jenjang pendidikan harus ditambah karena sebagaimana diketahui sebagian besar pendidikan yang ada di daerah terpencil hanya setingkat pendidikan dasar. Kesejahteraan dan kompetensi pendidik juga harus diperhatikan. Maka dari itu pemerintah dan masyarakat harus memiliki komitmen yang kuat untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini, khususnya pendidikan di daerah terpencil.