Home / Jurnalisme Warga / Asal Usul Kota Putussibau

Asal Usul Kota Putussibau

Oleh Taazimiyah

MABMonline.org, Putussibau — Bukit-bukit menjulang tinggi, burung-burung berkicau hinggap di ranting pepohonan,  ikan-ikan menari-nari di jernihnya air. Sungai dan anak sungai yang meliuk-liuk bagai ular di tepi dan tengah hutan, gedung dan rumah-rumah dari papan berjejer. Setiap pagi bau embun dan udara yang masih segar terasa menyejukkan paru-paru. Kesibukan orang-orang di kota ini tidak berbeda dengan kota-kota lain. Kota yang terletak di hulu kapuas ini adalah kota Putussibau, kota yang terkenal dengan penangkaran ikan arwana yang sering disebut masyarakat Putussibau ikan silok.

“Kota Putussibau berdiri pada tanggal 1 Juni 1895, saat pemerintahan kolonial Hindia Belanda dan dirayakan menjadi hari jadi kota putussibau,” kata Khaerul, narasumber kami. Pada mulanya, penduduk yang mendiami Kota Putussibau adalah orang-orang Dayak Kantu’ dan Dayak Taman. Masyarakat Dayak Kantu’ berasal dari daerah Sanggau yang bermigrasi ke arah timur dan menetap di sebelah selatan Kota Putussibau, sedangkan orang-orang Dayak Taman tinggal menyebar di Kota Putussibau. Orang-orang yang beragama Islam di Kota Putussibau berasal dari suku Dayak Taman dan Dayak Kayan yang memeluk agama Islam,” imbuhnya.

Kota Putussibau memiliki banyak kekayaan alam baik flora maupun fauna. Di hutan-hutan Putussibau banyak ditemukan berbagai jenis anggrek, di kota ini juga banyak terdapat pohon karet yang menjadi sumber mata pencaharian penduduk selain mencari ikan di Sungai Kapuas. Meskipun demikian Kota Putussibau juga mempunyai asal-usul mengapa dinamakan  Putussibau.

Nama kota Putussibau memiliki sejarah, mengapa dinamakan Putussibau? Tahukah anda? Nama Putussibau menurut cerita berasal dari gabungan kata “Putus” dan “Sibau”. Kata “Putus” yang dimaksud di sini adalah “memutus” dan kata “Sibau” sendiri berasal dari nama salah satu sungai yang melewati Kota Putussibau. Dinamakan Sungai Sibau karena daerah di kiri kanan yang dilalui Sungai Sibau banyak terdapat pohon/kayu Sibau yang buahnya seperti buah rambutan. Daun dari pohon/kayu sibau bisa digunakan sebagai bahan membuat tikar. Selain Sungai Sibau, Kota Putussibau juga dialiri oleh Sungai Kapuas yang merupakan sungai terpanjang di Indonesia.

Wilayah Kabupaten Kapuas Hulu sendiri dinamakan demikian karena di kabupaten inilah yang menjadi hulu Sungai Kapuas. Sungai Kapuas yang melewati Kota Putussibau telah memutus aliran Sungai Sibau yang membelah Kota Putussibau sehingga dikatakan Putussibau.

Menurut cerita rakyat lainnya, bahwa munculnya nama Putussibau berasal dari nama “Sibau” yang merupakan jenis pohon/kayu Sibau. Pohon Sibau sendiri mempunyai buah yang bentuknya seperti buah rambutan. Biasanya buahnya akan berasa asam kalau rambut buahnya pendek-pendek dan berasa manis kalau rambut buahnya panjang-panjang. Daun pohon Sibau biasa digunakan sebagai bahan pewarna merah pada tikar. Dahulu kala ada pohon Sibau yang tumbuh besar di tepi sungai, pohon Sibau tersebut tumbang ke sungai sehingga menghalangi aliran Sungai Sibau dan dari peristiwa itulah masyarakat menamai daerah itu dengan nama Putussibau.

Putussibau pada masa sekarang merupakan ibukota Kabupaten Kapuas Hulu yang berada di wilayah Propinsi Kalimantan Barat. Keberadaan Kota Putussibau tidak terlepas dari adanya pemerintahan tradisional sejak zaman dahulu hingga pemerintahan modern sesudah masuknya bangsa Belanda dalam bentuk pemerintahan Kolonial Belanda.

Putussibau sendiri merupakan satu nama daerah atau tempat di antara beberapa nama daerah yang ada di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu. Di antara nama-nama daerah selain kota Putussibau yang ada di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu yang sejak zaman dahulu telah ada ialah Embaloh, Kalis, Suhaid, Selimbau, Silat, Bunut dan lain-lainnya. Nama-nama daerah tersebut zaman dahulunya merupakan nama-nama kerajaan yang ada di wilayah Kapuas Hulu.

Pada perkembangannya daerah-daerah tersebut di atas menjadi wilayah-wilayah kecamatan yang menjadi bagian dari Kabupaten Kapuas Hulu (http://www.kapuashulukab.go.id). Kota Putussibau sendiri terbagi menjadi satu wilayah Kecamatan yaitu Putussibau Utara dan lima belas Desa/Kelurahan. Ketika menyusuri kota yang berada di hulu Kapuas ini, anda bisa berkunjung ke sebuah danau yang bernama Danau Sentarum, anda juga bisa menikmati makanan khas daerah Putussibau yaitu kerupuk basah.

Check Also

Jembatan Tayan, Primadona Wisata Anyar Kalimantan Barat

Oleh Okta Herningsih Sejak dibangunnya Jembatan Tayan yang berada di Desa Pulau Tayan, lokasi tersebut …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *