Home / Jurnalisme Warga / Adat Perkawinan Masyarakat Dayak Jawant di Sekadau

Adat Perkawinan Masyarakat Dayak Jawant di Sekadau

Oleh Florentina

MABMonline.org, Sekadau — Cuaca yang kurang bersahabat tak mengurungkan niatku untuk melakukan perjalanan pulang ke Sekadau. Melewati jalanan yang rusak akibat seringnya mobil dengan muatan yang berlebihan melewati jalan menuju ke Sekadau. Waktu yang harus ditempuh dari Pontianak menuju ke Sekadau lumayan membuat perut keroncongan, sekitar 6 jam baru bisa sampai ke tujuan.

Sabtu, 27 April 2013 pukul 06.00 ku kendarai sepeda motor untuk berangkat menuju Sekadau, kampung halamanku. Ada hal yang membuatku cukup khawatir dengan cuaca yang agak mendung seperti akan turun hujan, maklum aku lupa membawa mantel sedangkan ada laptop di tasku yang tak ada pengamannya apabila turun hujan. Untungnya hal yang tak diharapkan memang tak terjadi, aku datang ke rumah kira-kira pukul 12.00. Tujuan utama dari perjalan yang kutempuh adalah untuk bertemu dengan kedua orangtuaku dan kedua anakku dan juga sekalian ingin bertemu dengan  seorang yang mengetahui Adat Perkawinan Dayak Jawant. Paulus Misi, itulah namanya, seorang mantan guru IPS di SD Negeri 1 Sekadau dan sekarang bekerja di sebuah lembaga pemerintahan di Sekadau.

Malam (28/4) sekitar pukul 06.30, aku mendatangi kediaman Pak Misi di jalan Rawak tepatnya lagi di gang Pangsuma sekedar bermaksud untuk membuat janji pertemuan untuk melakukan wawancara tentang Adat Pernikahan Dayak Jawant itu. Kebetulan saja malam itu ia tak memiliki kesibukan, lalu ia pun mulai bercerita panjang lebar mengenai Adat Perkawinan Dayak Jawant.

Awal mula tata cara Adat Perkawinan Dayak Jawant berdasarkan cerita Misi (50).
ACARA PINANGAN/ LAMARAN, dalam acara ini ada yang di sebut Ninggal Cincin Lima (menyerahkan fotocopy KTP): tanda pengikat antara kedua belah pihak (perempuan dan lelaki). Saat melaksanakan
Ninggal Cincin Lima, disaksikan oleh pihak lelaki dan kedua orangtua dari perempuan.
Ninggal Cincin Lima bisa diganti dengan uang sebesar Rp. 20.000,- (dua puluh ribu rupiah) dan yang mengeluarkan biaya tersebut dari pihak lelaki. Biaya makanan secukupnya dikeluarkan oleh pihak
perempuan.

Cincin Perak: lelaki dan wali bertemu dengan perempuan. Saat melaksanakan Cincin Perak disaksikan oleh ketua RW, ketua RT, Kepala Dusun (pilih salah satu saja) sebagai saksi dari pihak lelaki serta kedua orangtua perempuan dari pihak perempuan. Cincin Perak bisa digantikan dengan uang sebesar Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah) dan yang mengeluarkan biaya tersebut dari pihak lelaki. Biaya makanan secukupnya dikeluarkan pihak perempuan.

Ninggal Lancong (menyerahkan fotocopy KTP orangtua, saksi dan surat keterangan yang menyatakan
masih bujang): lelaki dan orangtuanya membawa gelang tembaga serta takin berisi pakaian, mereka bertemu perempuan dan orangtuanya. Saat Ninggal Lancong yang diberi: 1 helai kain panjang serta 1 helai baju kebaya, ketua RT, ketua Rw, Kepala Dusun (pilih salah satu) sebagai saksi dari pihak lelaki, 1 orang pemimpin agama dari lelaki.

Ninggal Sabok (menyerahkan akte lahir). Ninggal Sabok dilakukan pada malam hari.
Syaratnya: 1  tempayan isi tuak, 1 ekor ayam, 1 butir telur ayam, lemang 1 ruas dan langsung membunyikan gong untuk mengambil istri.
Dalam Ninggal Sabok, jika ada salah satu pasangan yang menolak, baik lelaki maupun perempuan mengandung. Maka lelaki dikenakan Adat kampung perempuan, yaitu:
1) perempuan mengandung lelaki tidak mau menikah (akan dikenakan Adat Kampang, biaya dikeluarkan bersama, harga tubuh perempuan harus dibayar segera). Rincian Adat Kampang:
a. Adat Kampang: Adat Kampang dibagi dua (sama-sama dikenakan adat), pembagian adat yang berbeda hanya bai (2 rinti/ ukuran kepala babi yang sudah ditentukan) dari lelaki, 1 rinti dari perempuan.
b. Biaya Pembayaran Bidan: memberi beras 3 piring dan ditambah 1 ekor ayam jago, 1 buah sabun cuci, 1 helai kain panjang yang masih baru, 1 helai baju kebaya dan peniti satu bungkus, 1 ruas beras pulut, uang sebesar Rp. 20.000,- (dua puluh ribu rupiah) dan satu buah paku sebagai pengkeras.
c. Biaya Hidup Anak: nafkah anak ditanggung sampai usia 17 tahun (jika dinilai dengan uang sebesar    Rp.22.500.000,- (dua puluh dua juta lima ratus ribu rupiah), dibebankan kepada lelaki uang sebesar Rp.15.000.000,- (lima belas juta rupiah) dan untuk perempuan dibebankan uang sebesar Rp. 7.500.000,- (tujuh juta lima ratus ribu rupiah).
Apabila lelaki belum sanggup membayar uang yang sudah ditetapkan, maka ia wajib membuat surat pernyataan (menggunakan materai enam ribu) bila ia siap melunasi uang tersebut.
Tanggal jatuh tempo pelunasan uang tersebut paling lama 3 bulan terhitung ditetapkannya adat tersebut. Jika lewat dari batas yang telah ditetapkan, maka dikenakan 2 kali lipat dari nilai yang ditentukan.
2) perempuan mengandung, perempuan tidak mau menikah (perempuan mengisi adat kampang tunggal, harga tubuh perempuan tidak dituntut).
3) perempuan mengandung, jadi menikah (mereka berdua harus mengisi adat kampang, dibebankan bersama, harga tubuh perempuan dibayar lelaki).

ACARA TUNANGAN, dalam acara ini ada yang disebut: Ontok
Toluk Segik (memecahkan satu butir telur dikepala): Ontok
Toluk Segik dilakukan pada siang hari setelah nopak sabok (jika lelaki menunda, maka bersanding dilakukan ditempat perempuan). Syaratnya: 1 buah tempayan isi tuak, 1 ekor ayam dikeluarkan oleh pihak lelaki dan dari pihak perempuan 1 buah tempayan, 1 ekor ayam, beras (10 canting dan 10 canting beras ketan dikeluarkan lelaki dan perempuan, telur 2 butir dan babi sekitar 10 s/d 15 kg).

Adat yang dikeluarkan pihak lelaki: pakaian ganti (1buah tempayan kecil, jika tidak ada bisa diganti dengan emas minimal ½ gram), kain panjang (kain putih 4 meter dan kain panjang 4 meter). Apabila pelaksanaan bersanding dahulu dari nikah gereja, maka pihak lelaki dan perempuan dikenakan adat 8 poku beikong.Kemudian, Bejadi Koci (menikah kecil-kecilan): Bejadi kocit dibedakan menjadi dua bagian, yaitu:
a) bertunangan: apabila sudah bersanding langsung menikah, ia menikah ditahun yang sama dengan tahun bersanding. Semua biaya ditanggung rata oleh kedua belah pihak.
b) menikah tanpa bertunangan (sudah lama bersanding): jika lelaki menunda lebih dari 3 tahun, maka ia harus membayar barang-barang yang sudah disiapkan (ganti rugi), jika perempuan menunda lebih dari 5 tahun, maka ia harus membayar barang-barang yang sudah disiapkan. Adapun syarat Bejadi Kocit: babi 5 rinti, 4 buah tempayan kecil isi tuak, 4 ekor ayam, beras padi dan beras ketan secukupnya serta 4 butir telur. Barang-barang yang disiapkan (menikah tanpa bertunangan): babi 1 rinti, 1 buah tempayan besar isi tuak, 1 ekor ayam, beras padi dan beras ketan secukupnya. Harga tubuh perempuan:
a. Buis (1 buah tempayan besar kalau diganti emas minimal 3 gram,
b. Romak Ruguk (7 buah mangkuk batu),
c. 1 helai kain batik,
d. Pendawan Sangsang Longan (1 batang pendawan jika diganti dengan uang sebesar Rp. 30.000,- (tiga puluh ribu rupiah),
e. Bure Marit Seta Kelincin (jika diganti uang sebesar Rp. 20.000,- (dua puluh ribu rupiah).

Pelaksanaan Bejadi Kocit: dimulai dari minum tuak 1 tempayan kecil, pengantin mandi air tuak 1 tempayan, makan besar (lelaki dan perempuan minum tuak 1 tempayan kecil). Apabila pasangan yang sudah bersanding memilih menikah kecil-kecilan, maka dia akan diberi waktu 5 tahun. Jika sampai 5 tahun tidak menikah, maka ia dikenakan adat 16 Beikong Bekepala sebagai Adat Pengusupan Penongah. Apabila sudah menikah kemudian suaminya menceraikan isterinya maka ia dikenakan Adat 16 Basok Luncor Empongat Pelabor. Apabila isterinya menceraikan suaminya, maka ia dikenakan Adat 16 dengan
Basok Luncor Empongat Pelabor.

Terakhir Bejadi Bose (menikah besar-besaran), dalam acara Bejadi Bose ada yang disebut Mandok Kapuk (syaratnya: 1 botol tuak dan 1 butir telur), Duduk Gawe (syaratnya: 5 ruas beras ketan, 1 buah tempayan isi tuak dan 1 ekor ayam betina), Nebang Buluh Telintin (dua orang lelaki menebang buluh, syaratnya: 1 botol tuak, 1 pucuk pendawan dan 1 ruas nasi), Tajok Tajo Tekalak (dilakukan oleh seorang penegah dari lelaki), Nigas Tempayan Menjadi Besar (syaratnya: 1 ekor ayam dan 1 ruas nasi), Gantung Gendang Gong (syaratnya: 1 ekor ayam, 1 buah tempayan, 1 butir telur ayam dan 1 ruas beras ketan), Ngobo Tajo (tajo berjanji), sesudah menari tempayan dipinggirkan setelah itu diikat di tiang tengah dan ditajok dengan tiang selimpak lalu didirikan tajo tekalak menggunakan tempayan), atas tajo tekalak diisi nulang 7 buah isi beras di timpa di bawah ayam, di atasnya diisi dengan buah pisang, Ancam Maram dengan tepung ditimpa beras ketan (7 butir telur ayam, 7 buah pinang, 7 helai daun sirih, 7 tingkat tangga tembaga lancong, 7 helai daun kelapa, 7 buah tumpak buah mure, timpak jamulo dan tumpak tajo), tamu datang (tamu datang disuguhi makanan, jika sudah makan semua berkumpul minum tuak 1 tempayan besar, duduk-duduk melihat tari tanjar, selama semalaman menari 7 kali putaran 7 pasangan sesudah itu istirahat sebentar, subuhnya berkumpul makan bersama, memberi makan 4 orang lelaki dan 2 orang perempuan), pengantin lelaki (menghamburkan beras, menyembelih babi, memotong ayam dan menandai tubuh lelaki), pengantin perempuan (perempuan membawa ramu mandi ke sungai, setelah mandi pengantin perempuan ditandai dengan kapur, menari 7 kali putaran, sesudah itu pergi ke seberang mengambil perempuan dan lelaki untuk dibawa pulang ke rumah, berkemas pergi nikam
telintin).
Barang-barang Nikam Telintin (1 buah tempayan, 1 ekor ayam, 1 butir telur ayam, 1 ekor babi, gong, 1 buah janang, 1 buah gendang, 1 helai baju dan 1 helai sarung), Urutan Nikam Telintin (Nikam Telintin adalah alas, narik gawe, penengah dari lelaki, pengantin pria, lelaki kembar, wali dari lelaki, wali dari perempuan.

Setelah Nikam Telintin selesai, semuanya pulang ke rumah. Orang yang bisa Nikam Telintin pulang ngamah jondar, stelah itu menari 7 kali putaran dengan peserta lainnya, setelah menari langsung makan besar, menari mengiringi pengantin sekaligus membongkar gendang, menyiapkan 2 buah tempayan pengantin lelaki dan perempuan mengucap janji, nyurong balong disaksikan oleh penengah perempuan dan lelaki, setelah itu diberi kepada pengantin, penengah dua serta penengah dari perempuan dan lelaki akan pulang, kembar pulang dan para tamu pulang, penengah yang kedua menerima gelang tembaga, penengah pulang kaki dibersihkan dengan rombak patah sekali dan langsung di depan tangga melepasnya pulang.

Menurut Misi, apa yang telah disampaikan dan diceritakannya mungkin ada yang terlewatkan. Hanya ini
saja yang bisa disampaikan, apabila ada kekurangan mohon dibantu agar tidak terjadi kekeliruan yang menyimpang. Semoga semua ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan kita dapat melestarikan Adat Perkawinan Dayak Jawant ini.

Check Also

Titik Nol Kilometer Indonesia: Pulau Weh?

Oleh Edi Yanto MABMonline.org, NAD —Dengan potensi bahari yang maha indah, Pulau Weh juga menarik …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *