Home / Jurnalisme Warga / Apa pun Suku Kita, Kita Harus Bangga

Apa pun Suku Kita, Kita Harus Bangga

Oleh Rolah Sri Rejeki Situmorang

MABMonline.org, Pontianak–Kebudayaan merupakan  suatu hal yang luhur yang patut kita jaga dan lestarikan. Mengembangkan budaya tradisional menunjukkan cinta dan bangga pada kebudayaan yang menjadi jati diri yang mengalir dalam tubuh tiap-tiap individu.

Indonesia memiliki ragam suku yang terserak di kepulauan. Dan tentunya, Indonesia kaya akan budaya tradisional. Kali ini saya berada di Kalimantan Barat, Pontianak. Hem, mendengar kata “Kalimantan” tentunya sudah terbayang dalam pikiran kita bahwa masyarakat yang kita jumpai adalah suku Dayak. Ya, Kalimantan memang mayoritas dihuni oleh suku Dayak. Di sini, suku Dayak masih terbagi lagi atas sub-sub suku.

Saya sangat tertarik untuk mengenal lebih dekat kebudayaan tradisional yang ada di Kalimantan ini, khususnya suku Dayak. Hem, seandainya nanti saya berkesempatan untuk mengetahui lebih kompleks lagi mengenai kebudayaan tradisional suku lain yang ada di sini, pasti akan saya telusuri juga.

Yah, meskipun saya bukan merupakan garis keturunan Borneo, namun kecintaan saya pada budaya Dayak amat dalam. Mulai dari tata cara mereka menyambut tamu atau pendatang baru, acara syukuran atas hasil panen yang melimpah, upacara adat pernikahan, bahkan masakan tradisional mereka. Saya suka. Terlebih lagi, mereka menjaga nilai-nilai kekeluargaan yang kuat.

Nah, saat ini 4 Mei 2013 pukul 16. 20, saya berada di Tanjung Hulu, di kediaman Bapak Dea. Di sini saya bertemu dengan orang tua beliau. Beliau adalah salah satu tetua Dayak di Kabupaten Sanggau yang memiliki nama lengkap Aloysius Aloy. Beliau tampak ceria menyambut kedatangan saya di serambi rumah anaknya sembari menikmati kopi hangat yang harum sambil menyabut senja yang sejuk. Sebagai pertanyaan dasar untuk mengakrabkan diri saya bertanya mengenai kegiatan beliau, “Saya sering dipanggil untuk menjadi pawang kalau ada acara adat,” ujar beliau merasa senang.

Bagi orang Dayak terkenal filsafat, “‘Adil ka’ talino ba curamin ka’ saruga ba sengat ka’ Jubata’,” ujar beliau.  Pada hakekatnya ini berkaitan dengan keperyaan atau agama yang dianut oleh suku Dayak. Filsafat ini memiliki makna bahwa orang Dayak harus berbuat adil pada sesamanya, bisa merakyat, dan melandasi kehidupan berdasarkan kepercayaan terhadap Jubata atau Tuhan.

Semua unsur kebudayaan, seperti kepercayaan, upacara, musik dan sesaji dalam upacara tradisional dapat dipandang sebagai wujud kebudayaan untuk memperjelas kedudukan suku Dayak. Sebagai salah satu bentuk kepercayaan atau adat yang menjadi landasan upacara tradisional Dayak, hal ini terbentuk dari pemikiran yang kompleks, gagasan, nilai, norma, dan peraturan yang berhubungan dengan tata cara pemujaan dalam suatu upacara berbentuk ritual. Semua realisasi norma dan peraturan dalam bentuk tingkah laku, tarian, membaca mantra, serta memainkan musik dalam upacara dapat dimaknai sebagai kesatuan aktivitas dan tindakan yang membentuk keterkait dengan kehidupan serta budaya masyarakat Dayak. Selain itu, semua bentuk hasil karya manusia merupakan hasil dari aktifitas seperti halnya sesaji, tempat sesaji, alat musik, properti upacara. Bahkan, musik merupakan bentuk dari wujud fisik kebudayaan, merupakan hasil karya manusia yang lahir dari pola sikap tertentu. Di sini, musik dipandang sebagai bagian dari karya yang menggambarkan etnis Dayak.

Pada umumnya masyarakat Dayak yakin bahwa ada dua ruang lingkup kehidupan, yaitu ruang lingkup kehidupan alam nyata dan kehidupan alam maya. “Yang ada di alam nyata itu macam makhluk tidak hidup, tanaman, hewan sama kita. Kalau di alam maya macam  antu, semangat urang mati sama Jubata (Allah),” tutur beliau. Kedua alam kehidupan ini dapat saling memengaruhi satu dengan yang lainnya. Terbukti bahwa kekuatan supranatural yang dimiliki seseorang merupakan bentuk nyata dari ruang lingkup kehidupan, yang kerap digunakan untuk melakukan perdamaian antara pribumi dan luar pribumi. Untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan alam nyata dan kehidupan alam maya, serta untuk menata seluruh aspek kehidupan warga suku Dayak, hubungan timbal-balik sesama warga, warga dengan alam lingkungan, serta Jubata, harus dijaga secara harmonis dan dinamis, sesuai dengan apa yang telah nenek moyang atau leluhur mereka percayai, yang telah menyusun secara apik ketetapan, aturan-aturan yang harus ditaati dan dijadikan pegangan hidup bagi seluruh warga suku Dayak dan keturunannya dari generasi ke generasi sampai saat ini, yang disebut, adat.

Satu dari sekian banyak adat Dayak yang sering kita dengar adalah Gawai, yaitu upacara syukuran atas hasil panen. Bermacam ritual pun dilakukan di sini. Ada yang memotong ayam dan mempersembahkannya secara utuh pada penjaga ladang, ada juga yang memotong jari-jari ayam dan di simpan di sebuah mangkok lalu diletakkan di dekat lumbung padi. Hal ini dilakukan karena adanya dunia lain yang tidak secara bersamaan dengan manusia dapat terlihat, dan dipercayai turut menjaga keberhasilan panen. Bermacam bentuk cara dilakukan sebagai tanda suka cita. Namun, pada pesta besarnya, masyarakat Dayak  melakukan potong babi bersama yang biasanya dilakukan di rumah adat. Biasanya pawang sudah membaca mantra terlebih dahulu, dan jika pada saat acara gawai bertepatan ada yang menikah, seluruh warga yang berada di sekitar pemukiman akan mendapatkan bungkusan dari daun simpur yang berisi potongan daging babi. Hal ini menandakan bahwa saat upacara gawai itu diadakan juga pesta nikah.

Selain acara gawai, ternyata masyarakat Dayak juga melakukan beberapa ritual jika ingin membuka ladang baru. Hal ini ditegaskan oleh pak Aloy, “Kita harus minta izin sama lingkungan juga Jubata. Kalau dikasi restu, baru bisa buka ladang.” Di sini, tampak sekali jika masyarakat suku Dayak sangat menjaga perdamaian, menyadari bahwa kehidupan ini tidak terlepas dari kehidupan lain. Upacara atau konsep kepercayaan ini juga merupakan wujud dari keyakinan terhadap Jubata yang memiliki posisi tertinggi sebagai pencipta segalanya. Di sini, masyarakat Dayat mengaplikasikannya dalam bentuk tindakan, pembacaan mantra, musik, tarian, nyanyian, yang mewakili simbol-simbol tertentu.

“Saya senang kalau ada orang mau tahu tentang suku kami,” tutur beliau penuh gembira sembari meletakkan gelas kopi yang baru saja diseruputnya setelah panjang lebar bercerita. Keramahan beliau saat menceritakan kebudayaan Dayak membuat saya terpukau. Tampak jelas di raut wajahnya bahwa beliau sangat bangga menjadi suku Dayak, meskipun di satu sisi beliau menyadari suku Dayak selalu dianggap kelas bawah dari suku lain. “Kami orang Dayak itukan orang awam. Selalu dianggap rendah sama suku lain. Padahal kami juga punya adat. Kami pun bisa maju, tapi orang Dayak sudah terkenal mabuknya,” tutur beliau sambil tertawa kecil mengakhiri kalimatnya.

Beliau sangat menyayangkan akan banyaknya orang yang terkadang menganggap suku Dayak sebagai suku pinggiran. Bahkan, tidak dapat dipungkiri adanya sebagian keturunan suku Dayak yang malu mengakui garis keturunannya, yang telah memiliki orang tua silang suku seperti Dayak-Cina.

“Apa pun suku kita, kita harus bangga. Sekarang tinggal bagaimana kita untuk tunjukkan kita juga bisa.” jelas beliau mengakhiri percakapan.

Check Also

Melestarikan Syair dan Pantun Meski Usia Tak Lagi Muda

Oleh Taazmiyah Pontianak–Sekitar pukul 8 pagi saya dan teman saya, Lia, Titin, dan Mar membuat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *