Disdikbud Gelar FLS2N se-Kalbar

Oleh Gusti Iwan

Mabmonline.org, Pontianak — Pada hari Senin (28/4) kemarin Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar menggelar Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Kalbar di Rumah Radakng Jl. St. Syahrir Pontianak.

(foto Gusti Iwan)
(foto Gusti Iwan)

Kegiatan ini baru pertama kali digelar dengan melibatkan 13 sekolah perwakilan kabupaten/kota se-Kalbar. Kegiatan yang diadakan antara lain pameran dan berbagai perlombaan, di antaranya lomba menari, lomba tari berpasangan dan festival drum band.

(foto Gusti Iwan)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selasa (29/4) kemarin, para finalis drum band kembali bertanding untuk memperebutkan gelar juara. Finalis drum band yang bertanding berasal dari utusan SMK SMTI Pontianak, MA Darussalam Sengkubang, SMA Mujahidin Pontianak, SMA Bina Mulia, dan SMA Negeri 7 Pontianak.

(foto Gusti Iwan)
(foto Gusti Iwan)

 

 

 

 

 

 

 

 

Penonton yang menyaksikan pertandingan final terlihat sangat antusias, mereka yang datang terlihat kagum atas penampilan para finalis, dan diantara penonton juga tampak para pendukung masing-masing sekolah bersemangat bersorak memberikan dukungannya.

(foto Gusti Iwan)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mustarudin selaku Ketua Panitia yang juga menjabat Kepala Bidang Pendidikan Menengah Disdik Kalbar menyatakan bahwa kegiatan ini sebagai ajang atau kesempatan bagi siswa untuk berkompetisi dan menjadi langkah pembentukan karakter pelajar.

(foto Gusti Iwan)

FKIP Gelar Seminar bagi Sarjana Baru

Para pembicara dan moderator sedang bersiap memulai seminar (Foto: Sabhan)
Para pembicara dan moderator sedang bersiap memulai seminar (Foto: Sabhan)

Oleh Sabhan Rasyid

MABMonline.org, Pontianak— Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Untan menggelar seminar bagi lulusan-lulusannya hari ini, Senin (28/4). Kegiatan yang digelar oleh IKA (Ikatan Keluarga Alumni) FKIP Untan tersebut digelar di aula lantai 3 Rektorat Untan. Kegiatan seminar ini mengangkat tema “Membangun Kultur Sekolah yang Kreatif dan Berkarakter”. “Semoga setelah diwisuda nanti, semua dapat membuat kultur sekolah yang bermutu,” ungkap Aunurrahman selaku ketua IKA FKIP Untan.

Kegiatan yang mendatangkan pembicara-pembicara dari kalangan dosen FKIP Untan ini dihadiri oleh 300 lulusan FKIP Untan periode III. Pembicara-pembicara yang terlibat dalam kegiatan tersebut, yaitu Dr. Aswandi sebagai keynote speaker, Prof. H.M. Asrori sebagai pembicara pertama, dan Dr. Rahayu sebagai pembicara kedua. Seminar ini merupakan acara rutin bagi lulusan FKIP yang telah berhasil membuktikan bahwa mereka mampu melewati masa studi di FKIP Untan. “Hari ini merupakan pembuktian bahwa Anda semua mampu menyelesaikan studi sampai saat ini,” ungkap Aunurrahman.

Acara dimulai pukul 08.00 pagi diawali dengan doa dan peserta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.  Aswandi sebagai keynote speaker melanjutkan rangkaian acara tersebut dengan memaparkan beberapa hal terkait motivasi dan pendidikan bagi para peserta. Aswandi menyampaikan kepada para peserta untuk selalu memiliki harapan dan memberikan harapan kepada orang lain agar bisa sukses. “Kita semua harus menjadi orang yang selalu memberikan harapan,” papar Aswandi dalam penyampaian seminarnya.

Aswandi juga berpesan kepada lulusan-lulusan yang merupakan calon pendidik dan pendidik untuk selalu kreatif dalam memberikan pelajaran di ruang kelas kepada siswa. “Guru yang kreatif adalah guru yang selalu berorientasi pada murid,” tambah Dekan FKIP Untan tersebut.

Setelah penyampaian sambutan serta materi kepada para peserta oleh Aswandi, kegiatan seminar tersebut dilanjutkan dengan penyampaian materi secara panel oleh kedua pembicara. Asrori selaku pembicara pertama mengangkat judul “Memanusiakan Manusia Kreatif melalui Pendidikan yang Manusiawi” dan Rahayu selaku pembicara kedua mengangkat judul “Membangun Kultur Sekolah yang Aman dan Peduli”. Kegiatan tersebut secara utuh terlaksana hingga pukul 11.00 pagi  yang diakhiri dengan pengarahan dari Achmadi selaku Pembantu Dekan III FKIP Untan.

Hikayat Nenek Demang Nutup (Demang Bruik)

oleh: Yati Herdayanti

Dahulu kala, Bukit Belun yang berada di Nanga Tepuai dan Bukit Amapan yang berada di Nanga Pedian adalah dua bukit yang bersatu. Tingginya hampir mencapai langit. Untuk naik ke langit cukup menggunakan akar beruru (sejenis akar hutan). Akar beruru tersebut, sering digunakan oleh Demang Nutup (orang kayangan) untuk turun ke bumi.

Pada suatu hari anak Denang Nutup sangat ingin makan ikan. Karena hastrat anaknya tersebut turunlah Demang nutup ke bumi, menuju ke suatu lubuk yang bernama Sarai Dalip. Ia membawa perlengkapan seperti jala, beriut (sejenis anyaman dari rota yang berfungsi seperti tas) untuk membawa ikan ke kayangan.

Sesampai di lubuk Sarai dalip, Demang Nutup pun menebarkan jalanya ke sungai. Ia banyak sekali mendapatkan ikan tamun (sejenis ikan sepat). Setelah banyak mendapatkan ikan, ia kembali ke kayangan. Tiba di kayangan ia memasak ikan tamun tersebut. Selesai memasak, ia menyuruh anaknnya untuk makan. Anaknya pun mulai memakan ikan tamun tersebut. Karena kurang hati-hati, anaknya ketulangan ikan. Demang Nutup berusaha meneluarkan tulang ikan di kerongkongan anaknya, namun tidak berhasil. Melihat kejadian tersebut, Demang Nutup sangat marah. Karena marahnya Demang Nutup pun berniat untuk mengangkatkan bukit beluan untuk menutupi sungai Embau agar manusia tidak bisa melewati sungai tersebut.

Setelah jauh ia mengangkat bukit tersebut, ia bertemu dengan kawannya di Lokan Maram, kawannya tersebut memanggilnya.”O…. Demang Nutup hendak kemanakah engkau? singgahlah Demang Nutup ke tempat orang tersebut yang sedang duduk di Lokan Maram yang berada di belakang Nanga Pedian. mereka berdua pun bercerita. Ketikan Demang Nutup hendak meneruskan perjalanannya mengangkat bukit, tiba-tiba bukit tersebut terbenam di Lokan Maram dan tidak dapat diangkatnya lagi.

Kemudian Demang Nutup pun berangkat ke hilir Emabau dan singgah di Ntilang Bosi, nama suatu tempat di hilir Jongkong. Demang Nutup pun membuat pondok di tempat tersebut untuk bercocok tanam. Sambil bercocok taman, ia membuat membuat perahu untuk berangkat ke Jawa, karena ia ingin bertemu dengan raja Cina. Ia membuat perahu dari kayu tangkung bekakak. Laju perahu tersebut ibarat besi dijatuhkan dan haluan dapat ditangkap di kemudi perahu. Di bawah perahu tersebut ia membuat semacam sebuah tempat yang dapat digunakan untuk membawa peralatan.

Setelah perahu tersebut selesai, Demang Nutup menjemur padi di Ntilang Bosi. Kemudian ia berangkat ke Jawa. Setelah sampai ke tanah Jawa, ia disambut oleh raja Cina. Ia dijamu dengan makanan oleh raja Cina. Pada waktu jamuan makan tersebut, Demang Nutup ditanya oleh raja Cina nama serta asalnya. Demang Nutup menceritakan bahwa dia berasal dari Kalimantan Barat.

Setelah ia kembali dan hadapan raja tersebut, raja Cina memerintahkan kepada prajurit untuk memperlakukan Demang Nutup dengan baik. Pada suatu hari, pelayan raja Cina mengantar makanan Demang Nutup ke perahunya. Namun setelah selesai, semua peralatan makan yang ia gunakan tidak pernah dikembalikan. Rupanya piring tersebut dimasukannya ke bawah perahunya. Begiti seterusnya sampai beberapa hari.

Melihat kejadian tersebut, raja Cina curiga dan bertanya kepada Demang Nutup, kenapa piring, cawan yang engkau pakai tidak pernah engakau kembalikan kepada kami, Nenek Demang Nutup menjawab bahwa ia tidak tahu.

Karena curiga, Raja Cina menangkap dan menahan Demang Nutup. Dalam perjalanan ke tahanan Demang Nutup sempat mencabut keris Majapahit dan menancapkannya ke pohon pisang jawa. Seketika itu, hari pun menjadi gelap seolah-olah malam terus dan tidak pernah siang kembali. Melihat kejadian itu, raja Cina pun menjadi heran. Ia menduga pasti ini ada kaitan dengan kekuatan dari orang yang mereka tangkap.

Akhirnya Demang Nutup pun dibebaskan oleh mereka. Raja Cina bertanya kepadanya perihal penyebab hari yang terus-menerus gelap selama Demang Nutup berada dalam tahanan. Demang Nutup menjawab, baiklah kalau begitu, tapi aku memiliki syarat kepada kalian. Apa yang engkau syaratkan, kata raja Cina, keris Majapahit yang aku tancapkan di pohon pisang Jawa yang menyebabkan hari selalu gelap aku berikan kepada kalian. Piring yang aku pakai untuk makan, aku membawanya pulang ke Kalimantan. Raja Cina pun menyanggupi syarat tersebut. Kemudian Demang Nutup kembali ke Kalimantan dan singgah di Ntilang Bosi dan berumah tangga di tempat itu.

Anak-anak dari nenek Demang Nutup tidak ada yang menjadi manusia, tetapi menjadi buaya di Sungai Kapuas. Karena itu orang Embau tidak pernah mati dimakan buaya, karena asal keturunan mereka dari nenek Demang Nutup.

Kapolda: Kita Akan Kawal Semua Sampai Penghitungan

Kapoda Kalbar dan Pangdam XII/Tpr saat meninjau TPS 86 (Foto: Sabhan)
Kapoda Kalbar dan Pangdam XII/Tpr saat meninjau TPS 86 (Foto: Sabhan)

oleh Sabhan Rasyid

MABMonline.org, Pontianak— Pelaksanaan Pemilihan Umum Anggota Legislatif (Pileg) di penjuru tanah air, khususnya di Pontianak telah berlangsung dengan lancar. Pelaksanaan pesta demokrasi ini merupakan serangkaian kegiatan dalam rangka memilih anggota legislatif untuk lima tahun ke depan. Semua unsur keamanan di Kalimantan Barat juga ambil bagian dalam proses pengamanan pemilu tahun ini. “Kita akan mengawal semuanya sampai tuntas,” ungkap Brigjen (Pol) Arie Sulistyo ketika meninjau lokasi TPS 86 di sekitaran kediaman Gubernur Kalbar.

Kapolda Kalbar yang didampingi Pangdam XII Tanjungpura, Mayjen Ibrahim Saleh meninjau langsung keadaan TPS-TPS di Pontianak termasuk TPS 86 yang menjadi tempat gubernur dan keluarga menggunakan hak pilihnya. Sejumlah pejabat kepolisian dan Kodam XII/Tpr juga terlihat ikut dalam rombongan (9/4).

Terkait pelaksanaan pemungutan suara (9/4), Pangdam XII/Tpr mengungkapkan pihaknya dan Kapolda akan membantu seutuhnya mengawal kegiatan pemilu. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan KPU dan Bawaslu terkait kesiapan surat suara dan logistik pemungutan suara. “Kita sudah dapat informasi dari KPU dan Bawaslu bahwa surat suara dan logistik sudah terdistribusi semua,” ungkap Mayjen Ibrahim Saleh kepada wartawan.

Pelaksanaan pesta demokrasi di Indonesia saat ini memang menjadi kegiatan yang sangat besar sehingga diperlukan kerja sama yang baik antara pihak penyelenggara, yaitu KPU dan pihak keamanan dari Polda Kalbar dan Kodam XII Tanjungpura, serta seluruh masyarakat Kalbar yang menjadi ujung tombak keamanan di daerah-daerah. “Kita berusaha agar semuanya berjalan lancar dan aman dan sampai saat ini masih bisa berjalan dengan baik,” ujar Pangdam XII Tanjungpura.

 

 

TPS 86 Diserbu Awak Media

kapolda-pangdam-kalbar
oleh Sabhan Rasyid

MABMonline.org, Pontianak— Pelaksanaan pemilihan umum legislaif (Pileg) resmi dimulai Rabu, 9 April. Agenda pemilihan dilaksanakan serentak di ribuan TPS. Kesibukan warga dan panitia pemungutan suara juga terlihat di TPS 86 yang beralamat di Gang Pak Majid I Jalan Danau Sentarum Pontianak Kota.

Para awak media sejak pagi sudah memenuhi TPS 86 tersebut. Pasalnya, orang nomor satu di provinsi ini akan menggunakan hak pilihnya di TPS tersebut. Semua juru tulis tersebut menunggu kehadiran Cornelis dan keluarga yang tiba di TPS pada pukul 10.25. Sebagaimana di pusat, lokasi pemungutan suara para pejabat memang selalu menjadi objek berita para wartawan di berbagai daerah.

Sejak pukul 9 pagi, pihak Polda dan Kodam XII/Tanjungpura Kalbar telah meninjau dan memastikan keamanan di lokasi TPS 86. Sejumlah pasukan keamanan diturunkan untuk memastikan kesiapan dan keamanan di TPS yang terletak di Jalan Danau Sentarum tersebut.

Kapolda Kalbar, Brigjen (Pol) Arie Sulistyo menegaskan bahwa pihaknya bekerja sama dengan Pangdam XII/Tps mengawal pelaksanaan pemilu ini, sejak pencoblosan hingga tuntas penghitungan suara. “Semua masih berjalan lancar, kami akan mengawal semua ini sampai tuntas,” pungkas mantan orang nomor dua era Kapolda yang menjadi caleg DPR RI, Erwin Tobing.