Kota Pontianak Juara Umum FSBM IX

Oleh Gusti Iwan

MABMonline.org, Pontianak — Pada Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) IX yang baru saja usai diselenggarakan di Kabupaten Sambas 24 – 31 Agustus 2013 kemarin, Kota Pontianak kembali mempertahankan posisinya sebagai Juara Umum. Pada penyelenggaraan Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) VIII, Kota Pontianak juga meraih juara umum. Artinya, MABM Pontianak berhasil mempertahankan mahkota juara tiga kali berturut-turut. Terhitung sejak tahun 2011 hingga 2013.

Juara Umum FSBM Sambas
“Alhamdulillah, Kota Pontianak kembali menjadi juara umum kali ini,” ucap Ilham Chandra, Sekretaris Umum MABM Kota Pontianak, sambil mengangkat tangannya merayakan kemenangan.

Ada 18 medali emas yang diperebutkan, Kota Pontianak sendiri berhasil meraih 5 gelar, 3 gelar juara II, dan tanpa satupun meraih peringkat tiga. Total poin yang diperoleh 24 poin. Di urutan kedua, tuan rumah Sambas; Singkawang menyusul di belakangnya. Tahniah!

Pontianak Kembali Juara Umum di Sambas

Oleh Gusti Iwan

MABMonline.org, Sambas — Berikut ini adalah hasil perolehan Juara dan Total Poin yang diperoleh untuk masing-masing DPD MABM Kabupaten/Kota. Berdasarkan total poin tertinggi DPD MABM Kota Pontianak berhak menjadi Juara Umum pada FESTIVAL SENI BUDAYA MELAYU IX Tahun 2013.

PEROLEHAN JUARA
FESTIVAL SENI BUDAYA MELAYU IX
Sambas, 24 s.d. 31 Agustus 2013
NO PEROLEHAN JUARA EKSIBISI TOTAL POIN KETERANGAN
DPD MABM I II III
1 KABUPATEN PONTIANAK 1 5 2 0 15
2 KABUPATEN SAMBAS 2 4 6 1 23
3 KABUPATEN KUBU RAYA 0 0 1 0 1
4 KABUPATEN BENGKAYANG 0 0 0 0 0
5 KABUPATEN MELAWI 0 0 1 0 1
6 KABUPATEN KAPUAS HULU 2 0 1 0 7
7 KABUPATEN SINTANG 0 0 1 0 1
8 KABUPATEN KETAPANG 4 2 4 1 23
9 KABUPATEN LANDAK 0 0 0 0 0
10 KOTA PONTIANAK 5 3 0 1 24 JUARA UMUM
11 KOTA SINGKAWANG 4 4 2 0 22
12 KABUPATEN SANGGAU 0 0 0 0 0
TOTAL 18 18 18 3
CATATAN : Eksibisi Gelar Upacara Adat mendapatkan poin 1 x 3 = +3
Juara I = 3 Poin
Juara II = 2 Poin
Juara III = 1 Poin

Bupati Sambas Tutup Agenda FSBM IX Sambas

Bupati Sambas saat menutup acara FSBM di Sambas.
Bupati Sambas saat menutup acara FSBM di Sambas.

Oleh Mariyadi

MABMonline.org, Sambas—Setelah 7 hari acara Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) dilaksanakan, akhirnya Sabtu malam (31/08), bertempat di depan Kantor Bupati Sambas, Juliarti Djuhardi Alwi selaku Bupati Kabupaten Sambas, dengan resmi menutup rangkaian acara FSBM.

“Saya harap kita semua dapat mengadakan pembinaan dan evaluasi tentang apa kelebihan dan kekurangan masing-masing agar kedepannya menjadi lebih baik,” ungkap Juliarti.

Saat menutup acara, orang nomor satu di Kabupaten Sambas ini berharap kepada semua pihak yang ikut serta dalam acara FSBM dapat mengadakan pembinaan dan evaluasi tentang apa kelebihan dan kekurangan masing-masing agar kedepannya menjadi lebih baik. “Apabila seni dan budaya bisa lestari, maka dengan sendirinya kreatifitas dari masyarakat akan berkembang,” tambah Juliarti.

Menurut Juliarti, aktifitas  dan atraksi seni budaya yang telah banyak ditampilkan oleh peserta festival maupun praktisi seni di Kalimantan Barat haruslah selalu dikembangkan. Karena apabila seni dan budaya tetap berkembang dan lestari, maka dengan sendirinya kreatifitas dari masyarakat akan berkembang seiring dengan bangkitnya seni dan kebudayaan daerah sebagai bagian dari kebudayaan nasional.

Juliarti juga menyampaikan apresiasi serta penghargaan yang tinggi atas dedikasi dan partisipasi seluruh pihak penyelenggara FSBM  dalam menyukseskan acara tersebut.

Acara ditutup dengan tabuhan gendang oleh Bupati Sambas, Ketua Umum MABM KB, Ketua MABM kota/kabupaten, dan pihak-pihak terkait sebagai simbol pelestarian budaya Melayu.

Sampai jumpa di Kapuas Hulu. Insya Allah.

Pahit Manis Peserta dan Penonton FSBM IX di Sambas

Terlihat Warga mengantri melewati sebatang kayu untuk menyebrang.
Terlihat warga mengantri melewati sebatang kayu untuk menyebrang.

Oleh Mariyadi

MABMonline.org, Sambas—Para peserta Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) ke-IX dari setiap perwakilan Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) kabupaten/kota mengaku sangat puas dengan pelayanan panitia dan sambutan masyarakat Sambas. Hal ini mengemuka saat kru MABMonline  berbincang pada penutupan acara, Sabtu malam (31/08).

“Alhamdulillah kami dari MABM Kab. Mempawah sangat puas dengan keramah-tamahan dan pelayanan orang Sambas,” ungkap Bambang, satu di antara peserta dari perwakilan MABM Kab. Mempawah.

Menurut Bambang, setiap acara pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Mereka sangat memaklumi jika ada kekurangan selama kurang lebih seminggu berada di Sambas. “Cuman lokasi sumber air letaknya jauh dari stan,” curhat Bambang.

Ibu Hamizar, perwakilan dari MABM Kab. Ketapang mengungkapkan hal senada. Sebagai perwakilan dari peserta MABM Kabupaten Ketapang, ia merasa sangat puas dengan pelayanan masyarakat Sambas. “Sangat mengesankan. Orang sambas sangat baik. Bahkan makan, minum, mandi, tidur, kami enak di Sambas,” pujinya.

Menurut Ibu Hamizar, ada hal yang sedikit mengecewakan. Mereka sedikit kecewa dengan penilaian juri di tari Jepin. Ada peserta yang kaki penarinya diangkat tinggi dan tangan yang juga diangkat tinggi, masih bisa juara padahal itu sangat fatal. Tapi, keputusan juri tidak dapat diganggu gugat. Mereka  menerima dengan lapang dada. “Alhamdulillah kami sangat puas,” ungkap Hamizar.

“Dengan adanya festival ini, semoga kita dapat mengenalkan budaya Melayu di mata dunia. Mudah-mudahan di Kapuas Hulu nanti kita dapat kembali memberikan yang terbaik,” ungkap Agustiawan, peserta Lomba Pantun perwakilan MABM Kota Singkawang.

Menurut Agus, ada beberapa hal yang menjadi evaluasi untuk panitia. Keterlambatan dalam acara masih terjadi. Sehingga banyak mengulur waktu. Namun menurutnya, secara keseluruhan panita telah sukses menggelar FSBM.

Masyarakat tidak memperdulikan larangan yang dipasang pihak panitia yang dipasang di dahan kayu.
Masyarakat tidak memperdulikan larangan yang dipasang pihak panitia yang dipasang di dahan kayu.

“Kami sangat puas dengan tempat yang telah disediakan panitia,” kata seorang peserta dari MABM Kab. Sintang yang tidak mau disebutkan namanya.

Menurut perwakilan MABM Kab. Sintang ini, mereka agak kesulitan karena tidak tersedianya WC terdekat untuk peserta stan. Ia juga mengesalkan beberapa pakaian panitia saat seminggu acara berlangsung. Ada beberapa panitia tidak mencerminkan pakaian orang Melayu.

Di tempat yang berbeda, beberapa masyarakat harus menyeberangi sebuah kayu yang hampir patah untuk menyebrang dari arah stan UKM menuju stan Budaya dan stan Istansi begitu juga sebaliknya. Dikarenakan jalan yang seharusnya menjadi jalan keluar masuk warga ditutup dengan tenda-tenda untuk para undangan.

“Banyak orang yang telah terjatuh. Kayu yang diseberangi pun hanya sebatang dan itupun sudah mau patah. Kasian orang yang nonton harus kotor-kotoran,” ungkap Asmoni, satu diantara masyarakat yang menonton.

Menurut Asmoni, banyak para penonton yang ingin menyebrang dari stan UKM menuju stan Budaya atau sebaliknya harus terjatuh ke dalam selokan. Banyak juga yang kotor pakaiannya.

“Kami tidak tahu menahu soal itu. Panitia tidak ada konfirmasi.  Memang benar masyarakat lewat dari jembatan itu. Tapi, tidak sampai luka-luka kan karena terjatuh,” ungkap satu diantara petugas keamanan yang dekat dengan lokasi kejadian.

Petugas keamanan di sekitar tempat penyebrangan.
Petugas keamanan di sekitar tempat penyebrangan.

Chairil Effendy: Sudah Saatnya MABM Dapat Menghasilkan Dana Sendiri

Chairil Effendy Selaku Ketua Umum MABM KB sedang memberikan kata sambutan dalam acara penutupan FSBM.
Chairil Effendy, Ketua Umum MABM KB memberikan kata sambutan dalam acara penutupan FSBM.

Oleh Mariyadi

MABMonline.org, Sambas— “Sudah saatnya MABM bisa menghidupi dirinya sendiri,” ungkap Chairil Effendy, Ketua Umum Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalimantan Barat saat penutupan Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) ke-IX di Sambas, Sabtu malam (31/08).

Chairil Effendy mengatakan, tidak dapat kita pungkiri bahwa festival seperti ini memerlukan biaya yang sangat besar. Oleh karena itu, sudah saatnya kita mencari jalan agar MABM dapat menghasilkan dana sendiri agar segala kegiatan masyarakat Melayu bisa berjalan dengan lancar.

“Dalam bayangan saya, MABM perlu merealisasikan semacam Credit Union Syariah MABM untuk kepentingan masyarakat Melayu,” urai guru besar Untan ini.

Menurut Chairil Effendy, Credit Union tersebut, bisa kita gunakan untuk membantu masyarakat Melayu menghimpun dana demi keperluan masyarakat Melayu, dan sekaligus keuntungan dari sana dapat  digunakan untuk kepentingan FSBM.

Dalam kata sambutannya juga, Chairil Effendy sangat mengapresiasi perwakilan dari MABM Kab. Bengkayang. “Saya sangat mengapresiasi MABM Kabupaten Bengkayang yang sangat tulus tampil di sini meskipun teman kita ini sedikit mengalami kekurangan dalam hal pendanaan,” pungkas Chairil Effendy.

Chairil Effendy: Husna dan Jamal Sebagai Ruh Orang Melayu

Chairil Effendy Selaku Ketua Umum MABM KB sedang memberikan kata sambutan dalam acara penutupan FSBM.
Chairil Effendy Selaku Ketua Umum MABM KB sedang memberikan kata sambutan dalam acara penutupan FSBM.

Oleh Mariyadi

MABMonline.org, Sambas—Saat penutupan Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) ke-IX di Sambas, Sabtu malam (31/08), Chairil Effendy selaku Ketua Umum Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalimantan Barat  dalam sambutannya mengatakan bahwa dua ruh Islam yang terdiri dari Husna dan Jamal harus menjiwai setiap aktifitas kehidupan orang melayu.

“Seni melayu dibentuk oleh dua unsur keindahan yang diambil dari bahasa arab yaitu Husen (Husna) dan Jamal,” ungkap Chairil Effendy.

Menurut Chairil Effendy, Husna adalah keindahan lahiriah yang dapat dilihat dari luar seperti cara berpakaian, gerak dan sebagainya. Sedangkan Jamal adalah keindahan hakiki yang tampak dari perilaku seseorang yang tercermin dari lubuk hatinya. Oleh karena itu jika kita ingin melayu tidak hilang dibumi maka ruh islam itu harus menjiwai seluruh aktifitas dan kehidupan kita.

“Kita Sering mendengar Takkan Melayu Hilang di Bumi, ucapan itu tidak akan bermakna  apa-apa kalau tidak ditindaklanjuti dengan  perbuatan-perbuatan nyata, amal-amal nyata, dan tindakan-tindakan yang nyata pula,” tambah Chairil Effendy.

Menurut Chairil Effendy, usaha kita bersama  didalam menggembangkan seni dan budaya melayu melalui FSBM ini adalah dalam rangka untuk menjawab pernyataan Takkan Melayu Hilang di Bumi. Yang lebih penting lagi adalah Takkan Melayu Hilang di Bumi jika orang melayu tidak meninggalkan identitasnya dan karakteristiknya sebagai orang melayu.

“Saya merasakan ada Gairah, ada ruh, ada denyut, ada elanvital dalam pelaksanaan FSBM di sambas ini,” ujar Chairil Effendy.

Kepada jajaran pantia dan segenap masyarakat yang selalu ikut meramaikan acara FSBM,  Chairil Effendy mengatakan bahwa ada girah, ada Gairah, ada ruh, ada denyut, dan ada elanvital dalam pelaksanaan FSBM di Sambas yang terbukti dari sejak malam ramah tamah, malam pembukaan, pawai taaruf, lomba-lomba, hingga  sampai saat ini masyarakat sambas selalu tumpah ruah menghadiri segala kegiatan yang sudah diagendakan oleh panitia. “Saya berterima kasih atas keseriusan kerja panitia sehingga kita bangga menjadi orang melayu,” pungkas Chairil Effendy.

Sampan Karam, Tim Kesehatan Sigap Beri Pertolongan

Oleh Asmirizani

MABMonline.org, Sambas – Ahad, (31/8), pinggiran muara ulakan penuh masyarakat yang ingin menyaksikan perlombaan sampan bidar yang termasuk dalam kegiatan FSBM IX. Selain peserta yang hadir, turut juga panitia yang dibantu beberapa anggota keamanan, di antaranya Basarnas dan Dinas Kesehatan.

Mobil ambulans siap di pinggiran sungai muare ulakan (Foto Iwan)
Mobil ambulans siap di pinggiran sungai muare ulakan (Foto Gusti Iwan)

“Kita sudah siap memberikan pertolongan, ada seorang dokter dan beberapa orang perawat. Beberapa petugas berjaga di sungai dan ada juga yang di darat,” ujar Jumadi, petugas dari Dinas Kesehatan.

Pasukan yang dikerahkan lumayan banyak ketimbang pasukan yang bersiaga di posko kesehatan. “Kali ini kami mempersiapkan pasukan yang lumayan banyak untuk melakukan penyelamatan.”

“Tim kesehatan sudah siap dari awal kegiatan FSBM IX ini, namun kami lebih mempersiapkan diri untuk lomba sampan bidar ini. Lomba yang diadakan di sungai sangat menyulitkan tim kami untuk memberikan pertolongan kesehatan pada peserta. Semoga sampai lomba selesai tidak ada kejadian yang membahayakan peserta lain,” harap Jumadi.

Tim sampan bidar dari Sambas dan tim sampan bidar dari kota Pontianak melaju mengarah garis finis. Penonton bersorak keras memberikan dukungan pada tim kesayangan. Sampan bidar kelompok Sambas yang melintasi garis finis karam. Kesigapan tim SAR dan dibantu tim lain yang berada di sungai menolong peserta tim Sambas yang terapung di air. Tim kesehatan yang berada di pinggir sungai sigap membuka pintu belakang mobil ambulans yang terparkir. Mereka mengeluarkan beberapa tabung oksigen. Namun tidak ada peserta yang mengalami gangguan kesehatan yang fatal. Mereka hanya tersengal-sengal mengatur nafas dan lelah.

Chairil Effendy: Adat Ditata Adab Dibina

Chairil Effendy, Ketua MABM KB sedang memberikan sambutan saat acara penutupan FSBM IX Sambas.
Chairil Effendy, Ketua MABM KB sedang memberikan sambutan saat acara penutupan FSBM IX Sambas.

Oleh Mariyadi

MABMonline.org, Sambas—Di sela penutupan Festival Seni Budaya Melayu ke-IX di Sambas, Sabtu malam (31/08), Chairil Effendy merekomendasikan “Adat Ditata Adab Dibina”  sebagai tema FSBM X tahun depan di Kapuas Hulu. “Kemungkinan tema kita pada acara FSBM tahun depan adalah “Adat Ditata Adab dibina,” ungkap Chairil Effendy.

Menurut Chairil Effendy, adat Melayu yang ada di Kalimantan Barat ini sangat perlu kita tata, susun, lestarikan, dan internalisasikan ke dalam tubuh para generasi muda agar adab sebagai sopan santun dapat terwujud dan dapat kita bina untuk kemaslahatan masyarakat Melayu. “Semoga kesiapan panitia Seperti di Sambas ini dapat terwujud saat acara di Kapuas Hulu tahun depan,” tambah Chairil Effendy.

Chairil Effendy mengatakan, kesiapan panitia FSBM di Sambas sangatlah baik. Masyarakat juga sangat antusias mengikuti  acara-acara seni dan budaya yang ada di kabupaten Sambas ini. “Panitia di Kabupaten Sambas menyelenggarakan ini dengan semangat dan gairah yang bagus. Selain panitia, masyarakat juga sangat apresiatif dengan kegiatan ini. Semoga kesiapan ini bisa dicontoh oleh panitia di Kapuas Hulu nanti,” pungkas Chairil Effendy.

“Sampan Laju” Kota Pontianak Jaya di Muara Ulakan

Adu Sampan Bidar (Foto Iwan)
Adu Sampan Bidar (Foto Gusti Iwan)

Oleh Gusti Iwan

MABMonline.org, Sambas — Kemeriahan pelaksanaan di sekitar arena lomba Sampan Bidar sangat terasa sekali. Begitu banyak pengunjung yang rela berpanas-panasan untuk menyaksikan perlombaan yang dilaksanakan di Sungai Sambas. Tak kalah ingin turut meramaikan suasana, banyak pedagang kecil yang berjualan di sepanjang jalan menuju istana Alwatzikhoebillah. Mulai dari penjual pakaian, alat dapur, permainan anak-anak sampai pedagang makanan dan minuman menunggu pembeli yang ingin jajan dan minum.

Perlombaan Sampan Bidar ini titik start-nya di dusun Keranji, desa Tanjung Mekar. Sedangkan titik finish-nya berada di Muara Ulakan, kampung Dalam Kaum. Pembukaan juga diramaikan dengan iringan musik Tanjidor. Pembukaan langsung dilakukan oleh Bupati Sambas didampingi oleh Wakil Bupati Sambas, Ketua Umum MABM Kalimantan Barat, Ketua Umum MABM Sambas dan beberapa pejabat daerah. Lomba Sampan Bidar ini memperebutkan hadiah berupa piala dari Ketua Umum MABM Kalimantan Barat dan sejumlah uang pembinaan.

Pemenang, MABM Kota Pontianak
Foto Kontingen Pemenang, Kota Pontianak (Foto Gusti Iwan)

Persiapan Panitia lomba terlihat cukup matang, di sekitar arena lomba terlihat pengamanan oleh sejumlah polisi. Ada petugas kesehatan dan ambulan yang bersiaga, di lintasan lomba juga terlihat pengamanan yang baik untuk keselamatan peserta lomba. Tenaga dari SAR, Polair dan panitia terlihat berkeliling dan menyertai peserta lomba dari atas perahunya masing-masing.

Untuk perlombaan kali ini juara pertama dimenangkan kontingen dari Kota Pontianak, disusul kemudian oleh Kabupaten Pontianak, Kabupaten Sambas, Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Bengkayang.

Pembina kontingen Pontianak dalam wawancara mengucapkan terima kasih kepada MABM kota Pontianak yang telah menyampaikan undangan untuk mengikuti lomba. “Tim kami sudah mempersiapkan diri untuk ajang kali ini dengan terus berlatih lebih kurang selama 2 bulan. Bahkan di bulan puasa pun kami tetap berlatih keras, karena event kali ini sangat kami tunggu-tunggu. Alhamdulillah atas kerja keras tim, kami bisa meraih gelar juara pertama,” tambahnya lagi.

Penyerahan Hadiah Oleh Wakil Bupati Sambas (Foto Iwan)
Penyerahan Hadiah Oleh Wakil Bupati Sambas (Foto Gusti Iwan)

Setelah penyerahan hadiah kepada tiap pemenang lomba Sampan Bidar, MABM Sambas juga secara langsung menggelar lomba sampan juga, yang bergelar Sambas Open 2013. Ada sekitar 26 peserta yang turut andil dalam sambas Open 2013 kali ini.
Lomba ini memperebutkan hadiah berupa piala Ketua Umum MABM Sambas dan uang pembinaan.

MABM Siapkan Sambas Menjadi Pusat Budaya Melayu Dunia

Oleh Gusti Iwan

MABMonline.org, Sambas — Jum’at (30/8) dimulai pukul 8 pagi di aula kantor DPRD Sambas, diadakan Seminar Sehari yang mengambil tema “Menjadikan Sambas Sebagai Kota Warisan Budaya Dunia”. Acara ini juga merupakan satu rangkaian dalam FSBM IX di Sambas. Pemateri yang akan membawakan makalahnya diantaranya Zairin Zain yang mengambil judul “STRATEGI PERLINDUNGAN TERHADAP ARSITEKTUR TRADISIONAL DI SAMBAS SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN CAGAR BUDAYA DUNIA”.

Ada juga Erwin Mahrus dengan makalah berjudul “TAMADUN ISLAM DI KERAJAAN SAMBAS (1631-1950): MENGGAGAS SAMBAS SEBAGAI KOTA WARISAN BUDAYA DUNIA”. Selain itu makalah lainnya yang berjudul “INTEGRASI ANTARA NILAI TRADISIONAL DAN NILAI MODERN DALAM PERANCANGAN KOTA” dibawakan oleh Mira Sophia Lubis, namun karena memiliki halangan, ia tidak dapat hadir dalam seminar ini.

Menurut Long Hendri, panggilan karib Hendri, salah seorang penggiat budaya di Sambas, rencana Sambas jadi kota warisan dunia adalah hal yang tepat. Karena di Sambas banyak memiliki warisan budaya termasuk cagar-cagar budaya, warisan berupa tulisan atau warisan yang bersifat seni dan sastra. “Alhamdulillah mulai 10-15 tahun yang lalu kita sudah berusaha keras mempertahankan seni budaya warisan tersebut. Hal itu lah yang memotivasi saya untuk mengajak semua pihak menjadikan Sambas jadi kota warisan. Kita juga sudah menginventarisir dan mendokumentasikan warisan yang ada,” papar pria setengah baya ini.

“Pada masa awal untuk menggalinye, sistem yang kite lakukan yaitu dengan membentuk kelompok-kelompok yang sadar tentang budaya, yaitu berupa organisasi-organisasi budaya di tiap kecamatan. Sehingge sejak beberapa tahun yang lalu mulailah bermunculan khasanah-khasanah budaya yang sempat terlupakan, untuk kembali kite lestarikan.” Hendri menambahkan, “Kenapa semua itu harus kita pelihara, karena semuanya ada mengandung filosofi-filosofi yang bisa kita teladani. Kita tidak mau anak cucu dan generasi seterusnye terutama orang Sambas tidak mengenal budaya Sambas yang sesungguhnya.”

Ketua MABM Sambas (Foto Iwan)
Ketua MABM Sambas (Foto Gusti Iwan)

Sementara itu di tempat yang sama, Ir. Burhanuddin A. Rasyid, Ketua MABM Sambas yang sekaligus mantan bupati Sambas mengatakan, “Yang pertama kami sangat setuju dan sependapat, kami pun saat ini bersiap-siap menuju ke sana. Insya Allah ada 13 Doktor akan kembali ke Sambas, 2 di antaranya adalah ahli budaya. Sehingga kelak mereka akan membantu membangun Sambas. Dengan adanya tenaga ahli, kita berusaha menyelamatkan bangunan-bangunan yang berusia tua, ini kita siapkan untuk Sambas kembali menjadi pusat budaya Melayu dan pusat studi Islam seperti masa lalu, Sambas kembali disebut Serambi Mekkah.”

Lebih lanjut Burhanuddin bersyukur bahwa pemerintah daerah sangat mendukung MABM tidak hanya moril, tetapi juga dukungan materi.