Direktur DPKPS: Masyarakat Bebas Ajukan Hutan Sosial

Oleh Mariyadi

mabmonline.org, Pontianak—Dalam kegiatan workshop dan komunikasi publik mengenai Peta Indikator Areal Perhutanan Sosial (PIAPS), Wiratno, Direktur Direktorat Penyiapan Kawasan Perhutanan Sosial (DPKPS), Ditjen Perhutanan Sosial & Kemitraan Lingkungan mengatakan bahwa semua elemen masyarakat bisa mengajukan daerah kehutanan sosial.

Wiratno  mengatakan, syarat-syarat hutan yang dapat diajukan adalah jenis hutan yang memang bebas dari izin HTI dan HPH. Selain itu, hutan yang diajukan oleh masyarakat haruslah hutan yang memang dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada hutan tersebut. “Yang penting bebas dari izin,” katanya saat diwawancarai usai acara, Jumat (11/12/2015).

Menurut Wiratno, perkembangan hutan bisa dengan sistem agroforester. Sebagai contoh, masyarakat menanam karet di daerah tertentu, namun ditanami pula pohon lain. Jadi, tak hanya menunggu karet bisa disadap sebelumnya juga sudah bisa mendapatkan hasil. “Perlu pendampingan usaha itu. Maka dari itu, dibutuhkan bantuan pada semua pihak untuk membimbing,” tambahnya.

workshop hutan rakyat

Kata Wiratno, pengajuan dapat dilakukan melalui pokja provinsi. Setelah itu, barulah diajukan ke kementrian untuk mendapatkan verifikasi hutan yang diajukan. “Mengajukan melalui pokja provinsi yang anggotanya dari multipihak yakni dari unsur-unsur KPH, LSM, dinas kehutanan provinsi, kabupaten, bahkan dari swasta yang sebagai anggota pokja bisa juga mengajukan,” sambungnya.

Untuk jenis hutan—hutan lindung atau hutan masyarakat yang diusulkan—itu tergantung dengan keperluan masyarakat. “Semua tergantung usulan masyarakat,” kata Wiratno. Semua diserahkan pada masyarakat untuk mengembangkan hutan dan melestarikannya. Wiratno juga mengatakan, izin yang telah diberikan bisa berlangsung selama 35 tahun dan dapat diperpanjang. Jika ada hutan yang tidak digunakan dengan baik, maka akan dicabut izinnya. “Malahan ada usulan hutan kemasyarakatan di perbatasan negara,” katanya.

Wiratno juga menambahkan, untuk mempermudah pengajuan pokja hutan sosial oleh masyarakat atau lembaga tertentu, pihaknya berencana membangun media online. “Mengenai perizinan, akan kita permudah,” tutupnya.

Percepat Proses Perhutanan Sosial Kalbar, KLHK-RI Adakan Workshop PIAPS

Oleh Mariyadi

mabmoneline, Pontianak—Demi mempercepat proses perhutanan sosial, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Rebupblik Indonesia (RI) melakukan workshop dan komunikasi publik mengenai Peta Indikator Areal Perhutanan Sosial (PIAPS) di Hotel Orchard, Pontianak, Kalimantan Barat, 10 s/d 12 Desember 2015.

Acara yang yang dihadiri seluruh elemen masyarakat terutama yang bergerak di bidang kehutanan tersebut bertujuan untuk mengembangkan potensi hutan. Dari kegiatan tersebut diharapkan, masyarakat dapat berkontribusi penuh membudidayakan dan melestarikan hutan terutama hutan di Kalbar.

“Acara ini, untuk mengembangkan hutan sosial masyarakat. Kalau di Kalimantan ini, seperti masyarakat adat yang tinggal di pinggir-pinggir hutan, yang dulu tidak mendapat akses pengolahan hutan, kini diberi pengelolaan hutan desa maupun hutan kemasyarakatan,” ungkap Wiratno, Direktur Direktorat Penyiapan Kawasan Perhutanan Sosial, Ditjen Perhutanan Sosial & Kemitraan Lingkungan saat diwawancarai setelah selesai acara, Jumat (11/12/2015).

Wiratno mengatakan, wilayah Kalimantan Barat punya hutan yang luas dibanding daerah lain. Nantinya, dengan dukungan dari berbagai macam bidang: LSM, dinas kehutanan kabupaten, maupun pusat, masyarakat dapat meningkatkan pendapatan hutan yang melimpah di Kalbar sambil menjaga hutan tersebut. Ia menambahkan, pemanfaatan dan pelestarian ini sangat penting karena selain menjadi sektor ekonomi juga untuk kepentingan tata air dan hidrologi di bawahnya.

Menurut Wiratno, perkembangan hutan bisa dengan sistem agroforester. Sebagai contoh, masyarakat menanam karet di daerah itu ditanami pula pohon lain. Jadi, tak hanya menunggu karet bisa disadap sebelumnya juga sudah bisa mendapatkan hasil. “Perlu pendampingan usaha itu,” katanya lagi.

“Kalimantan punya 2.000.000 hektar hutan,” jelasnya.

Wiratno mengharapkan, dengan berjalannya program ini, segala masalah yang terjadi selama ini dapat terselesaikan dengan baik. Dalam Pokja yang telah disusun, masyarakat yang mengajukan akan diberi izin untuk mengelola lahan. Selain itu juga, akan diturunkan tim verifikasi dari kementerian untuk menguji kelayakan pemberian izin. ”Pesan presiden, harus tepat sasaran,” tambahnya.

Akhirnya, workshop yang berlangsung selama 3 hari tersebut berjalan dengan lancar. Workshop tersebut menghasilkan verifikasi peta indikatif areal perhutanan sosial sementara yang akan bisa berubah dalam 6 bulan sekali sesuai dengan pemberian/penarikkan izin HKI atau HGU maupun hal lainnya. Selain itu, dihasilkan pula pokja-pokja yang akan dilaksanakan oleh masing-masing pengaju dalam target beberapa tahun ke depan. “Terbentuklah usulan pokja. Kedua, pengecekan peta kita sesuai dengan situasi masyarakat. Jika ada izin, jangan. Jadi memang betul-betul kehutanan sosial yang bebas dari izin,” tutup Wiratno

Pentol Goreng, Peluang Usaha yang Menjanjikan

oleh: Asna Sri Hartati

pentol gorengKetika matahari mulai menyembulkan sinar paginya, Indra Firmansyah (44), seorang penjual pentol goreng bersiap untuk berangkat dari rumahnya di Jalan Khatulistiwa,  Gang Teluk Keramat. Sebelumnya, ia menyiapkan segala keperluan untuk  menuju tempat berjualannya selama dua bulan terakhir: depan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura.

Bahan baku juga peralatan berjualan sudah disiapkan istrinya di rumah saat Pak Indra melakukan pekerjaannya yang lain, sebagai buruh angkut di pasar sejak dini hari hingga pukul 7 pagi.

Meniti jalan Pontianak yang padat merayap tak membuat Indra lelah mengendarai motor yang juga ‘ditumpangi’ gerobak pentol goreng.  “Saya tinggal di Jalan Khatulistiwa, Gang Teluk Keramat. Saya baru 2 bulan jualan ini. Selain jualan, saya juga kerja jadi buruh angkut di pasar dari jam 3 sampai jam 7,” ucapnya, Sabtu (8/3).

Lapangan pekerjaan yang kini menuntut pelamar untuk memiliki pendidikan minimal diploma tak membuat Indra putus asa. Tanggung jawab sebagai kepala keluarga, membuatnya selalu mencari peluang usaha dan menggali apa yang orang butuhkan dan menjadikannya peluang bisnis. Meskipun hanya lulusan SLTA, Indra berusaha membuka lapangan pekerjaannya sendiri dengan jeli membaca peluang serta kebutuhan masyarakat, satu di antaranya yang sedang naik daun yaitu peminat pentol goreng.

Memanfaatkan modal awal sebesar lima ratus ribu, Indra dapat meraup perghasilan perbulan mencapai empat juta rupiah. “Sekarang banyak yang kerja kayak gini, jualan pentol goreng, soalnya kalau bakso pasarannya lagi turun,” terang Indra.

Ketika ditemui, Indra sedang melayani pembeli dengan telaten dan terlihat sangat ramah. Pentol goreng yang dijual seharga seribu rupiah ini tentu sesuai dengan kantong mahasiswa. Ditambah lokasi berjualan yang menyasar segmen yang tepat, persis di depan Fakultas Kehutanan, dari Senin sampai Sabtu, pukul 10 hingga 6 sore. Dagangannya pun laris manis.

Jika dagangannya habis terjual, lembaran rupiah seratus lima puluh ribuan dapat diraupnya. Dagangan yang sering habis terjual membuatnya betah untuk berjualan di sana. “Saya jualan dari jam sepuluh sampai jam enam sore. Kadang habis, kadang tidak. Pertusuk 1000 rupiah,” ujarnya lagi.

Hasil penjualan yang didapatkannya, sebagian dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sebagian untuk modal berjualan di hari berikutnya.

Memiliki usaha yang tidak memiliki lokasi tetap, membuatnya terkadang mendapat hambatan ketika hujan datang. “Kendalanya ya kalau hujan. Meski sudah ada payung, tak cukup untuk jadi tempat berteduh,” pungkasnya.

Festival Ekonomi Borneo Libatkan Siswa SMA/SMK

Banner Kegiatan FEB (Foto: Sabhan)
Banner Kegiatan FEB (Foto: Sabhan)

Oleh Sabhan Rasyid

MABMonline.org, Pontianak— Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (HMJ PIPS) FKIP Untan untuk kesempatan perdana mempersembahkan kegiatan yang diberi nama “Festival Ekonomi Borneo”. Ajang kompetisi ini mengangkat tema “Meningkatkan Semangat Kompetisi Antargenerasi Muda yang Kreatif, Intelektual, dan Sportif melalui Festival Ekonomi Borneo Tingkat SMA/SMK Sederajat”. Kegiatan ini melibatkan peserta yang merupakan siswa SMA/SMK sederajat di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya. “Kegiatan ini melibatkan siswa-siswa SMA sederajat di Pontianak dan Kubu Raya,” ungkap Andriansyah selaku Ketua Panitia kepada redaksi mabmonline.org.

Kegiatan yang secara resmi dibuka oleh Ketua Jurusan PIPS FKIP Untan kemarin, Jumat (16/5) tersebut mengusung beberapa jenis kompetisi. Kompetisi tersebut, yaitu futsal, musikalisasi puisi, akustik, pidato, dan debat. Pemilihan beragam kompetisi dari berbagai bidang ini dilakukan panitia karena tujuan utama kegiatan ini adalah menggabungkan aspek akademik, seni, dan olahraga. “Tujuan utama kami ingin menggabungkan akademik, seni, dan olahraga dalam satu even,” tambah ketua panitia

Jenis lomba yang telah berlangsung dan selesai dilaksanakan, yaitu lomba debat tentang perekonomian dan debat siswa. Kedua kegiatan ini berjalan lancar kemarin, Jumat (16/5).

Pihak panitia akan melanjutkan kegiatan lomba yang lain sampai satu minggu ke depan. Untuk keadaan jumlah peserta tahun ini memang tidak terlalu banyak karena ini merupakan ajang perdana dan pihak sekolah saat ini memasuki persiapan ulangan.”Insyallah tahun depan kami akan atur lagi waktunya agar lebih efektif dan semoga peserta dapat lebih banyak,” ungkap Andriansyah menyampaikan harapannya.

Kegiatan bermanfaat seperti ini memang sangat dibutuhkan untuk menjadi wadah bagi para pelajar khususnya di Pontianak agar menjadi wadah yang positif untuk menghindari kegiatan-kegiatan kurang bermanfaat. “Semoga kegiatan ini tetap berlanjut dan dapat lebih besar dari tahun ini,” ungkap Sumadi selaku Ketua Umum HMJ PIPS.

Dari Pisang Salai Batu Ampar Hingga Ebi Padang Tikar

Oleh: Mahmuda

Pukul 8 pagi. Saya bertolak dari Dermaga Batu Ampar menuju ke Padang Tikar dengan mengendarai motor air. Akses menuju ke Padang Tikar dari Batu Ampar sangat terbatas. Hanya ada 1 motor air yang menuju ke desa itu.

Sebut saja Pak Ahmad, pemilik motor air. Tiap hari ia bertolak dari Dermaga Batu Ampar. Lama perjalanan kurang lebih 3 jam dengan menggunakan kecepatan sedang. Menurutnya, bisa saja ia melaju dengan kecepatan tinggi, namun resikonya adalah bensin boros. Untuk tarif yang dipasang Pak Ahmad, perorangnya Rp. 35 ribu.

Pak Ahmad keturunan campuran. Ayahnya orang Bugis, ibunya orang Cina. Meskipun begitu namun ia tidak mahir berbahasa Bugis. Justru ia mahir berbahasa Cina.

Sebelum berangkat, saya sempat berkomunikasi dengannya. Duduk di kursi warung kopi di pinggir sungai dekat dermaga Batu Ampar.
Di pasar, saya melihat banyak sekali orang menjual Pisang Salai. Warnanya hitam. Dibungkus dengan plastik transparan. Kata Pak Ahmad, di sini memang banyak pengrajin Pisang Salai. Yang biasa membuat Pisang Salai adalah orang Jawa di Batu Ampar. Pisang Salai ini bisa langsung dikonsumsi, namun bisa juga diolah kembali dengan digoreng.

Saya teringat dengan Selai Pisang dari negeri parahyangan, Bogor. Warnanya hampir mirip dengan Pisang Salai Batu Ampar. Hanya saja prosesnya pembuatannya berbeda. Selai Pisang Bogor diproses dengan cara pisangnya dijemur di atas terik matahari. Setelah itu baru digoreng dengan tepung. Pisang yang digunakan bisa pisang Kepuk dan pisang Tanduk.

Sedangkan Pisang Salai prosesnya disalai, atau dipanggang hingga warnanya berubah menjadi agak kehitam-hitaman. Bahan dasarnya yaitu pisang Awak. Di Batu Ampar, pisang ini tumbuh subur. Karena saking melimpahnya pisang ini, hingga diolah menjadi pisang salai agar memiliki nilai jual tinggi.

Di motor Pak Ahmad, tidak hanya kami berdua. Tak jauh dari dermaga Batu Ampar, Pak Ahmad singgah di salah satu rumah yang letaknya di pinggir sungai. Menjemput seorang penumpang perempuan. Umurnya sekitar 25-an. Setelah itu motor airnya pun melaju dengan perlahan menuju ke Padang Tikar.

Pukul setengah 12 siang motor air Pak Ahmad merapat di Pelabuhan Padang Tikar. Beberapa ojek pun silih berganti menawarkan jasanya kepada saya. Saya pun memilih seorang ojek yang umurnya kira-kira sepantaran dengan saya.

Tujuan saya langsung ke Puskesmas Padang Tikar. Sampai di Puskesmas itu, ada 2 orang yang tengah bertugas di hari Minggu (3/11) itu. Meskipun hari libur Puskesmas itu tetap buka. Pasalnya ada pasien yang sedang menjalani rawat inap. Yang berjaga saat itu adalah seorang perawat yang tengah hamil. Perutnya sudah membesar. Mungkin karena takut terjadi apa-apa, suaminya pun ikut berjaga di Puskesmas itu.
Saya pun menanyakan bidan yang saya cari. Kata perawat itu, bidannya berada di rumah dinas, letaknya di Puskesmas lama. Sang tukang ojek pun setia menemani saya ke rumah yang dimaksud. Namun saat itu saya kurang beruntung. Bu Bidan yang dicari justru pulang ke Pontianak. Alhasil saya kembali ke puskesmas itu.

Meskipun masih kekurangan data yang saya cari, namun setidaknya saya bisa menemui bidan tersebut di Pontianak keesokan harinya.
Di sela-sela perjalanan menuju ke Pelabuhan Padang Tikar. Saya dan tukang ojek itu sempat mengobrol ringan. Terutama mengenai pekerjaan orang di desa itu. Katanya, mayoritas warga Desa Padang Tikar pekerjaannya adalah nelayan, ada juga yang berkebun kelapa. Hal itu memang jelas. Beberapa kali mata saya menemukan motor air yang mengangkut kelapa kopra. Selain itu ada juga yang menjemur udang ebi di depan rumahnya.

Udang ebi di Desa Padang Tikar harganya lumayan murah. Harga perkilonya untuk kelas A, berkisar 80 ribuan. Sedangkan yang B berkisar 60 ribuan. Jika di Pontianak, harga udang ebi,  selisih antara Rp. 20-30 ribu dari harga di Desa Padang Tikar.

Sarana jalan di desa ini sudah lumayan bagus. Jalan desa sebagian sudah diaspal, sebagian lagi masih dalam perbaikan. Sebelumnya jalan di desa ini hanya jalan semen, itu pun sudah banyak yang rusak. Menurutnya perbaikan jalan ini ada sejak masa kepemimpinan Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan, yang tak lama lagi digantikan Rusman Ali.

Selain itu untuk menuju ke Pontianak, sudah bisa melewati jalan darat. Meskipun harus menyeberang terlebih dahulu dari Desa Padang Tikar ke Dabong dengan Motor Air. Penyeberangan itu kurang lebih 45 menit. Sampai di Dabong perjalan darat dilanjutkan menuju ke Air Putih, hingga ke penyeberangan Rasau. Dari Dabong ke Rasau kurang lebih 3 jam menggunakan motor darat.

Sedangkan jika menggunakan motor air, dari Pelabuhan Padang Tikar harus pergi ke Dermaga Batu Ampar. Setelah itu transit dengan menggunakan motor air menuju ke dermaga Rasau atau Pelabuhan Seng Hei.

Bank Kalbar Adakan Penarikan Undian Simpeda Nasional

Oleh Gusti Iwan

Kunjungan Ladies Program (Foto Gusti Iwan)
Kunjungan Ladies Program
(Foto Gusti Iwan)

MABMonline.org, Pontianak — Bank Kalbar sebagai tuan rumah bersama Asbanda (Asosiasi Bank Pembangunan Daerah) dari tanggal 2 – 3 Oktober 2013 mengadaka acara berupa Seminar Nasional BPD seluruh Indonesia dan acara Penarikan Undian Simpeda Nasional, dengan tajuk “Panen Rejeki BPD” Periode 1 Tahun XXIV – 2013.

Acara Seminar Nasional BPD se-Indonesia hari ini dimulai pada pukul 08.00  Wib di Meranti Ballroom Hotel Mercure. Sementara itu untuk acara puncaknya, digelar acara Penarikan Undian Simpeda Nasional nanti malam (3/10) pukul 19.00 Wib di Pontianak Convention Center.

“Untuk Ladies Program, pada hari ini agenda pertama adalah berkunjung ke Dekranasda, dilanjutkan ke Rumah Radakng,  ke Tugu Khatulistiwa, Pengkang dan diakhiri dengan mengunjungi toko souvenir di PSP (lapangan Keboen Sajoek) dan kembali lagi ke hotel”, papar Ibu Lili Yunindar, ketua Ladies Program, yang juga sebagai Kepala Divisi Kepatuhan Bank Kalbar.
“Sebelumnya kemarin malam mulai pukul 19.00 – 22.00 Wib juga diadakan Wellcome Party bagi rombongan BPD se-Indonesia di Pendopo Gubernur Kalimantan Barat,” tambah Ibu Lili.

Chairil Effendy: Sudah Saatnya MABM Dapat Menghasilkan Dana Sendiri

Chairil Effendy Selaku Ketua Umum MABM KB sedang memberikan kata sambutan dalam acara penutupan FSBM.
Chairil Effendy, Ketua Umum MABM KB memberikan kata sambutan dalam acara penutupan FSBM.

Oleh Mariyadi

MABMonline.org, Sambas— “Sudah saatnya MABM bisa menghidupi dirinya sendiri,” ungkap Chairil Effendy, Ketua Umum Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalimantan Barat saat penutupan Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) ke-IX di Sambas, Sabtu malam (31/08).

Chairil Effendy mengatakan, tidak dapat kita pungkiri bahwa festival seperti ini memerlukan biaya yang sangat besar. Oleh karena itu, sudah saatnya kita mencari jalan agar MABM dapat menghasilkan dana sendiri agar segala kegiatan masyarakat Melayu bisa berjalan dengan lancar.

“Dalam bayangan saya, MABM perlu merealisasikan semacam Credit Union Syariah MABM untuk kepentingan masyarakat Melayu,” urai guru besar Untan ini.

Menurut Chairil Effendy, Credit Union tersebut, bisa kita gunakan untuk membantu masyarakat Melayu menghimpun dana demi keperluan masyarakat Melayu, dan sekaligus keuntungan dari sana dapat  digunakan untuk kepentingan FSBM.

Dalam kata sambutannya juga, Chairil Effendy sangat mengapresiasi perwakilan dari MABM Kab. Bengkayang. “Saya sangat mengapresiasi MABM Kabupaten Bengkayang yang sangat tulus tampil di sini meskipun teman kita ini sedikit mengalami kekurangan dalam hal pendanaan,” pungkas Chairil Effendy.

Resto Handayani Hadir di Rumah Melayu

IMG-20130820-00640

Oleh : Ahmad Sofian 

MABMonline.org, Pontianak,  Siapa sangka 20 tahun sudah Resto Handayani ada di kota Pontianak ini. Menyajikan menu hidangan terbaik bagi para pelanggan setianya. Berbagai menu nusantara coba disediakan. Juga menu khas daerah. Dari sayur pakis, paceri nenas hingga asam pedas. Tak ketinggalan berbagai menu minuman. Es buah dan es lidah buaya salah duanya.

IMG-20130820-00649
Maesa dan istri, menyambut para pelanggan didepan pintu masuk resto Handayani

Pembukaan Resto Handayani di kompleks Rumah Melayu Kalimantan Barat hari ini, Selasa 20 Agustus 2013 seolah mentahbiskan hal tersebut. Kurang lebih 50 aneka masakan dan minuman dihadirkan. Suasana kekeluargaan demikian terasa. Bincang keakraban terlihat di setiap sudut Resto berkapasitas kurang lebih 180 orang.

Ada yang teristimewa di hari pembukaan Resto Handayani ini. Yakni semua menu selama satu hari penuh ditanggung oleh pengelola. Gratis!

Hari ini khusus untuk syukuran pembukaan Resto Handayani di Kompleks Rumah Melayu, kata Maesa, generasi kedua pengelola Resto Handayani saat disela-sela kesibukan menerima dan menyapa para tamu dan pelanggan yang hadir. “Untuk menu makanan free semua,” tegasnya.

Resto Handayani mengundang para pelanggan dari berbagai kalangan untuk mencicipi berbagai menu masakan. Selain juga sebagai sebuah pemberitahuan bahwa Resto Handayani sudah mulai buka di Rumah Melayu. Dengan harapan agar semakin maju, semakin dekat dan semakin maksimal melayani pelanggan. Semoga’.[]

Menjemput Rezeki di Taman Alun-alun Kapuas

Oleh Eviana

taman alun kapuasMABMonline.org, Pontianak — Mastiah, nenek paruh baya itu (60) menjalankan rutinitasnya sebagai penjual sate. Nenek itu  berjuang demi menyambung hidupnya. Suami tercinta sudah lima tahun meninggal. Di Taman Alun-alun Kapuas, ia menjemput rezeki. Ia berjualan sate dari sore hari hingga tengah malam.

Sore itu terlihat mendung. Awan hitam menggumpal menutupi langit biru. Saya yang baru saja sampai di Alun-alun, berjalan santai mengelilingi taman yang berada di tepian Sungai Kapuas.  Taman ini terletak di Jalan Rahadi Usman atau di depan kantor Walikota Pontianak. Dulu, Taman Alun-alun Kapuas sering  disebut “Depan Korem”. Tahun 1999 taman tersebut direnovasi hingga sekarang. Pemerintah terus mengadakan pembenahan agar pengunjung merasa nyaman. Taman Alun-alun Kapuas merupakan tempat wisata masyarakat.

Dahulu, ada berita dari mulut ke mulut yang mengatakan bahwa Taman Alun-alun Kapuas itu adalah tempat berkumpulnya para PSK. Berita itu tersebar dan tidak pernah tahu entah dari siapa. Sebagian orang mengganggap Korem itu tempat yang tidak baik. Orang pun tidak begitu ramai yang datang ke taman tersebut. Akan tetapi, setelah direnovasi dan pembenahan oleh pemerintah kota Pontianak, orang tidak lagi memperdulikan berita miring tersebut. Mereka sangat menikmati dan senang berada di taman itu.

Ketika saya berjalan, sesekali tercium aroma sate, jagung bakar, jagung rebus, kacang rebus, dan sosis yang digoreng di sepanjang jalan itu. Suasana begitu ramai, semakin senja, semakin ramai pula pengunjung yang datang. Ada yang datang bersama keluarga, ada yang berpasang-pasangan, dan ada juga yang datang bersama teman-teman mereka.

Angin yang bertiup sepoi-sepoi, terasa dingin menyapa kulit. Menambah sejuknya suasana di taman itu. Ditambah hamparan Sungai Kapuas dengan arus yang tenang memanjakan mata yang memandang. Di taman itu juga terdapat replika Tugu Khatulistiwa yang dikelilingi air mancur. Ia akan terlihat lebih indah ketika dilihat pada malam hari. Hal itulah yang membuat orang senang dan betah duduk dan bersantai di sana.

Taman Alun-alun Kapuas itu semakin bertambah indahnya dengan penataan taman-taman kecil yang dikelilingi tempat duduk. Hal yang tidak kalah penting adalah kebersihan taman itu sendiri. Apalagi tempat tersebut ramai penjual dan pengunjung. Taman tersebut sudah disediakan tempat sampah agar pengunjung dapat membuang sampah pada tempatnya. Sepanjang perjalanan, saya tidak menemukan sampah. Dengan demikian, pengunjung dan penjual sudah memiliki kesadaran akan kebersihan lingkungan.

Tempat yang sangat ramai dikunjungi orang seperti itu tidak akan pernah sepi oleh penjual. Baik penjual makanan, minuman, pakaian, dompet, jam tangan, bahkan VCD. Kesempatan seperti ini tidak akan dilepaskan oleh penjual begitu saja. Hal itulah yang akan mereka manfaatkan untuk berjualan untuk mengais rezeki. Hampir semuanya ada dijual di tempat itu, bahkan tempat membuat tato.

Sambil duduk-duduk di taman yang menghadap ke sungai. Terlihat remaja-remaja yang asyik berfoto-foto. Ada juga keluarga yang sedang bersenda gurau, dan pasangan yang asyik memadu kasih. Ada juga yang menjadikan taman itu sebagai lokasi foto pre-wedding.

Di tengah kepungan aktifitas di Alun Kapuas, aku terpaku kepada sosok seorang ibu tua. Nenek tepatnya. Nenek yang menggunakan baju hijau itu tanpa lelah mengipas sate agar tidak gosong. Nenek penjual sate inilah yang mampu menghentikan langkahku.

Mastiah tinggal di Jalan Pak Kasih bersama anaknya yang bernama Bambang. Bambang sudah mempunyai istri dan tiga orang anak. Mastiah hidup tanpa adanya sosok suami yang selalu menemani. Segala sesuatu ia lakukan sendiri. Melihat keadaan ibu yang seperti itu, Bambang mengajak ibunya untuk tinggal bersama mereka. Mereka hidup dengan sangat sederhana. Mastiah merasa tidak enak hati jika hanya berdiam diri di rumah. “Die kan udah punye anak tige, besak dah tanggung jawabnye. Saye pon tak enak hati gak mao’ bediam diri di rumah. Daripade tak ade buat di rumah, bagos jual sate di sini. Hitong-hitong bantu anak la, si Bambang tu,” ujar nenek yang menggunakan jilbab biru itu.

Dalam hati saya berkata, nenek ini sudah cukup tua tetapi ia masih saja memikirkan orang lain dan tetap semangat menjalani hidupnya. Saya salut dan merasa sangat kagum dengan sosok nenek yang berada tepat di depan saya. Pembeli semakin ramai yang datang dan memesan beberapa porsi sate. Mastiah dan anaknya terlihat begitu sibuk melayani pembeli yang datang. Mereka tidak hanya menjual sate tetapi ada es teh, es campur, dan es kelapa muda. Pembeli datang dengan serbuan pesanan. Nenek itu terlihat lelah, tetapi itu semua tidak ia hiraukan. Yang ada di pikirannya, bagaimana cara mendapatkan pembeli yang banyak dan dagangannya habis terjual. Sesekali ia duduk sejenak untuk melepas lelahnya setelah itu ia langsung melanjutkan kerjanya.

Banyaknya penghasilan yang mereka dapatkan bervariasi. Jika pada hari-hari biasa, penghasilan yang didapat sekitar Rp.100.000 – Rp.150.000 akan tetapi, jika pada hari libur, penghasilan lebih banyak sekitar Rp.300.000 – Rp.400.000. Hal tersebut dipertegas  oleh Bambang, “kalau hari-hari biase, cume dapat seratos sampai seratos lima puluh. Kalau hari libor, agak banyak siket la, sekitar tige ratos sampai empat ratosan gitu la,” tegasnya.

Batas waktu berjualan mulai pukul 17.00 – 24.00 WIB. “Pukul setengah empat udah mulai ngemas-ngemaskan barang-barang dan tenda, jam lima udah siap semue. Lagi pon, jam segitu, udah ramai dah yang datang,” tutur Mastiah. “Tapi kalau harinye agi tak bagos, misalnye ujan, baleknye agak awal,” tambah Bambang. Sedikit atau banyaknya pembeli bukanlah masalah besar bagi mereka. Banyaknya penjual lainnya tak mengalahkan kerja keras mereka. Mastiah mengatakan meskipun di taman tersebut sangat banyak penjual seperti mereka tetapi ia tetap yakin bahwa rezeki telah diatur dan ditentukan oleh Allah, dan rezeki tidak akan pernah tertukar.

Berbagi Kiat Sukses di Rakernas HIPMI

Oleh Sabhan Rasyid

Pontianak, Rakernas Hipmi yang mengusung tema “Menjaga Soliditas dan Mewujudkan Optimisme Nasional dalam Menghadapi ASEAN Economic Community 2015” resmi ditutup Selasa (11/6). Rakernas yang dimulai tanggal 9 Juni ini dilaksanakan di Hotel Aston Pontianak.

Kegiatan pada hari terakhir ini terdiri dari dua kegiatan yaitu forbis (forum bisnis) 1 yang digelar pagi dan forbis 2 pada siang hari. Pelaksanaan forbis 1 menghadirkan tiga pembicara yang juga pengusaha muda sukses di Indonesia: Raja Sapta Oktohari (Ketum DPP Hipmi), Sandiaga Uno (Ketum DPP Hipmi 2006/2009), dan Ketua Hippi (Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia).

Okto, nama panggilan Raja Sapta Oktohari mengungkapkan bahwa optimisme dari setiap pemuda Indonesia dalam berbisnis akan menjadi faktor utama sebuah kesuksesan. Selain optimisme, sikap ingin bersatu juga dapat menjadi faktor yang paling penting. “Sering kali  kita kalah karena tercerai berai,” ungkap Okto.

Okto yang juga berasal dari Kalbar mengungkapkan bahwa Kalbar merupakan lahan strategis dan merupakan contoh real  dalam usaha menghadapi AEC 2015. “Kalbar contoh real AEC 2015 karena berbatasan dengan negara-negara maju dan sangat strategis,” tambah Okto dalam sesi forbis 1.

Forbis 1 dipungkasi orasi bisnis dari Hary Tanoesoedibjo yang menceritakan tips-tips untuk menjadi pengusaha muda yang sukses. Hary mengungkapkan bahwa ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh pengusaha agar  bisa sukses, yaitu kualitas, speed, introspeksi, bergaul dengan lingkungan yang tepat, dan rendah hati.

Setelah break siang, acara dilanjutkan dengan forbis 2 yang menghadirkan beberapa pejabat, seperti Menteri Pertanian, Menteri Kehutanan, Gubernur Kalimantan Barat, Wakapolri, dan Osman Sapta Odang (Pendiri Hipmi Kalbar).

Acara yang berlangsung hingga sore tersebut akhirnya ditutup secara resmi oleh Menko Perekonomian, Hatta Rajasa.