Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman: Tetap Kokoh Membungkus Usia

oleh Anggi Windi Asih

MABMonline.org, Pontianak — Gerimis tipis mengawali perjalanan kami. Hawa dingin menyerang. Saya, Anita, Adi Supriadi, serta Al-Amin menunggangi kuda besi menuju masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman. Masjid ini terletak di Jalan Kampung Masjid, Tanjung Raya 1, Pontianak Timur. Untuk sampai ke masjid ini, kami membutuhkan waktu sekitar 45 menit karena jalanan yang macet akibat gerimis.

Masjid Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak
Sesampainya di masjid, kami disambut lantunan ayat suci oleh peserta MTQ yang tengah mengikuti seleksi tingkat kecamatan. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin dua tahunan yang dilaksanakan di masjid ini. Peserta yang mengikuti seleksi tetap bersemangat walaupun gerimis dan hawa dingin menyelimuti.

Sepintas lalu masjid ini tampak biasa saja. Tidak ada kemewahan yang menghiasi arsitektur masjid ini. Atap sirap masjid ini tampak menghitam. Dinding serta lantai masjid yang menggunakan papan menambah kesan sederhana pada masjid yang berdiri di tengah pemukiman warga.

Segera saja kami menemui jamaah yang tampak sedang asyik mengobrol. Kami pun mulai memperkenalkan diri. Lalu kami mulai membuka obrolan mengenai sejarah masjid ini. Tak disangka, Bapak Jafar, salah satu jamaah masjid mengetahui sejarah masjid ini. Beliau juga bersedia kami wawancara.

“Masjid ni berdiri pertame kali tanggal 23 Oktober 1771 M, pendiri masjid ni adalah Sultan Syarif Abdurrahman.” Bapak Jafar menjawab pertanyaan kami mengenai awal mula berdirinya bangunan ibadah umat Islam yang diklaim sebagai masjid tertua di Pontianak ini. Ternyata, desain arsitektur masjid ini mampu menyembunyikan usia masjid yang tahun ini genap berusia 242 tahun. (2013, red)

“Tiap kota Pontianak ulang tahun, masjid Sultan Syarif Abdurrahman juga ulang tahun,” jelas Bapak Jafar kembali dengan senyum yang menyamarkan usianya yang telah memasuki 60 tahun.

“Kami sengaje pertahankan arsitektur asli masjid untuk jage keaslian masjid, kami juga jage corak cat masjid yang terdiri dari warna kuning dan hijau, kan dulu kerajaan, jadi pake warna itu. Ada mimbar juga, mimbar tu asli, umur mimbar tu juga same dengan umur masjid karena sejak awal masjid ini dibangun, mimbar tu juga udah dibuat. Masjid ini kan juga model lantai panggung, untuk menonjolkan corak bangunan Melayu,” Bapak Jafar menjelaskan dengan runtut.

Mengenai dana perawatan masjid yang merupakan saksi bisu sejarah Islam sekaligus peninggalan budaya Melayu di Pontianak ini, Bapak Jafar menjawab “Untuk biaye perawatan masjid, Pemkot ade bantu, biase setahun sekali Pemkot ade kasi kite dane untuk ngerawat masjid. Selain tu, ade dane dari jamaah jugalah yang bantu sokong biaye perawatan masjid.”

Kami melanjutkan wawancara kami dengan santai. Saat ditanya mengenai posisi Bapak Jafar dalam kepengurusan masjid ia menjawab “Saye imam di masjid ini, udah 20 tahun saya jadi imam di sini, untuk ketue pengurus masjid ni masih keturunan dari Sultan Syarif Abdurrahman. Ketue kepengurusan masjid ni dijalankan secare turun temurun.” Ia menambahkan, “Saya senang karena bisa jadi imam, apalagi di masjid yang bersejarah macam masjid Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie ni, kita kan makhluk hidup, harus saling berbagi tentang ilmu yang kita punya, supaya hidup ni jadi bermanfaat bagi orang lain kan,” jelas Bapak Jafar sembari tersenyum kembali.

Sembari berbincang, kami berkeliling masjid untuk mengabadikan bagian-bagian masjid ini. Ketika kami berkeliling, kami menghitung ternyata masjid ini memiliki jumlah pintu yang tidak biasa. Terdapat 21 pintu secara keseluruhan dari bangunan masjid ini. Pintu-pintu ini dibagi menjadi 3 pintu besar, serta 18 pintu berukuran normal.

Sile bace ga’: Masjid Mujahidin: Rumah Ibadah atau Studio Foto?

Setelah mengabadikan beberapa bagian masjid, kami pun pamit pada Bapak Jafar. “Main-main jak lagi ke sini kalo ade yang mau ditanya,” pesan Bapak Jafar yang tempat tinggalnya tidak jauh dari masjid.

Setelah pamit kami kembali menjemput kuda besi kami yang kami kandangkan di istal area parkir masjid Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Perjalanan kali ini meninggalkan kesan mendalam bagi saya pribadi. Saya kagum dengan kekokohan masjid ini yang terbungkus kesederhanaan. Kesan mewah ternyata tidak selamanya menggambarkan sejarah suatu bangunan.

Wisata Spiritual di Bulan Ramadhan Bersama Rasulullah

ramadhan bersama rasulullah

Berbicara mengenai kehidupan Rasulullah SAW. sama dengan berbicara mengenai hadis, sebab wujud dari kepribadian Rasulullah itulah hadis, sebab hadis adalah ucapan, perbuatan, taqrir, serta semua sifat dan bentuk fisik Nabi SAW. Ulama lainnya menyebutkan bahwa definisi hadis yang paling lengkap adalah termasuk hadis adalah ucapan para sahabat. Jadi, apabila mau mengetahui kehidupan Rasulullah maka salah satunya sumbernya adalah hadis-hadis Rasulullah itu sendiri.

Indahnya Ramadhan di rumah Rasulullah
Rasulullah SAW. tinggal di rumah yang sangat sederhana. Letaknya bersebelahan dengan Masjid Nabi SAW. Di rumah beliau terdapat beberapa kamar untuk masing-masing isteri beliau. Di rumah yang ukurannya tidak luas dan penuh kesederhanaan tapi dihuni orang-orang mulia dan agung dengan jiwa yang besar, dan lapang; didampingi para isteri yang penuh perhatian dan kesetiaan yang luar biasa; dilandasi dengan semangat agama dan dakwah untuk memenuhi ridha Rasul dan ridha Allah. Inilah Baiti Jannati (Rumahku surgaku). Dalam suasana dan situasi demikian, menyambut dan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan pasti terasa indah dan nyaman serta penuh kedamaian.

Di antara kebiasaan Rasulullah SAW. dalam menyambut kehadiran bulan Ramadhan, beliau mengucapkan tahni’ah atau ucapan selamat kepada para sahabat dan umat Islam umumnya, sebagai doa dan motivasi agar selalu berjiwa lapang dan besar dalam menyikapi datangnya bulan ramadhan sehingga semua kewajiban dan ibadah dilaksanakan dengan penuh rasa ringan, tidak terasa berat, tidak ada rasa keluh kesah, tapi semuanya dilaksanakan dengan rasa ringan, nyaman, dan penuh keceriaan. Rasulullah SAW membaca tahni’ah sebagai ucapan selamat.

أَتَاكُمْ رَمَضاَنُ سَيِّدُ الشُّهُوْرِ فَمَرْحَباً بِهِ وَأَهْلاً جَاءَ شَهْرُ الصِّيَامِ بِالْبَرَكاَتِ فَأَكْرِمْ بِهِ مِنْ زاَئِرَاتٍ هُوَ آتٍ

“Bulan Ramadhan telah datang kepada kalian, bulan pelopor segala bulan, marhaban bihi wa ahlan (Selamat datang bulan Ramadhan). Bulan puasa telah datang dengan penuh berkah, maka muliakanlah tamu yang datang itu.” (HR. Thabarani).

Berdasar pada hadis inilah, tahni’ah atau ucapan selamat Marhaban ya Ramadhan, dalam bahasa Indonesia kita mengucapkan Selamat menunaikan ibadah puasa semoga ridha Allah selalu menyertai kita semua, dan lain-lain. Terkadang juga dibumbuhi dengan berbagai macam pantun Melayu yang bernuansa agama, bernuansa nasehat, untuk saling mendoakan dan saling memberi motivasi. Saya pribadi ketika mengucapkan tahni’ah biasa mengawali dengan terjemahan ayat dan atau hadis.

Baca juga: Dari Puasa Teologis ke Transformatif (http://mabmonline.org/dari-puasa-teologis-ke-transformatif)

Selain itu Rasulullah SAW. dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan selalu memperlihatkan wajah gembira dan ceria pada keluarganya dan umat Islam lainnya. Menyambut kedatangan bulan Ramadhan tidak baik dengan wajah cemberut, wajah kusut seperti tak bersemangat, wajah frustrasi, apalagi sampai berkeluh kesah.

Dalam kaitannya dengan puasa pada bulan Ramadhan, Aisyah, isteri Rasulullah SAW. mengatakan:

فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ
Kami diperintahkan mengqadha puasa, dan tidak diperintahkan mengqadha shalat. (HR. Muslim).

Oleh karena bagi perempuan secara kodrati mengalami masa haidh, masa libur untuk tidak boleh puasa, tetapi ia wajib menggantinya pada hari-hari lain setelah bulan Ramadhan. Dalam hal penggantian puasa bagi perempuan yang mengalami masa haidh tersebut, Rasulullah memberikan tuntunan agar mengganti puasanya, dan tidak mengganti shalat yang ditinggalkan pada masa haidh, sebagaimana disebutkan dalam hadis tersebut. Bahkan lebih tegas tuntunan Rasulullah SAW. agar tidak mengabaikan penggantian puasa wajib sampai masuk bulan ramadhan berikutnya. Mengabaikan tanpa melunasi hutang puasanya itu boleh jadi dianggap meremehkan kewajiban, kecuali apabila ada udzur. Rasulullah SAW. mengingatkan:

مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ وَعَلَيْهِ مِنْ رَمَضَانَ شَىْءٌ لَمْ يَقْضِهِ لَمْ يُتَقَبَّلْ مِنْهُ وَمَنْ صَامَ تَطَوُّعاً وَعَلَيْهِ مِنْ رَمَضَانَ شَىْءٌ لَمْ يَقْضِهِ فَإِنَّهُ لاَ يُتَقَبَّلُ مِنْهُ حَتَّى يَصُومَهُ
Barangsiapa yang mendapatkan Ramadhan berikutnya sementara masih ada kewajiban puasa yang belum dilunasi, maka ibadahnya tidak diterima. Barangsiapa yang puasa sunnat sementara masih ada kewajiban puasanya yang belum dilunasi, puasa sunnatnya itu tidak diterima sampai ia sudah mengganti puasa wajibnya itu. (HR. Ahmad bersumber dari Abu Hurairah).

Hadis ini sebagai peringatan dari Rasulullah SAW. agar tidak mengabaikan dan meremehkan hutang kepada Allah. Hutang terhadap sesama manusia wajib dibayar, tentu lebih wajib dibayar adalah hutang kepada Allah.
Dalam hal sikap Rasulullah SAW. untuk mendapatkan indah dan damainya Ramadhan adalah pada hari-hari akhir terutama 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Beliau sangat sedikit tidurnya, beliau bangun begadang malam untuk berdzikir dan beribadah. Bahkan beliau membangunkan isteri-isterinya.

Aisyah salah seorang isterinya mengatakan:
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
Adalah Nabi apabila sudah masuk 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. (HR. Bukhari).

Mengencangkan sarung, maksudnya bekerja keras, sangat antusias, penuh perhatian dalam mempersiapkan diri untuk banyak beribadah pada malam-malam tersebut.
Rasululuh sedikit tidur, kita umatnya sedikit-sedikit tidur.
Rasulullah sedikit makan. Kita umatnya sedikit-sedikit makan.
Rasulullah sedikit-sedikit ibadah. Kita umatnya sedikit ibadah.
Rasulullah sedikit-sedikit bersedekah. Kita umatnya sedikit bersedekah.
Rasulullah bangun tengah malam untuk berdzikir dan beribadah. Kita kadang bangun tengah malam, hanya untuk kencing, selesai kencing tidur kembali. Atau bangun karena yang lain tapi bukan untuk ibadah. Kalau kondisinya demikian, bagaimana umat Islam bisa meraih indahnya ramadhan, bagaimana merasakan nyaman dan damainya Ramadhan, kalau antara pengetahuan dan pengamalan ibadah puasa ramadhan tidak sejalan. Pengetahuan agama banyak, tetapi kesadaran menjalankan agama kurang atau sedikit. Wallahu a’lam.

oleh H. Wajidi Sayadi
(http://wajidisayadi.blogspot.com)

Firdaus Zar’in Pimpin MABM Kota Pontianak

Pengurus MABM Pontianak 2015

Firdaus Zar’in, S.Pd, M.Si dikukuhkan sebagai Ketua Umum Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kota Pontianak di Rumah Melayu, Jum’at (5/6). Firdaus yang juga Wakil Ketua DPRD Kota Pontianak periode 2014-2019 mendapatkan amanah untuk memimpin MABM periode 2015-2020.

Besar harapan masyarakat kepada sosok penggemar olahraga tenis meja ini agar berhasil membawa semangat baru dalam kepemimpinannya untuk kejayaan Melayu. Ini tercermin dari komentar pada laman Facebook pribadinya.

“Saya akan membawa MABM ke depan lebih mengangkat harkat dan martabat budaya Melayu di Pontianak, agar lebih mempunyai peran manfaat bagi pembangunan Pontianak,’’ janji Firdaus Zar’in yang juga mantan Sekretaris Umum Koni Kalbar ini.

Sebanyak 116 pengurus Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kota Pontianak periode 2015-2020 resmi dikukuhkan. Pengukuhan ini dilakukan oleh Dr. Moh. Haitami Salim, M. Ag selaku Sekretaris Umum DPP Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat.

(Baca juga: Hildi Hamid Nahkodai MABM Kayong Utara)

Ketua panitia Nanang Setiabudi menuturkan, pelantikan dilakukan guna menjalankan SK DPP MABM Kalimantan Barat yang menunjuk 116 orang sebagai pengurus di MABM Kota Pontianak. Para pengurus diharapkan mampu mengangkat dan mempertahankan marwah serta budaya Melayu yang ada di Kota Pontianak, sehingga bisa terus dilestarikan dan dikembangkan.

Mantan anggota DPRD kota Pontianak ini menambahkan, pengembangan budaya nantinya bisa meningkatkan obyek pariwisata di Pontianak, baik kuliner, kebudayaan, wisata dan kesenian sehingga dapat meningkatkan perekonomian kota.

“Melalui rapat kerja yang dilaksanakan 10 Juni nanti, kita akan bicarakan upaya pengembangan kebudayaan Melayu di Kota Pontianak,” pungkasnya.

Wisata Kota Pontianak di Taman Alun Kapuas

Oleh Dewi Susanti

taman alun kapuas pontianak
Tak banyak tempat wisata di Kota Pontianak. Salah satu yang paling favorit adalah taman di alun-alun Kapuas. Depan Korem, karib masyarakat Pontianak menyebutnya. Tempat wisata yang sangat menarik perhatian masyarakat kota Pontianak. Selain karena tempat yang strategis, bagus, dan bersih, di korem juga memiliki daya tarik yang lain seperti adanya air mancur, sungai Kapuas yang indah, dan banyak pepohonan. Taman alun Kapuas atau depan korem ini terletak di Jl. Tanjungpura.

Pengunjung tempat wisata ini selalu ramai baik pada malam maupun pada sore hari. Di Korem banyak hiburan yang menarik, sehingga menarik perhatian masyarakat kota Pontianak.

Eka (22), salah satu pengunjung korem ini mengatakan bahwa senang sekali datang ke korem pada sore hari, karena pada sore hari suasana enak, dingin, dan ia suka melihat pemandangan sungai yang ada di korem, begitu juga kebersihannya terjaga, tidak seperti di tempat lain. “Saya pergi ke korem biasanya pada saat liburan, saya suka pergi pada sore hari dibandingkan malam hari, karena pada malam hari banyak pengunjung. Jadi, susah untuk lewat, banyak jalan yang penuh orang berjualan,” paparnya.

Baca juga tulisan tentang ‘Korem’ lainnya: Menjemput Rezeki di Taman Alun-alun Kapuas

Umi (20), juga salah satu pengunjung Korem mengatakan bahwa pergi ke korem biasanya selesai pulang kuliah atau liburan, “Biasanya saya pergi sendiri atau dengan teman-teman, menurut saya korem ini fasilitasnya bagus, bagus untuk tempat hiburan, bisa buat kumpul bersama teman-teman, anginnya membuat segar dan pemandangannya yang indah. Tetapi, kalau malam lokasi tempat ini sempit, karena banyak kursi, tempat jualan, dan barang-barang yang dijualnya juga mahal.”

Tempat wisata ini tidak hanya para pelajar yang berkunjung tetapi mahasiswa dan pejabat juga sering mengunjungi korem. Tempat wisata ini sangat menarik, tidak hanya sebagai tempat hiburan, tetapi juga sebagai pusat berjualan, seperti jual pakaian, makanan, sepatu, dan lain-lain.

Dari Puasa Teologis ke Transformatif

Oleh Luqman Abdul Jabbar

puasa-mubarak
Secara teologis puasa Ramadan diyakini sebagai kewajiban bagi seluruh umat Islam. Puasa Ramadhan merupakan salah satu identitas keislaman, ia dikategorikan sebagai sebagai salah satu rukun Islam yang lima. Terlebih hal tersebut secara tegas juga diungkap dalam kitab suci, Q.S. al-Baqarah: 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa”.  Sehingga dengan ini muncul dorongan batin yang kuat sebagai bukti ketaatan pada perintah Allah SWT,  selain hal tersebut juga banyak dipertegas dengan berbagai argumentasi ulama. Puasa adalah kewajiban individual yang dibebankan kepada setiap muslim yang telah mencapai usia baligh. Oleh sebab itu berdosa bagi mereka yang dengan sengaja dan tanpa alasan yang dibenarkan (’uzur) meninggalkan ibadah puasa. Belum lagi di bulan ini, ada banyak janji-janji peluang pahala yang terbuka lebar bagi setiap orang yang melakukan kebajikan.

Ramadhan sepertinya telah menjadi semacam “magma sosial” yang menggairahkan “kesadaran ilahiyyah” umat Islam. Di bulan ini terjadi loncatan-loncatan semu penghambaan “manusia berpuasa” akan Tuhannya. Mendadak banyak sosok alim dan rajin yang bergegas memperlihatkan aktivitas mereka ke tempat ibadah. Bahkan semaraknya tidak hanya diperlihatkan oleh perorangan namun juga oleh beberapa institusi termasuk yang tak kalah adalah media massa pun berlomba-lomba menampakkan aktivitas yang bernuansa religius. Ramadhan seperti titian untuk mencapai garis tepi sehingga tak ayal harus dibuat banyak perbedaan dengan bulan sebelumnya dengan asumsi lebih baik.

Hal tersebut akan menjadikan pelaksanaan ibadah puasa kian terjebak lingkaran formal ritualistik. Puasa hanya sebatas dimaknai sebagai paket ibadah yang harus dijalani berdasar produk fiqh yang telah baku. Puasa dimaknai sebatas ibadah yang sesuai dengan terminologi fiqihnya menahan makan, minum, dan berhubungan intim dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Ramadhan telah menjadi siklus ritual manusia Indonesia dalam memperlakukan ibadah sebagai ritualisme demonstratif spiritual-religius yang hanya berdampak pada kesan estetik. Ia hanya menjadi sebuah simbol belaka, simbol yang mempertontonkan kuantitas religius umat.

Persoalan yang kemudian muncul adalah, bagaimana adegan teatrikal tersebut memiliki makna dalam konteks sosial. Puasa secara kualitatif adalah dengan “menghadirkan Tuhan” dalam diri kita di tengah kehidupan masyarakat. Konsekuensi etis dari ibadah puasa memang menjadi urusan Tuhan, tetapi konsekuensi moralnya menjadi tanggung jawab kita dalam interelasinya sebagai anggota masyarakat. Di sinilah implementasi ibadah puasa mendapat signifikansinya.

Dimensi teologis ibadah puasa harus ditransformasikan ke dalam dimensi sosiologis, agar kebahagiaan religius dapat dirasakan, baik secara etik maupun secara moral. Dengan demikian, puasa harus memberi kekuatan pada pelakunya untuk mengendalikan keinginan dan kepentingan individu atau kelompoknya. Inilah internalisasi logis dari pengalaman keagamaan yang bermuara pada prinsip tauhid, yang menolak disequilibrium ekonomi dan ketidakadilan sosial.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa pada bulan Ramadhan ada seorang wanita sedang mencaci-¬maki pembantunya. Rasulullah saw mendengarnya lantas beliau menyuruh seseorang untuk menyediakan makanan dan memanggil wanita tersebut, dan bersabda “Makanlah makanan ini!”, wanita tersebut menjawab “Saya sedang berpuasa ya Rasulullah” Rasulullah bersabda “Bagaimana mungkin kamu berpuasa padahal kamu mencaci-maki pembantumu. Sesungguhnya puasa adalah sebagai penghalang bagi kamu untuk tidak berbuat hal-hal yang tercela. Betapa sedikitnya orang yang berpuasa dan betapa banyaknya orang yang kelaparan.”

Hadits ini memberi kontribusi pelajaran berharga kepada kita, bahwa puasa tidaklah sekedar menahan makan dan minum. Di samping mengandung ketentuan-¬ketentuan fiqih, puasa juga membawa pesan mendalam tentang akhlak dan aspek sosial. Ketika seseorang hanya mampu menahan lapar dan dahaga, tetapi masih melakukan perbuatan tercela, maka tak lebih sekedar orang-orang yang lapar saja. Itulah yang disinyalir oleh Nabi saw, “betapa sedikitnya orang yang herpuasa dan betapa banyaknya orang yang kelaparan”.

Dalam riwayat lain, Nabi saw bersabda, “Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga.” Pesan moral apa yang terkandung dalam ibadah puasa. Jika kita tengok “perilaku” puasa dan hal-hal yang berkaitan dengannya, maka paling tidak kita temukan bahwa: pertama, puasa menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sosial. Salah satu bentuk kepedulian sosial yang menjadi pesan moral puasa adalah memperhatikan dan menyantuni fakir dan miskin. Perhatian serius terhadap mereka bisa dilakukan, jika kita mampu berempati terhadap kondisi mereka. Oleh karena itu, ibadah puasa mensyaratkan pelakunya untuk tidak minum dan makan mulai terbit fajar sampai tenggelamnya matahari, agar bisa merasakan dahaga dan kelaparan—suatu kondisi yang sering dialami fakir dan miskin.

Orang-orang yang tidak sanggup berpuasa, menurut sebagaimana yang termuat dalam Q.S. a-Baqarah: 184, diharuskan mengeluarkan fidyah buat orang-¬orang miskin. Jadi, kalaupun tidak sanggup menjalankan ritus puasa, paling tidak pesan moral puasa, yakni menyantuni fakir dan miskin, mampu diwujudkan. Demikian pula salah satu kifarat bagi orang yang batal puasanya karena melakukan hubungan suami istri pada siang hari, adalah membebaskan budak atau memberi makan enam puluh orang miskin. Perhatian dan santunan terhadap fakir dan miskin juga terlihat dari kewajiban mengeluarkan zakat fitrah sebagai penutup-penyempurna ibadah puasa.

Kepedulian sosial semacam ini secara tegas disebut Nabi saw sebagai ciri mukmin. Sabda beliau “Tidak dianggap sebagai orang beriman apabila seseorang yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara para tetangganya kelaparan di sampingnya.” (HR Bukhari).

Kedua, dalam puasa, makanan halal (harta kita) pun dilarang kita makan sebelum tiba waktunya. Ini mengandung pesan bahwa sesungguhnya harta yang ada pada kita, bukanlah sepenuhnya milik kita. Sebagian di dalamnya ada hak fakir dan miskin. Kata Ali r.a. “Tidak pernah aku melihat ada orang yang memperoleh harta yang berlimpah kecuali di sampingnya ada hak orang lain yang disia-siakan.”Ini artinya bahwa penghasilan kita (yang tinggi), tidak boleh kita makan semuanya walaupun itu hasil jerih payah kita sendiri. Ada kewajiban kita untuk menyantuni fakir dan miskin. Wallahu a’lam.

Hikayat Mempawah; Raja Kodung dan Putri Banyu

oleh Abang Yuda Saputra
raja mempawah
Ketika sampai di Mempawah, anda akan melihat sebuah tulisan besar yang berada di tepian sungai yang bertuliskan KABUPATEN MEMPAWAH. Terlebih ketika malam hari, dengan corak warna hijau dan dikhasi kelap-kelip lampu, serta pantulam cahaya yang tampak di sungai maka akan terlihat indah. Jika kita menyusuri Mempawah, maka kita akan disuguhkan banyak penambak ikan di tepi sungai yang mengisyaratkan bahwa masih banyak penduduk yang menggantungkan kehidupannya di aliran Sungai Mempawah ini. Tapi siapa menyangka ternyata ada misteri di balik Sungai Mempawah yang belum banyak orang tahu.

Di sebuah kerajaan Bangkule Rajank, negeri Mempawah Tua, bertahtalah seorang raja yang bernama Raja Kudong. Raja ini memiliki kesaktian yang luar biasa. Namun, dia memiliki cacat fisik, yaitu pada jari tangan yang tidak sempurna (buntung). Meskipun cacat Raja Kudong sangat terampil menebar jala, guna menagkap ikan yang merupakan kegemarannya.“Itu lah sebabnya dikatakan Raja Kudong, sebab jari tangannya buntung. Tetapi dia tidak kalah dengan yang lain. Tetap saja dia suka menjala, karena memamg kegemarannya,” kata Elias Suryani Soren (72), selaku orang tua yang mengetahui cerita Buaya Kuning di Mempawah ketika diwawancarai Jumat, (20/03).

Dia pun berusaha untuk mengobati cacat fisiknya tetapi belum bisa disembuhkan. Dia pun bersumpah pada dirinya sendiri, siapapun yang dapat menyembuhkan penyakitnya, jika ia seorang laki-laki maka akan dijadikan sebagai saudaranya, jika ia perempuan maka akan dijadikan sebagai istrinya. Pada suatu hari, Raja Kudong pergi ke sungai untuk menjala ikan. Ketika hendak menarik jala yang sudah ditebar, ternyata jalanya sangat berat sehingga sang raja tidak mampu untuk menariknya. Akhirnya sang raja memutuskan untuk menyelam ke dasar sungai. Betapa terkejutnya sang raja melihat jala yang berat tersebut ternyata dipegang oleh putri yang cantik jelita.

Ketika berbincang-bincang dengan sang putri, ternyata nama putri nan cantik itu adalah Putri Banyu Mustari. Putri ini pun mengajak sang raja ke Istana yang sangat indah dan megah yang terletak di dalam gua yang luas. Sang raja bertanya kepada putri mengapa dia sengaja menahan jala sang raja. Ternyata si putri sudah mengetahui permasalahan yang dialami sang raja serta dapat menyembuhkan penyakit sang raja dengan tidak mengingkari janji yang sudah diucapkan sang raja. Sang raja dengan yakin mengatakan kepada si putri bahwa sang raja siap memperistri si putri.

Dengan izin yang kuasa, maka jari sang raja pun sembuh. Sesuai dengan janjinya, maka Raja Kodungpun menikah Putri Banyu Mustari. Mereka dikaruniai beberapa anak dan hidup bahagia. Selang beberaa tahun, timbullah kerinduan sang raja dengan negerinya yang ada di daratan dan disampaikanlah kerinduannya itu kepada isterinya.
Sang raja meminta izin kepada isterinya untuk kembali ke darat dan berniat membawa istri dan anaknya untuk tinggal di darat. Namun isterinya tidak dapat menyanggupi permintaan sang raja karena daratan bukanlah alam isterinya. Sang raja berat untuk meninggalkan istri dan anak-anaknya karena begitu besar cinta dan sayangnya. Kewajiban sebagai seorang raja membuat Raja Kodung harus kembali ke darat untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang raja.

Sang raja menghargai keputusan isterinya dan meminta cara agar dapat bertemu isteri dan anak-anaknya ketika kerinduan datang, karena sang raja tidak mungkin bisa kembali lagi istana isterinya. Akhirnya Putri Banyu Lirih memberikan beberapa syarat agar sang raja tetap dapat melihat istrinya. Ketika Raja Kodung hendak ingin bertemu dengan istri dan anak-anaknya, maka Raja Kodung harus melemparkan sebutir telur ayam kampung yang masih mentah, sebatang paku, sebutir kemiri, seutas sirih, segenggam berteh padi dan beras kuning yang sudah dilumuri minyak wangi lalu dilemparkan ke Sungai Mempawah. “Sang Raja tadi, disuruh melemparkan sebutir telur ayam kampung yang masih mentah, sebatang paku, sebutir kemiri, seutas sirih, sejemput berteh padi dan beras kuning yang sudah dilumuri minyak wangi lalu dilemparkanlah ke Sungai Mempawah. Dari itulah yang kita kenal kata bebuang”, tambah Elias Suryani Soren.

Bace ga’: Upacara Setelah Melahirkan, Tradisi Keraton Mempawah

Ketika akan berpisah, Putri Banyu Lirih berpesan bahwa jika menemukan buaya kuning di hulu Sungai Mempawah, maka jangan diganggu, karena buaya kuning ini merupakan keturunan dari perkawinan antara Raja Kodung dan Putri Banyu Lirih. Sang rajapun memegang erat pesan yang disampaikan isterinya. Dengan rasa sedih dan haru, Raja Kodung meninggalkan Putri Banyu Lirih dan anak-anaknya.

Akhirnya Raja Kodung kembali ke kerajaan Mempawah Tua dan sangat ditunggu-tunggu kedatangannya oleh rakyatnya. Raja Kodung dikenal sebagai raja yang bijaksana dan tegas. Sehingga tidak heran jika pada saat itu rakyat sangat merindukan Raja Kodung.

“Apabila Raja itu hendak merindukan istri dan anak-anaknya, maka disiapkanlah perlengkapan yang sudah dibilang tadi untuk ditebarkan di Sungai Mempawah. Muncullah beberapa buaya kuning mendekati sang raja. Maka hilanglah rasa rindu sang raja ini kepada istri dan anak-anaknya. Hal inilah yang membuat keturunan raja-raja Mempawah tetap mengadakan (melestarikan) acara buang-buang itu. Dan karena pesan dari Putri Banyu Mustari untuk tidak menggangu buaya kuning, maka sang rajapun memerintahkan untuk semua keturunannya agar tidak mengacau (mengganggu) buaya kuning tersebut,” tambah Elias Suryani Soren menutup ceritanya.