Karnaval Khatulistiwa 2015, Kemeriahan Ragam Budaya Bangsa

Oleh : Gusti Iwan

Mabmonline.org, Pontianak — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 Kemerdekaan Republik Indonesia, pemerintah dan Panitia Nasional Gerakan Ayo Kerja 70 Tahun Indonesia Merdeka (G70) menyelenggarakan kegiatan Karnaval Kharulistiwa 2015. Karnaval ini mengambil tema “Optimis menatap masa depan Indonesia”.

Untuk tahun ini, merupakan suatu kebanggaan dan kehormatan bagi masyarakat Kalimantan Barat bahwa pelaksanaan Karnaval Khatulistiwa diadakan di kota Pontianak. Karnaval Khatulistiwa 2015 meliputi tiga kegiatan, yakni karnaval darat (parade mobil hias, parade pejalan kaki dengan pakaian adat nusantara, dan marching band Taruna AD, AL, AU, Akpol serta SMA-SMA terpilih), karnaval air (sampan dan perahu  tradisional hias), serta panggung hiburan rakyat.

Disaksikan oleh Presiden Jokowi, parade karnaval darat dimulai pada pukul 14.00 WIB, dengan lokasi pelepasan di Rumah Radankng Pontianak. Peserta karnaval diikuti tidak hanya dari Kalimantan Barat saja, namun juga dari provinsi-provinsi lain, dan perwakilan dari negara tetangga, serta diikuti pula oleh instansi pemerintah, BUMN, BUMD, seniman, sanggar seni, paguyuban serta pelajar.

Usai konvoi karnaval darat, Presiden Jokowi melepas peserta karnaval air yang dimulai dari Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak. Peserta karnaval air dilepas dengan dibunyikannya meriam karbit sebanyak 70 kali sebagai tanda dimulainya parade karnaval air.

Parade Marching Band (Foto Gusti Iwan)
Parade Marching Band
(Foto Gusti Iwan)
Parade Marching Band  (foto Gusti Iwan)
Parade Marching Band
(foto Gusti Iwan)
(Foto Gusti Iwan)
Kendaraan Pangab dan Kapolri (Foto Gusti Iwan)
Kendaraan Jokowi  (foto Gusti Iwan)
Kendaraan Jokowi
(foto Gusti Iwan)
Wakil Ketua MPR, Oesman Sapta  (foto Gusti Iwan)
Wakil Ketua MPR, Oesman Sapta
(foto Gusti Iwan)
Kendaraan hias Sulsel  (foto Gusti Iwan)
Kendaraan hias Sulsel
(foto Gusti Iwan)
Kendaraan hias Jambi  (foto Gusti Iwan)
Kendaraan hias Jambi
(foto Gusti Iwan)
Konvoi Komunitas Sepeda Ontel  (foto Gusti Iwan)
Konvoi Komunitas Sepeda Ontel
(foto Gusti Iwan)
Kendaraan hias MABM Kalbar diantara kerumunan penonton.  (foto Gusti Iwan)
Kendaraan hias MABM Kalbar diantara kerumunan penonton.
(foto Gusti Iwan)

Grup Musik Tanjidor Gardu Kembayat

Oleh Asrul

Group Musik Tanjidor Gardu Kembayat, Sambas
Foto : Grup Musik Tanjidor Gardu Kembayat Saat Arak-arakan Pengantin

MABMonline.org, Sambas — Dum badum dung dung ciss… begitulah instrumen musik menggema di keramaian pesta perkawinan pagi itu, membuat suasana pesta terasa riang. Nada-nada yang dimainkan cukup akrab dengan telinga, itulah musik yang dimainkan oleh grup musik tanjidor.

Kabupaten Sambas bukan hanya memiliki panorama alam yang menarik, namun kawasan yang berada paling utara Kalbar dengan penduduk mayoritas Melayu ini, juga memiliki kebudayaan yang cukup menarik. Salah satu di antaranya adalah kesenian musik tradisional khususnya tanjidor.

Group musik yang terdiri dari terompet yang beraneka ukuran, drum (tanji) dan lain sebagainya. Grup musik yang identik dengan Betawi ini, tenyata ada di Kabupaten Sambas. Hampir setiap desa di kabupaten memiliki grup tanjidor, hal itu karena Sambas merupakan garda terdepan penghasil grup tanjidor yang didukung penuh oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas.

GrupTanjidor Gardu Kembayat merupakan satu di antara grup tanjidor yang ada di Kabupaten Sambas. Grup yang beranggotakan tujuh orang itu berdiri pada tahun 2000. Grup yang sudah beberapa kali berganti personil ini masih aktif sampai sekarang. Ketua sekaligus personil Grup Tanjidor Gardu Kembayat, Jupri (46) mengatakan, “biasanya tanjidor kami diundang saat acara pernikahan atau acara besar lainnya seperti final sepak bola antar kampung dan HUT RI.”

Pesta perkawinan tanpa tanjidor diibaratkan sayur tanpa garam, begitu kuatnya tradisi tanjidor bagi masyarakat Sambas sehingga ada yang menganggapnya demikian. Jupri mengakui, untuk latihan biasanya dilakukan pada setiap malam Kamis tergantung kesepakatan bersama, tidak mudah untuk memainkan sebuah lagu dengan menggunakan grup musik tanjidor. Oleh karena itu, para personil harus banyak latihan secara mandiri di rumah masing-masing.

Lagu-lagu yang dimainkan sangat beragam dari lagu yang lawas hingga lagu yang terbaru bisa dimainkan, lagu yang biasanya dimainkan adalah lagu Pengantin Baru, Gadis Rimbo, Kereta Malam, Cari Jodoh, dan lain-lain. Setiap anggota grup tanjidor yang terdiri tujuh orang, untuk sekali tampil biasanya dibayar Rp 80 ribu per orang. “Kami bertahan karena hobi saja.Kalau untuk penghasilan jangan ditanyalah,” sambungnya.

Iramanya yang khas membuat tanjidor banyak digemari masyarakat, setiap ada pernikahan dan acara besar lainya tanjidor selalu dihadirkan. Takkan hilang gema tanjidor dimakan teknologi. Semoga.

Parade dan Atraksi Kesenian Meriahkan FBBK 2013

Oleh Andhika Mahendra



MABMonline.org, Pontianak
— Festival Budaya Bumi Khatulistiwa (FBBK) 2013 secara resmi dibuka di Museum Negeri Pontianak, Jalan A Yani, Pontianak kemarin (26/9) siang. Ratusan orang yang mewakili 14 kabupaten/kota di Kalbar turut memeriahkan hari pertama acara yang akan dihelat hingga tanggal Minggu (29/9) mendatang ini. Mereka berparade dengan jalan kaki di jalanan Kota Pontianak dengan menggunakan pakaian khas tradisional daerah masing-masing. Parade ini mengundang perhatian dari pengguna jalan. Pasalnya, setiap kontingen juga menampilkan atraksi atau keseniannya masing-masing. Dalam acara kemarin pula, dipertontonkan tarian tiga etnis dan atraksi marching band dari mahasiswa. Festival Budaya Bumi Khatulistiwa (FBBK) 2013 menjadi ajang meningkatkan kunjungan wisatawan ke Provinsi Kalimantan Barat. Beragam kegiatan budaya Kalbar siap dipentaskan.

“Adanya FBBK ini menjadi sarana meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kalbar. Dari hasil evaluasi FBBK tahun sebelumnya, kunjungan wisatawan semakin meningkat,
Beberapa negara tetangga, seperti Malaysia dan Brunei Darussalam, turut diundang untuk menyaksikan FBBK 2013. “Kita undang mereka untuk turut menyaksikan kegiatan budaya dan kesenian dan etnis yang ada di Kalbar. FBBK juga menjadi agenda yang digaungkan dalam pertemuan bilateral Sosek Malindo.

Festival yang dihelat setiap dua tahun ini sudah yang ke 11 kalinya diadakan. Tahun ini pelaksanaannya dipusatkan di alaman Museum Negeri Pontianak. Selain parade budaya, ada juga kegiatan lainnya seperti seperti lomba tari daerah, lomba layang-layang hias, lomba lagu daerah, makanan khas daerah, syair Melayu, lomba berbalas pantun, lomba gasing dan sumpit. Ada pula pemilihan Bujang dan Dara Wisata Khatulistiwa Kalbar. “Seni dan budaya yang hidupdi Kalbar ini adalah daya tarik dan modal besar untuk kepariwisataan kita,” seni dan budaya di Kalbar harus terus dikembangkan dan digali. Oleh sebab itu kegiatan seperti FBBK penting dilaksanakan untuk mendorong kreatifitas dan apresiasi dari para pelaku seni dan budaya di Kalbar. “Salah satu sarana untuk menggali, melestarikan, mengembangkan dan mempromosikan budaya Kalbar adalah lewat FBBK.Salah satu atraksi dalam rangkaian FBBKini adalah lomba layang-layang yang bertujuan mengangkat khazanah seni budaya serta permainan rakyat Kalimantan Barat. Lomba layang-layang ini dilaksanakan di kompleks GOR Pangsuma, Pontianak,Sabtu(28/9/2013).

Lomba layang-layang ini diikuti enam daerah, yaitu Kota Pontianak, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Sintang, Kabupaten Melawi, dan Kabupaten Bengkayang.Ada tiga hal dalam kriteria penilaian. Pertama kreativitas dan originalitas atau ciri khas dari daerah peserta. Kemudian keindahan dan estetika, yang mengacu pada keindahan bentuk layangan.

“Kemudian layak terbang, karena ini lomba layang-layang, jadi dinilai juga, layak terbang atau tidak. Kriteria lomba layang-layang dibagi menjadi dua, yakni dua dimensi tradisonal atau yang disebut layangan merak. Kriteria kedua adalah tiga dimensi yang merupakan layang-layang hias modern namun dengan konsep ciri khas daerah. Beragam bentuk layangan milik peserta tampil dalam ajang ini. Mulai dari bentuk dua dimensi hingga tiga dimensi. Ada yang berbentuk burung, visual wajah manusia, bentuk merak, dan berbagai bentuk unik lainnya. Hujan yang turun sesaat sebelum perlombaan ternyata tak menyurutkan semangat para peserta lomba. Turunnya hujan justru dimanfaatkan peserta untuk mempersiapkan layang-layang yang akan diterbangkan dan memeriksa kondisi layang-layang.

Selain lomba layang-layang, FBBK juga menggelar berbagai ajang lain misalnya parade lagu daerah, tarian daerah, lomba syair melayu, serta lomba sumpit. Kemudian lomba pangkak gasing, lomba berbalas pantun, dan pemilihan bujang dara khatulistiwa. Rangkaian berbagai ajang tersebut memperebutkan piala bergilir Festival Budaya Bumi Khatulistiwa. Menurut rencana, FBBK XI akan ditutup pada Minggu (29/9/2013) di Museum Kalbar, Jalan Ahmad Yani Pontianauk mencari orang atau tim yang akan mewakili Kalbar pada even budaya berskala nasional maupun internasional.
Kabupaten Sintang mendominasi lomba-lomba dalam perhelatan Festival Budaya Bumi Khatulistiwa (FBBK) 2013. Dalam even dua tahunan yang digelar pada 27-29 September di Museum Negeri Pontianak ini, Kabupaten Sintang mampu menjadi juara umum dengan meraih 5 emas dari 9 lomba yang terbagi dalam belasan kategori. Sementara juara kedua diraih oleh Kabupaten Kubu Raya yang mendapat empat emas. Sedangkan juara ketiga diambil oleh Kabupaten Ketapang yang meraup 3 emas.Beberapa perlombaan juga menjadi ajang seleksi bagi Kalimantan Barat untuk mengirimkan wakilnya ke even budaya tingkat nasional. Pemenang lomba lagu Melayu yang dimenangkan oleh Kabupaten Sintang misalnya, akan diikutkan dalam even Parade Lagu Nusantara di TMII, Jakarta Desember nanti. Sedangkan pemenang lagu Dayak dari Kabupaten Kubu Raya akan ikut dalam even yang sama, namun untuk tahun 2014.

Sementara kontingen Kabupaten Bengkayang yang menang pawai budaya akan dikirim mengikuti festival budaya di Istana Merdeka dalam rangka perayaan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia tahun depan. Sedangkan kontingen Kota Pontianak yang menjadi runner up juga akan jadi wakil Kalbar di gelaran serupa tahun 2015.
Begitu pula pemenang Bujang Dara Wisata Khatulistiwa Kalbar yang akan jadi peserta ajang pemilihan Duta Wisata Indonesia di Nangroe Aceh Darusallam beberapa pekan lagi. Bujang Wisata diraih oleh Kabupaten Ketapang, dan Dara Wisata dimenangkan oleh Kabupaten Kubu Raya. Sementara runner up Bujang Wisata dari Kabupaten Kubu Raya dan runner up Dara Wisata asal Kabupaten Sintang akan ikut perhelatan yang sama tahun mendatang.

Mabm Pamerkan Kerajinan Khas Kalbar

Oleh Gusti Iwan

Stand Pameran MABM Kalimantan Barat
Stand Pameran MABM Kalimantan Barat

MABMonline.org, Tanjungpinang —  Pada Perhelatan Tamadun Melayu I di Tanjungpinang kemarin, Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat (MABMKB) mempersiapkan stand pameran yang memamerkan foto kegiatan MABMKB dan berbagai hasil kerajinan masyarakat yang berasal dari beberapa kabupaten/kota di Kalimantan Barat.

Kain corak insang dengan tenun benang emas khas kota Pontianak, kain tenun khas kabupaten Sintang, hiasan dinding berbentuk tudung saji khas kabupaten Landak, kain songket khas kabupaten Sambas dan berbagai barang kerajinan lainnya dipamerkan di stand MABM Kalimantan Barat.

Cukup banyak warga yang berkunjung melihat-lihat atau bahkan membeli hasil kerajinan yang dipamerkan di stand MABMKB. Stand pameran ini secara tidak langsung juga menjadi ajang silaturahmi bagi warga Kalimantan Barat. Beberapa diantaranya merupakan warga Kalimantan Barat yang telah merantau ke Tanjungpinang, ada diantaranya yang berasal dari kabupaten Sambas, Mempawah dan Pontianak.
“Saya juga merupakan warga keturunan dari Sambas, kakek dan nenek saya berasal dari Sambas. Orang tua saya merantau ke Tanjungpinang sudah cukup lama. Kami dibesarkan di Tanjungpinang ini lah,” cerita ibu Uray, didampingi anaknya usai membeli kain khas Sambas.

Tokoh masyarakat Kepulauan Riau yang juga Ketua Umum Dewan Mesjid Indonesia (DMI) Provinsi Kepulauan Riau, H. Huzrin Hood, SH, juga turut menyempatkan diri mengunjungi stand pameran MABM Kalimantan Barat. Sambil melihat-lihat stand pameran, Huzrin Hood terlihat berbincang dengan Chairil Effendy, Ketua Umum MABM Kalimantan Barat.

Malaysia Bawa 100 orang Peserta Pawai Budaya

Oleh Gusti Iwan

MABMonline.org, Tanjungpinang — Perhelatan Tamadun Melayu I, Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) yang digelar Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau Jumat, 27 September 2013 di Gedung Daerah Rumah Dinas kediaman Gubernur Kepulauan Riau berlangsung meriah dan khidmat. Acara pembukaan dilanjutkan dengan menampilkan pawai budaya 3 negara Asia Tenggara dan 14 provinsi dan 7 kabupaten/kota dari Kepulauan Riau sebagai tuan rumah.

Pawai ini merupakan sebagai atraksi persembahan budaya Melayu dihadapan Wapres Boediono, Mendagri, Mendikbud, Presiden DMDI, dan tamu-tamu kehormatan dari seluruh penjuru Nusantara yang mengikuti acara peresmian Perhelatan Tamadun Melayu I di Tanjungpinang.

Rombongan pawai budaya ini melintas dan mempertunjukkan tamadun lokal negeri-negeri Melayu Nusantara. Malaysia membawa kekuatan penuh ada sekitar 100 orang menyertai Perhelatan Tamadun Melayu I ini. “Ada 100 orang dari beberapa negeri Malaysia tampil dalam pawai budaya,” ujar Kru TV3 Melaka yang diwawancarai saat acara peresmian berlangsung. Rombongan pertama berasal dari Negeri Melaka, negerinya Hang Tuah dengan pepatah terkenalnya “esa hilang dua terbilang, takkan Melayu hilang”. Rombongan Negeri Melaka menampilkan musik Melayu sebagai simbol-simbol negara pemilik bahasa serumpun Melayu. Rombongan kedua dari Negeri Kedah menampilkan Gendang Kedah yang dimainkan dalam acara terhormat dan majlis yang mulia. Ketiga, rombongan budaya dari Pulau Penang, Semenanjung Malaysia. Keempat, rombongan Johor Bahru. Kelima, Negeri Kelantan yang menampilkan wayang kulit dan dikir barat. Keenam, rombongan  menampilkan adat meminang dengan membawa adat dulang Melayu.

Pawai Budaya Ramaikan Perhelatan Tamadun Melayu

MABM Kalbar Tampilkan Rumpun Melayu yang Akrab dan Damai

Oleh: Gusti Iwan

MABMonline.org, Tanjungpinang — Perhelatan Tamadun Melayu I, Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) yang digelar Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau Jumat, 27 September 2013 di Gedung Daerah Rumah Dinas kediaman Gubernur Kepulauan Riau berlangsung meriah dan khidmat. Acara pembukaan dilanjutkan dengan menampilkan pawai budaya 3 negara Asia Tenggara dan 14 provinsi dan 7 kabupaten/kota dari Kepulauan Riau sebagai tuan rumah.

Pawai ini merupakan sebagai atraksi persembahan budaya Melayu di hadapan Wapres Boediono, Mendagri, Mendikbud, Presiden DMDI, dan tamu-tamu kehormatan dari seluruh penjuru Nusantara yang mengikuti acara peresmian Perhelatan Tamadun Melayu I di Tanjungpinang. Rombongan pawai budaya ini melintas dan mempertunjukkan tamadun lokal negeri-negeri Melayu Nusantara.

Rombongan pertama berasal dari Malaysia dengan membawa rombongan dari Negeri Melaka, Negeri Kedah, Pulau Penang, Johor Bahru, Negeri Kelantan, dan Selangor Darul Ehsan. Rombongan kedua diikuti dengan pawai budaya dari Singapura yang menampilkan pawai dengan mengusung tema “Budaya Singapura”. Rombongan ketiga dari Thailand, Patani yang mengusung tema bersemangat melestarikan Melayu di Thailand. Walaupun, rombongan budaya dari Thailand hanya terdiri atas 2 orang tetapi mereka tampak bersemangat megikuti pawai budaya.

Selanjutnya pawai budaya 14 Provinsi yang dimulai dari Nangroe Aceh Darussalam menampilkan pawai budaya nelayan dan pesisr sebagai wujud semangat kerja keras. Sumatera Utara menampilkan budaya teriakan ahoi-ahoi sebagai simbolisme mengajak bergotong-royong panen padi dan ajang pesta panen yang membuat berkumpulnya muda-mudi untuk mencari jodoh. Sumatera Barat menampilkan penjemputan lelaki ke rumah perempuan. Riau menampilkan pertunjukan Melayu agung, kembali ke puncak. Sumatera Selatan menampilkan kesenian dul muluk.

Rombongan MABM Kalbar menampilkan pawai budaya dengan mengusung tema Sungai Kapuas dengan rumpun Melayu yang akrab dan damai. Kalimantan Selatan menampilkan kesenian Mamanda dengan iringan lagu ampar-ampar pisang. Sulawesi Barat menampilkan perkawinan masyarakat Mamuju.

Jambi memperkenalkan permainan rakyat lukah gilo. Permainan rakyat yang semulanya ritual magis khas adat pada masyarakat Jambi sekarang menjadi permainan rakyat yang umum dimainkan. Bangka Belitung menampilkan permainan rakyat sehabis panen lada dengan iringan musik gambus.

DKI Jakarta menampilkan pawai budaya Betawi untuk Jakarta baru. Mpok Nori dan Mastur adiknya Mandra tampil sebagai ikon Betawi. Mastur dan Mpok Nori bersilat dengan iringan tari dan musik tanjidor khas Betawi.

Tujuh kabupaten dan kota Kepulau Riau menampilkan peserta pawai budaya dalam prosesi perkawinan, tarian basibah-sibah, dan makyong. Dalam pawai budaya ini Kepri juga menampilkan pawai kebesaran mengarak Raja Melayu. Ritual ini terakhir diadakan pada tahun 1985 di Pulau Penyengat. Mengarak Raja Melayu merupakan simbol kebesaran Kerajaan Riau, Lingga, Johor, dan Pahang. Auman magis dan tembakan meriam membuat penonton bergidik. Hal ini diikuti dengan iringan vokal yang membahana pembawa acara dalam membacakan Gurindam XII. Pertunjukkan budaya ini menampilkan sosok Raja Ali Haji sebagai pahlawan nasional bidang bahasa dan Raja Ahmad sebagai pahlawan Melayu yang menentang Belanda. Penonton tampak terpukau dan tersihir oleh pertunjukkan budaya ini. “Bergidik saya mendengarnya Bang,” seru Syahrani penonton yang antusias menyaksikan pawai budaya ini.

Wapres Resmikan Perhelatan Tamadun Melayu I

Boediono: Forum Perkenalkan Kebesaran Sejarah dan Tamadun Melayu

Oleh: Gusti Iwan

MABMonline.org., Tanjungpinang — Perhelatan Tamadun Melayu I, Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) yang digelar Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau Jumat, 27 September 2013 di Rumah Dinas Gubernur Kepulauan Riau berlangsung meriah dan khidmat. Perhelatan ini digelar bertepatan dengan HUT ke-11 Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau. Wakil Presiden RI Boediono yang didampingi istri Hj. Herawati didaulat untuk memberikan alu-aluan sekaligus meresmikan Perhelatan Tamadun Melayu I yang diliput oleh berbagai media lokal, nasional, dan internasional.

Acara besar peradaban Melayu ini juga dihadiri Mendagri Gamawan Fauzi, Mendikbud M. Nuh, dan Presiden Dunia Melayu Dunia Islam Datok M. Ali Rustam. Sebelum Wapres menyampaikan alu-aluan Gubernur Kepri M. Sani menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh tamu di Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Pulau yang dikenal sebagai bunda tanah Melayu, kota gurindam, dan negeri pantun. Dalam sambutannya Gubernur Kepri M. Sani berucap, “Kami harus merajut kapal agar dapat merapat ke dermaga impian yang bernama kesejahteraan.” Gubernur Kepri pun menutup alu-aluannya dengan pantun Menjaga satu haluan, bersahabat satu negeri, mane yang baik bawalah pulang, mane yang buruk jangan dibawa pulang.

Wapres mengenakan pakaian adat Melayu dengan warna biru berdiri di podium. Wapres memulai alu-aluannya dengan pantun pembuka Sirih dilipat dicampur pinang, sirih dibawa dari Melaka, balas kata. Pergi ke rimba cari tekukur, kaki melangkah terhadang kayu, hamba bahagia serta bersyukur, di tengah pemuka adat Melayu. “Saya memberanikan diri untuk berpantun dihadapan hadirin sekalian karena saya tahu bahwa Kota Tanjungpinang ini dikenal sebagai kota gurindam dan negeri pantun,” seru Wapres saat usai melantunkan pantun.

Dalam alu-aluannya Wapres Boediono menyambut baik pelaksanaan Perhelatan Tamadun Melayu I yang mengambil tema “Kebesaran Sejarah dan Tamadun Melayu. Wapres juga menjelaskan bahwa arti penting tamadun adalah puncak prestasi peradaban Melayu. Bahasa dan sastra Melayu memiliki sumbangan paling penting bagi peradaban Melayu dan Indonesia. Sumbangan yang paling penting adalah dijadikannya bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia. Wapres berharap, “Perhelatan Tamadun Melayu I menjadi forum untuk memperkenalkan kebesaran sejarah dan tamadun Melayu kepada generasi muda untuk memperkuat ketahanan budaya kita di tengah arus globalisasi.”

“Festival ini juga dimaksudkan sebagai ajang bagi para seniman, budayawan, dan sejarahwan sebagai ajang kreasi dan kreatif dalam berseni untuk menggali, melestarikan, dan mengembangkan kekayaan khazanah kebudayaan Melayu sesuai tuntutan zaman. Menjadikan Kepulauan Riau sebagai pusat wisata Melayu serta membuat persaudaraan antarnegara rumpun Melayu.”

Di akhir alu-aluannya Wapres pun berpantun Bersama kita memotong padi, panen dibawa ke Pulau Sumatera, hamba berucap selamat hari jadi, masyarakat Kepri pasti makin sejahtera. Kepulauan Riau tempat bermukim. Tanah Melayu hendak dicita, dengan mengucap bismilahirahmannirrahhim, festival tmadun Melayu resmi dibuka. Selanjutnya, Wapres menabuh gendang besar sebagai tanda dibukanya Perhelatan Tamadun Melayu I di Tanjungpinang.

Setelah resmi Perhelatan Tamadun Melayu I dibuka oleh Wapres Boediono. Wapres beserta rombongan dari Jakarta dan tamu-tamu kehormatan dari Malaysia, Thailand, Singapura, utusan 14 provinsi di Indonesia dan 7 Kabupaten/Kota dari Kepulauan Riau disambut dengan tarian selamat datang oleh remaja-remaja putri yang berjumlah lima belas orang sembari membawa simbolisasi tepak sirih.

Gubernur dan Rombongan MABM Kalbar Ikuti Perhelatan Tamadun Melayu

Oleh: Gusti Iwan

MABMonline.org, Tanjung Pinang — Rombongan Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalimantan Barat bersama Gubernur Kalimantan Barat berangkat (26/9/2013) mengikuti Perhelatan Tamadun Melayu I di Tanjungpinang. Rombongan ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum MABM KB Prof. Dr. Chairil Effendy dan Gubernur Kalimantan Barat Drs. Cornelis, M.H untuk mengikuti kegiatan yang dilaksanakan tanggal 26—30 September 2013.

“Kami membawa 40 orang ke Tanjungpinang untuk meramaikan Perhelatan Tamadun Melayu I sebagai ajang silaturahmi dan titian muhibah masyarakat rumpun Melayu Nusantara,” ucap Chairil. Ia menjelaskan, “Kegiatan ini akan menjadi ajang memperkukuh persaudaraan Puak Melayu sekaligus ajang memperkenalkan budaya masing-masing daerah dan negeri Melayu dari segenap penjuru Nusantara.”

Lebih lanjut Ketua Umum MABM Kalimantan Barat ini mengungkapkan bahwa kegiatan perhelatan ini merupakan satu cara menjunjung adat dan budaya Melayu dalam pentas yang besar untuk memperlihatkan jati diri Melayu sebagai akar budaya bangsa dalam menghadapi derasnya globalisasi.