Ketua dan Pengurus MABM Memenuhi Undangan Silaturahmi Pangdam XII

Oleh Asmirizani MABMonline.org, Pontianak – Senin malam (23/12) Ketua MABM Kalimantan Barat menghadiri undangan silaturahmi Pangdam XII di kediaman Pangdam XII. Rombongan MABM tiba di aula rumah Pangdam XII yang berada di jalan Ahmad Yani. Pengurus serta jajaran MABM turut hadir memenuhi dan meramaikan undangan. Begitu juga jajaran Pangdam XII menyambut hangat kedatangan rombongan MABM. Rombongan MABM dan jajaran Pangdam XII berbaur larut dalam perbincangan setelah menyaksikan tari melayu.

Chairil Effendy memberikan kata sambutan pada undangan silaturahmi
Chairil Effendy memberikan kata sambutan pada undangan silaturahmi (Foto Asmirizani)

Ketua MABM, Chairil Effendy memberikan kata sambutan dalam undangan silaturahmi tersebut. Dalam kata sambutannya, Chairil mengenalkan pengurus MABM yang hadir. Chairil juga mengharapkan adanya kerjasama yang baik antara masyarakat melayu dan pangdam XII. “Dari silaturahmi ini semoga dapat tercipta kerja sama. Kami sebagai masyarakat melayu berusaha memberikan bantuan yang dapat kami bantu.” Tutur Ketua MABM.

Ketua umum MABM bercengkrama bersama Pangdam XII (Foto Asmirizani)
Ketua umum MABM bercengkrama bersama Pangdam XII (Foto Asmirizani)

Mayjen Andi Ibrahim Saleh dalam kata sambutannya ingin mempererat silaturahmi dan membangun kerja sama untuk terciptanya masyarakat yang aman dan tentram. “Kami mengharapkan kerja sama untuk mewujudkan terciptanya masyarakat aman.” “Masyarakat supaya tidak terpengaruh mengenai isu-isu antar kelompok, komunitas, suku, maupun agama.” Harap Andi Ibrahim saleh.

Berfoto bersama: Rombongan MABM berfoto bersama jajaran Pangdam XII
Berfoto bersama: Rombongan MABM berfoto bersama jajaran Pangdam XII (Foto Asmirizani)

Di pertengahan acara ketua umum MABM memberikan cindera mata kepada Pangdam XII sebagai kenang-kenangan. Begitu juga Pangdam XII memberikan cindera mata kepada ketua MABM. Undangan silaturahmi diakhiri dengan ramah tamah. Para undangan menikmati hidangan makan malam dengan iringan lagu-lagu. Tak luput pula Pangdam XII menyanyikan dua buah lagu untuk para undangan.

Internalisasi Nilai Budaya Damai di Kalimantan Barat

Oleh Hambali

MABMonline.org, Pontianak – Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan berkerjasama dengan Balai Kajian Sejarah Kalimantan Barat mengadakan workshop. Adapun tema yang diangkat pada workshop ini adalah “Internalisasi Nilai Budaya Damai di Kalimatan Barat”. Worksop ini dilaksanakan pada tanggal 15-17 Desember 2013 di hotel Orchardz dengan peserta dari lembaga atau instansi yang berkaitan dengan ranah kebudayaan.

Pembicara memaparkan materi (Foto Hambali)
Pembicara memaparkan materi (Foto Hambali)

Pelaksanaan workshop ini menghadirkan beberapa narasumber yang membahas budaya damai di Kalimantan Barat. Adapun narasumber tersebut yaitu Ito Prajana Nugroho, Donatius, Gusti Suriyansah, Musfeptial, dan A. Halim A.R. Beragam materi yang membahas internalisasi budaya damai di Kalimatan Barat disampaikan narasumber. “Perdamaian sebagai Titik Tengah di Antara Kepentingan Diri dan Keniscayaan Tatanan” merupakan pembahasan yang disampaikan oleh Ito Praja Nugroho. Kemudian Donatiaus menyampaikan tentang “Internalisasi Nilai Budaya Damai dalam Mewujudkan Budaya Damai”. Di samping itu tidak kalah menariknya makalah tentang “Kearifan Masyarakat Setempat dan Lokal” disampaikan oleh Gusti Suryansyah. Pemaparan makalah terakhir diisi oleh bapak A. Rahim R. tentang “Internalisai Nilai Budaya Melalui Ungkapan Tradisional”.

Tarian antar etnis pembuka workhsop
Tarian antar etnis pembuka workhsop (Foto Hambali)

Pembahasan berberapa narasumber bertujuan untuk memaparkan bagaimana internalisai budaya damai di Kalimantan Barat. Menurut Gusti Suryansah, untuk mencapai budaya damai itu hendaklah diawali dengan penanaman nilai budaya yang baik oleh masyarakat sehingga terbentuk karakter yang membawa kedamaian di suatu masyarakat atau bangsa. Hal ini terutama dengan penanaman budya lokal karena budaya lokal ini sangat berpengaruh dalam membentuk karakter masyarakat setempat.

Beberapa narasumber lainnya menyatakan bahwa budaya damai dapat juga dibentuk melalui penerapan ungkapan tradisonal dan budaya bercerita. Hal ini dikarenakan dengan penerapan tersebut menjadi sarana untuk membentuk karakter masyarakat, tidak saja di kalangan orang tua tetapi juga oleh generasi muda. Tidak dapat dipungkiri jika penerapan budaya bercerita misalnya hal ini dapat menyampaikan nilai-nilai yang baik atau mendidik generasi bangsa sejak ia kecil. Namun dirasakan saat ini  mengikisnya budaya tersebut dan generasi sekarang lebih suka terhadap teknologi yang berkembang sekarang. Jadi, tinggal bagaimana mengaplikasikan teknologi tersebut menjadi sumber kemajuan, bukan malah biang kemerosotan budaya dan karakter.

workhsop
Tema workshop “Internalisasi Nilai Budaya Damai di Kalimantan Barat (Foto Hambali)

Semoga dengan pelaksanaan workshop ini dapat menjadikan masyarakat Kalimantan Barat, Indonesia sebagai masyarakat majemuk menjadi masyakat terhindar dari keretakan kedamaian. Sehingga sejalan dengan tujuan workshop ini yakni untuk internalisasi budaya damai. Budaya yang menciptakan kerukunan dan ketentraman dalam bermasyarakat, berbangasa dan bernegara.

Kisah Sungai Seberangkai, Dulu dan Sekarang

Oleh M. Na’im / Nur Arifin Na’im

Peta Jalan Panglima Aim (Sumber: Google)
Peta Jalan Panglima Aim
(Sumber: Google)

MABMonline.org, Pontianak — Di saat hujan rintik mengguyur Kota Pontianak, saya memutuskan untuk pergi ke salah satu Kecamatan Pontianak Timur yaitu di daerah Tanjung Raya 1 untuk  mencari informasi tentang asal usul nama gang. Setelah sampai di sana saya mendatangi seorang tetua yang ada di kampung itu, yaitu Bapak Haji Ahmad Nawi. Beliau sering dipanggil dengan sebutan Abah oleh masyarakat di sekitarnya. Ketika saya datang ke rumahnya, beliau tidak ada di rumah dan anak Abah ini mengatakan bahwa Abah sedang berada di masjid yang berdampingan dengan rumahnya tersebut. Saya pun segera  menyusulnya ke masjid. Sesampainya di dalam masjid, Abah ini rupanya sedang tertidur pulas dan saya tak tega untuk membangunkannya. Kebetulan sekali ketika saya datang ke masjid itu waktu sudah mau menjelang Ashar. Kemudian saya berinisiatif untuk berbincang-bincang setelah salat Ashar saja karena waktu saya menunggu Abah untuk berbincang-bincang tidak terlalu lama.  Setelah melaksakanakan salat Ashar saya pun langsung mendatangi Abah dan langsung berbincang-bincang.

Dalam perbincangan itu saya ditemani dengan dua teman saya yaitu Mursidin dan Novi. Saya pun memulai dengan pengenalan terhadap Abah atau Pak Haji Ahmad Nawi. Abah ini lahir tahun 1902. Sampai sekarang sudah berumur 111 tahun. Namun, fisiknya masih terlihat segar. Dulunya Abah ini berasal dari daerah Jawa Timur yang bersukukan Madura. Beliau pernah bertempur melawan penjajahan Belanda di Surabaya sampai akhirnya menuju kemerdekaan Bangsa Indonesia.  Kemudian pada tahun 50-an beliau merantau ke Pontianak tepatnya di desa Seberangkai. Setelah menjelaskan tentang identitasnya Pak Haji Ahmad Nawi mulai becerita mengenai asal usul Gang Seberangkai dan Sungai Seberangkai.

“Doloknye datanglah urang dari daerah Sanggau, yaitu urang Seberangkai ke kote Pontianak Timur ini. Jadi urang Seberangkai ni membukak paret nah begitu. Waktu itu pade masa Kesultanan Muhammad Wak Neku yang berasal dari kampong dalam. Jadi karene banyak urang Seberangkai datang ke daerah sini dan membukak paret yang seperti sungai besak nye, make dari itu  gang yang menuju ke dese Seberangkai ni digelarkan Gang Seberangkai dan karene yang bukak paret seperti sungai besaknye tu orang Seberangkai make digelarkan Sungai Seberangkai. Dolok di daerah sinik ade Gang Seberangkai 2, lamak-kelamakan gang ini berubah menjadi Gang Pelita, dan berubah agik menjadi Jalan Panglima Aim sampai sekarang namenye. Mungkin name Panglima Aim tu dari pemerintah  yang berikkannye tu. Jadi supaye ade kenangnye tentang orang Seberangkai makenye Gang Seberangkai ini masih ade sampai sekarang. Nah begitulah ceritenye,” cerita Haji Ahmad Nawi.

Saya sangat takjub setelah  mendengar penuturan cerita dari Haji Ahmad Nawi tentang asal-usul Gang Seberangkai dan Sungai Seberangkai. Dengan kondisi umur yang sebegitu tua nya beliau masih mempunyai daya ingat yang begitu kuat tentang cerita-cerita masa lalu. Sementara teman yang seangkatan dengan dia semuanya sudah berpulang kerahmatullah. Sementara orang yang mengetahui cerita asal usul Gang seberangkai dan Sungai Seberangkai ini sudah semakin sedikit bahkan menurut saya di kampung itu cuma Pak Haji Ahmad Nawi lah satu-satunya orang yang masih mengetahui asal-usul gang tersebut. Karena dari beberapa informan yang saya tanyai bahkan sampai ke RT-nya tak ada yang mengetahui cerita tentang asal-usul gang dan sungai tersebut.

Saya beruntung sekali masih bisa bertemu dengan Haji Ahmad Nawi ini. Karena berkat beliau, kami bisa mengetahui bahwa kampung yang sekarang kami injak ini merupakan kampung yang dulunya dihuni pertama kali oleh orang-orang Seberangkai. Akhirnya saya berhasil menggali sebuah asal-usul suatu gang yang terancam punah, yang tak lagi orang-orang tua  mengetahuinya apalagi generasi muda. Sehingga dari penuturan yang disampaikan beliau itu, saya bisa menambah wawasan untuk bekal membagi pengetahuan saya ke generasi muda selanjutnya.

(Dokumentasi Workshop Sejarah dan Nilai Budaya Melayu Kalimantan Barat 2013)

Kain Corak Insang Khas Pontianak

Oleh: Endang Sri Rahayu Muji Rejeki

Kain Corak Insang
Kain Corak Insang (Foto: istimewa)


MABMonline.org, Pontianak 
— Sekolah kami akan ikut memeriahkan HUT Kota Pontianak yang ke-242. Untuk itu, seluruh guru dan staf serta siswa-siswi diwajibkan untuk menggunakan pakaian adat Melayu. Saya mengumumkan kepada siswa-siswi tentang pakaian yang harus dikenakan. Bagi laki-laki menggunakan baju Telok Belanga, sedangkan perempuan menggunakan baju Kurung.

“Baju Telok Belanga tu kayak gimane bu?” tanya siswa laki-laki.

“Baju Kurung tu kayak baju muslim ke bu?” tanya siswa perempuan.

Saya kebingungan menjawab pertanyaan siswa-siswi tersebut. Hal ini dikarenakan saya bukan orang asli Pontianak. Saya adalah orang dari Solo, Jawa Tengah yang tinggal di Pontianak. Tetapi karena saya juga diwajibkan menggunakan baju kurung mau tidak mau saya juga harus mencari tahu tentang baju kurung.

“Bu, baju Telok Belanga tu yang kayak gimane?” tanya saya kepada Bu Parmi salah satu guru di sekolah saya.

“Baju kemeja lengan panjang bawahannye juga celane panjang yang warnanye sama terus ditambah pake sarung corak insang,” jawab Bu Parmi.

“Kalo baju kurung tu yang kayak gimane, Bu?” tanya saya lagi.

“Kayak baju muslim be cume ndak bekancing, bawahannya pake kain corak insang,” jawab bu Parmi.

“Kain corak insang tu yang kayak gimane gak bu?” Tambah saya.

“Eh, cari jak di pasar tu banyak be.” Seru Bu Parmi.

Akhirnya saya segera meluncur ke pasar untuk mencari kain corak insang. Ketika melewati PSP saya melihat banyak toko-toko yang menjual oleh-oleh khas Kalimantan Barat. Saya mengujungi salah satu toko yang ada di sana, yang bernama Toko Batik Ulfa.

“Pak, disini ade jual kain corak insang ke?” tanya saya.

“Oh, ade Bu. Silahkan dilihat-lihat,” jawab Pak Iswansyah penjual di toko tersebut.

Sembari melihat-lihat saya bertanya tentang kain corak insang.

“Pak, kain corak insang ini kain khas Pontianak ke?”

“Iye bu, ini motif Melayu Pontianak,” jawab Pak Iswansyah.

“Kenape dikasi name corak insang, Pak?”

“Sepengetahuan saye Bu, motif kain ini terinspirasi dari insang ikan bu, makenye di kasi name motif corak insang,” jelas Pak Iswansyah.

“Motif Melayu Pontianak cume corak insang ini ke Pak?” tambah saya.

“Iye cume ini lah Bu, kalo tenun Sambas banyak motifnya. Ade motif mawar, melati, perang menang, mawar teputus, tabor awan, ular sawak, pucuk rebung, motif bintang pun ade gak. Kalo Ibu ingin tahu banyak tentang kain corak insang ibu bisa menghubungi Pak Nas rumahnya di Jl. Apel Gg. Mempelam,” jawab Pak Iswansyah.

“Oh, iye ke Pak. Makasih ye Pak, saya akan cobe datang kesana.”

Karena saya penasaran dengan sejarah kain corak insang, maka saya memutuskan untuk mendatangi rumah Pak Nas. Ternyata tidak sulit mencarinya. Setelah sampai di rumah tersebut, saya melihat ada seorang laki-laki tua yang duduk di teras rumah. Usia laki-laki tersebut sekitar 60 tahunan tetapi masih kelihatan sehat dan segar.

“Assalamualaikum…..”

“Walaikum salam”.

“Maaf Pak, benar ke ini rumahnya Pak Nas?”

“Iye Bu, silahkan masuk. Ada apa ya, Bu?”

“Maksud kedatangan saya kemari, saya ingin bertanya tentang kain khas Pontianak yaitu corak insang.”

“Ape yang ingin Ibu ketahui tentang kain corak insang?”

“Begini Pak, saya ingin mencari informasi tentang sejarah kain corak insang.”

“Menurut sejarah kain corak insang ini awalnya dipakai oleh keluarga Kesultanan Pontianak. Kehidupan mayarakat sekitar yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan menjadikan ikan sebagai media ungkapan seni, termasuk di dalamnya dijabarkan dalam kain. Perkembangan selanjutnya tenun corak insang menjadi pakaian sehari-hari masyarakat Pontianak dan berkembang menjadi berbagai corak insang, seperti: Insang Berantai, Insang Bertangkup, Insang Delima, Insang Awan, Insang Berombak dan Insang Bertapak Besar.”

“Oh, begitu ya Pak. Saya sangat berterima kasih sudah diberikan penjelasan tentang kain corak insang ini, Pak. Walaupun saya bukan orang Melayu tapi, saya juga ingin mengetahui kebudayaan Melayu karena saya tinggal di Pontianak.”

Akhirnya saya bisa merasa puas setelah bertemu dengan Pak Nas. Saya mendapatkan ilmu baru tentang kebudayaan Melayu, khususnya tentang kain corak insang.

(Dokumentasi Workshop Sejarah dan Nilai Budaya Melayu Kalimantan Barat 2013)



Acara Adat Gunting Rambut Melayu Kubu Raya

Puji syukur kehadirat Allah SWT, kami panjatkan karena berkat rahmat-Nya sinopsis tentang pengenalan adat istiadat di Kabupaten Kubu Raya dapat terselesaikan walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana. Kami menyadari bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna dan tidak mustahil jika dalam penulisan synapsis acara adat istiadat gunting rambut ini banyak kekurangan, untuk itu kami sebagai penulis synapsis ini mengharapkan adanya kritik dan saran dari para pembaca, adapun adat istiadat gunting rambut ini penulis angkat dari adat istiadat melayu Kabupaten Kubu Raya berdasarkan sumber dari data-data masyarakat yang ada.

TATA CARA GUNTING RAMBUT

Untuk melaksanakan gunting rambut tersebut dilakukan dengan upacara tepung tawar yang dilakukan oIeh orang Melayu Kabupaten Kubu Raya. Sehingga menjadi adat Melayu Kabupaten Kubu Raya sampai sekarang. Adapun kegiatan tepung tawar dilakukan pada saat anak bayi berusia 40 hari sampai 1 tahun dan dipotong rambutnya oleh tokoh agama atau alim ulama sebanyak 7 (tujuh) orang.

Sebelum ditepung tawar dilaksanakan kening, telinga, tangan dan kaki anak bayi tersebut diberi minyak bau, selanjutnya rambut anak dipotong, rambut anak tersebut disimpan disebuah kendi yang terbuat dari kelapa muda yang telah dihiasai oleh daun kelapa muda. Setelah itu anak ditepung tawar dan dihamburkan bertih dan beras kuning. Setiap orang yang memotong rambut bayi tersebut diberikan setangkai pokok telor sebagai tanda ucapan terima kasih dan ditutup dengan pembacaan do’a bersama.

PERALATAN UPACARA ADAT TEPUNG TAWAR GUNTING RAMBUT

A.  PEMBACAAN SERAKAL AL-BARJANJI

Pembacaan Serakal AI-barjanji tersebut akan mendapat pahala serta safaat dari Nabi Muhammad SAW, pada saat potong rambut tersebut.

B.  KENDI KELAPA MUDA DAN DAUN KELAPA MUDA

Kendi kelapa muda dan daun kelapa muda serta bunga yang harum sebagai wadah tempat penabur rambut, agar rambut bayi tersebut tetap suci dan harum.

C.  MINYAK BAU

Penggunaan minyak bau tersebut agar tidak disenangi oleh setan dan iblis, maka minyak bau tersebut dioleskan pada kedua telinga, kening, tangan dan kaki anak agar tidak diganggu setan dan iblis.

D. GUNTING

Gunting untuk memotong rambut anak yang sudah dihias.

E. TEPUNG TAWAR

  • Daun Ribu-Ribu dan Daun Juang

Untuk melakukan tepung tawar dipersiapkan daun ribu-ribu dan daun juang serta diikat dengan kain kuning, maksudnya agar anak tersebut berani memperjuangkan kebenaran serta pandai merangkul atau mendekatkan diri pada semua orang baik yang besar maupun yang kecil, tua ataupun muda. Dan selanjutnya menjadi seorang pemimpin jujur dan beribawa.

  • Beras Kuning dan Bertih

Beras kuning dan bertih yang ditaburkan menandai ucapan selamat atas bayi tersebut.

  • Air Tepung Beras

Air tepung beras melambangkan kemakmuran serta kesejahteraan buat anak

  • Pembuangan rambut anak tersebut dibuang pada pohon pisang yang subur agar rambut anak tersebut tetap tumbuh dan subur seperti pohon pidang tersebut
  • Bunga rampai, permen dan uang logam menandai dimulainya acara tepung tawar gunting rambut.

PELAKSANAAN GUNTING RAMBUT

Upacara ini diawali dengan pembacaan serakal dan aI-barjanji. Bagi yang akan digunting rambutnya dipersiapkan sebagal berikut:

Rambut bayi diikat dengan benang, setiap ikatan diberi bunga dan daun pandan (3, 5 atau 7 ikatan) sesuai dengan jumlah dengan orang yang akan memotong rambut anak tersebut. Begitu pembacaan bersanji sampai pembacaan kasidah berjanji yang disambut dengan asrakal dimana semua tamu berdiri, maka sang bayi dibawa keluar dan ditaburi bunga rampai yang berisikan permen dan uang logam yang diperebutkan oleh anak-anak, penaburan bunga rampai ini dimaksudkan sebagai pemberitahuan dimulainya acara gunting rambut.

Selanjutnya bayi dibawa kepada orang yang dihormati baik dari segi usia, agama dan adat istiadat. Sebelum pemotongan rambut orang yang memotong rambut membaca do’a singkat untuk anak tersebut. Gunting rambut tersebut dilaksanakan sebanyak 3, 5 dan 7 orang dan setiap yang memotong rambut diberikan pokok telur. Setelah pengguntingan rambut selesai membacakan do’a bersama.

(Penulis:  Azuarni, A.Ma)

Upacara Adat Tepong Tawar Melayu Pontianak

MABMonline.org,

 

Sinopsis :
Ta
ta Laksana Upacara Adat Tepong Tawar Melayu Pontianak
GUNTING RAMBUT”

Assalamu’alaikum hadirin hadirat sekalian,
Puji syukur kehadirat Khalikulrahman,
Shalawat dan salam selalu kita sampaikan,
Keharibaan Baginda Rasul Akhirruzzaman.

Masjid Sultan awalnya kota,
Terletak di tepi sungai bercabang tiga,
Izinkan kami berucap kata,
Amanah diberikan MABM kota.

Intan Permata menghiasi puadai,
Diikat emas pula suasa,
Bukan kami cerdik dan pandai,
Hasrat mengangkat Budaya Bangsa.

Banyak kayu perkara kayu,
Kayu Eru ditepi bukit,
Tidakkan hilang Adat melayu,
Sebelum tertangkup bumi dan langit.

Corak insang beragam warna,
Tenunan asli kita lestarikan,
Ingin mengangkat budaya bangsa,
Upacara adat tepung tawar kami tampilkan.

Tepung tawar diatas dulang,
Resam adat suku melayu,
Seni cemerlang, melayu gemilang,
Tema: Festival Seni Budaya Melayu.

  • Tepung tawar adalah salah satu kebiasaan adat yang paling utama didalam masyarakat (puak) melayu, dipergunakan hampir didalam semua upacara baik perkawinan, khitanan, gunting rambut. upah-upah (orang yang selamat dari marabahaya atau perjalanan), maupun pindah rumah atau menempati rumah baru.
  • Upacara adat tepung tawar yang hendak diketengahkan ini ialah adat tepung tawar Gunting Rambut, menurut adat istiadat masyarakat budaya melayu khusus kota Pontianak. Yang dikatakan orang melayu itu indah. Mereka yang beragama islam, yang berbahasa sehari-harinya bahasa melayu dan yang melaksanakan adat istiadat budaya melayu.
  • Pada lazimnya pelaksanaan upacara GUNTING RAMBUT ini dilakukan apabila seorang anak (Putra atau putri) belum sampai berumur 40 hari. Bagi orang tua yang akan melaksanakan upacara gunting rambut selalu memilih bulan tahun hijriah seperti bulan rabiul awal (maulud) yang disebut masyarakat melayu bulan empat sename.
  • Gunting rambut merupakan acara tunggal yang tidak ada tahap-tahapnya. Upacara inii dapat diselenggarakan secara khusus. Namun dewasa ini upacara gunting rambut biasanya diikuti (ditumpangkan) pada upacara tradisional yang lain terutama pada acara pernikahan.
  • Adapun upacara gunting rambut ini diselenggarakan untuk mengikuti sunah nabi Muhammad SAW. Sunah merupakan perkataan atau perbuatan Baginda Rasul SAW. Siapa yang mengikuti sunah ini mendapat pahala dan yang meninggalkannya tidak mendapat dosa.
  • Upacara dimulai dengan pembacaan Al-Barzanji. Isi dari pada bacaan AI-Barzanji adalah Riwayat atau sejarah Baginda Nabi Muhammad SAW. Kalimat dalam kitab Al-Barzanji ini tersusun indah dan bersifat puitis.
  • System pembacaannya dibagi atas dua bagian yaitu Bagian As-Salam Yang dibacakan sambil duduk dan bagian Asyrakal yang dibaca sambil berdiri, dan diiringi dengan pukulan Tar (Rebana) atau tampa bunyi-bunyian.
  • Pada pembacaan AsyrakaI. semua hadirin berdiri dan ketika itu pula putra atau Putri yang akan digunting rambutnya digendong keluar oleh Ibu(bapaknya), diringi dua orang perempuan (laki-laki) membawa talam (baki) yang berisi perlengkapan (kahlatan) upacara.
  • Penguntingan rambut dimulai oleh tetua (tamu-tamu) yang dipandang paling terhormat kemudian diikuti oleh tamu-tamu lain di datangi (didekati) oleh pengendong anak itu berganti-ganti kesebelah kiri kanan dari yang mengunting pertama sampai diperoleh jumlah yang dikehendaki dengan hitungan ganjil. Kemudian daripada itu setiap yang mengunting mendapatkan setangkai pokok telur sebagai tanda ingat dari pemangku adat.

Adapun kahlatan (peralatan) dan perlengkapan Tepong Tawar Upacara Gunting Rambut terdiri dari:

  1. 1 (satu) buah Ceper/Talam yang berisikan
  2. Minyak Bau yakni sejenis wewangian yang diolah dari minyak kelapa dan rempah-rempah campurannya.
  3. Bereteh (Bertik) berupa padi yang digoreng tanpa minyak sehingga berwarna putih.
  4. Beras Kuning yaitu Beras diramas dengan kunyit hingga berwarna kuning.
  5. Tepong tawar adalah tepong yang terbuat dan beras yang digiling halus dan dicampur sedikit kunyit (sebagai pewarna) serta thaduk hingga berwama kuning, kemudian ditempatkan di dalam bokor. Disebut tawar, karena sebagai penepok atau penepasnya yang terdini dan daun-daunan sebanyak T-iga, lima atau Tujuh jenis daun yang disebut PENAWAR (TAWAR). Lazimnya daun-daunan yang digunakan terdini dan lima jenis daun karena mudah didapat dan rnakna atau tamsilnya ialah:
  • Daun SENTAWAR ditamsilkan sebagai penawar segala yang berbisa atau yang beracun (Pengobat bias racun sembilu)
  • Daun SEDINGIN bermakna sebagai penyejuk hati (agar penyakit segera berlalu/sembuh).
  • Daun GANDARUSA penolak segala penyakit dari luar buatan orang atau pengusir setan tembalang.
  • Daun ATI-ATI bermakna atau melambangkan bersikap hati-hati, cermat dan teliti dalam segala hal.
  • Daun AKAR RIBU-RIBU, akarnya liut kuat tertambat, tumbuhnya menjalar (merambat) ditamsilkan apabila putra atau putri menginjak dewasa akan bersikap tawakal menghadapi cobaan dengan tekad yang kuat.

Kelima daun tersebut diikat menjadi satu dengan kain kuning, yang digunakan sebagai penepong (penepas) tawar.

B.    1 (satu) buah Ceper/Talam berisikan : sebuah gunting dan sebuah Kelapa Muda yang tampoknya diukir bintang dan air kelapanya dibuang, diganti dengan air bunga tujuh atau lima jenis yang beraroma wangi-wangian. Serta sebatang lilin kuning yang dinyalakan. ini ditamsilkan bahwa kelak meningkat dewasa/remaja putra atau putri yang digunting rambutnya senantiasa terang hatinya dalam mengikuti pendidikan dan berbudi pekerti yang berlandaskan iman dan taqwa.

Adapun tata-laksana GUNTING RAMBUT dimulai:

  1. Minyak bau dioleskan pada kening (Jidat). dibalik telinga kanan maupun kiri dan dileher dengan maksud agar terhindar dari perbuatan jahat atau gangguan syaitan jembalang.
  2. Menepung (menepas) Tawar dikepala dengan maksud agar segala niat jahat maupun rasa hasat dan dengki yang tersirat dihati, apa bila kelak putra putri telah dewasa tidak akan terlaksana, sebagai mana jenis daun-daun yang digunakan menepas atau menepung tawar.
  3. Penguntingan ujung rambut yang kemudian dibuang atau dimasukan kedalam mangkok kelapa yang telah diisi air bunga tujuh atau lima jenis, sebagai tamsil agar kelak putra putri yang digunting rambutnya disenangi oIeh masyarakat didalam pergaulan.
  4. Dilanjutkan dengan menabur Berteh (bertik) dan beras kuning pada tubuh sang anak yang pertanda isyarat agar dilindungi dari perbuatan jahat dari orang dengan memohon perlindungan kepada ALLAH Azawajalah.

Pada hakekatnya upacara GUNTING RAMBUT selain merupakan Sunattul Rasul, juga mengingatkan kita supaya selalu mentaati atau mematuhi segala perbuatan yang dilaksanakan oleh tetua leluhur turun temurun untuk mendapatkan keridhaan serta keselamatan putra-putri yang digunting rambutnya.

Demikian sekelumit penjelasan tata-laksana kahlatan (peralatan) dan makna (tamsil) dari upacara adat TEPONG TAWAR dalam prosesi upacara GUNTING RAMBUT ini ditampilkan sebagaimana yang didapat dari tetuah-tetuah adat istiadat melayu terdahulu, dan sehingga kini masih lazim dilaksanakan oleh masyarakat Melayu Pontianak.

Semoga penjelasan ini dapat menjadikan acuan dalam pelaksanaan pagelaran ADAT MELAYU PONTIANAK yang sudah tentu merupakan salah satu upaya kita untuk melestarikan adat tradisi dan budaya bangsa dengan maksud meningkatkan pembinaan, sadar serta cinta akan budaya bangsa khususnya daerah, selain mungkin dapat mengenalkan dalam meningkatkan promosi dan pemasaran pariwisata dengan keaneka ragaman budava.

Pada akhirnya :

Patah tidak dirangka tumbuh
Rupa bertunas dibalik dahan
Adat disukat hendaklah penuh
Kalau terkhilaf mohon dimaafkan

Bang taufik membeli kopiah
Untuk dipakai sembahyang waktu
Billahitaufik walhidayah
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Pontianak, Shafar 1434 H / Desember 2012

Dokumentasi Festival Seni Budava Melavu VIII Tahun 2012
Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat Pontianak.

Upacara Adat Tepung Tawar Melayu Kapuas Hulu

SINOPSIS
TATA UPACARA ADAT TEPUNG TAWAR
MELAYU KAPUAS HULU
“MELAYU BERMARWAH DI BUMI BERTUAH,
HIDUP DENGAN BERMUSYAWARAH UNTUK MENCAPAI KERIDAAN ALLAH”

Mabmonline.org — Tepung tawar sudah menjadi tradisi khas atau kebiasaan orang Melayu yang merupakan adat istiadat sejak zaman dahulu sampai sekarang, dapat digunakan dalam acara gunting rambut bayi, perkawinan, pindah rumah, khitanan dan mendapat rejeki yang banyak dan lain-lain.

Salah satunya adalah adat tepung tawar gunting rambut bayi. Menurut adat dan tradisi Melayu Kabupaten Kapuas Hulu, seorang bayi yang baru lahir mempunyai pantangan rambutnya digunting sebelum melalui acara ini, namun dalam pelaksanaan dibedakan atas dua macam, yakni ada yang dilakukan tanpa biaya, pada waktu selamatan kelahirannya digunting dalam ayunan dikarenakan kurang adanya kemampuan ekonominya, tetapi jika orang tuanya mempunyai kemampuan ekonomi pada lazimnya dilakukan dengan cara tepung tawar (serakalan), dengan 12 lagu yang berbeda setiap bait.

Adapun rangkaian acara ini sebagai berikut.

Pertama-tama dilakukan dengan pembacaan berzanji 18 shalawat dan do’a, dengan pembacaannya dilakukan secara bergiliran, pada malam hari sebelum hari pelaksanan gunting rambut (Serakalan). Kedua membaca albarzanji tiga shalawat dan shalawat ke-empat langsung dilakukan Serakalan sekaligus pelaksanaan pengguntingan rambut secara bergiliran yang dilakukan oleh sesepuh masyarakat/pemuka agama dan pemuka adat, 7 orang tua laki-laki dan tujuh orang tua perempuan juga disertakan dengan alat perlengkapan sebagai berikut:

  1. satu buah bukur berisi kelapa muda yang dipotong berbunga-bunga di bagian atasnya yang gunanya untuk menyimpan potongan rambut
  2. satu buah ciper/talam berisi air tepung tawar, beras kuning, dan sepotong besi.
  3. bunga rampai yang terdiri dari daun pandan, bunga kenanga, dan bunga yang wangi-wangian.
  4. bunga telur yang terdiri dari 14 buah dan uang dalam amplop yang dalam pelaksanaannya dibagikan sebagai ucapan terimakasih kepada yang mengunting rambut.
  5. beras kuning yang bercampur uang logam ditaburkan sebagai rasa kegembiraan kepada tamu yang hadir pada acara tepung tawar gunting rambut.

Kesimpulannya, tamu yang hadir memberi do’a restu kepada shobibul hajat, dengan niat semoga bayi menjadi anak yang soleh dan soleha, berbakti kepada orang tua, nusa bangsa dan agama sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.

 

Pantun

Membeli baju harus ditawar
Jangan dibeli terlebih dahulu
Tata Upacara Adat Tepung Tawar
Dari Kabupaten Kapuas Hulu

Wabillah hitaufiq wal hidayah wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kesenian Mendu Hibur Pengunjung Malam Budaya

Oleh Mariyadi

Salah Satu Adegan Teater Mendu (Foto Gusti Iwan)
Salah Satu Adegan Teater Mendu, Dipadati Penonton
(Foto Gusti Iwan)


MABMonline.org, Pontinak—
Malam Budaya yang di isi dengan pementasan Kesenian Mendu, Jumat malam (6/12), dipadati pengunjung. Mereka merasa terhibur dengan teater yang ditampilkan saat itu. “Ceritanya lucu. Jarang-jarang acara seperti ini digelar,” ungkap Mursidin (20), mahasiswa Universitas Tanjungpura (Untan).

Menurut Mursidin, acaranya bagus, jarang-jarang di gelar malam budaya seperti ini. Apalagi penontonnya sebagian anak muda. Dengan cara ini setidaknya bisa mengenalkan budaya Melayu khususnya di tengah gemuran budaya luar.

Hal tersebut juga disampaikan Obi Samhudi (21) yang juga mahasiswa Untan. Ia mengaku sangat terhibur dengan pementasan yang diadakan oleh MABM. Ia juga mengatakan bahwa acara ini sangat bermanfaat selain sebagai ilmu pengetahuan mengenai budaya Melayu, juga sebagai bentuk pelestarian dan pencerdasan kepada generasi muda. “Ceritanya lucu dan Malam Budayanya sungguh bermanfaat,” tambahnya.

Kesenian Mendu yang disebut teater tradisional dan lazim disebut teater rakyat, karena bermula memang tumbuh dan berkembang di tengah kehidupan masyarakat pedesaan dan masyarakat mengakui kesenian ini. Ciri-ciri teater tradisionalnya adalah adanya keterpaduan musik, tari, lagu, dialog, dan banyolan/humor. Ada pula komunikasi antara pemain dan penonton dan beberapa dialog-dialog spontan melibatkan penonton, membuat suasana menjadi akrab. Suasana menjadi bertambah hidup dan asyik oleh tingkah pemain banyolan dengan berbagai perangainya. Figur jin yang ganas dan buas, raksasa, perkelahian, tergambar pada alur cerita, biasanya menjadikan tontonan semakin menarik.

“Judul teaternya Sekuntum Bunga Serai, karena bunga serai itu identik dengan sebuah bunga yang digunakan oleh masyarakat melayu untuk mengobati macam-macam penyakit,” ungkap Sattarudin Ramli, Sutradara teater.

Menurut Sattarudin, Bunga Serai menurut cerita yang ia dengar merupakan obat yang digunakan oleh masyarakat melayu untuk mengobati beberapa macam penyakit. Bunga serai juga sangat sulit didapatkan.

Sinopsi Teater Kesenian Mendu

Seni Teater Mendu malam itu menampilkan cerita yang berjudul “Sekuntum Bunga Serai” yang mengisahkan seorang raja yang putri tercitanya sedang sakit parah, sehingga sangat sulit untuk disembuhkan.Terkecuali bila diobati dengan Sekuntum Bunga Serai. Namun, bunga serai itu sulit didapatkan karena hanya ada di mulut gua di sebuah hutan yang amat lebat dan dijaga oleh jin-jin yang ganas buas. Akhirnya raja mengirim maklumat kepada seluruh rakyatnya untuk mencari bunga serai.

Terdengar juga oleh Mak Miskin dan anaknya yang tinggal di Ujung Tanjung. Si Bujang dan Mak Miskin berusaha mencari bunga serai tersebut. Dalam perjalanan di hutan, seorang Petale Guru dari khayangan turun ke bumi membantu si Bujang dengan memberinya kesaktian. Kera-kera putih yang berada di sekitar hutan itupun bersahabat dengan si Bujang.

Walhasil, bahwa si Bujang berhasil mendapatkan bunga serai setelah berperang melawan jin-jin yang ganas. Diperjalanan pulang, bunga serai dirampas oleh seorang putra mahkota dari negri seberang dan langsung membawanya pulang ke istana raja. Namun, kebenaran jualah di atas segalanya, sementara niat dan perbuatan curang tidak akan lepas dari Murka Tuhan. Bahwa si bujang berada dalam kasih sayang Tuhan.

Kesuksesan acara tidak hanya didukung oleh para pemain yang total dalam berperan, tetapi juga didukung dengan tata panggung yang kreatif. Dekorasinya sendiri dirancang oleh Yusuf Abu Bakar yang memang sudah kawakan sejak Mendu pertama kali berdiri pada tahun 1979. Yusuf sendiri turut ambil bagian dalam cerita ini dengan berperan sebagai Mak Miskin.

Nama Kesenian Mendu Diambil dari Teater Berjudul Dewa Mendu

Oleh Mariyadi

Sang Sutradara Teater Mendu (Foto Gusti Iwan)
Sang Sutradara Teater Mendu (Foto Gusti Iwan)

MABMonline.org, Pontianak—Menurut cerita, Kesenian Mendu di ambil dari nama sebuah kesenian yang berjudul Dewa Mendu. “Kesenian ini berasala dari Mempawah,” ungkap Satarudin Ramli, sang sutradara teater.

Satarudin Ramli, mengatakan, menurut sejarah, kesenian mendu telah ada sekitar tahun 1871 lalu. Kesenian tersebut diawali dengan 3 orang putra Mempawah dari kampung Malekian desa Semudun yang bernama Ahmad Antu, Ahmad, dan Kapot, mengabdikan diri guna memajukan masyarakat di lingkungannya dengan masing-masing keahlian atau keterampilan yang mereka kuasai. Ahmad Antu mengajar silat mengajar pencak silat. Ahmad memberantas buta huruf mengajarkan tulis baca abjad dan Kapot mengajar mengaji.

Satarudin menambahkan, pada waktu luang, selesai mereka mengabdi, mereka bersama murid-muridnya sering berlatih kesenian. Sampailah pada suatu ketika saat mereka menampilkan hasil berlatih, meraka kebingungan memberi nama kesenian yang akan mereka tunjukan saat itu. secara tidak kebetulan judul cerita yang diangkat saat itu adalah Dewa Mendu dan akhrinya mereka sepakat bahwa kesenian ini di beri nama kesenian mendu.

Selanjutnya kesenian Mendu terus berkembang serta hidup subur di kalangan masyarakat setempat hingga terdengar oleh pihak kerajaan Mempawah dan raja pun ingin menyaksikan Kesenian Mendu. Ternyata raja sangat tertarik dan menyukai sekaligus menyatakan bahwa kesenaian mendu merupakan kesenian milik rakyat di kawasan Mempawah. “Itulah sepintas kilas asal kesejarahan kesenian mendu,” pungkas Satarudin.

Kashmir: Karakter Bangsa Harus Ditanamkan

Oleh Mariyadi

Sambutan Ketua Harian MABMKB  (Foto Gusti Iwan)
Sambutan Ketua Harian MABMKB
(Foto Gusti Iwan)


MABMonline.org, Pontianak—
“Karakter bangsa bukan nasib, bukan takdir, bukan sesuatu yang tersedia dengan sendirinya.” Demikian ungkap Kashmir Bafiroes selaku Ketua Harian MABM KB dalam kata sambutannya pada pembukaan Malam Budaya yang diadakan Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat (MABM KB) dengan difasilitasi Ditjen Nilai Sejarah dan Budaya-Pusat Pengembangan SDM Kemendikbud RI, di Rumah Adat Melayu, Jumat malam (6/12),

Menurut Kashmir, karakter bangsa harus ditanamkan di dalam diri anak bangsa. Ia adalah ikhtiar, tugas yang harus dijalankan bersama oleh seluruh elemen bangsa. Beliau juga mengatakan karakter bangsa harus diinternalisasi, dibangun dan dibentuk di dalam diri anak bangsa terutama nilai-nilai budaya.

Kashmir mengatakan, acara malam ini sesuai dengan visi dan misi MABM KB  untuk terus menggali, melestarikan dan mengembangkan budaya Melayu yang belakangan ini mulai tergerus oleh era modernisasi. “Seperti yang kita tahu masyarakat saat ini sepertinya kehilangan jati diri dan lupa dengan budaya bangsanya,” pungkas Kashmir.

Kashmir juga mengatakan bahwa dalam kesempatan yang berbahagia ini, MABM KB mengajak mulai dari sekarang dan untuk kita semua, mari kita junjung tinggi budaya kita, budaya Melayu, cintai dan hargai budaya kita.