MABM Kalbar Siap Meriahkan Perhelatan Tamadun Melayu I

Oleh Gusti Iwan

Chairil Effendy, Ketua Umum MABMKB (Foto Gusti Iwan)
Chairil Effendy, Ketua Umum MABMKB
(Foto Gusti Iwan)

MABMonline.org, Pontianak — Sebuah perhelatan internasional akan dilaksanakan di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Acara yang bertajuk Perhelatan Tamadun Melayu I” ini akan dilaksanakan pada tanggal 27 – 29 September 2013, yang akan dihadiri oleh negara-negara yang termasuk dalam negara DMDI (Dunia Melayu Dunia Islam).

“Perhelatan ini sendiri bermaksud untuk memelihara dan mengembangkan peradaban Melayu yang erat dengan peradaban yang bernafaskan Islam,” ucap Chairil Effendy, Ketua Umum MABM Kalimantan Barat.

Chairil pun menambahkan, dalam perhelatan ini juga akan diadakan acara pemberian gelar kehormatan kepada Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono dari Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau.

Berbagai rangkaian acara akan digelar pada “Perhelatan Tamadun Melayu I” ini, di antaranya pawai budaya, pameran budaya, pentas seni, dan seminar internasional yang akan diisi oleh pakar budaya Melayu.

Direncanakan selain Ketua Umum MABM Kalimantan Barat Chairil Effendy beserta pengurus, turut pula Gubernur Kalimantan Barat, Ketua DPRD Kalimantan Barat, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat dalam acara Perhelatan Tamadun Melayu I ini. Tak ketinggalan rombongan kesenian yang akan berpartisipasi dalam rangkaian pertunjukan kesenian di Tanjung Pinang.

Berkaitan dengan acara Perhelatan Tamadun Melayu I ini, MABM Kalimantan Barat pun akan menjadikan ini momentum bagi pelestarian dan pengembangan peradaban budaya Melayu. Bersinergi dengan organisasi lainnya, baik MABM Kabupaten/Kota dan Perempuan Melayu pun diharapkan akan mengambil langkah yang sama pula.

“Kita harus bisa memaksimalkan SDM yang kita punya dalam upaya pelestarian peradaban budaya Melayu. Sekarang ini hampir setiap kabupaten sudah memiliki Perguruan Tinggi, mahasiswa bisa saja kita jadikan sumber daya dalam memetakan, mendata dan mendokumentasikan semua hal yang berkaitan dengan peradaban budaya Melayu,” ungkap mantan Rektor Untan ini.

Chairil berharap dari langkah sederhana, yaitu dengan berkeliling kampung sambil mengumpulkan informasi mengenai cerita rakyat, permainan rakyat, adat istiadat setempat atau bahkan hanya berupa peralatan sehari-hari untuk memasak, bekerja dan aktifitas lainnya, kita bisa memahami semua fungsi dan makna yang terkandung di dalamnya.

Pilkada Pontianak: Siap Menang! Siap Kalah! (Siap Jujur?)

Oleh Gusti Iwan

MABMonline.org, Pontianak — Kamis, 19 September 2013, warga Kota Pontianak akan melakukan proses pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Pontianak. Para calon Walikota dan Wakil Walikota sudah diberikan kesempatan untuk menyampaikan visi dan misinya bagi Kota Pontianak baik lewat debat publik, maupun kampanye terbuka dan dialogis di hadapan warga Kota Pontianak.

Masing-masing kandidat tampil dengan berbagai pandangan, pemikiran, strategi bahkan janji-janji yang akan dilakukannya kelak jika terpilih. Mereka berusaha menawarkan janji-janji sambil berharap mendapatkan simpati dan dukungan warga untuk dapat memilih dirinya.

Peserta Pilkada Kota Pontianak kali ini ada enam pasangan calon, yakni nomor urut (1) pasangan calon Gusti Hersan Aslirosa-Syarif Ismail, Iwan Gunawan-Andreas Acui Simanjaya (2), Sutarmidji-Edi Rusdi Kamtono (3), Paryadi-Sebastian (4), Firman Muntaco-Erick S Martio (5), dan nomor urut (6) Zulkarnaen Siregar-Paryono.

Dalam setiap masa kampanye kita juga sering mendengar kalimat yang terucap dari setiap pasangan, “Siap Menang dan Siap Kalah”. Kita menangkap maksud bahwa para kandidat berkomitmen untuk dirinya dan masyarakat, bahwa apa pun hasil keputusan akhir dari perhitungan suara yang telah ditetapkan KPU/KPUD akan diterimanya dengan lapang dada.

Faktanya, terlalu sering kita mendengar dan membaca berita perihal sengketa Pilkada di provinsi dan kabupaten/kota setelah atau bahkan sebelum keputusan KPU/KPUD ditetapkan. Bahkan tidak sedikit kasus demo dan keributan yang berujung pada kerusuhan massa hanya karena para pendukung tidak terima kandidatnya disingkirkan sebagai calon peserta Pilkada; Atau pendukung yang tidak puas atas hasil perhitungan suara karena menganggap adanya praktek kecurangan selama proses pemilihan.

Mahkamah Konststitusi (MK) sendiri dalam pemilu 2004 lalu saja menerima lebih dari 270 kasus pemilu. Hingga tengah tahun 2010, sengketa pilkada yang masuk ke MK ada 74 kasus. Sedangkan jika diperhitungkan sampai tahun 2012, kasus yang ditangani MK lebih dari 400 kasus sengketa Pilkada.

Kita ketahui bahwa untuk menyelenggarakan sebuah Pemilu/Pilkada tidaklah menggunakan anggaran yang sedikit. Contoh yang bisa kita ambil adalah untuk Pemilu Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Barat Tahun 2012, untuk Putaran 1 dianggarkan oleh KPU Provinsi lebih dari 160 miliar. Dengan rincian, Jumlah Honorarium dan Uang Lembur dianggarkan sebesar  Rp.75.536.700.000,00 dan Jumlah Pembelian/Pengadaan Barang dan Jasa dianggarkan sebesar  Rp.91.373.031.850,00.

Sedangkan untuk Putaran 2 sebesar Rp.56.758.073.050,00, dengan rincian, Jumlah Honorarium untuk KPPS dianggarkan sebesar Rp.23.789.750.000,00, Jumlah Pembelian/Pengadaan Barang dan Jasa dianggarkan sebesar Rp.32.968.323.050,00.

Untuk Pemilihan Walikota, Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Pontianak sudah menganggarkan Rp 18 miliar untuk biaya Pilkada Kota Pontianak tahun 2013. Pada Pilkada Kota Pontianak sebelumnya, KPUD Kota Pontianak menganggarkan Rp 12 miliar, namun hanya terpakai sebesar Rp 7 miliar, sedangkan sisanya dikembalikan lagi kepada Pemerintah Kota Pontianak.

Dengan biaya sebesar itu, wajar jika masyarakat berharap dan menuntut akan adanya sebuah Pemilu/Pilkada yang jujur dan damai, hingga biaya yang dikeluarkan untuk menyelenggarakan ajang memilih pemimpin daerah tidaklah menjadi sebuah pemborosan yang sia-sia. Masyarakat tentu berharap, melalui proses itu akan diperoleh pemimpin yang memenuhi kapasitas secara intelegensia, mental dan spiritual yang mumpuni.

Para kandidat yang akan bertarung, sepatutnya menjadikan dirinya panutan bagi masyarakat. Dimulai dari proses pilkada dengan cara-cara yang santun dan jujur, tanpa ada peluang berbuat kecurangan oleh dirinya maupun dari pendukungnya.

Kalimat “Siap Menang, Siap Kalah” dalam Pemilu/Pilkada ini, tidak hanya sekedar slogan belaka namun dapat dipraktekkan oleh tiap-tiap pasangan peserta Pilkada dengan seharusnya. Bahkan akan lebih positif lagi jika setiap pasangan harus juga berani mengatakan “Siap Jujur !”. Ini baru luar biasa. Mungkinkah ini terjadi? Kita lihat saja hasilnya setelah Pemilihan esok.

Sampah Rakyat Rezekiku

Oleh Rita Indah Sari

Sampah Yang Sudah Terkumpul (Foto Gusti Iwan)
Sampah Plastik Siap Dijual
(Foto Gusti Iwan)

MABMonline.org, Pontianak — Basuki di usia senjanya yang hampir menginjak usia 70 tahun masih saja terlihat sesekali melintas di sepanjang Jalan Khatulistiwa.  Ia berjalan menggunakan kaki  yang terlihat masih kokoh.  Sehingga, tidak ada seorang pun yang menyangka usia bapak beranak 8 ini sudah serenta ini.  Setiap hari ia menggunakan pakaian yang sudah tidak jelas lagi warnanya.  Apa pun warna pakaian yang ia kenakan selalu terlihat berwarna coklat.  Warna pakaian dia sama gelapnya dengan kulitnya.  Jika menjelang malam atau pun malam hari, orang bisa saja tidak menyadari kehadirannya.  Ia menggunakan sepasang sandal Nippon yang bagian telapaknya sudah bolong karena aus di makan aspal.  Menggunakan celana pendek selutut dan baju kemeja lengan pendek.  Di bagian pipi sebelah kiri terlihat sebuah benjolan sebesar bola pingpong.  Namun benjolan itu tidak berhasil menutupi gambaran wajah kurusnya.

Pagi-pagi sekali setelah melaksanakan salat subuh, ia menyambar  beberapa karung bermuatan 40 kilogram dari samping rumahnya.  Sepertinya ia tengah bersiap memulai perjalanannya hari ini.  Setelah mengisi perutnya dengan satu buah roti yang berasal dari dagangan istrinya, ia pun beranjak dengan membawa karung-karung pergi bersamanya.  Rute perjalanannya kali ini masih sama dengan hari-hari kemarin.  Beranjak dari rumah menyusuri Jalan Gotong Royong menuju ruas Jalan Khatulistiwa.

Terkadang tak dirasanya sudah berada di daerah pantai Losari.  Hal ini karena ia hanya menyusuri jalan-jalan yang terlihat banyak sampah di sepanjang jalan dan di depan toko-toko yang berjejer rapi.
Matanya yang keruh sudah sangat peka dengan kehadiran sampah-sampah yang menjadi sahabatnya sejak ia muda. Seolah retinanya sudah sangat piawai memilah dan memilih lokasi tempat sampah berserakan. Setiap matanya bertatapan dengan sampah-sampah bekas kemasan minuman gelas atau pun botol, ia lantas berjongkok memungutnya. Dan, memasukkannya ke dalam karung yang dibawa.  Hal itu ia lakukan di sepanjang rute perjalanannya.  Sepertinya para pemilik toko itu sudah hafal dengan profesinya. Maka, tak jarang para pemilik toko itu memanggilnya dan menunjukkan tempat sampah yang harus ia kuras.  Ia menyisihkan bekas kemasan minuman yang ia perlukan dan menyisakan sampah yang tidak ia perlukan di tempat sampah.  Namun adakalanya juga ia digertak oleh pemilik toko yang tidak senang  melihatnya mengobrak-abrik sampah di depan tokonya.  Hal ini karena ketika ia mengeluarkan sampah dan menyisihkan sampah yang ia perlukan, bau tidak sedap akan memenuhi sekitar toko tersebut.

‘’Saya hanya sabar dan menguatkan hati jika ada perlakuan orang seperti ini. Saya tidak menyerah dan berlalu meninggalkan sampah itu,’’ ucapnya lirih saat ditemui.
Ketika rasa letih menyerang, ia bergegas mencari tempah teduh dan tentunya jauh dari kerumunan orang banyak.  Jika lapar menderanya, ia hanya berbekal roti yang dibawanya dari rumah.  Menjelang waktu magrib, Basuki harus pulang.  Sebelum tiba di rumah, ia menjual sampahnya kepada pengumpul sampah yang ada di sekitar rumahnya.  Setiap satu kilo sampah yang diperolehnya dihargai seribu rupiah.  Dalam satu hari ia hanya berhasil mengumpulkan satu atau dua karung sampah.  Bisa dipastikan penghasilan Rasuddin hanya berkisar sepuluh atau belasan ribu rupiah saja.  Dan hasil jerih payahnya harus dibagi dengan istri dan cucunya yang baru berumur satu tahun.

Basuki beserta keluarganya tinggal di daerah jalan Gotong Royong.  Rumahnya berdinding kayu dan beratap seng.  Dinding dan atapnya sudah tidak sempurna lagi, banyak lubang di sana-sini.  Dari luar terlihat rumah ini sudah menunggu ajalnya untuk roboh.  Jika  diterpa angin besar, bisa dipastikan rumah ini akan turut terbang dibawa angin.  Rumah mereka sangat kontras dengan rumah batu  yang berjejer rapi bertaman dan bercat indah di sekitarnya.

Basuki beserta keluarganya adalah satu contoh dari sebagian besar orang-orang pinggiran yang bisa kita temui di keseharian kita.  Mereka tidak bisa menikmati rezeki berupa materi yang cukup.  Namun mereka memiliki rezeki yang lebih mahal dari materi itu sendiri, yaitu kesehatan.  Di usia senjanya, fisik Basuki  masih terlihat kuat.  Tidak bisa dibayangkan jika Basuki jatuh sakit, siapa yang akan menggantikannya untuk mengais rezeki demi keluarganya dari tempat-tempat sampah itu.

Sampah yang bagi kita tidak berharga dan sering kita buang di sembarang tempat adalah barang yang berharga bagi Basuki beserta keluarganya.  Terkadang kita risih dengan sampah-sampah yang berserakan di halaman rumah kita, tetapi tidak bagi Basuki.  Halaman rumahnya justru ia tumpuk dengan sampah-sampah yang akan ia jual jika sudah terkumpul banyak. Semoga kita bisa lebih menghargai hidup dan apa yang kita miliki.

Dia harus menghidupi 8  mulut.  Namun 2 orang anaknya meninggal. Dan dari sisa enam orang anaknya hanya satu yang sempat mengenyam pendidikan hingga bangku sekolah dasar.  Enam orang anaknya kini sudah pergi merantau untuk mencari peruntungannya masing-masing.  Sayangnya, tidak ada satu pun anaknya yang pernah menjenguknya.  Justru satu orang anak perempuannya hanya datang untuk menitipkan anaknya yang kini sudah berumur 1 tahun untuk diasuh oleh Basuki dan istrinya.
Sepeninggal Basuki untuk mencari nafkah di luar, istri Basuki yang juga sudah terlihat renta, mengasuh cucunya sembari menjaga warung.  Isi warungnya sudah bisa dipastikan hanya beberapa saja, dan jenisnya bisa dihitung dengan jari.

Saat ditanya penyebab anaknya meninggal, ia memalingkan wajahnya seakan enggan menjawab. Pandangannya menerawang ke suatu tempat kosong. Seperti ada sesuatu yang mengganjalnya untuk menjawab pertanyaan itu. Mungkin terasa berat dijawab atau ada sesuatu yang traumatis. Entahlah!

Wisman Kagumi Arsitektur Rumah Melayu

Oleh Gusti Iwan

Wisman Australia Mengunjungi MABM Kalbar (Foto Gusti Iwan)
Wisman Australia Mengunjungi MABM Kalbar
(Foto Gusti Iwan)

MABMonline.org, PontianakMABM Kalbar kedatangan tamu 12 orang wisatawan mancanegara (wisman) yang berasal dari Australia. Rombongan tiba di Rumah Melayu, sekitar pukul 3 sore, Jum’at (13/11), telat 3 jam dari jadwal karena pesawat yang seharusnya tiba sekitar pukul 12 mengalami delay.

Rombongan  datang ke Kalimantan Barat dalam rangka mengunjungi tempat-tempat tujuan wisata yang ada Kalimantan Barat. Selain ke Rumah Melayu, wisman juga dijadwalkan berkunjung ke Aloevera Center, Tugu Khatulistiwa, Singkawang dan beberapa lokasi wisata lainnya.

Di Rumah Melayu sambil beristirahat sejenak setelah perjalanan, rombongan berbincang dan bertanya mengenai Rumah Melayu dan adat budaya Melayu. Bendahara Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat (MABMKB) yang juga legislator Kubu Raya, H. Mustafa MS, dalam perbincangannya memberikan penjelasan mengenai MABM Kalimantan Barat serta mengenai adat dan budaya Melayu.

Setelah mendapatkan informasi, rombongan lalu mendokumentasikan bangunan Rumah Melayu. “Desain dan ornamen bangunannya sangat indah, saya menyukainya,” ujar salah seorang wisman terkagum sambil memotret tiap sudut bangunan dengan kameranya.

Posisi Keberadaan Masyarakat Hukum Adat

Oleh Gusti Iwan

Pemateri Saat Menyampaikan Makalahnya (Foto Gusti Iwan)
Pemateri saat menyampaikan makalahnya
(Foto Gusti Iwan)

MABMonline.org, Pontianak — Rabu (11/09), berlangsung seminar nasional di Orchardz Hotel Pontianak. Acara ini dimulai pukul 9 pagi. Sebelumnya, peserta seminar diminta melakukan registrasi. Seminar nasional ini mengambil tema “Model Pengakuan Masyarakat Hukum Adat dalam Wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia”, diselenggarakan oleh Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) bekerjasama dengan Magister Hukum Universitas Tanjungpura.

Hadir sebagai pemateri Mina Susana Setra dan Tim Advokasi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), DR. Firdaus, SH.MSi (Dosen Fakultas Hukum Untan) dan H. Ishaq Saleh (DPD RI). Turut hadir pula seluruh anggota DPD RI dari Kalimantan Barat: Hj. Hairiah, SH. MH, yang juga merupakan Ketua Perempuan Melayu Kalbar, Maria Goreti,  Erma Suryani Ranik, SH (DPD RI); R. Wiweko, SH.MSi (Kapuskada Setjen DPD RI) praktisi hukum, berbagai organisasi dan LSM di Pontianak.

“Putusan Mahkamah Konstitusi No.35/PUU-X/2012 merupakan keputusan yang penting bagi masyarakat hukum adat di Indonesia. Putusan ini memberikan pengakuan mengenai hak masyarakat hukum adat atas hutan adat dan menegaskan hak konstitusional masyarakat hukum adat,” papar Mina.

Firdaus menambahkan, “Kita harus menempatkan masyarakat hukum adat dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini penting karena sudah diakui dalam pergaulan internasional.  Jadi tidak ada lagi orang-orang yang tidak tergabung dalam sebuah negara. Jika anda tidak bergabung dalam satu negara, maka Anda adalah pengungsi.”

Firdaus juga menjelaskan dalam UU No.4 tahun 1999 Pasal (67), yang mengatur bidang kehutanan. Masyarakat hukum adat diakui keberadaannya, jika memenuhi unsur bahwa masyarakatnya masih dalam bentuk paguyuban (rechsgemeenschap); ada kelembagaan dalam bentuk perangkat penguasa adatnya; ada wilayah hukum adat yang jelas; ada pranata hukum, khususnya peradilan adat yang masih ditaati; dan masih mengadakan pemungutan hasil hutan di wilayah hutan sekitarnya untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Sementara itu, Ishaq Saleh mengungkapkan bahwa DPD RI saat ini sedang mempersiapkan RUU tentang Masyarakat Hukum Adat dan pandangan kepada DPR. Karena sekarang ini berdasarkan keputusan Mahkamah Konstitusi, DPD RI sudah dapat mengajukan RUU dan pandangan kepada DPR.

Dalam seminar kali ini, Erma Suryani Ranik, SH didapuk sebagai moderator. Mina Susana Setra mengangkat tema “Posisi Hutan Adat Dalam Hukum Indonesia Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi No.35/PUU-X/2012 tentang Undang-Undang Kehutanan”. DR. Firdaus, SH.MSi membawa makalah berjudul “Dimensi Pengakuan Masyarakat Hukum Adat Dalam Wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (Suatu Perspektif Hukum Tatanegara). Makalah ini berdasarkan hasil dari kajian disertasi. Sedangkan, H. Ishaq Saleh mengangkat judul “Masyarakat Hukum Adat dan Pengakuannya”.

Farhan Hamid: Perempuan Memiliki Peran Ganda

Oleh Gusti Iwan

Wakil Ketua MPR RI, DPP MABMKB, DPP PMKB (Foto Gusti Iwan)
Wakil Ketua MPR RI, DPP MABMKB, DPP PMKB
(Foto Gusti Iwan)

MABMonline.org, Pontianak — Kaum perempuan di Indonesia merupakan kalangan yang memiliki potensi besar sebagai subyek pembangunan, yang secara kuantitas dalam demografi kependudukan , jumlahnya sudah menyamai jumlah pria di Indonesia. Melalui peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan, maka akan memberi konstribusi yang signifikan bagi kemajuan masyarakat Indonesia.

Farhan Hamid Menyampaikan Sambutannya  (Foto Gusti Iwan)
Farhan Hamid Menyampaikan Sambutannya
(Foto Gusti Iwan)

Dalam kata sambutannya di acara pengukuhan DPP Perempuan Melayu Kalimantan Barat, Selasa (03/09), Wakil Ketua MPR RI yang juga anggota DPD RI Dr. Ahmad Farhan Hamid, MS, memaparkan, “Peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat, merupakan peran ganda yang sudah lama ada di Indonesia sejak abad ke-20. Kita mengenal Cut Nyak Dien, Cut Mutia dan pahlawan perempuan lainnya yang berani berdiri di medan pertempuran.”

“Pada masa kini kaum perempuan juga dituntut memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap masa depan Indonesia. Peran ganda yang dimiliki harus sejalan dengan semangat, jiwa dan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia, yaitu perempuan Indonesia yang berkepribadian Pancasila. Sehingga peran yang kita miliki bukan saja berguna bagi diri kita pribadi dan keluarga, namun dapat berpartisipasi secara aktif disegala bidang kehidupan yang mendorong kemajuan bangsa, baik di dalam politik pemerintahan, ekonomi, pendidikan maupun sosial budaya.
Melalui sosialisasi empat pilar ini lah, pemberdayaan peran perempuan semoga dapat tercerahkan, yaitu melalui kesadaran akan pemahaman kita bersama akan nilai-nilai Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka tunggal Ika. Sehingga pada muaranya nanti, perempuan Indonesia memiliki kemandirian sekaligus mampu menjadi panutan (role model) dilingkungan keluarga, sekaligus bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara,” jelasnya lagi, sebelum membuka secara resmi acara Sosialisasi 4 Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara (Pancasila, UUD 45, NKRI, Bhineka Tunggal Ika).

Chairil Effendy Memasangkan Sabuk Tenun Sambas Kepada Farhan Hamid
Chairil Effendy Memasangkan Sabuk Tenun Sambas Kepada Farhan Hamid (Foto Gusti Iwan)

Di sela acara juga saling dilakukan penyerahan cinderamata dari Ketua Umum MABM Kalimantan Barat, Ketua Umum Perempuan Melayu Kalimantan Barat, juga dari Wakil Ketua MPR RI.

Pengukuhan DPP Perempuan Melayu Kalimantan Barat

Oleh Gusti Iwan

Sambutan Ketua Umum DPP PMKB, Hj. Hairiah, SH, MH. (Foto Gusti Iwan)
Sambutan Ketua Umum DPP PMKB, Hj. Hairiah, SH, MH. (Foto Gusti Iwan)

MABMonline.org, Pontianak — Dalam kata sambutannya Ketua Umum DPP Perempuan Melayu Kalimantan Barat (DPP PMKB), Hj. Hairiah, SH, MH menyampaikan, “Secara jumlah, posisi perempuan dan laki-laki hampir seimbang, baik di tingkat provinsi atau secara nasional. Jika potensi ini diabaikan maka akan dapat dipastikan terjadi ketidakseimbangan dalam kehidupan di segala sisi.”

Indonesia juga telah meratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan dengan UU No.7 Tahun 1984. Sehingga melalui UU ini peran dan hak perempuan untuk berpartisipasi dalam segala aspek kehidupan dapat terjamin.

“Hari ini merupakan hari yang istimewa bagi Perempuan Melayu, karena hari ini kita berkumpul bersama-sama untuk melakukan penguatan peran perempuan Melayu dalam sebuah organisasi Perempuan Melayu Kalimantan Barat. Kami mengajak semua bersama-sama untuk menggerakan pemberdayaan perempuan sesuai dengan potensi kita masing-masing, karena kita juga memiliki peluang yang sama untuk turut berpartisipasi dalam segala aspek pembangunan. Untuk pengurus Perempuan Melayu kami mengharapkan kita semua dapat menjalankan organisasi ini secara profesional sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, demi harkat dan martabat Perempuan Melayu. Kita tunjukan peran serta Perempuan Melayu bagi pembangunan masyarakat,” tambah Hairiah, yang juga anggota DPD RI dari Kalimantan Barat.

Hadir dalam acara hari ini Wakil Ketua MPR yang juga anggota DPD RI Farhan Hamid, Hj. Asniar Ismail, dan tokoh-tokoh masyarakat Melayu Kalimantan Barat. Direncanakan dalam agenda hari ini akan hadir juga Wakil Ketua DPD RI Gusti Kanjeng Ratu Hemas, istri Sri Sultan Hamengku Buwono X, namun karena bertepatan dengan rapat DPD RI maka beliau tidak dapat menghadiri Pengukuhan DPP  Perempuan Melayu Kalimantan Barat kali ini.

Turiman; Esensi Pancasila adalah Gotong Royong

Oleh : Achmad Sofian

030920131543

MABMonline.org, Pontianak. “Esensi Pancasila adalah Gotong Royong”, demikian dikatakan Turiman S,H M,Hum saat penyampaian Materi Sosialisasi Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara di Rumah Melayu Kalbar, Senin, 3 September 2013. Di hadapan ratusan undangan pada acara Pengukuhan DPP Perempuan Melayu Kalimantan Barat.

Pemaparan materi  dan sosialisasi Empat Pilar ini merupakan salah satu rangkaian dalam acara pengukuhan Hj Hairiah, S.H.,M.H sebagai Ketua Umum DPP Perempuan Melayu Kalimantan Barat. Selain Turiman S,H M,Hum, Wakil ketua  MPR RI Dr. Ahmad Farhan Hamid, Msi dan Hj Hairiah, S.H.,M.H juga menyampaikan pemaparannya berkenaan dengan Sosialisasi Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.

Saat berita ini ditulis, acara pemaparan masih berlangsung, dan direncanakan berakhir pada pukul 12.30, setelah sesi tanya jawab.

Perempuan Melayu dan Sosialisasi Empat Pilar Berbangsa

Oleh Gusti Iwan

MABMonline.org, Pontianak — Perempuan Melayu Kalimantan Barat (PMKB) esok hari, Selasa (03/09/2013), akan mengadakan kegiatan Pengukuhan Dewan Pengurus Pusat Perempuan Melayu Kalimantan Barat (DPP PMKB) masa bhakti 2013 – 2017 di Rumah Melayu.
Agenda ini juga akan disertai dengan Sosialisasi Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara (Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika).

Hj. Hairiah, SH, MH (Foto Gusti Iwan)
Hj. Hairiah, SH, MH
(Foto Gusti Iwan)

Dalam wawancaranya, Hj. Hairiah, SH,MH, anggota DPD RI, mengutarakan, “Kita ingin meningkatkan peran serta perempuan Melayu di Kalimantan Barat, dan juga mengikat rumpun puan Melayu ini dalam ikatan emosional yang sama.
Dalam waktu dekat ini, kami juga berkeinginan segera mengagendakan pembentukan pengurus-pengurus di daerah, agar segera terbangun sinergisitas antara kabupaten/kota dan provinsi. Sehingga dengan sinergisatas itu kegiatan ke depan diharapkan dapat berjalan lancar.”

“Walaupun bukan satu-satunya organisasi perempuan, diharapkan PMKB mampu memfalisitasi perempuan Melayu dan mengikatnya dalam tujuan yang sama. Ini merupakan hal yang sangat bagus untuk mendukung pembangunan daerah. Ke depannya, sebagai perempuan Melayu kita berkeinginan dapat berperan baik di tingkat nasional dan internasional,” tambah Hairiah.

Acara ini diselenggarakan atas kerjasama MPR RI, Lembaga Advokasi Pemberdayaan Perempuan/Anak (ASA PUAN), Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat (MABMKB) dan Perempuan Melayu Kalimantan Barat (PMKB).
Direncanakan pula akan hadir wakil ketua MPR RI yang juga anggota DPD RI Farhan Hamid dari daerah pemilihan Aceh.

Kota Pontianak Juara Umum FSBM IX

Oleh Gusti Iwan

MABMonline.org, Pontianak — Pada Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) IX yang baru saja usai diselenggarakan di Kabupaten Sambas 24 – 31 Agustus 2013 kemarin, Kota Pontianak kembali mempertahankan posisinya sebagai Juara Umum. Pada penyelenggaraan Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) VIII, Kota Pontianak juga meraih juara umum. Artinya, MABM Pontianak berhasil mempertahankan mahkota juara tiga kali berturut-turut. Terhitung sejak tahun 2011 hingga 2013.

Juara Umum FSBM Sambas
“Alhamdulillah, Kota Pontianak kembali menjadi juara umum kali ini,” ucap Ilham Chandra, Sekretaris Umum MABM Kota Pontianak, sambil mengangkat tangannya merayakan kemenangan.

Ada 18 medali emas yang diperebutkan, Kota Pontianak sendiri berhasil meraih 5 gelar, 3 gelar juara II, dan tanpa satupun meraih peringkat tiga. Total poin yang diperoleh 24 poin. Di urutan kedua, tuan rumah Sambas; Singkawang menyusul di belakangnya. Tahniah!