Melirik Gaya Arsitektur Melayu Pontianak di Pesisir Kapuas

Oleh Siti Munawara

Gerimis kecil menemani langkah saya saat memasuki salah satu kampung di kota Pontianak, tepatnya di kampung Bansir Laut Kecamatan Pontianak Tenggara. Kampung ini berada di pesisir sungai Kapuas dan bersebelahan dengan Jembatan Kapuas. Kampung ini bisa dimasuki dari berbagai gang atau kompleks yang berada di sepanjang Jalan Imam Bonjol. Dengan langkah hati-hati, saya meniti jalan gertak yang agak licin karena diguyur hujan. Jalan gertak ialah jalan kecil yang sangat khas dari kampung yang terdapat di tepian Kapuas, jalan ini terbuat dari kayu belian yang terkenal sangat kuat dan kokoh. Walaupun pada saat ini sebagian jalan gertak telah berubah menjadi jalan semen menggantikan kayu-kayu yang telah lapuk di makan usia.

Masjid bersejarahKampung Bansir Laut dihuni oleh mayoritas suku Melayu dengan beberapa hasil pernikahan campuran Bugis, Arab, dan Tambi. Rumah-rumah panggung di daerah ini dibangun oleh Tuan-tuan atau Syech-syech yang awalnya membuat perkampungan di sini. Seperti sejarah asal namanya sendiri Kampung Bansir Laut dinamakan itu karena orang pertama yang membuka perkampungan ini ialah Syech Ahmad Bansir. Mengikut petuah orang zaman dahulu maka dari itu kampung ini dinamakan kampung Bansir dan karena terletak di pinggir sungai Kapuas disebut Laut sesuai dengan sebutan orang Melayu yang menyebut sungai sebagai Laut (laot).

Situs bersejarah di daerah ini ialah Masjid Baitul Makmur yang merupakan masjid tertua di sini karena di bangun setelah pembangunan Keraton Kadriah di Kampung Dalam Bugis selesai. Hal ini sesuai dengan penuturan Ibu Titin yang merupakan keturunan langsung dari Syech Unud Abdurrachman. “Masjid Baitul Makmur itu juga masjid terua di sini, namun sudah banyak perubahan karena sering direnovasi, masjid itu dibangun setelah Keraton Kadriah selesai dibangun”, jelas perempuan berdarah Arab ini dengan ramah.

Dewasa ini, memang sulit sekali ditemui rumah panggung khas Pontianak yang asli. Rumah-rumah di tepian Kapuas yang dulunya merupakan rumah panggung yang seluruhnya terbuat dari kayu belian asli sudah banyak berubah menjadi rumah-rumah dengan bata semen dan lantai keramik. Walaupun masih ada beberapa yang masih mempertahankan bentuk aslinya seperti yang terdapat di Kampung Bansir Laut tepatnya di rumah Ibu Titin Sumarni. Rumah panggung dari keluarga Bu Titin telah ada sejak jaman penjajahan dahulu dan dibangung oleh moyangnya yang bernama Syech Unud Abdurrachman.

Rumah panggung yang dijadikan sebagai sanggar rias ini telah diwariskan secara turun-temurun dan masih kokoh berdiri hingga saat ini. Fondasi rumah berbahan kayu belian asli yang terkenal sebagai kayu kelas 1 terbaik. Rumah dengan luas sekitar 30 meter ini masih megah dan tegap walau telah bertahan di atas tanah yang di aliri air sungai Kapuas. Dari luar, bisa dilihat rumah panggung ini begitu luas dan tinggi sesuai dengan namanya “Rumah Panggung”. Ada beberapa anak tangga yang harus dilewati untuk sampai ke teras rumah. Anak tangga yang sekarang berjumlah sekitar 10 buah anak tangga sedangkan yang aslinya dulu ada 30 buah anak tangga yang harus dijajaki untuk sampai ke atas atau teras rumah. “Ya, dulu itu ada 30 buah tangga, kalau sekarang agak pendek karena halamannya udah di semen,” ujar Bu Titin.

rumah_panggungMemasuki teras rumah sudah dapat dilihat lantainya terbuat dari kayu belian yang tebal dan kuat, terlihat sangat kokoh tidak ada tanda-tanda lapuk walau telah ratusan tahun. Semua unsur fondasi rumah terbuat dari belian mulai dari lantai papan, dinding, tiang dan rangka atapnya. Tebing layar depan juga terbuat dari kayu belian dengan ukiran khas Melayu seperti yang terdapat di Keraton Kadriah. Tidak salah jika rumah ini masih tetap bertahan walau berada di atas tanah yang dialiri sungai Kapuas, karena sebagaimana yang kita ketahui kayu belian terkenal sangat kuat dan kokoh walau terendam air sekalipun.

Memang kayu belian terkenal sangat kokoh namun seiring usia dan perkembangan zaman, rumah-rumah panggung yang yang terdapat di tepian Kapuas sudah banyak yang mulai roboh dan lapuk karena kayunya yang dimakan oleh beberapa jenis hewan pemakan kayu yang terdapat di tanah-tanah sungai.

Rumah panggung ini biasanya direnovasi kembali oleh pemiliknya dengan menggunakan semen dan batu agar lebih kuat namun tetap mempertahankan yang asli jika masih bagus, seperti lantai papan atau pancang kayu yang masih kuat tetap dipertahankan.