Perempuan Melayu Persiapkan Rapat Kerja Pusat

Oleh Gusti Iwan

Rapat DPP Perempuan Melayu Kalbar  (Foto Gusti Iwan)
DPP Perempuan Melayu Kalbar
(Foto Gusti Iwan)


MABMonline.org, Pontianak
— Dalam rangka mempersiapkan Rapat Kerja Pusat (Rakerpus) Dewan Pimpinan Pusat Perempuan Melayu Kalimantan Barat (DPP PMKB) hari ini mengadakan Rapat Kerja Pengurus. Bertempat di ruang rapat Balai Kerja MABM Kalimantan Barat, rapat ini dimulai sekitar pukul 13.00 – 15.00 Wib.

Rapat kali ini turut dihadiri oleh Ketua Umum DPP PMKB Hj. Hairiah, S.H., M.H., Ketua Harian Shinta Dian P., Dewan Pakar Ema Rahmaniah dan Istiqamah, serta pengurus harian lainnya.

Menurut Ketua Umum, DPP PMKB hari ini perlu melakukan koordinasi untuk membahas agenda penyusunan program kerja bidang-bidang, penetapan koordinator bidang, serta mengadakan koordinasi dengan para ketua bidang dan anggota dlm penyusunan program kerja.

“Sebelum dilaksanakannya Rakerpus bulan November nanti, Perempuan Melayu perlu untuk melakukan rapat pleno pengesahan program kerja, merevisi AD/ART yang dianggap perlu untuk direvisi, dan menyusun rencana konsolidasi ke daerah kabupaten/kota tentang keberadaan organisasi Perempuan Melayu di wilayah kabupaten /kota,” papar Hairiah.

“Sehingga nantinya Perempuan Melayu bukan hanya bergerak sendiri, namun mampu bergerak sebagai motor pendorong terhadap organisasi-organisasi perempuan lainnya untuk secara bersama-sama berkerja dan diharapkan akan mampu memberikan peran yang positif bagi kemajuan dan kesejahteraan kaum perempuan di Kalimantan Barat,” tambah Hairiah.

Tradisi Lisan: Pintu Masuk Ajaran Islam di Kalimantan Barat

oleh Dedy Ari Asfar

ingat-ingat kau lalu-lalang
berlekas-lekas jangankan amang
Suluh Muhammad yugia kau pasang
supaya salim jalanmu datang

(Hamzah Fansuri)

Kita mafhum bahwa pembawa ajaran Islam tentunya orang luar (seperti Arab, Persia). Dakwah Islam oleh pendakwah tersebut tentu disampaikan secara lisan. Bahkan, ajaran tersebut diperkuat dengan unsur-unsur magis. Hal ini tergambar dengan jelas dalam Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai (lihat Samad Ahmad 1986:54—57; Parnickel 1995:39).

Pedagang Arab dan Persia membawa Islam dan memengaruhi masyarakat dan kerajaan tempatan untuk memeluk agama Islam. Situasi ini kemudian berkembang dengan menjadikan kerajaan Islam sebagai salah satu institusi resmi yang memainkan peranan penting dan strategis dalam menyebarkan teologi dan filosofi Islam di kawasan pesisir Nusantara. Oleh karena itu, Islam diidentikkan dengan pesisir dan kesultanan Melayu. Hal ini pula yang menyebabkan ramai orang di pantai pesisir Nusantara masuk Islam dengan cepat.

Dalam perspektif barat, Islam menjadi diminati oleh masyarakat di kawasan Nusantara ini disebabkan oleh faktor batiniah dan duniawi. Secara batiniah Islam dapat diterima karena Islam tidak mengenal kasta dan kelas sosial yang sebelumnya dianut masyarakat Nusantara melalui agama Hindu dan Budha sehingga banyak terjadi ketimpangan sosial dan menjadi jurang pemisah karena pengaruh agama sebelumnya (lihat Parnickel 1995:36).

Secara duniawi, orang yang masuk Islam mendapat kemudahan karena jaringan perdagangan Nusantara dibanjiri para pedagang Islam. Orang yang masuk Islam dengan sendirinya menjadi anggota umat Islam internasional dan mendapat bantuan dari saudara seagama dalam pelayaran dan perdagangan di mana-mana. Begitu juga dengan sebuah kerajaan yang konversi kepada Islam akan dikunjungi oleh saudagar-saudagar Islam. Bahkan, raja dari kerajaan tersebut dianggap setaraf dengan raja-raja lain dari dunia Islam, seperti Sultan Mughal dari India Utara atau Sultan Rom yang makin hebat pengaruhnya di Timur Dekat, Mesir, dan Eropa Timur (lihat Parnickel 1995:36). Selain itu, hal ini mungkin terjadi karena hubungan pelayaran yang langsung dan padat antara Asia Tenggara dan Laut Merah, dan polarisasi yang meningkat antara Darul Islam dan musuh-musuhnya (lihat Reid 1999:91).

Pandangan tentang Islamisasi perspektif barat ini dibantah oleh Syed Naguib Al-Attas (1972) menurutnya pandangan barat tersebut hanya kesan/faktor ‘luar’ sejarah. Padahal, yang penting dalam menafsirkan sejarah Islamisasi di Kepulauan Nusantara lebih sahih dengan melihat kesan/faktor ‘dalam’ sejarah, yaitu melalui bahasa dan sastra masyarakat Melayu.

Meluasnya pengaruh ajaran Islam oleh para pendakwah Arab kepada masyarakat disebabkan karena para pendakwah memanfaatkan bahasa Melayu sebagai lingua franca dan bahasa dakwah di Kepulauan Nusantara ini. Bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar utama Islam di seluruh Kepulauan Nusantara sehingga pada abad keenam belas bahasa Melayu telah berjaya menjadi bahasa sastra dan agama yang luhur dan sanggup menggulingkan kedaulatan bahasa Jawa dalam bidang ini (lihat Syed Naguib Al-Attas 1972:41—42; bandingkan Collins 1998). Pemilihan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar karena dianggap sesuai dan mampu menjelaskan konsep-konsep Islam dengan jelas dan mudah dibandingkan dengan bahasa Jawa.[1]

Bahasa Melayu melahirkan karya cipta sastra dakwah untuk masyarakat Nusantara. Hal ini memudahkan dalam menyebarkan dan mengenalkan khazanah kesusastraan dunia Islam di alam Nusantara. Misalnya, seni sastra Melayu lama tersebar dalam bentuk kitab dan hikayat. Sastra kitab memaparkan soal-soal ilmu kalam, fikih, dan tasawuf Nusantara yang rata-rata gubahan dari bahasa Arab dan Persia.

Sastra hikayat berupa gubahan dari cerita-cerita Islam berkenaan dengan nabi Muhammad saw. dan keluarganya, hikayat pahlawan-pahlawan Islam, dan sebagainya (bandingkan Syed Naguib Al-Attas 1969). Dua bentuk sastra ini disebarkan secara tulisan dan lisan. Bahkan, para pendakwah banyak menyampaikannya dengan cara lisan. Namun, secara pasti dapat dikatakan bahwa sastra kitab dan hikayat memainkan peran penting dalam proses membumikan ajaran Islam kepada masyarakat Nusantara. Kedua genre sastra ini mempunyai tujuan yang sama, yaitu menyempurnakan manusia melalui nilai-nilai yang terkandung di dalam teks tersebut (lihat Braginsky 1994a,b).  Selanjutnya …

Komunitas Angklung Pontianak Turut Meriahkan FBBK 2013

Oleh Sofia Devi

angklung

MABMonline.org, PontianakKomunitas Angklung Pontianak turut serta memeriahkan malam grandfinal pemilihan Bujang Dara Wisata Khatulistiwa Kalimantan Barat 2013, Sabtu (28/9). Komunitas Angklung membuka acara dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya pada saat akan dimulainya malam grandfinal, tepatnya pada pukul 19.45 wib.

Komunitas yang anggotanya merupakan murid-murid dari MTSN 1 Pontianak ini sangat antusias dan semangat untuk tampil diatas panggung. Usai sesi pemotretan finalis Bujang dan Dara , komunitas angklung yang di asuh oleh Bayu Prakoso ini mempersembahkan dua buah lagu yaitu lagu “Aek Kapuas dan Aku Bahagia”.

Bagi Bayu Prakoso bisa ikut tampil mempersembahkan lagu merupakan suatu kehormatan, karena ini merupakan pertama kalinya di undang oleh menteri pariwisata dan ekonomi kreatif Kalimantan Barat untuk menampilkan tim angklungnya dan ikut memeriahkan Festival Budaya Bumi Khatulistiwa (FBBK) 2013 ini. “ Perasaan saya senang karena mereka tampil kompak diatas panggung, itu membuat saya senang karena telah menampilkan yang terbaik diatas panggung”, ujar Bayu Prakoso dengan sangat bangga usai menampilkan tim angklungnya.

“Kendala utama, Alhamdulillah cuma pada saat penyiapan panggungnya saja dan masalah mikrofon. Persiapan kami untuk tampil ini satu bulan. Harapan saya untuk FBBK kedepan semoga acaranya semakin bagus, semakin banyak yang nonton, dan semakin banyak yang antusias terhadap festival budaya ini, dan saya harap kebudayaan kita yang kaya ini perlu di eksplor keluar, karena kita kaya budaya yang indah”, katanya.

Tim angklung ini mendapat respon yang baik dari masyarakat yang menonton, jelas terlihat pada saat selesai tampil , penonton memberi tepuk tangan yang meriah. Tim angklung ini juga memadukan alat musik rebana, karena bagi Bayu, dua alat ini sangat cocok untuk dipadukan dan ini merupakan alat musik asli Indonesia yang satu alat musik tradisional Jawa Barat dan yang satunya alat musik khas Melayu. “Karena angklung ini jarang, saya melihat ada antusias di mata orang Pontianak,  semoga tim angklung kami dapat berkembang baik di kota Pontianak ini,” kata Bayu dengan penuh harapan.

Semoga tim angklung ini semakin banyak peminatnya karena tim ini telah menyumbangkan karyanya bagi seni dan budaya. Khususnya pada festival ini agar orang tahu bahwa di kota Pontianak ini ada wadah yang bisa menyalurkan minat dan bakat dalam bidang angklung dan menjadi bermanfaat bagi masyarakat semua khususnya masyarakat Pontianak sendiri.

Parade dan Atraksi Kesenian Meriahkan FBBK 2013

Oleh Andhika Mahendra



MABMonline.org, Pontianak
— Festival Budaya Bumi Khatulistiwa (FBBK) 2013 secara resmi dibuka di Museum Negeri Pontianak, Jalan A Yani, Pontianak kemarin (26/9) siang. Ratusan orang yang mewakili 14 kabupaten/kota di Kalbar turut memeriahkan hari pertama acara yang akan dihelat hingga tanggal Minggu (29/9) mendatang ini. Mereka berparade dengan jalan kaki di jalanan Kota Pontianak dengan menggunakan pakaian khas tradisional daerah masing-masing. Parade ini mengundang perhatian dari pengguna jalan. Pasalnya, setiap kontingen juga menampilkan atraksi atau keseniannya masing-masing. Dalam acara kemarin pula, dipertontonkan tarian tiga etnis dan atraksi marching band dari mahasiswa. Festival Budaya Bumi Khatulistiwa (FBBK) 2013 menjadi ajang meningkatkan kunjungan wisatawan ke Provinsi Kalimantan Barat. Beragam kegiatan budaya Kalbar siap dipentaskan.

“Adanya FBBK ini menjadi sarana meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kalbar. Dari hasil evaluasi FBBK tahun sebelumnya, kunjungan wisatawan semakin meningkat,
Beberapa negara tetangga, seperti Malaysia dan Brunei Darussalam, turut diundang untuk menyaksikan FBBK 2013. “Kita undang mereka untuk turut menyaksikan kegiatan budaya dan kesenian dan etnis yang ada di Kalbar. FBBK juga menjadi agenda yang digaungkan dalam pertemuan bilateral Sosek Malindo.

Festival yang dihelat setiap dua tahun ini sudah yang ke 11 kalinya diadakan. Tahun ini pelaksanaannya dipusatkan di alaman Museum Negeri Pontianak. Selain parade budaya, ada juga kegiatan lainnya seperti seperti lomba tari daerah, lomba layang-layang hias, lomba lagu daerah, makanan khas daerah, syair Melayu, lomba berbalas pantun, lomba gasing dan sumpit. Ada pula pemilihan Bujang dan Dara Wisata Khatulistiwa Kalbar. “Seni dan budaya yang hidupdi Kalbar ini adalah daya tarik dan modal besar untuk kepariwisataan kita,” seni dan budaya di Kalbar harus terus dikembangkan dan digali. Oleh sebab itu kegiatan seperti FBBK penting dilaksanakan untuk mendorong kreatifitas dan apresiasi dari para pelaku seni dan budaya di Kalbar. “Salah satu sarana untuk menggali, melestarikan, mengembangkan dan mempromosikan budaya Kalbar adalah lewat FBBK.Salah satu atraksi dalam rangkaian FBBKini adalah lomba layang-layang yang bertujuan mengangkat khazanah seni budaya serta permainan rakyat Kalimantan Barat. Lomba layang-layang ini dilaksanakan di kompleks GOR Pangsuma, Pontianak,Sabtu(28/9/2013).

Lomba layang-layang ini diikuti enam daerah, yaitu Kota Pontianak, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Sintang, Kabupaten Melawi, dan Kabupaten Bengkayang.Ada tiga hal dalam kriteria penilaian. Pertama kreativitas dan originalitas atau ciri khas dari daerah peserta. Kemudian keindahan dan estetika, yang mengacu pada keindahan bentuk layangan.

“Kemudian layak terbang, karena ini lomba layang-layang, jadi dinilai juga, layak terbang atau tidak. Kriteria lomba layang-layang dibagi menjadi dua, yakni dua dimensi tradisonal atau yang disebut layangan merak. Kriteria kedua adalah tiga dimensi yang merupakan layang-layang hias modern namun dengan konsep ciri khas daerah. Beragam bentuk layangan milik peserta tampil dalam ajang ini. Mulai dari bentuk dua dimensi hingga tiga dimensi. Ada yang berbentuk burung, visual wajah manusia, bentuk merak, dan berbagai bentuk unik lainnya. Hujan yang turun sesaat sebelum perlombaan ternyata tak menyurutkan semangat para peserta lomba. Turunnya hujan justru dimanfaatkan peserta untuk mempersiapkan layang-layang yang akan diterbangkan dan memeriksa kondisi layang-layang.

Selain lomba layang-layang, FBBK juga menggelar berbagai ajang lain misalnya parade lagu daerah, tarian daerah, lomba syair melayu, serta lomba sumpit. Kemudian lomba pangkak gasing, lomba berbalas pantun, dan pemilihan bujang dara khatulistiwa. Rangkaian berbagai ajang tersebut memperebutkan piala bergilir Festival Budaya Bumi Khatulistiwa. Menurut rencana, FBBK XI akan ditutup pada Minggu (29/9/2013) di Museum Kalbar, Jalan Ahmad Yani Pontianauk mencari orang atau tim yang akan mewakili Kalbar pada even budaya berskala nasional maupun internasional.
Kabupaten Sintang mendominasi lomba-lomba dalam perhelatan Festival Budaya Bumi Khatulistiwa (FBBK) 2013. Dalam even dua tahunan yang digelar pada 27-29 September di Museum Negeri Pontianak ini, Kabupaten Sintang mampu menjadi juara umum dengan meraih 5 emas dari 9 lomba yang terbagi dalam belasan kategori. Sementara juara kedua diraih oleh Kabupaten Kubu Raya yang mendapat empat emas. Sedangkan juara ketiga diambil oleh Kabupaten Ketapang yang meraup 3 emas.Beberapa perlombaan juga menjadi ajang seleksi bagi Kalimantan Barat untuk mengirimkan wakilnya ke even budaya tingkat nasional. Pemenang lomba lagu Melayu yang dimenangkan oleh Kabupaten Sintang misalnya, akan diikutkan dalam even Parade Lagu Nusantara di TMII, Jakarta Desember nanti. Sedangkan pemenang lagu Dayak dari Kabupaten Kubu Raya akan ikut dalam even yang sama, namun untuk tahun 2014.

Sementara kontingen Kabupaten Bengkayang yang menang pawai budaya akan dikirim mengikuti festival budaya di Istana Merdeka dalam rangka perayaan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia tahun depan. Sedangkan kontingen Kota Pontianak yang menjadi runner up juga akan jadi wakil Kalbar di gelaran serupa tahun 2015.
Begitu pula pemenang Bujang Dara Wisata Khatulistiwa Kalbar yang akan jadi peserta ajang pemilihan Duta Wisata Indonesia di Nangroe Aceh Darusallam beberapa pekan lagi. Bujang Wisata diraih oleh Kabupaten Ketapang, dan Dara Wisata dimenangkan oleh Kabupaten Kubu Raya. Sementara runner up Bujang Wisata dari Kabupaten Kubu Raya dan runner up Dara Wisata asal Kabupaten Sintang akan ikut perhelatan yang sama tahun mendatang.

Kapolda Baru, Harapan Lama

jazHangat dan bersahabat. Demikian kesan yang terpatri di benak kala melihat sosok pria ini. Wajahnya tak menyiratkan keangkeran. Kesan humanis itu kian terlihat saat ia mengenalkan dirinya. Terselip candaan. Tak luput senyuman.

Arie Sulistyo, pria berbintang satu yang belum genap sebulan memimpin kepolisian Kalbar. Bersama beberapa perwira menginjakkan kakinya ke Rumah Melayu di pertengahan Oktober ini. Kunjungan yang diniatkan sebagai silaturahmi guna menjalin sinergisitas Polri dan Masyarakat.

Arie bukanlah orang baru di Kalimantan Barat. Sebelumnya, ia merupakan Wakapolda kala dipimpin Erwin Tobing. Jejak mereka serupa. Bak telah meminum air Kapuas, keduanya balik kampung. Erwin ‘balik kampung’ dengan mencalonkan diri sebagai caleg DPR RI dari partai berlambang banteng. Arie Sulistyo sebagai Kapolda Kalbar.

Dibuka dengan perkenalan jajaran pengurus MABM oleh Ketua Umum Prof Chairil Effendy. Sesi dialog menjadi agenda berikutnya. Persoalan serius diangkat dengan senda gurau. Arie menuntaskan seluruh pertanyaan yang diajukan pengurus MABM dengan runut. Terkesan normatif memang jawabannya. Tapi ia memang tak hendak berkonfrontasi. Ia memilih mengedepankan dialog—terutama untuk isu yang sensitif bagi Kalbar. Mungkin ini menjadi salah satu alasan mengapa ia dipilih menjadi pengawal Kalbar di tahun politik mendatang.

Berkali-kali ia tekankan hendaknya pers menjadi penjaga kedamaian, khususnya di Kalimantan Barat. Ia terbangkan contoh itu ke negara Spanyol. Meski kerap terjadi kriminalitas tapi media jarang mempublikasikannya. Karena mereka—masyarakat dan media—sadar, wisata yang menjadi jualannnya butuh suasana yang kondusif. Adakah orang yang mau bertaruh nyawa mengunjungi negeri yang tak aman?

Di ujung pertemuan, tak lupa ia menyampaikan keinginannya untuk bertandang kembali ke MABM. Disertai gurau, Chairil menyilakan seraya bila berkenan berpindah ke sebelah, Restoran Handayani. Gelak tawa perlahan meredup kala Arie pamit hendak menuju mobil jemputannya. Tanpa voorijder. Arie memilih berbaur bersama perwira lainnya menaiki mobil bis Polda Kalbar.

Selamat bertugas Pak Arie. Semoga kunjungan berikutnya bisa kami suguhkan kopi Obor lengkap dengan gulanya, yang tak lagi langka.

(Yaser Ace, penulis ide-pengusaha aksi, tinggal di Pontianak)

Kapolda Silaturahmi dengan MABM Kalbar

Oleh Gusti Iwan

Kapolda Kalbar-Ketua Umum MABMKB Saling Bertukar Cinderamata (Foto Gusti Iwan)
Kapolda Kalbar-Ketua Umum MABMKB Saling Bertukar Cinderamata
(Foto Gusti Iwan)

MABMonline.org, Pontianak — Selasa (8/10), sekitar pukul 10.30 Wib, Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat (MABM Kalbar) dikunjungi oleh Brigjen Arie Sulistyo, Kapolda Kalimantan Barat yang baru saja dilantik oleh Kapolri Timur Pradopo pada hari Senin (16/9) kemarin. Ia menggantikan Brigjen Tugas Dwi Arpiyanto, SH yang telah bertugas di Kalimantan Barat sejak November 2012 sampai September 2013.

Bertempat di Balai Kerja MABM Kalbar, rombongan Kapolda diterima oleh Ketua Umum MABM Kalbar, Chairil Effendy beserta pengurus DPP MABM Kalbar. Kapolda Kalbar yang baru saja dilantik ini hadir bersama Dirintelkam, Kasat Brimobda, Dirbimas, Dirnarkoba, Kapolresta Pontianak serta beberapa staf di jajaran Polda Kalbar. “Sebagai warga baru di kota Pontianak ini, kami datang ke sini dengan maksud untuk bersilaturahmi dengan warga Pontianak dan secara bersama-sama ingin membangun sinergi dengan semua kalangan di Kalimantan Barat ini dalam hal mengawasi penegakan hukum,” ungkap orang nomor satu Polda Kalbar yang memiliki tiga anak tersebut.

Dalam silaturahmi kali ini disertai pula dengan dengar pendapat antara Kapolda Kalbar dan DPP MABMKB. Kapolda Kalbar mendapat banyak masukan mengenai persoalan hukum yang ada di Kalimantan Barat saat ini, di antaranya persoalan peredaran narkoba, penyelundupan dan kelangkaan gula, kecelakaan di jalan raya, anak-anak di bawah umur yang membawa kendaraan bermotor, langkah pengamanan aset-aset vital daerah, pemberlakuan hukum adat yang bisa merugikan masyarakat dan dapat mengganggu keberadaan fungsi hukum positif, juga persoalan pelaku kejahatan yang diduga mengalami penyiksaan dalam proses interogasi hukum.

Chairil mengapresiasi kunjungan Kapolda baru ini sebagai langkah positif bentuk kerjasama antara Polda Kalbar dan masyarakat Kalbar dalam menciptakan suasana yang aman dan tertib.

Acara silaturahmi ini diakhiri dengan saling bertukar cinderamata antara Kapolda Kalbar Brigjen Arie Sulistyo  dan Ketua Umum MABM Kalbar Chairil Effendy.

Bank Kalbar Adakan Penarikan Undian Simpeda Nasional

Oleh Gusti Iwan

Kunjungan Ladies Program (Foto Gusti Iwan)
Kunjungan Ladies Program
(Foto Gusti Iwan)

MABMonline.org, Pontianak — Bank Kalbar sebagai tuan rumah bersama Asbanda (Asosiasi Bank Pembangunan Daerah) dari tanggal 2 – 3 Oktober 2013 mengadaka acara berupa Seminar Nasional BPD seluruh Indonesia dan acara Penarikan Undian Simpeda Nasional, dengan tajuk “Panen Rejeki BPD” Periode 1 Tahun XXIV – 2013.

Acara Seminar Nasional BPD se-Indonesia hari ini dimulai pada pukul 08.00  Wib di Meranti Ballroom Hotel Mercure. Sementara itu untuk acara puncaknya, digelar acara Penarikan Undian Simpeda Nasional nanti malam (3/10) pukul 19.00 Wib di Pontianak Convention Center.

“Untuk Ladies Program, pada hari ini agenda pertama adalah berkunjung ke Dekranasda, dilanjutkan ke Rumah Radakng,  ke Tugu Khatulistiwa, Pengkang dan diakhiri dengan mengunjungi toko souvenir di PSP (lapangan Keboen Sajoek) dan kembali lagi ke hotel”, papar Ibu Lili Yunindar, ketua Ladies Program, yang juga sebagai Kepala Divisi Kepatuhan Bank Kalbar.
“Sebelumnya kemarin malam mulai pukul 19.00 – 22.00 Wib juga diadakan Wellcome Party bagi rombongan BPD se-Indonesia di Pendopo Gubernur Kalimantan Barat,” tambah Ibu Lili.

Mabm Pamerkan Kerajinan Khas Kalbar

Oleh Gusti Iwan

Stand Pameran MABM Kalimantan Barat
Stand Pameran MABM Kalimantan Barat

MABMonline.org, Tanjungpinang —  Pada Perhelatan Tamadun Melayu I di Tanjungpinang kemarin, Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat (MABMKB) mempersiapkan stand pameran yang memamerkan foto kegiatan MABMKB dan berbagai hasil kerajinan masyarakat yang berasal dari beberapa kabupaten/kota di Kalimantan Barat.

Kain corak insang dengan tenun benang emas khas kota Pontianak, kain tenun khas kabupaten Sintang, hiasan dinding berbentuk tudung saji khas kabupaten Landak, kain songket khas kabupaten Sambas dan berbagai barang kerajinan lainnya dipamerkan di stand MABM Kalimantan Barat.

Cukup banyak warga yang berkunjung melihat-lihat atau bahkan membeli hasil kerajinan yang dipamerkan di stand MABMKB. Stand pameran ini secara tidak langsung juga menjadi ajang silaturahmi bagi warga Kalimantan Barat. Beberapa diantaranya merupakan warga Kalimantan Barat yang telah merantau ke Tanjungpinang, ada diantaranya yang berasal dari kabupaten Sambas, Mempawah dan Pontianak.
“Saya juga merupakan warga keturunan dari Sambas, kakek dan nenek saya berasal dari Sambas. Orang tua saya merantau ke Tanjungpinang sudah cukup lama. Kami dibesarkan di Tanjungpinang ini lah,” cerita ibu Uray, didampingi anaknya usai membeli kain khas Sambas.

Tokoh masyarakat Kepulauan Riau yang juga Ketua Umum Dewan Mesjid Indonesia (DMI) Provinsi Kepulauan Riau, H. Huzrin Hood, SH, juga turut menyempatkan diri mengunjungi stand pameran MABM Kalimantan Barat. Sambil melihat-lihat stand pameran, Huzrin Hood terlihat berbincang dengan Chairil Effendy, Ketua Umum MABM Kalimantan Barat.

Malaysia Bawa 100 orang Peserta Pawai Budaya

Oleh Gusti Iwan

MABMonline.org, Tanjungpinang — Perhelatan Tamadun Melayu I, Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) yang digelar Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau Jumat, 27 September 2013 di Gedung Daerah Rumah Dinas kediaman Gubernur Kepulauan Riau berlangsung meriah dan khidmat. Acara pembukaan dilanjutkan dengan menampilkan pawai budaya 3 negara Asia Tenggara dan 14 provinsi dan 7 kabupaten/kota dari Kepulauan Riau sebagai tuan rumah.

Pawai ini merupakan sebagai atraksi persembahan budaya Melayu dihadapan Wapres Boediono, Mendagri, Mendikbud, Presiden DMDI, dan tamu-tamu kehormatan dari seluruh penjuru Nusantara yang mengikuti acara peresmian Perhelatan Tamadun Melayu I di Tanjungpinang.

Rombongan pawai budaya ini melintas dan mempertunjukkan tamadun lokal negeri-negeri Melayu Nusantara. Malaysia membawa kekuatan penuh ada sekitar 100 orang menyertai Perhelatan Tamadun Melayu I ini. “Ada 100 orang dari beberapa negeri Malaysia tampil dalam pawai budaya,” ujar Kru TV3 Melaka yang diwawancarai saat acara peresmian berlangsung. Rombongan pertama berasal dari Negeri Melaka, negerinya Hang Tuah dengan pepatah terkenalnya “esa hilang dua terbilang, takkan Melayu hilang”. Rombongan Negeri Melaka menampilkan musik Melayu sebagai simbol-simbol negara pemilik bahasa serumpun Melayu. Rombongan kedua dari Negeri Kedah menampilkan Gendang Kedah yang dimainkan dalam acara terhormat dan majlis yang mulia. Ketiga, rombongan budaya dari Pulau Penang, Semenanjung Malaysia. Keempat, rombongan Johor Bahru. Kelima, Negeri Kelantan yang menampilkan wayang kulit dan dikir barat. Keenam, rombongan  menampilkan adat meminang dengan membawa adat dulang Melayu.

Pawai Budaya Ramaikan Perhelatan Tamadun Melayu

MABM Kalbar Tampilkan Rumpun Melayu yang Akrab dan Damai

Oleh: Gusti Iwan

MABMonline.org, Tanjungpinang — Perhelatan Tamadun Melayu I, Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) yang digelar Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau Jumat, 27 September 2013 di Gedung Daerah Rumah Dinas kediaman Gubernur Kepulauan Riau berlangsung meriah dan khidmat. Acara pembukaan dilanjutkan dengan menampilkan pawai budaya 3 negara Asia Tenggara dan 14 provinsi dan 7 kabupaten/kota dari Kepulauan Riau sebagai tuan rumah.

Pawai ini merupakan sebagai atraksi persembahan budaya Melayu di hadapan Wapres Boediono, Mendagri, Mendikbud, Presiden DMDI, dan tamu-tamu kehormatan dari seluruh penjuru Nusantara yang mengikuti acara peresmian Perhelatan Tamadun Melayu I di Tanjungpinang. Rombongan pawai budaya ini melintas dan mempertunjukkan tamadun lokal negeri-negeri Melayu Nusantara.

Rombongan pertama berasal dari Malaysia dengan membawa rombongan dari Negeri Melaka, Negeri Kedah, Pulau Penang, Johor Bahru, Negeri Kelantan, dan Selangor Darul Ehsan. Rombongan kedua diikuti dengan pawai budaya dari Singapura yang menampilkan pawai dengan mengusung tema “Budaya Singapura”. Rombongan ketiga dari Thailand, Patani yang mengusung tema bersemangat melestarikan Melayu di Thailand. Walaupun, rombongan budaya dari Thailand hanya terdiri atas 2 orang tetapi mereka tampak bersemangat megikuti pawai budaya.

Selanjutnya pawai budaya 14 Provinsi yang dimulai dari Nangroe Aceh Darussalam menampilkan pawai budaya nelayan dan pesisr sebagai wujud semangat kerja keras. Sumatera Utara menampilkan budaya teriakan ahoi-ahoi sebagai simbolisme mengajak bergotong-royong panen padi dan ajang pesta panen yang membuat berkumpulnya muda-mudi untuk mencari jodoh. Sumatera Barat menampilkan penjemputan lelaki ke rumah perempuan. Riau menampilkan pertunjukan Melayu agung, kembali ke puncak. Sumatera Selatan menampilkan kesenian dul muluk.

Rombongan MABM Kalbar menampilkan pawai budaya dengan mengusung tema Sungai Kapuas dengan rumpun Melayu yang akrab dan damai. Kalimantan Selatan menampilkan kesenian Mamanda dengan iringan lagu ampar-ampar pisang. Sulawesi Barat menampilkan perkawinan masyarakat Mamuju.

Jambi memperkenalkan permainan rakyat lukah gilo. Permainan rakyat yang semulanya ritual magis khas adat pada masyarakat Jambi sekarang menjadi permainan rakyat yang umum dimainkan. Bangka Belitung menampilkan permainan rakyat sehabis panen lada dengan iringan musik gambus.

DKI Jakarta menampilkan pawai budaya Betawi untuk Jakarta baru. Mpok Nori dan Mastur adiknya Mandra tampil sebagai ikon Betawi. Mastur dan Mpok Nori bersilat dengan iringan tari dan musik tanjidor khas Betawi.

Tujuh kabupaten dan kota Kepulau Riau menampilkan peserta pawai budaya dalam prosesi perkawinan, tarian basibah-sibah, dan makyong. Dalam pawai budaya ini Kepri juga menampilkan pawai kebesaran mengarak Raja Melayu. Ritual ini terakhir diadakan pada tahun 1985 di Pulau Penyengat. Mengarak Raja Melayu merupakan simbol kebesaran Kerajaan Riau, Lingga, Johor, dan Pahang. Auman magis dan tembakan meriam membuat penonton bergidik. Hal ini diikuti dengan iringan vokal yang membahana pembawa acara dalam membacakan Gurindam XII. Pertunjukkan budaya ini menampilkan sosok Raja Ali Haji sebagai pahlawan nasional bidang bahasa dan Raja Ahmad sebagai pahlawan Melayu yang menentang Belanda. Penonton tampak terpukau dan tersihir oleh pertunjukkan budaya ini. “Bergidik saya mendengarnya Bang,” seru Syahrani penonton yang antusias menyaksikan pawai budaya ini.