Kopi Darat, Bincang-Bincang Menulis Fiksi

kopdar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MABMonline.org, Pontianak — Bagaimana cara dan tips menulis fiksi? Bagaimana membuat tulisan memiliki kekuatan dengan sisi humanis? Sehingga mampu membawa pembaca hanyut dalam tulisan kita.

Hal itulah yang berusaha dibahas secara tuntas dalam Kopi darat, bincang-bincang dan pelatihan menulis fiksi. Diadakan di Kantin Vigor, jalan Sutoyo, Pontianak. Selasa, 20 Agustus 2013. Pukul 15.30

Adalah Bernard Batubara, Penulis buku asal Pontianak yang bukunya “Radio Galau FM” dan “Kata Hati” telah diangkat ke dalam film layar lebar. Sore itu ia mengenakan baju kaos putih. Duduk diantara para anak muda pontianak. Lebih kurang 10 laki-laki, 18 perempuan hadir pada kesempatan sore itu. Tampak peserta antusias mendengarkan pengalaman Bernard dalam mengarungi dunia tulis menulis.

Akil Mochtar: Putra Kalbar yang Terpilih Menjadi Ketua MK

akil-mochtar-ketuaMK

Hakim Konstitusi yang juga merupakan Anggota Dewan Penasehat MABM Kalbar, Akil Mochtar terpilih sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) periode 2013-2015, Rabu (3/4/2013). Akil menggantikan Mahfud MD yang berakhir masa jabatannya sebagai hakim konstitusi pada 1 April 2013.

Siapa sebenarnya Akil Mochtar yang baru saja terpilih menjadi ketua Mahkamah Konstitusi (MK)?

Akil lahir dan dibesarkan di Kapuas Hulu, salah satu kabupaten di Kalimantan Barat. Orangtuanya, Mochtar Anyoek dan Junnah, sebenarnya memberikan nama Rachmat Abdillah. Namun pamannya Den Mahmud, memberikan nama Muhammad Akil. Karena orang tuanya tidak keberatan, Akil bersekolah dengan nama Muhammad Akil Mochtar.

Pendidikan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama diselesaikannya di Putussibau. Namun kelas 3 SMP, Akil pindah ke SMPN 2 Singkawang. Akil terancam tidak bisa melanjutkan ke SMA karena keterbasan dana orangtuanya. Karena keinginan kuat untuk tetap bersekolah, atas saran orangtuanya, Akil pun merantau ke Pontianak dan melanjutkan pendidikan di SMA Muhammadiyah Pontianak.

Saat bersekolah di SMA Muhamadiyah Pontianak, Akil terpaksa masuk ke pusaran persoalan biaya sekolah yang menghimpit. Untuk menutupi biaya hidup, Akil memilih mengerjakan sesuatu yang jarang dilakukan remaja sebayanya. Ia misalnya pernah menjadi loper koran, tukang semir, sopir angkot, hingga calo.

Usahanya itu tak sia-sia, ia berhasil lulus dari SMA tepat pada waktunya. Dengan sisa uang tabungannya, ia melanjutkan kuliah ke Fakultas Hukum Universitas Panca Bhakti Pontianak. Lagi-lagi dana menjadi kendalanya. Tapi Akil tak patah semangat, untuk menyambung kelangsungan kuliahnya, Akil nyambi menjadi supir. Uang itulah yang ia tabung untuk hidup sehari-hari, biaya kuliah hingga menyelesaikan skripsi. “Waktu itu, untuk daftar skripsi Rp 75 ribu. Dari upah sopir saya cuma ada tabungan Rp 50 ribu. Sisanya pinjam sana-sini,” ujar Akil.

Setelah menyandang gelar sarjana hukum, Akil sebenarnya ingin menjadi jaksa. Tapi oleh sesuatu hal, ia akhirnya terjun menjadi pengacara. “Saat itu sih pengennya jadi jaksa. Tapi akhirnya malah jadi pengacara. Alhamdulillah dari lawyer itu hoki saya bagus, rezeki mengalir,” kata suami Ratu Rita itu.

Tahun 1998, Akil kemudian bergabung ke Partai Golkar dan mengantarkannya menjadi anggota DPR RI periode 1999-2004 di Komisi II dan 2004-2009 di Komisi III.

Karena merasa idenya sulit terealisasi di DPR, Akil mencalonkan diri menjadi gubernur Kalimantan Barat berpasangan dengan AR Mecer. Dalam perolehan suara, pasangan Cornelis-Cristiandy mengunggulinya.

Awal kiprah Akil di MK berawal pada tahun 2008, ia mendaftar sebagai hakim konstitusi dan lulus dalam uji kelayakan dan kepatutan.

Sebagai hakim konstitusi, Akil bertekad menjadikan MK sebagai lembaga yang bersih dan berperan dalam pengembangan demokrasi di Indonesia. Menurutnya, MK berperan penting menciptakan keseimbangan dalam kehidupan berdemokrasi, sesuai kewenangannya, yang nantinya diharapkan bisa berdampak bagi kehidupan lebih baik bagi bangsa Indonesia.

Selamat bang Akil, semoga mampu menunaikan amanah besar ini dengan baik.

(foto: Tribunnews)

MABM Dukung Sukseskan Pembangunan Kalbar

Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalbar melakukan Silaturahmi bersama Gubernur Kalimantan Barat dan rapat Pleno I Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat di Rumah Adat Melayu, Jumat (1/2). Ketua Umum MABM Kalbar, Chairil Effendy mengatakan MABM selalu ingin menjadi yang terdepan untuk mensuksekan program pembangunan Kalbar artinya menjadi yang terdepan mendukung kepemimpinan Gubenur Kalbar.

“MABM sebagai komponen masyarakat Kalbar wajib mengamankan pilihan rakyat. Sehingga kita akan berupaya untuk membantu pemerintah Provinsi dalam pengembangan kemajuan di Kalbar ini,” ungkap Chairil.

Menurutnya dengan melakukan silaturahmi dengan Gubernur Kalbar, MABM menyambut baik pertemuan yang dilakukan. Pertemuan yang menjadi obsesi dan harapan dan keinginan Gubernur yang meminta kepada MABM untuk membantu persoalan tidak hanya masalah kebudayaan tetapi masalah pendidikan.

“MABM siap membantu dan akan merumuskan apa yang dapat dilakukan di Kalbar ini dalam rangka peningkatan indeks prestasi Manusia sebagaimana diharapkan Gubernur,” kata Chairil. (Tribun Pontianak)

Menikmati Khazanah Tarian Rumpun Melayu

Zapin adalah khazanah tarian rumpun Melayu yang menghibur sekaligus sarat pesan agama dan pendidikan. Tari ini memiliki kaidah dan aturan yang tidak boleh diubah dari masa ke masa, namun keindahannya tak lekang begitu saja.

Tari zapin dikembangkan berdasarkan unsur sosial masyarakat dengan ungkapan ekspresi dan wajah batiniahnya. Tarian ini lahir di lingkungan masyarakat Melayu yang sarat dengan berbagai tata nilai. Tarian indah dengan kekayaan ragam gerak ini awalnya lahir dari bentuk permainan menggunakan kaki yang dimainkan laki-laki bangsa Arab dan Persia. Dalam bahasa Arab, zapin disebut sebagai al raqh wal zafn. Tari Zapin berkembang di Nusantara bersamaan dengan penyebaran agama Islam yang dibawa pedagang Arab dari Hadramaut.

Tari zapin tertua di Indonesia tercatat ada di Flores, Nusa Tenggara Timur, Ternate dan Ambon, serta rupanya juga berkembang di Pontianak, Kalimantan dengan sebutan Japin. Di Indonesia bagian Barat, tari zapin awalnya dikenal di Jambi baru kemudian tumbuh di Riau dan kepulauan sekitarnya. Di Riau tari zapin awalnya hanya dilakukan penari lelaki dapat mengangkat status sosialnya di masyarakat. Saat itu penarinya akan menjadi incaran para orang tua untuk dijodohkan kepada anak perempuannya.

Zapin mempertontonkan gerak kaki cepat mengikuti hentakan pukulan pada gendang kecil yang disebut marwas. Harmoni ritmik instrumennya semakin merdu dengan alat musik petik gambus. Karena mendapat pengaruh dari Arab, tarian ini memang terasa bersifat edukatif tanpa menghilangkan sisi hiburan. Ada sisipan pesan agama dalam syair lagunya. Biasanya dalam tariannya dikisahkan keseharian hidup masyarakat melayu seperti gerak meniti batang, pinang kotai, pusar belanak dan lainnya. Anda akan melihat gerak pembuka tariannya berupa gerak membentuk huruf alif (huruf bahasa Arab) yang melambangkan keagungan Tuhan.

Gerak dan ritme tari zapin merupakan media utama untuk mengungkapkan ekspresi penarinya. Darinya Anda dapat meresapi pengalaman kehidupan, peristiwa sejarah, dan keadaan alam yang menjadi sumber gerak dalam tari zapin.

Kostum dan tata rias para penari zapin lelaki mengenakan baju kurung cekak musang dan seluar, songket, plekat, kopiah, dan bros. Sementara untuk penari perempuan berupa baju kurung labuh, kain songket, kain samping, selendang tudung manto, anting-anting, kembang goyang, kalung, serta riasan sanggul lipat pandan dan conget.

Tarian ini tumbuh dalam sejarahnya di beberapa tempat seperti Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Selatan, Sumatera Barat (Minang Kabau), Lampung, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Bengkulu, dan Jakarta (Betawi). Nama tari zapin sedikit berbeda di berbagai tempat, seperti di Nusa Tenggara dinamai dana-dani, di Kalimantan bernama jepin, di Sulawesi disebut jippeg, di Jawa dinamakan zafin, di Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu disebut dana, lalu di Maluku bernama jepen, serta di Sumatera dan Riau dinamai zapin.

Kepengurusan MABM Kapuas Hulu Resmi Dilantik

Kepengurusan Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kabupaten Kapuas Hulu periode 2011-2016 resmi dilantik. Lengkap dengan pakaian adat Melayu, sebanyak 145 orang pengurus MABM yang dipimpin Abang Muhammad Nasir sebagai Ketua Umum dilantik langsung oleh Chairil Efendi, Ketua MABM Kalimantan Barat, di Gedung MABM Kapuas Hulu, Senin (10/12/2012).

Pelantikan kepengurusan MABM Kabupaten Kapuas Hulu tersebut bertemakan “ Melayu Bermarwah Di bumi Betuah Hidup Dengan Musyawarah Menjadi Insan Yang Amanah”.

Ketua Umum MABM Provinsi Kalimantan Barat. Chairil Efendi mengaku terharu dan bangga melihat kepengurusan MABM Kapuas Hulu yang dinilai militan. “ Untuk mengumpulkan orang sebanyak ini masuk dalam kepengurusan MABM bukanlah hal yang mudah, saya benar-benar terharu,” ungkapnya.

Oleh karenanya, Chairil Efendi berpesan agar pengurus MABM Kabupaten Kapuas Hulu memperkuat identitas Melayu dan mengembangkannya di Kapuas Hulu dengan menggali kekayaan budaya Melayu, serta potensi yang lainnya dengan tetap melestarikan karifan lokal.

Sementara itu, Abang Muhammad Nasir, Ketua MABM Kapuas Hulu terpilih yang juga sebagai Bupati Kabupaten Kapuas Hulu mengatakan bahwa dirinya merasa yakin dengan kepengurusan yang baru terbentuk, MABM Kapuas Hulu akan lebih berkembang. Untuk itu, Nasir berharap semua pihak terutama kepengurusan MABM, dapat bekerjasama dengan baik serta mengutamakan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan. Serta dapat dijadikan motivasi untuk membangun Bumi Uncak Kapuas yang lebih berprestasi.

Jepin Melayu, Jepin Kipas dan Jepin Bui


Jepin atau Zapin, seni tari dan lagu, bisa menjadi contoh bagaimana proses adaptasi dan akulturasi antara Islam dan budaya lokal tumbuh secara unik. Awalnya, seni ini menjadi alat dakwah para saudagar dari Hadramaut, Yaman, yang menyebarkan Islam di Nusantara pada abad ke-13 Masehi. Sarana syiar agama itu lantas berkembang sebagai kreasi seni penuh variasi.

Salah satu kantong Jepin ada di kawasan Tebas, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, sekitar empat jam dari Pontianak. ”Di Tebas-lah catatan sejarah menyatakan awal mulanya tari Jepin dipentaskan tahun 1928,” kata Juhermi Tahir, seniman tari Melayu.

Sebagaimana di daerah lain, tarian Jepin di kota ini juga bertumpu pada gerak kaki. Diawali dan ditutup salam pembuka, seluruh pentas menampilkan gerak kaki yang diulang-ulang. Dua kaki penari melangkah maju-mundur, ke samping kanan-kiri, kadang juga memutar.

Tarian ini diiringi alat musik gambus, perkusi, dan marwas. Lagu yang didendangkan dalam musik pengiring berupa pantun yang mengangkat kehidupan sehari-hari. Lirik itu diselipi nilai-nilai ajaran Islam.

Ini adalah corak Jepin asli atau tradisi. Seni ini kemudian meluas lewat Sungai Kapuas dan Sungai Kubu dan ”dihanyutkan” hingga ke desa-desa pedalaman. Penyebaran ini membuka kemungkinan pengembangan variasi Jepin yang berbeda dari corak tradisi.

Meski berangkat dari pakem yang sama, yaitu diawali salam pembuka dan diakhiri salam penutup, tarian di tengahnya terus berkembang. Dulu, gerakan kaki seolah melekat di lantai, tak boleh terlalu mengangkang, dan tangan tak boleh terlalu tinggi. Kini, gerakannya lebih bebas.

Di Kalimantan Barat, ada beberapa jenis varian Jepin. Beberapa di antaranya Jepin Melayu, Jepin Arab, dan Jepin Lembut. Nama-nama tari hasil kreasi baru itu menggambarkan penekanan pada tariannya. Jepin Melayu lebih kental dengan corak Melayu. Jepin Arab mengacu kepada tari Arab. Jepin Lembut dibawakan dengan lebih lembut.

Belakangan, Jepin juga dikembangkan sebagai tari dengan alat. Rusmindari Triwati, peneliti budaya Majelis Adat Budaya Melayu, mengatakan, saat ini ada tari Jepin Kipas, yang memanfaatkan kipas sebagai properti tari. Lantas, ada tari Jepin Bui lantaran salah satu penarinya diikat menggunakan tali.

”Tari Jepin tradisi biasanya dimainkan dalam prosesi menjelang hari pernikahan. Pernikahan gaya Melayu biasanya juga memainkan Jepin tradisi ini,” kata Rusmindari.

Berawal dari sarana dakwah, kini tari Jepin telah berkembang menjadi seni tradisi khas Melayu di Kalimantan Barat. (KOMPAS)

Inilah Keraton Kesultanan Melayu di Kalimantan Barat


Berada dalam satu pulau bersama negara tetangga yang masih rumpun Melayu membuat Kalimantan memiliki beberapa bangunan monumental. Di Kalimantan Barat, ada beberapa kompleks keraton yang kental dengan nuansa Melayu. Unik!

Kalimantan Barat punya beberapa bangunan monumental berupa keraton. Ada juga Masjid Jamik yang berada di dalam kompleks keraton tersebut. Warna kuning mendominasi bangunan keraton sehingga nuansa Melayu seperti di Riau sangat terasa.

Beberapa keraton Melayu masih bisa ditemui di sebagian kota di Kalimantan Barat. Kota yang sempat saya kunjungi adalah Pontianak, Sambas, Sintang, dan Ketapang.

Melihat Keraton Melayu di Kota Pontianak sekalian dengan melihat Tugu Khatulistiwa yang berada tidak berapa jauh dari lokasi. Di sebelah komplek Keraton Pontianak ini terdapat Masjid Jamik Sultan Syarif Abdurrahman.

Untuk melihat keraton atau Istana Alwatzikhoebillah beserta Masjid Jamik di Kota Sambas, Anda bisa naik mobil dengan waktu tempuh sekitar 4 sampai 5 jam dari Kota Pontianak dan melewati Kota Singkawang yang bantak terdapat klenteng atau vihara yang unik.

Lalu, untuk melihat Keraton Al Muharramah di Kota Sintang kita mesti menempuh perjalanan dengan berkendara selama 7 sampai 8 jam dari Pontianak. Kota Sintang dan Sambas ini berlawanan arah dari kota Pontianak.

Sedangkan untuk melihat Keraton Panembahan dari Kerajaan Matan di Kota Ketapang kita harus naik pesawat dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Di sekitar Keraton Panembahan ini, saya sudah tak menemukan situs Masjid Jamik milik Kesultanan Matan tersebut. (Detik)

Bujang-Dare Pelopor Budaya


Bujang dan dare harus menjadi pelopor pelestarian budaya dan seni Kabupaten Sambas. Sebab mereka merupakan cikal bakal generasi penerus yang mampu membawa daerah menjadi lebih baik lagi.

Begitu harapan Bupati Sambas dr Hj Juliarti Djuhardi Alwi MPH, saat membuka Festival Bujang Dare 2013, Sabtu (3/2), di Kecamatan Pemangkat. Bupati mengungkapkan, Pemkab Sambas sangat menghargai terlaksananya Festival Bujang Dare Sambas 2013. Kegiatan ini sangat positif dalam menjaga kelestarian budaya Kabupaten Sambas.

“Melalui kegiatan ini diharapkan budaya kita tetap lestari, sehingga para penerus kita ke depan mengenal adat dan budaya yang ada di Kabupaten Sambas,” kata Bupati.

Di tempat yang sama, Ketua Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kabupaten Sambas Ir H Burhanuddin A Rasyid juga mengapresiasi terlaksananya Festival Bujang Dare. “Kegiatan ini merupakan salah satu upaya melestarikan kebudayaan Sambas. Jika terus dikembangkan, generasi muda ke depan lebih mencintai budaya sendiri. Maka tak akan lekang budaya Melayu tergerus zaman,” harapnya. (Rakyat Kalbar)

Chairil: Rendahnya IPM Kalbar Masalah Serius

Ketua Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalbar Chairil Efendi menilai, rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kalbar, adalah persoalan serius yang perlu mendapat penanganan prioritas. Saat ini IPM Kalbar terpuruk di urutan 28 dari 34 propinsi se Indonesia.

“Oleh karena itu, Gubernur & Wakil gubernur Kalbar Cornelis–Christiandy Sandjaya di periode kedua mereka memimpin Kalbar, perlu segera mencari solusi konkret untuk mengatasi masalah tersebut, ” ujar Chairil usai silaturrahmi KAHMI Kalbar di Rumah Adat Melayu, Rabu (16/1) siang.

Menurutnya, salah satu bidang yang perlu mendapat perhatian adalah pendidikan, karena menjadi 1 dari 3 indikator penilaian IPM. “Pembenahan bidang pendidikan harus menyeluruh. Bukan hanya terbatas pada penyediaan sarana dan prasarana, tetapi juga peningkatan kualitas tenaga pengajar, terutama di wilayah pedalaman,” tegasnya. (RRI)

MABM Singkawang Ajak Sukseskan Cap Go Meh 2013


MABM Kota Singkawang memberikan apresiasi dan menyambut baik kegiatan Cap Go Meh yang diadakan setiap tahun di Kota Singkawang. Ketua Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kota Singkawang, Edy R Yacoub mengatakan, Cap Go Meh merupakan event daerah meskipun kegiatannya dilaksanakan dalam rangka perayaan Imlek 2564 oleh masyarakat Tionghoa. “Kegiatannya adalah event daerah yang sudah cukup dikenal masyarakat. Oleh karena itu, dari semua lapisan masyarakat, termasuk MABM Kota Singkawang memberikan apresiasi yang baik dan kepada masyarakat diimbau turut menjaga hubungan harmonis,” ujarnya kepada Tribun, Rabu (20/2).

Edy menambahkan, kegiatan Cap Go Meh berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat maka menjadi keharusan semua masyarakat menjaga situasi Kota Singkawang agar tercipta kondisi yang lebih kondusif.

Dampak positif lainnya, akan memberikan satu ruang promosi di bidang pariwisata sehingga orang-orang dapat berkunjung ke Kota Singkawang, baik wisatawan lokal maupun wisatawan dari manca negara.

Menurut Edy, kunjungan yang meningkat akan berdampak secara ekonomi. Di antaranya memberikan peluang terhadap sektor-sektor yang informal dan usaha, seperti meningkatkan omzet pendapatan perhotelan dan penginapan atau home stay, rumah makan, dan Pedagang Kaki Lima (PKL) serta masih banyak usaha lainnya, termasuk usaha kerajinan.