Kembangkan Budaya Baca Tulis, Forsas Kampanye ke Sekolah

 

forsas muhammadiyah ketapang
mabmonline.org– Untuk mengembangkan budaya membaca dan menulis, Forum Sastra Kalimantan Barat (Forsas Kalbar) mendatangi beberapa sekolah. Kali ini, tim yang beranggotakan dua orang mendatangi SMA Muhammadiyah 1 dan 2 Ketapang.

“Kali ini, hari kedua yakni SMA Muhammadiyah Ketapang,” kata Asmirizani, satu di antara anggota tim sekaligus sebagai pengurus bidang komunikasi dan informasi Forsas Kalbar.

Asmiri juga mengatakan, mereka akan terus melakukan kampanye ini ke sekolah-sekolah. Saat ini, mereka baru menjalankan di Ketapang. Tidak menutup kemungkinan akan mendatangi seluruh sekolah yang ada di Kalimantan Barat. “Biar ada motivasi membaca dan penulisan puisi,” tambah Asmiri.

Di SMA Muhammadiyah, Asmiri memberikan motivasi menulis kepada siswa-siswa dan memberikan pelatihan kepenulisan puisi Akorstik. “Naskah tulisan tersebut saat ini sedang dipilah-pilah oleh kurator. Nanti akan diterbitkan,” jelas Asmiri.

Menurut Asmiri, naskah-naskah yang telah ditulis akan disunting, dipilih oleh tim kurator. Naskah tersebut juga akan diterbitkan agar terdaftar di perpustakaan nasional dan yang pasti ber-ISBN. Zani berharap, acara yang mereka gagas ini dapat berlangsung terus dan dapat menumbuhkembangkan geliat sastra di Kalimantan Barat. “Semoga usaha yang kita lakukan bisa berguna bagi perkembangan sastra di Kalbar,” pungkas Asmiri.

Warga Datangi Gedung Indoor Volli untuk Menonton Lomba Tangkai Syair

Oleh Asmirizani

MABMonline.org, Putussibau—Gedung indoor volly sejak pagi sudah didatangi warga Putussibau untuk menyaksikan lomba tangkai syair Melayu, jumat, (19/12). Anak-anak hingga orang tua menyaksikan lomba tangkai syair Melayu. Tak heran masyarakat Putussibau berantusias untuk menyaksikan lomba tangkai syair Melayu. Peserta yang mengikuti tangkai lomba syair berjumlah 20 orang. Wanita berjumlah sepuluh dan perempuan berjumlah sepuluh.

Perlombaan ini diikuti setiap kontigen FSBM X dengan ciptaan syair dan pembacaan syair khas daerah sendiri. Pembacaan syair Melayu setiap daerah berbeda. Ada pembacaan syair Siti Jubaidah dan ada pembacaan syair gulung. Syair yang membuat penonton terkesima. Suara alunan dari pembaca syair membuat seseorang terhanyut dengan pesan yang disampaikan. Berupa pesan kebudayaan bahkan pesan keagamaan.

Seperti halnya syair yang dibawakan oleh Feti (15) peserta dari Sambas. Ia membawakan syair berjudul Akad Menjelang Akad Nikah karya Gusti Arif Krisna yang berisi nasihat keagamaan sebelum menikah.

“Syair ini dibuat oleh Gusti Arif Krisna dengan judul Akad Menjelang Akad Nikah. Syair ini berkisah mengenai nasihat sebelum menikah. Syair yang dibacakan dengan khas Melayu Sambas. Saya menampilkan semaksimal dengan hanya latihan selama satu minggu,” ujar Feti.

Feti: Peserta tangkai lomba syair Melayu usai turun dari pentas
Feti: Peserta tangkai lomba syair Melayu usai turun dari pentas

Riuh tepuk tangan dari para penonton menyemarakkan gedung indoor volly. Rangkaian lomba ini bukan hanya mencari menang dan kalah tetapi terjalinnya silaturahmi yang erat antara puak Melayu. Peserta bersemangat menampilkan pembacaan syair Melayu dengan khidmat. Terlihat beberapa peserta bersalaman bahkan berpelukan.

Syair Tunjuk Ajar Melayu

oleh: Tenas Effendy

01. Wahai ananda hendaklah ingat
Hidup di dunia  amatlah singkat
Banyakkan amal serta ibadat
Supaya selamat dunia akhirat

02. Wahai ananda dengarkan peri
Tunangan hidup adalah mati
Carilah bekal ketika pagi
Supaya tidak menyesal nanti

03. Wahai ananda dengarlah madah
Baikkan laku elokkan tingkah
Banyakan  kerja yang berfaedah
Supaya hidupmu beroleh berkah

04. Wahai ananda dengarlah pesan
Kuatkan hati teguhkan iman
Jangan didengar  bisikan setan
Supaya dirimu diampuni Tuhan

05. Wahai ananda  peganglah janji
Berbuat khianat engkau jauhi
Banyakkan olehmu bertanam budi
Supaya kelak hidup terpuji

06. Wahai ananda  cahaya mata,
Janganlah tamak kepada harta
Mencari nafkah berpada-pada
Supaya hidupmu tiada bernista

07. Wahai ananda sibiran tulang
Betulkan kaji, tegakkan sembahyang
Umur yang ada jangan dibuang
Supaya  hidupmu dipandang orang

08. Wahai ananda buah hati bunda
Berpegang teguhlah pada agama
Beramallah engkau sehabis daya
Supaya  selamat dari neraka

09. Wahai ananda belahan diri
Kerja menyalah  jangan hampiri
Berbuat maksiat jangan sekali
Supaya  hidupmu diberkahi ilahi

10.  Wahai ananda  mustika hati
Pandai-pandailah  membawa diri
Hasutan orang  jangan peduli
Serahkan diri  pada ilahi

11.   Wahai ananda  intan terpilih
Jadilah engkau anak yang saleh
Berbuat baik  jangan memilih
Bergaul jangan memilih kasih

12.  Wahai ananda kekasih ibu
Dalam beralam dalamkan ilmu
Dalam beriman janganlah ragu
Ridho Allah yang engkau rindu

13.  Wahai ananda kekasih ayah
Hanya Allah yang engkau sembah
Ibu dan bapa jangan disanggah
Supaya engkau beroleh berkah

14.  Wahai ananda intan dikarang
Duduk beguru janganlah kurang
Berbuat baik janganlah kepalang
Supaya kelak hidupmu tenang

15.  Wahai ananda  tambatan hati
Jauhkan sifat iri dan dengki
Bekerjalah  dengan sesungguh hati
Itulah bekal hidup dan mati

16. Wahai ananda ratna manikam,
Berpegang teguhlah kepada Islam
banyakkan amal siang dan malam
supaya hidupmu tidak tenggelam

17. Wahai ananda kuntum pilihan,
Syarak dan sunnah jangan abaikan
Berbuat kebajikan janganlah segan
Supaya engkau dirahmati Tuhan

18. Wahai ananda kemala negeri,
Kokohkan iman di dalam diri
Tunjuk ajar engkau dengari
Bulukan setan engkau jauhi

19. Wahai ananda cahaya rumah,
Dalam ibadah janganlah lengah
Kerjakan suruh, jauhkan cegah
Supaya hidupmu beroleh berkah

20. Wahai ananda payung sekaki,
Bersihkan niat lapangkan hati
Jauhkan segala perbuatan keji
Supaya hidupmu tidak terkeji

21.  Wahai ananda cahaya gemilang,
Ilmu di dada jangan dibuang
Jauhkan segala pantang dan larang
Supaya hidupmu tidak terbuang

22. Wahai ananda tambatan jiwa,
Jauhkan olehmu sifat aniaya
Berbaik-baik sesama manusia
Supaya kelak tidak cedera

23. Wahai ananda mustika ayah,
Dalam beriman janganlah goyah
Betulkan akal luruskan langkah
Mohonlah petunjuk  kepada Allah

24. Wahai ananda mustika bunda
Janganlah cuai dalam agama
Kerjakan sembahyang tiang agama
Supaya hidupmu selamat sempurna

25. Wahai ananda mustika alam,
Kekallah engkau memeluk Islam
Bersihkan diri luar dan dalam
Banyakkan ingat siang dan malam

Hikayat Nenek Demang Nutup (Demang Bruik)

oleh: Yati Herdayanti

Dahulu kala, Bukit Belun yang berada di Nanga Tepuai dan Bukit Amapan yang berada di Nanga Pedian adalah dua bukit yang bersatu. Tingginya hampir mencapai langit. Untuk naik ke langit cukup menggunakan akar beruru (sejenis akar hutan). Akar beruru tersebut, sering digunakan oleh Demang Nutup (orang kayangan) untuk turun ke bumi.

Pada suatu hari anak Denang Nutup sangat ingin makan ikan. Karena hastrat anaknya tersebut turunlah Demang nutup ke bumi, menuju ke suatu lubuk yang bernama Sarai Dalip. Ia membawa perlengkapan seperti jala, beriut (sejenis anyaman dari rota yang berfungsi seperti tas) untuk membawa ikan ke kayangan.

Sesampai di lubuk Sarai dalip, Demang Nutup pun menebarkan jalanya ke sungai. Ia banyak sekali mendapatkan ikan tamun (sejenis ikan sepat). Setelah banyak mendapatkan ikan, ia kembali ke kayangan. Tiba di kayangan ia memasak ikan tamun tersebut. Selesai memasak, ia menyuruh anaknnya untuk makan. Anaknya pun mulai memakan ikan tamun tersebut. Karena kurang hati-hati, anaknya ketulangan ikan. Demang Nutup berusaha meneluarkan tulang ikan di kerongkongan anaknya, namun tidak berhasil. Melihat kejadian tersebut, Demang Nutup sangat marah. Karena marahnya Demang Nutup pun berniat untuk mengangkatkan bukit beluan untuk menutupi sungai Embau agar manusia tidak bisa melewati sungai tersebut.

Setelah jauh ia mengangkat bukit tersebut, ia bertemu dengan kawannya di Lokan Maram, kawannya tersebut memanggilnya.”O…. Demang Nutup hendak kemanakah engkau? singgahlah Demang Nutup ke tempat orang tersebut yang sedang duduk di Lokan Maram yang berada di belakang Nanga Pedian. mereka berdua pun bercerita. Ketikan Demang Nutup hendak meneruskan perjalanannya mengangkat bukit, tiba-tiba bukit tersebut terbenam di Lokan Maram dan tidak dapat diangkatnya lagi.

Kemudian Demang Nutup pun berangkat ke hilir Emabau dan singgah di Ntilang Bosi, nama suatu tempat di hilir Jongkong. Demang Nutup pun membuat pondok di tempat tersebut untuk bercocok tanam. Sambil bercocok taman, ia membuat membuat perahu untuk berangkat ke Jawa, karena ia ingin bertemu dengan raja Cina. Ia membuat perahu dari kayu tangkung bekakak. Laju perahu tersebut ibarat besi dijatuhkan dan haluan dapat ditangkap di kemudi perahu. Di bawah perahu tersebut ia membuat semacam sebuah tempat yang dapat digunakan untuk membawa peralatan.

Setelah perahu tersebut selesai, Demang Nutup menjemur padi di Ntilang Bosi. Kemudian ia berangkat ke Jawa. Setelah sampai ke tanah Jawa, ia disambut oleh raja Cina. Ia dijamu dengan makanan oleh raja Cina. Pada waktu jamuan makan tersebut, Demang Nutup ditanya oleh raja Cina nama serta asalnya. Demang Nutup menceritakan bahwa dia berasal dari Kalimantan Barat.

Setelah ia kembali dan hadapan raja tersebut, raja Cina memerintahkan kepada prajurit untuk memperlakukan Demang Nutup dengan baik. Pada suatu hari, pelayan raja Cina mengantar makanan Demang Nutup ke perahunya. Namun setelah selesai, semua peralatan makan yang ia gunakan tidak pernah dikembalikan. Rupanya piring tersebut dimasukannya ke bawah perahunya. Begiti seterusnya sampai beberapa hari.

Melihat kejadian tersebut, raja Cina curiga dan bertanya kepada Demang Nutup, kenapa piring, cawan yang engkau pakai tidak pernah engakau kembalikan kepada kami, Nenek Demang Nutup menjawab bahwa ia tidak tahu.

Karena curiga, Raja Cina menangkap dan menahan Demang Nutup. Dalam perjalanan ke tahanan Demang Nutup sempat mencabut keris Majapahit dan menancapkannya ke pohon pisang jawa. Seketika itu, hari pun menjadi gelap seolah-olah malam terus dan tidak pernah siang kembali. Melihat kejadian itu, raja Cina pun menjadi heran. Ia menduga pasti ini ada kaitan dengan kekuatan dari orang yang mereka tangkap.

Akhirnya Demang Nutup pun dibebaskan oleh mereka. Raja Cina bertanya kepadanya perihal penyebab hari yang terus-menerus gelap selama Demang Nutup berada dalam tahanan. Demang Nutup menjawab, baiklah kalau begitu, tapi aku memiliki syarat kepada kalian. Apa yang engkau syaratkan, kata raja Cina, keris Majapahit yang aku tancapkan di pohon pisang Jawa yang menyebabkan hari selalu gelap aku berikan kepada kalian. Piring yang aku pakai untuk makan, aku membawanya pulang ke Kalimantan. Raja Cina pun menyanggupi syarat tersebut. Kemudian Demang Nutup kembali ke Kalimantan dan singgah di Ntilang Bosi dan berumah tangga di tempat itu.

Anak-anak dari nenek Demang Nutup tidak ada yang menjadi manusia, tetapi menjadi buaya di Sungai Kapuas. Karena itu orang Embau tidak pernah mati dimakan buaya, karena asal keturunan mereka dari nenek Demang Nutup.

Teater Mendu Pukau Ribuan Penonton

Oleh Asmirizani

MABMonline.org, Pontianak – Tak seperti biasanya, Rumah Melayu dipadati manusia lebih awal, hari Jum’at (6/12), bukan Sabtu dan Minggu. Bukan juga di acara resepsi atau walimah. Masyarakat Pontianak tumpah ruah memenuhi rumah Melayu yang terletak di jalan Sutan Syahrir. Kerumunan orang tersebar di seluruh sudut Rumah Melayu. Mereka bersemangat menyaksikan seni tari Jepin dan teater Mendu. “Di luar ekspektasi,” demikian ungkap Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kalbar, Yusri Zainuddin yang seolah mewakili suasana batin panitia malam budaya tersebut.

Ratusan Penonton memenuhi Balairung Rumah Melayu (Foto Gusti Iwan)
Ribuan Penonton memenuhi Balairung Rumah Melayu (Foto Gusti Iwan)

Ahmad Yani (26), mahasiswa Stain Pontianak sengaja datang untuk menyaksikan teater Mendu. Selain ingin menyaksikan secara langsung, ia juga ingin mengetahui seperti apa teater Mendu itu. “Saya pernah mendengar teater Mendu, tapi saya tak pernah melihat secara langsung. Saya ke sini ingin tahu apa itu teater Mendu. Ternyata teater mendu sangat bagus dan menghibur.”

Ya, masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui teater tradisional Mendu. Bahkan masyarakat Melayu sendiripun juga tidak tahu. Mereka hanya pernah mendengarnya saja. Malam budaya yang menampilkan teater Mendu membuat masyarakat tertarik untuk menyaksikan dan mengetahui. “Saye diajak kawan pegi kesinek bang. Pas dengar kate Mendu, saye jadi penasaran ingin nonton. Ternyate penontonnye ramai. Bukan hanye orang lokal yang ade, orang Barat pun ade nonton gak bang,” kata Yuda, sambil menunjuk pada dua turis yang ikut menonton.

“Teater ini lain dari teater biasanya, teater Mendu banyak improvisasinya dan sangat menghibur penonton. Selain menghibur juga ada pesan yang disampaikan,” ujar Sidik (17) yang merupakan siswa SMA 1 Kubu Raya.

Mendu sendiri merupakan seni tradisional teater Melayu. Tak hanya di Pontianak, Mendu juga dikenal di kepulauan Riau. Improvisasi dan spontanitas menjadi darah bagi pementasannya. Hal ini juga mirip yang kita saksikan di pementasan lenong Betawi atau di acara populer TV Opera Van Java. Tak heran, pementasan yang sejatinya hanya berlangsung satu setengah jam, bisa molor menjadi dua jam-an.

Tak dipungkiri lagi teater ini mulai diminati masyarakat. Terlihat dari tepukan tangan dan gelak tawa penonton di sepanjang pementasan teater Mendu. Ribuan penonton seolah terhipnotis dengan penampilan pemain saat di atas panggung. Tak beranjak hingga pementasan berakhir di pukul sebelas malam.

Alhamdulillah…

*Bagi yang ingin mengetahui Mendu lebih mendalam, silakan simak video berikut:

Syair Melayu: Peranan Wanita

MABMonline.com, Pontianak.

Peranan Wanita

                                                                                                           Karya : Datok Gila (dari Kabupaten Sekadau)

Dengan bismillah kami ucapkan
Puji dan syukur kami panjatkan
Menghatur sembah salam penghormatan
Kepada semua hadirin sekalian

Para wanita di saat ini
Melangkah maju meningkatkan prestasi
Dengan bekerja di berbagai instansi
Bahkan ada juga yang memimpin negeri

Bergotong royong kita tingkatkan
Saling membnatu sesama insan
Janganlah kita saling menjatuhkan untuk mencari nama dan kekuasaan

Marilah kita duduk bersama
Tidak membedakan miskin dan kaya
Bahu membahu dalam berkerja
Untuk kemajuan kita semua

Kami semua para wanita
Ikut melestarikan seni dan budaya
Adat dan tradisi sebagai pusaka
Sebagai pedoman dalam berkarya

Festival budaya di saat ini
Untuk mengangkat seni dan tradisi
Lantunan syair sampai di sini
Kami memohon untuk undur diri

Syair Melayu: Bersatu Dalam Kebersamaan

Bersatu Dalam Kebersamaan

                                                                                                        Karya  :   Datok Gila (dari Kabupaten Sekadau)

Bismillahrrahmaanirrahiim kami mulakan
Menghatur senbah salam penghormatan
Puji dan syukur kami panjatkan
Atas Segala rahmat yang telah diberikan

Majelis Adat Budaya Melayu
Menjadi wadah untuk bersatu
Seni dan budaya dijaga selalu
Itu lah pusaka sejak dahulu

Festival budaya di saat ini
Untuk melestarikan seni dan tradisi
Meskipun zaman silih berganti
Tidak akan Melayu hilang di bumi

Seni dan budaya kita jagakan
Selalu mengisi setiap kegiatan
Adat dan tradisi jangan dilupakan
Sebagai panutan dalam kehidupan

Marilah kita bersatu padu
Hidup rukun saling membantu
Tidak membedakan etnis dan suku
agar tercapai kehidupan yang lebih maju

Bersama menjaga adat dan tradisi
Agar selalu hidup dan lestari
Membaca syair sampai di sini
Di lain waktu berjumpa lagi

Tradisi Lisan: Pintu Masuk Ajaran Islam di Kalimantan Barat

oleh Dedy Ari Asfar

ingat-ingat kau lalu-lalang
berlekas-lekas jangankan amang
Suluh Muhammad yugia kau pasang
supaya salim jalanmu datang

(Hamzah Fansuri)

Kita mafhum bahwa pembawa ajaran Islam tentunya orang luar (seperti Arab, Persia). Dakwah Islam oleh pendakwah tersebut tentu disampaikan secara lisan. Bahkan, ajaran tersebut diperkuat dengan unsur-unsur magis. Hal ini tergambar dengan jelas dalam Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai (lihat Samad Ahmad 1986:54—57; Parnickel 1995:39).

Pedagang Arab dan Persia membawa Islam dan memengaruhi masyarakat dan kerajaan tempatan untuk memeluk agama Islam. Situasi ini kemudian berkembang dengan menjadikan kerajaan Islam sebagai salah satu institusi resmi yang memainkan peranan penting dan strategis dalam menyebarkan teologi dan filosofi Islam di kawasan pesisir Nusantara. Oleh karena itu, Islam diidentikkan dengan pesisir dan kesultanan Melayu. Hal ini pula yang menyebabkan ramai orang di pantai pesisir Nusantara masuk Islam dengan cepat.

Dalam perspektif barat, Islam menjadi diminati oleh masyarakat di kawasan Nusantara ini disebabkan oleh faktor batiniah dan duniawi. Secara batiniah Islam dapat diterima karena Islam tidak mengenal kasta dan kelas sosial yang sebelumnya dianut masyarakat Nusantara melalui agama Hindu dan Budha sehingga banyak terjadi ketimpangan sosial dan menjadi jurang pemisah karena pengaruh agama sebelumnya (lihat Parnickel 1995:36).

Secara duniawi, orang yang masuk Islam mendapat kemudahan karena jaringan perdagangan Nusantara dibanjiri para pedagang Islam. Orang yang masuk Islam dengan sendirinya menjadi anggota umat Islam internasional dan mendapat bantuan dari saudara seagama dalam pelayaran dan perdagangan di mana-mana. Begitu juga dengan sebuah kerajaan yang konversi kepada Islam akan dikunjungi oleh saudagar-saudagar Islam. Bahkan, raja dari kerajaan tersebut dianggap setaraf dengan raja-raja lain dari dunia Islam, seperti Sultan Mughal dari India Utara atau Sultan Rom yang makin hebat pengaruhnya di Timur Dekat, Mesir, dan Eropa Timur (lihat Parnickel 1995:36). Selain itu, hal ini mungkin terjadi karena hubungan pelayaran yang langsung dan padat antara Asia Tenggara dan Laut Merah, dan polarisasi yang meningkat antara Darul Islam dan musuh-musuhnya (lihat Reid 1999:91).

Pandangan tentang Islamisasi perspektif barat ini dibantah oleh Syed Naguib Al-Attas (1972) menurutnya pandangan barat tersebut hanya kesan/faktor ‘luar’ sejarah. Padahal, yang penting dalam menafsirkan sejarah Islamisasi di Kepulauan Nusantara lebih sahih dengan melihat kesan/faktor ‘dalam’ sejarah, yaitu melalui bahasa dan sastra masyarakat Melayu.

Meluasnya pengaruh ajaran Islam oleh para pendakwah Arab kepada masyarakat disebabkan karena para pendakwah memanfaatkan bahasa Melayu sebagai lingua franca dan bahasa dakwah di Kepulauan Nusantara ini. Bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar utama Islam di seluruh Kepulauan Nusantara sehingga pada abad keenam belas bahasa Melayu telah berjaya menjadi bahasa sastra dan agama yang luhur dan sanggup menggulingkan kedaulatan bahasa Jawa dalam bidang ini (lihat Syed Naguib Al-Attas 1972:41—42; bandingkan Collins 1998). Pemilihan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar karena dianggap sesuai dan mampu menjelaskan konsep-konsep Islam dengan jelas dan mudah dibandingkan dengan bahasa Jawa.[1]

Bahasa Melayu melahirkan karya cipta sastra dakwah untuk masyarakat Nusantara. Hal ini memudahkan dalam menyebarkan dan mengenalkan khazanah kesusastraan dunia Islam di alam Nusantara. Misalnya, seni sastra Melayu lama tersebar dalam bentuk kitab dan hikayat. Sastra kitab memaparkan soal-soal ilmu kalam, fikih, dan tasawuf Nusantara yang rata-rata gubahan dari bahasa Arab dan Persia.

Sastra hikayat berupa gubahan dari cerita-cerita Islam berkenaan dengan nabi Muhammad saw. dan keluarganya, hikayat pahlawan-pahlawan Islam, dan sebagainya (bandingkan Syed Naguib Al-Attas 1969). Dua bentuk sastra ini disebarkan secara tulisan dan lisan. Bahkan, para pendakwah banyak menyampaikannya dengan cara lisan. Namun, secara pasti dapat dikatakan bahwa sastra kitab dan hikayat memainkan peran penting dalam proses membumikan ajaran Islam kepada masyarakat Nusantara. Kedua genre sastra ini mempunyai tujuan yang sama, yaitu menyempurnakan manusia melalui nilai-nilai yang terkandung di dalam teks tersebut (lihat Braginsky 1994a,b).  Selanjutnya …

Ketapang Rebut Juara Lomba Tangkai Berbalas Pantun

Oleh Asmirizani

Kami bertige ingin berpesan/ agar dunia akhirat menyenangkan hati/ dengan agama jangan dilupakan/ itulah tande muda-mudi Melayu berbudi

MABMonline.org, Sambas – Riuh tepuk tangan ditimpali sesekali tawa penonton saat menyaksikan lomba tangkai berbalas pantun di panggung utama, Kamis malam, (29/8). Penonton terpukau dan terbawa suasana oleh penampilan salah satu peserta: Kabupaten Ketapang. Peserta tangkai berbalas pantun berjumlah tujuh kelompok dari berbagai daerah: Kapuas Hulu, Ketapang, Singkawang, Kubu Raya, Kota Pontianak, Mempawah, dan Kubu Raya. Tiap kelompok beranggotakan tiga orang.

Peserta lomba tangkai berbalas pantun berfoto di atas pentas (Foto Asmirizani)
Peserta lomba tangkai berbalas pantun berfoto di atas pentas (Foto Asmirizani)

Tak ayal, tampilan memukau kontingen Ketapang berbuah ganjaran. Sembah sujud khidmat dari bujang Ketapang saat diumumkan sebagai pemenang utama lomba tangkai berbalas pantun. Bujang-bujang tersebut adalah Muhammad Abrar, Supardiansyah, dan Jeki. Mereka saling berpelukan dan berjalan mengarah pentas. Saat di atas pentas, mereka tak lupa mengulurkan tangan pada kelompok lain yang menjadi juara kedua hingga harapan enam.

Ketua juri memaparkan beberapa kesalahan yang dilakukan oleh peserta, “ada beberapa kesalahan yang dilakukan oleh peserta, yaitu peserta menjawab balasan pantun yang tidak sesuai, selalu menggunakan kata yang sama, melenceng dari tema, kata-kata yang tidak masuk akal, dan kurangnya bersikap sopan,” ujar ketua juri.

“Dalam pantun kita berukun, dalam pantun kita bersantun, dalam pantun kita berlakun. Pantun jangan hilang ditelan bumi. Jaga adat Melayu jaga marwah Melayu. Semoga tahun depan lebih baik dari tahun ini.”

Beberapa kriteria dalam penilaian lomba tangkai berbalas pantun, yaitu kata dan persajakan, kesesuaian isi dengan tema, spontanitas, penampilan, kesopanan.

Juri mengumumkan pemenang lomba tangkai berbalas pantun (Foto Asmirizani)
Juri mengumumkan pemenang lomba tangkai berbalas pantun (Foto Asmirizani)

Beberapa pemenang lomba tangkai berbalas pantun, yaitu juara 1 Kabupaten Ketapang dengan nilai tertinggi 1075, juara 2 Kota Pontianak, juara 3 Kota Singkawang, Harapan 1 Kapuas Hulu, Harapan 2 Kubu Raya, Harapan 3 Sambas.

Berbaju baru berkain mengkilap/ Baju dibuat dari bahan burkat/ Kalau keliru kami berucap/ Mohon maaaf dunia akhirat

“Tiga kali tampil berpantun. Pertama, FSBM VII di Pontianak sebagai harapan satu, kedua, Festival Seni Budaya Khatulistiwa sebagai harapan satu, dan ketiga, FSBM IX kali ini sebagai juara utama,” tutur Jeki, anggota kelompok pantun dari Ketapang saat menjelaskan perjuangan mereka.

Malik, budayawan pantun menuturkan, “peserta sudah banyak perbendaharaan pantun, konsep sudah matang, tetapi sayang ada beberapa grup yang kurang memperhatikan kesopanan.”

“Mereka menampilkan yang terbagus, semakin banyak jam terbang akan semakin baik dan bagus. Kelemahan mereka hanya kurang mengendalikan emosi yang termasuk dalam kriteria kesopanan. Satu anggota ingin menonjolkan diri sendiri, padahal ini adalah kelompok,” pungkasnya.

Syair Ketapang Pemenang Lomba Tangkai Syair Melayu

Dua pemenang lomba tangkai Syair Melayu berfoto bersama pelatih dan pengarang syair (Foto Asmirizani)
Dua pemenang lomba tangkai Syair Melayu berfoto bersama pelatih dan pengarang syair (Foto Asmirizani)

Oleh Asmirizani

MABMonline.org, Sambas— Tepuk tangan menggema di aula kantor Bupati Sambas ketika bait syair dibacakan oleh pemenang tangkai syair melayu kategori lelaki asal Kabupaten Ketapang, Rabu siang, (28/8) bertepatan 21 Syawal 1434 H. Syair yang mempunyai pola bunyi yang enak didengar, lantunan cengkok yang khas, dan bait yang mengandung makna.

Hidup berdampingan sejalan sehati/ Berpegangan kuat sangat teliti/ Beriman Islam sampaikan mati/ Itulah tande Melayu sejati

Syair yang ditampilkan peserta dari Kabupaten Ketapang merupakan bagian dari syair gulung yang pada umumnya panjang. Syair gulung dibacakan dengan lantunan cengkok yang berbeda dari kabupaten atau kota lain. Syair itu juga memiliki pesan yang kuat tiap baitnya. Menurut salah satu juri, “penampilan peserta sudah maksimal. Peserta mempunyai warna baru yang khas. Syairnya panjang dan memiliki ciri khas tersendiri. Peserta dari Kabupaten Ketapang sudah sesuai kriteria. Kriteria vokal, irama, suara, penghayatan, dan penampilan,” ujar Harun Das Putra.

Pemenang lomba tangkai syair melayu kategori lelaki (Foto Asmirizani)
Pemenang lomba tangkai syair Melayu kategori lelaki (Foto Asmirizani)

Sebelum mengumumkan hasil lomba Satarudin Ramli menambahkan, ”Syair merupakan seni sastra yang hampir sama dengan puisi dan sajak. Sebelum membacakan syair, pelantun syair wajib menganalisa apa maksud isi syair yang digarap oleh pengarang. Saat membacakan syair pada penonton, pelantunan syair harus bijak mengolah vokal, melantunkan irama, mengolah tekanan suara, dan larut dalam penghayatan.”

Sataruddin melanjutkan, “Peserta tidak mutlak menggunakan iringan musik, ini merupakan sesuatu yang tidak terikat. Sebagai juri yang menikmati syair dan mengamati pembacaan syair memiliki persepsi yang sama dengan penonton yang juga sebagai penikmat syair.”

Ketua juri tangkai syair Melayu menghimbau agar peserta yang belum menang tidak kecewa dan berkecil hati. “Akhirnya kami menyepakati dan mengumumkan para pemenang. Peserta yang belum menang jangan berkecil hati, belajarlah dari kesalahan untuk peningkatan masa mendatang. Kekalahan kali ini merupakan kemenangan yang tertunda.”

Pemenang utama lomba tangkai syair melayu dari dua kategori diraih oleh utusan Kabupaten Ketapang. Tangkai syair Melayu kategori laki-laki utusan Kabupaten Ketapang meraih total nilai 875. Rasa gembira tak bisa tertahankan, peserta lelaki dari Ketapang sujud syukur di hadapan penonton, peserta, dan juri. Sedangkan pemenang utama tangkai syair kategori perempuan utusan Kabupaten Ketapang meraup nilai 865.

Pemenang lomba tangkai syair melayu kategori perempuan (Foto Asmirizani)
Pemenang lomba tangkai syair Melayu kategori perempuan (Foto Asmirizani)

Peserta lomba kali ini merupakan peserta lomba terbanyak dari tangkai lomba lain. Sebanyak 22 peserta mengikuti lomba tangkai Syair Melayu walau ada beberapa peserta tidak hadir. Pendapat Karman yang merupakan ketua panitia FBSM IX mengenai peserta tangkai Syair Melayu, “saya merasa puas dari semua tangkai lomba yang diadakan sudah banyak peningkatan peserta. Saya pun senang peserta lomba dan penonton sangat antusias dalam menjaga keamanan tiap tangkai lomba.”

Begitu juga menurut Pabali Musa, wakil Bupati Sambas, ”Alhamdulillah, lomba berjalan lancar dan baik, ini menunjukkan apresiasi seni yang menjadi adat budaya kita sehari-hari yang harus diimplementasikan.”

Lomba tangkai syair Melayu ini menggairahkan harapan warga Kabupaten Ketapang yang mengikuti jalannya lomba, “Semoga syair gulung di Kabupaten Ketapang tak hilang dan terus memiliki generasi penyair yang mengembangkan syair. Semoga juga syair gulung bukan hanya dibaca saat acara nikahan saja, tetapi dibaca saat acara-acara besar nasional maupun internasional,” ungkap Jeki penonton asal Ketapang yang menyukai syair. Tahniah!