Home / Beranda / Budaya Melayu yang Kental dengan Nilai Islam Harus Dipertahankan

Budaya Melayu yang Kental dengan Nilai Islam Harus Dipertahankan

Oleh Asmirizani

MABMonline.org, Pontianak – Terlihat kerumunan pelajar, mahasiswa, dan guru di Rumah Melayu. Mereka hendak mengikuti workshop “Sejarah dan Nilai Melayu di Kalimantan Barat” (2/12). Peserta workshop telah berkumpul mulai pukul 08.00. Setelah mengisi buku kehadiran di depan pintu, peserta mendapat sebuah tas yang berisikan materi workshop dan alat tulis. Peserta duduk pada kursi yang disusun membentuk huruf U yang menghadap pemateri. Tiga pemateri dan satu pemandu acara telah duduk, bahkan telah siap memulai acara workshop dan memaparkan materi.

Antusias peserta workshop Sejarah dan Nilai budaya Melayu (Foto Gusti Iwan)
Antusias peserta workshop Sejarah dan Nilai budaya Melayu (Foto Gusti Iwan)

Pukul 08.30 acara workshop di mulai. Acara workshop dibuka dengan pembacaan doa secara khusuk. Peserta berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. AR Muzammil sebagai koordinator acara workshop memberikan kata sambutan dengan harapan-harapan yang baik. “Saya berharap peserta workshop mengikuti acara ini secara aktif sehingga terjadi diskusi-diskusi yang menarik. Saya juga berharap peserta menerapkan nilai-nilai dari hasil diskusi ini.”

Dr. H. Haitami Salim sebagai sekretaris Dewan Pemangku Adat MABM memberikan kata sambutan sekaligus membuka acara workshop. Pembukaan acara dilakukan dengan membaca basmalah dan beberapa ketukan palu. “Saya mengharapkan sejarah dan nilai budaya Melayu di Nusantara, khususnya di Kalimantan Barat harus tetap dipertahankan,” ujar Haitami Salim.

Workshop diawali dengan pemaparan materi oleh Haitami Salim, yang berjudul “Nilai-nilai Islam yang Terdapat di dalam Adat Budaya Melayu.” Beliau memaparkan nilai-nilai Islam yang berkaitan dengan adat budaya melayu, seperti barzanji, sunatan, potong rambut, dan upacara adat lainnya.

Pemaparan materi ke dua oleh Dr. Yusriadi jurnalis yang juga merupakan dosen di STAIN. Beliau memaparkan materi mengenai “Melayu di Pedalaman Kalimantan Barat”. Beliau memaparkan mengenai orang Melayu di daerah pedalaman. Budaya melayu asli yang belum tercampur baur dengan melayu lain. “Seharusnya budaya Melayu di pedalaman harus dilakukan penelitian lebih lanjut, dan perlu dipertahankan.” Ujar Yusriadi.

Dedy Ari Asfar saat memaparkan materi saat workshop (Foto Gusti Iwan)
Dedy Ari Asfar saat memaparkan materi saat workshop (Foto Gusti Iwan)

Pemaparan materi ke tiga oleh Dedy Ari Asfar yang merupakan dosen. Beliau memaparkan materi mengenai “Kesusastraan Melayu Abad ke 16-17: Cermin Pelajaran Karakter Melayu Nusantara. Beliau memaparkan masa-masa gemilang melayu pada abad ke 17 karena beberapa hal, yaitu banyaknya buku dan naskah dakwah pada masa itu, cerita yang bercorak Islam yang membangkitkan kesadaran beragama, dan hikayat klasik yang juga bercorak Islam.

Beliau juga mengajak para peserta workshop untuk mendokumentasikan budaya Melayu lokal ke dalam sebuah tulisan. Peserta dibagi menjadi kelompok kecil yang bertugas menuliskan satu topik budaya melayu di Kalimantan Barat dari hasil kunjungan. Peserta yang sebagian besar pelajar dan mahasiswa, terlihat antusias menerima tantangan ini.

Pukul 13.00 acara seminar telah selesai. Peserta workshop beristirahat dan menyantap makanan. AR Muzammil sebagai pemandu workshop berharap para peserta seminar bisa mempertahankan sejarah Melayu dan mengaplikasikan nilai-nilai yang ada di dalam budaya Melayu.

Check Also

Cornelis Harap Kafilah Kalbar Catat Prestasi di Tingkat Nasional

Tepat pukul delapan, Bupati Kubu Raya menyampaikan sambutannya. Samar-samar, Rusman Ali mengucapkan terima kasih atas …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *