Home / Jurnalisme Warga / Budaya Korea “Meledak” di Indonesia

Budaya Korea “Meledak” di Indonesia

Oleh : Ahmad Yani

MABMonline.org, Pontianak — Pada era globalisasi saat ini faktor budaya merupakan penentu yang sangat besar dalam mempengaruhi pola perilaku serta konsumsi masyarakat. Sekarang dapat dikatakan sebagai era budaya Korea yang kian marak dan berkembang dengan pesat dikalangan remaja bahkan hingga dewasa. Fenomena ini layak di katakan sebagai sebuah wabah berupa demam yang menyebar begitu cepat yang dimulai dari musik, film, wisata, bahkan kuliner. Salah satu negara yang terkena wabah tersebut adalah Indonesia.

Masyarakat Indonesia memang terkenal sebagai negara yang sangat mudah menyerap budaya-budaya asing yang dianggap menarik untuk diikuti dan menjadi panduan dalam berekspresi. Gaya hidup mereka juga turut berubah karena begitu kuatnya rasa cinta terhadap budaya tersebut, baik dari segi berpakaian atau dalam bersikap. Banyak dari mereka yang rela menghabiskan waktu dan materi hanya untuk menunjukkan betapa cintanya terhadap budaya tersebut, Mulai dari menonton film atau drama Korea, menghadiri konser, dan melancong ke negeri ginseng tersebut demi suatu kepuasan tersendiri.

Tidak jarang ada penggemar berat dari budaya korea ini bertindak cukup tragis dalam mengekspresikan rasa cintanya terhadap hal ini. Ada yang membeli VCD drama Korea dan menontonnya hingga berjam-jam, bahkan ada yang satu harian penuh menikmatinya. Ada juga penggemar berat dari grup musik atau artis asal Korea yang rela mengeluarkan cukup banyak uang hanya untuk menonton konser atau mengikuti gaya mereka.

Dalam beberapa tahun terakhir, ratusan film, lagu, dan drama dipertontonkan di setiap media hiburan. Hampir setiap saluran televisi di Indonesia menayangkan tontonan yang berbau Korea. Banyak beredar media cetak yang menuliskan tentang kepopuleran para pesohor dari Korea. Para pekerja seni Indonesia juga mulai tersaingi akan peningkatan kepopuleran para pesohor dari Korea tersebut. Industri musik yang beraliran rock, melayu dan pop, atau film dan sinetron yang berciri khas Indonesia mulai kurang peminatnya. Jika kita berkunjung ke toko-toko kaset, VCD dan DVD yang ada di Indonesia, maka kita akan menemukan dominasi dari produk-produk korea yang cukup banyak pembelinya.

Musik beraliran K-Pop (Korean Pop) masuk dengan cepat ke industri musik di Indonesia. Fenomena ini dimanfaatkan para pekerja di dunia musik tanah air untuk mengadopsi gaya dan ciri budaya Korea sebagai penarik minat penonton. Muncul grup musik seperti Boy-band dan Girl-band yang sebelumnya dipopulerkan oleh artis-artis asal Korea. Baik lagu maupun gaya dari artisnya juga bisa dibilang meniru gaya artis-artis asal Korea tersebut. Masyarakatpun sangat antusias dengan hal ini. Para pendatang baru juga berbondong-bondong ikut memanfaatkan kesempatan ini dengan membentuk grup musik dengan bergaya ala-Korea.

Selain di dunia hiburan, gaya dalam berekspresi bertemakan Korea juga banyak ditemui di sekitar kita. Tidak hanya artis, masyarakat umum juga turut aktif mengikuti gaya tersebut. Gaya berpakaian mereka menunjukan fanatisme yang luar biasa terhadap budaya tersebut. Para produsen tekstil juga turut andil dalam hal ini. Model pakaian ala-korea sudah tidak asing lagi kita temui dijual di pasar-pasar. Penggunanya juga tidak lagi memandang kelas ekonomi. Hampir setiap kalangan turut andil dengan trend yang masih marak di masyarakat Indonesia ini.

Gaya hidup dalam budaya Korea cenderung bebas dan kurang sesuai dengan citra masyarakat Indonesia pada umumnya. Masyarakat Indonesia bisa dikatakan latah dalam segala hal yang sedang marak-maraknya terjadi, seperti demam Korea. Hal ini layak disebut sebagai suatu masalah yang dihadapi oleh para generasi muda di Indonesia. Ada baiknya bagi masyarakat Indonesia untuk dapat sadar bahwa hal yang mengganjal ketika budaya negara lain lebih dicintai dari pada budaya negeri kita sendiri dan berkurangnya rasa bangga yang nyata dari hati masyarakat Indonesia sendiri. Jangan tenggelamkan budaya negara kita sendiri hanya karena munculnya budaya luar yang mungkin lebih bagus namun kurang baik untuk negara kita. Mari kita belajar untuk mencintai produk negara kita sendiri. Belajar menghargai hasil karya anak bangsa dan menomorduakan budaya luar.

Check Also

Sigondah: Meriam Dahsyat Peninggalan Kerajaan Mempawah

Oleh Kinanti Wulandari Hijau dan damai, kata yang dapat mewakili suasana di tempat ini. Suara burung-burung …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *