S-2 TEP Gelar Seminar Pembelajaran Inovatif

Pemateri dan Dekan FKIP Untan (Foto: Sabhan)
Pemateri dan Dekan FKIP Untan (Foto: Sabhan)

Oleh Sabhan Rasyid

MABMonline.org, Pontianak—Mahasiswa Program Pascasarjana Teknologi Pembelajaran (TEP) FKIP  UniversitasTanjungpura menggelar seminar sehari dengan tema “Pembelajaran Inovatif”. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Aula Pascasarjana  FKIP Untan dengan dua orang pemateri, yaitu Dr. Amat Nyoto (Universitas Negeri Malang) dan Dr. Syahwani Umar, M.Pd. (Universitas Tanjungpura).

Seminar tersebut dihadiri oleh para peserta dari kalangan guru, mahasiswa, serta para dosen.

Seminar yang dibuka langsung oleh Dekan FKIP Untan tersebut dimulai pada pukul 2 siang diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Martono selaku Dekan FKIP mengungkapkan terima kasihnya kepada pemateri yang telah bersedia hadir untuk berbagi ilmu.“Kepada Dr. Amat Nyoto kami mengucapkan terima kasih karena dalam kesibukan masih bersedia menjadi narasumber di seminar ini,” ungkap Martono ketika menyampaikan sambutan.

Panitia yang sedari awal menyiapkan acara ini juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi, tidak hanya dari mahasiswa TEP, tetapi dari mahasiswa dan guru yang ada di Pontianak.

Kegiatan bersifat akademik ini sangat baik dilaksanakan, khususnya bagi guru yang dituntut harus selalu kreatif dan inovatif dalam mengelola pembelajaran di kelas. “ Tujuan utama kami menyelenggarakan seminar ini untuk merangsang  guru-guru agar selalu kreatif dalam meningkatkan minat belajar siswa sesuai dengan kurikulum 2013,” ungkap Sudari selaku ketua panitia.

Selain para peserta, kegiatan seminar tersebut juga dihadiri oleh Dr. Andi Usman selaku moderator seminar serta dosen senior dari program TEP FKIP Untan.

Pemateri Beri Trik Jadi Guru Kreatif

Amat Nyoto saat memberikan materi (Foto: Sabhan)
Amat Nyoto saat memberikan materi (Foto: Sabhan)

Oleh Sabhan Rasyid

MABMonline.org, Pontianak—Seminar dengan tema “Pembelajaran Inovatif” digelar oleh mahasiswa pascasarjana Teknologi Pembelajaran FKIP Untan kemarin, Jumat (24/10). Panitia seminar tersebut mendatangkan pemateri dari Universitas Negeri Malang, yaitu Dr. Amat Nyoto. Selain sebagai pengajar di UNM, beliau juga bertugas sebagai anggota Badan Akreditasi Nasional untuk SD dan SMP/Madrasah.

Amat Nyoto menyampaikan materi tentang proses menjadi kreatif. Ia menggelar simulasi yang diikuti oleh para peserta untuk menjadi guru yang kreatif.

Amat Nyoto memberikan beberapa contoh trik menjadi kreatif agar siswa terpacu dalam belajar dan membuat tugas.Ia menyampaikan bahwa guru dapat membuat aturan kelas, seperti bioskop. Siswa dapat memasuki kelas jika memiliki “tiket”. Tiket yang dimaksudkan dapat berupa tugas atau kemampuan menjelaskan materi sebelumnya kepada guru. Dengan cara demikian, siswa dapat meningkatkan gairah belajarnya di sekolah.

Amat Nyoto mengungkapkan bahwa menjadi kreatif bukan sesuatu yang sulit. Menjadi kreatif dapat dilakukan oleh semua orang dengan tujuan yang berbeda-beda. “Seorang guru dapat menjadi kreatif kapan pun dengan terus membaca dan menggali informasi dari siapapun,” papar Nyoto kepada para peserta.

Selain menyampaikan konsep-konsep pembelajaran kreatif dan inovatif di kelas, Nyoto juga menyampaikan cara mudah dalam menghadapi berbagai persoalan. Ia mengungkapkan bahwa semua persoalan akan menjadi sangat mudah dan kita semua bisa menjadi lebih perkasa. Ia menyampaikan konsep “ASDAMBA” (Apa, Siapa, Di mana, Apabila, Mengapa, danBagaimana). “Segala persoalan harus dianalisis dengan ASDAMBA maka kita akan mudah mengambil sebuah keputusan dan simpulan yang paling tepat,” paparnya.

Setelah menyampaikan materi selama dua jam kepada peserta, Nyoto melanjutkan perjalanan menuju Malang. Ia mendapatkan cenderamata dari panitia berupa replika tugu khatulistiwa dengan penutup kaca. “Ini cenderamata khas Pontianak berupa replika tugu khatulistiwa,” ungkap Syahwani selaku pemateri kedua kepada Nyoto.

Seminar dilanjutkan dengan penyampaian materi “Perubahan (Inovasi” Paradigma Pembelajaran” yang disampaikan oleh Syahwani  Umar yang juga sebagai Ketua Pengelola S-2 TEP FKIP Untan. Kegiatan tersebut diakhiri oleh moderator yang membimbing para peserta untuk menyanyikan lagu Kemesraan.

Seminar Tradisi dan Sejarah Melayu di Kubu Raya

Oleh Gusti Iwan

MABMonline.org, Pontianak — Pagi ini bertempat di Balai Kerja Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat (MABMKB) berlangsung kegiatan seminar, bertajuk “Seminar Hasil Penelitian : Pengumpulan Tradisi Lisan dan Sejarah Lokal Masyarakat Melayu di Kabupaten Kubu Raya“. Kegiatan ini dilaksanakan atas kerjasama MABMKB, PPKM Universitas Tanjungpura dan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya. 

Penelitian ini dinilai sangat penting karena Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi yang sangat strategis dan memainkan peranan yang sangat penting dalam percaturan politik, budaya dan perdagangan sejak zaman Kerajaan Kutai, Sriwijaya dan Majapahit.

Namun pada masa kolonial Belanda, Kalimantan Barat tidak dianggap sebagai kawasan yang penting dan strategis, sehingga Belanda tidak menenpatkan kekuatan pasukannya di wilayah ini. Catatan-catatan tentang masyarakat Melayu, sejarah, adat istiadat, sampai kepada artefak masyarakat lokal tidak dianggap penting. Implikasi dari fakta kolonial ini mengakibatkan seakan-akan orang Melayu itu dianggap sebagai pendatang, maka tidak perlu diteliti lebih mendalam.

Seminar Tradisi Melayu Kabupaten Kubu Raya  Foto Gusti Iwan
Seminar Tradisi Melayu Kabupaten Kubu Raya
(Foto Gusti Iwan)

Penelitian tradisi sastra lisan dan sejarah lokal di Kabupaten Kubu Raya ini diharapkan dapat memenuhi dahaga akademik dan pengetahuan budaya lokal yg msaih simpang siur dan kurang dipahami. Diantara hasil yang didapat dalam penelitian ini diantaranya informasi mengenai sejarah asal usul kampung, cerita rakyat dan adat istiadat masyarakat di Kabupaten Kubu Raya.

Melalui penelitian ini diharapkan dapat menghimpun dan melestarikan khazanah budaya masyarakat Melayu, terutama dalam menghadapi perubahan dan pergeseran kebudayan akibat arus globalisasi yang teramat cepat.

 

Syukuran Masyarakat Kalbar Bersama Pimpinan MPR RI

Oleh Gusti Iwan

MABMonline.org, Pontianak — Telah kita ketahui bersama bahwa Bapak Oesman Sapta Odang adalah salah seorang putra terbaik Kalimantan Barat, beliau telah lama berkiprah di Senayan sebagai anggota MPR RI. Dipercaya masyarakat Kalimantan Barat sebagai wakil Utusan Daerah Kalimantan Barat.

Saat ini karier politik beliau semakin bersinar dengan terpilihnya kembali Bapak Oesman Sapta Odang sebagai salah satu pimpinan MPR RI periode 2014 – 2019. Tentu saja hal ini menjadi suatu kebanggaan bagi seluruh masyarakat Kalimantan Barat.

Atas terpilihnya beliau, malam ini (Rabu, 22/10/2014) MABM Kalimantan Barat mengundang berbagai pihak dalam acara “Syukuran Masyarakat Kalimantan Barat atas Terpilihnya Bapak DR. H. Oesman Sapta Oedang sebagai Wakil Ketua MPR – RI Masa Bakti 2014 – 2019”. Acara ini akan dilaksanakan pada pukul 19.00 WIB – selesai, di Rumah Melayu Kalimantan Barat Jl. Sutan Syahrir Pontianak.

Masyarakat Kalimantan Barat dan seluruh masyarakat Indonesia akan terus mendo’akan Bapak Oesman Sapta Odang agar selalu diberikan sehat wal afiat sehingga tetap mampu menjalankan amanah yang telah diembankan oleh rakyat Indonesia kepada beliau. Masyarakat Indonesia tentunya juga berharap beliau mampu memberikan gagasan dan pemikiran yang menjadi solusi bagi persoalan bangsa dan negara Indonesia.

Kepada DR. H. Oesman Sapta Odang, selamat mengemban dan menjalankan amanah rakyat.

foto undangan oso

IAI Telusuri Rekam Jejak Arsitektur Melayu

Oleh Gusti Iwan

MABMonline.org — Dalam sebuah rangkaian kegiatan Simposium Arsitektur Melayu 2014 yang diadakan oleh Ikatan Arsitek Indonesia Daerah Kepri, mulai tanggal 1–4 Oktober 2014, satu tim yang menamakan diri dengan Tim Rekam Jejak Arsitektur Melayu 2014 mengadakan rangkaian kegiatan survey arsitektur Melayu di kota Pontianak, Sambas, dan Mempawah.

Diskusi Arsitektur Melayu  (Foto Gusti Iwan)
Diskusi Arsitektur Melayu
(Foto Gusti Iwan)

Kegiatan ini sendiri memiliki maksud dan tujuan untuk menelisik arsitektur Melayu sebagai bagian dari budaya Melayu yang juga merupakan bagian dari budaya nasional, mendekatkan orang Melayu dengan kebudayaan milik sendiri sehingga tidak tercerabut dari akar kebudayaannya, memperteguh marwah dan jati diri orang Melayu, dan membantu pemerintah daerah untuk menjaga ketahanan budaya.

Bertempat di Balai Kerja Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat (MABMKB), Rabu (1/10), diadakan pertemuan diskusi dan pendataan awal mengenai arsitektur Melayu di Kalimantan Barat. Ditemui oleh Sy. Selamat Joesoef Alkadri (Ketua Dewan Pemangku Adat MABMKB), Prof. DR. H. Chairil Effendy, M.S. (Ketua Umum MABMKB), dan beberapa pengurus MABMKB, Tim Rekam Jejak Arsitektur Melayu 2014 didampingi A. Roffi Faturrahman (IAI Daerah Kalbar) memaparkan maksud dan tujuannya datang ke Kalimantan Barat. Turut hadir pula dalam pertemuan ini perwakilan dari Politeknik Negeri Pontianak dan Prodi Arsitektur Universitas Tanjungpura.

Diskusi yang terjadi sangat menarik, terutama dengan pemaparan dari masing-masing perwakilan, saling memberikan tambahan informasi bagaimana tipologi rumah Melayu yang ada, baik itu yang berada di wilayah Kepulauan Riau, di Kalimantan Barat, dan di beberapa negara tetangga.

“Kita perlu menggali seperti apa asal atau aslinya bangunan rumah Melayu. Rumah tinggal orang Melayu di Kepulauan Riau yang ada sampai saat ini banyak juga yang dipengaruhi dari budaya luar, contohnya dari budaya Bugis yang telah sekian lama berasimilasi dengan budaya asli masyarakat lokal”, papar Martin Baron dari IAI Kepri.

Foto Bersama IAI Kepri
Foto Bersama IAI Kepri (Foto Gusti Iwan)

“Terbangunnya kota Melayu utamanya memenuhi 6 unsur, yakni adanya istana, masjid, padang atau lapangan, pelabuhan, sungai dan pasar.  Pola berdiri kota seperti ini sebagaimana yang ada di Malaysia ternyata memiliki kondisi yang hampir sama dengan yang ada di Lingga. Lingga ini sendiri juga dianggap sebagai bunda atau cikal bakal tipikal arsitektur Melayu”, tambah Martin.

Sangat penting bagi  semua pihak untuk terus melestarikan budaya daerah sebagai bagian dari budaya nasional agar terus bertahan ditengah perubahan dan masuknya beragam budaya asing yang akan menggerus budaya asli. Seperti pernyataan Maaz Ismail, S.P., M.Si. (Dewan Pakar Lembaga Adat Melayu Batam), “Budaya Melayu sejati seharusnya menjadi ruh atas rekayasa arsitektur di bumi Melayu agar peradaban Melayu tetap lestari sebagaimana adagium “takkan Melayu hilang di bumi”.”

 

 

 

Diskusi Publik Inkuiri Nasional Datangkan Komisioner Komnas HAM

 

Sandra Moniaga (kanan) saat acara diskusi publik (foto: Sabhan)
Sandra Moniaga (kanan) saat acara Diskusi Publik Inkuiri Nasional (foto: Sabhan)

Oleh Sabhan Rasyid

MABMonline.org, Pontianak— Diskusi Publik Inkuiri Nasional dengan tema “Hak Masyarakat Adat atas Wilayahnya di Kawasan Hutan” digelar Selasa kemarin (30/9). Agenda tersebut digelar atas kerja sama beberapa lembaga, yaitu Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Sajogyo Institute, serta pihak Universitas Tanjungpura. Kegiatan tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh masyarakat, akademisi dari Untan, pers, serta anggota kelompok masyarakat.

Diskusi publik yang direncanakan akan digelar selama tiga hari tersebut mendatangkan beberapa narasumber, satu di antaranya komisioner Komnas HAM. Sandra Moniaga merupakan perwakilan Komnas HAM yang memaparkan kondisi masyarakat hukum adat di Kalimantan Barat. Fokus materi yang disampaikan Sandra, yaitu hak masyarakat hukum adat dari perspektif hukum dan HAM.

Sandra mengungkapkan masih banyak tumpang tindih terkait hak masyarakat yang bermukim di kawasan hutan. Dalam presentasinya, mahasiswa program doktoral Leiden University Belanda tersebut memaparkan perbandingan luas wilayah produksi usaha dengan wilayah bebas izin usaha produksi. “Menurut data dari koalisi masyarakat sipil untuk tata ruang Kalbar tahun 2013 bahwa luas kegiatan industri berbasis lahan dan hutan memiliki luas 13.648.081,09 ha atau setara 91%, sedangan 9 persen lebihnya yang bebas usaha industri,” paparnya.

Sandra mengharapkan kegiatan diskusi publik yang diselenggarakan kali ini dapat menjadi jalan mencari solusi pasca putusan MK terkait UU No. 41 tahun 1999 tentang kehutanan terhadap UUD 1945 yang diputuskan tahun 2012 silam dengan nomor 35/PPU-X/2012.

Putusan MK tersebut menyebutkan bahwa hutan adat adalah milik masyarakat hukum adat, bukan milik negara. Menindaklanjuti putusan tersebut, harus ada tindak lanjut agar masyarakat adat benar-banar mendapatkan haknya sebagai masyarakat yang diakui secara konstitusi.

Kegiatan diskusi publik ini merupakan kegiatan pelaporan terhadap kinerja dan usaha beberapa lembaga masyarakat yang selama ini memperjuangkan hak masyarakat hukum adat terkait hutan adat yang ada di wilayah Kalimantan Barat. “Diskusi ini anggap saja sebagai laporan kami dan forum ini diharapkan dapat memberikan jalan dan usaha dalam menindaklanjuti putusan MK,” ungkap Noer Fauzi Rachman selaku Direktur Eksekutif Sajogyo Institute saat membuka acara.