Karnaval Khatulistiwa 2015, Kemeriahan Ragam Budaya Bangsa

Oleh : Gusti Iwan

Mabmonline.org, Pontianak — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 Kemerdekaan Republik Indonesia, pemerintah dan Panitia Nasional Gerakan Ayo Kerja 70 Tahun Indonesia Merdeka (G70) menyelenggarakan kegiatan Karnaval Kharulistiwa 2015. Karnaval ini mengambil tema “Optimis menatap masa depan Indonesia”.

Untuk tahun ini, merupakan suatu kebanggaan dan kehormatan bagi masyarakat Kalimantan Barat bahwa pelaksanaan Karnaval Khatulistiwa diadakan di kota Pontianak. Karnaval Khatulistiwa 2015 meliputi tiga kegiatan, yakni karnaval darat (parade mobil hias, parade pejalan kaki dengan pakaian adat nusantara, dan marching band Taruna AD, AL, AU, Akpol serta SMA-SMA terpilih), karnaval air (sampan dan perahu  tradisional hias), serta panggung hiburan rakyat.

Disaksikan oleh Presiden Jokowi, parade karnaval darat dimulai pada pukul 14.00 WIB, dengan lokasi pelepasan di Rumah Radankng Pontianak. Peserta karnaval diikuti tidak hanya dari Kalimantan Barat saja, namun juga dari provinsi-provinsi lain, dan perwakilan dari negara tetangga, serta diikuti pula oleh instansi pemerintah, BUMN, BUMD, seniman, sanggar seni, paguyuban serta pelajar.

Usai konvoi karnaval darat, Presiden Jokowi melepas peserta karnaval air yang dimulai dari Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak. Peserta karnaval air dilepas dengan dibunyikannya meriam karbit sebanyak 70 kali sebagai tanda dimulainya parade karnaval air.

Parade Marching Band (Foto Gusti Iwan)
Parade Marching Band
(Foto Gusti Iwan)
Parade Marching Band  (foto Gusti Iwan)
Parade Marching Band
(foto Gusti Iwan)
(Foto Gusti Iwan)
Kendaraan Pangab dan Kapolri (Foto Gusti Iwan)
Kendaraan Jokowi  (foto Gusti Iwan)
Kendaraan Jokowi
(foto Gusti Iwan)
Wakil Ketua MPR, Oesman Sapta  (foto Gusti Iwan)
Wakil Ketua MPR, Oesman Sapta
(foto Gusti Iwan)
Kendaraan hias Sulsel  (foto Gusti Iwan)
Kendaraan hias Sulsel
(foto Gusti Iwan)
Kendaraan hias Jambi  (foto Gusti Iwan)
Kendaraan hias Jambi
(foto Gusti Iwan)
Konvoi Komunitas Sepeda Ontel  (foto Gusti Iwan)
Konvoi Komunitas Sepeda Ontel
(foto Gusti Iwan)
Kendaraan hias MABM Kalbar diantara kerumunan penonton.  (foto Gusti Iwan)
Kendaraan hias MABM Kalbar diantara kerumunan penonton.
(foto Gusti Iwan)

Tari Jepin Sengarong Dari Masa Ke Masa

Oleh Abang Yuda Saputra

Tari Jepin Sengarong
Tari Jepin Sengarong

Mabmonline.org, Sanggau — Lantunan khas alat musik gambus dan hentakkan kaki penari mewarnai malam yang berembun setelah turun hujan. Sang pelatih sekaligus pemain musik alat musik gambus menggeleng-gelengkan kepalanya serambi memetik gambus yang khas dengan musik Melayu. Abang Saka(63) bersama pemain musik lainnya seakan berlomba-lomba melantunkan alat musik mereka masing-masing. Ada yang bermain rebana, bermain kecrek, ada yang bermain jimbe, dan tentunya ada penyanyi yang melantunkan syair-syair yang bernuansa islami.

Tarian Jepin Senggarong merupakan pengaruh dari kebudayaan awal. Namun, tidak ada yang tahu kapan tepatnya tari ini masuk ke Kabupaten Sanggau. Diperkirakan Jepin Senggarong mulai dikenal pada tahun 1798 pada saat masa pemerintahan Gusti Muhamad Tahir I. Di sebut Jepin Sengarong karena gerakan tarian ini menggambarkan seseorang yang sedang berlayar mengarungi samudra. Gerakan tarian ini menggambarkan orang yang sedang mengayuh sampan dan meliuk-liuk seperti gelombang air.
“Mengapa disebut tari Sengarong? Karena memang tariannya seperti orang yang sedang mendayung sambil meliuk-liuk seperti ombak di sungai. Bahasa Indonesianya Senggarong, karena kita sesuaikan dengan bahasa Sanggau, jadilah Sengarong,” ujar Abang Saka (63)
Pada tahun 1970 tari Jepin mulai berkembang di Kabupaten Sanggau. Ade Ibrahim dan Saleh yang mengajarkan tari JepinSengarong ini. Hal inilah yang membuat tarian ini terkenal di Kabupaten Sanggau. Beliau mengajarkan tarianjepin tersebut dari Desa Kantu hingga desa-desa yang lain. Pada tahun 1972 Ade Ibrahim mengajarkan Jepin ini ke Desa Sami. Abang Saka merupakan murid dari Ade Ibrahim yang mempelajari tari Jepin Sengarong pada masa itu.

Pada tahun 1970 hingga 1980an merupakan masa kejayaan tari Jepin Sengarong di Kabupaten Sanggau. Karena pada saat itu banyak berdiri sanggar-sanggar etnis. Satu di antaranya adalah Sanggar Ratu Ayu yang didirikan oleh Ade Ibrahim. Sanggar ini terletak di Desa Kantu tepatnya di rumah Ade Ibrahim yang tidak jauh dari Keraton Surya Negara Kabupaten Sanggau. Pada masa itu Sanggar Ratu Ayu sering diminta untuk pertunjukkan pada acara keraton ataupun acara pernikahan.
Tari jepin pada masa itu merupakan tari pergaulan antara muda-mudi sebagai tari hiburan pada saat resepsi pernikahan ataupun acara besar lainnya. Satu di antara kesuksesan yang dialami seniman tarian ini adalah mendapatkan pujian dari Satarudin Ramli seorang seniman Pontianak yang pada waktu itu Sanggar Ratu Ayu menampilkan tarian Jepin Sengarong di Pontianak.
“Dulu yang memperkenalkan tarian ini adalah Ade Ibrahim. Beliau merupakan guru saya. Waktu itu tahun 72 saya masih tinggal di Sami. Pas pindah ke Sanggau, beliau buat sanggar, namanya Sanggar Ratu Ayu. Saya diajak masuk sanggar oleh beliau,” tambahnya.

Perkembangan yang semakin modern membuat tari tradisional mulai menghilang. Sanggar-sanggar tradisional sudah mulai tidak terdengar lagi namanya. Begitu pula yang terjadi pada Sanggar Ratu Ayu yang dipimpin oleh Ade Ibrahim. Pada tahun 2000-an seni tari tradisional mulai mengalami kemunduran. Hal ini tampak tidak adanya penampilan tari tradisional pada acara-acara besar karena kemunculan tari kreasi. Selain itu adanya pengaruh budaya asing menambah kurangnya minat masyarakat Sanggau akan tari tradisional.

Pada tahun 2004 Abang Saka pindah ke Desa Sungai Bungkok. Pada tahun 2007 beliau memilih bergabung bersama Sanggar Nurul Huda yang ada di Desa Sungai Bungkok. Di sanggar tersebut awalnya hanya ada kesenian hadrah. Atas perintah dari ketua sanggar, Abang Saka diminta untuk melatih Jepin Sengarong ini. Akhirnya Abang Saka yang bergabung di sanggar ini mengajarkan remaja-remaja yang bergabung dengan sanggar ini untuk menjadi pelatih tari Jepin Sengarong.

Latihan zapin ini dilakukan seminggu sekali di Sanggar Seni Melayu Nurul Huda Kabupaten Sanggau (tepatnya di Desa Sungai Bungkok kelurahan Tanjung Kapuas Kecamatan). Selain sebagai penyalur hobi serta untuk latihan pementasan, tari Jepin Sengarong ini juga sebagai sarana untuk melestarikan budaya lokal.Usia yang sudah tidak muda lagi tidak menyurutkan semangat bapak 3 orang anak ini. Tidak heran memang, karena Abang Saka inilah yang memperkenalkan Jepin Sengarong ini di Sanggar Nurul Huda sejak 2007 hingga sekarang.
“Sudah lama memang saya menjadi pelatih di sini (Sanggar Nurul Huda), sejak 2007 dulu, waktu saya pindah ke Sungai Bungkok ini. Saya langsung disuruh melatih jepin sama ketua sanggar,” ujarnya.

Abang Saka selaku pelatih dan pemusik yang ada di Sanggar Nurul Huda ini tidak mendapat bayaran sepeser pun. Begitu pun dengan pelatih dan pemusik yang lainnya. Hobi dan tekad untuk melestarikan budayalah yang membuat Abang Saka tetap bertahan dan dengan sukarela mengajarkan tari jepin kepada remaja-remaja yang tergabung di Sangar Nurul Huda ini. Uang yang didapat hanya pada saat pementasan saja. Namun bagi Abang Saka menjadi pelatih bukanlah untuk mencari uang, melainkan untuk berbagi pengalaman dan melestarikan budaya tradisional agar tidak hanya menjadi sejarah saja.
“Saya tidak dibayar di sini. Saya juga memang tidak minta bayaran. Saya hanya menyalurkan hobi serta melestarikan budaya tradisional yang sudah ada. selain itu kan kita juga berbagi pengalaman. Tiap tahun kita sering mentas di luar Sanggau, biasanya acara FSBMKB dan FBBK. Dari situlah kita berbagi pengalaman dengan yang muda-muda ini,” tambahnya.

Seminar Tradisi dan Sejarah Melayu di Kubu Raya

Oleh Gusti Iwan

MABMonline.org, Pontianak — Pagi ini bertempat di Balai Kerja Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat (MABMKB) berlangsung kegiatan seminar, bertajuk “Seminar Hasil Penelitian : Pengumpulan Tradisi Lisan dan Sejarah Lokal Masyarakat Melayu di Kabupaten Kubu Raya“. Kegiatan ini dilaksanakan atas kerjasama MABMKB, PPKM Universitas Tanjungpura dan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya. 

Penelitian ini dinilai sangat penting karena Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi yang sangat strategis dan memainkan peranan yang sangat penting dalam percaturan politik, budaya dan perdagangan sejak zaman Kerajaan Kutai, Sriwijaya dan Majapahit.

Namun pada masa kolonial Belanda, Kalimantan Barat tidak dianggap sebagai kawasan yang penting dan strategis, sehingga Belanda tidak menenpatkan kekuatan pasukannya di wilayah ini. Catatan-catatan tentang masyarakat Melayu, sejarah, adat istiadat, sampai kepada artefak masyarakat lokal tidak dianggap penting. Implikasi dari fakta kolonial ini mengakibatkan seakan-akan orang Melayu itu dianggap sebagai pendatang, maka tidak perlu diteliti lebih mendalam.

Seminar Tradisi Melayu Kabupaten Kubu Raya  Foto Gusti Iwan
Seminar Tradisi Melayu Kabupaten Kubu Raya
(Foto Gusti Iwan)

Penelitian tradisi sastra lisan dan sejarah lokal di Kabupaten Kubu Raya ini diharapkan dapat memenuhi dahaga akademik dan pengetahuan budaya lokal yg msaih simpang siur dan kurang dipahami. Diantara hasil yang didapat dalam penelitian ini diantaranya informasi mengenai sejarah asal usul kampung, cerita rakyat dan adat istiadat masyarakat di Kabupaten Kubu Raya.

Melalui penelitian ini diharapkan dapat menghimpun dan melestarikan khazanah budaya masyarakat Melayu, terutama dalam menghadapi perubahan dan pergeseran kebudayan akibat arus globalisasi yang teramat cepat.

 

IAI Telusuri Rekam Jejak Arsitektur Melayu

Oleh Gusti Iwan

MABMonline.org — Dalam sebuah rangkaian kegiatan Simposium Arsitektur Melayu 2014 yang diadakan oleh Ikatan Arsitek Indonesia Daerah Kepri, mulai tanggal 1–4 Oktober 2014, satu tim yang menamakan diri dengan Tim Rekam Jejak Arsitektur Melayu 2014 mengadakan rangkaian kegiatan survey arsitektur Melayu di kota Pontianak, Sambas, dan Mempawah.

Diskusi Arsitektur Melayu  (Foto Gusti Iwan)
Diskusi Arsitektur Melayu
(Foto Gusti Iwan)

Kegiatan ini sendiri memiliki maksud dan tujuan untuk menelisik arsitektur Melayu sebagai bagian dari budaya Melayu yang juga merupakan bagian dari budaya nasional, mendekatkan orang Melayu dengan kebudayaan milik sendiri sehingga tidak tercerabut dari akar kebudayaannya, memperteguh marwah dan jati diri orang Melayu, dan membantu pemerintah daerah untuk menjaga ketahanan budaya.

Bertempat di Balai Kerja Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat (MABMKB), Rabu (1/10), diadakan pertemuan diskusi dan pendataan awal mengenai arsitektur Melayu di Kalimantan Barat. Ditemui oleh Sy. Selamat Joesoef Alkadri (Ketua Dewan Pemangku Adat MABMKB), Prof. DR. H. Chairil Effendy, M.S. (Ketua Umum MABMKB), dan beberapa pengurus MABMKB, Tim Rekam Jejak Arsitektur Melayu 2014 didampingi A. Roffi Faturrahman (IAI Daerah Kalbar) memaparkan maksud dan tujuannya datang ke Kalimantan Barat. Turut hadir pula dalam pertemuan ini perwakilan dari Politeknik Negeri Pontianak dan Prodi Arsitektur Universitas Tanjungpura.

Diskusi yang terjadi sangat menarik, terutama dengan pemaparan dari masing-masing perwakilan, saling memberikan tambahan informasi bagaimana tipologi rumah Melayu yang ada, baik itu yang berada di wilayah Kepulauan Riau, di Kalimantan Barat, dan di beberapa negara tetangga.

“Kita perlu menggali seperti apa asal atau aslinya bangunan rumah Melayu. Rumah tinggal orang Melayu di Kepulauan Riau yang ada sampai saat ini banyak juga yang dipengaruhi dari budaya luar, contohnya dari budaya Bugis yang telah sekian lama berasimilasi dengan budaya asli masyarakat lokal”, papar Martin Baron dari IAI Kepri.

Foto Bersama IAI Kepri
Foto Bersama IAI Kepri (Foto Gusti Iwan)

“Terbangunnya kota Melayu utamanya memenuhi 6 unsur, yakni adanya istana, masjid, padang atau lapangan, pelabuhan, sungai dan pasar.  Pola berdiri kota seperti ini sebagaimana yang ada di Malaysia ternyata memiliki kondisi yang hampir sama dengan yang ada di Lingga. Lingga ini sendiri juga dianggap sebagai bunda atau cikal bakal tipikal arsitektur Melayu”, tambah Martin.

Sangat penting bagi  semua pihak untuk terus melestarikan budaya daerah sebagai bagian dari budaya nasional agar terus bertahan ditengah perubahan dan masuknya beragam budaya asing yang akan menggerus budaya asli. Seperti pernyataan Maaz Ismail, S.P., M.Si. (Dewan Pakar Lembaga Adat Melayu Batam), “Budaya Melayu sejati seharusnya menjadi ruh atas rekayasa arsitektur di bumi Melayu agar peradaban Melayu tetap lestari sebagaimana adagium “takkan Melayu hilang di bumi”.”

 

 

 

Dari Syair sampai Pantun Sesepuh Melayu

Oleh Sabhan Rasyid

MABMonline.org, Kubu Raya—Dewan Pengurus Daerah (DPD) Pemuda Melayu Kabupaten Kubu Raya bekerja sama dengan Makodam XII Tanjungpura serta Pemerintah Kabupaten Kubu Raya menggelar acara Halal Bi Halal dan Silaturahmi Umat Muslim Kabupaten Kubu Raya, Sabtu (13/9). Acara tersebut mengangkat tema “Memperkuat Ukhuwah Islamiyah untuk Mewujudkan Rahmatan Lil Alamin”. Acara tersebut dihadiri oleh tokoh Melayu, anggota Pemuda Melayu KKR dan Kalimantan Barat, seniman Melayu, serta masyarakat muslim di Kabupaten Kubu Raya.

Acara bernuansa Melayu dan Islam tersebut dimeriahkan oleh rentetan acara hiburan Melayu dari masyarakat Melayu Kubu Raya. Para undangan yang hadir dihibur dengan senandung-senandung Melayu dari grup musik Melayu Moresta pimpinan Muhammad.

TIdak hanya dendang-dendang Melayu, para remaja Kubu Raya juga menampilkan hiburan raddad hadrah, syair Melayu, pantun, serta tarian yang sangat bersemangat.

Syair Melayu melantun dari seorang remaja putri bernama Umi Khairiyah. Dengan baju kurung khas Melayu berwarna merah jambu, ia dengan percaya diri melantunkan syair-syair Melayu. Umi Khairiyah membuka lantunan syairnya dengan bait pembuka yang sangat indah.

“Buah beringin buah kurme,

kalau diperas akan keluar air,

terima kasih hadirin semue,

sudah memberikan kesempatan kepade saye untuk berpantun dan bersyair”.

Syair dari Umi Khairiah disambung oleh meriahnya tarian kipas dari Sanggar Ikan Mas Prodi Seni Tari dan Musik FKIP Untan. Kipas disimbolkan sebagai bentuk keceriaan dan kegembiraan. Tarian dibawakan oleh empat penari perempuan dan dua penari laki-laki lengkap dengan pakaian serba biru.Tarian kipas ini dipersembahkan kepada seluruh undangan yang telah setia mengikuti acara silaturahmi sejak pagi.

Hiburan yang didapatkan oleh para undangan menjadi sangat lengkap dengan tampilnya dua sesepuh Melayu yang berpantun di atas panggung. Beliau adalah Bapak Abdul Wahan (85) dan Bapak Said (86) yang merupakan masyarakat Melayu Kubu Raya. Dalam pantunnya, sesepuh ini menyampaikan pesan kepada semua masyarakat Melayu agar jangan berpecah belah dan marilah untuk hidup bersatu. Bapak Said menutup pantun singkatnya dengan sebait pantun yang elok.

“Kalau ada jarum yang patah

Jangan disimpan di lipatan kain

Kalau ada kata-kata kami yang salah

Jangan ceritakan ke orang lain”

 

Seribu Lebih Umat Muslim Penuhi Aula Makodam

Oleh Sabhan Rasyid

MABMonline.org, Kubu Raya—Dewan Pengurus Daerah (DPD) Pemuda Melayu Kabupaten Kubu Raya bekerja sama dengan Makodam XII Tanjungpura serta Pemerintah Kabupaten Kubu Raya menggelar acara Halal Bi Halal dan Silaturahmi Umat Muslim Kabupaten Kubu Raya, Sabtu (13/9). Acara tersebut mengangkat tema “Memperkuat Ukhuwah Islamiyah untuk Mewujudkan Rahmatan Lil Alamin”. Acara tersebut dihadiri oleh tokoh Melayu, anggota Pemuda Melayu KKR dan Kalimantan Barat, seniman Melayu, serta masyarakat muslim di Kabupaten Kubu Raya.

Lebih dari seribu undangan memadati Aula Makodam XI Tanjungpura saat mengikuti acara halal bi halal tersebut. Kegiatan dilengkapi dengan hiburan senandung Melayu dari grup musik Melayu Moresta.

Acara silaturahmi ini memiliki tujuan utama untuk memperkokoh persatuan umat Islam di Kalimantan Barat. “Mudah-mudahan kegiatan halal bi halal ini dapat menjadi momentum yang tepat bagi umat muslim untuk bersatu dan memperkokoh ukhuwah islamiyah,” ungkap Husin Syawiek Ketua Umum DPD Pemuda Melayu KKR yang juga Sekretaris Daerah Kubu Raya ini.

Silaturahmi yang diselenggarakan bertepatan dengan pelantikan anggota DPC Pemuda Melayu KKR ini dimeriahkan dengan hiburan-hiburan bernuansa Melayu. Para undangan dimanjakan oleh tarian persembahan, raddad hadrah, pantun, syair melayu, serta silat juadah. Selain seni-seni Melayu yang memukau, acara silaturahmi ini juga makin semarak dengan pakaian yang dikenakan oleh para undangan, yaitu telok belanga dan baju kurung khas Melayu Kalimantan Barat.

Acara yang baik dan bermanfaat ini menjadi suatu kegiatan yang penting demi menyatukan kembali semangat persatuan Melayu dan umat muslim di Kalimantan Barat khususnya di Kubu Raya. “Jika umat muslim bersatu, insyaallah Kubu Raya maju, insyallah Kalbar maju, insyallah dunia akan tenteram dan sejahtera,” pungkas Husin yang diikuti oleh tepuk tangan dari para undangan.

Hilangnya Generasi Penenun Pontianak

oleh Gusti Eka Firmanda

MABMonline.org–Hujan mulai turun membasahi sekujur tubuh, tetapi tidak menghentikan langkah kami siang itu, Senin (2/12) pukul 14.00. Saya bersama dua rekan lain, pergi ke sebuah rumah milik Anas pengusaha tenun asal Sambas di jalan Apel, Gang Mempelam, Pontianak. Bel kami bunyikan, tidak menunggu lama pria paruh baya keluar. Ia menyambut kami dan mempersilakan kami untuk masuk kerumahnya yang sederhana itu.

Anas merupakan pengusaha tenun yang masih tersisa kini. Ia menggeluti usaha tenun ini sejak ia menjadi guru di sekolah Kampung Semberang, Kabupaten Sambas dan kini pria yang sudah berumur 70 tahun ini masih giat mengumpulkan hasil tenun para pengrajin tenun di Kab. Sambas untuk di jual kembali.

Anas mengatakan usaha tenun di Pontianak sudah tenggelam. “Kalau penenun Pontianak itu mereka pakai benang emas yang silver putih jadi sulit sekali membuatnya. Pernah saya lihat tahun 1963/1965 masih ada yang nenun di Lembah Murai menggunakan benang emas silver, di Kampung Kapur juga ada itu terakhir saya lihat,” kata Anas sambil tersenyum.

Anas juga mengatakan keberadaan penenun di Pontianak sudah jarang sekali terdengar. kemungkinan lesunya usaha tenun di Pontianak ini dikarenakan kesalahan dari masyarakat yang tidak mau melestarikan unsur budaya ini.

Berbeda dengan di Kabupaten Sambas yang kental dengan budaya Melayu, di sana menurut Anas para penenun masih melestarikan kebudayaan ini dan dijadikan industri rumahan. “Di Sambas tenun masih dilestarikan. Jadi, masih banyak terdapat para penenun di sana,” cerita Anas.

Anas juga menambahkan di Sambas generasi penenun sudah diajarkan sejak masih kecil, sekarang penenun di Sambas ada yang masih sekolah di bangku SMP bahkan ada yang masih berada di bangku sekolah dasar.

Sambil Anas bercerita sesekali ia gelisah. Pria yang sudah berambut putih ini beranjak dari tempat duduknya dan pergi masuk ke kamarnya. Tidak berselang lama ia keluar dengan membawa beberapa helai kain tenun dengan motif khas sambas. Satu persatu ia keluarkan sambil menunjukan nama dari motif kain tenun tersebut dan makna dari motif tersebut.

Anas menambahkan motif tenun khas Pontianak yang masih bertahan ialah motif corak insang yang kini banyak beredar di pasaran.

Kurangnya motif yang dihasilkan menjadi tanda lesunya usaha tenun di Pontianak dan sebelumnya pemerintah di Pontianak sudah berupaya dengan mengadakan pelatihan-pelatihan demi menghidupkan kembali generasi tenun di Pontianak, tetapi nihil. Hasilnya, sampai hari ini usaha tenun menjadi usaha yang langka di temui di Kota Pontianak.

 

 

 

Parit Bangseng: Nama yang Tergantikan

lustrasi nama gang (sumber unnes.ac.id)
lustrasi nama gang (sumber unnes.ac.id)

Oleh Khalifah

Sore sehabis hujan mengguyur kota khatulistiwa, becek di sana-sini tidak bisa dihindari. Lalu lalang kendaraan yang setiap hari semakin menyesaki jalan yang bahkan sudah berpuluh-puluh tahun tidak bertambah lebar saling menghindari genangan-genangan air yang tampak kehijauan di lubang jalan yang berpuluh-puluh kali ditambal dinas pekerja umum.

Di sebuah gang yang beceknya bahkan saat hujan tidak menyentuh tanah Borneo ini bergantung ratusan makanan siap saji bersampul plastik dengan bungkusan warna-warninya. Tak ketinggalan pula barang kelontong yang siap menyambut pembeli yang mulai datang bahkan ketika ayam belum berkokok membangunkan tidur. Pasar Puring Siantan, Pontianak Utara. Pasar tradisional yang dibagian gangnya inilah akan kutemui pemilik toko penjahit baju. Toko penjahit yang sekaligus menjual berbagai aksesoris lain seperti tas yang tergantung di bagian depan dan beberapa alat tulis dan kancing-kancing baju yang tampak meriah dengan aneka warnanya di dalam lemari kaca.

Ko Acan, begitu panggilan akrabnya ini menyambut kedatanganku sore itu di tokonya. Tokonya berada di gang sebelum Kantor Pos Siantan di dekat penyebrangan. Tokonya berada di sebelah kiri dan berjeret beberapa toko dari muka gang. Tokonya tutup ketika jarum jam sempurna menghitung jari satu tangan. Sebentar lagi tokonya akan tutup, tetapi ia tetap menyambutku dengan nada ramah khas seorang pedagang Cina saat menyambut pembeli.

“Mau beli apa?” dengan logat Cinanya ia bertanya.

Sore yang hampir menjelang magrib itu menyaksikan kebingunganku menjawab pertanyaannya. Bingung karena memang tak ada sedikit pun niatku untuk membeli barang yang menyesaki toko Ko Acan ini. “Eeeee….saye ni bukan mau beli Ko, tapi mau nanya-nanya. Koko dulu tinggal di Parit Bangsengkan?” tanyaku menjawab pertanyaannya, “Koko tau nda ngape namenye Parit Bangseng Ko?” lanjutku.

Ko Acan yang sekarang tinggal di tokonya di Pasar Puring ini tahun 60-an merupakan etnis Cina yang mendiami Parit Bangseng. Pada tahun 85-an dia pindah untuk menempati tempatnya sekarang.

Parit Bangseng tempat yang tak jauh dari Pasar Puring Siantan. Parit Bangseng yang kini berganti nama menjadi Jalan Parit Makmur. Tempat yang dulunya dinamai sesuai dengan nama perintisnya.

Bangseng tu nama orang yang punya tempat itu. Semua tanah yang disana punya dia semua. Shim Ban Shin namanya. Dari depan tuh sampai lapangan bola itu tanah dia”, jawab Ko Acan yang berumur lebih dari setengah abad itu.

Shim Ban Shin, orang yang dulunya pemilik semua tanah di Parit Bangseng adalah keturunan Cina. Penyebutan Parit Bangseng tak lepas dari namanya dan parit besar yang ada di sana. Bang berarti besar dan Seng yang merupakan sebutan atau panggilan untuk Shin. Jadilah Parit Bangseng.

Parit Bangseng dulunya dihuni oleh etnis Cina. Namun, karena terjadi kerusuhan di daerah pedalaman Kalbar menyebabkan etnis lain memasuki tempat ini. Etnis Melayu dan Maduralah yang kemudian ikut menghuni tempat ini. Keberagaman pada akhirnya membuat etnis Cina tak lagi menjadi pemilik tunggal Parit Bangseng ini. Bahkan, sebagian besar etnis Cina yang mendiami tempat ini kemudian pindah ke tempat lain.

Parit Bangseng yang kini berganti nama menjadi Jalan Parit Makmur ini memiliki wilayah cukup luas. Luasnya kira-kira tiga hektar. Di bagian depan, kawasan ini dihuni oleh orang Cina, bergerak lebih dalam lagi akan dijumpai etnis Melayu dan Madura. Keberagaman inilah yang mencetuskan pergantian nama dari Parit Bangseng menjadi Parit Makmur.

Parit Makmur, ye karne di sini nih udah dihuni oleh banyak etnis. Depan-depan sanakkan banyak Cine, trus nak sini-sinik nih banyak Melayu sama Madure. Itulah die alasan e ngape Parit Makmur karena kite tuh makmur-makmur jak tak ade ape-ape macem kerusuhan gitukan.” Jawab Nurhayati warga Jalan Parit Makmur, Gang Karimun yang telah mendiami tempat ini sejak kecil. “Kalau dulukan nama e Paret Bangseng karne yang ngerintis e nama e Aseng jadi udahlah dikasi name Bangseng, tapikan kalau sekarang udah ramai dah,” tambahnya.

“Parit Bangseng”, nama ini sudah berganti menjadi Parit Makmur. Bukan sekadar nama untuk menandai suatu tempat. Akan tetapi, penanda yang diharapkan menjadi simbol tentang harapan yang telah terijabah. Parit Makmur mengganti Paret Bangseng.

Dedy Paparkan Strategi Pelestarian Adat Istiadat Melayu

Oleh Sabhan Rasyid

MABMonline.org, Pontianak— Dalam rangka Rakor Kelompok Kerja Pelestarian dan Pengembangan Adat Istiadat dan Nilai Sosial Budaya Masyarakat di Provinsi Kalimantan Barat 2014, MABMKB ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Dedy Ari Asfar selaku perwakilan MABMKB menjadi narasumber dalam acara pembahasan usaha pelestarian adat istiadat dan nilai sosial budaya tersebut. Kegiatan yang dilangsungkan di Function Hall 3 Hotel Kapuas Palace tersebut dihadiri oleh para tokoh budaya, jajaran SKPD terkait, serta para aktivis dari AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara).

Kegiatan yang digelar oleh Badan Pemberdayaan Masyarakan dan Pemerintah Daerah tersebut memberi bagian bagi lembaga adat untuk menyampaikan rencana pelestarian adat istiadat. MABMKB yang diwakili oleh Dedy Ari Asfar memaparkan strategi yang dilakukan MABMKB dalam menjaga nilai budaya masyarakat Melayu Kalimantan Barat. “Usaha utama MABMKB dalam menjaga nilai budaya Melayu adalah dengan cara revitalisasi adat istiadat dan budaya Melayu,” papar Ketua Pustaka Melayu Gemilang MABMKB tersebut.

Dedy dalam penyampaian materinya mengungkapkan 5 strategi MABMKB dalam menjaga nilai adat istiadat Melayu di Kalimantan Barat. “Kami memiliki lima strategi pelestarian yang selama ini telah kami jalankan di MABMKB,” ungkap Dedy.

Strategi pertama yang selama ini dilakukan oleh MABMKB adalah menjalin kerja sama. Dedy memaparkan bahwa MABMKB selalu gencar menjalin kerja sama baik internal maupun eksternal. MABMKB menjalin kerja sama dengan seluruh MABM di kabupaten/kota, dewan adat dayak (DAD), pemerintah, dan seluruh lapisan masyarakat di Kalimantan Barat.

Strategi kedua yang disampaikan Dedy, yaitu melakukan kegiatan penelitian, seminar, dan diskusi bulanan. MABMKB dalam melakukan strategi ini juga melakukan kerja sama baik dengan seluruh anggota MABM maupun dengan perguruan tinggi yang ada di Kalimantan Barat. “Kegiatan seminar selalu kami laksanakan setiap tahunnya bersamaan dengan kegiatan festival Melayu yang digelar MABMKB,” tambah Dedy.

Strategi ketiga yang ditempuh MABMKB dalam usaha menjaga dan mengembangkan adat istiadat Melayu adalah dengan cara memanfaatkan program teknologi informasi. MABM saat ini telah memiliki laman khusus kebudayaan Melayu dengan alamat web mabmonline.org. “Usaha pelestarian menjadi sangat efektif jika karya-karya seperti makalah kebudayaan kita publikasikan kepada masyarakat, MABM merealisasikan usaha ini lewat laman web mabmonline.org,” ungkap peneliti di Balai Bahasa Kalbar ini.

Strategi keempat yang disampaikan Dedy adalah MABMKB melakukan kegiatan penerbitan dan publikasi Melayu. Usaha ini dilakukan MABMKB dengan mendirikan penerbit Pustaka Melayu Gemilang sebagai wadah penerbitan data-data kemelayuan yang ada di Kalimantan Barat.

Strategi kelima yang ditempuh MABMKB dalam usaha menjaga, melestarikan, dan mengembangakan adat istiadat Melayu Kalimantan Barat, yaitu dengan cara membangun kesadaran dan apresiasi masyarakat Melayu. Hal ini diungkapkan Dedy terwujud dengan adanya Rumah Melayu dan kegiatan Festival Seni Budaya Melayu yang digelar setiap tahunnya. Sampai saat ini sudah ada 5 kabupaten/kota yang memiliki Rumah Melayu, selanjutnya sedang diusahakan akan dibangun di setiap kabupaten. Dedy juga menampilkan beragam kegiatan dalam FSBM yang digelar MABMKB setiap tahunnya. “Kegiatan FSBM ini digelar setiap tahun, tahun lalu di Kabupaten Sambas,” papar Dedy.

Dedy di akhir penyampaian materinya juga menyampaikan ajakan kepada para hadirin yang ingin merasakan antusiasme masyarakat Melayu terhadap adat istiadad untuk hadir dalam FSBM tahun ini yang rencananya akan dilaksanakan di Kabupaten Kapuas Hulu.” Tahun ini kami akan mengadakan FSBM di Kapuas Hulu, bagi ingin mengetahui tradisi budaya Melayu lebih jauh silakan hadir pada bulan Oktober nanti,” pungkas Dedy.

BPMPD Gelar Rakor Pelestarian Adat Istiadat

x

Oleh Sabhan Rasyid

MABMonline.org, Pontianak—Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BPMPD) Provinsi Kalimantan Barat menggelar Rapat Koordinasi Kelompok Kerja Pelestarian dan Pengembangan Adat Istiadat dan Nilai Sosial Budaya Masyarakat di Provinsi Kalimantan Barat 2014, Rabu (25/6). Acara tersebut dilaksanakan di Hotel Kapuas Palace Pontianak.

Kegiatan rakor perdana tersebut dihadiri oleh SKPD terkait, aktivis, serta anggota majelis adat di Kalimantan Barat. Panitia kegiatan juga menghadirkan narasumber dari Jakarta dan lokal Kalbar. Narasumber yang memaparkan materi pelestarian adat istiadat dan nilai sosial budaya, yaitu Ir. Sri Wahyuni, selaku perwakilan dari Kemendagri Jakarta, Drs. Yacobus Kumis dari Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Barat, Dedy Ari Asfar, M.A. dari Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalimantan Barat, Ir. Paulus Unjing dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), serta Turiman Faturrachman Nur, S.H., M.Hum. perwakilan dari akademisi.

Kegiatan yang dimulai pukul 9 pagi tersebut berjalan dengan lancar. Setiap pembicara diberikan kesempatan untuk memaparkan materi terkait usaha pelestarian adat istiadat dan nilai sosial budaya masyarakat di Kalimantan Barat.

Pembicara pertama, yaitu Ir. Sri Wahyuni memaparkan materi dengan judul “Peran dan Fungsi Lembaga Adat dalam Pemberdayaan Masyarakat”. Dalam pemaparannya, Sri Wahyuni menjelaskan peranan lembaga adat dalam membangun desa dan masyarakat. Sri juga menyampaikan bahwa kegiatan rakor ini sangat bermanfaat dalam membangun koordinasi dan konsep berpikir dalam usaha membangun masyarakat. “Inilah even yang paling tepat dalam membangun koordinasi SKPD untuk membangun konsep pemberdayaan masyarakat,” ujar Sri.

Sri yang merupakan perwakilan Menteri Dalam Negeri ini menyampaikan harapannya agar kegiatan rakor dapat menjadi sarana untuk bertukar ide dan saran dalam membangun masyarakat di kemudian hari. “Saya berharap ada diskusi dan ada yang bisa saya bawa ke pusat nanti dari hasil rakor ini,” pungkas Sri Wahyuni.

Rakor yang dilaksananakan dengan pemaparan materi secara panel tersebut dilanjutkan dengan pemaparan dari setiap narasumber. Setiap narasumber memberikan penjelasan mengenai strategi dan langkah-langkah dalam membangun masyarakat khususnya di bidang adat istiadat dan nilai sosial masyarakat.

Berkaitan dengan pelestarian adat istiadat dan nilai sosial budaya masyarakat ini, Dedy Ari Asfar perwakilan dari MABMKB menyampaikan sebuah motto dari MABMKB terkait pelestarian nilai budaya. ”Adat dijunjung Budaya disanjung, Adat ditata Budaya dibina,” ungkap Dedy kepada seluruh hadirin rakor.