Melestarikan Bahasa Ibu, Memperkaya Bahasa Indonesia

oleh Dedy Ari Asfar

bahasa ibu
Balangnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan membuka Seminar dan Lokakarya Kebahasaan Lembaga Adat sempat membuat para peserta kecewa. Kecewa karena menghadirkan satu menteri saja panitia tidak bisa lakukan. Bahkan, ada yang berseloroh Hari Konstitusi di Senayan di hari yang sama dihadiri para menteri dan petinggi MPR dan DPR serta tokoh-tokoh politik. Hari Konstitusi itu penting tetapi bahasa yang sudah lahir sebelum ada konstitusi dan negara ini seperti dipinggirkan karena petinggi setingkat menteri satu pun tidak bisa hadir. “Miris,” ujar sahabat saya A.R Muzammil tenaga pengajar di FKIP, Universitas Tanjungpura. Lebih lanjut dosen yang juga pakar komunikasi ini berujar, “Sedihnya bahasa masih tidak menjadi skala prioritas petinggi di negeri ini. Padahal, yang hadir pun para tokoh adat dan tetua yang punya massa akar rumput.” Peserta lain menimpali “Ini bukan salah panitia tetapi petinggi di eksekutif dan legislatif yang merasa bahasa kurang penting.” Namun, luka peserta ini terobati ketika panitia mengumumkan menjelang sesi akhir seminar hari pertama, “Kita akan ada jamuan makan malam bersama Bapak Menteri Anies Baswedan,” ujar pembawa acara Semiloka Lembaga Adat.

Anies Baswedan malam itu meluncurkan Gerakan Literasi Sekolah “Bahasa Penumbuh Budi Pekerti” dalam rangka 70 Tahun Negara Berbahasa Indonesia: Merajut Kebinekaan Bangsa Menuju Bahasa MEA. Literasi sekolah ini bertujuan membiasakan dan memotivasi siswa untuk mau membaca dan menulis guna menumbuhkan budi pekerti. Kegiatan literasi ini dilakukan 15 menit sebelum pelajaran. Ada 20 sekolah di DKI yang menjadi tempat uji coba pertama gerakan ini dan menerima paket buku cerita anak produk Badan Bahasa.

Selanjutnya, sang menteri pun berpidato di hadapan peserta. Saya seolah-olah tidak berkedip mendengar pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada malam Selasa, 18 Agustus 2015 ini. Pidato yang sangat menggugah jika menginginkan bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional. Dengan bahasa sederhana, gaya tutur nan lembut, dan gestur yang penuh semangat Anies Baswedan memberikan fakta-fakta yang pantas untuk direnungkan. Dalam bahasa saya bangsa ini jangan bermimpi untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa dunia jika tidak menyelesaikan masalah yang ada dalam menginternasionalkannya.

Anies Baswedan membuat analogi sederhana dengan fakta sekitar kita. Ia memulai dengan analogi tentang ketidakpatuhan anak bangsa. Kata sang menteri, membuang sampah sembarangan dan tidak teratur di jalan merupakan fakta. Fakta-fakta ini dianggap normatif, biasa-biasa saja. Tidak dianggap sebagai masalah sehingga tidak dicarikan solusi untuk mengatasinya. “Ini cara berpikir yang keliru,” ujar Anies Baswedan.

Bahasa yang bhineka tumbuh di Indonesia adalah fakta. Bahkan, sebuah fakta bahasa Indonesia sudah digunakan 17 tahun sebelum Indonesia menjadi negara. Bahasa Indonesia menjadi bahasa bersama yang disepakati sebelum adanya negara. Anies Baswedan menggunakan konsep bahasa bersama dengan alasan karena Indonesia itu multilingual. “Saya tidak menggunakan satu bahasa tetapi bahasa bersama karena Indonesia ada lebih dari satu bahasa,” tegas Anies Baswedan. Lebih lanjut sang menteri berkata, “Kita tidak perlu penerjemah ketika kita bermusyawarah antarseluruh etnik di Indonesia karena kita menggunakan bahasa bersama yang telah disepakati.”

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini membandingkan negara-negara Uni-Eropa memiliki 20 bahasa resmi sehingga ketika bermusyawarah menggunakan penerjemah karena ego masing-masing kawasan. Mereka tidak sepakat untuk menggunakan bahasa bersama. “Kita lebih dewasa dari bangsa yang tergabung dalam Uni-Eropa,” ujarnya.

Anies Baswedan mengemukakan masalah nyata dalam bahasa Indonesia adalah miskinnya lema yang dimiliki bahasa negara. Ia lalu mengutip lema yang ada di dalam KBBI. Kamus ini telah mengalami perkembangan muatan lema dari 62.000 lema pada edisi pertama (1988) hingga 91.000 lema pada edisi keempat (2008). Ia membandingkan bahasa Inggris yang memiliki satu juta lema dan bertambah per tahun 8.500 lema. “Tidak heran bahasa Inggris ini jadi percakapan antarbangsa,” tegas Anies Baswedan. Selanjutnya, dengan semangat dan senyum yang mengembang Anies Baswedan berkata, “Ini tantangan kita untuk menjadikan bahasa Indonesia lebih kaya. Jangan loyo dengan masalah ini. Mari menjadikan bahasa Indonesia kaya dengan khazanah bahasa daerah yang ada.”

Anies Baswedan mencontohkan di media sosial banyak usulan kata-kata baru oleh anak-anak muda melalui twitter, misal kata “kiwari” berarti ‘modern’ atau ‘kontemporer’. “Kata ini berasal dari penutur bahasa Sunda yang dipakai anak muda di media sosial,” seru Anies. “Menengok ke bahasa kita, bahasa daerah untuk memperkaya bahasa Indonesia,” tegasnya lagi.

Korpus-korpus di media daring harus dipunggut. Jangan sampai antipati terhadap kata-kata daerah dan asing yang masuk ke dalam bahasa Indonesia. Bukankah di antara unsur pemerkaya bahasa Indonesia itu berasal dari bahasa daerah dan asing. Badan bahasa harus menjaring dan menyerap kata-kata asing dan daerah itu sesuai dengan pedoman serapan bahasa Indonesia sehingga bisa masuk ke dalam KBBI.

Anies Baswedan mengajak peserta yang hadir harus terbuka dan menyadari bahasa itu ibarat permintaan dan penawaran. Menurut Anies begitu ada penawaran dan permintaan maka tidak ada kata yang salah dan benar tetapi kata yang berterima dan tidak berterima. Lebih lanjut ia mengemukakan bahwa solusi atas miskinnya lema, diantaranya dengan mengandeng anak muda dan melihat bahasa di media sosial. “Dorong anak muda karena anak-anak muda sangat ekspresif dan kreatif,” ujarnya. Lebih lanjut Anies berkata, “Berikan mereka asupan bahasa daerah ketika berbincang di media sosial. Mereka adalah agen utama perkembangan bahasa Indonesia. Dengan demikian, bahasa bertumbuh dan berkembang. Pakar bahasa harus berinteraksi lintas ilmu dan umur. Pakar bahasa kemudian harus mencatat dan merawat kosakata baru itu. Jangan sampai jumlah kata tidak tumbuh. Bukan mengisolasi bahasa itu dalam satu ruang yang digunakan hanya oleh 1 juta penutur.”

Dalam bahasa yang sederhana Anies Baswedan berpesan lema yang kaya akan menginternasionalkan bahasa Indonesia. Dengan demikian, daya ungkap dan ekspresi bahasa Indonesia menjadi lebih kaya sebagai bahasa ilmu pengetahuan.

Berkenaan dengan pelestarian bahasa daerah Anies Baswedan mengajak para pendidik harus bisa memanfaatkan dunia pendidikan dalam melestarikan bahasa. Anies Baswedan mengemukakan pendidikan itu ada tiga jalur, yaitu intrakurikuler, ekstrakurikuler, dan nonkurikuler. Dalam konteks pendidikan umum di Indonesia jalur nonkurikuler jarang dimanfaatkan, misal menggunakan bahasa daerah dua hari dalam seminggu.

Pidato Anies memang patut untuk direnungkan dan dihayati agar ada aksi nyata seluruh komponen bangsa untuk bergerak memperkaya dan melestarikan bahasa Indonesia. Tidak saja lembaga bahasa di negara ini tetapi juga semua anak bangsa harus merasa memiliki dan menumbuhkan bahasa Indonesia.

Tiba-tiba saya lantas berpikir Badan Bahasa memiliki perwakilan di 30 provinsi. Ini artinya kalau tiap-tiap kantor/balai bahasa di seluruh provinsi bisa menyumbangkan 300 lema per tahun maka akan ada 9.000 kosakata baru bertambah. Hal ini jelas mengindikasikan aksi nyata Badan Bahasa akan mengalahkan perkembangan bahasa Inggris yang bertambah 8500 seperti yang diasumsikan Pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam pidatonya. Mungkin kebijakan ini sudah jalan, tetapi masih kurang mulus pelaksanaannya. Entah apa penyebabnya. Mungkin ada tafsiran yang berbeda dan bingung dari rekan-rekan yang diamanahkan untuk mengeksekusi kebijakan ini di daerah.

Saya lantas berpikir lagi mungkinkah Badan Bahasa kembali membentuk kelompok kerja secara sistematis melalui jaringan internal yang ada. Badan Bahasa memfasilitasi dengan mengundang pakar bahasa serta melatih tim perkamusan di seluruh provinsi untuk mencari dan menyusun lema yang patut masuk ke dalam KBBI. Kalau perlu Badan Bahasa langsung menyusun juknis untuk disebarkan ke kantor/balai bahasa seluruh Indonesia. Juknis ini menjadi pedoman teman-teman di daerah dalam menjaring kosakata baru. Namun, juknis ini pun harus disosialisasikan supaya satu persepsi.

Mungkin sebagai orang dalam saya lancang berkata demikian. Namun, pidato Anies Baswedan sungguh menggugah perasaan. Meminjam bahasa Anies Baswedan saatnya merealisasikan ide dengan aksi. Saya sudah memulai ide Anies dengan aksi membangun gerakan bersama teman-teman, seperti Agus Syahrani dan Yaser Ace melalui gerakan Indonesia Melestarikan Bahasa Ibu. Kami sudah berhasil melatih sukarelawan bahasa dan menyusun beberapa kamus lokal yang ada di Kalimantan Barat serta korpus-korpus berbahasa daerah

Syair Melayu: Peranan Wanita

MABMonline.com, Pontianak.

Peranan Wanita

                                                                                                           Karya : Datok Gila (dari Kabupaten Sekadau)

Dengan bismillah kami ucapkan
Puji dan syukur kami panjatkan
Menghatur sembah salam penghormatan
Kepada semua hadirin sekalian

Para wanita di saat ini
Melangkah maju meningkatkan prestasi
Dengan bekerja di berbagai instansi
Bahkan ada juga yang memimpin negeri

Bergotong royong kita tingkatkan
Saling membnatu sesama insan
Janganlah kita saling menjatuhkan untuk mencari nama dan kekuasaan

Marilah kita duduk bersama
Tidak membedakan miskin dan kaya
Bahu membahu dalam berkerja
Untuk kemajuan kita semua

Kami semua para wanita
Ikut melestarikan seni dan budaya
Adat dan tradisi sebagai pusaka
Sebagai pedoman dalam berkarya

Festival budaya di saat ini
Untuk mengangkat seni dan tradisi
Lantunan syair sampai di sini
Kami memohon untuk undur diri

Syair Melayu: Bersatu Dalam Kebersamaan

Bersatu Dalam Kebersamaan

                                                                                                        Karya  :   Datok Gila (dari Kabupaten Sekadau)

Bismillahrrahmaanirrahiim kami mulakan
Menghatur senbah salam penghormatan
Puji dan syukur kami panjatkan
Atas Segala rahmat yang telah diberikan

Majelis Adat Budaya Melayu
Menjadi wadah untuk bersatu
Seni dan budaya dijaga selalu
Itu lah pusaka sejak dahulu

Festival budaya di saat ini
Untuk melestarikan seni dan tradisi
Meskipun zaman silih berganti
Tidak akan Melayu hilang di bumi

Seni dan budaya kita jagakan
Selalu mengisi setiap kegiatan
Adat dan tradisi jangan dilupakan
Sebagai panutan dalam kehidupan

Marilah kita bersatu padu
Hidup rukun saling membantu
Tidak membedakan etnis dan suku
agar tercapai kehidupan yang lebih maju

Bersama menjaga adat dan tradisi
Agar selalu hidup dan lestari
Membaca syair sampai di sini
Di lain waktu berjumpa lagi

LINGUIS AMERIKA JAMES T. COLLINS CERAMAH DI MABM

Penulis Sabhan Rasyid dan Tan Erwin

Jim.f

MABMonline.org, Pontianak — Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat (MABMKB) menggelar diskusi bulanan kemarin (23/4). Kegiatan yang mengusung tema “Bahasa Melayu di Kalimantan Barat: Perlunya Penelitian Empiris dan Kontemporer” ini menghadirkan pakar linguistik Amerika, yakni James T. Collins. Kegiatan yang dihadiri 47 orang tersebut berjalan dengan lancar dan penuh antusias dari peserta. “Saya mengucapkan terima kasih kepada panitia yang telah menyelenggarakan acara yang sangat bermanfaat ini,” ungkap seorang peserta diskusi.

Diskusi yang berlangsung tiga jam tersebut membahas secara mendalam bahasa Melayu di Borneo khususnya Kalbar. Perjalanan diskusi yang berselang sekitar tiga jam ini terasa panas oleh adanya pengetahuan-pengetahuan baru tentang bahasa Melayu yang dengn jelas dipaparkan pakar bahasa Melayu. Bahkan, Pak Jim begitu sapa orang kepadanya sangat bersemangat dan lantang dalam berceramah. “Linguis Amerika ini dengan semangat memaparkan secara detail bahasa Melayu, baik dari segi historis maupun penyebarannya di Kalbar dengan data-data yang meyakinkan,” ujar Marsita salah satu peserta yang hadir.

Mengacu pada tema yang diusung dalam diskusi tersebut, Pak Jim mengungkapkan bahwa penelitian secara empiris dan kontemporer sangat perlu dilakukan terhadap bahasa Melayu. Hal tersebut menurutnya akan mengubah citra Melayu dan kejelasan tentang penutur dan fungsi bahasa Melayu yang sesungguhnya.

“Penelitian empiris penting dilakukan untuk menampilkan profil bahasa Melayu di Kalbar yang sebenarnya,” ungkap Pak Jim dalam ceramahnya. Hal ini juga ditegaskan oleh Chairil selaku moderator, “Masih perlunya penelitian-penelitian empiris agar pengetahuan kita tentang bahasa Melayu menjadi lebih utuh.”

Selain penelitian empiris yang memang sudah pernah dilakukan beberapa peneliti dari Kalbar, Pak Jim mengungkapkan bahwa penelitian kontemporer juga perlu dilakukan. “Penelitian kontemporer dilakukan untuk melihat keterkaitan bahasa dengan bidang lain, seperti teknologi GPS, sosiologi, sejarah, demografi, sastra lisan, dan pendidikan Islam,” tambahnya saat berbicara dihadapan peserta.

Direktur Asia Tenggara di Northern Illinois University ini sudah sejak tahun 1969 berada di Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa kita harus selalu melihat hubungan antara bahasa Melayu dan bahasa lain yang ada di Kalbar.

Diskusi bulanan MABM KAlbar yang juga dimoderatori Chairil Effendy selaku ketua MABMKB merupakan wadah membuka wawasan tentang Melayu bagi semua kalangan. Diskusi bulanan tersebut juga akan secara rutin dilakukan dengan bahasan terkait Melayu Kalbar. “Kegiatan ini akan rutin dilaksanakan, tidak hanya masalah bahasa, pembicaranya juga bergantung pada siapa yang bisa dan sempat memberikan ceramah,” ungkap Chairil saat diwawancarai.

Diskusi Bulanan MABM Hadirkan Pakar Melayu Dunia

MABMonline.org, Pontianak — Ketua Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalimantan Barat Prof.Dr. Chairil Effendy mengungkapkan akan menghadirkan pakar linguistik Melayu internasional Prof. Dr. James Thomas Collins dalam diskusi bulanan pada tanggal 23 April 2013 di Sekretariat MABM Kalbar. Diskusi bulanan menurut Chairil akan menjadi agenda rutin pengurus MABM Kalbar untuk menghidupkan tradisi akademik dan menjadikan MABM sebagai organisasi masyarakat yang aktif membahas isu-isu yang sedang marak diperbincangkan. “Diskusi santai tetapi berisi,” tegas Chairil.

“James Thomas Collins merupakan pakar Melayu yang kukuh mengatakan nenek moyang bahasa Melayu Purba itu asal-usulnya dari Kalimantan Barat. Ya, kita undang beliau dalam diskusi bulanan kita,” ujar Chairil lagi. Lebih lanjut Chairil mengungkapkan bahwa dengan kehadiran pakar Melayu dunia ini masyarakat Kalimantan Barat bisa mengetahui hasil riset terbaru James T. Collins tentang isu tanah asal-usul bahasa Melayu Purba dan bahasa-bahasa Melayu yang ada di Kalimantan Barat. Kashmir Bafiroes selaku Ketua Harian MABM Kalbar juga mengungkapkan bahwa, “Diskusi bulanan diharapkan dapat membangun budaya akademik dan pangkalan data Melayu Kalimantan Barat.”

Saat ditanya siapa saja yang boleh menghadiri diskusi bulanan ini salah satu pengurus berkata, “Kami mengundang peneliti, dosen, teman-teman media massa, dan budayawan,” tegas Budiman Tahir Kepala Sekretariat MABM Kalbar. “Siapa pun boleh datang, gratis,” jelas Budiman.

Penyelidikan Bahasa dan Masyarakat Islam di Alam Melayu

Oleh: Yusriadi

Tulisan ini adalah makalah yang disampaikan dalam Seminar 35 tahun Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA) Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Seminar dilaksanakan tanggal 25 Juni 2007 lalu di Sudut Wacana Kampus UKM, Bangi, Kuala Lumpur.

Pendahuluan

Tema ini sangat menarik. Biasanya, dalam pandangan awam –khususnya orang di Kalimantan Barat, penyelidikan bahasa dan perkembangan masyarakat Islam bergerak terpisah. Bahasa, ya, bahasa. Masyarakat Islam, ya, masyarakat Islam.
Penyelidikan bahasa berkaitan dengan kegiatan linguis mengumpulkan data bahasa yang digunakan masyarakat, atau bicara mengenai bentuk yang diterima dan tidak. Hampir-hampir terlepas dari masyarakat Islam.
Bila membicarakan masyarakat Islam berarti membicarakan bagaimana masyarakat mengamalkan ajaran Islam. Membicarakan penelitian Islam, para ilmuan lebih cenderung melihat dari sisi normatifnya.
Sebelum ini ada juga kecenderungan untuk menganggap Islam sebagai bentuk yang asli dari tradisi agama samawi tersebut. Jadi Islam akan berkaitan dengan persoalan-persoalan ibadah dan lain sebagainya. Bila di luar dari kenyataan ini, orang akan menganggap ini bukan Islam, atau ini bukan yang asli Islam.
Sesungguhnya kewujudan hal seperti ini amat ketara, dan merupakan gejala umum di Indonesia. Dalam buku mengenai penelitian agama di Indonesia sudahpun disebutkan bagaimana kalangan agamawan memisahkan antara penelitian sosial dan penelitian agama. Oleh sebab itu penelitian mengenai masyarakat Islam kurang mendapat sentuhan dari sudut ilmu sosial. Tulisan ini, dalam banyak hal menggambarkan upaya yang perlu dilakukan untuk menempatkan konteks sosial keagamaan pada satu tataran praktis.
Kiranya, gagasan penyelenggaraan seminar ini, atau lebih tepat pilihan tema ini juga bergerak dari gagasan ini. Gagasan ini menghendaki bagaimana penyelidikan bahasa menyentuh masyarakat Islam di alam Melayu, atau dan penyelidikan bahasa memberikan sumbangan terhadap pembentukan akademik masyarakat Islam di alam Melayu.
Berdasarkan anggapan ini, dalam makalah singkat ini akan dipaparkan penyelidikan bahasa yang telah dilakukan di Kalimantan Barat, dan bagaimana kaitannya dengan masyarakat Islam di sini.

Penyelidikan Bahasa di Kalimantan Barat

Perkembangan penyelidikan bahasa di Kalimantan Barat dalam tahun-tahun belakangan ini menunjukkan kemajuan yang sangat berarti. Baik dari segi kuantitas data lapangan yang berhasil dikumpulkan maupun dari segi kualitas penelitian. Bandingannya dapat dilihat dari kenyataan bahwa sekian lama bidang ini dilupakan dan digarap secara sporadis. Lihat saja keheranan yang ditunjukkan Collins (1999):
‘Kalimantan Barat sangat penting untuk mengerti sejarah sosial-budaya dari kawasan Asia Tenggara. Pertama, sejumlah ahli (Blust 1992, Adelaar 1994, Collins 1995, Nothofer 1996) telah mengenali bahwa daerah berawa dan delta Kalimantan Barat seharusnya merupakan daerah asal prasejarah dari bahasa Melayu…..
Kedua, pada masa sejarah awal, Kalimantan Barat memainkan peranan yang penting dalam perkembangan regional perdagangan internasional, beberapa temuan arkeologis gendang gangsa dari Dongson, manik-manik batu akik dari India, patung Budha emas Boddhisatvas, semuanya di lembah sungai Sambas Kalimantan Barat menunjukkan adanya bentuk pemerintahan perdagangan sezaman atau lebih awal dari pemerintahan Sriwijaya (Nik Hassan Suhaimi, p.c). …
Ketiga, perlu diperhatikan bahwa banyaknya jumlah kesultanan, kerajaan kecil, daerah kekuasaan Melayu di Kalimantan Barat melampaui jumlah daerah manapun di Nusantara. Demikian pula umur dari unit-unit politik beragam mulai dari zaman purba seperti Sambas sampai yang baru seperti Pontianak’. (Collins 1999: 1)
Sekalipun Kalimantan Barat cukup istimewa dalam pentas akademik sejak dinobatkan sebagai tanah asal usul bahasa Melayu, pengetahuan dunia luar -bahkan juga orang dalam sendiri, mengenai keadaan bahasa Melayu di Kalimantan Barat masih masih kurang. Padahal, penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa utama sudah disinggung tiga ratus tahun lalu. Thomas Bowrey menerbitkan peta Nusantara (Bowrey, 1701) yang dilampirkan bersama Kamus Bahasa Inggris dan Bahasa Melayu, menyenaraikan tempat-tempat bahasa Melayu dituturkan, termasuk kawasan pantai Pulau Borneo Bagian Barat (Kalimantan Barat).
Pada tahun 1984 terbit sebuah peta persebaran bahasa (termasuk bahasa Melayu di Kalimantan Barat) yang diusahakan Wurm dan Hattori (1984). Mereka memberikan gambaran secara geografis persebaran bahasa yang diberi satu nama, yakni bahasa Melayu Pantai Barat Borneo (Western Coastal Malay), mengelilingi pantai barat dari utara ke selatan, dan kemudian persebaran itu masuk menyusuri aliran Sungai Kapuas hingga Bunut (Nanga Bunut atau Kecamatan Bunut?), sepanjang Sungai Melawi hingga Serawai (wilayah Sintang). Di aliran Sungai Pawan, dari muara hingga Sandai.
Pada tahun 1990, dalam bibliografi dialek Melayu di Pulau Borneo (Collins 1990) juga dicantumkan dua nama bahasa Melayu, yakni Melayu Pontianak dan Melayu Sambas, serta disebut-sebut bahasa Melayu Ulu (Kapuas). Peta ini ditampilkan berdasarkan data yang diperoleh di berbagai perpustakaan, yang dipublikasikan sebelum tahun 1987.
Dalam surveynya kemudian, Collins menyebutkan tidak kurang dari lima dialek Melayu yang resmi dipakai di Kalimantan Barat (Collins 1999: 7). Di barat laut, Melayu Sambas digunakan sepanjang lembah Sungai Sambas. Di sebelah timur Sambas, sepanjang Sungai Landak, beberapa kampung penutur bahasa Melayu. Di kampung-kampung itu bahasa Melayu Landak digunakan. Di Kota Pontianak dan sekitarnya digunakan dialek Melayu Pontianak, dialek yang sangat dipengaruhi dialek Melayu Riau. Sejauh 80 kilometer ke hulu Sungai Kapuas dari Pontianak, yakni di Sanggau, Sekadau, Sintang, digunakan dialek Melayu Ulu Kapuas. Di selatan Kapuas, sepanjang Sungai Pawan digunakan dialek Melayu Ketapang.
Selain sejumlah tulisan yang disebutkan dalam Bibliografi Bahasa di Pulau Borneo (Collins 1990), ada dua tulisan lain yakni dalam Moh Mar’a (1990), dan kamus kecil Bahasa Melayu Sambas yang diusahakan Mawardi (1997). Di tahun 1999 sebuah tesis tentang bahasa Melayu di Kapuas Hulu dihasilkan (Yusriadi 1999). Selain itu, ada beberapa artikel sumbangan Bernd Nothofer (1993) dan Collins (1995).
Setelah tahun 2000, setelah hipotesis yang menempatkan Kalimantan Bagian Barat sebagai tanah asal usul bahasa Melayu (Malay Homeland Hypotesis) mulai dibicarakan secara meluas, tulisan mengenai bahasa Melayu di Kalimantan Barat menunjukkan pertambahan secara kuantitas dan kualitas. Antara lain da disertasi Jaludin Chuchu yang menyentuh dialek Sambas (tahun 2001), tesis Firman Susilo mengenai bahasa Melayu di Sungai Melawi (2002).
Koleksi data yang dipungut tim peneliti Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) bersama mitranya Pusat Kajian Budaya Melayu (PKBM) Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak juga dapat disebutkan. Dari ratusan titik pengumpulan data bahasa di Sungai Sekadau, Sungai Kedukul, Sungai Laur, Sungai Kualan, puluhan di antaranya adalah varian Melayu. Koleksi data varian Melayu yang diterbitkan dalam monograf The Borneo Homeland Series. Makalah Collins antara lain bahasa dan identitas di Kalbar (Collins 2001), Contesting Malay Straitnees dibentangkan di Leiden (2001) dan kemudian diterbitkan di Singapura (Collins 2003).
Selain itu pada tahun 2003 dan tahun 2004 ada belasan tulisan yang dipublikasi atau diseminarkan tentang bahasa (termasuk bahasa Melayu). Karya Collins misalnya : Penelitian bahasa di Kalimantan Barat (Collins 2003a), Bahasa di Embau (Collins 2003b), bahasa di Sungai Sekadau (Collins 2003c). Begitu juga dalam Yusriadi dan Hermansyah (2003), dan juga dalam Yusriadi (2003) bahasa di Sungai Laur.
Tahun 2004 dua makalah dibentangkan pada konferensi internasional di Jakarta yakni Collins (2004a) dan Yusriadi (2004a). Yusriadi tahun 2004 (Yusriadi 2004b) menerbitkan tulisan tentang profil Melayu Ulu Kapuas, dan sebuah tulisan tentang bahasa dan identitas (Yusriadi 2004c).
Selain itu Pusat Bahasa di Jakarta juga menerbitkan data bahasa yang mereka petik di Kalimantan Barat, yang antara lain mengenai bahasa Melayu yang ada di beberapa tempat penelitian per kabupaten (Pusat Bahasa 2003). Data yang dikeluarkan Kantor Bahasa Pontianak juga memperlihatkan beberapa penelitian bahasa yang sudah dilakukan kantor tersebut.
Seminar 144 tahun penelitian bahasa dan sastra di Kalimantan Barat di Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA) Universiti Kebangsaan Malaysia 31 Januari – 2 Februari 2005, memperlihatkan akumulasi penelitian bahasa yang sudah dilakukan sejak 144 tahun lalu, sejak terbitnya tulisan pertama tahun 1861 oleh William Chalmers.
Tulisan-tulisan dari hasil penelitian ini harus diakui masih berupa kepingan-kepingan yang belum disusun sewajarnya. Penelitian masih terpenggal dan hampir belum tergarap secara sistematis: baik lokasi garapan maupun bidang ilmu.
Tetapi walau demikian, tulisan ini tidak saja menggambarkan penggunaan bahasa -khususnya bahasa Melayu, tetapi dalam konteks persebaran agama, tulisan-tulisan ini memaparkan kantong-kantong pemukiman orang Melayu dan di tempat-tempat di mana bahasa Melayu menjadi bahasa utama (lingua franca).

Sumbangan Penyelidikan Bahasa

Dari gambaran persebaran dan penggunaan bahasa Melayu di Kalimantan Barat orang memperoleh wawasan mengenai persebaran dan dinamika orang Islam juga. Kesimpulan ini muncul karena seperti yang kita ketahui, di Kalimantan Barat, Melayu-Islam identik. Orang yang masuk Islam disebut masuk Melayu, dan pada pandangan sosial orang Melayu adalah orang Islam. Sebaliknya, orang bukan Melayu adalah tidak Islam (Yusriadi-Hermansyah-Dedy Ari Asfar 2005; Soal hubungan kait antara Melayu dan Islam dapat dilihat dalam tulisan Yusriadi (1999), Zainuddin Isman (2002), Yusriadi dan Hermansyah 2003).
Penelitian mengenai bahasa Melayu Sambas, Melayu Pontianak, Melayu Laur, Melayu Sanggau, Melayu Kapuas Hulu, dll dari aspek apapun sudah pasti akan menyentuh sedikit tentang masyarakat Melayu tersebut. Jumlah, persebaran, variasi, bentuk-bentuk bahasa kemungkinan digambarkan melalui peneliti fonologi, morfologi, sintaksis, apatah lagi penelitian sosiolinguistik.
Penelitian dan tulisan yang dilakukan Moh Mar’a (1990) Mawardi (1997), Jaludin Chucu (2001), misalnya memberikan kita gambaran mengenai kelompok masyarakat penutur bahasa Melayu Sambas. Penjelasan mengenai istilah budaya yang ada dalam masyarakat Sambas menyentuh tentang kepercayaan, pandangan mereka terhadap agama dan kepercayaan lama (sinkrestisme). Sedangkan hubung kait bahasa Melayu Sambas dengan bahasa Brunei dalam Jaludin Chucu memberikan bayangan mengenai hubung kait dua masyarakat Melayu ini. Perkaitan ini kelak membantu orang memahami kaitannya antara orang Brunei dan orang Sambas. Jika wawasan kita mengenai bahasa Sambas diperluas lagi, misalnya membandingkannya dengan bahasa Kanayatn orang akan memperoleh gambaran mengenai hubungan antara Islam dan bukan Islam di kawasan ini.
Contoh lain, penelitian Yusriadi tentang bahasa dan identitas di Riam Panjang, selain menyoroti bagaimana bahasa berperanan dalam pembentukan, pemertahanan dan perubahan identitas, tetapi sejarah perubahan identitas mereka menjadi Melayu, kegiatan keberagamaan (Islam) juga dipaparkan. (Yusriadi 2005). Penelitian-penelitian lain sejatinya juga menggambarkan aspek-aspek seperti itu, sehingga akhirnya saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya.
Rasanya, bukan cuma sumbangan seperti yang dipaparkan di atas yang bisa diberikan penelitian bahasa terhadap kajian Islam di Kalimantan Barat. Masih banyak sumbangan lain yang dibisa diberikan, mengingat bahasa merupakan bagian dari kehidupan manusia yang hampir tak bisa dipisahkan. Bagaimanapun salah satu ciri kemanusiaan adalah bahasa (Akmajian, dkk 1995).
Sebelumnya ada wacana yang berkembang dalam dialog pra-seminar adat-istiadat Melayu di Kalimantan Barat antara Pusat Studi Bahasa dan Masyarakat Borneo (PSBMB), Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak dan Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalimantan Barat, Juli lalu. Dalam dialog yang membicarakan pentingnya penelitian, seminar dan penerbitan tentang Melayu di Kalbar, sempat terlontar keluhan soal tidak adanya terbitan hasil penelitian mengenai Islam di Kalimantan Barat.
Keluhan muncul karena sejauh ini belum ada buku atau bahan terbitan yang dapat digunakan umum untuk menggambarkan Islam di Kalimantan Barat. Orang sulit mendapatkan informasi tentang sejarah masuknya Islam di daerah ini, perkembangan Islam di ceruk pedalaman, atau tentang dinamika umat Islam di Kalbar. Kalaupun ingin memperoleh informasi seperti itu, seseorang harus membongkar rak-rak buku perpustakaan, arsip-arsip penelitian, dll; yang semua itu memerlukan kerja keras, ekstra waktu, dan kemampuan ilmu. Jangan pernah berharap ada bahan yang bisa diterima mentah-mentah, siap pakai; seperti kita menerima pelajaran tentang sejarah Indonesia.
Tidak mengherankan jika kemudian orang menjadi lebih mudah (atau lebih suka) membangun pengetahuan mengenai Islam di Kalbar berasaskan pengetahuan lisan: yang sifatnya agak-agak! Berasaskan ingatan orang-orang tua yang sudah pasti terbatas; dan dengan kemampuan yang juga terbatas.
Semua orang -akademisi dan tokoh Melayu yang hadir dalam forum itu dapat membenarkan tanggapan ini. Sebab memang keluhan seumpama ini sudah sering terdengar (Lihat dalam Collins 1995, Yusriadi 1999, Hermansyah 2002, Moh Haitami Salim, dkk 2001). Bahkan akademisi mempunyai istilah khusus untuk menggambarkan keprihatinan mereka terhadap kondisi ini. Victor King misalnya menyebut pulau Borneo sebagai the neglected island (King 1993), sedangkan James T. Collins menyebut Insula in cognita (Collins 2003).
Istilah-istilah yang ironis itu muncul karena mereka tidak puas atas informasi yang ada, yang cuma sekelumit. Bagi mereka sangat mengherankan Pulau Kalimantan yang termasuk pulau ketiga terbesar di dunia setelah Greenland dan Papua, pulau yang terletak di laluan strategis perdagangan dunia (di bibir Laut Cina Selatan), diapit pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi, tetapi tetap menjadi misteri dalam kancah ilmu pengetahuan.
Tetapi mungkin juga pandangan ini terlalu dramatis. Mungkin saja seperti disebut seimbas lalu, kajian yang dilakukan terhadap pulau ini dan masyarakatnya sudah bertambah dari waktu ke waktu. Setidaknya, setelah King dan Collins mengingatkan hakikat kelebihan dan kenyataan yang berlaku atas pulau tempat kita hidup sekarang ini. Dunia berubah, dunia akademik juga sudah berubah!
Saya sendiri pernah mendapat kritikan ketika dalam sebuah seminar di Pontianak tahun 2004 lalu. Ketika itu saya mengatakan pengetahuan mengenai Cina di Kalimantan Barat amat sedikit; sebab, penelitian tentang bahasa Cina hanya satu dua dan sangat terbatas. Pengkritik mengatakan, mereka sudah melakukan penelitian tentang Cina beberapa bulan lalu! Tetapi, penelitian belum diterbitkan -mungkin tak akan pernah diterbitkan, dan lebih malang lagi saya tidak bisa mengakesnya.
Berkaitan dengan minimnya informasi mengenai Islam di Kalbar, mungkin bantahan serupa juga akan muncul -bahwa ada sejumlah (banyak?) penelitian yang sudah dilakukan. Sebut saja beberapa penelitian untuk tesis yang dilakukan oleh magister agama STAIN Pontianak: Muh. Gito Saroso tentang perkembangan tarikat Qadiriyah Naqsyabandiyah di kota Pontianak (2003), Hermansyah tentang Islamisasi dan magi (Ilmu) di Kapuas Hulu (2002), atau penelitian-penelitian lain yang berkaitan dengan tokoh Basuni Imran, Chatib Sambasi, dll.
Saya juga mencatat (Yusriadi, dkk 2001) ada beberapa kajian mengenai Islam dan masyarakat muslim di Kalimantan Barat yang sudah dilakukan oleh mahasiswa program S-1 ketika mereka diwajibkan menulis skripsi. Sangat mungkin hasilnya akan lebih banyak jika penelitian yang dilakukan mahasiswa di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Pontianak, atau penelitian yang dilakukan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS), atau perguruan tinggi agama Islam di Ketapang, Singkawang dan Sintang, juga dihitung. Jika asumsi bahwa ada ribuan sarjana yang dihasilkan perguruan tinggi agama Islam di Kalbar, maka berarti ada ribuan pula penelitian mengenai Islam yang sudah dilakukan!
Tetapi, tesis dan skripsi yang dihasilkan civitas akademika itu hampir-hampir tidak diketahui. Penelitian ini tidak pernah dipublikasikan dan dibuka secara luas, dan kemudian tidak pernah (jarang) disebut-sebut sebagai upaya mengingat kembali. Nyatanya, setelah ujian tesis, dan setelah ujian skripsi, semuanya berlalu. Kertas-kertas itu menjadi tumpukan dokumen sakral di rak-rak buku.
Seharusnya, ribuan penelitian itu sudah membentuk gundukan data mengenai Islam dan masyarakat muslim di daerah ini, saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Apalagi ini ada penelitian yang menggarap bidang pendidikan, ekonomi masyarakat, dakwah dan penyebaran Islam.
Masalahnya, keluhan masih saja muncul, orang merasa masih saja kekurangan informasi mengenai Islam dan masyarakat muslim di Kalbar . Bahkan saya berani memastikan, di antara kita, banyak yang hanya pernah mendengar adanya penelitian, tetapi belum melihat wujudnya!

Penutup

Dari paparan di atas, kiranya kita memperoleh gambaran yang cukup, bagaimana penyelidikan bahasa yang dilakukan di Kalimantan Barat selama ini. Penelitian ini memberikan sumbangan terhadap pengetahuan mengenai orang Islam di sini.
Memang perlu konstruksi tersendiri untuk mendapatkan gambaran yang lengkap dan baik, memandangkan penelitian mengenai masyarakat Islam belum banyak dilakukan. Data-data yang ada, yang masih terkeping-keping perlu disatukan, sehingga membentuk mosaik indah wajah Islam di Kalbar.
Oleh sebab itulah senyampang dengan apa yang sudah dilakukan para linguis, para ahli sosial keagamaan juga perlu melakukan sesuatu; melakukan kajian –baik kajian lapangan maupun kajian kepustakaan. Data yang dikumpulkan linguis bisa menjadi pangkalan awal untuk usaha ini. Ibarat kata, inilah pangkalan seorang pelaut sebelum berlayar ke lautan informasi di belantara Kalimantan Barat.
Niscaya data ini juga bermanfaat sebagai penunjuk arah. Memandu peneliti dalam bidang sosial keagamaan untuk melukiskan gambaran sosial masyarakat muslim di pulau besar ini, gambaran masyarakat Islam di tengah pulau yang misteri ini. Gambaran ini kiranya sama pentingnya dibandingkan lukisan yang sudah dibuat mengenai masyarakat Islam di pusat Islam, setidaknya sebagai pembanding.
Takkan pula kita terus menggugat persoalan dikotomi yang sememangnya dianggap sebagai ciri profesionalisme seorang peneliti. Agaknya! **

Bahan Bacaan

Akmajian, dkk. 1995. Bahasa dan Komunikasi. Terj. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Bowrey, T. 1701. A dictionary, English and Malayo, Malayo and English, to which is added some short grammar rules & directions for the better observation of the propriety and elegancy of this language. London: Sam Bridge.
Collins, J. T. 1995. Kalimantan sebagai titik tolak pengkajian bahasa Melayu. Jurnal Dewan Bahasa 39 (10) : 866 – 879.
Collins, J. T.1990. Bibliografi dialek Melayu di Pulau Borneo. Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka.
Collins, J.T. 1999. Keragaman Bahasa Melayu di Kalimantan Barat. Makalah Seminar Festival Budaya Nusantara Regio Kalimantan, Pontianak, 23 September.
Collins, J.T. 2003a. Alam Melayu dan masyarakat Embau, dalam Yusriadi dan Hermansyah 2003. Orang Embau, Potret masyarakat pedalaman Kalimantan. Pontianak: STAIN Pontianak Press.
Collins, J.T. 2003b. Contesting straits-Malayness: The fact of Borneo. Singapura: NUN Press.
Collins, JT. 2003c. Penelitian bahasa di Kalimantan Barat. Makalah pada acara peluncuran buku Orang Embau, Februari 2003.
Firman Susilo. 2001. Pemakaian bahasa Melayu di daerah aliran Sungai Melawi (Kajian Geografi Dialek. Tesis MA, Yogyakarta : Universitas Gajahmada.
Hermansyah. 2002. Magic Ulu Kapuas: Kajian atas Ilmu masyarakat Melayu Embau. Tesis Magister Agama IAIN Walisongo Semarang.
Jaludin Haji Chuchu. 2001. Posisi dialek Melayu Teluk Brunei dalam salasilah baha Melayu Purba. Disertasi Ph.D. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia.
King, Victor T. 1993. The peoples of Borneo. Oxford : Blackwell.
Mawardi Rivai. 1997. Kamus bahasa Melayu Sambas. Pontianak: Romeo Grafika Press.
Moh. Mar’a. 1990. Pronomina persona dan pronomina penunjuk dalam dialek Melayu Sambas. Jurnal Dewan Bahasa 34 (8): 598-603.
Moh. Haitami, dkk. 2000. Islam di pedalaman Kalimantan Barat (Studi kasus atas keberagamaan masyarakat Embau). Pontianak: Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak.
Muh. Gito Saroso. 2003. Dakwah Islam di Kalimantan Barat (Studi kasus atas Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah di Kota Pontianak 1977-2002). Tesis Magister Agama IAIN Walisongo Semarang.
Nothofer, B. 1993. Migrasi orang Melayu Purba. Sari 14:33-52
Wurm, S.A. dan S. Hattori. 1983. Language atlas of the Pacific area,
Part II. Canberra: Australian Academy of the Humanities in Collaboration with the Japan Academy.
Yusriadi. 1999. Dialek Melayu Ulu Kapuas. Tesis MA. Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi.
Yusriadi, dkk. 2001. Judul dan abstrak penelitian Islam di Kalbar. Borneo Homeland Datat Paper 21.
Yusriadi. 2003. Bahasa Melayu di Sungai Laur. Naskah.
Yusriadi. 2004. Bahasa di Kapuas Hulu. Makalah pada Konferensi Linguistik Tahunan ke-2 Universitas Katolik Atmaja, Jakarta.
Yusriadi. 2004. Bahasa dan identiti di Riam Panjang, Kalimantan (Indonesia). Disertasi Ph.D Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi.
Yusriadi dan Hermansyah 2003. Orang Embau, Potret masyarakat pedalaman Kalimantan. Pontianak: STAIN Pontianak Press.
Yusriadi, Hermansyah dan Dedy Ari Asfar. 2005. Etnisitas di Kalimantan Barat. Pontianak: STAIN Press.
Zainuddin Isman. 2001. Orang Melayu di Kalimantan Barat: kajian perubahan budaya pada komuniti pesisir dan komuniti pedalaman. Tesis MA, Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia