Sigondah: Meriam Dahsyat Peninggalan Kerajaan Mempawah

Oleh Kinanti Wulandari

Hijau dan damai, kata yang dapat mewakili suasana di tempat ini. Suara burung-burung dan tawa canda masyarakat menjadi nyanyian paling indah di sini. Tempat ini dikenal dengan nama Keraton Amantubillah, Mempawah. Ini merupakan tempat beristirahatnya sang prajurit sejati. Sang parajurit yang memiliki segudang cerita. Sang prajurit yang menjadi tokoh dan saksi bisu. Meriam sigondah. Kecil dan gagah, namun sangat terkenal pada zamannya. Meriam sigondah termasuk dalam golongan rantaka atau meriam kecil. Sigondah ditemukan di kapal raja. Meriam sigondah merupakan kepunyaan Opu Daeng Manambon, bergelar Pangeran Mas Surya Negara. Di pulau Siantan, meriam sigondah amat berjasa dalam upaya menumpas perompak di sungai maupun laut. Bahkan ketika pergi ke negeri Kamboja, sigondah pun tak ketinggalan menambah keseganan para pelaut dan perahu negeri itu. “Meriam Sigondah selain terkenal dengan kemampuan perangnya, juga terkenal dengan cerita kengkerannya.” Ungkap Ibu Rugayah (80), yang merupakan menantu kerajaan Mempawah pada Jumat, 15 April 2016.

sigondah-mempawah
Menurut menantu kerajaan yang berdarah Sunda ini, meriam merupakan bagian dari perjalanan panjang Mempawah untuk mengusir penjajah. Perjuangan melawan penjajah terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Termasuk Kalimantan Barat. Kerajaan-kerajaan di Kalimantan Barat melawan penjajah dengan segala cara. Satu di antara kerajaan yang terdapat di Kalimantan Barat yaitu kerajaan Mempawah. Senjata utama pada masa itu adalah meriam. Satu di antara peninggalan yang berupa meriam tersebut adalah meriam Sigondah.

Sigondah merupakan meriam kecil yang biasa ditempatkan di kapal raja. Pemberian nama Sigondah mempunyai arti perasaan yang seram dan gundah. Nama tersebut berasal dari sebutan masyarakat karena kedahsyatannya dengan suara gemanya yang menimbulkan perasaan seram dan gundah. “Sigondah ini terbuat dari besi kuning dan tembaga,” terang beliau sembari mengelus tubuh meriam tersebut. Sigondah merupakan kepunyaan Opu Daeng Manambon bergelar Pangeran Mas Surya Negara.

Di pulau Siantan, meriam Sigondah amat berjasa dalam upaya menumpas perompak di sungai maupun laut. Sigondah terpasang di atas perahu milik Opu Daeng Manambon. Bahkan ketika pergi ke negeri Kamboja, Sigondah pun tak ketinggalan menambah keseganan para pelaut dan perahu negeri itu. Selain kemampuan perangnya yang tidak dapat diragukan lagi, Sigondah yang menjadi kebanggan masyarakat ini juga terkenal dengan cerita keangkerannya. Cerita keangkeran meriam sigondah ini dialami oleh para penjajah yang berusaha merebut dan menghancurkan meriam, ungkapnya dengan suara parau yang menggambarkan usianya tak lagi muda.
Ketika sigondah direbut oleh serdadu kompeni Belanda. Sigondah dibakar selama berhari-hari dengan kobaran api yang sangat besar. Sigondah membuktikan keampuhannya. Sigondah tidak berubah warna menjadi memerah seperti logam-logam yang dibakar pada umumnya. Kompeni Belanda pun takut dan takjub. Akhirnya sigondah dikembalikan ke Istana Amantubillah.

Tidak hanya itu. Sigondah tidak berakhir pada masa penjajahan Belanda. Akan tetapi juga pada zaman penjajahan Jepang. Sigondah diambil paksa oleh polisi Jepang untuk diamankan. “Ketika sigondah disimpan di dalam satu kamar penjara Mempawah, sigondah tiba-tiba meledak dengan sendirinya,” ujar Bu Rugayah dengan penuh semangat bercerita seolah menghapus semua kerutan di wajahnya. Keangkeran sigondah yang meledak tanpa sebab tersebut membuat polisi Jepang sangat ketakutan. Sigondah pun dikembalikan ke Istana Amantubillah.

Kisah-kisah kekuatan dan keangkeran meriam sigondah dari zaman dahulu tersebut, menjadikan meriam sigondah satu di antara peninggalan sejarah yang berharga. Meriam kebanggaan masyarakat Mempawah ini, dirawat dengan baik hingga saat ini. Sigondah disimpan dan dijaga dengan baik dalam kamar khusus di Istana Amnatubillah, Mempawah. Sigondah menjadi kebanggaan kita bersama. “Maka dari itu mari kita sama-sama menjaga peninggalan sejarah yang tetap menjadi cerita indah bagi anak cucu kita kelak,” ungkap beliau sembari menepuk hangat bahuku dan mengakhiri kisahnya.

Sultan Hamid II, Sang Perancang Lambang Negara yang Terlupakan

Oleh: Nur Iskandar

Tepat di hari Kartini, (21/4), Seminar Nasional Meluruskan Sejarah Sultan Hamid Sebagai Perancang Gambar Elang Rajawali Garuda Pancasila dilaksanakan di gedung DPR RI, diisi oleh tiga narasumber. Pertama pakar hukum pidana Prof Dr Andi Hamzah menjawab perihal tuduhan makar (APRA/Westerling) kepada Hamid, kedua peneliti sejarah hukum lambang negara Turiman Faturrachman Nur, SH, M.Hum mengulas sejarah panjang disahkannya Garuda Pancasila, dan ketiga Direktur Rumah Garuda Jogjakarta yang juga akademisi ISI: Nanang Rokhmad Hidayat, S.Si menguliti respon masyarakat Indonesia kepada Garuda Pancasila yang “tidak standar”.

seminar Sultan Hamid-sang perancang lambang negara
Pembicara pertama, guru besar dari Universitas Indonesia Prof. Andi Hamzah,  mengurai isi dakwaan kepada Hamid dengan ulasan pasal per pasal di mana kesimpulan beliau sebagai mantan jaksa bahwa semestinya putusan pada Hamid adalah bebas murni karena tidak terbukti makar! Hamid tidak terbukti menggerakkan pasukan, memberikan perlengkapan dst. Locus delicti Hamid juga sedang berada di Kota Pontianak bersama Muhammad Hatta. Prof Andi Hamzah juga menyarankan agar ahli waris melakukan Peninjauan Kembali alias PK kepada negara. Bukan untuk kepentingan Hamid karena beliau sudah meninggal dunia, namun untuk generasi muda Indonesia di hadapan hukum. Bahwa seseorang dihukum akibat perbuatannya, bukan pengadilan politik (politisasi) atau kriminalisasi sehingga terjadi penguburan masa depan seseorang. Pelurusan sejarah itu penting bagi masa depan Indonesia dalam berhukum.

Turiman Faturrachman Nur sebelum menyajikan makalahnya menampilkan film dokumenter Departemen Luar Negeri melalui Museum Konferensi Asia Afrika berdurasi 12 menit di hadapan 100 orang lebih peserta seminar. Di sana tampak peran Sultan Hamid II dalam merancang Lambang Negara dan diakui negara secara de-facto–hanya belum secara de-jure.

Turiman mendapat banyak applaus hadirin karena semangatnya. Salah satu applaus itu muncul ketika suaranya tercekat, “Mohon maaf saya gugup karena di sini bicara prihal pelurusan sejarah Lambang Negara namun di saat yang sama istri saya terbaring di rumah sakit. Namun begitulah perjuangan,” ungkapnya.

Nanang Hidayat dengan ulasan gaya “seniman” mengoreksi DPR/MPR. Bahwa sejak pertama masuk ke Senayan dia mendapati tiga “spesies” Garuda. Ada yang bahunya kotak, ada yang mengembang bagaikan ingin memeluk pahlawan revolusi di Lubang Buaya, dan ada yang standar. “Ini di rumah wakil rakyat, apalagi di tengah masyarakat! Ada ratusan spesies Garuda di tengah masyarakat kita. Kenapa? Karena lembaran negara tidak disebar sehingga orang tahu standar yang benar. Saya memotret hampir di setiap RT DIY ada Garuda yang kurus, gendut, bahkan loyo,” ujarnya disambut gelak tawa hadirin. Hal itu lanjutnya akibat Garuda Pancasila dikaburkan standarisasinya dalam struktur hukum tata negara. Padahal sebenarnya yang standar sudah ada tertuang di dalam lembaran negara ketika rancangan Hamid ditetapkan sebagai Lambang Negara oleh Presiden Soekarno. Yakni PP No 66. Akibat tak ada pakem standar, tak ayal sampai kini meruyaklah persoalan seperti Garuda Merah, kaos bola, bahkan sampai ke Zaskia Gotik maupun Teten Masduki.

Baca Juga: [PETISI] Perancang Lambang Negara Sultan Hamid II Sebagai Pahlawan Nasional

Seminar dilengkapi dengan testimoni peneliti perihal tuduhan pidana (Makar) kepada Hamid melalui Ketua Yayasan Sultan Hamid, Anshari Dimyati, SH, MH. Dia mengurai kronologi meluruskan sejarah siapa yang merancang gambar Garuda Pancasila, yakni dimulai pada penemuan disposisi Soekarno oleh tim reporter Mimbar Untan (1994), kemudian diteliti melalui tesis Turiman di UI, berlanjut ke seminar nasional bersama Ketua DPR RI Akbar Tandjung, pembuktian Hamid bebas dari tuduhan pidana melalui tesis Anshari Dimyati di bawah bimbingan Prof Andi Hamzah juga di UI, pameran Lambang Negara di Istana Negara dan berbagai daerah di Indonesia, peluncuran buku Biografi Politik Sultan Hamid II, serta akhirnya diterima Mensos Khofifah Indar Parawansa Jumat (15/4), di mana Khofifah setuju agar Sultan Hamid diusulkan sebagai PAHLAWAN NASIONAL karena jasa-jasanya yang luar biasa. Selain merancang lambang negara juga pengakuan kedaulatan oleh Belanda melalui Konferensi Meja Bundar. “Jika Hamid sebagai Ketua BFO tidak setuju dibentuknya RIS, maka pengakuan kedaulatan RI tak akan diperoleh,” tegasnya juga disambut tepuk riuh peserta. Hamid juga menjadi saksi saat Soekarno dilantik sebagai Presiden RIS di Keraton Sitinggil-Jogjakarta. Begitu nasionalismenya Hamid sehingga tidak perlu diragukan. Ia menjemput Soekarno dari penjara untuk kedaulatan Indonesia. Bahkan, traktat PBB membuktikan bahwa Daerah Istimewa Kalimantan Barat adalah entitas yang termuda bergabung ke NKRI. Di mana sebelumnya DIKB adalah negara merdeka yang setara dengan Negara Republik Indonesia sehingga dalam nomenklatur Perda di Kalbar semua berujung tahun termuda, yakni 1957. Jadi, Hamid membuktikan dirinya sangat nasionalis walaupun idenya memakmurkan Indonesia lewat pendekatan federalis. “Namun ide federalisme itu telah diserap lewat otonomi daerah era reformasi. Ini tanda bahwa pikiran Hamid sudah jauh melangkah ke depan melebihi zamannya. Ia diplomat cerdas dan menguasai 9 bahasa internasional,” tegas Turiman.

Selama seminar ada dua sesi dialog. Wakil rakyat dari DPR Fraksi Golkar, Ir Zulfadhli angkat bicara. Dia setuju Sultan Hamid dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional dan sebagai anggota Komisi yang berhubungan dengan bidang pendidikan dia akan turut mengawal. Ia juga mengusulkan agar MPR RI melakukan seminar besar soal Lambang Negara agar menjadi daya dorong kuat penetapan Hamid sebagai Pahlawan Nasional dan tertuang dalam revisi UU No 24 Tahun 2009 soal Bahasa, Bendera dan Lambang Negara. “UU No 24 sebagai turunan dari amandemen UUD 1945 memang belum matang karena saat itu DPR kejar tayang menjelang akhir masa jabatan. Saya saat itu belum menjadi anggota di Senayan namun saya cari tahu, kalau penyebabnya adalah kejar tayang. Sebab adalah lebih baik diundangkan lebih dahulu sembari mematangkan yang belum sempurna. Toh di dalam UU tersebut juga banyak nilai-nilai utama dan positif.” Zulfadhli juga setuju agar ahli waris melakukan PK sebagaimana saran Prof Andi Hamzah. Ia menunjuk, “Mumpung saksi sejarah masih ada seperti Max Jusuf Alkadrie.” Yang ditunjuk pun manggut-manggut. Namun di Kalbar ada tokoh Dayak yang juga saksi sejarah serta masih hidup yakni Baroamas Djabang Balunus Massuka Djanting. Massuka Djanting bahkan ikut rapat di Hotel Des Indes ketika Lambang Garuda Pancasila sedang digambar/dirumuskan oleh Sultan Hamid sebagai Menteri Negara Zonder Porto Folio.

Sejumlah wakil rakyat dari Kalbar juga angkat bicara seperti Luthfi A Hadi, Firdaus Zar’in, senator Nurbaeti serta Dekan Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Dr Hasyim Azizurrahman Alkadrie. Semua memberikan apresiasi dan kontribusi agar sejarah yang bengkok mesti diluruskan.

Acara seminar dibuka Sekretaris Fraksi Nasdem DPR RI, H Abdullah Alkadrie, SH, MH pada pukul 13.30 dan berakhir pada pukul 16.30 WIB. Saya yang turut mendengarkan seminar yakin, hakkul yakin, bahwa kebenaran pasti akan terungkap–sebab alam memang diciptakan Tuhan dengan sifat arif dan bijak. Apalagi coverage media nasional juga cukup paten. Selain ekspose detik.com, juga ada Metro-TV, Kompas, Jawa Pos dll…dan tentu viral Sosial Media. Selamat Hari Kartini… Habis gelap–terbitlah terang. Sejarah yang gelap pun jadi terang benderang…

Sejarah Pal Sembilan

Oleh Ria Snaux

Pal sembilan adalah desa yang berada di Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Indonesia. Tidak banyak orang mengetahui sejarah berdirinya Desa Pal Sembilan. Menurut H. Burhani Baltan (73 tahun) pria kelahiran Desa Pal Sembilan, 1 April 1943 ini menjelaskan bahwa penduduk yang mula-mula mendiami kawasan Pal Sembilan adalah orang Bugis.

Kawasan ini dinamakan Pal Sembilan karena berkenaan dengan nomenklatur yang diberikan oleh Belanda sejak tahun 1928. Pal dalam bahasa Belanda berarti kilometer. Kawasan ini berada dalam jarak 9 kilometer dari Pontianak menuju ke kawasan Kakap. Oleh karena itu, kawasan ini disebut Pal Sembilan. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh H. Burhan Baltan tokoh masyarakat Pal Sembilan, “Jumlah kilometer keseluruhan Pal Sembilan 20 kilometer dari Pontianak ke Kakap. Untuk mengambil wilayah sebagai pusat pembatas, diambil 9 km dari Kakap dan 9 km dari Pontianak. Pertengahannya ini disebut Pal Sembilan.”

Menurut H. Burhani Baltan wilayah ini pada awalnya merupakan kawasan yang dipenuhi dengan semak belukar dan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Adapun penduduk yang pertama kali mendiami Pal Sembilan adalah orang-orang dari Sulawesi Selatan yang bersuku Bugis. Mereka yang pertama kali melakukan penebangan hutan, mencangkul, membuat saluran air (paret kongsi dalam bahasa Melayu) secara gotong-royong. Saluran air ini tembus sampai ke parit yang lebih besar yang disebut Parit Kongsi. Parit ini merupakan jalur air dari Kakap dan Pontianak. Bahkan, daerah Pal Sembilan terdapat Paret Wak Haruna dan Paret Wak Gattak yang juga dibuat oleh orang dari Sulawesi Selatan yang mula-mula membuka kawasan Pal Sembilan.

Pal Sembilan kemudian berkembang menjadi desa yang ramai ditempati penduduk. Masyarakat Pal Sembilan pun membentuk desa baru berdasarkan anggota masyarakat yang berdiam di sana. Selanjutnya, mereka menjadikan bercocok tanam sebagai mata pencarian kehidupan sehari-hari. Dengan mimik serius H. Burhani Baltan melanjutkan cerita tentang Pal Sembilan. Ia pun mengenang aktivitas masyarakat Pal Sembilan dahulu yang menggunakan sampan (perahu kayu) sebagai alat transportasi. Hal ini dikarenakan jalan pada masa itu belum ada untuk menghubungkan satu wilayah ke wilayah lainnya.

Beberapa puluh tahun kemudian baru berdatangan orang-orang yang mencari kerja untuk tinggal di wilayah ini. Ada orang Dayak, Madura, Sambas, Jawa, Cina, dan Arab. Beragamnya suku yang mendiami wilayah Pal Sembilan ini membuat banyak generasi penerusnya terlahir dari masyarakat multietnik. Menurut H. Burhani Baltan ada yang lahir dari pasangan suku yang sama di wilayah ini dan ada yang berlainan suku pula. Meskipun demikian, suku yang mendominasi wilayah ini adalah suku Bugis dan Melayu. Lebih lanjut tokoh masyarakat Pal Sembilan ini mengungkapkan bahwa kehidupan di wilayah ini dipengaruhi agama mayoritas penduduknya, yaitu Islam. Tidak mengherankan banyak didirikan masjid di berbagai lokasi di sekitar kawasan Pal Sembilan.

pal sembilan
Sekarang, sudah banyak perubahan di wilayah ini. Bangunan semakin banyak. Kegiatan ekonomi semakin maju. Pekerjaan warganya beragam. Ada bertani atau bercocok tanam, berkebun, dan sebagainya. Pendidikan di wilayah ini juga semakin maju. Banyak dari warga Pal Sembilan lulusan dari perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Jumlah penduduknya pun semakin banyak. Menurut H. Burhani Baltan adat istiadat masih dijunjung tinggi. Unsur-unsur budaya yang ada pada awal berdirinya Pal Sembilan ini masih dapat dirasakan anak cucu. Ini terbukti dengan adanya “tolak bale” (adat membaca doa bersama) dan “penok-penok” yang dilakukan masyarakat Bugis Pal Sembilan.

Dari Komunitas Melayu Nusantara, Iyeth Bustami Hingga Rekor MURI, Meriahkan FSBM XI

pengurus-mabm-kalbar
Gawai Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) XI kian dekat. Festival yang akan mengumpulkan masyarakat Melayu di Singkawang ini akan dihelat pada 17—22 Oktober 2016. Kegiatan yang diinisiasi oleh Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalimantan Barat ini menjadi acara kebanggaan masyarakat Melayu di bumi Kalimantan, bahkan di Indonesia.

“Kegiatan ini akan mengundang komunitas Melayu yang ada di Nusantara dan lembagai Melayu serumpun dari negara tetangga untuk memeriahkan even besar ini,” ujar Chairil Effendy, selaku Ketua Umum MABM Kalimantan Barat.

Syech Bandar, ketua panitia FSBM XI, mengungkapkan bahwa panitia akan mendatangkan artis terkenal untuk meramaikan malam final kegiatan FSBM XI. “Artis yang didatangkan ini insyallah adalah artis yang tak asing lagi bagi kita, Iyeth Bustami,” jelas Syech Bandar.

Kegiatan FSBM XI ini juga akan menyelenggarakan satu kegiatan yang dapat mencetak rekor MURI. “Kita akan pecahkan rekor MURI di Singkawang dalam FSBM XI. Pemecahan rekor ini juga melibatkan seluruh kontingen MABM Kabupaten/Kota lainnya. Tapi, rekor yang mau dibuat masih rahasia,” tegas Sekda Singkawang ini berdiplomasi.

Pemkot Singkawang Siap Gelar FSBM XI

paparan-sekda-mabm-singkawang
“Pelaksanaan Festival Seni Budaya Melayu XI Kalimantan Barat akan dipusatkan di Stadion Kridasana Singkawang mulai 17—22 Oktober 2016,” ujar Syech Bandar selaku ketua panitia saat memaparkan persiapan kota Singkawang sebagai tuan rumah FSBM XI di Balai Kerja Rumah Melayu, Sabtu, 9 April 2016.

Pengurus DPP MABM sangat serius dan kagum dengan pemaparan Syech Bandar yang juga Sekda Singkawang dalam rapat persiapan pelaksanaan FSBM XI ini. Lebih lanjut, Sekda Singkawang menegaskan bahwa Singkawang siap menyelenggarakan berbagai kegiatan lomba dan eksibisi di Stadion Kridasana sebagai lapangan kebanggaan masyarakat Kota Singkawang.

Pemkot Singkawang akan menjadikan Stadion Kridasana menjadi tujuan peserta FSBM XI dan masyarakat yang ingin menyaksikan berbagai perlombaan yang digelar serta pusat jajanan kuliner tradisional. Di lokasi kegiatan akan ada kuliner khas Melayu dengan cara besaprah yang dapat dinikmati pengunjung setiap harinya. “Baik siang maupun malam akan ada saprahan di lokasi lomba. Makanan tersedia tidak putus-putus,” tegas Sekda Singkawang.

Lebih lanjut, Sekda Singkawang yang murah senyum ini memastikan bahwa panitia juga mempersiapkan malam takruf bersama Walikota Singkawang. Acara ini sebagai penyambutan tuan rumah kepada peserta dan kontingen kabupaten/kota yang menjadi peserta FSBM XI. “Dalam pelaksanaan FSBM XI, panitia akan menyiapkan dan memfasilitasi keperluan peserta lomba selama kegiatan berlangsung,” tegas Sekda Singkawang.

Sertifikat Gratis, Upaya Mengenalkan Tugu Khatulistiwa Hingga ke Mancanegara

oleh Anggun Pertiwi

sertifikat_tugu-khatulistiwa
Kurang lengkap rasanya jika wisatawan yang sudah mampir ke kota Pontianak namun tidak menyambangi tugu Khatulistiwa. Bangga rasanya kala mendapat sertifikat sebagai bukti telah melintasi garis khatulistiwa. “Sertifikat gratis, tanpa dipungut biaya malah sudah ada tanda tangan Walikota Pontianak,” ujar Kasnawi, operator pelayanan sertifikat sedikit berpromosi.

Sudah sekitar tiga puluh tahun pemberian sertifikat pelintas khatulistiwa ini diberikan secara gratis. “Dulu sertifikat ini masih ditulis dengan mesin ketik, sekarang tidak perlu repot lagi dan takut salah menulis nama orang karena sudah menggunakan komputer,” ungkap Kasnawi saat ditemui Senin, 21 Maret 2016.

Sertifikat ini hanya diberikan untuk wisatawan dari luar kota Pontianak untuk memperkenalkan objek wisata Tugu Khatulistiwa kepada masyarakat dari luar Pontianak hingga mancanegara.

Piagam Perlintasan Khatulistiwa atau Certificate of Equator Crossing memuat nama pengunjung, dan waktu mengunjungi tugu khatulistiwa, dan pernyataan bahwa telah melintasi Khatulistiwa di kota Pontianak, dan tidak lupa juga terdapat tanda tangan dan cap asli dari Walikota Pontianak. Selain mendapatkan sertifikat gratis, wisatawan akan mendapatkan banyak informasi mengenai monumen yang bersejarah ini.

Garis ekuator atau yang biasa disebut dengan garis khatulistiwa adalah garis yang membagi bumi menjadi dua bagian yaitu belahan bumi utara dan belahan bumi selatan. Garis khatulistiwa juga merupakan poros rotasi bumi. Garis khatulistiwa hanya melintasi daratan atau wilayah perairan di 14 negara, satu di antaranya adalah kota Pontianak.

Pontianak adalah salah satu kota yang dilintasi oleh garis ekuator dan memiliki monumen yang kini menjadi objek wisata. “Sekitar 30 tahun sertifikat ini sudah diterapkan, sertifikat ini diberikan gratis untuk turis asing sebagai upaya memperkenalkan kota Pontianak ke mancanegara,” pungkas Kasnawi.