Jadwal Kegiatan Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) XI

jadwal-fsbm-singkawang

NO

HARI / TANGGAL

WAKTU

TEMPAT

KEGIATAN

KETERANGAN

1.

MINGGU, 16 Oktober 2016

08.00 – 11.30 WIB

13.30 – 17.00 WIB

19.30  WIB – SELESAI

Sekretariat Panitia (Dinas Kebrum/ kompleks Stadion Kridasana)

Kantor Walikota Singkawang

Kantor Walikota

Registrasi peserta

Technical meeting

Malam Ta`aruf

-Panitia FSB-KB XI

-Kontingen dipandu LO masing-masing

-Panitia FSBM-KB XI

-Humas protokol

2.

SENIN, 17 Oktober 2016

13.30 – 17.00 WIB

 

 

 

 

19.30 – 23.00 WIB

Kota Singkawang

(Pelepasan peserta pawai di jalan Pelita)

Panggung Utama

(Komplek Stadion Kridasana Singkawang)

Pawai :

a. Pelepasan Peserta Pawai

b. Pawai Karnaval

Pembukaan :

a. Acara Pembukaan

b. Atraksi Kesenian dari Sanggar seni
kota Singkawang

-Panitia FSBM-KB XI

-Humas Protokol

– Panitia FSBM-KB XI

– MABM

– humas Protokol

3.

SELASA, 18 Oktober 2016

08.00 – 17.00 WIB

(Istirahat jam 11.30 WIB – 13.30 WIB)

-SDA-

-SDA-

-SDA-

 

 

19.30 – 23.00 WIB

Rumah Melayu

Pendopo Mesjid Agung

Gedung PIP (Komplek Mess Daerah Singkawang)

Halaman Mess Daerah Singkawang

Panggung Utama

(Komplek Stadion Kridasana Singkawang)

Lomba Merias Pengantin Melayu

Lomba Merancang Motif Melayu (Hari I)

Lomba Bertutur

Pertandingan Silat

-Lomba Seni Hadrah

-Penampilan atraksi kesenian dari kabupaten

-Bidang Perlombaan

-Bidang Perlengkapan

-Bidang Acara

-SDA-

 

-SDA-

-SDA-

-Bidang perlombaan

-Bidang perlengkapan

-Bidang Acara

– Bidang kesenian dan Budaya

4.

RABU, 19 Oktober 2016

08.00 – 17.00 WIB

(istirahat – jam 11.30 – 13.30 WIB)

-SDA-

-SDA-

 

 

19.30 – 23.00 WIB

Rumah Melayu

Pendopo Mesjid Agung Singkawang

Gedung PIP (Komplek Mess daerah Singkawang)

Panggung Utama (Komplek stadion Krisdasana Singkawang

Pemilihan Bujang dan Dara melayu

 

Lomba merancang motif Melayu (Hari II)

Lomba Syair Melayu

-Lomba lagu- lagu Melayu Tingkat Dewasa (Putra dan Putri )

-Penampilan atraksi kesenian dari Kabupaten / kota

– Bidang Perlombaan

– Bidang perlengkapan

– Bidang Acara

-SDA-

-SDA-

-Bidang perlombaan

-Bidang Perlengkapan

Bidang acara

Bidang kesenian

Dan budaya

5.

KAMIS, 20 Oktober 2016

08.00 – 17.00 WIB

(Istirahat jam 11.30 – 13.30 WIB

-SDA-

-SDA-

14.00 – 17.00 WIB

(Setelah pelaksanaan Lomba tari Jepin Tradisional )

19.30- 23.00 WIB

Sungai Selakau

Rumah Melayu

Gedung PIP (Komplek Mess daerah Singkawang)

Kantor Walikota Singkawang

Panggung Utama

(Kompleks stadion Kridasana Singkawang

Lomba Sampan Bidar

Peragaan Busana Melayu tingkat anak – anak

Lomba Tari Jepin Tradisional

Workshop Tari Jepin

– Lomba lagu-lagu Melayu tingkat Dewasa (Putra dan putri)

– Penampilan atraksi kesenian kabupaten/kota

-bidang perlombaan

-bidang perlengkapan

-bidang acara

-SDA-

-SDA-

-Panitia FSBM-KB XI

MABM

-Bidang Perlengkapan

-Bidang Acara

-Bidang Perlombaan

-Bidang perlengkapan

– Bidang Acara

-Bidang kesenian dan budaya

6.

JUMAT, 21 Oktober 2016

08.00 – 17.00 WIB

(Istirahat jam 11.30 – 13.30 WIB

-SDA-

 

 

19.30 – 23.00 WIB

Gedung PIP

Komplek Mess daerah Singkawang)

Halaman Mess Daerah Singkawang

Rumah Melayu

Panggung Utama

(komplek stadion Kridasana Singkawang)

Lomba Vocal group lagu daerah

Pertandingan Pangkak dan Uri gasing

Lomba Berbalas Pantun

-Lomba lagu-lagu Melayu Tingkat Dewasa (Final putra dan putri )

– Penampilan Artis Ibukota

-Bidang Perlombaan

-Bidang perlengkapan

– Bidang Acara

-SDA-

-SDA-

-Bidang Perlombaan

-Bidang perlengkapan

-Bidang Acara

-Bidang kesenian dan budaya

7.

SABTU, 22 Oktober 2016

08.00 – 17.00 WIB

(Istirahat jam 11.30 – 13.30 WIB

-SDA-

19.30 – 23.00 WIB

Kantor Walikota Singkawang

Rumah Melayu

Panggung Utama

(Kompleks Stadion Kridasana Singkawang)

Seminar

Gelar Upacara Adat

Acara Penutupan

Menampilkan: Iyet Bustami, Hendri Lamiri, dll

-Panitia FSBM-KB XI

-MABM

-Bidang perlengkapan

Panitia FSBM-KB XI

-MABM

-HUMAS Protokol

Kesibukan Jelang FSBM XI Singkawang

Tak sampai hitungan jam, Festival Seni Budaya Melayu XI di Kota Singkawang akan dihelat. Tampak kesibukan melanda peserta dan panitia. Hal ini terlihat dari dokumentasi berikut…

stand-mabm-pontianak

Kontingen MABM Pontianak sedang mempersiapkan stan pameran.

juri-fsbm

Dewan juri FSBM bersiap berangkat ke Singkawang.

kontingen-mabm-sintang

Rombongan kontingen Sintang telah tiba di Singkawang

OSO: Saatnya Umat Islam Bangkit!

Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar! Takbir tiga kali lantang keluar dari mulut H. Oesman Sapta Odang, tokoh asal Kalbar yang juga wakil ketua MPR RI. Berulang kali ia menegaskan kata “sinyal” dalam tuturan kalimatnya. Meski tak secara eksplisit, tapi ia berkali-kali mengingatkan agar Melayu bangkit. Umat Islam bangkit. Menjadi pemimpin di tengah masyarakat, seperti yang dicontohkan baginda Rasulullah Muhammad. “Asal bukan menjadi hantu bangkit,” OSO mengingatkan.

Pada puncak acara, Usman Boceng, sapaan karib OSO membakar semangat ormas Islam dan paguyuban masyarakat se-Kalbar untuk bersatu. Acara Halal Bi Halal pun tak ayal menjadi ajang kerinduan hadirnya tokoh umat yang mampu menjadi perekat dan penyatu.

suasana-halal bi halal-rumah melayu

Acara halal bi halal dimulai pukul 7 lewat, Jum’at (05/08). Usai salat Isya, Rumah Melayu perlahan dipenuhi ratusan tamu undangan. Sambil makan malam, hadirin disuguhi musik gambus yang rancak mendera telinga.

Satu persatu tokoh melangkah menuju kursi yang telah disiapkan. Tampak hadir Walikota Pontianak, Bupati Sambas-Kubu Raya-Kayong Utara-Mempawah, Anggota DPR, DPD RI dan DPRD Kota, juga jajaran muspida Kalbar.

Setelah pembacaan ayat suci Al quran, perwakilan paguyuban se-Kalbar tampil menyampaikan orasinya di depan khalayak. Hampir senada, semuanya menyuarakan perlunya tokoh Islam hadir untuk memperbaiki Kalimantan Barat. Dari Rusliansyah Tolove, M. Yusuf, Habib Iskandar hingga Pabali Musa mengungkapkan keresahannya akan kondisi Kalbar. Mereka rindu hadirnya pemimpin pemersatu umat.

Halal Bi Halal-OSO-MABM

Menginjak pukul 10 malam, acara pun usai. Para tokoh masyarakat maju ke depan guna jabat tangan ber-halal bi halal dengan tamu undangan perwakilan paguyuban se-Kalbar.

Halal bi halal ini seolah memberi sinyal, agar kelak hadir di Kalimantan Barat pemimpin yang mampu menyejahterakan seluruh masyarakat Kalbar, tanpa memandang etnis-suku-agama apa pun. Menjadi Rahmatan lil Alamin. Aamiin.

Menemukan Jati Diri sebagai Orang Melayu

Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat (MABMKB) menjadi ikon masyarakat Melayu yang ada di Kalbar. Dalam catatan sejarah, budaya Melayu telah menorehkan perubahan dan catatan besar terhadap perkembangan Kalimantan, seiring dengan maraknya kerajaan-kerajaan Melayu sepanjang perairan di pulau Kalimantan.

Tidak bisa dipungkiri kebudayaan orang Kalimantan menjadi lebih maju dari sebelumnya, tentunya dengan misi dakwah Islam yang rahmatan lil’alamin. Terbukti hampir semua daerah kabupaten baru di Kalbar adalah bekas wilayah kerajaan Melayu, seperti Kabupaten Landak, Kabupaten Sanggau, Kabupaten Putusibau, Kabupaten Sintang, Mempawah, Sambas, Melawi, dsb.

Catatan ini penting untuk mengingat kembali betapa perjuangan leluhur adalah perjuangan yang luar biasa: Mengubah masyarakat Jahiliah menjadi masyarakat yang tunduk dengan syariat”.

Dalam perjalanan kekinian, justru masyarakat Melayu mengalami kemunduran dalam budaya dan politik, sosial, politik, ekonomi dan budaya.

Apa yg melatarbelakangi kemunduran ini? Mestinya masyarakat Melayu bisa mencerna dan mengevaluasi dengan baik perjalanan mundur ini.

Sejauh saya memandang, masyarakat Melayu Kalbar tidak pernah mencoba untuk kembali bersemangat dalam memegang teguh syariat Islam, syariat yang pernah mengantarkan kejayaan kekuasaan politik di seluruh Kalimantan.

Jangankan syariat, budaya dan seni melayu tidak berkembang di bumi Khatulistiwa ini, semua terasa monoton menjadi follower seni melayu dari perairan Riau. Melayu Kalbar belum menemukan jati diri yang sesungguhnya.

Kehadiran budaya, terbentuk dari pemahaman yang kuat terhadap apa yang dipegangnya termasuk keyakinannya untuk berislam dengan kaffah. Alhamdulilah saya masih melihat budaya masyarakat Sambas yang sangat beda dengan Melayu di tempat lain.

Yang menjadi poin kebangkitan masyarakat melayu adalah harga emas yang harus dicapai dengan berupaya mewujudkan masyarakat yang islami, masyarakat dengan cita2 tinggi menerapkan syariat islam. Karena islam tidak sebatas pada NTCR (Nikah, Talak, Cerai, Rujuk). tetapi islam adalah bagian dalam setiap tarikan nafas, dan terimplementasikan kedalam hukum kehidupan.

MABM, Majelis Adat Budaya Melayu menjadi belum lengkap rasanya tanpa menyertakan atribut “Syariah” di dalamnya. Maka untuk menjadi bahan diskusi, MABM akan gagah tatkala mampu mengenalkan syariat Islam kepada masyarakat.

Choirul Anam
Perantau dari seberang

Semarak Hari Raya Idul Fitri di Facebook

Hampir seminggu hari raya idul fitri berlalu. Namun bagi warga Pontianak, masih ada waktu 3 minggu lagi untuk merayakannya. Unik memang. Tak seperti daerah lainnya yang menganggap idul fitri berakhir seiring fenomena arus balik dimulai.

Menarik bila kita mengamati semarak idul fitri lewat sosial media, terutama Facebook. Kali ini, dengan fitur search Facebook, kami menelusuri dinamika idul fitri di Kalimantan Barat, terutama di Pontianak. Berikut penampakannya:

1. Film Pendek Idul Fitri
Semakin bergairahnya dunia perfilman, tak ayal menyebabkan munculnya sineas lokal yang potensial. Menyambut momen idul fitri, sineas lokal tak luput memamerkan karyanya lewat Youtube:

2. Meriam Karbit
Perayaan idul fitri di Pontianak selalu diwarnai dengan dentuman meriam karbit. Ratusan meriam karbit berjejer di pinggir Sungai Kapuas. Wakil Walikota Edi Kamtono pun turut menjadi bagian dalam kemeriahan tersebut.

wawako pontianak edi kamtono

3. Jualan Kue
Sebulan penuh perayaan idul fitri di Pontianak, so pasti makin meriah dengan ditemani kue khas raye, baik kering maupun basah. Para penjual kue bertaburan menjajakan dagangannya di berbagai grup Facebook.

kue lebaran

4. Ucapan Maaf
Yang tak pernah hilang di hari raya lebaran adalah ucap maaf. Kalau dulu lewat kartu, sekarang jaman telah berganti. Dengan sekali pencet, ucapan maaf menyebar ke seluruh kontak, yang ada di hp atau pertemanan Facebook.

ucapan maaf idul fitri

Masih beraneka rupa lagi bentuk antusiasme warga menyemarakkan hari raya Idul Fitri. Anda ada tambahan lainnya?

Cornelis Harap Kafilah Kalbar Catat Prestasi di Tingkat Nasional

Tepat pukul delapan, Bupati Kubu Raya menyampaikan sambutannya. Samar-samar, Rusman Ali mengucapkan terima kasih atas support gubernur terhadap perhelatan MTQ ini. Ya, samar-samar. Saya mendengarnya dari parkiran, di kerumunan para pedagang gorengan dan balon. Di tengah antusiasme masyarakat mengikuti rangkaian acara MTQ ke 26 di Kubu Raya yang berlangsung hingga Jum’at, 27 Mei.

mtq kubu raya
Parkiran mobil penuh. Motor meluap. Tak ketinggalan, para pejalan kaki. Semua bersemangat menyemarakkan MTQ ini. Ribuan orang tumplek blek di lapangan samping kantor bupati Kubu Raya. Tanpa komando.

Tenda besar yang mampu menampung ribuan pengunjung tak berdaya. Sebagian menyingkir ke samping tenda, yang berdekatan dengan stand. Perlu usaha ekstra agar bisa duduk di dalam tenda. Setelah sedikit merangsek ke tengah, akhirnya panitia mempersilakan saya duduk di deretan bangku yang masih kosong. Ada empat buah. Cukup buat istri dan dua anak.

Bupati menyampaikan prosesi MTQ yang akan berlangsung hingga Jum’at ini. Di akhir sambutan, ia meminta secara khusus kepada hadirin untuk mengaminkan doanya: Kubu Raya juara umum! Tentu doa yang sama terucap di dada kafilah masing-masing daerah. Semuanya ingin berjuang menjadi yang terbaik.

“Mencetak generasi qur’ani dan menyiapkan putra putri terbaik Kalbar ke tingkat nasional, disertai harapan agar dewan hakim mampu menilai secara adil. Tanpa memihak,” pungkas Bupati yang juga penasehat MABM Kalimantan Barat ini.

Selanjutnya, Kepala Kanwil Depag, Syahrul Yadi menyampaikan sambutan. Tanpa basa basi ia menghaturkan terima kasih kepada gubernur yang telah mendukung kegiatan ini. Ada pantun, yang bukan berpantun, diucapkannya namun saya luput mengingatnya.

Puncak sambutan sekaligus dirangkai pembukaan MTQ dilakukan langsung oleh Gubernur Kalbar Cornelis. Menarik saat Cornelis menguraikan tentang perlunya bersyukur atas segala ni’mat yang telah kita dapatkan, karena kalau tidak bersyukur, tunggu azab yang sangat pedih.

Cornelis juga berusaha membuka mata terhadap kondisi umat Islam di Arab, meski satu warna kulit, satu agama tapi saling berperang. “Bersyukurlah kita di Indonesia, Islam mayoritas di tengah masyarakat yang heterogen tapi dapat akur. Jangan mau terpecah belah,” ujar kepala daerah dua periode di Kalbar ini mengingatkan.

Sembari bernostalgia, Cornelis berucap bahwa saat APDN dulu, Kalbar pernah melahirkan seorang juara. “Jadi, saya berharap Kalbar bisa mencapai prestasi serupa,” harapnya. Yang dimaksud Cornelis, tak lain tak bukan adalah Hj. Dahlia Achmad, qariah tersohor asal Kalimantan Barat yang meratui ajang MTQ di tahun 80-an.

gubernur kalbar bupati kubu raya
Di penghujung sambutannya, Cornelis meminta ijin audiens dan memohon maaf apabila lafal “Bismillahirrahmanirrahim”-nya tak sempurna. Maka resmilah MTQ ke 26 tingkat provinsi ini dibuka.

Selamat bertanding. Berlomba-lomba dalam kebaikan buat kafilah kabupaten-kota seluruh Kalbar. Fastabiqul Khairat.

(Yaser Ace)

Jembatan Tayan, Primadona Wisata Anyar Kalimantan Barat

Oleh Okta Herningsih

selfie di jembatan TayanSejak dibangunnya Jembatan Tayan yang berada di Desa Pulau Tayan, lokasi tersebut berubah menjadi primadona wisata bagi warga setempat. Jembatan ini hampir setiap sore hari menjadi pusat keramaian, terutama di akhir pekan.

Beberapa waktu lalu saat liburan akhir tahun, saya dan teman-teman mudik ke Kecamatan Tayan Hilir dan mengunjungi jembatan yang kini tengah menjadi primadona masyarakat Kalimantan Barat, ikon yang menjadi kebanggaan bagi kami sebagai warga setempat. “Kita patut bangga sebagai warga asli Tayan memiliki ikon yang menjadi primadona masyarakat Kalimantan Barat yang megah nan cantik, selain itu perekonomian masyarakat setempat juga meningkat,” ujar Mila, salah satu pengunjung Jembatan Kapuas Tayan.

Sabtu sore kami berjalan-jalan menelusuri jembatan Tayan untuk sekedar menghabiskan waktu luang dan bersantai. Tak hanya berkunjung biasa, kami menyempatkan diri untuk berselfie-ria dengan latar Jembatan Tayan. Berbagai macam gaya kami ekspresikan di tengah keramaian.

Matahari terbenam adalah saat yang kami tunggu demi melihat pemandangan sunset dari atas jembatan yang tiada duanya. Sungguh indah ciptaan Tuhan membuat kami lupa akan waktu, awanpun berubah kelabu dan semakin gelap, waktunya kami untuk pulang ke rumah.

Masih belum puas, keesokan paginya kami kembali mengunjungi Jembatan Tayan untuk jogging, tak hanya berolahraga kami menyempatkan diri untuk bermain skateboard dan berfoto. Di pagi minggu Jembatan Tayan merupakan tempat pilihan warga setempat untuk berolahraga sambil menikmati keindahan jembatan dan mengabadikan momen bersama sahabat maupun keluarga.

Puncaknya, saat malam akhir tahun 2015, jembatan Tayan dipenuhi oleh warga setempat maupun luar Tayan untuk menyambut tahun baru bersama keluarga dan teman-teman, keindahan jembatan tampak dari berbagai sisi, dihiasi dengan lampu-lampu indah pada malam hari, dilengkapi dengan lampion yang diterbangkan serta kembang api yang tampak indah tepat di atas jembatan, tak mau kalah selesai makan-makan di rumah bersama keluarga dan teman-teman, kami segera meluncur menuju Jembatan Tayan untuk menyaksikan momen itu, betapa indahnya malam itu tepat pukul 00.00 WIB Jembatan Kapuas Tayan memancarkan pesonanya dengan lampu-lampu nan indah, lampion dan kembang api yang memberikan warna di awan gelap, membuat semua mata tertuju pada keindahan itu.

Tak bisa dipungkiri lagi jembatan terpanjang di Kalimantan ini memang memiliki daya tarik di kalangan masyarakat. Terbukti sejak beberapa bulan terakhir ribuan masyarakat yang berkunjung ke tempat itu. Jembatan Tayan yang kini menjadi ikon masyarakat Kalimantan Barat memang sudah lama dinantikan, jadi wajar jika masyarakat mengungkapkan kegembiraannya dengan cara mengunjunginya langsung meskipun harus menempuh perjalanan cukup jauh. Setidaknya bagi masyarakat luar Tayan mereka memiliki kenang-kenangan pernah mengunjungi jembatan tersebut secara langsung bukan hanya melihat gambar atau dengar cerita saja.

Jembatan Tayan adalah jembatan yang melintang di atas Sungai Kapuas, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat.  Jembatan Tayan terbagi dalam dua bentangan. Bentangan pertama jembatan dari arah Kota Tayan menuju Pulau Tayan. Sedangkan bentangan kedua adalah jembatan dari arah Pulau Tayan menuju Desa Piasak.

Jembatan ini menjadi bagian dari Jalan Trans Kalimantan yang menghubungkan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Kalimantan dan terpanjang kedua di Indonesia setelah jembatan Suramadu di Provinsi Jawa Timur.

Pesona Jembatan Kapuas Tayan ternyata tidak hanya menarik perhatian warga setempat, masyarakat luar Tayan juga terpikat dengan kecantikan jembatan yang memiliki panjang mencapai 1.440 meter.

Jadi, bagi anda yang belum pernah menikmati keindahan itu, pergilah ke Jembatan Kapuas Tayan untuk memanjakan mata melihat pesona jembatan sekaligus refreshing. Tidak hanya melihat keindahan dari atas jembatan, anda juga dapat mencarter speedboat yang berada di bawah jembatan dengan tarif 20 ribu/orang untuk mengelilingi Desa Pulau Tayan melihat keindahan jembatan dari sungai kapuas, selain itu anda juga dapat beristirahat di warung-warung bagian bawah jembatan sebelah kanan untuk minum maupun makan sekaligus menikmati pemandangan dari tepian sungai Kapuas.

Sigondah: Meriam Dahsyat Peninggalan Kerajaan Mempawah

Oleh Kinanti Wulandari

Hijau dan damai, kata yang dapat mewakili suasana di tempat ini. Suara burung-burung dan tawa canda masyarakat menjadi nyanyian paling indah di sini. Tempat ini dikenal dengan nama Keraton Amantubillah, Mempawah. Ini merupakan tempat beristirahatnya sang prajurit sejati. Sang parajurit yang memiliki segudang cerita. Sang prajurit yang menjadi tokoh dan saksi bisu. Meriam sigondah. Kecil dan gagah, namun sangat terkenal pada zamannya. Meriam sigondah termasuk dalam golongan rantaka atau meriam kecil. Sigondah ditemukan di kapal raja. Meriam sigondah merupakan kepunyaan Opu Daeng Manambon, bergelar Pangeran Mas Surya Negara. Di pulau Siantan, meriam sigondah amat berjasa dalam upaya menumpas perompak di sungai maupun laut. Bahkan ketika pergi ke negeri Kamboja, sigondah pun tak ketinggalan menambah keseganan para pelaut dan perahu negeri itu. “Meriam Sigondah selain terkenal dengan kemampuan perangnya, juga terkenal dengan cerita kengkerannya.” Ungkap Ibu Rugayah (80), yang merupakan menantu kerajaan Mempawah pada Jumat, 15 April 2016.

sigondah-mempawah
Menurut menantu kerajaan yang berdarah Sunda ini, meriam merupakan bagian dari perjalanan panjang Mempawah untuk mengusir penjajah. Perjuangan melawan penjajah terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Termasuk Kalimantan Barat. Kerajaan-kerajaan di Kalimantan Barat melawan penjajah dengan segala cara. Satu di antara kerajaan yang terdapat di Kalimantan Barat yaitu kerajaan Mempawah. Senjata utama pada masa itu adalah meriam. Satu di antara peninggalan yang berupa meriam tersebut adalah meriam Sigondah.

Sigondah merupakan meriam kecil yang biasa ditempatkan di kapal raja. Pemberian nama Sigondah mempunyai arti perasaan yang seram dan gundah. Nama tersebut berasal dari sebutan masyarakat karena kedahsyatannya dengan suara gemanya yang menimbulkan perasaan seram dan gundah. “Sigondah ini terbuat dari besi kuning dan tembaga,” terang beliau sembari mengelus tubuh meriam tersebut. Sigondah merupakan kepunyaan Opu Daeng Manambon bergelar Pangeran Mas Surya Negara.

Di pulau Siantan, meriam Sigondah amat berjasa dalam upaya menumpas perompak di sungai maupun laut. Sigondah terpasang di atas perahu milik Opu Daeng Manambon. Bahkan ketika pergi ke negeri Kamboja, Sigondah pun tak ketinggalan menambah keseganan para pelaut dan perahu negeri itu. Selain kemampuan perangnya yang tidak dapat diragukan lagi, Sigondah yang menjadi kebanggan masyarakat ini juga terkenal dengan cerita keangkerannya. Cerita keangkeran meriam sigondah ini dialami oleh para penjajah yang berusaha merebut dan menghancurkan meriam, ungkapnya dengan suara parau yang menggambarkan usianya tak lagi muda.
Ketika sigondah direbut oleh serdadu kompeni Belanda. Sigondah dibakar selama berhari-hari dengan kobaran api yang sangat besar. Sigondah membuktikan keampuhannya. Sigondah tidak berubah warna menjadi memerah seperti logam-logam yang dibakar pada umumnya. Kompeni Belanda pun takut dan takjub. Akhirnya sigondah dikembalikan ke Istana Amantubillah.

Tidak hanya itu. Sigondah tidak berakhir pada masa penjajahan Belanda. Akan tetapi juga pada zaman penjajahan Jepang. Sigondah diambil paksa oleh polisi Jepang untuk diamankan. “Ketika sigondah disimpan di dalam satu kamar penjara Mempawah, sigondah tiba-tiba meledak dengan sendirinya,” ujar Bu Rugayah dengan penuh semangat bercerita seolah menghapus semua kerutan di wajahnya. Keangkeran sigondah yang meledak tanpa sebab tersebut membuat polisi Jepang sangat ketakutan. Sigondah pun dikembalikan ke Istana Amantubillah.

Kisah-kisah kekuatan dan keangkeran meriam sigondah dari zaman dahulu tersebut, menjadikan meriam sigondah satu di antara peninggalan sejarah yang berharga. Meriam kebanggaan masyarakat Mempawah ini, dirawat dengan baik hingga saat ini. Sigondah disimpan dan dijaga dengan baik dalam kamar khusus di Istana Amnatubillah, Mempawah. Sigondah menjadi kebanggaan kita bersama. “Maka dari itu mari kita sama-sama menjaga peninggalan sejarah yang tetap menjadi cerita indah bagi anak cucu kita kelak,” ungkap beliau sembari menepuk hangat bahuku dan mengakhiri kisahnya.

Sultan Hamid II, Sang Perancang Lambang Negara yang Terlupakan

Oleh: Nur Iskandar

Tepat di hari Kartini, (21/4), Seminar Nasional Meluruskan Sejarah Sultan Hamid Sebagai Perancang Gambar Elang Rajawali Garuda Pancasila dilaksanakan di gedung DPR RI, diisi oleh tiga narasumber. Pertama pakar hukum pidana Prof Dr Andi Hamzah menjawab perihal tuduhan makar (APRA/Westerling) kepada Hamid, kedua peneliti sejarah hukum lambang negara Turiman Faturrachman Nur, SH, M.Hum mengulas sejarah panjang disahkannya Garuda Pancasila, dan ketiga Direktur Rumah Garuda Jogjakarta yang juga akademisi ISI: Nanang Rokhmad Hidayat, S.Si menguliti respon masyarakat Indonesia kepada Garuda Pancasila yang “tidak standar”.

seminar Sultan Hamid-sang perancang lambang negara
Pembicara pertama, guru besar dari Universitas Indonesia Prof. Andi Hamzah,  mengurai isi dakwaan kepada Hamid dengan ulasan pasal per pasal di mana kesimpulan beliau sebagai mantan jaksa bahwa semestinya putusan pada Hamid adalah bebas murni karena tidak terbukti makar! Hamid tidak terbukti menggerakkan pasukan, memberikan perlengkapan dst. Locus delicti Hamid juga sedang berada di Kota Pontianak bersama Muhammad Hatta. Prof Andi Hamzah juga menyarankan agar ahli waris melakukan Peninjauan Kembali alias PK kepada negara. Bukan untuk kepentingan Hamid karena beliau sudah meninggal dunia, namun untuk generasi muda Indonesia di hadapan hukum. Bahwa seseorang dihukum akibat perbuatannya, bukan pengadilan politik (politisasi) atau kriminalisasi sehingga terjadi penguburan masa depan seseorang. Pelurusan sejarah itu penting bagi masa depan Indonesia dalam berhukum.

Turiman Faturrachman Nur sebelum menyajikan makalahnya menampilkan film dokumenter Departemen Luar Negeri melalui Museum Konferensi Asia Afrika berdurasi 12 menit di hadapan 100 orang lebih peserta seminar. Di sana tampak peran Sultan Hamid II dalam merancang Lambang Negara dan diakui negara secara de-facto–hanya belum secara de-jure.

Turiman mendapat banyak applaus hadirin karena semangatnya. Salah satu applaus itu muncul ketika suaranya tercekat, “Mohon maaf saya gugup karena di sini bicara prihal pelurusan sejarah Lambang Negara namun di saat yang sama istri saya terbaring di rumah sakit. Namun begitulah perjuangan,” ungkapnya.

Nanang Hidayat dengan ulasan gaya “seniman” mengoreksi DPR/MPR. Bahwa sejak pertama masuk ke Senayan dia mendapati tiga “spesies” Garuda. Ada yang bahunya kotak, ada yang mengembang bagaikan ingin memeluk pahlawan revolusi di Lubang Buaya, dan ada yang standar. “Ini di rumah wakil rakyat, apalagi di tengah masyarakat! Ada ratusan spesies Garuda di tengah masyarakat kita. Kenapa? Karena lembaran negara tidak disebar sehingga orang tahu standar yang benar. Saya memotret hampir di setiap RT DIY ada Garuda yang kurus, gendut, bahkan loyo,” ujarnya disambut gelak tawa hadirin. Hal itu lanjutnya akibat Garuda Pancasila dikaburkan standarisasinya dalam struktur hukum tata negara. Padahal sebenarnya yang standar sudah ada tertuang di dalam lembaran negara ketika rancangan Hamid ditetapkan sebagai Lambang Negara oleh Presiden Soekarno. Yakni PP No 66. Akibat tak ada pakem standar, tak ayal sampai kini meruyaklah persoalan seperti Garuda Merah, kaos bola, bahkan sampai ke Zaskia Gotik maupun Teten Masduki.

Baca Juga: [PETISI] Perancang Lambang Negara Sultan Hamid II Sebagai Pahlawan Nasional

Seminar dilengkapi dengan testimoni peneliti perihal tuduhan pidana (Makar) kepada Hamid melalui Ketua Yayasan Sultan Hamid, Anshari Dimyati, SH, MH. Dia mengurai kronologi meluruskan sejarah siapa yang merancang gambar Garuda Pancasila, yakni dimulai pada penemuan disposisi Soekarno oleh tim reporter Mimbar Untan (1994), kemudian diteliti melalui tesis Turiman di UI, berlanjut ke seminar nasional bersama Ketua DPR RI Akbar Tandjung, pembuktian Hamid bebas dari tuduhan pidana melalui tesis Anshari Dimyati di bawah bimbingan Prof Andi Hamzah juga di UI, pameran Lambang Negara di Istana Negara dan berbagai daerah di Indonesia, peluncuran buku Biografi Politik Sultan Hamid II, serta akhirnya diterima Mensos Khofifah Indar Parawansa Jumat (15/4), di mana Khofifah setuju agar Sultan Hamid diusulkan sebagai PAHLAWAN NASIONAL karena jasa-jasanya yang luar biasa. Selain merancang lambang negara juga pengakuan kedaulatan oleh Belanda melalui Konferensi Meja Bundar. “Jika Hamid sebagai Ketua BFO tidak setuju dibentuknya RIS, maka pengakuan kedaulatan RI tak akan diperoleh,” tegasnya juga disambut tepuk riuh peserta. Hamid juga menjadi saksi saat Soekarno dilantik sebagai Presiden RIS di Keraton Sitinggil-Jogjakarta. Begitu nasionalismenya Hamid sehingga tidak perlu diragukan. Ia menjemput Soekarno dari penjara untuk kedaulatan Indonesia. Bahkan, traktat PBB membuktikan bahwa Daerah Istimewa Kalimantan Barat adalah entitas yang termuda bergabung ke NKRI. Di mana sebelumnya DIKB adalah negara merdeka yang setara dengan Negara Republik Indonesia sehingga dalam nomenklatur Perda di Kalbar semua berujung tahun termuda, yakni 1957. Jadi, Hamid membuktikan dirinya sangat nasionalis walaupun idenya memakmurkan Indonesia lewat pendekatan federalis. “Namun ide federalisme itu telah diserap lewat otonomi daerah era reformasi. Ini tanda bahwa pikiran Hamid sudah jauh melangkah ke depan melebihi zamannya. Ia diplomat cerdas dan menguasai 9 bahasa internasional,” tegas Turiman.

Selama seminar ada dua sesi dialog. Wakil rakyat dari DPR Fraksi Golkar, Ir Zulfadhli angkat bicara. Dia setuju Sultan Hamid dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional dan sebagai anggota Komisi yang berhubungan dengan bidang pendidikan dia akan turut mengawal. Ia juga mengusulkan agar MPR RI melakukan seminar besar soal Lambang Negara agar menjadi daya dorong kuat penetapan Hamid sebagai Pahlawan Nasional dan tertuang dalam revisi UU No 24 Tahun 2009 soal Bahasa, Bendera dan Lambang Negara. “UU No 24 sebagai turunan dari amandemen UUD 1945 memang belum matang karena saat itu DPR kejar tayang menjelang akhir masa jabatan. Saya saat itu belum menjadi anggota di Senayan namun saya cari tahu, kalau penyebabnya adalah kejar tayang. Sebab adalah lebih baik diundangkan lebih dahulu sembari mematangkan yang belum sempurna. Toh di dalam UU tersebut juga banyak nilai-nilai utama dan positif.” Zulfadhli juga setuju agar ahli waris melakukan PK sebagaimana saran Prof Andi Hamzah. Ia menunjuk, “Mumpung saksi sejarah masih ada seperti Max Jusuf Alkadrie.” Yang ditunjuk pun manggut-manggut. Namun di Kalbar ada tokoh Dayak yang juga saksi sejarah serta masih hidup yakni Baroamas Djabang Balunus Massuka Djanting. Massuka Djanting bahkan ikut rapat di Hotel Des Indes ketika Lambang Garuda Pancasila sedang digambar/dirumuskan oleh Sultan Hamid sebagai Menteri Negara Zonder Porto Folio.

Sejumlah wakil rakyat dari Kalbar juga angkat bicara seperti Luthfi A Hadi, Firdaus Zar’in, senator Nurbaeti serta Dekan Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Dr Hasyim Azizurrahman Alkadrie. Semua memberikan apresiasi dan kontribusi agar sejarah yang bengkok mesti diluruskan.

Acara seminar dibuka Sekretaris Fraksi Nasdem DPR RI, H Abdullah Alkadrie, SH, MH pada pukul 13.30 dan berakhir pada pukul 16.30 WIB. Saya yang turut mendengarkan seminar yakin, hakkul yakin, bahwa kebenaran pasti akan terungkap–sebab alam memang diciptakan Tuhan dengan sifat arif dan bijak. Apalagi coverage media nasional juga cukup paten. Selain ekspose detik.com, juga ada Metro-TV, Kompas, Jawa Pos dll…dan tentu viral Sosial Media. Selamat Hari Kartini… Habis gelap–terbitlah terang. Sejarah yang gelap pun jadi terang benderang…

Sejarah Pal Sembilan

Oleh Ria Snaux

Pal sembilan adalah desa yang berada di Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Indonesia. Tidak banyak orang mengetahui sejarah berdirinya Desa Pal Sembilan. Menurut H. Burhani Baltan (73 tahun) pria kelahiran Desa Pal Sembilan, 1 April 1943 ini menjelaskan bahwa penduduk yang mula-mula mendiami kawasan Pal Sembilan adalah orang Bugis.

Kawasan ini dinamakan Pal Sembilan karena berkenaan dengan nomenklatur yang diberikan oleh Belanda sejak tahun 1928. Pal dalam bahasa Belanda berarti kilometer. Kawasan ini berada dalam jarak 9 kilometer dari Pontianak menuju ke kawasan Kakap. Oleh karena itu, kawasan ini disebut Pal Sembilan. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh H. Burhan Baltan tokoh masyarakat Pal Sembilan, “Jumlah kilometer keseluruhan Pal Sembilan 20 kilometer dari Pontianak ke Kakap. Untuk mengambil wilayah sebagai pusat pembatas, diambil 9 km dari Kakap dan 9 km dari Pontianak. Pertengahannya ini disebut Pal Sembilan.”

Menurut H. Burhani Baltan wilayah ini pada awalnya merupakan kawasan yang dipenuhi dengan semak belukar dan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Adapun penduduk yang pertama kali mendiami Pal Sembilan adalah orang-orang dari Sulawesi Selatan yang bersuku Bugis. Mereka yang pertama kali melakukan penebangan hutan, mencangkul, membuat saluran air (paret kongsi dalam bahasa Melayu) secara gotong-royong. Saluran air ini tembus sampai ke parit yang lebih besar yang disebut Parit Kongsi. Parit ini merupakan jalur air dari Kakap dan Pontianak. Bahkan, daerah Pal Sembilan terdapat Paret Wak Haruna dan Paret Wak Gattak yang juga dibuat oleh orang dari Sulawesi Selatan yang mula-mula membuka kawasan Pal Sembilan.

Pal Sembilan kemudian berkembang menjadi desa yang ramai ditempati penduduk. Masyarakat Pal Sembilan pun membentuk desa baru berdasarkan anggota masyarakat yang berdiam di sana. Selanjutnya, mereka menjadikan bercocok tanam sebagai mata pencarian kehidupan sehari-hari. Dengan mimik serius H. Burhani Baltan melanjutkan cerita tentang Pal Sembilan. Ia pun mengenang aktivitas masyarakat Pal Sembilan dahulu yang menggunakan sampan (perahu kayu) sebagai alat transportasi. Hal ini dikarenakan jalan pada masa itu belum ada untuk menghubungkan satu wilayah ke wilayah lainnya.

Beberapa puluh tahun kemudian baru berdatangan orang-orang yang mencari kerja untuk tinggal di wilayah ini. Ada orang Dayak, Madura, Sambas, Jawa, Cina, dan Arab. Beragamnya suku yang mendiami wilayah Pal Sembilan ini membuat banyak generasi penerusnya terlahir dari masyarakat multietnik. Menurut H. Burhani Baltan ada yang lahir dari pasangan suku yang sama di wilayah ini dan ada yang berlainan suku pula. Meskipun demikian, suku yang mendominasi wilayah ini adalah suku Bugis dan Melayu. Lebih lanjut tokoh masyarakat Pal Sembilan ini mengungkapkan bahwa kehidupan di wilayah ini dipengaruhi agama mayoritas penduduknya, yaitu Islam. Tidak mengherankan banyak didirikan masjid di berbagai lokasi di sekitar kawasan Pal Sembilan.

pal sembilan
Sekarang, sudah banyak perubahan di wilayah ini. Bangunan semakin banyak. Kegiatan ekonomi semakin maju. Pekerjaan warganya beragam. Ada bertani atau bercocok tanam, berkebun, dan sebagainya. Pendidikan di wilayah ini juga semakin maju. Banyak dari warga Pal Sembilan lulusan dari perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Jumlah penduduknya pun semakin banyak. Menurut H. Burhani Baltan adat istiadat masih dijunjung tinggi. Unsur-unsur budaya yang ada pada awal berdirinya Pal Sembilan ini masih dapat dirasakan anak cucu. Ini terbukti dengan adanya “tolak bale” (adat membaca doa bersama) dan “penok-penok” yang dilakukan masyarakat Bugis Pal Sembilan.