Home / Ekonomi / Akuntabilitas Dalam Ekonomi

Akuntabilitas Dalam Ekonomi

Oleh: Ismail Ruslan

Sosiolog Jerman, Max Weber menjelaskan bahwa salah satu kunci kesuksesan Barat dalam mengelola usaha adalah kemampuan memisahkan antara harta kekayaan pribadi dengan harta perusahaan. Bagi Weber, jika usaha ingin sukses dan menjadi besar, maka pemilik tidak diperkenankan mencampuradukan antara pendapat perusahaan dengan harta pribadi.

Abdullah (1988:26) menjelaskan bahwa laporan seperti ini tentunya mengharuskan adanya sistem hukum dan  administrasi yang rasional pula. Tanpa hal ini maka akan berkuasalah corak usaha yang bersifat spekulatif dan penuh resiko. Jadi kemajuan dalam kegiatan ekonomi ditentukan oleh sistem pembukuan yang rasional, perpisahan antara kekayaan perusahaan dengan harta pribadi.

Akuntabilitas terhadap laporan keuangan perusahaan menjadi penting dilakukan setiap perusahaan, karena akan membuat sistem keuangan perusahaan menjadi tertib dan dapat dipertanggung jawabkan. Secara sederhana pemilik dan karyawan akan mengetahui berapa keuntungan atau kerugian yang diperoleh oleh perusahaan.

Sebaliknya, usaha atau perusahaan yang dikelola dengan mengabaikan aspek akuntabilitas akan memiliki resiko kerugian yang kebangkrutan. Tindakan yang tidak mampu memisahkan harta perusahaan dengan harta pribadi memiliki kelemahan fundamental. Sulit mengukur aspek keuangan “sehat atau sakit”.

Pentingnya Akuntabilitas

Dukstra (1939) menyebutkan akuntabilitas adalah sebuah konsep etika yang dekat dengan administrasi publik pemerintah, hal ini sering digunakan secara sinonim dengan konsep-konsep seperti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Akuntabilitas juga merupakan istilah yang terkait dengan tata kelola pemerintahan sebenarnya agak terlalu luas untuk dapat didefinisikan (Mulgan, 2000; Sinclair,1995), akan tetapi hal ini sering dapat digambarkan sebagai hubungan antara yang menyangkut saat sekarang ataupun masa depan, antar individu, kelompok sebagai sebuah pertanggungjawaban kepentingan merupakan sebuah kewajiban untuk memberitahukan, menjelaskan terhadap tiap-tiap tindakan dan keputusannya agar dapat disetujui maupun ditolak atau dapat diberikan hukuman bilamana diketemukan adanya penyalahgunaan kewenangan (Schedler, 1999).

Penelitian yang dilakukan Weber, terhadap sebuah perusahaan di Jerman menemukan bahwa faktor yang menyebabkan perusahaan sukses dikarenakan kemampuan mengelola aspek keuangan secara akuntabel, bertanggung jawab.

Pemilik perusahaan tidak menggunakan kewenangannya untuk mengintervensi keuangan perusahaan, dan menjalankan roda usahanya secara profesional. Penggunaan keuangan perusahaan dilakukan secara bertanggung jawab sesuai kaidah yang berlaku.

Bagaimana dengan pelaku usaha kecil ?

Umumnya pelaku usaha mengharapkan dalam beraktivitas memegang teguh prinsip  bertanggung jawab, walaupun berbeda antara satu dengan lainnya. Ada kelompok yang bertanggungjawab terhadap pengelolaan keuangan dengan cara memisahkan kekayaan pribadi dengan keluar masuknya uang perusahaan. Pengelolaan dengan profesional akan mengetahui keuntungan yang diperoleh dan perputaran modal usaha. Sistem pembukuan dan laporan keuangan dilakukan secara ketat, tertib administrasi.

Ada juga pelaku usaha yang tidak membuat catatannya secara rapi, hanya mencatat hal-hal praktis. Cara seperti ini disebut “tradisional”  hanya menggunakan media sederhana seperti kertas satu lembar.

Yang menarik, “sistem” ada juga pelaku usaha dalam pembayaran gaji “karyawannya”,  yang sesuai dengan standar UMR, namun beberapa pelaku usaha justru tidak mampu memberikan gaji sesuai ketentuan Upah Minimum Regional (UMR). Gaji yang diberikan hanya sebatas “ungkapan terima kasih” karena telah membantu kerja.

Namun tindakan itu dilakukan dengan argumentasi bahwa biaya hidup karyawan  yang bekerja sepenuhnya bergantung kepada pemilik usaha mulai dari kebutuhan pokok makan minum, tempat tinggal, dan biaya sekolah hingga kebutuhan sosial lainnya.

Misalnya untuk persoalan gaji karyawan, pemilik tidak memberi upah selayaknya seperti karyawan  di perusahaan atau kantor, dan memberikan gaji sewajarnya, karena tinggal bersama, sehingga sudah seperti keluarga. Bahkan para karyawannya juga sudah memaklumi upah mereka yang kecil ini, karena untuk kebutuhan makan dan minum serta tempat tinggal bersama pemilik.

Istimewanya, adalah pelaku usaha ini tetap memegang prinsip bersama dengan prinsip kemanusiaan. Keuntungan yang diperoleh dalam usahanya tidak hanya dikuasai untuk memperkaya diri sendiri, namun ada hak orang lain yang harus didistribusikan secara rutin dan proporsional.

Selain memperoleh keuntungan, tidak melupakan bershadaqah kepada fakir miskin, dan pihak-pihak yang meminta pertolongan. Tindakan ini karena meyakini bahwa “taawun” atau tolong menolong merupakan ibadah dan perintah agama Islam. Selain menolong orang yang tidak mampu, juga tidak melupakan menolong saudara kandung, orang tua, tetangga maupun masyarakat yang membutuhkan. Prinsip ini menjadi kekuatan dan identitas yang tidak mau  hanya memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya dan pengeluran sekecil-kecilnya dengan mengabaikan hak orang lain.

Bagaimana dengan petani keramba?

Tidak semuanya petani keramba mencatat laporan keuangannya, umumnya mereka hanya memiliki catatan keuangan secara global, kadang-kadang hanya dengan mengandalkan daya ingatan. Mereka hanya mencatat modal awal yang dikeluarkan untuk kebutuhan membuat perahu dan keramba, membeli bibit ikan, dan biaya untuk pangan.

Karena laporan keuangan tidak dilakukan secara rapi dan rinci, maka hanya sebatas ingatan saja dan tidak dicatat, akibatnya, petani keramba tidak mampu menghitung berapa keuntungan yang diperoleh selama masa pemeliharaan ikan dengan rentang 2-3 bulan.

Akhirnya, setiap usaha dan perusahaan penting untuk memisahkan  antara laporan kekayaan perusahaan dengan harta pribadi, agar berjalan baik dan bertanggung jawab. Wallahu A’lam.

Check Also

Patron Klien Dalam Ekonomi (Edisi 1)

Oleh: Ismail Ruslan Patron klien tumbuh subur pada masyarakat yang memiliki persoalan sosial, dan ekonomi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *