Home / Jurnalisme Warga / Asal Nama Dusun Keladang

Asal Nama Dusun Keladang

Oleh Florentina

MABMonline.org, Sanggau--Sabtu, 18 Mei 2013 pukul 06.00 pagi ku pacu laju sepeda motorku untuk berangkat menuju dusun Keladang, desa Sotok, kecamatan Sekayam, kabupaten Sanggau. Ada hal yang membuatku cukup khawatir dengan cuaca yang agak mendung seperti akan turun hujan, ternyata hal itu memang terjadi. Di sepanjang perjalananku menuju tempat tujuanku, aku ditemani dengan air hujan yang terus-menerus membasahi bumi dan sekaligus membuatku basah kuyup.  Aku tiba di sana kira-kira pukul 12.00 siang. Untung saja ada tempat kerabat yang bisa ku singgahi untuk sekedar mengeringkan pakaianku yang basah.

Tujuan utama dari perjalan yang kutempuh adalah untuk mengambil data penelitian yang akan ku teliti, membuat proposal penelitian bahasa yang akan ku ajukan dan sekalian aku ingin bertemu dengan seorang yang mengetahui asal mula penamaan dusun Keladang. Kansianus Koncang A.S, itulah namanya, seorang mantan kepala dusun di Keladang dan sekarang pekerjaan sehari-harinya bertani yang kebetulan mengetahui asal mula penamaan dusun Keladang tersebut.

Siang (18/5) sekitar pukul 01.00, aku mendatangi kediaman Pak Koncang tak jauh dari tempat tinggal pamanku, sekedar bermaksud untuk membuat janji pertemuan untuk melakukan wawancara tentang asal mula penamaan Keladang. Kebetulan saja siang itu ia tak memiliki kesibukan. lalu ia pun mulai bercerita panjang lebar mengenai asal mula penamaan dusun Keladang.

Pak Koncang mulai bercerita, awal mulanya penamaan dusun keladang. Dahulu di daerah ini terdapat dusun Kubing yang sekarang terpisah dengan dusun Keladang. Dusun Kubing termasuk kecamatan Beduai sedangkan dusun Keladang termasuk kecamatan Sekayam. Awal mulanya, apada jaman dahulu ada tiga orang bersaudara, laki-laki semua yang berangkat dari Kubing menuju ke Keladang yang belum ada penghuni. Mereka pindah ke Keladang karena ingin memisahkan diri dari Kubing. Katanya karena sudah tidak ada tempat lagi untuk mendirikan pelaman. Lagi pula jarak dari Keladang dekat dengan ladang yang sudah ada dan mereka pergilah ke Keladang membuat pelaman untuk mereka masing-masing satu pelaman yang jaraknya berdekatan.

Kemudian, selang beberapa tahun datang rombongan orang Belanda melintasi dusun Keladang dan mereka bertanya mengapa daerah tersebut sunyi? Seperti tak berpenghuni. Salah satu dari tiga bersaudara itu berkata, “memang sunyi, karena semua orang pergi ke ladang semua, dari kampung sebelah pun pergi keladang semua lewat daerah ini. Lagi pula di sini hanya kami bertiga saja yang baru mendirikan pelaman.” Lalu orang Belanda tersebut bertanya lagi “Apa nama daerah ini?” Mereka pun saling berpandangan satu sama lainnya, dan menjawab “belum ada namanya, kami pun bingung mau diberi nama apa.” Kemudian orang Belanda pun memberi saran “Nah karena belum ada namanya, bagaimana kalau kita beri nama daerah ini Keladang saja, karena orang-orang dari kampung sebelahkan juga melintasi daerah ini untuk pergi ke ladang?”. Mereka pun menyetujui penamaan dusun Keladang tersebut.

“Jadi masyarakat yang ada di dusun Keladang ini masih mempunyai hubungan keluarga. Sekarang sudah ada 1 atau 2 orang saja yang bukan asli masyarakat dayak di dusun Keladang ini, ya bisa dibilang masyarakat pendatang, karena mobilitas serta ada perusahaan sawit yang ada di sekitar daerah tersebut sehingga sudah ada masyarakat pendatang yang tinggal di Keladang,” Ujar Koncang.

Menurut Koncang, apa yang telah disampaikan dan diceritakannya mungkin ada yang terlewatkan dan ada kekeliruan. Hanya ini saja yang bisa disampaikan, apabila ada kekurangan mohon dibantu agar tidak terjadi kekeliruan yang menyimpang. Semoga semua ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

 

Check Also

Menjemput Rezeki di Taman Alun-alun Kapuas

Oleh Eviana MABMonline.org, Pontianak — Mastiah, nenek paruh baya itu (60) menjalankan rutinitasnya sebagai penjual …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *