Pentol Goreng, Peluang Usaha yang Menjanjikan

oleh: Asna Sri Hartati

pentol gorengKetika matahari mulai menyembulkan sinar paginya, Indra Firmansyah (44), seorang penjual pentol goreng bersiap untuk berangkat dari rumahnya di Jalan Khatulistiwa,  Gang Teluk Keramat. Sebelumnya, ia menyiapkan segala keperluan untuk  menuju tempat berjualannya selama dua bulan terakhir: depan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura.

Bahan baku juga peralatan berjualan sudah disiapkan istrinya di rumah saat Pak Indra melakukan pekerjaannya yang lain, sebagai buruh angkut di pasar sejak dini hari hingga pukul 7 pagi.

Meniti jalan Pontianak yang padat merayap tak membuat Indra lelah mengendarai motor yang juga ‘ditumpangi’ gerobak pentol goreng.  “Saya tinggal di Jalan Khatulistiwa, Gang Teluk Keramat. Saya baru 2 bulan jualan ini. Selain jualan, saya juga kerja jadi buruh angkut di pasar dari jam 3 sampai jam 7,” ucapnya, Sabtu (8/3).

Lapangan pekerjaan yang kini menuntut pelamar untuk memiliki pendidikan minimal diploma tak membuat Indra putus asa. Tanggung jawab sebagai kepala keluarga, membuatnya selalu mencari peluang usaha dan menggali apa yang orang butuhkan dan menjadikannya peluang bisnis. Meskipun hanya lulusan SLTA, Indra berusaha membuka lapangan pekerjaannya sendiri dengan jeli membaca peluang serta kebutuhan masyarakat, satu di antaranya yang sedang naik daun yaitu peminat pentol goreng.

Memanfaatkan modal awal sebesar lima ratus ribu, Indra dapat meraup perghasilan perbulan mencapai empat juta rupiah. “Sekarang banyak yang kerja kayak gini, jualan pentol goreng, soalnya kalau bakso pasarannya lagi turun,” terang Indra.

Ketika ditemui, Indra sedang melayani pembeli dengan telaten dan terlihat sangat ramah. Pentol goreng yang dijual seharga seribu rupiah ini tentu sesuai dengan kantong mahasiswa. Ditambah lokasi berjualan yang menyasar segmen yang tepat, persis di depan Fakultas Kehutanan, dari Senin sampai Sabtu, pukul 10 hingga 6 sore. Dagangannya pun laris manis.

Jika dagangannya habis terjual, lembaran rupiah seratus lima puluh ribuan dapat diraupnya. Dagangan yang sering habis terjual membuatnya betah untuk berjualan di sana. “Saya jualan dari jam sepuluh sampai jam enam sore. Kadang habis, kadang tidak. Pertusuk 1000 rupiah,” ujarnya lagi.

Hasil penjualan yang didapatkannya, sebagian dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sebagian untuk modal berjualan di hari berikutnya.

Memiliki usaha yang tidak memiliki lokasi tetap, membuatnya terkadang mendapat hambatan ketika hujan datang. “Kendalanya ya kalau hujan. Meski sudah ada payung, tak cukup untuk jadi tempat berteduh,” pungkasnya.

Peserta dan Pengunjung FSBM X Menikmati 1001 Lungkung Kerupuk Basah

Oleh Asmirizani

MABMonline.org, Putussibau–Peserta dan pengunjung FSBM X menikmati kerupuk basah sebanyak 1001 lungkung seusai pawai budaya, Kamis (18/12). Panitia telah menyediakan 1001 lungkung kerupuk basah untuk dinikmati peserta dan warga umum pada saat pembukaan pameran di GOR Uncak Kapuas. Antusias warga menyaksikan pawai budaya mendapatkan rejeki makan kerupuk basah sepuasnya. Peserta kontingen tiap daerah makan kerupuk basah yang dititipkan pada masing-masing stan. Sedangkan pengunjung mengambil kerupuk basah yang telah disediakan panitia di depan tribun.

Pengunjung sedang menikmati kerupuk basah
Pengunjung sedang menikmati kerupuk basah

Berjejer pengunjung duduk beramai menikmati kerupuk basah. Anak kecil hingga orang tua. Orang Kapuas Hulu hingga orang luar Kapuas Hulu. Orang yang baru pertama kali menikmati kerupuk basah serta orang yang sering menikmati kerupuk basah. Seperti halnya As seorang pengunjung dari kota Ketapang yang baru pertama kali menikmati kerupuk basah. “Saya baru pertama kali menikmati kerupuk basah asli Kapuas Hulu. Pertama kali juga makan kerupuk basah di Kapuas Hulu.”

Kerupuk basah dalam kemasan
Lezat: Kerupuk basah dalam kemasan yang dibagikan panitia FSBM X

Kemeriahan semakin terasa saat peserta pawai budaya dan pengunjung menikmati kerupuk basah yang disediakan secara bersama-sama. Sebagian warga Kapuas Hulu sudah biasa menikmati kerupuk basah, tetapi saat makan bersama secara beramai akan memberikan efek rasa dan suasana yang berbeda.

“Tidak bosan-bosan makan kerupuk basah. Apalagi makan secara beramai-ramai semakin meningkatkan nafsu makan,”ujar Man warga Kapuas Hulu di sela menikmati kerupuk basah.

Makanan khas Kapuas Hulu ini sudah sangat terkenal di berbagai daerah. Kerupuk basah sedang diurus hak ciptanya supaya tidak diakui oleh daerah dan negara lain. Hal ini pernah diungkapkan oleh Bupati Kapuas Hulu saat malam taruf di kediaman beliau malam kemarin.

Kisah “Mak Kasum” dalam Sejarah Bubur Padas

daun kesum

oleh Sabhan Rasyid

MABMonline.org, Sekitar dua bulan yang lalu saya melakukan penelitian di Kabupaten Sambas. Penelitian tersebut terkait pengambilan data untuk kepentingan penyusunan tugas akhir saya di kampus. Bersama seorang teman, Zainudin, saya memulai perjalanan dari Kecamatan Jawai Selatan sampai Sajingan Besar di perbatasan Sambas-Malaysia. Pengambilan data permainan rakyat yang saya lakukan difokuskan pada kandungan kosakata yang ada dalam kebudayaan masyarakat Melayu Sambas.

Setelah melalui kegiatan penelitian berhari-hari, saya akhirnya bertemu dengan seorang informan yang berdomisili di Desa Tumuk Manggis Kecamatan Sambas. Beliau bernama Muin Ikram. Seorang tokoh Melayu yang juga pengurus MABM Kabupaten Sambas yang aktif di bagian penelitian dan pelestarian kebudayaan. Informan kesepuluh saya ini memberikan banyak informasi terkait data yang saya butuhkan. Proses wawancara yang saya lakukan selama beberapa jam tersebut melebur menjadi sebuah obrolah ringan tentang kebudayaan Melayu dan kuliner khas di Sambas. Maklum kami saling menggunakan bahasa Melayu Sambas saat berbincang.

Ade kisah tentang bubor paddas,” ujar Pak Muin memulai kisah Mak Kasum.

Cerite tentang ape pak?” tanyaku kepada Pak Muin.

Pak Muin kemudian memulai ceritanya dengan bahasa Melayu Sambas yang saya terjemahkan dengan beberapa penyesuaian berikut ini.

Pada zaman dahulu hiduplah seorang raja yang sangat kaya memimpin sebuah kerajaan di Sambas. Raja tersebut memiliki banyak pengawal dan pembantu di istana kerajaannya. Suatu hari, raja mengalami suatu kesakitan dan harus terbaring di kamarnya. Nafsu makan sang raja dengan seketika menurun bahkan menghilang. Semua penduduk istana sangat mengkhawatirkan kesehatan raja karena tidak memiliki nafsu makan. Karena peristiwa itu, sang raja memerintahkan seorang pembantu yang bertugas sebagai juru masak kerajaan untuk membuat makanan untuk dirinya. Pembantu tersebut kemudian meracik beras dan sayur-mayur untuk dijadikan makanan dan obat untuk raja. Selesai mengolah semua bahan makanan, pembantu tersebut dengan segera menyerahkan hasil masakannya kepada raja. Tak disangka, raja dengan lahap menyantap racikan makanan dari sang pembantu. Selesai menghabiskan makanan, raja menyuruh pengawalnya untuk memanggil pembatu yang telah berhasil membuatkan makanan yang sangat enak untuk raja. Pembantu tersebut kemudian menghadap raja. “Ada apa gerangan raja memanggil saya?” tanya pembantu tersebut. Raja kemudian menanyakan kepada pembantu tersebut tentang sebuah daun yang dirasakan raja sangat khas dan enak saat menyantap masakannya. “Daun apakah yang kau gunakan dalam masakan itu sehingga masakan tersebut bisa mengembalikan nafsu makanku?” tanya raja. Hamba menemukan tanaman tersebut di pekarangan istana ini, tetapi hamba tidak mengetahui apa nama tanaman tersebut,” jawab pembantu. Kemudian, raja menanyakan nama pembantunya tersebut. “Siapa namamu wahai pembantu?” tanya raja. Nama hamba Kasum, biasa orang-orang memanggil hamba dengan Mak Kasum,” jelas pembantu. Mendengar jawaban tersebut, sang raja kemudian memberi nama daun khas tersebut dengan daun kasum sesuai dengan nama “Mak Kasum”— seorang pembantu raja yang telah menggunakan daun ini sebagai bahan makanan untuknya.”

Saya yang menyimak cerita tersebut serasa mendapatkan pengalaman baru. Cerita tentang asal-usul nama daun kesum ini memang baru kali ini saya dengar. Daun kesum merupakan daun khas yang wajib ada saat membuat bubur pedas—makanan khas Melayu Sambas. Pak Muin Ikram mengaku mendapatkan alur cerita tersebut dari pemikirannya selama menjadi pelaku budaya di Kabupaten Sambas. Versi cerita lain tentang nama daun kesum mungkin berbeda dari cerita yang saya dapatkan saat penelitian di Sambas. Namun, cerita-cerita seperti ini dapat saya bagi kepada pembaca merupakan kepuasan sendiri bagi saya. Bagi kita semua mungkin dapat menceritakan cerita-cerita seperti ini kepada anak cucu kita kelak sehingga mereka dapat menerima informasi yang kaya tentang kebudayaan mereka.

Lemang, Kuliner Musiman Melayu Pontianak

oleh Dedy Ari Asfar

lemang-kuliner-MelayuSaya berhenti di Simpang Jalan Juanda yang bermuara di Jalan Tanjungpura untuk membeli lemang. Ya, lemang merupakan kuliner musiman yang tidak setiap hari ada di Pontianak. Lemang hanya bisa dinikmati pada bulan Ramadan dan Idul Fitri. Lemang menjadi kuliner khas Melayu di Indonesia, Malaysia dan Singapura. Di Pontianak, lemang menjadi kuliner spesial Ramadhan yang dinikmati setahun sekali.

Saya teringat masa-masa kecil di sebuah kampung Melayu di Kecamatan Mukok, Sanggau. Saya menikmati lemang setahun dua kali, yaitu saat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Di Pontianak lemang menjadi panganan khas Ramadan. Bagi masyarakat Kota Pontianak, setiap bulan puasa lemang hadir sebagai menu pilihan yang nikmat. Menurut keterangan Imam (penjual) lemang yang saya temui, masyarakat bukan Melayu justru pembeli terbanyak pangan khas Melayu dan Dayak Kalimantan Barat ini.

Krek… krek… krek… suara lemang bambu yang dibelah terdengar. Imam sang penjual lemang tampak cekatan melucuti bambu yang telah terbelah dengan ujung-ujung jarinya. Sebelum melucuti pecahan bambu lemang, Imam memecahkan bambu dengan tangan terlebih dahulu pada ujung bambu yang terbuka, seperti orang memecah buah manggis.  Hasil pecahan kecil itulah yang kemudian dilucuti sehingga “menelanjangi” lemang.

Saya terus mengamati Imam yang sibuk memotong satu ruas lemang dengan panjang sekitar 1 meter menjadi beberapa bagian. Lemang berukuran kecil dijual dengan harga per potong lima ribu rupiah. Lemang berukuran besar (ruas bambu besar) dengan panjang sekitar 1 meter juga dipotong dalam empat potong setengah. Potongan-potongan itu dijual dengan harga sepuluh ribu per potong. Lemang berukuran besar diisi dengan kacang merah sedangkan lemang berukuran kecil tanpa kacang merah.

Lemang merupakan beras ketan yang dilapisi daun pisang dengan air santan kelapa terkadang diisi kacang merah dengan memanfaatkan bambu sebagai wadah. Bambu berisikan beras ketan ini kemudian dimasak dengan cara dibakar. Di Pontianak Lemang dibakar selama 5 jam. Dalam varian Melayu Sanggau, lemang dipandok/mandok (bakar) dengan menjajarkannya secara vertikal dalam beberapa baris ruas bambu.

Lemang menjadi panganan favorit multietnik di Pontianak selama Ramadan. Bersilih ganti para pembeli yang menyambangi lapak kecil Imam ternyata didominasi orang-orang Cina. Dalam benak saya fenomena ini agak mengherankan juga, bukan? Pembeli Cina begitu dominan menikmati panganan khas Melayu dan Dayak. Mungkin orang Melayu kurang begitu suka memakan lemang untuk berbuka puasa karena sama mengenyangkan dengan nasi? Menurut Imam kalau dipersentase, pembeli lemang dari kalangan orang Cina sekitar 90%. “Pelanggan saye banyak Cine Bang, 90% lah” ujar Imam. Satu keluarga Cina yang membeli lemang tampak tawar-menawar harga dengan Imam saat ingin membeli satu ruas panjang utuh. Pembeli dari kalangan Cina ini memilih lemang yang hangus. “Yang hangus enak,” kata si pembeli. Ternyata lemang bukan baru kali ini dinikmati keluarga Cina ini. Mereka sudah terbiasa memakan lemang saat masih di kampung (kawasan Sungai Ayak, Sekadau).

Imam sang penjual lemang merupakan mata rantai penting yang menyelamatkan makanan tradisional Kalimantan Barat dari kepunahan. Lemang sebagai simbol makanan pribumi Kalimantan Barat yang disenangi oleh orang-orang bukan pribumi mudah-mudahan terus menjadi panganan yang dicari di Kota Pontianak.

Kamis Pagi di Kota Sambas

Oleh : Achmad Sofian

Sedari subuh mendung menyelimuti. Rintik hujan nampak masih nampak sedikit tersisa. Namun, ini tidak mengurangi geliat kota Sambas memulai hari nya.

IMG-20130829-00983
foto dengan latar jembatan Sambas
IMG-20130828-00944
Berbagai penganan kue tradisional di pasar pagi, Sambas
IMG-20130829-01031
Bongkar muat barang di steigher pasar pagi, Sambas
IMG-20130829-01010
Sejumlah masyarakat berolahraga pagi di bundaran dekat kantor Bupati.
IMG-20130829-00998
Panggung utama FSBM IX, siap menampung kegiatan Festival Bunga Silat dan Festival Berbalas Pantun hari ini.
IMG-20130829-00994
Warga sekitar istane Alwatzikhoebillah melintas di depan gerbang istane, mengantar anak ke sekolah. Memulai hari menimba ilmu.

 

Resto Handayani Hadir di Rumah Melayu

IMG-20130820-00640

Oleh : Ahmad Sofian 

MABMonline.org, Pontianak,  Siapa sangka 20 tahun sudah Resto Handayani ada di kota Pontianak ini. Menyajikan menu hidangan terbaik bagi para pelanggan setianya. Berbagai menu nusantara coba disediakan. Juga menu khas daerah. Dari sayur pakis, paceri nenas hingga asam pedas. Tak ketinggalan berbagai menu minuman. Es buah dan es lidah buaya salah duanya.

IMG-20130820-00649
Maesa dan istri, menyambut para pelanggan didepan pintu masuk resto Handayani

Pembukaan Resto Handayani di kompleks Rumah Melayu Kalimantan Barat hari ini, Selasa 20 Agustus 2013 seolah mentahbiskan hal tersebut. Kurang lebih 50 aneka masakan dan minuman dihadirkan. Suasana kekeluargaan demikian terasa. Bincang keakraban terlihat di setiap sudut Resto berkapasitas kurang lebih 180 orang.

Ada yang teristimewa di hari pembukaan Resto Handayani ini. Yakni semua menu selama satu hari penuh ditanggung oleh pengelola. Gratis!

Hari ini khusus untuk syukuran pembukaan Resto Handayani di Kompleks Rumah Melayu, kata Maesa, generasi kedua pengelola Resto Handayani saat disela-sela kesibukan menerima dan menyapa para tamu dan pelanggan yang hadir. “Untuk menu makanan free semua,” tegasnya.

Resto Handayani mengundang para pelanggan dari berbagai kalangan untuk mencicipi berbagai menu masakan. Selain juga sebagai sebuah pemberitahuan bahwa Resto Handayani sudah mulai buka di Rumah Melayu. Dengan harapan agar semakin maju, semakin dekat dan semakin maksimal melayani pelanggan. Semoga’.[]

100 Kawah Bubur Pedas; Ajang Kuliner Lokal ke Pentas Dunia

Oleh Asmirizani

MABMonline.org, Sambas—-Ahad (25/8), jalan di depan kantor bupati Sambas penuh sesak oleh orang yang berkumpul ingin mendapatkan Bubur Pedas. Gratis. Panitia Festival Seni Budaya Melayu IX mengadakan pembuatan bubur pedas sebanyak 100 kawah (kuali, red). Bubur Pedas ini dibuat oleh ibu-ibu yang terbagi dalam kelompok-kelompok kecil berdasarkan perwakilan kampung dan kecamatan yang ada di Sambas. Sebanyak  100 kelompok ibu-ibu yang menjadi peserta. Panitia FSBM IX juga menilai bubur pedas yang paling enak, asli, dan unik dalam penyajiannya.

Seorang Ibu menuangkan bubur pedas ke dalam mangkok
Seorang Ibu menuangkan bubur pedas ke dalam mangkok (Foto Dedy Ari Asfar)

“Lestarikan budaya lokal yang ada di Sambas. Terutama budaya kuliner bubur pedas ini,” ujar Pak Rahmi, mantan anggota DPRD Provinsi Kalbar yang turut serta menikmati bubur pedas di kawah nomor ke-34.

Ribuan warga menyemut di lokasi. Ada yang sekadar penasaran ingin melihat; ada yang ingin mendapatkan bubur pedas gratis. Ibu Sinang, seorang pengunjung rela datang dari Sanggau Ledo, Bengkayang hanya untuk mencicipi bubur pedas dan menyaksikan acara FBSM IX di Kabupaten Sambas.
“Saya ingin mencicipi bubur pedas asli buatan orang Sambas, dan ternyata enak,” ujar Ibu Sinang.

Makanan kuliner lokal harus tetap dijaga supaya tidak punah, satu di antaranya bubur pedas yang merupakan makanan kuliner khas Sambas. “Budaya kuliner ini harus kita lestarikan. Semoga bubur pedas dikenal oleh masyarakat di seluruh dunia,” harap Drs. Ramzi, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sambas.

Minuman tradisional
Seorang ibu memegang minuman tradisional (Foto Dedy Ari Asfar)

Peserta tidak hanya membuat bubur pedas, tetapi juga membuat bermacam minuman tradisional yang berkhasiat untuk tubuh. “Menariknya di acara 100 kawah bubur pedas juga menyajikan minuman tradisional yang berkhasiat obat khas Melayu Sambas yang hampir punah. Ini harus dilestarikan,” ujar Agus Syahrani, peneliti di Pusat Penelitian Kebudayaan Melayu, Untan.

Acara 100 kawah bubur pedas juga menginspirasi pengunjung dari luar Kabupaten Sambas untuk berbuat hal serupa. Satu diantaranya tokoh masyarakat Melayu Kapuas Hulu, “Insya Allah FSBM X mendatang di Kapuas Hulu juga akan menampilkan kerupuk basah terpanjang dan membakar ikan Toman terbanyak untuk memecahkan rekor MURI, serta menampilkan makanan khas Kapuas Hulu lainnya agar dikenal masyarakat luas,” ujar A. R. Muzammil, tokoh Kapuas Hulu yang juga mantan Ketua KPU Kalbar saat dimintai tanggapannya mengenai acara 100 kawah bubur pedas.

Festival Seni Budaya Melayu Kalimantan Barat IX Tahun 2013

Oleh: MABMonline.org

BALIHO FSBM OKEMABMonline.org, Pontianak — Seni Budaya Melayu yang hidup, tumbuh dan berkembang tersebar diseluruh wilayah Kalimantan Barat merupakan hasil dari kreativitas para seniman dan sastrawan yang patut mendapatkan apresiasi. Di sisi lain Seni Budaya Melayu yang beraneka ragam corak dan gayanya dapat menambah kekayaan khasanah seni budaya daerah Kalimantan Barat yang tidak ternilai harganya, namun dengan terjadinya pergeseran nilai-nilai budaya yang berkembang di masyarakat dikhawatirkan dapat menurunkan sikap saling menghargai terhadap keberadaan Seni Budaya Melayu, bahkan dapat terjadi pergeseran pada fungsi seni itu sendiri.

Beberapa jenis kesenian tradisi yang sarat dengan nilai-nilai kearifan budaya lokal cenderung semakin ditinggalkan masyarakat dan ada beberapa diantaranya mengalami stagnasi serta rentan terhadap perubahan akibat dari perkembangan teknologi informasi dan globalisasi. Oleh karena itu harus ada tindakan Penggalian, Perlindungan, Pelestarian dan Pengembangan Seni Budaya.

MAJELIS ADAT BUDAYA MELAYU KALIMANTAN BARAT (MABMKB) sebagai wadah yang membina dan menjaga Kelestarian Seni Budaya Melayu di wilayah Kalimantan Barat. Hal ini sesuai dengan Visi dan Misi MAJELIS ADAT BUDAYA MELAYU KALIMANTAN BARAT (MABMKB) yaitu “ Terwujudnya masyarakat Melayu Kalimantan Barat sebagai bagian Bangsa Indonesia yang Bertamadun, Berpendidikan serta sejahtera lahir dan batin “.

Berdasarkan pemikiran tersebut di atas MAJELIS ADAT BUDAYA MELAYU KALIMANTAN BARAT (MABMKB) melaksanakan kegiatan Festival Seni Budaya Melayu Kalimantan Barat (FSBMKB) IX Tahun 2013 dimana sudah menjadi agenda tahunan sebagai bentuk penyatuan gerak dan langkah orang Melayu melalui kegiatan Lomba Seni, Olah Raga Tradisional yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat melayu, Gelar Upacara Adat, Peragaan Busana Melayu, Pameran Budaya dan Makanan Khas Melayu dengan tujuan agar dapat menjalin sinergi dengan komponen lain dalam bingkai budaya daerah yang tak terpisahkan sebagai bagian dari kebudayaan nasional.

Dengan mengusung tema ” ADAT DIJUNJUNG BUDAYA DISANJUNG “, festival ini diselenggarakan agar menjadi pendorong generasi Muda Melayu agar selalu bertindak positif dan berakar kepada kekuatan kebudayaan sendiri, sehingga dapat terhindar dari pergaulan buruk yang mengiringi kebebasan gaya hidup di era kebebasan informasi dan globalisasi.

Kegiatan Festival Seni Budaya Melayu Kalimantan Barat (FSBMKB) IX Tahun 2013 ini akan dilaksanakan pada tanggal 24 s/d 31 Agustus 2013 di Kabupaten Sambas, dengan peserta adalah Utusan dari MAJELIS ADAT BUDAYA MELAYU KABUPATEN/KOTA se-Kalimantan Barat.
Kegiatan ini dilaksanakan juga berkaitan dengan agenda peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan ke-68 Republik Indonesia, Ulang Tahun Pemindahan Ibukota Kabupaten Sambas, serta acara Halal Bi Halal 1434 H Masyarakat Melayu Kalimantan Barat.

Berbagai bentuk kegiatan akan diselenggarakan dalam Festival Seni Budaya Melayu Kalimantan Barat (FSBMKB) IX Tahun 2013 kali ini, meliputi:
1. Pembukaan.
Dibuka secara resmi pada:
Hari / Tanggal    : Sabtu, 24 Agustus 2013
Waktu                 : 19.30 Wib
Tempat               : Alun-alun Istana Alwatzikhoebillah Sambas

2. Perlombaan.
Lomba yang akan dilaksanakan meliputi:

  1. Rumpun Seni Musik (berupa: Tangkai Menyanyikan Lagu Melayu dan Tangkai Vocal Group Lagu Daerah)
  2. Rumpun Seni Tari (berupa: Tangkai Seni Hadrah dan Tangkai Tari Jepin Tradisional)
  3. Rumpun Seni Sastra (berupa: Tangkai Syair Melayu, Tangkai Berbalas Pantun, dan Tangkai Bertutur)
  4. Rumpun Rias dan Busana Melayu (berupa: Tangkai Merias Pengantin dan Tangkai Peragaan Busana Melayu Tingkat Anak-anak)
  5. Rumpun Olah Raga Tradisional (berupa: Tangkai Sampan Bidar dan Tangkai Pangkak dan Uri Gasing)
  6. Rumpun Seni Bela Diri (berupa: Tangkai Seni Silat)
  7. Rumpun Arsitektur Melayu (berupa: Tangkai Stand Pameran)
  8. Rumpun Seni Lukis (berupa: Tangkai Rancang Motif Melayu)

3. Eksibisi.
Acara yang akan dilaksanakan:

  1. Rumpun Adat Istiadat (berupa: Gelar Upacara Adat)

4. Pameran Budaya dan Kuliner (makanan) serta Kue Tradisional

5. Acara Penutupan

Jadwal kegiatan Festival Seni Budaya Melayu Kalimantan Barat ( FSBMKB) IX ini akan dimulai pada tanggal 24-31 Agustus 2013. Agenda yang akan dilaksanakan yakni:
Sabtu, 24 Agustus 2013.
Waktu:
19.30-22.30 Wib. Agenda: Upacara Pembukaan Festival Seni Budaya Melayu Kalimantan Barat (FSBMKB) IX Tahun 2013

Minggu, 25 Agustus 2013.
Waktu:
08.00-11.00 Wib. Agenda: Pelepasan Pawai Budaya dan Pembukaan Pameran serta Kuliner Tradisional.
14.00-17.00 Wib. Agenda: Workshop Seni Otar-otar.
14.30-22.30 Wib. Agenda: Lomba Lagu Melayu.

Senin, 26 Agustus 2013.
Waktu:
08.00            Wib. Agenda: Pameran Outdoor dan Kuliner.
08.00-11.00 Wib. Agenda: Sunatan Massal dan permainan Tradisional Anak.
14.00-17.00 Wib. Agenda: Workshop Tanda Sambas dan Alok Gambang.
19.30-22.30 Wib. Agenda: Lomba Vocal Group Lagu Daerah.

Selasa, 27 Agustus 2013.
Waktu:
08.00            Wib. Agenda: Pameran dan Kuliner.
08.00-11.00 Wib. Agenda: Pangka dan Uri Gasing serta Gelar Upacara Adat.
14.00-17.00 Wib. Agenda: Workshop Jepin Lembut.
19.30-22.30 Wib. Agenda: Lomba Seni Hadrah.

Rabu, 28 Agustus 2013.
Waktu:
08.00            Wib. Agenda: Pameran dan Kuliner.
08.00-11.00 Wib. Agenda: Syair dan Rancang Motif Melayu.
14.00-22.30 Wib. Agenda: Lomba Bertutur.

Kamis, 29 Agustus 2013.
Waktu:
08.00            Wib. Agenda: Pameran dan Kuliner.
08.00-11.00 Wib. Agenda: Peragaan Busana Anak-anak.
13.30-17.30 Wib. Agenda: Lomba Bunga Silat.
19.30-22.30 Wib. Agenda: Lomba Berbalas Pantun.

Jum’at, 30 Agustus 2013.
Waktu:
08.00            Wib. Agenda: Pameran dan Kuliner.
08.00-22.30 Wib. Agenda: Seminar.
13.00-17.30 Wib. Agenda: Lomba Merias dan Menyanggul Pengantin
19.30-22.30 Wib. Agenda: Lomba Tari Jepin Tradisional.

Sabtu, 31 Agustus 2013.
Waktu:
08.00            Wib. Agenda: Pameran dan Kuliner.
08.00-17.00 Wib. Agenda: Lomba Sampan Tradisional
20.00-22.30 Wib. Agenda: Malam Anugerah Seni dan Penutupan.

Sotong Pangkong Melayu

oleh: Dedy Ari Asfar

Bau sotong pangkong menyeruak saat berada di Jalan Merdeka tepatnya mulai depan Masjid Sirajul Islam. Bau itu semakin kentara apabila bergerak maju menuju Jalan Merdeka ujung. Bunyi tok… tok… tok… sahut-menyahut terdengar menggema. Bunyi dari sebuah palu yang sedang memukul atau memangkong sotong panggang. Ritme itu begitu menghentak dan menjadikan suasana malam menjadi menggeliat.

Sepanjang jalan saya melihat pemandangan yang tidak lazim dijumpai pada malam bukan bulan Ramadan. Sekitar 62 gerobak penjual sotong pangkong mangkal di sisi kiri-kanan jalan. Ada pedagang yang memanfaatkan trotoar jalan, halaman ruko, dan di atas jembatan untuk melayani para penikmat sotong pangkong.

Gerobak-gerobak berukuran satu meter saling berdekatan. Saya mencoba singgah. Tidak ada saling rebut pembeli. Masing-masing pedagang duduk menunggu pembeli menghampiri. Saya memesan satu sotong pangkong kepada seorang perempuan beranak lima. Perempuan setengah baya ini menjadi pedagang musiman di bulan Ramadan. Konon, ia adalah seorang buruh cuci. Malam bulan Ramadan membawa berkah pada perempuan penjual sotong pangkong dan juga sang suami. Suaminya juga menghasilkan uang dengan menjadi tukang parkir. Perempuan ini dapat menghasilkan uang Rp 200.000 (dua ratus ribu) dalam satu malam. Modalnya hanya satu kilo sotong yang dibeli dengan harga 150 ribu. Satu kilo dapat dihabiskan selama tiga hari.

“Beli’ yang mane Bang?”

“Berape hargenye?”

“Yang kecik 5000, ini 7000, itu 10.000, yang paling besak 15.000,” jelas sang penjual. Saya memilih harga yang paling murah, yaitu Rp 5000.

“Silelah Bang dudok,” seru perempuan penjual sotong pangkong. Sotong pun dipanggang dan dipukul-pukul dengan palu pada sebuah kayu yang dibuat mirip kursi panjang persegi empat berukuran kecil. Tidak lama, pesanan pun datang.

Saya menghirup aroma sotong pangkong bakar. Tangan saya meraih sambal cair yang ada di atas meja. Ada dua pilihan sambal cair. Jenis pertama cabai dan ebi dengan rasa agak asam-asam manis. Jenis kedua cabai dan ulekan kacang dengan rasa asam-asam pedas. Tidak puas dengan satu sotong pangkong, saya menambah pesanan. Banyak muda-mudi dan rombongan keluarga yang menikmati jajanan khas Ramadan ini. Semakin malam, semakin ramai pengunjung yang datang. Tidak hanya sotong, jagung bakar pun tersedia. Walaupun, tidak semua penjual sotong pangkong menyediakan jajanan jagung bakar.

Penelusuran saya terhadap kuliner khas Pontianak ini tidak berhenti pada satu tempat. Saya beranjak ke tempat lain. Pilihan saya jatuh pada sebuah jembatan yang dijadikan lesehan dengan meja dilengkapi gelas berpelita. Malam remang-remang menjadi romantis dengan suasana candle light. Ada dua meja kosong, saya menempati meja paling belakang sehingga bisa mengawasi pasangan muda-mudi menikmati sotong di atas jembatan yang di bawahnya mengalir air. Tempat kedua ternyata teknik sajiannya berbeda. Sotong tidak dipangkong tetapi digiling. Saya mendapatkan pembenaran dari penjual yang menggunakan alat giling ini. “Kamek tadak pakai pangkong Bang, pakai alat gileng, bumbu lebeh meresap. Alat ni belik di Malaysia, tak ade jual di sinek,” ujar sang penjual berpromosi. Saya membeli sotong dengan ukuran yang sama dengan penjual pertama tetapi harga berbeda. Ukuran yang paling kecil dijual Rp8000, ada juga yang dijual seharga Rp10.000, Rp13.000, 15.000, 20.000, dan 25.000 bergantung ukuran besar-kecilnya sotong. Persis di seberang jalan depan Masjid Sirajul Islam, sotong juga disajikan dengan teknik sotong digiling. Harga paling murah yang ditawarkan Rp 20.000.

Menikmati sotong pangkong dan/atau sotong giling merupakan pengalaman yang mengesankan. Jajanan di sepanjang Jalan Merdeka merupakan satu apresiasi masyarakat lokal membuat festival makanan jalanan ala sotong bakar dengan berbagai variasi rasa dan teknik olahan. Jajanan khas Ramadan ini menjadikan Kota Pontianak sebagai kota Sotong Pangkong Melayu yang mungkin tidak akan ditemukan pada semua kota metropolitan di seluruh Indonesia.

Kebuli Sapi Spesial Bu Nur

Oleh Hira Wahyuni

MABMonline.org, Sungai Pinyuh Azan subuh telah berkumandang membangunkan tidur lelap Bu Nur dan suaminya yang biasa dikenal dengan sebutan Pak Udin. Pak Udin kemudian bersiap-siap ke masjid menunaikan sholat subuh, demikian juga Bu Nur. Beliau sholat di rumahnya saja. Setelah pulang dari masjid Pak Udin pun menjalankan rutinitasnya yaitu menyusun segala perlengkapan jualan istrinya, mulai dari menyapu lantai, mengepel, mengangkat meja, kursi, sendok, garpu, piring, mangkuk, sampai mengunting tissue. Hal ini bisa dilakukan oleh karyawannya, tetapi oleh karena telah terbiasa sibuk seperti itu, Pak Udin tak segan melakukannya.

Pukul 06.00 WIB, Bu Nur pun mengendarai motornya untuk berbelanja segala keperluan berjualan hari ini. Bu Nur dan Pak Udin memiliki sebuah warung yang biasa dikenal dengan sebutan “Warung Bubur Bu Nur”. Warung ini terletak di Sungai Pinyuh, sengaja dibangun di depan rumahnya. Di sini terdapat beraneka ragam menu sarapan mulai dari bubur nasi, nasi kuning, lontong sayur, sate ayam dan sapi, bakso, nasi goreng, mie tiaw, juga terdapat sajian khas Timur Tengah yaitu nasi kebuli dengan sensasi rasa yang menggoyang lidah.

Ternyata tidak perlu jauh-jauh kita ke Arab, di sini kita juga bisa merasakan makanan khas Arab itu.   Hari Minggu, Bu Nur dan karyawannya tampak sibuk melayani pelanggan setianya. Memang tidak sesuai dengan nama rumah makannya, karena rumah makan ini awalnya merupakan tempat sarapan favorit dipagi hari bagi warga sekitar Sungai Pinyuh, bahkan luar kawasan Sungai Pinyuh. Warung Bubur Bu Nur ini terletak di Jalan Seliung yang menjadi jalur transportasi antarnegara yaitu Malaysia. Meskipun yang dijual di warung ini adalah jenis-jenis makanan yang merakyat tetapi yang mencicipi bahkan berlanggaanan merupakan kalangan perkantoran dan pejabat tinggi di Kalimantan Barat.

Berawal dari acara selamatan atas lahirnya cucu pertama, Bu Nur menyajikan nasi kebuli untuk para tamunya. Ternyata para tamu merasakan gurihnya nasi kebuli tersebut dan menyarankan agar Bu Nur memasukkan nasi kebuli ke dalam daftar menu jualannya. Bu Nur pun mencobanya dan tak disangka-sangka, ternyata sangat digemari oleh para pelanggan. “padahal sebelumnya saya tidak pernah berpikir untuk membuat nasi kebuli ini sebagai menu jualan saya. Ternyata banyak juga penggemarnya.” Ujarnya sambil tertawa.

Saya pun tak sabar ingin merasakan nikmatnya nasi kebuli ini. Sesampainya di sana saya langsung memesan seporsi Nasi Kebuli Sapi yang menjadi menu spesial di warung itu. Sedangkan teman saya memesan mie tiaw. Sambil menunggu saya memesan es teh dan sebotol air mineral.Selang sepuluh menit akhirnya nasi kebuli dan mie tiaw goreng tersaji di meja. Harum aroma rempah yang menguap dari nasi kebuli menggugah nafsu makan saya. Nasinya disajikan di atas piring ceper berupa nasi kebuli dengan pelengkap potongan daging sapi semur ala Bu Nur dan diletakkan di atas nasi kebuli tersebut. Selain itu ada irisan tomat. Adapula tambahan acar yang terdiri dari irisan nanas dan mentimun, serta sambal yang rasanya manis, pedas dan segar, sehingga mampu mengimbangi rasa gurih nasi kebuli yang terasa agak berat. Sambal tersebut dicampur irisan bawang bombay dan tomat yang dicincang kasar. Bumbu rempah khas masakan Arab seperti jinten, ketumbar, cengkeh, lada, biji pala membuat aroma harum merebak dari nasi kebuli. Satu lagi bumbu yang paling khas yang membuat rasa masakan ini semakin kentara khas dari Arab, yaitu kapulaga. Kapulaga memiliki aroma yang khas dan harum. “masakan arab memang tak pernah ketinggalan kapulaga dan jintan hitamnya” kata Nadira, adik Bu Nur yang ikut berkecimpung dalam usaha kulinernya.

Bu Nur juga tidak keberatan untuk memberitahukan bagaimana cara memasak nasi kebuli ini, “nasi putih ditumis bersama bawang putih, bawang merah, lada hitam, cengkeh, ketumbar, jintan, kapulaga, kayu manis, pala, dan minyak samin. Kemudian daging sapi dimasak bersama dengan nasi setengah matang hingga benar-benar matang. “Oh ya, nasi kebuli di sini tak pakai minyak samin karena tak semua orang suka minyak jenis ini karena aromanya yang menyengat.”katanya.
Harumnya nasi kebuli benar-benar membuat saya tak sabar untuk menyantapnya. Benar saja, suapan pertama langsung membuat lidah saya tak berhenti bergoyang. Bumbunya sangat terasa namun tidak berlebihan, sangat pas. Selain kapulaga, aroma cengkih, kayu manis, merica dan bawang terasa cukup kuat. Nasinya pulen dan tidak terlampau berminyak.
Yang membuat saya terkesan adalah empuk daging sapinya. Bumbunya benar-benar meresap hingga ke dalam dagingnya. Meskipun nasi kebuli yang biasa dikenal karena daging kambingnya, tetapi kebuli sapi inipun tak kalah nikmatnya dan tak menghapus cita rasa timur tengahnya

Bu Nur mengatakan kepada saya, beliau merintis usaha ini dari nol. Susah payah dan jatuh bangun pun telah dirasakannya. Dalam mengembangkan usahanya, Bu Nur dibantu tiga orang karyawannya. Kurang lebih tiga tahun ia berjualan di lokasi ini.  Saat ini ia sudah mendapatkan pelanggan tetap. Dalam sehari, penjualan nasi kebuli bisa mencapai 30 porsi, menu lainnya yang disajikan juga tak kalah laris manisnya dengan nasi kebuli ini. Satu porsi dijual seharga Rp.15.000,-. “Harge merakyat, tapi tak kalah rasenye dengan makanan konglomerat.” Kata Ayu pelanggan tetap Bu Nur. Begitu nasi kebuli diletakkan di atas meja, kepulan aromanya benar-benar membangkitkan selera. Meski warnanya mirip nasi goreng, tapi begitu masuk ke mulut, rasanya begitu kompleks dan lazis. Bagi yang ingin merasakan lezatnya kebuli sapi spesial langsung datang ke Warung Bubur Bu Nur, di Jl. Seliung Sungai Pinyuh. Dijamin enak!