Wisata Spiritual di Bulan Ramadhan Bersama Rasulullah

ramadhan bersama rasulullah

Berbicara mengenai kehidupan Rasulullah SAW. sama dengan berbicara mengenai hadis, sebab wujud dari kepribadian Rasulullah itulah hadis, sebab hadis adalah ucapan, perbuatan, taqrir, serta semua sifat dan bentuk fisik Nabi SAW. Ulama lainnya menyebutkan bahwa definisi hadis yang paling lengkap adalah termasuk hadis adalah ucapan para sahabat. Jadi, apabila mau mengetahui kehidupan Rasulullah maka salah satunya sumbernya adalah hadis-hadis Rasulullah itu sendiri.

Indahnya Ramadhan di rumah Rasulullah
Rasulullah SAW. tinggal di rumah yang sangat sederhana. Letaknya bersebelahan dengan Masjid Nabi SAW. Di rumah beliau terdapat beberapa kamar untuk masing-masing isteri beliau. Di rumah yang ukurannya tidak luas dan penuh kesederhanaan tapi dihuni orang-orang mulia dan agung dengan jiwa yang besar, dan lapang; didampingi para isteri yang penuh perhatian dan kesetiaan yang luar biasa; dilandasi dengan semangat agama dan dakwah untuk memenuhi ridha Rasul dan ridha Allah. Inilah Baiti Jannati (Rumahku surgaku). Dalam suasana dan situasi demikian, menyambut dan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan pasti terasa indah dan nyaman serta penuh kedamaian.

Di antara kebiasaan Rasulullah SAW. dalam menyambut kehadiran bulan Ramadhan, beliau mengucapkan tahni’ah atau ucapan selamat kepada para sahabat dan umat Islam umumnya, sebagai doa dan motivasi agar selalu berjiwa lapang dan besar dalam menyikapi datangnya bulan ramadhan sehingga semua kewajiban dan ibadah dilaksanakan dengan penuh rasa ringan, tidak terasa berat, tidak ada rasa keluh kesah, tapi semuanya dilaksanakan dengan rasa ringan, nyaman, dan penuh keceriaan. Rasulullah SAW membaca tahni’ah sebagai ucapan selamat.

أَتَاكُمْ رَمَضاَنُ سَيِّدُ الشُّهُوْرِ فَمَرْحَباً بِهِ وَأَهْلاً جَاءَ شَهْرُ الصِّيَامِ بِالْبَرَكاَتِ فَأَكْرِمْ بِهِ مِنْ زاَئِرَاتٍ هُوَ آتٍ

“Bulan Ramadhan telah datang kepada kalian, bulan pelopor segala bulan, marhaban bihi wa ahlan (Selamat datang bulan Ramadhan). Bulan puasa telah datang dengan penuh berkah, maka muliakanlah tamu yang datang itu.” (HR. Thabarani).

Berdasar pada hadis inilah, tahni’ah atau ucapan selamat Marhaban ya Ramadhan, dalam bahasa Indonesia kita mengucapkan Selamat menunaikan ibadah puasa semoga ridha Allah selalu menyertai kita semua, dan lain-lain. Terkadang juga dibumbuhi dengan berbagai macam pantun Melayu yang bernuansa agama, bernuansa nasehat, untuk saling mendoakan dan saling memberi motivasi. Saya pribadi ketika mengucapkan tahni’ah biasa mengawali dengan terjemahan ayat dan atau hadis.

Baca juga: Dari Puasa Teologis ke Transformatif (http://mabmonline.org/dari-puasa-teologis-ke-transformatif)

Selain itu Rasulullah SAW. dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan selalu memperlihatkan wajah gembira dan ceria pada keluarganya dan umat Islam lainnya. Menyambut kedatangan bulan Ramadhan tidak baik dengan wajah cemberut, wajah kusut seperti tak bersemangat, wajah frustrasi, apalagi sampai berkeluh kesah.

Dalam kaitannya dengan puasa pada bulan Ramadhan, Aisyah, isteri Rasulullah SAW. mengatakan:

فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ
Kami diperintahkan mengqadha puasa, dan tidak diperintahkan mengqadha shalat. (HR. Muslim).

Oleh karena bagi perempuan secara kodrati mengalami masa haidh, masa libur untuk tidak boleh puasa, tetapi ia wajib menggantinya pada hari-hari lain setelah bulan Ramadhan. Dalam hal penggantian puasa bagi perempuan yang mengalami masa haidh tersebut, Rasulullah memberikan tuntunan agar mengganti puasanya, dan tidak mengganti shalat yang ditinggalkan pada masa haidh, sebagaimana disebutkan dalam hadis tersebut. Bahkan lebih tegas tuntunan Rasulullah SAW. agar tidak mengabaikan penggantian puasa wajib sampai masuk bulan ramadhan berikutnya. Mengabaikan tanpa melunasi hutang puasanya itu boleh jadi dianggap meremehkan kewajiban, kecuali apabila ada udzur. Rasulullah SAW. mengingatkan:

مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ وَعَلَيْهِ مِنْ رَمَضَانَ شَىْءٌ لَمْ يَقْضِهِ لَمْ يُتَقَبَّلْ مِنْهُ وَمَنْ صَامَ تَطَوُّعاً وَعَلَيْهِ مِنْ رَمَضَانَ شَىْءٌ لَمْ يَقْضِهِ فَإِنَّهُ لاَ يُتَقَبَّلُ مِنْهُ حَتَّى يَصُومَهُ
Barangsiapa yang mendapatkan Ramadhan berikutnya sementara masih ada kewajiban puasa yang belum dilunasi, maka ibadahnya tidak diterima. Barangsiapa yang puasa sunnat sementara masih ada kewajiban puasanya yang belum dilunasi, puasa sunnatnya itu tidak diterima sampai ia sudah mengganti puasa wajibnya itu. (HR. Ahmad bersumber dari Abu Hurairah).

Hadis ini sebagai peringatan dari Rasulullah SAW. agar tidak mengabaikan dan meremehkan hutang kepada Allah. Hutang terhadap sesama manusia wajib dibayar, tentu lebih wajib dibayar adalah hutang kepada Allah.
Dalam hal sikap Rasulullah SAW. untuk mendapatkan indah dan damainya Ramadhan adalah pada hari-hari akhir terutama 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Beliau sangat sedikit tidurnya, beliau bangun begadang malam untuk berdzikir dan beribadah. Bahkan beliau membangunkan isteri-isterinya.

Aisyah salah seorang isterinya mengatakan:
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
Adalah Nabi apabila sudah masuk 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. (HR. Bukhari).

Mengencangkan sarung, maksudnya bekerja keras, sangat antusias, penuh perhatian dalam mempersiapkan diri untuk banyak beribadah pada malam-malam tersebut.
Rasululuh sedikit tidur, kita umatnya sedikit-sedikit tidur.
Rasulullah sedikit makan. Kita umatnya sedikit-sedikit makan.
Rasulullah sedikit-sedikit ibadah. Kita umatnya sedikit ibadah.
Rasulullah sedikit-sedikit bersedekah. Kita umatnya sedikit bersedekah.
Rasulullah bangun tengah malam untuk berdzikir dan beribadah. Kita kadang bangun tengah malam, hanya untuk kencing, selesai kencing tidur kembali. Atau bangun karena yang lain tapi bukan untuk ibadah. Kalau kondisinya demikian, bagaimana umat Islam bisa meraih indahnya ramadhan, bagaimana merasakan nyaman dan damainya Ramadhan, kalau antara pengetahuan dan pengamalan ibadah puasa ramadhan tidak sejalan. Pengetahuan agama banyak, tetapi kesadaran menjalankan agama kurang atau sedikit. Wallahu a’lam.

oleh H. Wajidi Sayadi
(http://wajidisayadi.blogspot.com)

Dari Puasa Teologis ke Transformatif

Oleh Luqman Abdul Jabbar

puasa-mubarak
Secara teologis puasa Ramadan diyakini sebagai kewajiban bagi seluruh umat Islam. Puasa Ramadhan merupakan salah satu identitas keislaman, ia dikategorikan sebagai sebagai salah satu rukun Islam yang lima. Terlebih hal tersebut secara tegas juga diungkap dalam kitab suci, Q.S. al-Baqarah: 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa”.  Sehingga dengan ini muncul dorongan batin yang kuat sebagai bukti ketaatan pada perintah Allah SWT,  selain hal tersebut juga banyak dipertegas dengan berbagai argumentasi ulama. Puasa adalah kewajiban individual yang dibebankan kepada setiap muslim yang telah mencapai usia baligh. Oleh sebab itu berdosa bagi mereka yang dengan sengaja dan tanpa alasan yang dibenarkan (’uzur) meninggalkan ibadah puasa. Belum lagi di bulan ini, ada banyak janji-janji peluang pahala yang terbuka lebar bagi setiap orang yang melakukan kebajikan.

Ramadhan sepertinya telah menjadi semacam “magma sosial” yang menggairahkan “kesadaran ilahiyyah” umat Islam. Di bulan ini terjadi loncatan-loncatan semu penghambaan “manusia berpuasa” akan Tuhannya. Mendadak banyak sosok alim dan rajin yang bergegas memperlihatkan aktivitas mereka ke tempat ibadah. Bahkan semaraknya tidak hanya diperlihatkan oleh perorangan namun juga oleh beberapa institusi termasuk yang tak kalah adalah media massa pun berlomba-lomba menampakkan aktivitas yang bernuansa religius. Ramadhan seperti titian untuk mencapai garis tepi sehingga tak ayal harus dibuat banyak perbedaan dengan bulan sebelumnya dengan asumsi lebih baik.

Hal tersebut akan menjadikan pelaksanaan ibadah puasa kian terjebak lingkaran formal ritualistik. Puasa hanya sebatas dimaknai sebagai paket ibadah yang harus dijalani berdasar produk fiqh yang telah baku. Puasa dimaknai sebatas ibadah yang sesuai dengan terminologi fiqihnya menahan makan, minum, dan berhubungan intim dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Ramadhan telah menjadi siklus ritual manusia Indonesia dalam memperlakukan ibadah sebagai ritualisme demonstratif spiritual-religius yang hanya berdampak pada kesan estetik. Ia hanya menjadi sebuah simbol belaka, simbol yang mempertontonkan kuantitas religius umat.

Persoalan yang kemudian muncul adalah, bagaimana adegan teatrikal tersebut memiliki makna dalam konteks sosial. Puasa secara kualitatif adalah dengan “menghadirkan Tuhan” dalam diri kita di tengah kehidupan masyarakat. Konsekuensi etis dari ibadah puasa memang menjadi urusan Tuhan, tetapi konsekuensi moralnya menjadi tanggung jawab kita dalam interelasinya sebagai anggota masyarakat. Di sinilah implementasi ibadah puasa mendapat signifikansinya.

Dimensi teologis ibadah puasa harus ditransformasikan ke dalam dimensi sosiologis, agar kebahagiaan religius dapat dirasakan, baik secara etik maupun secara moral. Dengan demikian, puasa harus memberi kekuatan pada pelakunya untuk mengendalikan keinginan dan kepentingan individu atau kelompoknya. Inilah internalisasi logis dari pengalaman keagamaan yang bermuara pada prinsip tauhid, yang menolak disequilibrium ekonomi dan ketidakadilan sosial.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa pada bulan Ramadhan ada seorang wanita sedang mencaci-¬maki pembantunya. Rasulullah saw mendengarnya lantas beliau menyuruh seseorang untuk menyediakan makanan dan memanggil wanita tersebut, dan bersabda “Makanlah makanan ini!”, wanita tersebut menjawab “Saya sedang berpuasa ya Rasulullah” Rasulullah bersabda “Bagaimana mungkin kamu berpuasa padahal kamu mencaci-maki pembantumu. Sesungguhnya puasa adalah sebagai penghalang bagi kamu untuk tidak berbuat hal-hal yang tercela. Betapa sedikitnya orang yang berpuasa dan betapa banyaknya orang yang kelaparan.”

Hadits ini memberi kontribusi pelajaran berharga kepada kita, bahwa puasa tidaklah sekedar menahan makan dan minum. Di samping mengandung ketentuan-¬ketentuan fiqih, puasa juga membawa pesan mendalam tentang akhlak dan aspek sosial. Ketika seseorang hanya mampu menahan lapar dan dahaga, tetapi masih melakukan perbuatan tercela, maka tak lebih sekedar orang-orang yang lapar saja. Itulah yang disinyalir oleh Nabi saw, “betapa sedikitnya orang yang herpuasa dan betapa banyaknya orang yang kelaparan”.

Dalam riwayat lain, Nabi saw bersabda, “Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga.” Pesan moral apa yang terkandung dalam ibadah puasa. Jika kita tengok “perilaku” puasa dan hal-hal yang berkaitan dengannya, maka paling tidak kita temukan bahwa: pertama, puasa menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sosial. Salah satu bentuk kepedulian sosial yang menjadi pesan moral puasa adalah memperhatikan dan menyantuni fakir dan miskin. Perhatian serius terhadap mereka bisa dilakukan, jika kita mampu berempati terhadap kondisi mereka. Oleh karena itu, ibadah puasa mensyaratkan pelakunya untuk tidak minum dan makan mulai terbit fajar sampai tenggelamnya matahari, agar bisa merasakan dahaga dan kelaparan—suatu kondisi yang sering dialami fakir dan miskin.

Orang-orang yang tidak sanggup berpuasa, menurut sebagaimana yang termuat dalam Q.S. a-Baqarah: 184, diharuskan mengeluarkan fidyah buat orang-¬orang miskin. Jadi, kalaupun tidak sanggup menjalankan ritus puasa, paling tidak pesan moral puasa, yakni menyantuni fakir dan miskin, mampu diwujudkan. Demikian pula salah satu kifarat bagi orang yang batal puasanya karena melakukan hubungan suami istri pada siang hari, adalah membebaskan budak atau memberi makan enam puluh orang miskin. Perhatian dan santunan terhadap fakir dan miskin juga terlihat dari kewajiban mengeluarkan zakat fitrah sebagai penutup-penyempurna ibadah puasa.

Kepedulian sosial semacam ini secara tegas disebut Nabi saw sebagai ciri mukmin. Sabda beliau “Tidak dianggap sebagai orang beriman apabila seseorang yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara para tetangganya kelaparan di sampingnya.” (HR Bukhari).

Kedua, dalam puasa, makanan halal (harta kita) pun dilarang kita makan sebelum tiba waktunya. Ini mengandung pesan bahwa sesungguhnya harta yang ada pada kita, bukanlah sepenuhnya milik kita. Sebagian di dalamnya ada hak fakir dan miskin. Kata Ali r.a. “Tidak pernah aku melihat ada orang yang memperoleh harta yang berlimpah kecuali di sampingnya ada hak orang lain yang disia-siakan.”Ini artinya bahwa penghasilan kita (yang tinggi), tidak boleh kita makan semuanya walaupun itu hasil jerih payah kita sendiri. Ada kewajiban kita untuk menyantuni fakir dan miskin. Wallahu a’lam.

Kapolda Baru, Harapan Lama

jazHangat dan bersahabat. Demikian kesan yang terpatri di benak kala melihat sosok pria ini. Wajahnya tak menyiratkan keangkeran. Kesan humanis itu kian terlihat saat ia mengenalkan dirinya. Terselip candaan. Tak luput senyuman.

Arie Sulistyo, pria berbintang satu yang belum genap sebulan memimpin kepolisian Kalbar. Bersama beberapa perwira menginjakkan kakinya ke Rumah Melayu di pertengahan Oktober ini. Kunjungan yang diniatkan sebagai silaturahmi guna menjalin sinergisitas Polri dan Masyarakat.

Arie bukanlah orang baru di Kalimantan Barat. Sebelumnya, ia merupakan Wakapolda kala dipimpin Erwin Tobing. Jejak mereka serupa. Bak telah meminum air Kapuas, keduanya balik kampung. Erwin ‘balik kampung’ dengan mencalonkan diri sebagai caleg DPR RI dari partai berlambang banteng. Arie Sulistyo sebagai Kapolda Kalbar.

Dibuka dengan perkenalan jajaran pengurus MABM oleh Ketua Umum Prof Chairil Effendy. Sesi dialog menjadi agenda berikutnya. Persoalan serius diangkat dengan senda gurau. Arie menuntaskan seluruh pertanyaan yang diajukan pengurus MABM dengan runut. Terkesan normatif memang jawabannya. Tapi ia memang tak hendak berkonfrontasi. Ia memilih mengedepankan dialog—terutama untuk isu yang sensitif bagi Kalbar. Mungkin ini menjadi salah satu alasan mengapa ia dipilih menjadi pengawal Kalbar di tahun politik mendatang.

Berkali-kali ia tekankan hendaknya pers menjadi penjaga kedamaian, khususnya di Kalimantan Barat. Ia terbangkan contoh itu ke negara Spanyol. Meski kerap terjadi kriminalitas tapi media jarang mempublikasikannya. Karena mereka—masyarakat dan media—sadar, wisata yang menjadi jualannnya butuh suasana yang kondusif. Adakah orang yang mau bertaruh nyawa mengunjungi negeri yang tak aman?

Di ujung pertemuan, tak lupa ia menyampaikan keinginannya untuk bertandang kembali ke MABM. Disertai gurau, Chairil menyilakan seraya bila berkenan berpindah ke sebelah, Restoran Handayani. Gelak tawa perlahan meredup kala Arie pamit hendak menuju mobil jemputannya. Tanpa voorijder. Arie memilih berbaur bersama perwira lainnya menaiki mobil bis Polda Kalbar.

Selamat bertugas Pak Arie. Semoga kunjungan berikutnya bisa kami suguhkan kopi Obor lengkap dengan gulanya, yang tak lagi langka.

(Yaser Ace, penulis ide-pengusaha aksi, tinggal di Pontianak)

Pilkada Pontianak: Siap Menang! Siap Kalah! (Siap Jujur?)

Oleh Gusti Iwan

MABMonline.org, Pontianak — Kamis, 19 September 2013, warga Kota Pontianak akan melakukan proses pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Pontianak. Para calon Walikota dan Wakil Walikota sudah diberikan kesempatan untuk menyampaikan visi dan misinya bagi Kota Pontianak baik lewat debat publik, maupun kampanye terbuka dan dialogis di hadapan warga Kota Pontianak.

Masing-masing kandidat tampil dengan berbagai pandangan, pemikiran, strategi bahkan janji-janji yang akan dilakukannya kelak jika terpilih. Mereka berusaha menawarkan janji-janji sambil berharap mendapatkan simpati dan dukungan warga untuk dapat memilih dirinya.

Peserta Pilkada Kota Pontianak kali ini ada enam pasangan calon, yakni nomor urut (1) pasangan calon Gusti Hersan Aslirosa-Syarif Ismail, Iwan Gunawan-Andreas Acui Simanjaya (2), Sutarmidji-Edi Rusdi Kamtono (3), Paryadi-Sebastian (4), Firman Muntaco-Erick S Martio (5), dan nomor urut (6) Zulkarnaen Siregar-Paryono.

Dalam setiap masa kampanye kita juga sering mendengar kalimat yang terucap dari setiap pasangan, “Siap Menang dan Siap Kalah”. Kita menangkap maksud bahwa para kandidat berkomitmen untuk dirinya dan masyarakat, bahwa apa pun hasil keputusan akhir dari perhitungan suara yang telah ditetapkan KPU/KPUD akan diterimanya dengan lapang dada.

Faktanya, terlalu sering kita mendengar dan membaca berita perihal sengketa Pilkada di provinsi dan kabupaten/kota setelah atau bahkan sebelum keputusan KPU/KPUD ditetapkan. Bahkan tidak sedikit kasus demo dan keributan yang berujung pada kerusuhan massa hanya karena para pendukung tidak terima kandidatnya disingkirkan sebagai calon peserta Pilkada; Atau pendukung yang tidak puas atas hasil perhitungan suara karena menganggap adanya praktek kecurangan selama proses pemilihan.

Mahkamah Konststitusi (MK) sendiri dalam pemilu 2004 lalu saja menerima lebih dari 270 kasus pemilu. Hingga tengah tahun 2010, sengketa pilkada yang masuk ke MK ada 74 kasus. Sedangkan jika diperhitungkan sampai tahun 2012, kasus yang ditangani MK lebih dari 400 kasus sengketa Pilkada.

Kita ketahui bahwa untuk menyelenggarakan sebuah Pemilu/Pilkada tidaklah menggunakan anggaran yang sedikit. Contoh yang bisa kita ambil adalah untuk Pemilu Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Barat Tahun 2012, untuk Putaran 1 dianggarkan oleh KPU Provinsi lebih dari 160 miliar. Dengan rincian, Jumlah Honorarium dan Uang Lembur dianggarkan sebesar  Rp.75.536.700.000,00 dan Jumlah Pembelian/Pengadaan Barang dan Jasa dianggarkan sebesar  Rp.91.373.031.850,00.

Sedangkan untuk Putaran 2 sebesar Rp.56.758.073.050,00, dengan rincian, Jumlah Honorarium untuk KPPS dianggarkan sebesar Rp.23.789.750.000,00, Jumlah Pembelian/Pengadaan Barang dan Jasa dianggarkan sebesar Rp.32.968.323.050,00.

Untuk Pemilihan Walikota, Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Pontianak sudah menganggarkan Rp 18 miliar untuk biaya Pilkada Kota Pontianak tahun 2013. Pada Pilkada Kota Pontianak sebelumnya, KPUD Kota Pontianak menganggarkan Rp 12 miliar, namun hanya terpakai sebesar Rp 7 miliar, sedangkan sisanya dikembalikan lagi kepada Pemerintah Kota Pontianak.

Dengan biaya sebesar itu, wajar jika masyarakat berharap dan menuntut akan adanya sebuah Pemilu/Pilkada yang jujur dan damai, hingga biaya yang dikeluarkan untuk menyelenggarakan ajang memilih pemimpin daerah tidaklah menjadi sebuah pemborosan yang sia-sia. Masyarakat tentu berharap, melalui proses itu akan diperoleh pemimpin yang memenuhi kapasitas secara intelegensia, mental dan spiritual yang mumpuni.

Para kandidat yang akan bertarung, sepatutnya menjadikan dirinya panutan bagi masyarakat. Dimulai dari proses pilkada dengan cara-cara yang santun dan jujur, tanpa ada peluang berbuat kecurangan oleh dirinya maupun dari pendukungnya.

Kalimat “Siap Menang, Siap Kalah” dalam Pemilu/Pilkada ini, tidak hanya sekedar slogan belaka namun dapat dipraktekkan oleh tiap-tiap pasangan peserta Pilkada dengan seharusnya. Bahkan akan lebih positif lagi jika setiap pasangan harus juga berani mengatakan “Siap Jujur !”. Ini baru luar biasa. Mungkinkah ini terjadi? Kita lihat saja hasilnya setelah Pemilihan esok.

Sotong Pangkong Melayu

oleh: Dedy Ari Asfar

Bau sotong pangkong menyeruak saat berada di Jalan Merdeka tepatnya mulai depan Masjid Sirajul Islam. Bau itu semakin kentara apabila bergerak maju menuju Jalan Merdeka ujung. Bunyi tok… tok… tok… sahut-menyahut terdengar menggema. Bunyi dari sebuah palu yang sedang memukul atau memangkong sotong panggang. Ritme itu begitu menghentak dan menjadikan suasana malam menjadi menggeliat.

Sepanjang jalan saya melihat pemandangan yang tidak lazim dijumpai pada malam bukan bulan Ramadan. Sekitar 62 gerobak penjual sotong pangkong mangkal di sisi kiri-kanan jalan. Ada pedagang yang memanfaatkan trotoar jalan, halaman ruko, dan di atas jembatan untuk melayani para penikmat sotong pangkong.

Gerobak-gerobak berukuran satu meter saling berdekatan. Saya mencoba singgah. Tidak ada saling rebut pembeli. Masing-masing pedagang duduk menunggu pembeli menghampiri. Saya memesan satu sotong pangkong kepada seorang perempuan beranak lima. Perempuan setengah baya ini menjadi pedagang musiman di bulan Ramadan. Konon, ia adalah seorang buruh cuci. Malam bulan Ramadan membawa berkah pada perempuan penjual sotong pangkong dan juga sang suami. Suaminya juga menghasilkan uang dengan menjadi tukang parkir. Perempuan ini dapat menghasilkan uang Rp 200.000 (dua ratus ribu) dalam satu malam. Modalnya hanya satu kilo sotong yang dibeli dengan harga 150 ribu. Satu kilo dapat dihabiskan selama tiga hari.

“Beli’ yang mane Bang?”

“Berape hargenye?”

“Yang kecik 5000, ini 7000, itu 10.000, yang paling besak 15.000,” jelas sang penjual. Saya memilih harga yang paling murah, yaitu Rp 5000.

“Silelah Bang dudok,” seru perempuan penjual sotong pangkong. Sotong pun dipanggang dan dipukul-pukul dengan palu pada sebuah kayu yang dibuat mirip kursi panjang persegi empat berukuran kecil. Tidak lama, pesanan pun datang.

Saya menghirup aroma sotong pangkong bakar. Tangan saya meraih sambal cair yang ada di atas meja. Ada dua pilihan sambal cair. Jenis pertama cabai dan ebi dengan rasa agak asam-asam manis. Jenis kedua cabai dan ulekan kacang dengan rasa asam-asam pedas. Tidak puas dengan satu sotong pangkong, saya menambah pesanan. Banyak muda-mudi dan rombongan keluarga yang menikmati jajanan khas Ramadan ini. Semakin malam, semakin ramai pengunjung yang datang. Tidak hanya sotong, jagung bakar pun tersedia. Walaupun, tidak semua penjual sotong pangkong menyediakan jajanan jagung bakar.

Penelusuran saya terhadap kuliner khas Pontianak ini tidak berhenti pada satu tempat. Saya beranjak ke tempat lain. Pilihan saya jatuh pada sebuah jembatan yang dijadikan lesehan dengan meja dilengkapi gelas berpelita. Malam remang-remang menjadi romantis dengan suasana candle light. Ada dua meja kosong, saya menempati meja paling belakang sehingga bisa mengawasi pasangan muda-mudi menikmati sotong di atas jembatan yang di bawahnya mengalir air. Tempat kedua ternyata teknik sajiannya berbeda. Sotong tidak dipangkong tetapi digiling. Saya mendapatkan pembenaran dari penjual yang menggunakan alat giling ini. “Kamek tadak pakai pangkong Bang, pakai alat gileng, bumbu lebeh meresap. Alat ni belik di Malaysia, tak ade jual di sinek,” ujar sang penjual berpromosi. Saya membeli sotong dengan ukuran yang sama dengan penjual pertama tetapi harga berbeda. Ukuran yang paling kecil dijual Rp8000, ada juga yang dijual seharga Rp10.000, Rp13.000, 15.000, 20.000, dan 25.000 bergantung ukuran besar-kecilnya sotong. Persis di seberang jalan depan Masjid Sirajul Islam, sotong juga disajikan dengan teknik sotong digiling. Harga paling murah yang ditawarkan Rp 20.000.

Menikmati sotong pangkong dan/atau sotong giling merupakan pengalaman yang mengesankan. Jajanan di sepanjang Jalan Merdeka merupakan satu apresiasi masyarakat lokal membuat festival makanan jalanan ala sotong bakar dengan berbagai variasi rasa dan teknik olahan. Jajanan khas Ramadan ini menjadikan Kota Pontianak sebagai kota Sotong Pangkong Melayu yang mungkin tidak akan ditemukan pada semua kota metropolitan di seluruh Indonesia.

Pelestari Budaya di Perbatasan

Ddedyedy Ari Asfar

Ananda Dawud yang baik, ayah ingin bercerita kepada ananda tentang kisah para penjaga budaya di batas negara. Para pengawal tradisi lokal yang tidak pernah meminta untuk dibayar. Penjaga budaya yang dengan ikhlas menginformasikan pengetahuan lokal kampung kepada generasi muda melalui udara. Ananda mungkin bertanya bagaimana bisa melalui udara? Ya, melalui siaran radio yang mengudara di Jagoi, yaitu sebuah daerah di perbatasan negara kita dengan Sarawak, Malaysia. Ayah berharap ananda dapat mengambil iktibar dari para penjaga budaya ini bahwa bekerja harus ikhlas dan sunguh-sungguh. Mereka inilah pahlawan tanpa tanda dan balas jasa dalam arti yang sesungguhnya. Bukan guru seperti ayah yang selalu disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Padahal, guru seperti ayah banyak mendapatkan imbalan jasa, tetapi mereka hanya dapat apresiasi dan respon dari para pendengarnya. Itu saja sudah cukup bagi mereka.

Ananda Dawud, langit di Jagoi memerah di ufuk barat ketika itu. Suasana mulai berganti perlahan menjadi petang. Di dalam sebuah gedung sayup-sayup terdengar seseorang berujar, “Selamat malam ditujukan kepada pendengar setia Barista FM di frekuensi 107 FM Megahertz dengan alamat Jalan Dwikora Dusun Risau, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang. Baiklah Anda bersama saya Ce’ Mpunk dengan acara Kupoa Otto’. Ini merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari bahasa Bidayuh Jagoi yang diujarkan oleh salah satu penyiarnya yang bernama Ce’ Mpunk. Ayahanda terpukau dengan suara lembut dan lantang yang mengalir cepat dari mulut Ce’ Mpunk saat membuka acara Kupoa Otto’ dalam bahasa Bidayuh Jagoi. Ekspresi gembira dan bahagia begitu terpancar dari wajah oval dan rambut tipis ala tintin dari sosok penyiar lajang ini. Wajah yang sangat ekspresif dengan bahasa yang komunikatif mengalir dari pemuda asal Kampung Take’ ini demi pendengar setia Barista FM.

Ananda Dawud yang baik, Barista menjadi ikon penting radio yang ada di perbatasan Jagoi Babang, Kalimantan Barat—Sarawak, Malaysia. Jangkauan sinyal radio komunitas ini cukup jauh. Radio Barista terdengar di Seluas, Jagoi, dan Sarawak, Malaysia. Barista merupakan sebutan yang diambil dari akronim nama-nama kampung perbatasan, yaitu Babang, Risau, dan Take. Kampung-kampung ini merepresentasikan bahasa daerah yang menjadi ucap utama para penyiar stasiun Radio Barista. Radio ini menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang dominan dipakai di wilayah perbatasan, yaitu bahasa Bakatik dan Bidayuh Jagoi.

Ananda Dawud, Radio Barista didirikan secara swadaya oleh masyarakat perbatasan yang ada di Kecamatan Jagoi Babang dengan pendampingan dan inisiatif dari mahasiswa KKN—PPM Universitas Tanjungpura pada tahun 2009. Peralatan dan tower yang ada di Barista merupakan sumbangan dari Kementerian Kominfo dengan memanfaatkan gedung serbaguna yang telah dibangun Pemerintah Kabupaten Bengkayang untuk masyarakat Kecamatan Jagoi Babang. Kemandirian Radio Barista ini pula yang menyebabkan para penyiarnya tidak dibayar setiap kali mengudara. Para penyiar secara sukarela menjadi teman di udara bagi masyarakat di perbatasan.

Ananda Dawud yang baik, koordinator pelaksana program acara Radio Barista adalah Bambang atau panggilan saat mengudaranya Bang Madun. Pekerjaan aslinya seorang satpam di perusahaan sawit. Penyiar senior di Barista ini mengemukakan bahwa tujuan didirikannya Radio Barista adalah agar radio komunitas yang ada di Jagoi Babang dapat dikenal oleh negara tetangga Malaysia. “Melalui radio komunitas ini diharapkan bahasa Indonesia dan daerah kita dapat dikenal dan menjadi kebanggaan masyarakat daerah perbatasan dan juga negara tetangga Malaysia,” ujar Bang Madun kepada ayah. Radio perbatasan menurut Bang Madun sangat diminati tidak saja pendengar Seluas dan Jagoi Babang tetapi juga sampai ke Serikin, Lundu, dan Bau, Sarawak, Malaysia. Pendengar Malaysia merasa radio ini juga radio mereka karena bahasa Jagoi yang digunakan dalam acara Kupoa Otto’ (kampung kita) setiap hari Rabu dan Jumat pukul 18.00—21.00 WIB memiliki bahasa yang sama dengan bahasa mereka di Malaysia. “Banyak SMS dari Malaysia salam-salam dan sapa-sapa keluarganya di Jagoi,” ujar Ce’ Mpunk penyiar Kupoa Otto’. Lebih lanjut Bang Madun bercerita bahwa “Radio ini menggunakan bahasa Bakatik dan Bidayuh Jagoi karena pendengar setianya orang-orang Bakatik dan Jagoi. Pendengar Malaysia pun suka karena bahasa Jagoi sama bahasa dengan mereka.” Radio Barista yang mengudara setiap malam di wilayah perbatasan ini menjadi kebanggaan masyarakat perbatasan dan menjadi ajang silaturahmi masyarakat negeri jiran dengan kerabat sesuku di Jagoi. “Tiap malam selalu saja ada pendengar Malaysia yang SMS untuk kabar-kabari dan salam kepada saudara mara di Indonesia,” cerita Bang Madun.

Ananda Dawud yang baik, konsep Radio Barista dalam bersiaran adalah membacakan SMS yang masuk dan memutarkan lagu yang diminta.  Pendengar Radio Barista pun segala umur, ada yang tua dan muda. Acara-acaranya berusaha untuk menghibur, mendidik, dan melestarikan budaya lokal. Menurut Nelly salah satu perempuan penyiar Barista, “Saya mempunyai banyak pendengar dari kalangan remaja dan orang-orang tua yang SMS. Mereka meminta lagu dan salam-salam.” “Dalam siaran, saya biasa menyelipkan pendidikan nilai dan pergaulan sehat di kalangan remaja,” jelas Nelly yang juga guru honorer Bahasa Inggris di salah satu SMP Jagoi Babang. Siaran tentang budaya lokal dan informasi seputar kampung juga menjadi fokus para penyiar Barista. Misal Bang Jahe’, seorang penoreh getah yang menjadi penyiar berbahasa Bakatik di Barista. Ia biasa menyiarkan legenda dan mitos lokal. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ce’ Mpunk yang kerap menyisipkan adat kampung dalam ujarannya saat mengudara selain membaca SMS dari pendengar. Mereka bangga menjadi penyiar Barista. Walaupun, mereka tidak mendapat honor atau bayaran sebagai penyiar. Mereka merupakan pamong-pamong budaya yang secara ikhlas dan sukarela mengabdi pada bangsa dan tanah air demi mempertahankan budaya lokal. Ayah sangat bangga dan terharu dengan kegigihan mereka. Ananda Dawud yang baik, saat ayah meninggalkan Barista langit sudah mulai diterangi kelap-kelip bintang dan bulan purnama. Ayahanda menjadi saksi para bintang dan purnama di Barista yang taklelah melestarikan tradisi lokal di batas negara.

Pisau Tajam itu bernama Internet

jazBelum usai keterkejutan kita tersebarnya video mesum sepasang kekasih di Pontianak, kini muncul kejutan berikutnya: sepasang remaja Pontianak bugil di Facebook. Dan, saya tidak yakin bahwa fenomena ini akan pudar dalam waktu dekat—berkurang tentu mungkin. Ketidakyakinan yang masih dibalut harapan.

Melihat fenomena tersebut, saya teringat lontaran ucapan kala berdiskusi dengan seorang teman, saya berujar singkat: Seorang pecundang akan fokus kepada duri di tangkai mawar; Seorang pemenang lebih fokus menikmati keindahan sekuntum mawar. Demikianlah kita di sini.

Di sini, dunia online seakan telah menjadi momok bagi orangtua terhadap polah tingkah anaknya. Internet juga menambah beban guru mewanti-wanti anak didiknya. Karena tidak akrab dan kurangnya informasi melalui media, internet bak musuh yang perlu dibasmi.

Saat kita sibuk mengutuk teknologi yang merusak moral. Saat kita sibuk menuding candu game online bagi anak. Saat kita sibuk mencari belangnya internet untuk dijadikan mangsa alasan merosotnya nilai ujian anak didik. Saat kita sibuk…

Di sana, di belahan dunia lain, jutaan orang merayakan legitnya berinteraksi dengan dunia maya. Ribuan startup membuka jutaan lapangan kerja. Ribuan ilmuwan giat terbitkan jurnal online. Ribuan orang kaya raya tanpa riuh retorika. Ribuan remaja tanggung menangguk untung pasar dunia maya.

Apa yang salah dengan kita?

Saat internet blusukan di seluruh sendi kehidupan, kita lupa bahwa internet hanyalah alat. Laksana pisau tajam, kitalah yang menentukan: apakah dipakai untuk memotong rempah atau dipakai untuk bunuh diri!

Melalui media terpapar jelas, pemanfaatan internet di Indonesia tak lebih hanyalah sebagai media hiburan. Meski lebih dari 60 juta pengguna internet di Indonesia, namun kita belum banyak mendengar berita mengenai kesuksesan seseorang dalam memanfaatkannya. Entah sebagai produsen teknologi atau pemasar internet.

Kalaupun ada, bagi media, nama-nama seperti Anne Ahira, Aulia Halimatussadiah, Budiono Darsono, Rudi Salim, Habibie Afsyah, Hendrik Tio tidaklah terlalu seksi. Lebih menarik berita perkenalan lewat Facebook yang berujung perkosaan ketimbang prestasi pemuda Indonesia yang sukses mendirikan startup company di Internet. Bad news is good news, masihkah?

Janganlah mengutuk kegelapan. Bersegeralah cari lilin, dan nyalakan!

Dengan kesadaran itulah, saya termasuk yang merasa perlu untuk nimbrung dalam “menyalakan” manfaat internet, tak terkecuali di MABM Online. Mencoba mengisi gelas dunia maya dengan tetesan hal-hal positif, dan berharap lambat laun elemen negatif akan tumpah. Menyusut.

Mari kita manfaatkan internet mulai sekarang, jangan terlalu lama menunggu. Karena ketika semuanya sempurna, mungkin itu sudah terlambat. Wallahu a’lam.

(Yaser Ace, penulis ide-pengusaha aksi, tinggal di Pontianak)

 

Hidup Sampai Tua, Belajar Sampai Tua

oleh: Dedy Ari Asfar

Minggu pukul 10.30 saya dan teman-teman tiba di sekretariat Yayasan Asali. Di dalam bangunan yayasan yang di desain terbuka itu sudah menunggu seorang lelaki sepuh. Usia boleh tidak muda lagi, tetapi  lelaki sepuh itu masih tampak segar dan bugar. Ia menyambut kedatangan saya dan teman-teman yang berhasrat menulis tentang orang Tionghoa di Kalimantan Barat. Lelaki ini dikenal sebagai tokoh masyarakat Tionghoa Kalimantan Barat. Namanya Lie Sau Fat atau nama bekennya Xaverius Fuad Asali.

Lelaki Tionghoa ini sangat ramah. Pembicaraan kami tentang Tionghoa berjalan sangat lancar dan mengesankan. Lelaki sepuh ini bercerita bak air sungai mengalir. Kisah-kisah yang didiskusikan bercabang-cabang dan bermanfaat bagi kami yang sedang haus dengan pengetahuan tentang orang Cina di Kalimantan Barat. Petuah-petuah Cina muncul dalam diskusi. Ilmu ekonomi praktis orang Cina diajarkan. Sejarah Cina terurai. Bahkan, situasi Kalimantan Barat zaman Jepang dan Belanda pun masih diingatnya. Ia menegaskan keberhasilan Cina di Kalimantan Barat tidak terlepas dari kerja keras dan pendidikan.

Kerja keraslah yang telah mengantarkan X.F Asali menjadi Presiden Direktur PT Trio Constant Mandiri. Banyak lika-liku, pahit-manis, onak duri, dan suka-duka dilaluinya dalam menakluki kerasnya hidup di tanah Kalimantan Barat. Citra Cina yang kurang baik pada masa-masa kecil dan remaja tidak membuatnya surut dan kalah dengan keadaan. Ia berjuang keras dari  bawah. Pekerjaan sebagai petani pun pernah dilakoninya. Prinsipnya, “Semua bisa jadi uang, tidak ada yang menjadi sampah”. Sampai akhirnya, buah kerja keras dan kejujuran mengantarkannya menginjak tanah  negara-negara di lima benua, “Kecuali Afrika, saya belum pernah,” kata lelaki sepuh ini tersenyum. Rahasia paling penting bagi keberhasilan orang-orang Cina adalah mengutamakan pendidikan.

“Dulu, tiap-tiap desa ada sekolah Cina di Pemangkat. Itu yang membuat orang Cina maju,” tegas X.F.Asali

Asali masih ingat di dalam tubuhnya mengalir darah orang Dayak. Generasi pertama yang menjadi leluhurnya di Kalimantan Barat menikah dengan orang Dayak. Asali sendiri merupakan generasi keempat. Terlepas dari banyaknya fenomena dan pengetahuan kecinaaan yang diceritakannya. Hobi sosok lelaki Cina ini lebih menarik untuk diceritakan. Lelaki yang sangat menggilai dunia tulis-menulis dan membaca ini selalu mengupdate pengetahuannya. “Belajar tak ada batas, seperti pepatah Cina berbunyi Siek hai lu ya ‘seperti laut tanpa batas’”. Prinsip ini yang membuat Asali berkembang dan maju. Menurut Asali batasnya adalah rajin. Rajin akan membuat orang ingin tahu dan terus bekerja keras.

Asali adalah produk pendidikan berbahasa Belanda dan Mandarin. Tidak mengherankan, lelaki yang lahir tahun 1932 ini baru bisa bahasa Melayu dengan lancar pada tahun 1951. Itu setelah ia berhijrah dan menetap di Pontianak. Sebagai penutur berbahasa Ibu Hakka. Asali muda memang kesulitan mengerti  buku-buku berbahasa Indonesia. “Bisa baca tapi tak bisa mengerti,” kenang X.F. Asali. Dia bersikeras ingin mengikuti kursus bahasa Indonesia, tetapi dilarang oleh gurunya.  “Tak usah, Saufat kamu banyak baca surat kabar saja,” kata gurunya. Nasehat gurunya pun diikuti. Malahan, ia banyak membaca buku berbahasa Indonesia. Bacaan favorit yang mengantarkannya pandai berbahasa Indonesia pada tahun 1951 adalah buku berjudul Matahari Terbit jilid ketiga. Sampai sekarang pun buku menjadi oleh-oleh setiap datang dari luar negeri. “Saya harus bayar over weight karena beratnya buku.” Hasil membaca ini pula yang membuat lelaki Tionghoa ini menulis buku berjudul “Aneka Budaya Tionghoa di Kalimantan Barat”. Lelaki sepuh ini berbagi tips dalam belajar “Huak tau lau, siek tau lau ‘hidup sampai tua, belajar sampai tua’” tegas Asali. Prinsipnya, selama masih bernapas, selama itu pula ia harus belajar. Tidak mengherankan, tokoh Tionghoa yang sudah berusia 79 tahun ini masih ingin terus belajar. Benar juga kata pepatah Melayu “Belajarlah engkau sejak masih dalam ayunan sampai masuk ke liang kubur”. Artinya, kita harus belajar seumur hidup (long life education).

Bahasa Politik

Hari itu seorang kolega datang ke ruang saya dan menyampaikan gagasan besar. Ingin membuat buku.

Gagasan itu sempat membuat saya antusias. Ya, buku selalu penting dalam hidup saya belakangan ini. Sedikit-sedikit buku. Sedikit-sedikit buku. Buku adalah obsesi. Saya ingin menerbitkan buku sebanyak-banyaknya. Soal mutu, nanti dulu. Mutu bisa digarap sambil jalan. Alah bisa karena biasa.

Saya ingin begitu karena ingin menjadikan buku sebagai monumen bagi kehidupan. Setidaknya, jika saya meninggal dunia kelak, saya sudah meninggalkan tulisan dan mematri nama saya dalam beberapa buku. Mudah-mudahan, buku-buku yang saya buat ada gunanya bagi banyak orang.

Setidaknya dengan usaha dokumentasi sekarang ini, kelak jejak-jejak yang penting tentang kehidupan hari ini bisa diketahui generasi mendatang.

“Buku ini, dibuat untuk mendukung bapak….”

Dia menyebut nama seseorang. Nama itu saya kenal lewat koran. Kabarnya dia akan terjun ke dunia politik dan akan bertarung dalam pemilihan umum mendatang.

Byurrr. Semangat saya langsung meredup. Bak api diguyur air.
“Ahhhh… kalau yang begitu saya tidak mau ikut”.
“Bukan begitu … “ Bla… bla… kolega menjelaskan duduk persoalannya. Membujuk.

Saya menolak serta merta. Tak pakai basa-basi. Saya memilih tidak terjun ke dunia politik seperti itu. Politik bagi saya menyisakan bayangan yang tidak cerah. Apalagi kalau sudah bicara soal perebutan posisi dan kekuasaan.

Bagi saya kekuasaan bukan untuk diperebutkan. Kekuasaan itu amanah yang diberikan kepada seseorang yang memang layak menyandangnya.
Karena itu jika saya punya suara, saya akan memilih dan akan mendukung orang yang benar-benar layak didukung. Dukungan yang diberikan kepada orang yang biasa-biasa apalagi orang yang ambisius akan memberikan dampak yang tidak baik bagi masa depan. Saya tidak mau dipimpin oleh orang yang tidak layak memimpin. Sama seperti ajaran fiqh dalam agama saya: saya tidak boleh berimam kepada orang yang tidak memenuhi syarat sebagai imam. Apa syaratnya? Bacaannya paling baik, wara’ dan lebih tua umurnya. Dalam konteks kita, pemimpin yang didukung adalah pemimpin yang lisan, tindakan dan cara berpikirnya baik.

Mencari pemimpin seperti itu tidak susah. Kita bisa melihat track recordnya sehari-hari. Kita bisa menggali informasi tentang dia.
Karena itulah, saya tidak sepemikiran dengan kolega tadi yang ingin membuat buku untuk mempromosikan sosok tertentu dengan maksud agar terbentuk opini publik. Saya tidak ingin membuat sosok menjadi nampak baik sementara saya belum mengenal dia sebelumnya.

Sampai di sini saya jadi ingat beberapa teman saya merana karena uangnya mengalir bak air ledeng saat Pemilu. Penyauk datang berbondong-bondong mengaloikan dia, namun tidak benar-benar mendukungnya. Uang habis, suara tiada. Saya tak sampai hati membuat (calon) politisi menerima nasib seperti itu. Kesihan.

Toke Melayu

Saya berjumpa dengan seorang teman lama. Lama tidak ada kabar tak dinyana saya diundang menghadiri  selamatan rumah baru. Rumah baru hasil kerja keras. Saya dan Yusriadi sebagai sahabat menghadiri undangan makan malam gratis malam itu. Nama sahabat kami itu adalah Hadi Kifli. “Paginya bepapas rumah,” cerita Hadi Kifli. Kami datang ke rumah baru langsung dipersilakan makan.

Lelaki asal Sambas ini terbilang sukses. Dalam jangka waktu kurang dari 10 tahun dia berhasil membangun kerajaan untuk istri dan anak-anaknya.

Saya mengenalnya 10 tahun lalu sebagai rekan yang sama-sama bergelut dengan dunia kepenelitian. Awalnya, dia tidak ada apa-apa. Dengan modal nekat, ia membeli sekapling tanah di kawasan Kota Baru pada tahun 2002. Membangun rumah kecil-kecilan sembari membuka warung ala kadarnya. Ia bukan satu-satunya pewarung di kampung itu. Ia harus bersaing dengan beberapa pewarung yang sudah terlebih dahulu eksis. Walaupun, hanya buka warung kecil-kecilan, Hadi Kifli mampu mengambil hati pembeli sekitar tempat tinggalnya. Warung boleh kecil tetapi Hadi Kifli mampu mengembangkan bisnisnya. Dalam satu tahun awal sebagai pewarung, Hadi Kifli berkembang dengan pesat. Prinsipnya waktu itu, biar kecil yang penting segala yang dicari orang kampung serbaada. “Untung tak perlu besak, tapi perputaran cepat,” cerita Hadi Kifli.

Prinsip ini mengantarkan Hadi Kifli berhasil memperluas rumah kecilnya menjadi warung yang lumayan besar. Usaha warung rumahan ini memasok keperluan sehari-hari warga, seperti beras, gula, minyak, sayur-mayur, lauk-pauk, sabun, jajanan, dan keperluan rumah tangga lainnya. Pembeli tambah ramai, sekarang Hadi Kifli memiliki pelangan tetap yang militan. Saya menggelarnya toke Melayu. Buah kesuksesan itu semakin tampak tatkala ia membangun kembali rumah warungnya menjadi rumah permanen bertingkat. Kesuksesannya bisa diukur dengan metamorfosis mobil yang dimilikinya. Ia sudah berganti mobil empat kali dalam jangka waktu kurang dari 10 tahun.

Kisah Hadi Kifli ini patut menjadi inspirasi. Hadi Kifli tidak berpendidikan tinggi. Ia benar-benar mengandalkan kerja keras dan keramahtamahan. “Pembeli itu raje,” kata Hadi Kifli dengan logat Sambasnya. Dengan memperlakukan pembeli sebagai raja, ia membangun citra warungnya. Pembeli pun menjadi senang. Apabila modal sudah balik dan untung sedikit sudah didapat Hadi Kifli kerap melego barang dagangannya dengan harga agak miring dan melebihkan timbangan kepada pelanggan setia warungnya, terutama sayur-mayur dan ikan-ikanan segar. Hadi Kifli benar-benar menjadi toke Melayu sejati dalam melayani pelanggan.

Saya teringat dengan petuah orang tua dahulu, kalau mau kaya dan berhasil jadilah pedagang yang baik dan jujur.  Pintu rejeki bagi orang Melayu itu kalau mengikuti ajaran Nabi Muhammad sesungguhnya 99% melalui jalur perdagangan. Selama berjualan dengan jujur, adil, dan tidak curang pasti keberkahan dan kekayaan akan diperoleh. Zaman sekarang tidak jarang kita jumpai pedagang yang memanfaatkan situasi dengan menaikan harga secara berlebihan dan mengurangi takaran demi keuntungan. Mungkin ia bisa kaya dengan cara begitu tetapi di akhirat ia bisa sangat merugi karena perkara demikian sangat dilaknat oleh Allah, “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang,(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi” (Al-Muthaffifin 1—3).

(Dedy Ari Asfar, peneliti Melayu)