Halal Bi Halal MABM: Sarana Mempererat Silaturahmi

Para undangan Halal Bi Halal dari kalangan perempuan Melayu (Foto: Sabhan)
Para undangan Halal Bi Halal dari kalangan perempuan Melayu                (Foto: Sabhan)

 

Oleh Sabhan Rasyid

MABMonline.org, Pontianak—Halal Bi Halal Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat diselenggarakan hari ini, Minggu (24/8). Kegiatan ini dihadiri oleh ratusan undangan dari berbagai kalangan. Acara Halal Bi Halal ini dilengkapi dengan acara tausiyah yang disampaikan oleh Dr. H. Muhammad Haitami Salim, S.Ag. yang juga merupakan Sekretaris Dewan Pemangku Adat MABMKB.

Dalam tausiyahnya Haitami membuka dengan menyampaikan prinsip utama dari pelaksanaan Halal Bi Halal, yaitu memperbaiki silaturahmi yang mungkin selama ini keruh. Menurutnya, Halal Bi Halal harus menjadi momen untuk menciptakan kualitas silaturahmi yang mungkin saja pernah kurang baik. Hal ini dianalogikan seperti meluruskan benang yang pernah kusut. “Halal Bi Halal bagai meluruskan benang yang kusut,” paparnya kepada ratusan hadirin.

Haitami juga mengungkapkan bahwa jika ingin menjalin silaturahmi, seseorang harus memosisikan diri bagai satu perut dengan orang yang diajak bersilaturahmi agar segala bentuk kasih saying dapat dijalin dengan lebih sempurna. Sarana silaturahmi yang dianggap sebagai satu perut oleh Haitami bagi orang Melayu adalah keberadaan MABMKB. “MABM merupakan perut etnik puak Melayu untuk menjaga ikatan persaudaraan,” tambah dosen IAIN ini.

Pemaparan tentang silaturahmi disampaikan Haitami dengan bersemangat di hadapan para hadirin. Hal ini tampak dari kegiatan tausiyah yang dilakukan di hadapan hadirin langsung, bukan di atas mimbar. Berkaitan dengan silaturahmi Haitami juga menyampaikan pesan Rasulullah tentan silaturahmi. “Pesan Rasulullah bahwa jika ingin panjang umur dan rezeki, tautlah silaturahmi,” ungkap Haitami.

Melalui kegiatan Halal Bi Halal MABM ini, para tokoh Melayu dan masyarakat dalam senantiasa menjaga keutuhan silaturahmi antarsesama. Haitam di akhir tausiyahnya berpesan kepada seluruh hadirin agar selalu konsisten dalam menjaga silaturahmi. ”Kalau mau puak Melayu maju, kalau persaudaraan mau tetap terjaga, hindarilah berprasangka dan bertaubatlah,” pungkas Haitami.

Ratusan Undangan Ramaikan Halal Bi Halal MABMKB

Chairil Effendy Ketua Umum MABMKB (Foto: Sabhan)
Chairil Effendy Ketua Umum MABMKB (Foto: Sabhan)

Oleh Sabhan Rasyid

MABMonline.org, Pontianak—Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat (MABKB) menggelar Halal Bi Halal di Balairungsari Rumah Melayu Pontianak, Minggu (24/8). Kegiatan pasca Idul Fitri ini digelar dengan tujuan utama meningkatkan kualitas hubungan silaturahmi antarsesama masyarakat Melayu. Ratusan undangan dari berbagai kalangan meramaikan kegiatan Halal Bi Halal tersebut yang dimulai pukul 10.00 pagi.

Undangan yang hadir dalam Halal Bi Halal MABM ini, seperti kepala daerah kabupaten/kota, pengurus MABMKB, Dewan Penasehat MABMKB, Dewan Pemangku Adat MABMKB, pengurus MABM kabupaten/kota, tokoh perempuan Melayu, serta awak media. Kegiatan ini dimeriahkan oleh alunan musik tanjidor, tarian dari Sanggar Andari, serta lantunan lagu-lagu Melayu.

Kegiatan Halal Bi Halal ini juga sebagai bentuk aplikasi positif dari dampak pelaksanaan puasa Ramadhan, yaitu menjaga silaturahmi. “Halal Bi Halal ini sebagai bukti bahwa puasa Ramadhan kemarin berdampak untuk sebelas bulan setelahnya,” ungkap Chairil dalam sambutannya.

Dalam sambutannya di awal acara Halal Bi Halal, Charil juga menyampaikan informasi terkait pelaksanaan FSBM X yang rencananya akan digelar di Kabupaten Kapuas Hulu. “Kegiatan FSBM X yang semula direncanakan digelar pada bulan Oktober dengan berbagai pertimbangan harus kita undur ke bulan Desember sesuai dengan informasi dari ketua panitia FSBM,” papar Chairil.

Momen Halal Bi Halal ini juga menjadi ajang saling berdiskusi ringan antar sesama pengurus MABM baik DPP maupun MABM dari kabupaten/kota terkait FSBM X. Chairil juga mengimbau kepada semua pengurus MABM kabupaten/kota untuk segera mempersiapkan semuanya demi kelancaran FSBM X di Kapuas Hulu. “Semua MABM kabupaten/kota diharapkan dapat mempersiapkan diri agar pelaksanaan FSBM nanti dapat berjalan lancar,” pungkas Chairil dalam sambutannya.

 

Sejarah Singkat Masjid Al-Jihad

Masjid Al-Jihad Pontianak (sumber: scyscapercity.com)
Masjid Al-Jihad Pontianak (sumber: scyscapercity.com)

 

oleh Adi Supriadi

MABMonline.org–Berbicara masalah masjid adalah hal yang saya sukai karena masjid adalah tempat ibadah yang Allah senangi dan masjid juga biasa saya gunakan sebagai tempat beristrirahat sejenak ketika badan terlalu letih menjalani aktivitas seharian sekaligus salat jika sudah masuk waktu salat. Ibarat kata sambil menyelam minum air. Jadi, saya bisa mendapatkan dua keutamaan, yaitu melakukan shalat dan badan menjadi lebih segar.

Seperti biasa ketika saya pulang kuliah dan belum melaksanakan shalat zuhur, saya singgah di sebuah masjid, yaitu masjid Al-jihad. Bangunan masjidnya unik karena bangunannya dominan menggunakan kayu. Akhirnya, saya mencoba mencari siapa orang yang banyak mengetahui bagaimana sejarah masjid yang bangunannya didominasi dengan menggunakan bahan-bahan kayu. Setelah mencoba bertanya kepada orang-orang yang berada tidak jauh dari masjid. Saya bertemu dengan Pak Juju, yaitu orang yang biasa mengurusi masjid Al-jihad ini selama puluhan tahun karena usia Pak Juju sendiri adalah 73 tahun. Kemudian saya banyak bertanya kepada Pak Juju.

“Bagaimana sejarah masjid Al-jihad ini pak?” tanya saya.

Masjid Al-Jihad adalah satu di antara masjid yang bercorak Melayu yang terdapat di Kota Pontianak. Masjid ini terletak di sudut pertemuan Jalan Sultan Abdurahman dan Jalan Sumatra yang sekarang nama jalannya adalah Jalan Gusti Johan Idris. Sejarah Masjid Al- jihad dimulai pada tanggal 12 maret 1964 dan diresmikan/pertama kali untuk shalat jumat pada tanggal 29 oktober 1964 . Pendiri awal atau sebagai ketua umum yang bertanggung jawab pada pembangunan masjid Al-jihad ini adalah Bapak Drs. Ahmad Din. Pada tahun 1965an dengan bertambahnya jamaah masjid Jihad diperluas dengan memanfaatkan halaman yang masih kosong. Perluasan yang dilakukan mengakibatkan masjid yang bentuk asalnya tidak tampak lagi. Dalam kurun waktu 25 tahun usianya, keadaan masjid sudah tidak memadai lagi ditinjau dari sudut kondisi bangunan maupun daya tampungnya. Maka pengurus masjid Jihad pada tahun 80an yang di ketuai oleh H Eddy Mangkuprawira, S.H. memutuskan untuk merombak bangunan lama dan mendirikan bangunan baru. Berkat bantuan berupa hibah tanah dari saudara Baromas Jabang Balunus ( non islam ) dan Wan Ali warga setempat luas tanah menjadi 850 m2.

Desain bangunan maupun arsiteknya sengaja dipilih bercirikan kebudayaan Kalimantan Barat. Keunikan masjid ini dibangun dengan memadukan tiga unsur budaya, yaitu Melayu, Dayak dan juga Jawa. Dari segi bangunan, masjid Jihad merupakan representasi bangunan Melayu, tetapi di ujung-ujung atap masjid terdapat ukiran-ukiran khas dayak dan tiang-tiangnya dibumbui ukiran-ukiran khas dari budaya jawa.

“Apa saja fasilitas yang terdapat di masjid ini?”

Di samping ruang shalat, masjid inipun dilengkapi pula dengan ruang tunggu khotib dan imam, ruang sound sistem, ruang kantor dan perpustakaan. Tersedia juga kamar mandi dan WC serta tempat wudhu tertutup asing-masing untuk pria dan wanita. Terdapat juga tempat wudhu terbuka pada dua tempat sekaligus bisa digunakan oleh 12 orang jama’ah.

“Apa saja fungsi dari masjid ini?” lanjut saya menggali informasi.

Fungsi masjid Al-jihad tidak hanya terbatas untuk shalat lima waktu dan shalat jum’at saja. Melainkan berfungsi pula sebagai sarana pendidikan TPA (Taman Pendidikan Al-qur’an), perpustakaan, tempat upacara pengislaman, akad nikah dan walimahan, merayakan hari besar islam dan untuk kegiatan IRMA (Ikatan Remaja Masjid).

“Apa harapan Bapak untuk masjid Al-jihad kedepannya?” tanya saya menutup wawancara singkat.

Harapannya karena masjid ini terbuat dari kayu maka biaya perawatannnya lebih besar daripada masjid-masjid yang  terbuat dari dinding semen. Diharapkan kepada para dermawan atau para donatur lebih memperhatikan masjid ini. Alasannya, karena masjid ini adalah satu diantara kecintaan kita terhadap kebudayaan tradisional Indonesia. Diantaranya masjid ini adalah perpaduan budaya Dayak, Melayu dan Jawa. Diharapkan masjid ini akan tampil memukau dan dapat bertahan sepanjang masa.

 

 

Hilangnya Generasi Penenun Pontianak

oleh Gusti Eka Firmanda

MABMonline.org–Hujan mulai turun membasahi sekujur tubuh, tetapi tidak menghentikan langkah kami siang itu, Senin (2/12) pukul 14.00. Saya bersama dua rekan lain, pergi ke sebuah rumah milik Anas pengusaha tenun asal Sambas di jalan Apel, Gang Mempelam, Pontianak. Bel kami bunyikan, tidak menunggu lama pria paruh baya keluar. Ia menyambut kami dan mempersilakan kami untuk masuk kerumahnya yang sederhana itu.

Anas merupakan pengusaha tenun yang masih tersisa kini. Ia menggeluti usaha tenun ini sejak ia menjadi guru di sekolah Kampung Semberang, Kabupaten Sambas dan kini pria yang sudah berumur 70 tahun ini masih giat mengumpulkan hasil tenun para pengrajin tenun di Kab. Sambas untuk di jual kembali.

Anas mengatakan usaha tenun di Pontianak sudah tenggelam. “Kalau penenun Pontianak itu mereka pakai benang emas yang silver putih jadi sulit sekali membuatnya. Pernah saya lihat tahun 1963/1965 masih ada yang nenun di Lembah Murai menggunakan benang emas silver, di Kampung Kapur juga ada itu terakhir saya lihat,” kata Anas sambil tersenyum.

Anas juga mengatakan keberadaan penenun di Pontianak sudah jarang sekali terdengar. kemungkinan lesunya usaha tenun di Pontianak ini dikarenakan kesalahan dari masyarakat yang tidak mau melestarikan unsur budaya ini.

Berbeda dengan di Kabupaten Sambas yang kental dengan budaya Melayu, di sana menurut Anas para penenun masih melestarikan kebudayaan ini dan dijadikan industri rumahan. “Di Sambas tenun masih dilestarikan. Jadi, masih banyak terdapat para penenun di sana,” cerita Anas.

Anas juga menambahkan di Sambas generasi penenun sudah diajarkan sejak masih kecil, sekarang penenun di Sambas ada yang masih sekolah di bangku SMP bahkan ada yang masih berada di bangku sekolah dasar.

Sambil Anas bercerita sesekali ia gelisah. Pria yang sudah berambut putih ini beranjak dari tempat duduknya dan pergi masuk ke kamarnya. Tidak berselang lama ia keluar dengan membawa beberapa helai kain tenun dengan motif khas sambas. Satu persatu ia keluarkan sambil menunjukan nama dari motif kain tenun tersebut dan makna dari motif tersebut.

Anas menambahkan motif tenun khas Pontianak yang masih bertahan ialah motif corak insang yang kini banyak beredar di pasaran.

Kurangnya motif yang dihasilkan menjadi tanda lesunya usaha tenun di Pontianak dan sebelumnya pemerintah di Pontianak sudah berupaya dengan mengadakan pelatihan-pelatihan demi menghidupkan kembali generasi tenun di Pontianak, tetapi nihil. Hasilnya, sampai hari ini usaha tenun menjadi usaha yang langka di temui di Kota Pontianak.

 

 

 

Bulan Kemerdekaan, Umbul-Umbul Dijajakan

Umbul-Umbul (Foto: Sabhan)
Umbul-Umbul (Foto: Sabhan)

Oleh Sabhan Rasyid

MABMonline.org—Peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia menuai aktivitas tahunan bagi pedagang bendera dan umbul-umbul di Pontianak. Seminggu menjelang hari kemerdekaan (17/8) para pedagang dadakan banyak menggelar dagangan mereka di pinggir-pinggir jalan yang merupakan titik keramaian, seperti di Jalan Ampera dan Sultan Abdurrahman.

Di Jalan Ampera , pedagan membentangkan umbul-umbul panjangnya di tepian jalan guna menarik pembeli yang akan memasang bendera di rumah. “Ini sengaja kami bentangkan biar orang-orang lihat dan beli,” ungkap Rudi seorang pedagang umbul-umbul di bilangan Ampera.

Aktivitas berjualan bendera merah putih dan umbul-umbul ini menjadi pemandangan biasa di Pontianak setiap menjelang peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Warga yang diimbau memasang bendera di lingkungan tempat tinggal harus menyiapkan bendera sebagai bentuk rasa nasionalisme dan penghargaan terhadap perjuangan pahlawan dalam meraih kemerdekaan Republik Indonesia.

Cornelis Inspektur Upacara Peringatan Kemerdekaan RI

foto jadi

oleh Sabhan Rasyid

MABMonline.org, Pontianak—Upacara peringatan hari kemerdekaan ke-69 Republik Indonesia dilaksanakan di halaman Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Miggu (17/8). Pelaksanaan upacara di Kantor Gubernur ini dimulai pada pukul 09.40 pagi. Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis menjadi inspektur upacara yang dihadiri oleh sejumlah tokoh.

Upacara dihadiri oleh berbagai pihak, seperti pelajar, mahasiswa, pegawai SKPD, TNI, Polisi, serta unsure masyarakat. Terdapat juga barisan peserta upacara yang mengenakan pakaian adat istiadat sebagai gambaran keberagaman bangsa Indonesia.

Pelaksanaan upacara ini dijaga ketat oleh pihak keamanan dari polisi, TNI, satpol PP, serta DLLAJ Kalimantan Barat yang bersiaga di sekitaran Kantor Gubernur Kalimantan Barat. Sejumlah warga juga tampak menyaksikan pelaksanaan upacara dari luar pagar kantor gubernur sambal mengabdikan beberapa momen pengibaran sang saka merah putih oleh paskibra.

Sejauh pantauan wartawan mabmonline.org, pelaksanaan pengibaran bendera merah putih di halaman kantor gubernur berjalan lancar. Kondisi lalu lintas di Jalan Ahmad Yani juga terkendali selama pelaksanaan upacara berlangsung.

Dari Menjala Hingga Membuat Perahu

Ilustrasi Perahu (Sumber i-berita.com)
Ilustrasi Perahu (Sumber i-berita.com)

Oleh Hambali

MABMonline.org–Bekas tetesan hujan masih membasahi jalan desa.  Awan gelap masih terlihat di atas sana. Masyarakat mulai melanjutkan aktivitas yang sejenak terhenti. Tubuhku masih diterpa angin bercampur debu air. Di kala itu aku akan menghampiri seorang pembut perahu di Dusun Parit Bugis Desa Kapor, yaitu suatu desa yang dahulunya tempat pembuatan kapur makan.

Setiba di desa saya, bertanya kepada kakek yang hendak lewat. “Kek di sini orang yang biasa membuat perahu itu siapa ya?” ujarku.  “Owh banyak nak! hampir di sekitar ini pembuat sampan semua,” sambil iya menunjukan rumah-rumah orang pembuat perahu. Terjawab sudahlah di benakku tentang siapa pembuat perahu di desa ini. Dengan bergegas saya pun menuju satu di antara rumah yang ditunjukkan kakek tadi. Secara kebetulan ada seorang ibu di depan rumah itu sedang membilas pakaiannya. Tanpa berpanjang lebar saya memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud tujuan.”Ha ha ha ha ha”, ungkapan rasa lucu dalam benak hati karena memperkenalkan seperti seorang penyensus saja. Ibu itu pun mempersilakan masuk. Seorang bapak  dengan wajah baru bangun tidur tanpa berbaju, menggunakan kain sarung, dan bersenyum lebar menghapiri. Ia mengatakan bahwa dirinya bukan pembuat perahu tapi orang yang punya perahu  saja. “Saya pun membeli dengan orang Punggur,” tambahnya. Kemudian ia  menyampaiakan bahwa orang yang biasa membuat sampan itu ada di jalan gang samping rumahnya. Disuruhlah seorang anak untuk mebantu saya bertemu dengan  bapak yang biasa disapa “Pak Dul” atau nama lengkapnya Pak Abdul Rani.

Berjalan sambil melihat kepingan papan dan beberapa tiang  di pinggir jalan setapak akhirnya saya pun telah berada di depan rumah seorang pembuat perahu itu. “Itu bang rumah Pak Dul,” ungkap anak itu. Perasaan ini mulai yakin bahwa inilah dia tempat yang benar.

Assalamualaikum,” salam saya ketika berada di depan pintu rumah. Tiga orang di dalam rumah telihat kaget dan saling berbisik diantaranya “siapa itu ya”. Namun, satu orang masih telihat berbaring tanpa menghiraukan siapa yang datang. Seseorang pun datang menghampiri. “Bapak adalah Pak Dul ya, yang membuat perahu?” tanya saya. “Bukan! Tapi orangnya ada dan sedang nonton dia” ujarnya. Kemudian saya kembali memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud dan tujuan datang ke rumah Pak Dul. Iya pun mempersilakan masuk dan orang yang di dalam masih terlihat bingung bercampur kaget dan mungkin mengira saya adalah penyensus karena terlihat berpakaian rapi.

Terlihat langkah kaki seperti tak kuat untuk melangkah dan tubuh kurus yang uzur dan begitun lemah. Ia pun menuju kursi tamu di depan saya duduk. Ternyata ia adalah orang yang terbaring didepan televisi tadi atau Pak Dul.

Pembicaraan tentang perahu kami mulai. Sebelum berbicara panjang lebar ia menyampaikan “maaf ya penglihatan saya agak kurang jelas dan begitu pula dengan pendengaran saya,” ungkapnya. Ternyata Pak Dul sudah mulai sakit-sakitan sejak tiga belas tahun lalu. Dengan kehadiran seorang bapak yang menghampiri saya tadi dan duduk di sebelah Pak Dul dapat membantu menyampaikan maksud pertanyaan saya. Kemudian saya mulai berdiskusi menanyakan tentang pembuatan perahu.

Pak Dul mulai menceritakan awal ia belajar membuat perahu. Awal ia belajar membuat perahu ketika ia masih bujangan yang dikarenakan daerah tempat tinggalnya adalah daerah sungai, yaitu di Teluk Pakedai. Dengan lokasi daerah sungai maka apabila mau kemana-mana hendaklah menggunakan sampan dan apabila tidak ada sampan memang sangat susah sekali. Apalagi ia gemar menjala ikan di sungai. Hal ini, membuat ia belajar membuat perahu karena menurutnya perahu adalah bagian kebutuhan hidupnya. Perahu yang dibuat Pak Dul saat itu pun berhasil yang mana dalam pembuatannya dibantu oleh orang tuanya. Dengan berasilnya perahu buatanya maka beberapa orang mulai tertarik untuk meminta Pak Dul untuk membut perahu. Adapun perahu yang biasa dibuatnya adalah perahu biasa atau sampan yang biasa bermuatan empat orang. Kemudian ia biasa juga membuat perahu tongkang dan tempel yang biasa digunakan masyarakat untuk pergi ke Ketapang.

Menurut Pak Dul membuat perahu itu memerlukan waktu yang lumayan lama. Untuk perahu menggunakan papan 10 keping biasa mencapai tujuh hari pengerjaan. Untuk perahu yang mencapai dua puluh keping papan mencapai dua minggu. Hal ini juga dikarenakan perahu di kerjakan oleh pak dul sendiri.

Pembutan perahu memang berbahan dasar kayu katanya. Kayu yang digunakan juga tidak sembarangan. Untuk kualitas kayu yang kuat atau baik maka lebih lama atau tahanlah perahu itu untuk digunakan. Namun, untuk kayu yang biasa digunakannya yaitu kayu merabang atau merantik kalau dalam bahasa Pontianaknya. Kemudian bahan dasar kayu juga menyesuaikan dengan permintaan pembeli atau pemesan. Adapun untuk bahan dasar pembutan perahu berupa papan dan tiang yang sama panjang. Selain itu juga diperlukan tulang perahu.

“Apakah sampai sekarang masih melayani pembutan perahu,” tanya saya. “Iya sampai sekarang masih melayani pembuatan perahu dan namun tidak dapat sepenuhnya dilakukan,” ungkapnya. Hal ini dikarenakan keadaan dirinya yang sudah sakit-sakitan. “Untuk pemesanan dapat langsung bertemu denganya untuk merundingkan penggunan kayu dan ukuran perahu yang dipesan,” katanya.

Saat sekarang memang susah untuk menemukan pembuat perahu atau sampan. Begitu juga yang dinyatakan oleh Pak Dul bahwa di daerahnya memang susah orang yang  bisa membuat perahu apalagi yang anak mudanya memang sangat susah sekali. Dengan itu harapan saya semoga ada generasi yang bisa melanjutkan pembuatan perahu. Hal ini dikarenakan trasportasi di Kalimantan Barat tidak hanya menggunakan darat, tetapi juga menggunakan aliran sungai yang terbentang di bumi khatulistiwa ini.

 

Parit Bangseng: Nama yang Tergantikan

lustrasi nama gang (sumber unnes.ac.id)
lustrasi nama gang (sumber unnes.ac.id)

Oleh Khalifah

Sore sehabis hujan mengguyur kota khatulistiwa, becek di sana-sini tidak bisa dihindari. Lalu lalang kendaraan yang setiap hari semakin menyesaki jalan yang bahkan sudah berpuluh-puluh tahun tidak bertambah lebar saling menghindari genangan-genangan air yang tampak kehijauan di lubang jalan yang berpuluh-puluh kali ditambal dinas pekerja umum.

Di sebuah gang yang beceknya bahkan saat hujan tidak menyentuh tanah Borneo ini bergantung ratusan makanan siap saji bersampul plastik dengan bungkusan warna-warninya. Tak ketinggalan pula barang kelontong yang siap menyambut pembeli yang mulai datang bahkan ketika ayam belum berkokok membangunkan tidur. Pasar Puring Siantan, Pontianak Utara. Pasar tradisional yang dibagian gangnya inilah akan kutemui pemilik toko penjahit baju. Toko penjahit yang sekaligus menjual berbagai aksesoris lain seperti tas yang tergantung di bagian depan dan beberapa alat tulis dan kancing-kancing baju yang tampak meriah dengan aneka warnanya di dalam lemari kaca.

Ko Acan, begitu panggilan akrabnya ini menyambut kedatanganku sore itu di tokonya. Tokonya berada di gang sebelum Kantor Pos Siantan di dekat penyebrangan. Tokonya berada di sebelah kiri dan berjeret beberapa toko dari muka gang. Tokonya tutup ketika jarum jam sempurna menghitung jari satu tangan. Sebentar lagi tokonya akan tutup, tetapi ia tetap menyambutku dengan nada ramah khas seorang pedagang Cina saat menyambut pembeli.

“Mau beli apa?” dengan logat Cinanya ia bertanya.

Sore yang hampir menjelang magrib itu menyaksikan kebingunganku menjawab pertanyaannya. Bingung karena memang tak ada sedikit pun niatku untuk membeli barang yang menyesaki toko Ko Acan ini. “Eeeee….saye ni bukan mau beli Ko, tapi mau nanya-nanya. Koko dulu tinggal di Parit Bangsengkan?” tanyaku menjawab pertanyaannya, “Koko tau nda ngape namenye Parit Bangseng Ko?” lanjutku.

Ko Acan yang sekarang tinggal di tokonya di Pasar Puring ini tahun 60-an merupakan etnis Cina yang mendiami Parit Bangseng. Pada tahun 85-an dia pindah untuk menempati tempatnya sekarang.

Parit Bangseng tempat yang tak jauh dari Pasar Puring Siantan. Parit Bangseng yang kini berganti nama menjadi Jalan Parit Makmur. Tempat yang dulunya dinamai sesuai dengan nama perintisnya.

Bangseng tu nama orang yang punya tempat itu. Semua tanah yang disana punya dia semua. Shim Ban Shin namanya. Dari depan tuh sampai lapangan bola itu tanah dia”, jawab Ko Acan yang berumur lebih dari setengah abad itu.

Shim Ban Shin, orang yang dulunya pemilik semua tanah di Parit Bangseng adalah keturunan Cina. Penyebutan Parit Bangseng tak lepas dari namanya dan parit besar yang ada di sana. Bang berarti besar dan Seng yang merupakan sebutan atau panggilan untuk Shin. Jadilah Parit Bangseng.

Parit Bangseng dulunya dihuni oleh etnis Cina. Namun, karena terjadi kerusuhan di daerah pedalaman Kalbar menyebabkan etnis lain memasuki tempat ini. Etnis Melayu dan Maduralah yang kemudian ikut menghuni tempat ini. Keberagaman pada akhirnya membuat etnis Cina tak lagi menjadi pemilik tunggal Parit Bangseng ini. Bahkan, sebagian besar etnis Cina yang mendiami tempat ini kemudian pindah ke tempat lain.

Parit Bangseng yang kini berganti nama menjadi Jalan Parit Makmur ini memiliki wilayah cukup luas. Luasnya kira-kira tiga hektar. Di bagian depan, kawasan ini dihuni oleh orang Cina, bergerak lebih dalam lagi akan dijumpai etnis Melayu dan Madura. Keberagaman inilah yang mencetuskan pergantian nama dari Parit Bangseng menjadi Parit Makmur.

Parit Makmur, ye karne di sini nih udah dihuni oleh banyak etnis. Depan-depan sanakkan banyak Cine, trus nak sini-sinik nih banyak Melayu sama Madure. Itulah die alasan e ngape Parit Makmur karena kite tuh makmur-makmur jak tak ade ape-ape macem kerusuhan gitukan.” Jawab Nurhayati warga Jalan Parit Makmur, Gang Karimun yang telah mendiami tempat ini sejak kecil. “Kalau dulukan nama e Paret Bangseng karne yang ngerintis e nama e Aseng jadi udahlah dikasi name Bangseng, tapikan kalau sekarang udah ramai dah,” tambahnya.

“Parit Bangseng”, nama ini sudah berganti menjadi Parit Makmur. Bukan sekadar nama untuk menandai suatu tempat. Akan tetapi, penanda yang diharapkan menjadi simbol tentang harapan yang telah terijabah. Parit Makmur mengganti Paret Bangseng.

Syair Tunjuk Ajar Melayu

oleh: Tenas Effendy

01. Wahai ananda hendaklah ingat
Hidup di dunia  amatlah singkat
Banyakkan amal serta ibadat
Supaya selamat dunia akhirat

02. Wahai ananda dengarkan peri
Tunangan hidup adalah mati
Carilah bekal ketika pagi
Supaya tidak menyesal nanti

03. Wahai ananda dengarlah madah
Baikkan laku elokkan tingkah
Banyakan  kerja yang berfaedah
Supaya hidupmu beroleh berkah

04. Wahai ananda dengarlah pesan
Kuatkan hati teguhkan iman
Jangan didengar  bisikan setan
Supaya dirimu diampuni Tuhan

05. Wahai ananda  peganglah janji
Berbuat khianat engkau jauhi
Banyakkan olehmu bertanam budi
Supaya kelak hidup terpuji

06. Wahai ananda  cahaya mata,
Janganlah tamak kepada harta
Mencari nafkah berpada-pada
Supaya hidupmu tiada bernista

07. Wahai ananda sibiran tulang
Betulkan kaji, tegakkan sembahyang
Umur yang ada jangan dibuang
Supaya  hidupmu dipandang orang

08. Wahai ananda buah hati bunda
Berpegang teguhlah pada agama
Beramallah engkau sehabis daya
Supaya  selamat dari neraka

09. Wahai ananda belahan diri
Kerja menyalah  jangan hampiri
Berbuat maksiat jangan sekali
Supaya  hidupmu diberkahi ilahi

10.  Wahai ananda  mustika hati
Pandai-pandailah  membawa diri
Hasutan orang  jangan peduli
Serahkan diri  pada ilahi

11.   Wahai ananda  intan terpilih
Jadilah engkau anak yang saleh
Berbuat baik  jangan memilih
Bergaul jangan memilih kasih

12.  Wahai ananda kekasih ibu
Dalam beralam dalamkan ilmu
Dalam beriman janganlah ragu
Ridho Allah yang engkau rindu

13.  Wahai ananda kekasih ayah
Hanya Allah yang engkau sembah
Ibu dan bapa jangan disanggah
Supaya engkau beroleh berkah

14.  Wahai ananda intan dikarang
Duduk beguru janganlah kurang
Berbuat baik janganlah kepalang
Supaya kelak hidupmu tenang

15.  Wahai ananda  tambatan hati
Jauhkan sifat iri dan dengki
Bekerjalah  dengan sesungguh hati
Itulah bekal hidup dan mati

16. Wahai ananda ratna manikam,
Berpegang teguhlah kepada Islam
banyakkan amal siang dan malam
supaya hidupmu tidak tenggelam

17. Wahai ananda kuntum pilihan,
Syarak dan sunnah jangan abaikan
Berbuat kebajikan janganlah segan
Supaya engkau dirahmati Tuhan

18. Wahai ananda kemala negeri,
Kokohkan iman di dalam diri
Tunjuk ajar engkau dengari
Bulukan setan engkau jauhi

19. Wahai ananda cahaya rumah,
Dalam ibadah janganlah lengah
Kerjakan suruh, jauhkan cegah
Supaya hidupmu beroleh berkah

20. Wahai ananda payung sekaki,
Bersihkan niat lapangkan hati
Jauhkan segala perbuatan keji
Supaya hidupmu tidak terkeji

21.  Wahai ananda cahaya gemilang,
Ilmu di dada jangan dibuang
Jauhkan segala pantang dan larang
Supaya hidupmu tidak terbuang

22. Wahai ananda tambatan jiwa,
Jauhkan olehmu sifat aniaya
Berbaik-baik sesama manusia
Supaya kelak tidak cedera

23. Wahai ananda mustika ayah,
Dalam beriman janganlah goyah
Betulkan akal luruskan langkah
Mohonlah petunjuk  kepada Allah

24. Wahai ananda mustika bunda
Janganlah cuai dalam agama
Kerjakan sembahyang tiang agama
Supaya hidupmu selamat sempurna

25. Wahai ananda mustika alam,
Kekallah engkau memeluk Islam
Bersihkan diri luar dan dalam
Banyakkan ingat siang dan malam