“Sampan Laju” Kota Pontianak Jaya di Muara Ulakan

Adu Sampan Bidar (Foto Iwan)
Adu Sampan Bidar (Foto Gusti Iwan)

Oleh Gusti Iwan

MABMonline.org, Sambas — Kemeriahan pelaksanaan di sekitar arena lomba Sampan Bidar sangat terasa sekali. Begitu banyak pengunjung yang rela berpanas-panasan untuk menyaksikan perlombaan yang dilaksanakan di Sungai Sambas. Tak kalah ingin turut meramaikan suasana, banyak pedagang kecil yang berjualan di sepanjang jalan menuju istana Alwatzikhoebillah. Mulai dari penjual pakaian, alat dapur, permainan anak-anak sampai pedagang makanan dan minuman menunggu pembeli yang ingin jajan dan minum.

Perlombaan Sampan Bidar ini titik start-nya di dusun Keranji, desa Tanjung Mekar. Sedangkan titik finish-nya berada di Muara Ulakan, kampung Dalam Kaum. Pembukaan juga diramaikan dengan iringan musik Tanjidor. Pembukaan langsung dilakukan oleh Bupati Sambas didampingi oleh Wakil Bupati Sambas, Ketua Umum MABM Kalimantan Barat, Ketua Umum MABM Sambas dan beberapa pejabat daerah. Lomba Sampan Bidar ini memperebutkan hadiah berupa piala dari Ketua Umum MABM Kalimantan Barat dan sejumlah uang pembinaan.

Pemenang, MABM Kota Pontianak
Foto Kontingen Pemenang, Kota Pontianak (Foto Gusti Iwan)

Persiapan Panitia lomba terlihat cukup matang, di sekitar arena lomba terlihat pengamanan oleh sejumlah polisi. Ada petugas kesehatan dan ambulan yang bersiaga, di lintasan lomba juga terlihat pengamanan yang baik untuk keselamatan peserta lomba. Tenaga dari SAR, Polair dan panitia terlihat berkeliling dan menyertai peserta lomba dari atas perahunya masing-masing.

Untuk perlombaan kali ini juara pertama dimenangkan kontingen dari Kota Pontianak, disusul kemudian oleh Kabupaten Pontianak, Kabupaten Sambas, Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Bengkayang.

Pembina kontingen Pontianak dalam wawancara mengucapkan terima kasih kepada MABM kota Pontianak yang telah menyampaikan undangan untuk mengikuti lomba. “Tim kami sudah mempersiapkan diri untuk ajang kali ini dengan terus berlatih lebih kurang selama 2 bulan. Bahkan di bulan puasa pun kami tetap berlatih keras, karena event kali ini sangat kami tunggu-tunggu. Alhamdulillah atas kerja keras tim, kami bisa meraih gelar juara pertama,” tambahnya lagi.

Penyerahan Hadiah Oleh Wakil Bupati Sambas (Foto Iwan)
Penyerahan Hadiah Oleh Wakil Bupati Sambas (Foto Gusti Iwan)

Setelah penyerahan hadiah kepada tiap pemenang lomba Sampan Bidar, MABM Sambas juga secara langsung menggelar lomba sampan juga, yang bergelar Sambas Open 2013. Ada sekitar 26 peserta yang turut andil dalam sambas Open 2013 kali ini.
Lomba ini memperebutkan hadiah berupa piala Ketua Umum MABM Sambas dan uang pembinaan.

MABM Siapkan Sambas Menjadi Pusat Budaya Melayu Dunia

Oleh Gusti Iwan

MABMonline.org, Sambas — Jum’at (30/8) dimulai pukul 8 pagi di aula kantor DPRD Sambas, diadakan Seminar Sehari yang mengambil tema “Menjadikan Sambas Sebagai Kota Warisan Budaya Dunia”. Acara ini juga merupakan satu rangkaian dalam FSBM IX di Sambas. Pemateri yang akan membawakan makalahnya diantaranya Zairin Zain yang mengambil judul “STRATEGI PERLINDUNGAN TERHADAP ARSITEKTUR TRADISIONAL DI SAMBAS SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN CAGAR BUDAYA DUNIA”.

Ada juga Erwin Mahrus dengan makalah berjudul “TAMADUN ISLAM DI KERAJAAN SAMBAS (1631-1950): MENGGAGAS SAMBAS SEBAGAI KOTA WARISAN BUDAYA DUNIA”. Selain itu makalah lainnya yang berjudul “INTEGRASI ANTARA NILAI TRADISIONAL DAN NILAI MODERN DALAM PERANCANGAN KOTA” dibawakan oleh Mira Sophia Lubis, namun karena memiliki halangan, ia tidak dapat hadir dalam seminar ini.

Menurut Long Hendri, panggilan karib Hendri, salah seorang penggiat budaya di Sambas, rencana Sambas jadi kota warisan dunia adalah hal yang tepat. Karena di Sambas banyak memiliki warisan budaya termasuk cagar-cagar budaya, warisan berupa tulisan atau warisan yang bersifat seni dan sastra. “Alhamdulillah mulai 10-15 tahun yang lalu kita sudah berusaha keras mempertahankan seni budaya warisan tersebut. Hal itu lah yang memotivasi saya untuk mengajak semua pihak menjadikan Sambas jadi kota warisan. Kita juga sudah menginventarisir dan mendokumentasikan warisan yang ada,” papar pria setengah baya ini.

“Pada masa awal untuk menggalinye, sistem yang kite lakukan yaitu dengan membentuk kelompok-kelompok yang sadar tentang budaya, yaitu berupa organisasi-organisasi budaya di tiap kecamatan. Sehingge sejak beberapa tahun yang lalu mulailah bermunculan khasanah-khasanah budaya yang sempat terlupakan, untuk kembali kite lestarikan.” Hendri menambahkan, “Kenapa semua itu harus kita pelihara, karena semuanya ada mengandung filosofi-filosofi yang bisa kita teladani. Kita tidak mau anak cucu dan generasi seterusnye terutama orang Sambas tidak mengenal budaya Sambas yang sesungguhnya.”

Ketua MABM Sambas (Foto Iwan)
Ketua MABM Sambas (Foto Gusti Iwan)

Sementara itu di tempat yang sama, Ir. Burhanuddin A. Rasyid, Ketua MABM Sambas yang sekaligus mantan bupati Sambas mengatakan, “Yang pertama kami sangat setuju dan sependapat, kami pun saat ini bersiap-siap menuju ke sana. Insya Allah ada 13 Doktor akan kembali ke Sambas, 2 di antaranya adalah ahli budaya. Sehingga kelak mereka akan membantu membangun Sambas. Dengan adanya tenaga ahli, kita berusaha menyelamatkan bangunan-bangunan yang berusia tua, ini kita siapkan untuk Sambas kembali menjadi pusat budaya Melayu dan pusat studi Islam seperti masa lalu, Sambas kembali disebut Serambi Mekkah.”

Lebih lanjut Burhanuddin bersyukur bahwa pemerintah daerah sangat mendukung MABM tidak hanya moril, tetapi juga dukungan materi.

Kerja Sama Semua Pihak Wujudkan Sambas Sebagai Warisan Budaya Dunia

Oleh Asmirizani

MABMonline.org, Sambas -Pagi jumat, (30/8), peserta seminar memenuhi kursi kosong di aula DPRD Sambas. Peserta rela datang meski hujan gerimis membasahi Kabupaten Sambas. Peserta antusias mendengarkan pembukaan seminar dan mengikuti jalannya seminar dengan saksama. Gedung aula DPRD penuh diisi oleh peserta seminar dari beberapa perwakilan di antaranya MABM kabupaten/ kota, MABM Pusat, mahasiswa, pendidik, dan instansi terkait.

Acara seminar berlangsung pukul 08.00  hingga pukul 11.00 dan dilanjutkan setelah shalat Jum’at hingga sore hari. Seminar FSBM IX mengangkat tema “Menggagas Sambas Sebagai Kota Warisan Budaya Dunia.” Seminar dimoderatori oleh AR Muzamil, tokoh Kapuas Hulu yang merupakan mantan Ketua KPU Kalbar.

Dua orang panelis yang sangat kompeten di bidangnya memaparkan materi. Panelis pertama, Zairin Zain, Dosen Fakultas Teknik Untan, memaparkan judul makalah “Strategi Perlindungan Terhadap Arsitektur Tradisional Sambas Sebagai Upaya Pelestarian Cagar Dunia”. Panelis kedua, Erwin Mahrus, dosen STAIN Pontianak, memaparkan judul makalah, “Tamadun Islam di Kerajaan Sambas (1631-1950); Mengagas Sambas Sebagai Kota Warisan Budaya Dunia”

Harus adanya kerja sama antara pihak terkait dan masyarakat untuk menjadikan Sambas sebagai  kota warisan budaya dunia. “Saya sangat mendukung gagasan tersebut. Mudah-mudahan gagasan tersebut akan menjadi kenyataan. Harus ada kerjasama dari pihak terkait, eksekutif, legislatif, dan masyarakat. Kalau tidak ada kerja sama, kami yakin tidak akan terwujud. Tetapi kalau ada kerja sama yang baik, saya yakin itu bisa terwujud,” ungkap seorang anggota DPRD Sambas yang menghadiri seminar.

“Kita gandeng perguruan tinggi yang ada di daerah untuk memujudkan gagasan ini. Tentunya perlu kerja sama masyarakat dan pihak-pihak terkait,” ujar Pabali Musa, wakil bupati Sambas.

Jepin Lembut Sambas Kembali Menangkan Lomba Tangkai Jepin Tradisional FSBM

Pelatih, Penari, dan pemain musik Jepin Lembut Sekura saat di belakang panggung.
Pelatih, Penari, dan pemain musik Jepin Lembut Sekura saat di belakang panggung.

Oleh Mariyadi

MABMonline.org, Sambas–Perwakilan dari Majelis Adat Budaya Melayu Kabupaten Sambas dengan Jepin lembutnya kembali memenangkan lomba Tangkai Jepin Tradisional dalam acara Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) ke-IX yang diadakan di Jl. Pembangunan tepatnya di depan kantor Bupati Sambas. Jum’at malam (30/08).

“Pada FSBM ke-VIII di Pontianak, kami juga mendapat juara pertama,” ungkap Syahril, Pembina Sanggar Bina Karya di Desa Sekura Kecamatan Teluk Keramat.

Menurut Syahril, saat FSBM ke-VIII di Pontianak kemarin, ia membawa peserta-peserta yang agak dewasa. Rata-rata peserta yang ikut kemarin adalah siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang juga termasuk dalam sanggar Bina Karya. Sedangkan kali ini, Syahril membawa peserta yang lebih muda, yang rata-rata masih di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).

“Ada tiga versi Jepin Lembut di Kabupaten Sambas ini yaitu versi Tebas, Sikannang, Sekura. Namun, kami tadi membawakan tari jepin versi Sekura,” kata Syahril.

Menurut Syahril, mereka sengaja mempertahankan keaslian tari Jepin versi Sekura ini dan ia terus memancing anak-anak didiknya untuk terus mempelajarinya agar tari Jepin ini selalu lestari. “Saya katakan pada anak-anak didik saya, bahwa tari tradisionallah yang punya nilai jual tinggi dibanding tari-tari kreasi lain. Karena tari kreasi telah banyak kita temukan. Namun, tari jepin lembut jarang sekali dapat kita temukan,” tambah Syahril.

“Dengan latihan keras selama tiga bulan dan anak-anak didik yang telah memunyai dasar, sehingga anak-anak didik saya dapat tampil dengan maksimal,” pungkas Syahril.

Hal senada juga diucapkan Rasdiana, sebagai pelatih sanggar Bina Karya Sekura yang juga sebagai tenaga pengajar di SMP 2 Teluk Keramat mengatakan bahwa, latihan keras mereka lakukan selama 2 minggu sebelum festival diadakan. Tepatnya pada bulan Ramadhan Kemarin. “Dua minggu itulah latihan di iatkan. Meskipun dibulan Ramadhan,” Tambah Rasdiana.

Tahniah!

Juri: Penari Jepin Harus Pertahankan Keaslian Jepin

Kelompok penari jepin perwakilan dari MABM Kabupaten Ketapang sedang tampil di pentas utama.
Kelompok penari jepin perwakilan dari MABM Kabupaten Ketapang sedang tampil di pentas utama.

Oleh Mariyadi

MABMonline.org, Sambas—Saat mengomentari penampilan 7 kelompok penari Jepin perwakilan Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kota/Kabupaten  dalam Lomba Tangkai Jepin Tradisional, Jumat malam (30/08), di depan kantor bupati Sambas, juri mengatakan bahwa penari Jepin harus mempertahankan keaslian Jepin tersebut.

7 peserta perwakilan dari setiap MABM kota/kabupaten tersebut adalah: Kabupaten Ketapang, Kabupaten Sintang, Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang, Kota Singkawang, Kota Pontianak, dan Kabupaten Kapuas Hulu. “Sebenarnya ada 8 peserta yang terdaftar. Namun, perwakilan dari MABM Kabupaten Sanggau tidak hadir saat penampilan,” ungkap Mustafa, satu di antara panitia lomba.

“Karena tujuan utama dalam Festival ini adalah menggali kebudayaan Melayu, sudah seharunya penari jepin mempertahankan keaslian dari Jepin tersebut,” ungkap Kusmindari Triwati, dewan Juri yang juga merupakan penari senior di Kalbar.

Menurut Kusmindari, generasi penerus tari Jepin di manapun berada, haruslah mempertahankan keaslian dari tari Jepin tersebut. Keaslian tersebut dapat digali dengan cara mencari narasumber-narasumber yang dapat memberikan contoh asli dari Jepin tersebut. Sedikit pengembangan terhadap tarian dapat dimaklumi. Namun, tetaplah dengan pola dan struktur aslinya.

“Para penari Jepin Tradisional haruslah mengikuti segala kode etik dalam agama Islam. Penari wanita tidak boleh mengangkat kaki mereka hingga menampakkan betis. Tangan juga tidak boleh terlalu tinggi diangkat hingga memperlihatkan ketiak,” Kusmindari mengingatkan.

Menurut Ismundar, ketua dewan juri sekaligus Ketua Prodi Pendidikan Seni di FKIP Untan, tari Jepin adalah tari yang kaya akan langkah-langkah. Kekayaan tersebut haruslah kita jaga. Sudah lama kita tidak melihat yang aslinya, itu yang membuat kita tidak akrab dengan tarian Jepin yang asli.  “Banyak hal yang kami nilai saat penampilan peserta. Mulai dari sikap sembah, dan macam-macamnya,” tambah Ismundar.

Menurut Ismundar, dalam tarian Jepin, gunakanlah iringan musik yang memang khas iringan musik tersebut. Boleh saja kita menambah atau memperindah Jepin asal bisa diperhatikan Kesesuaiaan terhadap tarian tersebut. “Sikap Sembah yang baik, perbedaan gerak tari laki-laki dan perempuan juga berpengaruh terhadap penilaian kami,” kata Ismundar.

Jembatan Kapuas 1 Bergetar Ditabrak Kapal Tongkang

oleh : Achmad Sofian

MABMonline.org, Pontianak,Kalimantan Barat. Jembatan Kapuas 1 bergeser. Karena ditabrak kapal tongkang. Kejadian Jumat, 30 Agustus 2013, sekitar jam 19.30. Bahkan ada yang menyebarkan isu: jembatan kapuas roboh. Masyarakat Pontianak panik. Berduyun-duyun menuju lokasi. Untung, aparat sigap. Lokasi disterilisasi sebagai antisipasi kejadian yang tak terduga. Semoga kejadian ini menjadi hikmah mengenai urgensi pembangunan jembatan layang atau tambahan jembatan lainnya di bumi khatulistiwa. Segera!

IMG-20130830-01065
Kendaraan di simpang lampu merah depan Hotel Garuda di alihkan.
IMG-20130830-01071
Kapal tongkang yang menambrak Jembatan Kapuas 1. Foto diambil dari bawah jembatan sisi selatan.
IMG-20130830-01079
Jalan yang melewati Jembatan Kapuas 1 di blokir. Orang maupun kendaraan tidak diperbolehkan melintas.
IMG-20130830-01083
Banyak warga berbondong-bondong melihat kejadian.
IMG-20130830-01087
Untuk mengantisipasi hal-hal yang lebih parah, pihak keamanan mensterilkan Jembatan Kapuas 1.
IMG-20130830-01088
Sampai disisi terakhir jembatan, massa yang berdatangan tidak diperbolehkan lagi mendekat atau melintas. Hanya aparat keamanan, pihak terkait dan jurnalis saja yang diperbolehkan melintas.

IMG-20130830-01091

Jembatan kapuas dari atas
Kapal tongkang yang menambrak tepat di bagian tengah Jembatan Kapuas 1. Foto diambil dari atas jembatan.

Ketapang Rebut Juara Lomba Tangkai Berbalas Pantun

Oleh Asmirizani

Kami bertige ingin berpesan/ agar dunia akhirat menyenangkan hati/ dengan agama jangan dilupakan/ itulah tande muda-mudi Melayu berbudi

MABMonline.org, Sambas – Riuh tepuk tangan ditimpali sesekali tawa penonton saat menyaksikan lomba tangkai berbalas pantun di panggung utama, Kamis malam, (29/8). Penonton terpukau dan terbawa suasana oleh penampilan salah satu peserta: Kabupaten Ketapang. Peserta tangkai berbalas pantun berjumlah tujuh kelompok dari berbagai daerah: Kapuas Hulu, Ketapang, Singkawang, Kubu Raya, Kota Pontianak, Mempawah, dan Kubu Raya. Tiap kelompok beranggotakan tiga orang.

Peserta lomba tangkai berbalas pantun berfoto di atas pentas (Foto Asmirizani)
Peserta lomba tangkai berbalas pantun berfoto di atas pentas (Foto Asmirizani)

Tak ayal, tampilan memukau kontingen Ketapang berbuah ganjaran. Sembah sujud khidmat dari bujang Ketapang saat diumumkan sebagai pemenang utama lomba tangkai berbalas pantun. Bujang-bujang tersebut adalah Muhammad Abrar, Supardiansyah, dan Jeki. Mereka saling berpelukan dan berjalan mengarah pentas. Saat di atas pentas, mereka tak lupa mengulurkan tangan pada kelompok lain yang menjadi juara kedua hingga harapan enam.

Ketua juri memaparkan beberapa kesalahan yang dilakukan oleh peserta, “ada beberapa kesalahan yang dilakukan oleh peserta, yaitu peserta menjawab balasan pantun yang tidak sesuai, selalu menggunakan kata yang sama, melenceng dari tema, kata-kata yang tidak masuk akal, dan kurangnya bersikap sopan,” ujar ketua juri.

“Dalam pantun kita berukun, dalam pantun kita bersantun, dalam pantun kita berlakun. Pantun jangan hilang ditelan bumi. Jaga adat Melayu jaga marwah Melayu. Semoga tahun depan lebih baik dari tahun ini.”

Beberapa kriteria dalam penilaian lomba tangkai berbalas pantun, yaitu kata dan persajakan, kesesuaian isi dengan tema, spontanitas, penampilan, kesopanan.

Juri mengumumkan pemenang lomba tangkai berbalas pantun (Foto Asmirizani)
Juri mengumumkan pemenang lomba tangkai berbalas pantun (Foto Asmirizani)

Beberapa pemenang lomba tangkai berbalas pantun, yaitu juara 1 Kabupaten Ketapang dengan nilai tertinggi 1075, juara 2 Kota Pontianak, juara 3 Kota Singkawang, Harapan 1 Kapuas Hulu, Harapan 2 Kubu Raya, Harapan 3 Sambas.

Berbaju baru berkain mengkilap/ Baju dibuat dari bahan burkat/ Kalau keliru kami berucap/ Mohon maaaf dunia akhirat

“Tiga kali tampil berpantun. Pertama, FSBM VII di Pontianak sebagai harapan satu, kedua, Festival Seni Budaya Khatulistiwa sebagai harapan satu, dan ketiga, FSBM IX kali ini sebagai juara utama,” tutur Jeki, anggota kelompok pantun dari Ketapang saat menjelaskan perjuangan mereka.

Malik, budayawan pantun menuturkan, “peserta sudah banyak perbendaharaan pantun, konsep sudah matang, tetapi sayang ada beberapa grup yang kurang memperhatikan kesopanan.”

“Mereka menampilkan yang terbagus, semakin banyak jam terbang akan semakin baik dan bagus. Kelemahan mereka hanya kurang mengendalikan emosi yang termasuk dalam kriteria kesopanan. Satu anggota ingin menonjolkan diri sendiri, padahal ini adalah kelompok,” pungkasnya.

Jum’at ini Panitia FSBM Gelar Seminar

Oleh : Achmad Sofian

MABMonline.org, Sambas.  Jumat, 30 Agustus 2013, bertepatan dengan 23 Syawal 1434. Hari keenam penyelenggaraan Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) IX. Hari ini panitia akan menggelar Lomba Merias dan Meyanggul Pengantin, Lomba Tari Jepin Tradisional. Juga mengadakan seminar yang berkenaan dengan kota Sambas.

IMG-20130829-00986
Jembatan Sambas, salah satu ikon kota.

Lomba Merias, menurut panitia akan diadakan di Aula Kantor Bupati Sambas, pada pagi hari pukul 8 hingga 11 siang. Lomba Tari Jepin Tradisional, diadakan malam harinya 19.30 sampai dengan jam 22.30.

Acara seminar akan diadakan di Hotel Pantura pada pada pagi hari pukul 8 hingga 11 siang. Menghadirkan tiga orang panelis yang sangat kompeten di bidangnya. Panelis pertama, Zairin Zain, Dosen Fakultas Teknik Untan yang akan mengetengahkan tema “Strategi Perlindungan Terhadap Arsitektur Tradisional Sambas Sebagai Upaya Pelestarian Cagar Dunia”. Panelis kedua, Erwin Mahrus, dosen STAIN Pontianak, yang akan membawakan makalah, ‘Tamadun Islam di Kerajaan Sambas (1631-1950), Mengagas Sambas Sebagai Kota Warisan Budaya Dunia”. Mira Sophia Lubis, seorang dosen dari Fakultas Teknik  Untan menjadi panelis ketiga yang akan membawakan tema, “Integritas  Antar Nilai Tradisiona; dan Nilai Modern dalam Perancangan Kota”.

Seminar yang menjadi rangkaian penyelenggaraan Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) IX ini terbuka bagi umum. Akan dimoderatori oleh AR Muzamil, seorang Penggiat Pemilu dan Demokrasi.

Singkawang Pemenang Lomba Tangkai Rancang Motif Melayu

Motif pemenang lomba tangkai motif melayu, Karya Yuliani
Motif pemenang lomba tangkai motif melayu, Karya Yuliani

Oleh Asmirizani         

MABMonline.org, Sambas —Ramai pengunjung melihat motif-motif yang dipajang. Pola motif sangat indah dan dipoles warna yang cerah. Adapun nama-nama motif indah itu adalah bawang serati, bunga serai tempayan tajau, kain lungi perahu kajang, pucuk pakis di semak gambut, serumpun kite bersatu, kembang setaman, bunga malai, naga berlimbur kembang, kerajaan negeri batu bejamban, bunga anggrek, alam bahari paloh, si agung simpor, kiambang bertaut, dan pucuk rebung sirih bertaut.

Motif tersebut dipajang di sebelah kiri aula kantor bupati guna mengikuti lomba tangkai rancang motif Melayu, Rabu (28/8). Motif yang diikutkan lomba berjumlah 14 motif dari 5 kabupaten dan kota. Kota dan Kabupaten yang ikut serta, yaitu Kota Singkawang berjumlah 2 motif, Kota Pontianak 2 motif, Kabupaten Mempawah 2 motif, Kabupaten Ketapang 3 motif, dan Kabupaten Sambas 5 motif.

Motif Melayu yang ikut lomba memanglah sangat memikat mata yang memandang. Terlihat dari adanya seorang pengunjung yang asyik melihat satu di antara motif itu, ”Pola motifnya cantik. Warnanya pun bagus. Saya sangat suka dengan motif-motif melayu ini,” ujar Daida.

Para pemenang Tangkai Rancang Motif Melayu
Para pemenang Tangkai Rancang Motif Melayu

Satarudin yang mengumumkan hasil pemenang lomba tangkai motif melayu tidak bisa menjelaskan lebih rinci mengenai motif-motif yang mengikuti lomba. Pemenang utama lomba tangkai motif melayu adalah motif pucuk rebung sirih bertaut karya Yuliani dari MABM Singkawang dengan total nilai 925.

Walau ramai pengunjung dalam ruangan, pengunjung tidak berdesak-desakan dan tidak saling menimbulkan ketidaknyamanan. Pengunjung tetap ramah dan memiliki rasa persaudaraan antara pengunjung lain sehingga pengunjung merasa aman. “Dari segi keamanan tiap lomba berjalan tertib, begitu juga untuk lomba tangkai rancang motif melayu kali ini. Di sini kita satu jiwa, saling menjaga erat tali persaudaraan,” ujar Karman, ketua panitia FSBM IX.

Begitu juga sesuai himbauan Wakil Bupati Sambas, “mari terus kita tingkatkan rasa keramahan dan persaudaraan. Semoga peserta dan pengunjung betul-betul merasakan serta menikmati suasana kemelayuan dan persaudaraan,” ujar Pabali Musa.

Adanya lomba tangkai motif melayu ini meningkatkan seni budaya untuk terus berkembang, “kita semua merupakan pelanjut seni budaya melayu. Semua ini merupakan ciri khas budaya lokal yang harus kita kembangkan,” ujar Karman.

Juara Bukan Tujuan, Yang Penting Budaya Tetap Lestari

Oleh Gusti Iwan

Penonton Menyaksikan Lomba Bertutur di Pentas Utama (Foto Iwan)
Penonton Menyaksikan Lomba Bertutur di Pentas Utama (Foto Gusti Iwan)

MABMonline.org, Sambas — Rabu malam (28/08), pengunjung terlihat ramai memadati pentas utama di area pameran dan kegiatan FSBM IX. Pengunjung sangat antusias mendengarkan para peserta yang mengikuti lomba bertutur membawakan ceritanya, cerita rakyat yang berasal dari daerahnya masing-masing, sambil sesekali terdengar tepuk riuh dan komentar dari para penonton.

Saat diwawancarai, Bambang, kontingen dari Kabupaten Kubu Raya menjelaskan, “saya dipercaya oleh rekan-rekan untuk mendampingi peserta dan melatihnya sebelum ikut perlombaan bertutur kali ini. Meskipun boleh dibilang bahwa persiapan kita tidak terlalu lama, karena kita mendapat informasinya mendadak. Sedangkan pada saat itu Mempawah sedang sibuk mempersiapkan pelantikan pengurus baru. Ke depan, kita akan mempersiapkan lebih baik lagi, mudah-mudahan waktunya lebih banyak lagi,” tambahnya.

Kontingen Sambas, Titi Surya (Foto Iwan)
Kontingen Sambas, Titin Supriyatna (Foto Gusti Iwan)

Selain peserta yang telah tampil, ternyata ada seorang guru TK yang juga ikut serta. Titin Supriyana, kontingen

Kontingen Kapuas Hulu, Syamsiah (Foto Iwan)
Kontingen Kapuas Hulu, Syamsiah (Foto Gusti Iwan)

dari Kabupaten Sambas. Ia saat ini mengajar di TK Satu Atap SDN 15 Sempalai. “Saye akan membawakan cerita burung Ruai. Cerita ini menceritakan seorang putri raja yang ditinggalkan oleh saudaranya disebuah gua selama 7 hari 7 malam. Hingga akhirnya sang putri raja diubah oleh nenek sakti penghuni gua menjadi seekor burung Ruai,” ucap Titin.

Sebagai seorang guru TK, Titin memang terbiasa bercerita, sehingga ia tidak terlalu gugup dalam

pementasannya kali ini. “Tapi saye juga tetap berlatih dan berusaha. Hasilnye kite pasrahkan jak,” tambahnya lagi.

Sementara itu, Syamsiah dari kontingen Kapuas Hulu mendadak baru dihubungi siang hari oleh Koordinator Kapuas Hulu untuk mengikuti lomba bertutur malam itu juga, jadi ia tidak punya waktu banyak dalam persiapan lomba yang akan diikutinya tersebut.

“Meskipun tidak menjadi juara, yang penting kita tetap berusaha melestarikan budaya kita sendiri,” ujarnya mantap.