Ketika Produk Anyaman Tradisional Diganti Produk Plastik

Oleh Adrianus Andika R.

Anyaman yang dibuat suku Dayak menunjukkan tingginya selera seni dalam darah mereka.

MABMonline.org, Pontianak-Masyarakat Kalimantan Barat dikenal sebagai pulau multi kultur. Banyak etnis mendiami pulau ini dengan segala ciri khas seni budayanya. salah satunya adalah seni menganyam Suku Dayak. Suku Dayak terkenal dengan kebudayaan seni anyamannya.

Tantata anyaman adalah pengetahuan Suku Dayak dalam hal anyam-menganyam. Bahan-bahan anyaman umumnya berasal dari beberapa jenis rotan, buluh, batukng (jenis jenis bambu), bomatn, daun kelapa dan berbagai jenis kajakng (pandan).

Seni Menganyam Suku Dayak sudah tidak dapat diragukan lagi, bahkan alas tidur atau tikar yang mereka pakai sehari-hari adalah hasil anyaman mereka sendiri. Bido (bahasa Dayak bakatik) adalah sebutan dari tikar anyam  yang berfungsi sebagi alas tidur mereka. Bahan dasar anyamannya adalah daun pandan hutan yang telah dijemur dahulu. Selain dibuat tikar mereka juga membuat topi khas yang biasa dipakai para laki-laki. Untuk bahan bakunya, para laki-laki yang bertugas mencari di dalam hutan, sedangkan para perempuan  bertugas mengayamnya di rumah.

Dalam kegiatan anyam-menganyam ini keahlian dan kepandaian tidak terbatas pada kaum wanita saja, kaum priapun memiliki keahliannya sendiri. Kepandaian mereka (para orang tua) diwariskan juga kepada anak-anaknya sehingga kita boleh menyaksikan betapa banyak para remaja yang mahir melakukan pekerjaan tradisi ini. Soal hasil tak perlu diragukan, kualitasnya bernilai seni yang sangat tinggi.

Seiring perkembangan jaman, anyaman tidak hanya tikar dan topi saja tetapi bahkan lebih dari itu. Anyaman ini kini telah banyak bentuknya, misalnya tas, dompet, tempat pensil bahkan hiasan dinding. tentu saja telah dimodifikasi sedemikian rupa dengan pewarnaan yang membuat produk ini semakin menarik.

Selain untuk keperluan sendiri, mereka juga menjual hasil anyaman sebagai tambahan pencaharian. Dalam hal jual-menjual ini, mereka masih sangat awam artinya soal pemasaran terhadap hasil kerajinan berupa anyaman tersebut belum menjadi prioritas.

Tetapi kini sungguh disayangkan kebudayaan warisan nenek moyang yang telah beratus-ratus tahun keberadaanya sudah tergerus jaman. Sudah tidak banyak suku dayak yang masih menggeluti kesenian ini. Tingkat kerumitan dalam pembuatan serta kesulitan memperoleh bahan mentahnya menjadi pendukung kepunahan seni anyaman.

Hambatan lainya adalah segi kepraktisan. Mereka lebih memilih produk plastik yang ringkas tinggal membeli tanpa membuat. Produk praktis yang menjamur di pasaran lebih mudah diperoleh dan tingkat harganya lebih murah.

Namun demikian, anyaman yang dibuat Suku Dayak dengan tingkat kerumitan yang tinggi menunjukkan tingginnya juga  selera seni dalam darah mereka.

Anyaman yang merupakan tradisi Suku Dayak sejak jaman dahulu memiliki nilai tinggi, sehingga sudah sepatutnya dilestarikan.

Seni yang memiliki nilai tinggi ini perlu diperkenalkan kepada generasi muda, supaya tetap terlestarikan. Diajarkan kepada generasi muda bagaimana cara menganyam dengan teknik-teknik tertentu.

Tetapi tidak hanya melestarikan seni anyamannya, yang tidak kalah pentingnya juga adalah bagaimana menyediakan bahan baku anyaman tersebut. Agar mudah diperoleh bahan baku anyamanya, maka hal yang paling tepat dilakukan adalah menanam bahan bakunya.

 

Patok Pontianak Nol Kilometer

Penulis Ahmad Sofian dz

Cuaca sangat cerah siang kemarin. Setelah melihat festival titik kulminasi di kawasan Tugu Khatulistiwa, kami pun singgah ke Pasar Siantan. Bukan maksud untuk menyantap makan siang, berbelanja di pasar tradisional atau bersantai di salah satu warung kopi, namun, Patok Nol Kilometer Kota Pontianak yang sekarang ini kami tuju.

patok nol pontianakPontianak–Patok  setinggi 1,26 meter dengan diameter 27 cm. Berbentuk empat persegi panjang. Ada tiga bagian bentuk patok  yang terbuat dari batu cor ini. Bentuk bagian yang pertama, yang paling atas, setinggi 29 cm, mengarah ke arah utara  dan terdapat tulisan PTK O. Bagian kedua, setinggi 62 cm, terdapat dua sisi muka. Masing-masing dengan ukuran yang lebih kecil. Sisi yang mengarah ke timur laut bertuliskan PTK O, yang berarti menunjukkan titik Nol kilometer Kota Pontianak. Sisi satunya, yang mengarah ke barat laut  terdapat tulisan MPW 67, yang  berarti  jarak dari patok ini  ke kota Mempawah sejauh 67 km. Bagian yang ketiga, bagian paling bawah dari patok, berbentuk empat persegi panjang sama sisi. Setinggi 32 cm dengan panjang masing-masing sisi 62 cm.

Fungsi dari patok ini adalah untuk penanda jarak antarkota. Dari titik inilah jarak antarkota ditentukan, sehingga tentunya keberadaan patok ini jangan berubah, karena jika sampai  patoknya berubah. Maka dapat dipastikan jarak antarsuatu kota juga akan berubah. Patok Nol Kilometer Pontianak ini adalah penanda awal pembuatan jalan Pontianak–Sambas pada akhir abad ke-19. Jalan dan patok ini  menjadi sangat bernilai sejarah, karena inilah jalan pertama yang dibuat pemerintah Kolonial Hindia Belanda di Borneo Barat.

Berada di Kelurahan Siantan Tengah, Kecamatan Pontianak Utara. Terletak di Pasar Siantan tak  jauh dari Steigher dermaga feri penyeberangan Siantan. Jika kita menggunakan kapal feri penyeberangan dari arah Taman Alun Kapuas, posisi patok ini berada di sebelah kanan Steigher dermaga. Tempatnya tak seberapa jauh dari gapura berwarna biru, dekat sebuah warung kelontong dan jika kita dari arah Pasar Siantan, patok ini berada di sebelah kiri.

Titik Koordinat : -0:1:9.46009  109:20:32.4852

[tulisan ini juga dimuat di Harian Borneo Tribune, pada hari Selasa, 23 Oktober 2012]

Sepak Bola Dalam Cultural Studies

Oleh Amad Asma dz

Kaos berwarna putih dengan tiga garis hitam di pundak. Masih terlihat baru kaos itu. Dikenakan oleh seorang pemuda kira-kira berusia 20-an tahun. Ia dan beberapa kawannya duduk melingkari meja di sebuah warung kopi di bilangan Gajah Mada, Pontianak. Salah seorang di antaranya mengenakan kaos putih yang sama. Seorang lainnya mengenakan kaos tim Spanyol berwarna merah. Ada juga lainnya mengenakan kaos tim Barca yang berwarna biru-merah.

Ketika kickoff dimulai, perhatian dunia seolah akan dipetakan dalam sepetak lapangan hijau berukuran 120 x 75 meter. Dan kita disuguhkan serangkaian drama pertandingan olahraga bernama sepak bola. Sepasang mata dari berjuta kepala akan tertuju pada perebutan kulit bundar oleh dua team dari masing-masing sebelas orang selama 90 menit. Untuk satu tujuan, membuat gol.

Dan siapa yang mengira, dari zaman dulo-dulo’, ketika buntalan dari kain linen berbentuk bulat yang ditendang oleh masyarakat Mesir Kuno kini menjadi olahraga yang begitu di gandrungi. Bill Muray, seorang sejarahwan sepakbola, dalam bukunya The World Game: A History of Soccer , mengatakan, masyarakat Mesir Kuno sudah mengenal teknik membawa dan menendang bola yang terbuat dari buntalan kain linen itu.

Dalam sejarah lain tercatat, olahraga sepak bola dimulai sejak abad ke-2 dan -3 sebelum masehi pada masa dinasti Han di Cina. Dimana masyarakat menggiring bola kulit dengan menendangnya ke jaring kecil. Di Jepang, masyarakat juga memainkannya, mereka menyebutnya Kemari. Di belahan Eropa olahraga ini juga di gemari dan kemudian berkembang menjadi sepak bola modern. Bahkan tahun 1365, olahraga ini pernah dilarang oleh Raja Edward III karena menimbulkan banyak kekerasan selama pertandingan.

Revolusi kelahiran sepak bola modern sendiri tak bisa terlepas dari Freemasons Tavern, suatu wilayah di daratan Inggris. Ketika pada tahun 1863, 11 sekolah dan klub berkumpul, merumuskan aturan baku untuk permainan tersebut. Aturan baku dan segala yang berkenaan dengannya itulah yang kemudian terus berkembang hingga kini. Dan kita menyebutnya sekarang sebagai Fair Play. Antonio Gramsci, seorang filsuf asal Sardinia, Italia pernah mengatakan, sepak bola merupakan model masyarakat individualistik yang membutuhkan prakarsa, kompetisi, dan konflik. Tetapi, segalanya diatur oleh peraturan yaitu.

Sekarang, 12 tahun sudah memasuki abad ke-21, olahraga ini telah dimainkan oleh lebih dari 250 juta orang di lebih dari 200 negara. Sepak bola telah massif ditahbiskan sebagai olahraga paling populer di dunia dan paling banyak di pertandingan.
Seiring perjalanan waktu, sepak bola bukan lagi sekadar olahraga. Semangatnya telah melampaui sepetak lapangan hijau bahkan gemanya telah melampaui dinding stadion, negara bahkan geografis. Sepak bola sekarang ini sudah menjelma menjadi sebuah fenomena yang kompleks. Sudah menjadi ‘sebuah ritual’ kata Claude Levi Strauss, “religion global” kata Sepak Bola dan Kajian Budaya (Cultural Studies)

Sepak bola dan cultural studies merupakan dua hal yang berbeda. Sepak bola adalah olahraga permainan yang menggunakan bola dan dimainkan oleh dua tim yang masing-masing beranggotakan sebelas orang. Dimainkan dalam lapangan yang berbentuk persegi panjang, di atas rumput selama 90 menit.

Sedangkan Kajian Budaya (Cultural Studies) adalah menyajikan bentuk kritis atas definisi budaya yang mengarah pada proses kehidupan sehari-hari manusia dalam skala umum, mulai dari tindakan hingga cara berpikir. “the complex everyday world we all encounter and through which all move” kata Edgar (1999).

Sasarannya bukan sekedar mengacu ada realitas yang tampak saja, melainkan juga mengacu pada pemahaman ’vestehen’. Di mana sesuatu yang biasa (keseharian) diungkap, diteliti, ditulis ulang dalam relasi sosial politik dan benturan kultural. Meminjam istilah dari Bennet, culture disini dapat digunakan sebagai payung istilah (umbrella term) yang merujuk pada semua aktivitas dan praktek-praktek yang menghasilkan pemahaman (sense) atau makna (meaning). Sampai pada bagian inilah perbincangan sepak bola menjadi menarik. Untuk melihat bagaimana relasi-relasi dan kajian budaya itu sampai pada sepak bola sebagai olahraga yang berkembang dan menjadi fenomena realitas. Tak terkecuali di Pontianak.

Ada beberapa point menarik terkait dengan sepak bola dan cultural studies dalam lingkup ini: Pertama, sepak bola bukan lagi sekadar olahraga permainan. Melainkan telah menjadi sebuah dunia unik yang memiliki sejarah, hukum, aturan dan budaya. Karena itu, ia sudah menjadi subyek bukan lagi sekedar obyek kajian yang bisa disentuh dari berbagai sudut pandang disiplin ilmu, kajian dengan berbagai perspektif serta pendekatan. Kedua, sepak bola sebagai permainan populer dan budaya populer. Ketiga, sepak bola telah menjadi kekuatan global. Dalam bukunya How Soccer Explains the World: An UnLikely Theory of Globalization (2004), Franklin Poer salah satunya mengatakan bahwa sepak bola yang mencerminkan kekuatan global, politik dan juga budaya. Meski tak sepenuhnya mewakili kehidupan nyata, tetapi dunia secara sederhana bisa disimpulkan serupa lapangan bola.

Memahami Dunia Lewat Sepak Bola, seakan-akan, “dunia” ini memang mirip dengan lapangan sepak bola katanya. Di tengah lapangan, siapa yang tidak mematuhi hukum serta aturan, pastilah akan dikenai “sanksi”. Ada nilai, moral dan hukum yang mengikat untuk dipatuhi setiap pemain, pelatih, penggemar dan negara peserta.

Sepak bola, Bisnis dan Globalisasi
Walaupun pada ujungnya permainan sepak bola itu perihal tim mana yang paling banyak membuat gol, soal kalah dan menang. Eduardo Galeano, seorang jurnalis sepakbola pernah menyebut bahwa “football is a working class sport”. Tak berlebihan jika kemudian sepak bola sebagai olahraga populer juga merupakan salah satu bentuk budaya populer. Pengistilah “populer” mengacu pada permainan yang “produced by the people, returns to the people, like ‘folk music’, in the form of spectacles produced for the people” (Bourdieu, 1993).

Karakter di atas membuat sepakbola sebagai tontonan yang menampilkan sesuatu untuk menarik massa sebanyak-banyaknya. Pertandingan sepakbola bukan lagi sekedar hanya permainan, tetapi juga sekumpulan aspek-aspek yang menjadikannya seperti sebuah drama. Emosi penonton, pendukung tidak hanya dibangun dengan kesamaan geografis dan keterikatan asal tetapi juga faktor-faktor lain. Semisal pencitraan akan pemain, gaya bermain, sebelum-sesudah bermain, apa yang di pakai, juga cara bermain. Latar belakang pembentukkan pemain, tim, hingga filosofi bermain seolah menjadi satu kesatuan komoditas.

Sepakbola modern akhirnya erat dengan aspek-aspek politik, ekonomi, budaya yang menyertainya. Ini tak lagi terbantahkan. Mengapa demikian? Jumlah keterlibatan pihak yang begitu banyak membuat sepakbola sekarang ini tidak bisa lepas dari aspek ekonomi (baca bisnis_red). Setidaknya kita dapat melihat beberapa kriteria yang sekarang melekat di sepak bola akan hal ini. Pertama, populer; kedua, pangsa pasar yang jelas dan besar. ketiga, pertumbuhan kelas menengah yang memiliki waktu, uang, transportasi dan koneksi media; keempat, dekat dengan masyarakat yang mengikuti gaya hidup yang mengutamakan konsumsi dan simbol status materi.(Jay Coakley, 2001, Sport in Society: Issues and Controversies). Kecerdikan para pebisnis dan kemajuan teknologilah kemudian disatu sisi yang membawa sepak bola ke seluruh dunia, termasuk di Indonesia dan meresap sampai ke Pontianak.

Mungkin benar adanya pendapat, dunia tidak akan seru jika tak ada sepak bola. Perhelatan Piala Eropa 8 juni sampai 1 juli tahun lalu dan kini semifinal Liga Champions Eropa menjadi penguatan sintesa akan hal itu. Ia hadir di hadapan kita melalui siaran TV. Dan sebagian dari kita menyaksikannya dengan penuh semangat, bareng-bareng nonton di ruang bersama, dengan atribut yang sama. Seolah kita bagian dari mereka, dengan menampilkan membagi antusias, semangat dan bahkan gaya yang sama. Mendukung tim kesayangan, menggunakan kaos, atribut tim sebagai penanda (identitas). Dukungan nonton bareng di ruang-ruang bersama selain sebagai penyaluran adrenalin menyaksikan pertandingan. Juga seolah sebagai justifikasi bahwa kita adalah juga seperti mereka. Datang ke stadion atau datang ke pub-café-warung kopi-tempat nonton bareng dengan atribut sepak bola. Untuk menjadi seperti kebanyakan warga dunia yang sedang menikmati pesta dari sebuah nama ‘SEPAK BOLA’. Sepertinya juga kita tidak harus jadi penggemar sepakbola untuk ikut pesta ini . Yang penting semangatnya.

Tulisan ini mungkin akan sedikit tidak biasa dalam konstruksi tulisan olahraga maupun sosial. Namun, setidaknya memberikan satu sisi lain bahwa sepak bola ternyata tidak hanya seputar lapangan, pemain, suporter dll. Tapi lebih jauh, bahwa ia bisa dilihat dari sudut pandang ekonomi, ras, budaya, gaya hidup (life style), nasionalisme, bahkan Filsafat. Dan empat anak muda di warung kopi dibilangan jalan gajah mada diatas semoga sebagai sebuah manifestasi identitas yang akan positif. Bahwa suatu saat kaos timnas sepakbola yang dikenakannya akan ada merah putihnya. Mudah-mudahan tidak berlebihan, jika nampaknya kita semua rindu ‘lagi’ untuk sebuah moment menggenakan kaos bola dengan lambang garuda di dada. Sambil menyaksikan timnas kita berlaga, untuk menang dan menjadi bangga. Bukan sebaliknya. Semoga’

[ahmad s dz. sewaktu aktif bermain sepak bola menempati posisi sayap/gelandang kiri. Pernah menjadi angggota PS FISIP Untan]

Solidaritas dan Ketahanan Hidup

Oleh: Ismail Ruslan

MABMonline–Solidaritas merupakan ikatan persaudaraan yang terbentuk atas dasar kesamaan budaya, kebiasaan dan norma serta agama yang disepakati dan ditaati sebagai pedoman hidup bersama. Bagi sebagian orang, rasa kebersamaan merupakan modal sosial yang dapat mempererat solidaritas yang didasarkan pada argumentasi bahwa anggota masyarakat lebih baik melakukan kerjasama dengan anggota masyarakat lainnya, karena modal sosial tersebut dapat memecahkan masalah yang dihadapi bersama dengan lebih mudah (Gede, 2009).

Nilai-nilai yang bersumber dari keagamaan dan tradisi merupakan modal sosial yang dimiliki dan menjadi perekat dan memperkuat solidaritas, termasuk di dalam ekonomi. Solidaritas yang kokoh terbangun selalu didasarkan atas persamaan dan kesetaraan, mengutip istilah Durkheim solidaritas seperti ini disebut solidaritas mekanik yang selalu dijumpai pada masyarakat yang masih sederhana yang dinamakan masyarakat segmental.

Pada masyarakat mekanik belum terdapat pembagian kerja yang spesifik. Dengan demikian tidak terdapat saling ketergantungan antara kelompok berbeda, karena masing-masing kelompok dapat memenuhi kebutuhanya sendiri dan masing-masing kelompok pun terpisah satu dengan yang lain.

Tipe solidaritas yang didasarkan atas kepercayaan dan setiakawan ini diikat oleh apa yang oleh Durkheim dinamakan conscience collective yaitu suatu sistem kepercayaan dan perasaan yang menyebar merata pada semua anggota masyarakat. Pembagian kerja pada kelompok masyarakat dapat berkembang dari solidaritas mekanik berubah menjadi solidaritas organik (Paul, 1994). Solidaritas mekanik akan tetap ada dan  kuat terjalin diwujudkan dengan selalu mempertahankan tradisi, kepercayaan sebagai modal sosial dan kebiasaan yang hidup hingga saat ini. Misalnya, upacara adat budaya yang masih hidup pada masyarakat.

Misalnya, upacara Menyambut kelahiran anak. Upacara ini dilaksanakan oleh dalam rangka menyambut anak yang akan lahir yang dilaksanakan dalam bentuk perayaan bersama keluarga besar dari kedua orang tuanya dan mengundang tetangga dan handai tolan. Dalam masyarakat ini  perayaan dilaksanakan pada waktu usia kandungan 7 bulan yang diiringi dengan do’a selamat dari pemuka agama atau masyarakat.

Contoh lainnya, upacara memotong rambut bayi. Upacara ini dilaksanakan setelah bayi dilahirkan dengan tidak ditentukan waktunya (usia bayinya). Aktivitasnya  selalu dirangkaikan dengan aqiqah yaiatu perintah agama Islam terhadap orang tua untuk menyembelih 2 ekor kambing bagi anak laki-laki dan 1 ekor kambing untuk anak perempuan.

Upacara Khitanan. Khitanan adalah memotong kulit yang memotong kepala penis bagi anak laki-laki yang tidak dibatasi waktunya. Dalam tradisi masyarakat biasanya dilaksanakan pada rentang usia anak 10-12 tahun (sejak masuk hingga tamat Sekolah Dasar).

Perkawinan adat. Dalam perkawinan adat dikenal rumit karena banyaknya tahapan yang akan dilalui. Kerumitan itu muncul karena perkawinan dipandangan harus mendapatkan restu kedua orang tua serta harus mendapatkan pengakuan resmi dari masyarakat. Meski tidak termasuk dalam rukun pernikahan, upacara-upacara yang berhubungan dengan aspek sosial-kemasyarakatan menjadi penting karena di dalamnya juga terkandung makna bagaimana mewartakan berita perkawinan tersebut kepada khalayak ramai. Dalam adat perkawinan, rangkaian upacara perkawinan secara rinci dan tersusun rapi. Hanya saja memang ada sejumlah tradisi atau upacara yang dipraktikkan secara berbeda-beda di sejumlah daerah dalam wilayah geo-budaya (http://id.wikipedia.org, 28/6/2007).

Upacara Kematian. Peristiwa kematian adalah proses perpindahan seseorang dari alam dunia ke alam barzah (akhirat).  Wajib bagi kaum muslimin yang ditinggal untuk mengurus jenazah almarhum seperti memandikan, mengkafani, mensholatkan dan memakamkan. Setelah proses itu selesai, kegiatan dilanjutkan dengan mengirim do’a kepada almarhum dalam bentuk aktivitas tahlilan dalam waktu yang ditentukan 1-3, 7, 14, 40 dan 100 hari  serta 1 tahunan. Maksud dan tujuan dari upacara tahlil ini adalah memohon kepada Allah agar dapat meringankan siksaan terhadap hambanya yang baru saja meninggal khususnya, semua umat Islam umumnya.  Namun dalam masyarakat terdapat perbedaan pendapat dalam perayaan ini, ada yang menilai ini sunnah dilaksanakan dan ada juga yang melarangnya karena dinilai bid’ah (aktivitas ibadah yang tidak pernah diperintahkan oleh nabi Muhammad saw).

Dalam kontek sosial, perayaan-perayaan keagamaan yang tetap dipertahankan oleh sebagian masyarakat di nusantara termasuk di Kota Pontianak dapat dimaknai tidak hanya sebagai  ketundukan dan keinginan untuk menjalankan “tradisi Islam”.
Lebih dari itu, pengakuan dan konsistensi dalam menjalankan tradisi tersebut merupakan wujud kuatnya ikatan, kebersamaan sesama kelompok. Semakin rutin pelaksanaan tradisi di dalam masyarakat menunjukkan eksistensi dan kuatnya solidaritas di dalam masyarakat tersebut.

Praktek “budaya Islam” yang dilakukan masyarakat merupakan wujud sistem terintegrasi di masyarakat yang berkaitan dengan nilai, kepercayaan, prilaku dan artefak. Dalam perjalanan sejarah manusia, kebudayaan inilah yang membedakan antara manusia dengan komunitas yang satu dengan yang lainnya.

Kebudayaan yang masih hidup dan selalu dilestarikan tersebut menunjukkan bahwa setiap masyarakat pasti memiliki pandangan hidupnya sendiri-sendiri. Pandangan hidup adalah konsep atau cara pandang manusia yang bersifat mendasar tentang diri dan dunianya yang menjadi panduan untuk meraih kehidupan yang lebih bermakna. Wallahu A’lam.

Membaca Harus Jadi Kebutuhan Utama

Penulis Sabhan Rasyid

MABMonline.org, Pontianak– Pada hakikatnya manusia diciptakan Tuhan memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Pemerolehan kemampuan tersebut tentunya melalui tahapan-tahapan yang berproses. Dalam pemerolehan bahasa misalnya, manusia akan melalui tahap menyimak, berbicara, membaca, dan menulis sebagai sebuah rangkaian yang hierarkis. Pemerolehan tersebut ada yang terjadi secara alamiah dan ada yang membutuhkan perencanaan dan pelaksanaan yang terstruktur.

Membaca sebagai satu di antara fase pemerolehan bahasa dan informasi tentu memiliki kebermanfaatan yang sangat baik bagi manusia. Membaca akan membuat manusia menjadi pribadi yang memiliki wawasan luas dan merata. Manfaat lain dari membaca adalah manusia tidak akan memerlukan pengorbanan yang begitu banyak untuk mendapatkan sebuah pengalaman  yang hampir mendekati nyata.

Harry S. Truman, seorang mantan Presiden Amerika Serikat mengatakan bahwa tidak setiap kutu buku adalah pemimpin, namun setiap pemimpin pasti kutu buku. Pernyataan mantan Presiden ke-33 Amerika Serikat tersebut bisa diambil sebuah pelajaran bahwa seorang yang telah menjadi pemimpin pun masih saja menjadi orang yang gemar membaca, apalagi kita yang masih bercita-cita menjadi pemimpin.
Tidak ada orang pintar yang menjadi pintar tanpa membaca. Saya memiliki seorang dosen yang sangat kutu buku. Sangat mudah berdiskusi dengan dosen tersebut karena hampir semua hal ia ketahui lewat membaca. Kebutuhan manusia akan informasi seharusnya dapat memaksa manusia itu untuk terus bisa meluangkan waktu untuk membaca sebagai cara menambah informasi.

Membaca di zaman globalisasi ini tidaklah lagi bersifat kaku. Manusia dapat memanfaatkan media-media cetak, elektronik, kain rentang, bahkan info-info dari leaflet yang sering disebarkan di jalanan. Keberadaan sarana untuk membaca tersebut haruslah dapat dimanfaatkan secara maksimum untuk mendapatkan sebuah pengetahuan yang luas.

Sejarah membuktikan bahwa penulis yang baik pasti merupakan pembaca yang baik pula. Kebiasaan membaca yang baik akan membawa manusia untuk menjadi penulis sejati yang berkualitas. Membaca juga mengajarkan kita untuk jujur dalam memaknai setiap kata yang kita hadapi sehingga ketika menulis, kita juga akan menjadi penulis yang jujur dan bermartabat.

CSR Bukan Sekedar Sedekah

Oleh: Ismail Ruslan

Pada tulisan terdahulu, saya sudah mengdeskripsikan pentingnya Perda tentang CSR (Corporate Social Responsibility) yang akan dirumuskan oleh DPRD Provinsi Kalimantan Barat. Tulisan berikut sebagai ikhtiar untuk melengkapi analisis tentang CSR dalam perspektif yang berbeda.
“Masyarakat awam” yang pernah menerima bantuan dari perusahaan, BUMD atau Perbankan bersumber dari dana CSR, tidak semua mengerti, memahami  apakah dana yang diperoleh adalah dana CSR. Bagi masyarakat,  bantuan yang diberikan hanya didifahami, terjemahkan sebagai “shadaqah (charity) dari institusi yang peduli kepada “penderitaan” mereka. Bentuknya bantuan tersebut bermacam-macam, ada yang diwujudkan dengan format sunnatan masal, kawin masal, pembagian bingkisan kepada masyarakat miskin dan rumah ibadah dan lainnya.
Masyarakat pasti akan berterima kasih atas bantuan tersebut. Namun apakah perusahaan, BUMD dan Perbankan mengerti dan memahami bahwa dana CSR bukan hanya sebagai “oase” di tengah gurun, hanya sesat, setelah itu masyarakat kembali kepada kondisi semula. Bantuan itu hanya mengobati sesat penderitaan mereka, masih dan terus berlanjut.

CSR bukan Sedekah
CSR merupakan komitmen yang berkesinambungan dari kalangan bisnis, untuk berperilaku secara etis dan memberi kontribusi bagi perkembangan ekonomi masyarakat.Program-program CSR sejatinya untuk meningkatkan kualitas kehidupan dari karyawan dan keluarganya, serta komunitas lokal dan masyarakat luas pada umumnya.
Maka, jika ada yang mengartikan CSR sebagai sedakah (charity), sesungguhnya telah terjadi kekeliruan dalam pemaknaan. CSR bukan diartikan sebagai sedekah (charity) yang biasanya tanpa turut memikirkan bagaimana agar yang diberi sedekah dapat meningkat kehidupannya. Dalam kontek sedekah biasanya pemberi hanya berpamrih pada perolehan pahala dari Tuhan (Santoso, 2009).
Dalam konteks sosiologi ekonomi, apa yang diterima masyarakat dan apa yang mereka artikan tentang CSR tidak serta merta “kesalahan” mereka. Format bantuan dana CSR yang selama ini diberikan, disalurkan oleh institusi yang memiliki kewajiban bukan formal CSR yang ideal. Karena CSR merupakan tanggung jawab untuk memberdayakan masyarakat, member pancing bukan ikan.
Nur Aryani (2003) mengemukakan CSR lahir dari desakan masyarakat atas perilaku perusahaan yang mengabaikan tanggungjawab sosial seperti perusakan lingkungan, eksploitasi sumberdaya alam, ngemplang pajak dan menindas buruh. Pendeknya, perusahaan berdiri secara diametral dengan kehidupan sosial. Kesan perusahaan, terutama pemilik modal lebih menampakkan wajah yang a-sosial. Biasanya orang mengatakan pelit, tertutup, mau untungnya saja, menghalalkan segala cara dan tidak punya hati kepada karyawan. Ini kenyataan bahwa kaum kapitalis memang tegak berdiri diatas derita banyak orang.
Para ahli ilmu sosial memprediksi konflik di Indonesia (khususnya di Kalimantan barat) tidak hanya disebabkan oleh persoalan primordialisme, persoalan lahan akan menjadi akar dan sumber baru.

Pada tahun 2012, beberapa media mencatat telah terjadi Konflik Sengketa Lahan Warga dengan beberapa perusahaan. Misalnya konflik lahan antara warga Kelurahan Anjungan vs PT PSP (sumber: Tribun 19 September 2012). Kedua, sengketa lahan di desa seruat Dua (Kubu Raya) vs PT Sintang Raya (SR) tentang hutan adat 700 H dari 900 H diserobot (sumber: Kompas, 28 Mei 2012).
Fakta ini mengingatkan kepada stakeholder di semua level bahwa selain memperoleh keuntungan perusahaan juga memiliki tanggung jawab sosial (Social Responsibility). “Kemarahan” warga tidak serta merta diterjemahkan sebagai “kebencian” kepada perusahaan. Apalagi menggunakan paradigma Orde Baru, subversif. Setiap kemarahan adalah pembangkangan, dan setiap pembangkangan adalah hambatan dan harus dimusnahkan, ditangkap, disingkirkan.
Dalam Perspektif sosiologi, kemarahan warga tidak muncul begitu saja, pasti memiliki akar. Respon tersebut muncul karena perusahaan “tidak hadir” di tengah  kegelisahan warga.
Masyarakat Indonesia dikenal dunia dengan kesantunan, keramah tamahannya. Namun di tengah himpitan dan ketidakpedulian, membuat setiap orang akan bereaksi. “Semutpun jika dipijak akan menggigit”.
Elkington (1997), merumuskan Triple Bottom Line (TBL) atau tiga fokus utama perusahaan dalam beroperasi, yaitu manusia dan masyarakat, ekonomi, dan lingkungan. TBL ini juga sering dikenal dengan 3P yakni people, profit dan planet. Ketiga hal ini berkaitan satu dengan yang lain. Masyarakat tergantung pada ekonomi, dan ekonomi tergantung pada masyarakat dan lingkungan bahkan ekosistem global. Ketiga komponen TBL ini tidak stabil melainkan dinamik tergantung kondisi dan tekanan sosial, politik, ekonomi dan lingkungan serta kemungkinan konflik kepentingan (Santoso, 2009).
Pemikiran Elkington merupakan peringatan, bahwa eksplorasi hutan, tambang atau sumber daya alam lainnya bukan hanya persoalan  mengambil keuntungan materi saja, namun juga tetap melestarikan lingkungan (planet) dan memperhatikan kehidupan ekonomi warganya.
Salah satu faktor eksternal konflik di Aceh disebabkan oleh eksploytasi sumber daya alam yang dilakukan dengan kekerasan dan ketidakpedulian Industri mobil Oil Indonesia di bawah  Manajemen PT Arun. Kondisinya lebih menyedihkan bagi masyarakat sekitar, karena ia menjadi entitas ‘”yang terlepas”  sama sekali dengan masyarakat sekitarnya.
Konflik di tempat lain dan di bumi khatulistiwa akhir-akhir ini, memberikan pelajaran bagi pimpinan perusahaan-perusahaan di Kalimantan Barat bahwa dibalik keuntungan sesungguhnya ada hak orang lain yang juga harus diberikan.
Secara implisit pasal 33 UUD 45 menjelaskan bahwa; bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan diperuntukkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Lingkungan yang dimaksudkan adalah bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya, profit adalah kemakmuran yang diharapkan, dan rakyat adalah komponen masyarakat. Dengan demikian maka pengelolaan sumberdaya alam Indonesia seharusnya ditujukan untuk peningkatan kualitas manusia dan lingkungannya.
Perusahaan harus berbesar hati, sebagai pelaku bisnis, tidak akan bisa terus berkembang, jika menutup mata atau tidak mau tahu dengan situasi dan kondisi lingkungan sosial tempat ia hidup.Wallahu A’lam………….

Pentingnya PERDA “CSR”

Oleh: Ismail Ruslan

Masyarakat Kalimantan Barat sejatinya memberikan apresiasi kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)Kalimantan Barat (Komisi B) sedang menyusun Rancangan Peraturan Daerah (Perda) tentang Corporate Social Responsibility (CSR).  Upaya ini sebagai  ikhtiar untuk memformulasikan aturan normative sebagai payung hukum pemberlakuan CSR di Kalimantan Barat.
Dari sisi waktu inisiatif ini agak “terlambat”. Pemerintah Pusat sebagai stakeholder justru sudah merespon keinginan masyarakat  sejak tahun 2007, dengan melahirkan Undang-Undang No. 40 dan telah disyahkan oleh DPR tanggal 20 Juli 2007. UU ini mengharuskan perusahaan yang bergerak dalam pengolahan atau berkaitan dengan sumberdaya alam untuk melakukan CSR. Pasal 74 UU tersebut berbunyi :
1) Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan atau berkaitan dengan sumberdaya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
2) Tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kewajiban perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.
3) Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tanggungjawab sosial dan lingkungan diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Undang-undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal juga menegaskan dalam pasal 15 huruf b berbunyi; setiap penanam modal berkewajiban melaksanakan tanggungjawab sosial perusahaan. Kemudian pada pasal 34 ayat 1 disebutkan bahwa apabila tidak, maka dapat dikenai sanksi mulai dari peringatan tertulis, pembatasan kegiatan usaha, pembekuan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal, atau pencabutan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal.
Walaupun terlambat, upaya ini sebagai sikap responsif anggota “parlemen” terhadap tuntutan masyarakat agar perusahaan di Kalimantan Barat peduli terhadap persoalan lingkungan dan relasi sosial. Dan menggunakan dana sosial tersebut untuk memberdayakan masyarakat miskin di Kalimantan Barat.

Konsep CSR
CSR menjadi isu yang mencuat cukup santer. Sejak tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan menjadi sebuah kegiatan yang bersifat mandatory atau kewajiban. Karena selama ini kegiatan CSR dimaknai sebagai tindakan yang bersifat sukarela atau voluntary sebagaimana kegiatan-kegiatan kepekaan sosial serta ibadah-ibadah sosial lainnya.

Konsep CSR adalah kewajiban setiap perusahaan, BUMN dengan menyisihkan dana keuntungan untuk membantu masyarakat miskin dari sisi pendidikan, kesehatan, pra sarana dan sarana umum.

CSR merupakan sebuah komitmen bisnis perusahaan untuk berperilaku etis dan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, seraya meningkatkan kualitas hidup karyawan dan keluarganya, komunitas lokal dan masyarakat luas (Herrizal, 2007).

Masukan Perda CSR
Selama ini masyarakat kesulitan untuk  “memaksa” maupun mengawasi perusahaan yang memanfaatkan sumber daya alam di daerah mereka untuk memberdayakan dana CSR tersebut. Hal ini dikarenakan belum adanya peraturan daerah (Perda) sebagai payung hukum. Pemerintah Daerah masih sebatas menghimbau setiap perusahaan untuk menyalurkan dana sosialnya. Oleh karena itu, Perda CSR menjadi penting untuk dirumuskan dan disahkan.

Di sisi yang lain, program CSR yang dirancang oleh perusahaan hanya bersifat “sedekah” dan habis dikonsumsi masyarakat. Program yang dirancang tidak menyentuh kebutuhan masyarakat, karena tidak tepat sasaran.

Perusahaan tidak memiliki “peta” lokasi penduduk miskin dan apa yang dibutuhkan masyarakat. Peraturan Daerah mestinya juga memberikan ruang,  setiap perusahaan wajib bekerja sama dengan universitas, akademisi untuk melakukan research awal dan memetakan daerah miskin dan kebutuhan masyarakat.

Untuk menghasilkan Perda yang pro poor, perlu diatur  lembaga yang mengontrol pengeluaran dana dan program CSR tiap perusahaan, sehingga akuntabilitas pengeluaran dan distribusi dana CSR tersalur dengan benar.

Pengalaman Pemerintah Kota Semarang dan perusahaan yang berhimpun, duduk bersama dan menghilangkan ego sektoral, serta membagi wilayah yang akan didistribusikan dana CSR menjadi pengetahuan dan masukan bagi kalangan DPRD Kalimantan Barat.

Pengentasan kemiskinan di Kalimantan Barat, terasa sulit karena masing-masing institusi merasa memiliki peran yang lebih baik dari institusi lainnya, ego sektoral. Semoga Komisi B DPRD Kalbar mampu merumuskan Perda pro poor.

Pelestarian Kebudayaan Lokal: Reenkulturasi, Rekonstruksi, dan Redokumentasi Budaya Masyarakat

Oleh Dedy Ari Asfar

dedyPengantar
Berbudaya dan berkebudayaan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Di dunia modern sekarang ini, seseorang dikatakan berbudaya karena mampu memperlihatkan tata krama yang sopan dan santun dalam kehidupan bermasyarakat. Di sisi lain, konsep berkebudayaan pada masyarakat diidentikkan dengan berbagai pola tingkah laku yang dikaitkan dengan kelompok etnik tertentu, seperti adat (custom) atau cara hidup masyarakat (Harris dalam Spradley 1997:5; lihat juga Keesing 1958) yang didalamnya terdapat artefak, alat, dan situs budaya tertentu yang digunakan. Oleh karena itu, masyarakat yang berbudaya selalu diidentikkan juga dengan masyarakat yang berkebudayaan, yaitu memiliki warisan kebudayaan etnik yang adi luhung.

Kebudayaan etnik menjadi lebih sangat penting lagi dewasa ini karena warna modernitas dan globalisasi mulai menggusur estetika etnik lokal—dengan menggantikannya pada kesenangan yang bersifat materialistis dan kapitalis. Tergusurnya kebudayaan lokal ini menyebabkan masyarakat etnik kehilangan identitas dan terganggu eksistensinya.

Pengaruh mondial yang melanda masyarakat membuat perubahan signifikan dalam pola hidup, ritual, dan tingkah laku masyarakat etnik. Hal ini terjadi juga pada masyarakat Dayak dan Melayu sebagai dua etnik lokal terbesar di Kalimantan Barat. Pengaruh mondial yang mengglobal ini membuat kebudayaan Dayak dan Melayu sudah mulai kurang dipraktikkan lagi sepenuhnya dalam kehidupan masyarakat. Kita sangat tahu masyarakat Dayak dan Melayu itu kompleks, beragam, dan terdiri atas pelbagai dialek (lihat Hudson 1970; Collins 2001; Sujarni dkk 2008). Dalam epistemologi lokal bahasa orang Dayak dan Melayu itu dianggap banyak dan berbeda-beda. Oleh karena itu, keragaman bahasa dan tradisi lokal Dayak dan Melayu dengan cirinya masing-masing harus diberi perhatian. Bukankah kekayaan khazanah kearifan lokal Dayak dan Melayu masih banyak yang belum tergali dan terdokumentasikan? Tambahan pula, beberapa bahasa dan tradisi subsuku Dayak tersebut ada yang terancam punah atau pupus dari muka bumi Kalimantan (lihat Collins 2006).  Masyarakat Dayak dan Melayu juga menghadapi ancaman pupusnya rumah adat sebagai salah satu identitas kebudayaan Dayak dan Melayu di Kalimantan Barat. Rumah Adat Betang Dayak sudah tidak dipakai lagi sebagai rumah pribadi oleh kebanyakan subsuku Dayak Kalimantan Barat—hanya satu atau dua yang tersisa.  Begitu pula dengan konsep rumah panggung Melayu, konstruksi rumah modern yang praktis lebih diminati dalam kehidupan sehari-hari orang Melayu.

Pola hidup modern yang menerpa masyarakat Dayak-Melayu menyebabkan kebudayaan dan orang Dayak-Melayu menjadi tarik-menarik dalam kancah kepentingan yang bersifat politis dan ekonomis oleh berbagai kelompok kepentingan. Tidak jarang masyarakat Dayak-Melayu dan kebudayaannya sengaja digiring untuk pergulatan politik dan tawar-menawar jabatan. Bahkan, pada bidang ekonomi, masyarakat diajarkan oleh para kapitalis untuk menggusur dan merusak tanah adat atas nama perkebunan dan penebangan hutan demi kepentingan pemilik modal.
Masyarakat Dayak-Melayu di kampung-kampung kurang menyadari kalau yang mereka lakukan dapat menghancurkan warisan budaya lokal leluhur. Mereka hanya termanfaatkan oleh para pemilik modal untuk mengeksploitasi kekayaan hutan dan adat tembawang. Padahal, mereka hanya memperoleh cukup makan dan minum untuk keperluan sehari-hari dari sang pemilik modal dalam mengeksploitasi sumber daya alam masyarakat adat tersebut.

Prinsipnya kebudayaan Dayak-Melayu harus diapresiasi secara positif dan dijunjung oleh masyarakatnya sebagai salah satu pegangan mereka dalam berinteraksi dengan budaya luar. Orang Dayak-Melayu harus mengikuti perkembangan teknologi dan budaya mondial dari luar tetapi dengan tidak mengabaikan dan memupuskan kebudayaan lokal. Hal ini merupakan jalan tengah yang harus dicipta dalam kehidupan masyarakat Dayak-Melayu dan institusi pendukungnya. Oleh karena itu, proses pewarisan budaya lokal harus berjalan dan dilakukan secara terencana, sistematis, dan berkelanjutan.

Usaha pewarisan budaya yang terencana, sistematis, dan berkelanjutan merupakan upaya pelestarian yang dapat memegahkan kembali identitas budaya lokal Kalimantan Barat dalam perspektif modern. Untuk mewujudkan usaha pelestarian kebudayaan lokal ini setidaknya ada empat aspek penting yang harus dilakukan. Keempat aspek penting tersebut adalah (1) memperkuat kantung budaya lokal, (2) reenkulturasi budaya lokal, (3) rekonstruksi apresiasi masyarakat, dan (4) redokumentasi etnobotani masyarakat.

Memperkuat Kantung Budaya Lokal
Sejak reformasi dicetuskan pada tahun 1997, demokrasi di Indonesia mengalami perubahan yang sangat berarti. Sentralisasi kekuasaan berubah menjadi desentralisasi. Masyarakat diberi kebebasan dalam berpendapat dan menentukan arah tuju pembangunan di daerah masing-masing. Bahkan, kantung-kantung budaya lokal semakin banyak berkembang untuk melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat, baik komunitas Dayak maupun Melayu.

Kantung-kantung budaya lokal tersebut dipahami sebagai lembaga, institusi, dan perangkat adat yang dimiliki masyarakat Dayak dan Melayu.  Di Kalimantan Barat, beberapa kantung budaya lokal Dayak dan Melayu bergerak dengan cepat dalam usaha memberdayakan masyarakat di kampung-kampung. Usaha ini, harus diakui sudah berhasil mengembangkan ekonomi kerakyatan di kampung-kampung seperti yang dipelopori oleh Pancur Kasih melalui CU. Kantung-kantung budaya lokal masyarakat Dayak dan Melayu ini memiliki posisi penting dalam melestarikan kebudayaan dan mengarahkan kebudayaan pada sistem dan manajemen yang mapan dan terencana. Tidak sekadar dokumentasi, kantung-kantung budaya lokal harus menjadi pelopor dalam merekonstruksi apresiasi positif masyarakat terhadap budaya lokal.
Kantung-kantung budaya lokal ini memainkan peran strategis sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas pemberdayaan dan keberlangsungan ekologi, masyarakat, dan budaya lokal Dayak-Melayu. Peran dan posisi ini harus terus dikukuhkan dalam berbagai aktivitas nyata dalam membuat budaya lokal dan ekologi masyarakatnya terjaga dan terdokumentasi dengan baik, misalnya dengan melakukan participation action research (PAR) dengan melibatkan masyarakat secara aktif untuk ikut berperanserta memecahkan masalah kebudayaan yang ada dalam komunitas mereka.

Selain itu, melalui kantung-kantung budaya lokal, harus terjalin juga kerja sama saling menguntungkan dengan semua pihak (symbiotic linkages). Kerja sama ini bukan hanya dengan pihak dan perangkat adat budaya Dayak dan Melayu melainkan juga menjalin kerja sama dengan perangkat adat budaya masyarakat lain, seperti Bugis, Jawa, Sunda, dan Madura, baik ditingkat elit modern (terpelajar) maupun tradisional (antarkampung).

Penguatan peran dan kerja sama antarlembaga adat, baik intraetnik maupun antaretnik akan memberi dampak positif dalam pengembangan budaya dan tradisi lokal yang lebih baik. Bahkan, lembaga adat modern, seperti Institut Dayakologi dan Pusat Penelitian Kebudayaan Melayu perlu membuat semacam observasi kebudayaan Dayak diantara kebudayaan lain sekitar masyarakat, seperti etnik Melayu. Dengan demikian, dapat diketahui hubungan ekologi bahasa dan budaya lokal Dayak dengan Melayu yang hidup berdampingan secara damai dan harmonis—yang sudah berlangsung selama berabad-abad lampau hingga saat ini.

Reenkulturasi Budaya Lokal
Kebudayaan Dayak sangat dekat dengan tradisi niraksara atau keberlisanan (bandingkan Ong 1982; Havelock 1986). Keberlisanan masyarakat dan kebudayaan Dayak merupakan fakta-fakta yang harus direkonstruksi menjadi aura dan aktivitas positif dalam kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu, proses transfer dan pewarisan tradisi menjadi isu penting dalam melestarikan kebudayaan lokal. Upaya enkulturasi (pewarisan) budaya lokal dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat perlu dilakukan dengan cara-cara yang tepat. Reenkulturasi budaya lokal ini harus melibatkan berbagai pihak dan para pemilik kepentingan (stakeholder). Hal ini dapat dilakukan oleh individu, komunitas, lembaga pemerintah, dan nonpemerintah (NGO) yang ada di Kalimantan Barat.

Sebagai salah satu pemilik sah kebudayaan Pulau Kalimantan, masyarakat Dayak dan Melayu harus dapat memikirkan secara matang pola pewarisan kembali atau reenkulturasi budaya lokal yang dimiliki dan hidup pada komunitas Dayak-Melayu Kalimantan Barat. Proses reenkulturasi budaya lokal ini harus dilakukan, baik secara tradisional maupun modern.
Secara tradisional, masyarakat Dayak dan Melayu harus menyenangi dan menghargai budaya lokal yang mereka miliki. Mereka harus mengamalkan budaya luhur nenek moyang dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengamalkan dan mempraktikkan budaya lokal dalam kehidupan harian—sesungguhnya proses reenkulturasi telah berjalan dengan sendirinya. Namun, usaha reenkulturasi dapat juga dilakukan secara perseorangan dan kelompok, seperti transfer tradisi dari orangtua kepada anak-anaknya, melalui tokoh adat kepada masyarakatnya, dan oleh para penutur tradisi lisan kepada anggota keluarga dan masyarakat sekitar komunitas tersebut. Selain itu, secara sederhana reenkulturasi budaya lokal juga dapat diperankan oleh individu-individu tertentu melalui pencatatan ke dalam potongan-potongan kertas tulis dengan pengetahuan lisan yang mereka miliki. Pencatatan yang telah dilakukan tersebut dapat dikumpulkan, kemudian diwariskan kepada generasi muda (anak dan cucu mereka).

Strategi pencatatan ini sudah dipraktikkan pada masyarakat Melayu di pedalaman Ketapang, tepatnya di kawasan kampung Melayu sekitar Sungai Laur bagian hilir. Terdapat aktivitas menyalin atau membuat syair pada potongan-potongan kertas tulis yang dilakukan oleh individu yang bisa menulis. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan lokal dapat disalin secara sederhana oleh penduduk kampung yang memiliki minat untuk menjaga keberlangsungan budaya masyarakat setempat berdasarkan pengetahuan yang dia miliki (lihat Dedy Ari Asfar 2005).

Secara modern, reenkulturasi budaya lokal dapat dilakukan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi global. Pewarisan kembali tersebut dapat dilakukan dengan membuat rekaman terhadap semua budaya lokal yang dimiliki masyarakat Dayak dan Melayu Kalimantan Barat, baik rekaman yang menggunakan tape recorder maupun rekaman visual dengan menggunakan handycam. Rekaman tradisi lokal yang telah dilakukan tersebut dapat disebarluaskan dengan memindahkannya ke dalam bentuk CD, DVD, MP3, MP4, dan sebagainya dalam jumlah yang banyak. Hal ini dapat dilakukan, baik secara komersial maupun nonkomersial demi kepentingan pewarisan dan penyebarluasan khazanah budaya lokal agar diketahui masyarakat umum dari kalangan Dayak dan Melayu.

Reenkulturasi budaya lokal juga dapat memanfaatkan teknologi informasi yang berbasis internet. Budaya lokal Dayak dapat di-online-kan dengan memanfaatkan teknologi maya yang tanpa batas (cyberspace). Dengan memasuki dunia maya yang takterbatas ini, tradisi lokal dapat dikenal dan diakses oleh berbagai kalangan, baik kalangan dalam negeri maupun mancanegara. Budaya lokal yang di-online-kan ini pun memuat materi yang tidak terbatas. Artinya, data budaya lokal yang di-online-kan tidak semata-mata data jadi dalam bentuk artikel, melainkan juga data-data mentah, seperti bahasa daerah, cerita rakyat, nyanyian rakyat, puisi tradisional, mantra, ritual/upacara adat, teka-teki tradisional, bentuk-bentuk permainan rakyat, makanan tradisional, dan lain-lain sehingga tercipta pangkalan data (database) budaya lokal Dayak dan Melayu Kalimantan Barat yang lengkap dan utuh. Data yang ditampilkan minimal terdiri atas dua bahasa, yaitu bahasa daerah dan Indonesia. Apabila bisa ditambah dengan bahasa Inggris tentu akan berdampak baik. Dengan demikian, reenkulturasi budaya lokal dapat dinikmati dan dirujuk oleh masyarakat terpelajar Dayak dan Melayu di mana pun mereka berada.

Pemanfaatan dunia internet dalam mereenkulturasi kebudayaan Dayak dan Melayu tidak memakan biaya yang mahal. Banyak fasilitas gratis yang ditawarkan oleh server online dunia, seperti blogger, geocities, multyply, wordpress, dan sebagainya untuk menciptakan atau meng-online¬-kan tradisi Dayak menjadi salah satu kebudayaan dunia yang harus dijaga dan diketahui oleh seluruh masyarakat di Planet Bumi ini. Bahkan, server komersial pun tidak mematok biaya yang mahal untuk online. Dengan memiliki website berbayar dapat dibuat laman yang lebih bagus dan sesuai selera, misal dayak-melayu.com. Solusi pasti lainnya adalah meng-online-kan semua data ke dalam laman (homepage) pemerintah provinsi sehingga menjadikan laman tersebut sebagai pusat sumber informasi kedayakan dan kemelayuan yang dapat dijadikan rujukan paling utama di dunia.

Dunia tanpa batas sebagai akibat dari pengaruh mondial harus dimanfaatkan untuk dijadikan salah satu cara dalam mereenkulturasi kebudayaan Dayak dan Melayu. Oleh karena itu, intelektual Dayak dan Melayu harus menjadikan teknologi informasi sebagai sarana advokasi dan enkulturasi kebudayaan kepada generasi Dayak-Melayu yang sudah mulai asing dan kurang mengenal lagi budaya etnik mereka.

Rekonstruksi Apresiasi Masyarakat
Pewarisan kebudayaan Dayak-Melayu terkadang mengalami stagnan dan cenderung tidak melibatkan dan mengadvokasi masyarakat kampung itu sendiri. Biasanya, atas nama dokumentasi, peneliti kebudayaan Dayak dan Melayu cenderung berjalan sendiri dan tidak membuat pemilik kebudayaan itu merasa bertanggung jawab untuk menjaga sendiri budaya lokal yang mereka miliki. Walhasil, dengan pola dokumentasi individual peneliti—kebudayaan  lokal justru mati dan pupus dalam komunitas masyarakat adat karena penutur dan cerdik pandai tradisi lokal itu pun tutup usia (meninggal). Yang hidup dan tersisa hanya dokumen sang peneliti. Dokumen ini pun belum tentu dapat dijamin akan aman, langgeng, dan bertahan lama, bisa saja bencana alam melanda dan merusakkan data sang peneliti; bencana kebakaran yang membumihanguskan data; serta file-file dan dokumen yang rusak, usang, dan/atau tidak dapat didengar kembali rekaman hasil penelitiannya karena termakan usia dan lain hal. Akan tetapi, usaha begini bukan berarti tidak bermanfaat, ini hanya satu usaha pendokumentasian dan pelestarian budaya lokal yang bersifat akademik.

Strategi penting dalam mewariskan budaya lokal ini, selain dokumentasi melalui penelitian adalah dengan melakukan advokasi terhadap masyarakat pemilik tradisi tersebut. Masyarakat kampung harus dilibatkan, dibuka mata hati dan pikirannya agar menjaga dan mengamalkan budaya lokal dalam perikehidupan sehari-hari mereka. Artinya, partisipasi masyarakat lokal dalam preservasi dan reenkulturasi budaya mereka sendiri merupakan usaha signifikan yang harus dilakukan. Menumbuhkan dan menciptakan apresiasi positif masyarakat kampung terhadap budaya lokal mereka memang bukan persoalan mudah. Namun, usaha sistematis dan berkelanjutan harus dilakukan agar budaya lokal tidak pupus seiring dengan wafatnya para penutur tradisi lisan dan kencangnya terpaan globalisasi dalam kehidupan masyarakat kampung.
Satu hal yang pasti bahwa masyarakat kampung pernah suatu ketika dahulu menyenangi, mengalami, menyelami, dan mengamalkan budaya lokal dalam kehidupan mereka secara total. Oleh karena itu, perlu usaha untuk merekonstruksi apresiasi masyarakat terhadap budaya lokal yang pernah sangat digandrungi itu dengan cara kekinian.

Cara-cara sistematis, terencana, dan berkelanjutan yang harus dilakukakan adalah dengan merekonstruksi apresiasi masyarakat terhadap budaya lokal, seperti (1) mengadakan perlombaan dan pertunjukan tradisi lokal masyarakat adat antarkampung secara periodik; (2) memberi penghargaan atau award kepada perseorangan, komunitas, dan kampung yang masih menjaga tradisi lokal serta mewariskan atau mengenkulturasi segala budaya lokal yang dimiliki kepada generasi muda mereka; (3) melatih pemuda-pemudi kampung sebagai penyalin budaya lokal dan agen konservasi kebudayaan Dayak-Melayu; (4) menjadikan kampung-kampung Dayak dan Melayu sebagai laboratorium kebudayaan lapangan untuk para peneliti dan peminat budaya lokal ; (5) menjadikan salah satu budaya lokal yang bersifat komunal sebagai libur lokal untuk segenap masyarakat Dayak dan Melayu di Pulau Kalimantan, khususnya Kalimantan Barat, yang dapat diatur melalui peraturan pemerintah daerah Kalimantan Barat;  (6) membangun kembali rumah panjang atau adat betang Dayak pada setiap kampung Dayak di Kalimantan Barat sebagai pusat aktivitas seni, budaya, musyawarah, menenun, ritual adat, penginapan komersial, dan transfer atau pertunjukkan tradisi lisan ; (7) mengukir budaya lokal menjadi keberaksaraan dalam nada-nada narasi modern dalam jumlah yang relatif banyak; (8) menjadikan budaya lokal sebagai mata pelajaran muatan lokal yang utama ”dibangku” formal, terutama pada sekolah-sekolah berkomunitas Dayak dan Melayu; dan (9) menjalin kerja sama dengan pengusaha perhotelan untuk memberi tempat 1 malam bagi pertunjukkan budaya di lobi atau kafe hotel.

Merekonstruksi sembilan strategi dalam kehidupan masyarakat Dayak dan Melayu merupakan jaminan agar masyarakat mengapresiasi budaya lokal dengan baik sehingga tercipta kecintaan dan kegemaran terhadap kebudayaan lokal yang hidup dan berkembang di kampung mereka bak leluhur mereka dahulu. Bahkan, menjadikan mereka sendiri sebagai agen penjaga dan pelaksana budaya lokal tersebut. Oleh karena itu, apabila budaya lokal ini sudah digemari kembali dan memasyarakat di tataran akar rumput, selaras dengan teknologi modern yang ada, dengan sendirinya kesinambungan budaya lokal akan berlanjut dan terbentuk dalam masyarakat kampung. Dengan demikian, budaya dan ritual lokal akan mendapatkan penghargaan dan apresiasi positif dari masyarakat internal kampung dan luar kampung. Bahkan, masyarakat akan terus ”mementaskan” budaya lokal tersebut dalam denyut nadi kehidupan mereka.

Pada konteks ini jika kesembilan aspek apresiasi di atas terrekonstruksi dengan baik dalam kehidupan masyarakat kampung, akan terjadi ”hukum ekonomi”. Artinya, semakin sering dan banyak permintaan untuk terus mempraktikkan dan mengamalkan kebudayaan lokal maka akan semakin banyak pula kebudayaan lokal yang diamalkan dan dipraktikkan. Bahasa sederhananya, jika kebudayaan lokal itu masih disenangi dan dipraktikkan maka kebudayaan tersebut akan terus hidup dan berkembang dengan sendirinya. Malahan, kebudayaan lokal akan menjadi penyempurna nada-nada modernitas kebudayaan global. Oleh karena itu, pengembangan dan pembangunan kebudayaan Dayak harus berdasarkan partisipasi aktif masyarakat lokal (community-based).

Redokumentasi Etnobotani Masyarakat
Salah satu hal yang sangat penting (urgent) dalam pelestarian kebudayaan lokal di Kalimantan Barat adalah melakukan redokumentasi etnobotani terhadap semua masyarakat lokal, baik Melayu&sub-Melayu maupun Dayak&sub-Dayak. Hal ini mendesak dilakukan karena perkebunan sawit telah merajalela sehingga membuat ekologi alami masyarakat Dayak  dan Melayu menjadi hilang dan tergusur. Sistem pertanian lokal dan konservasi alam secara adat menjadi hilang. Budaya lokal dan kearifan adat perladangan dan kosakata daerah dalam bidang perladangan dan botani lenyap takterwariskan.

Hutan yang tergantikan perkebunan sawit berakibat pada pupusnya kosakata daerah tentang ikan, burung, binatang, buah-buahan, sayuran-sayuran, tanaman, dan berbagai jenis pepohonan yang berkembang di dalam hutan. Generasi muda sekarang sudah banyak tidak mengenal lagi segala jenis flora dan fauna yang hidup di hutan Kalimantan Barat. Hal ini merupakan konsekuensi logis sebagai akibat kebiasaan (custom) perladangan masyarakat Dayak yang tergantikan oleh pola pertanian sawit yang dianggap modern dan maju. Padahal, pola pengembangan perkebunan sawit telah mengeksploitasi hutan secara besar-besaran sehingga merusak hutan dan ekosistemnya.
Akibat dari sistem perkebunan sawit ini, masyarakat Dayak-Melayu kehilangan berbagai ekosistem hewan dan tumbuhan. Kearifan dan pengetahuan lokal yang mewarnai kehidupan mereka dalam ekosistem ini menjadi pupus dan takterselamatkan. Oleh karena itu, dengan membuat catatan-catatan etnobotani, kekayaan khazanah masyarakat dalam bidang perladangan, hutan, sungai, ikan, burung, melata, binatang-binatang lain, dan tumbuh-tumbuhan—dapat dicatat dan dipotret sebelum perkebunan-perkebunan baru membumihanguskan kosakata budaya tersebut.

Redokumentasi etnobotani pada masyarakat Dayak-Melayu di Kalimantan Barat akan berdampak pada pelestarian bahasa, budaya, dan ekologi alam sekitar masyarakat tradisional. Bahkan, melalui redokumentasi etnobotani ini akan menyumbang manfaat besar dalam pembuatan kamus besar bahasa Dayak-Melayu dalam bidang tumbuh-tumbuhan, binatang, dan ekosistem hutan lainnya. Dengan demikian, pelestarian khazanah dan mozaik Dayak-Melayu di Kalimantan Barat menjadi lengkap, utuh, dan komprehensif.

Pada masa mendatang kamus subsuku Dayak-Melayu yang telah dibuat dapat dimanfaatkan untuk merekonstruksi bahasa purba (proto language) masing-masing kelompok bahasa yang ada di Kalimantan Barat. Usaha ini dilakukan untuk melihat hubungan kekerabatan, pola migrasi, dan sejarah Dayak-Melayu yang direkonstruksi melalui ilmu bahasa.

Penutup
Sudah saatnya kebudayaan Dayak-Melayu dipikirkan dan direncanakan dengan pola-pola pikir modern dengan tanpa menghilangkan budaya lokal masyarakatnya. Hal ini dapat dilakukan dengan memperkuat dan menyolidkan kantung-kantung budaya lokal Dayak-Melayu yang ada di Kalimantan Barat. Institusi Kedayakan dan Kemelayuan harus menggerakkan institusi sampai ke akar rumput untuk pelestarian kebudayaan masyarakat Kalimantan Barat. Institusi Kedayakan dan Kemelayuan ini dapat memperkuat kerja sama yang dapat menciptakan harmonisasi antarelit dan akar rumput dalam membangun kebudayaan Kalimantan Barat. Institut Dayakologi, LBBT, MAD, Pancur Kasih, MABM, LAMS, dan sebagainya dapat menjalin komunikasi dan kerja sama formal dalam meletakkan asas-asas pembangunan masyarakat berbasis budaya. Usaha ini pun harus dimaksimalkan lagi dan diintensifkan pada usaha menjadikan masyarakat kampung sebagai ”elit dan peneliti” sekaligus ”peserta” yang diberdayakan.  Usaha pemberdayaan masyarakat lokal ini harus dilakukan secara berkala dan berkesinambungan.

Masyarakat Dayak-Melayu dan kebudayaannya harus diselamatkan dan diberi ”pentas” yang megah dalam kampung mereka sendiri, tidak hanya di perkotaan. Artinya, masyarakat kampung harus diberi tempat dan peran untuk menjaga dan mewariskan budaya lokal yang mereka miliki. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemberdayaan dan pelatihan penduduk kampung sebagai tenaga konservasi tradisi dan kebudayaan Dayak-Melayu harus segera dilakukan. Dalam konteks ini, masyarakat lokal harus dilibatkan, terlibat, dan berpartisipasi aktif dalam pengembangan kebudayaan Dayak-Melayu Kalimantan Barat.

Masyarakat Dayak dan Melayu di kampung harus dapat mengapresiasi kebudayaan mereka secara positif dengan semangat dan kebanggaan karena identitas dan entitas mereka direpresentasikan dalam budaya lokal yang masih mereka amalkan tersebut. Oleh karena itu, kebudayaan Dayak harus diarahkan, tidak saja pada tahap dokumentasi kearifan dan pengetahuan lokal melainkan juga pada tahap pemberdayaan masyarakat lokal dengan merekonstruksi apresiasi masyarakat kampung terhadap budaya mereka secara terencana dan berkelanjutan. Dengan demikian, kebudayaan Dayak-Melayu dapat dienkulturasikan secara alami dan tidak pupus dari tanah Kalimantan karena harus kehilangan para penutur budaya lokalnya yang sudah berusia tua sehingga banyak diantaranya meninggal dunia karena ”termakan” usia dan penyakit. Usaha ini akan menyelamatkan warisan luhur dunia di tanah Kalimantan Barat.

BIBLIOGRAFI
Collins, James T. 1999. Wibawa Bahasa: Kepiawaian dan Kepelbagaian. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Collins, James T. 2006. “Bahasa Daerah yang Terancam Punah: Tinjauan di Maluku dan Kalimantan”. Makalah dalam Seminar Pelestarian Bahasa Daerah. Jakarta: Pusat Bahasa.
Dedy Ari Asfar. 2005. ”Unsur-Unsur Islam dalam Sastra Tradisional di Cupang Gading dan Sungai Laur Bagian Hilir”. Dalam Jurnal Khatulistiwa STAIN Pontianak, halaman 39–64.
Dedy Ari Asfar. 2007. “Gawai Dayak sebagai Refleksi Tamadun Lokal dan Nasional”. Dalam Yusriadi (ed). Opini dari Tribune, halaman 146—153. Pontianak: STAIN Press.
Havelock, Eric A. 1986. The Muse Learns to Write: Reflections on Orality and Literacy from Antiquity to The Present. New Haven: Yale University Press.
Hudson, A.B. 1970. A Note on Selako: Malayic Dayak and Land Dayak Languages in Western Borneo. Sarawak Museum Journal 18:301—318.
Keesing, Felix M. 1958. Cultural Anthropology: The Science of Custom. New York: Holt, Rinehart and Winston.
Levistrauss, Claude. 2005. Mitos dan Makna: Membongkar Kode-Kode Budaya. Diterjemahkan oleh L.P. Hok. Serpong: Marjin Kiri.
Nico Andasputra, John Bamba, dan Edi Petebang (ed). 2001. Pelajaran dari Masyarakat Dayak: Gerakan Sosial & Resiliensi Ekologis di Kalimantan Barat. Pontianak: Institut Dayakologi.
Ong, Walter J. 1982. Orality and Literacy: The Technologizing of The World. New York: Methuen & Co.Ltd.
Paulus Florus, dkk. 2005. Kebudayaan Dayak: Aktualisasi dan Transformasi. Pontianak: Institut Dayakologi.
Spradley, James P. 1997. Metode Etnografi. Diterjemahkan oleh Misbah Zulfa Elizabeth. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
Sujarni Alloy, Albertus, dan Chatarina Pancer Istiyani. 2008. Mozaik Dayak: Keberagaman Subsuku dan Bahasa Dayak di Kalimantan Barat. Pontianak: Institut Dayakologi.
Teeuw, A. 1994. Indonesia: Antara Keberlisanan dan Keberaksaraan. Jakarta: Pustaka.

Kuching: Kota yang Mengapresiasi Sungai

….Teach the gifted children, teach them to have mercy, Teach them about sunsets, teach them about moonrise, Teach them about anger, the sin that comes with dawning, Teach them about flowers, the beauty of forgetfulness, Then take me to the river and put me in the water………
(Reed Lou)

Bila ada kota yang begitu mengapresiasi binatang Kucing  dan sungai itulah kota Kuching di Serawak, Malaysia.  Serawak adalah negara bagian Malaysia yang berbatasan darat dengan Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Serawak adalah juga negara bagian terbesar di Federasi Malaysia.  Luasnya hampir seluas Pulau Jawa. Walaupun penduduknya hanya berkisar 2.4 juta jiwa sahaja.

Kata Kuching berasal dari nama ‘Sungai Kuching’ dan ‘Bukit Kuching’, yang memang berlokasi di (saat ini) Kota Kuching.  Kuching memang berarti ‘kucing’ juga dalam bahasa Indonesia.  Bahkan pada satu sudut kota ada patung kucing yang menjadi icon kota ini disamping burung hornbills yang menjadi icon Sarawak.  Bahkan nickname untuk kota Kuching memang ‘cat city’.


Landmark utama Kota Kuching adalah sungai bernama Sungai Sarawak yang membelah kota.  Sungai ini tidak terlalu lebar (dibandingkan sungai Kapuas di Pontianak atau Mahakam di Samarinda) dan bermuara ke laut China Selatan yang tak jauh dari kota Kuching.

Ini yang banyak orang sering keliru.  Ternyata Kota Kuching tidak berada di pinggir laut seperti halnya Kota Kinabalu, Johor Bahru ataupun Melaka.  Kota Kuching berada di tepi Sungai Sarawak.  Laut-nya sendiri tak berjarak jauh dari Kota Kuching, namun lebih disarati dengan tetumbuhan pantai khas muara yang juga cantik ketimbang pemukiman.   Taman Nasional Bako yang indah, berjarak 40 km saja dari Kota Kuching.

Walau berada tak jauh dari perbatasan Kalimantan Barat, tapi nyata sekali bahwa Kuching adalah bukan bagian dan tidak sama dengan kota-kota di Indonesia. Alias, bukan Indonesia banget. Kota ini tertata rapi. Gedung –gedung tinggi banyak bertebaran di sela-sela bangunan-bangunan lama peninggalan British.  Memang  Kuching tidak se-sophisticated Shanghai, Hong Kong atau Singapore.  Namun juga sulit untuk disebut bukan kota modern.

Sungai Serawak juga nampak diapresiasi sedemikian rupa.  Diperlengkapi dengan ruang publik yang cukup luas.  Waterfront Kuching,  teras panjang di tepi Sungai Serawak.  Adalah tempat dimana orang bebas untuk walking, jogging, bicycling, atau sekedar menumpang rehat dan makan di sejumlah kedai makan sederhana yang bertebaran di sepanjang waterfront.  Jangan lewatkan nasi lemak, laksa serawak ataupun teh tarik bila berkunjung ke sana.

Operator pariwisata air turut mengambil momentum juga.  Sepanjang waterfront Kuching banyak operator kapal dan perahu yang menawarkan paket perjalanan menyusuri Sungai Serawak, mengunjungi Bako National Park, bahkan menyusuri sungai hingga ke batas “Indon” (ini bahasa dari mereka ya, tercantum jelas dalam standing banner-nya).  Tak sedikit dari mereka yang berasal dari Indonesia.  Ada perahu yang bertuliskan ‘Mail Boyan’ yang kurang lebih bermakna “Ismail Bawean”.

Sepintas lalu, wajah Kuching tak jauh beda dengan kota Malaysia lain di Semenanjung Malaya.  Wajah-wajah Melayu, Tionghoa,  penduduk asli Sarawak. sampai Jawa, Bawean dan Bugis bertebaran dimana-mana.  Hanya etnis Indian-Tamil yang saya lihat tak banyak terlihat.  Kedai-kedai syarikat perniagaan didominasi oleh orang Tionghoa dan orang Melayu.  Nampak nyata dari tulisan di muka kedai yang mengiklankan produk jualan mereka.

Bukti bahwa orang keturunan Jawa banyak bertebaran di Kuching adalah adanya kampong bernama Kampung Sorabaya,  Kampung Gersik dan Kampung Boyan (baca : Bawean).  Bawean bukan bagian dari Jawa ya, ia adalah pulau kecil di tengah Laut Jawa yang memang berlokasi paling dekat ke Jawa Timur.  Eksistensi ketiga kampong warga Jatim ini terlihat betul pada peta Kuching.  Mereka terletak pada sisi utara Sungai Serawak.

Eksistensi berikutnya nampak pada kedai makanan muslim.   Tak sulit mendeteksi bahwa pemilik kedai adalah keturunan Indonesia.  Dengarkanlah apa lagu yang diputar.  Di kedai makan di ujung barat Waterfront Kuching terdengar lagu “Aku Bukan Bang Toyib” dari Wali, Lagu Rossa, Gombloh, “Aku Tak Biasa” Alda, dan lain-lain.  Memang sih, tak mesti bahwa pemilik kedai adalah orang keturunan  Indonesia.  Kerana ramai orang Melayu Malaysia yang juga gemar dengan lagu daripada Indonesia.

Laksa Sarawak adalah menu terhebat yang menurut saya jangan dilewatkan kalau kita berkunjung ke Kuching.  Mungkin kita akan menemukannya juga di resto Secret Recipe yang biasa bertengger di mal-mal di KL.  Tapi kalau dimakan di kedai pinggir jalan di Kuching terasa lain. Terasa Sarawak sekali.

Tak jauh dari kedai makan Haji Umar yang saya tandangi, saya menangkap ungkapan-ungkapan bahasa Jawa Timuran dari tiga pemuda yang sedang duduk santai di tepi sungai.  “Aku wis nang ngarep yo….”  Ujar salah seorang dari mereka,  yang bercakap dengan mengguna talipun bimbit (handphone).   Aha. Seru saya dalam hati.  Ini kawasan orang keturunan Jawa.  Mereka bisa jadi pekerja migran (TKI). Bisa juga keturunan Jawa yang sudah tinggal bertahun  lamanya di Kuching.  Sebagian mungkin telah menjadi warganegara Malaysia. Sebagian lagi tidak.

Berbilang 200 meter dari ujung barat waterfront ada sebuah masjid bernama Masjid Bandaraya Kuching.  Masjid ini besar sebenarnya, namun tak tampak dari luar.  Terhalang kedai-kedai syarikat perniagaan.  Pintu masuknya –pun serupa kedai.  Tapi ternyata di dalamnya besar.  Bentuk masjid dan tatacara beribadah-nya mirip masjid-masjid di Jawa.

Menjangkau Kuching-pun tak sulit dari Indonesia.  Bisa menggunakan jalan darat dari Kota Pontianak di Kalbar atau via pesawat terbang.  Via pesawat terbang bisa dengan Batavia Air atau MAS Wings dari Pontianak.  Sayang ya tak ada direct flight dari Jakarta.  Walau dulu pernah Air Asia terbang langsung dari Jakarta ke Kuching.   Maka, anda yang berasal dari Jakarta, mesti mampir dulu ke Singapore, KL, Penang atau Kota Kinabalu dulu sebelum melanjutkan ke Kuching.

Akhirnya, saya hanya bisa bilang bahwa mengunjungi Kuching ini really worth visiting.  Utamanya untuk mengunjungi waterfront dan Sarawak river di kala senja.  So romantic.   Good for young and old honeymooners.  Dengan gedung Dewan Undangan Negeri menjulang tinggi di seberang bersebelahan dengan Astana (istana kediaman Yang Dipertuan Negeri Serawak) dan Fort Margherita yang tua namun cantik.   Melihat cahaya bertaburan di sepanjang sungai, ditengahi riak gelombang tenang dari Sungai Serawak dan matahari yang perlahan terbenam di ufuk barat, akan memberikan nuansa tersendiri.

Terkadang saya iri.  Kota Kuching dapat mengapresiasi sungai sedemikian rupa. Dapat menjadikan sungai sebagai ruang publik untuk rehat mata dan rehat badan. Secara percuma (gratis) pula.   Semoga Palembang, Pontianak, Samarinda, Banjarmasin, Jambi dan pelbagai kota sungai lain-nya di Indonesia akan pula semakin memanjakan mata namun tetap ramah terhadap kantong para musafir… (Kompasiana)

Problematika Pengajaran Sastra di Lembaga Pendidikan Formal


Pengajaran sastra pada dasarnya memiliki peranan dalam peningkatan pemahaman siswa. Apabila karya-karya sastra tidak memiliki manfaat, dalam menafsirkan masalah-masalah dalam dunia nyata, maka karya sastra tidak akan bernilai bagi pembacanya. Pada dasarnya pengajaran sastra mempunyai relevansi dengan masalah-masalah dunia nyata, maka dapat dipandang pengajaran sastra menduduki tempat yang yang selayaknya. Jika pengajaran sastra dilakukan secara tepat maka pengajaran sastra dapat memberikan sumbangan yang  besar untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang cukup sulit untuk dipecahkan di dalam  masyarakat (Rahmanto, 1996:15). Melalui hal tersebut, sastra memberikan pengaruh terhadap pembacanya. Sastra membentuk pola pikiran dan respon pembaca terhadap apa yang dibacanya dengaan aktivitas kesehariaanya yang saling berkaitan.

Pembelajaran sastra belum mendapat porsi yang sesuai dalam pendidikan bahasa.  Menurut Rudy dalam Aminudin (1990:30) sastra telah diperlakukan secara “kurang adil” di seluruh jenjang pendidikan. Kenyataan ini terjadi karena munculnya asumsi bahwa sastra hanya merupakan pelajaran untuk kesenangan , bahwa sastra tidak berpotensi mengembangkan kemampuan berbahasa siswa. Pengajaran sastra akan bermakna bila diajarkan berdampingan dengan pengajaran bahasa dan linguistik (Widdowson dalam Supriyadi, 2006).

Sikap yang kurang apresiatif muncul dari siswa dan guru, sehingga pengajaran sastra terabaikan. Kemendiknas (2011:59) menyatakan penyajian pengajaran sastra hanya sekedar memenuhi tuntutan kurikulm, kering, kurang hidup, dan cenderung kurang mendapat tempat dihati siswa. Pengajaran sastra diberbagai jenjang pendidikan selama ini dianggap kurang penting dan dianaktirikan oleh para guru, apalagi para guru yang pengetahuan dan apresiasi (dan budayanya) rendah. Hakikat dari tujuan pengajaran sastra yaitu untuk menumbuhkan keterampilan, rasa cinta dan penghargaan para siswa terhadap bahasa dan sastra Indonesia sebagai budaya warisan leluhur. Pada pengajarannya pula sastra memiliki problematika yang mempengaruhi minat dan keinginan siswa untuk mengikuti pengajaran dengan baik.

Problematika pengajaran sastra di sekolah dikaitkan pada sebagian besar guru bahasa dan sastra di sekolah kurang menumbuhkembangkan minat dan kemampuan siswa dalam hal sastra. Sebenarnya guru dapat mengusahakan karya sastra yang dimuat di media massa dalam bentuk buku sastra, melalui media elektronik yakni internet dan radio. Beberapa hal lain pula adanya anggapan gagalnya pengajaran sastra di sekolah lebih banyak terjadi akibat kesalahan guru di sekolah yang telah mengingkari hakikat yang melandasi lahirnya pengajaran sastra itu.

Lebih-lebih pembelajaran apresiasi sastra. Para siswa tidak diajarkan untuk mengapresiasi (memahami dan menikmati sastra) teks-teks sastra yang sesungguhnya, tetapi sekedar menghafalkan nama-nama sastrawan berikut hasil karyanya. Dengan kata lain, apa yang disampaikan guru dalam pembelajaran sastra barulah kulit luarnya saja, sehingga peserta didik gagal menikmati kandungan nilai dalam karya sastra. Kondisi pengajaran sastra yang semacam itu tidak saja memprihatinkan, tetapi juga telah “membusukkan” proses pencerdasan emosional dan spritual siswa.

Buruknya mutu pembelajaran apresiasi sastra di sekolah juga tak leps dari minimnya guru sastra yang memiliki “talenta” dan minat serius terhadap sastra. Apalagi, sastra hanya merupakan mata pelajaran yang digabungkan pada pelajaran bahasa lantaran statusnya yang hanya sekedar gabungan tidak mengherankan jika apresiasi sastra hanya disajikan sambil lalu. Meskipun sastra erat kaitannya dengan bahasa, tetapi proses penyajiannya perlu kreativitas dan model penyajian tersendiri. Menyajikan puisi, misalnya, selain digabungkan menguasai materi ajar guru juga harus mampu memberi contoh yang memikat dan sugestif saat membaca puisi. Hal ini sulit dilakukan oleh guru bahasa yang kurang memiliki minat serius dan talenta yang cukup mengenai sastra yang dianggap sulit lebih nyaman untuk tidak disajikan alias dihindari.

Di samping itu, sistem pendidikan di Indonesia acapkali memaksa sekolah sebagai penyelenggara pendidikan dan guru sebagai ujung tombak mengingkari hakikat pendidikan. Target perolehan nilai tertentu harus dicapai dengan standar penilaian ujian nasional, memicu pengingkaran tujuan pendidikan yang sebenarnya sehingga tidak urung memaksa guru bahasa menomorduakan sastra. Faktor rendahnya apresiasi dan minat baca rata-rata siswa dan lulusan SMA memiliki pengaruh terhadap karya sastra. Pengetahuan sastra yang kurang menjadi faktor lain, hal ini sangat tidak setara jika dibandingkan dengan pengetahuan siswa tentang dunia hiburan atau selebriti.

Permasalahan lain, kurikulum pendidikan yang saat ini digunakan tidak pernah memberikan ruang gerak pada pembelajaran sastra. Orientasi pemerintah dalam pembangunan bidang pendidikan masih melenceng jauh dari hakikat dan tujuan itu sendiri. Pada kenyataan guru pun masih dihadapkan dengan seperangkat silabus dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang telah dipatenkan dan menghambat kreativitas guru dan dengan sendirinya pembelajaran sastra menjadi terpinggirkan.

Berbagai kendala di atas menyebabkan pengajaran sastra di berbagai jenjang pendidikan formal hingga saat ini belum mencapai sasaran sebagaimana yang diharapkan. Tujuan akhir pembelajaran sastra, penumbuhan dan peningkatan apresiasi pada subjek didik belum menggembirakan. (http://jelajahduniabahasa.wordpress.com)