Home / Jurnalisme Warga / Budaya Tolak Bala Masyarakat Madura (Antara Mitos dan Kepercayaan)

Budaya Tolak Bala Masyarakat Madura (Antara Mitos dan Kepercayaan)

Oleh Siti Munawarah

MABMonline.org, Pontianak–Kamis Pahing 23 Mei 2013, malam ini Pontianak diterpa gerimis dengan sesekali angin lembut berhembus. Pontianak sudah dari sore diguyur hujan deras dan baru reda sekitar pukul 18.30 wib. Malam jumat yang cukup dingin untuk ukuran suhu orang Pontianak. Soal cerita-cerita mistis di malam jumat siapapun tahu tentang hal itu. Segala hal yang berbau klenik sampai cerita horor sering kita dengar di tengah masyarakat Indonesia yang masih percaya tentang takhayul dan mitos. Dari sekian banyak mitos atau kepercayaan masyarakat yang sering dihubungkan dengan dunia gaib ini, kali ini kita akan menelusuri satu diantaranya.

Masyarakat Madura merupakan satu diantara masyarakat Indonesia yang memiliki banyak keunikan khas baik dari segi budaya, tata cara hidup, serta kepercayaan. Masyarakat Madura adalah etnis yang cukup “fanatik” dengan agama Islam. Secara garis besar masyarakat Madura adalah penganut agama Islam hanya sebagian kecil yang beragama Kristen dan Hindu. Masyarakat Madura memang identik dengan agama islam namun jika dilihat lebih dalam agama Islam yang dianut tidaklah sepenuhnya murni agama Islam atau dapat juga disebut dengan kejawen (dalam masyarakat Jawa).

Bagi sebagian masyarakat Madura yang masih mempercayai dan menghormati leluhur mereka, ritual adat memang bukan hal biasa seperti memberi sesaji. Hal ini dilakukan untuk menghormati para leluhur mereka sekaligus jembatan bagi mereka untuk tetap berkomunikasi dengan arwah leluhur. Akan tetapi, perlu dicermati bahwa tidak semua masyarakat Madura yang masih mencampur adukkan ajaran agama Islam dan adat. Ada juga sebagian masyarakat Madura yang benar-benar menjalani syariat agama Islam. Mereka adalah orang-orang yang benar-benar tahu dan mengerti tentang ajaran agama Islam dan pengetahuan serta sikap mereka yang sudah tidak kolot atau menerima begitu saja kebudayaan leluhur.

Budaya tolak bala merupakan suatu kebudayaan Islam yang selalu diperingati oleh sebagian masyarakat Madura. Budaya tolak bala adalah suatu momen yang selalu diperingati oleh sebagian kecil masyarakat Madura pada umumnya. Tolak bala dilakukan untuk memohon perlindungan Allah Swt. atas segala bala atau bencana dunia. Tidak serumit prosesi adat seperti biasanya, tolak bala ini hanya dilakukan dengan cara salat dua rakaat saat malam rabu minggu terakhir bulan Safar. Salat ini disebut dengan Salat bulan Safar Akhir.   Kebudayaan ini hanya dilakukan oleh masyarakat Madura yang menganut kitab Jawahir. Kitab Jawahir merupakan kitab yang ditulis oleh ulama Madura berdasarkan hadist-hadist Rasulullah Saw. Dalam kitab ini dituliskan “Pada minggu terakhir bulan Safar, Allah menurunkan 142.000 bala ke dunia” ungkap Nursidin (50). “Kita tidak dapat menolak bala tapi kita hanya bisa memohon ampun dan perlindungan dari Allah agar diselamatkan dari bala atau bencana” tambahnya lagi.

Kepercayan tentang mitos tolak bala ini ialah setiap minggu akhir bulan Safar tepatnya malam rabu banyak mahluk gaib seperti setan dan jin yang datang ke tiap-tiap  rumah manusia dan melahirkan seorang anak jin atau setan di dalam tong-tong air. Setidaknya hal inilah yang diceritakan oleh Asmani (80). “Untuk itu kita harus mencelupkan kertas bertuliskan doa-doa untuk melindungi kita dari setan dan jin serta menjauhkannya dari rumah kita”, tambah Asmani.  Selain itu masyarakat Madura juga percaya dengan adanya bala jika tidak melakukan adat ini. Konflik, kesialan, kecelakaan sampai kematian bisa terjadi jika adat tolak bala ini tidak dilakukan. Selain menggunakan jimat, ada hal lain yang juga perlu dilakukan yakni membuat bubur merah putih dan air kembang tujuh rupa. Hal ini seperti prosesi yang harus dilakukan agar selamat dari bala. “Jangan lupa, setelah melakukan selamatan itu kita tidak dibolehkan keluar rumah selama sehari kecuali memang benar-benar ada perlu” terang Asmani.

Kertas doa ini merupakan tulisan arab gundul yang hanya sebagian orang yang tahu dan bisa menuliskannya. Doa tola ini ditulis secara melingkar di atas kertas kecil kemudian dicelupkan dalam tong air tempat menampung air hujan. Jimat inilah yang digunakan sebagai bahan perlindungan dan penangkal setan. Jimat ini hanya dibuat oleh orang-orang tertentu yakni orang yang tahu agama.

Dalam masyarakat Madura orang-orang yang paham dengan agama Islam ialah Kiai. Kiai adalah orang yang paling dihormati dalam masyarakat Madura. Pejabat dan orang-orang kaya merupakan hal kedua yang wajib dihormati dalam masyarakat. Biasanya orang-orang yang menjadi Kiai adalah orang-orang yang pengetahuan tenatang agama Islam itu tinggi. Ia menjadi panutan dalam masyarakat dan seperti consultan yang siap dimintai bantuan oleh masyarakatnya. Selain itu, yang biasanya menjadi Kiai ialah keturunan dari Kiai terdahulu. Ia diangkat menjadi Kiai selain pengetahuan agamanya yang tinggi juga karena orangtuanya juga cukup dikenal di masyarakat.

Soal jimat atau kertas kecil yang sering digunakan oleh masyarakat yang menerapkan ajaran dari kitab Jawahir ini sebenarnya tidak wajib. “Soal jimat itu tidak penting, kalau mau tidak pakai boleh, pakai juga lebih bagus”, jelas Nursidin. Laki-laki setengah abad ini menjelaskan bahwa”Mengapa jika pakai jimat ini kita tetap terlindung karena atas izin Allah, dalam jimat ini dituliskan nama-nama Allah yakni Arrahman dan Arrahim”. “Soal pemakaian jimat ini sebenarnya tidak apa-apa jika tidak pakai yang penting salat dan memohon perlindungan sama Allah” ungkapnya meluruskan paradigma saya yang salah tentang jimat ini. Nursidin sendiri merupakan keturunan Kiai dan cukup mengerti ajaran agama Islam, tidak heran orang-orang selalu memintanya untuk membuatkan kertas jimat itu untuk dipasang di rumah mereka masing-masing. Nursidin sendiri tidak selalu memakai jimat ini. Hal ini diungkapkannnya melalui pernyataan “Mau pakai atau tidak itu terserah saya, kalau saya mau ya saya pakai tapi kalau tidak ya tidak apa-apa”, jelasnya.

Memang tidak banyak yang memakai ajaran dari kitab Jawahir ini, jadi kebudayaan ini tidak begitu mencolok dalam kalangan masyarakat Pontianak. Masyarakat Madura dikenal dengan budayanya yang khas, fanatisme terhadap Islam yang menyebabkan masyarakat Madura melebih-lebihkan penghormatan terhadap Rasulullah Saw. dan banyak melakukan ajaran Islam dari yang wajib sampai sunnah sebagai rasa syukur mereka kepada Allah Swt.

Jika dilihat  mengenai fenomena ini, sebenarnya budaya tolak bala ini memanglah sebuah adat atau kebiasaan dari masyarakat Madura yang mencampurkannya dengan ajaran Islam. Walaupun tetap bertolak dari suatu kitab yang disebut dengan kitab Jawahir tapi pada perkembangannya budaya ini dicampurkan dengan mitos dan kepercayaan takhayul masyarakat yang belum mengerti ajaran Islam. Sebenarnya budaya tolak bala ini hanyalah melakukan salat dua rakaat pada malam rabu terakhir bulan Safar, selain melakukan salat-salat wajib lainnya. Inilah kunci sebenarnya dari menolak bala atau tepatnya berlindung dari bencana dengan memohon perlindungan Allah Swt. “Kita tidak bisa menolak bala tapi kita bisa memohon perlindungan dari Allah Swt. segala bentuk budaya dan adat itu tidak wajib dan tidak perlu dilaksanakan, kita sebagai mahluk ciptaan-Nya hanya bisa meminta dengan ibadah kepada yang Kuasa. Pada akhirnya kita akan menghadapi yang namanya Dajjal, jadi persiapkan diri dengan selalu berlindung dan taat dengan Allah inilah gunanya berdoa untuk menolak bala ungkap Nursidin mengakhiri pembicaraannya.

Menyikapi budaya tolak bala ini tergantung pada diri kita memahaminya. Kita dapat mengatakannya sebagai mitos jika yang kita lihat adalah subjektivitas masyarakatnya dalam mempercayai tolak bala ini dan selalu dikaitkan dengan takhayul yang berbau klenik. Namun pada dasarnya tolak bala ini berasal dari kepercayaan yang tumbuh dari penganutnya.

 

Check Also

Pantia FSBM IX Sediakan 7 Stan Keamanan dan Kesehatan

Oleh Mariyadi MABMonline.org, Pontianak—Panitia penyelenggara Festifal Seni dan Budaya Melayu (FSBM) IX dalam rangka ulang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *