Sigondah: Meriam Dahsyat Peninggalan Kerajaan Mempawah

Oleh Kinanti Wulandari

Hijau dan damai, kata yang dapat mewakili suasana di tempat ini. Suara burung-burung dan tawa canda masyarakat menjadi nyanyian paling indah di sini. Tempat ini dikenal dengan nama Keraton Amantubillah, Mempawah. Ini merupakan tempat beristirahatnya sang prajurit sejati. Sang parajurit yang memiliki segudang cerita. Sang prajurit yang menjadi tokoh dan saksi bisu. Meriam sigondah. Kecil dan gagah, namun sangat terkenal pada zamannya. Meriam sigondah termasuk dalam golongan rantaka atau meriam kecil. Sigondah ditemukan di kapal raja. Meriam sigondah merupakan kepunyaan Opu Daeng Manambon, bergelar Pangeran Mas Surya Negara. Di pulau Siantan, meriam sigondah amat berjasa dalam upaya menumpas perompak di sungai maupun laut. Bahkan ketika pergi ke negeri Kamboja, sigondah pun tak ketinggalan menambah keseganan para pelaut dan perahu negeri itu. “Meriam Sigondah selain terkenal dengan kemampuan perangnya, juga terkenal dengan cerita kengkerannya.” Ungkap Ibu Rugayah (80), yang merupakan menantu kerajaan Mempawah pada Jumat, 15 April 2016.

sigondah-mempawah
Menurut menantu kerajaan yang berdarah Sunda ini, meriam merupakan bagian dari perjalanan panjang Mempawah untuk mengusir penjajah. Perjuangan melawan penjajah terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Termasuk Kalimantan Barat. Kerajaan-kerajaan di Kalimantan Barat melawan penjajah dengan segala cara. Satu di antara kerajaan yang terdapat di Kalimantan Barat yaitu kerajaan Mempawah. Senjata utama pada masa itu adalah meriam. Satu di antara peninggalan yang berupa meriam tersebut adalah meriam Sigondah.

Sigondah merupakan meriam kecil yang biasa ditempatkan di kapal raja. Pemberian nama Sigondah mempunyai arti perasaan yang seram dan gundah. Nama tersebut berasal dari sebutan masyarakat karena kedahsyatannya dengan suara gemanya yang menimbulkan perasaan seram dan gundah. “Sigondah ini terbuat dari besi kuning dan tembaga,” terang beliau sembari mengelus tubuh meriam tersebut. Sigondah merupakan kepunyaan Opu Daeng Manambon bergelar Pangeran Mas Surya Negara.

Di pulau Siantan, meriam Sigondah amat berjasa dalam upaya menumpas perompak di sungai maupun laut. Sigondah terpasang di atas perahu milik Opu Daeng Manambon. Bahkan ketika pergi ke negeri Kamboja, Sigondah pun tak ketinggalan menambah keseganan para pelaut dan perahu negeri itu. Selain kemampuan perangnya yang tidak dapat diragukan lagi, Sigondah yang menjadi kebanggan masyarakat ini juga terkenal dengan cerita keangkerannya. Cerita keangkeran meriam sigondah ini dialami oleh para penjajah yang berusaha merebut dan menghancurkan meriam, ungkapnya dengan suara parau yang menggambarkan usianya tak lagi muda.
Ketika sigondah direbut oleh serdadu kompeni Belanda. Sigondah dibakar selama berhari-hari dengan kobaran api yang sangat besar. Sigondah membuktikan keampuhannya. Sigondah tidak berubah warna menjadi memerah seperti logam-logam yang dibakar pada umumnya. Kompeni Belanda pun takut dan takjub. Akhirnya sigondah dikembalikan ke Istana Amantubillah.

Tidak hanya itu. Sigondah tidak berakhir pada masa penjajahan Belanda. Akan tetapi juga pada zaman penjajahan Jepang. Sigondah diambil paksa oleh polisi Jepang untuk diamankan. “Ketika sigondah disimpan di dalam satu kamar penjara Mempawah, sigondah tiba-tiba meledak dengan sendirinya,” ujar Bu Rugayah dengan penuh semangat bercerita seolah menghapus semua kerutan di wajahnya. Keangkeran sigondah yang meledak tanpa sebab tersebut membuat polisi Jepang sangat ketakutan. Sigondah pun dikembalikan ke Istana Amantubillah.

Kisah-kisah kekuatan dan keangkeran meriam sigondah dari zaman dahulu tersebut, menjadikan meriam sigondah satu di antara peninggalan sejarah yang berharga. Meriam kebanggaan masyarakat Mempawah ini, dirawat dengan baik hingga saat ini. Sigondah disimpan dan dijaga dengan baik dalam kamar khusus di Istana Amnatubillah, Mempawah. Sigondah menjadi kebanggaan kita bersama. “Maka dari itu mari kita sama-sama menjaga peninggalan sejarah yang tetap menjadi cerita indah bagi anak cucu kita kelak,” ungkap beliau sembari menepuk hangat bahuku dan mengakhiri kisahnya.

Sultan Hamid II, Sang Perancang Lambang Negara yang Terlupakan

Oleh: Nur Iskandar

Tepat di hari Kartini, (21/4), Seminar Nasional Meluruskan Sejarah Sultan Hamid Sebagai Perancang Gambar Elang Rajawali Garuda Pancasila dilaksanakan di gedung DPR RI, diisi oleh tiga narasumber. Pertama pakar hukum pidana Prof Dr Andi Hamzah menjawab perihal tuduhan makar (APRA/Westerling) kepada Hamid, kedua peneliti sejarah hukum lambang negara Turiman Faturrachman Nur, SH, M.Hum mengulas sejarah panjang disahkannya Garuda Pancasila, dan ketiga Direktur Rumah Garuda Jogjakarta yang juga akademisi ISI: Nanang Rokhmad Hidayat, S.Si menguliti respon masyarakat Indonesia kepada Garuda Pancasila yang “tidak standar”.

seminar Sultan Hamid-sang perancang lambang negara
Pembicara pertama, guru besar dari Universitas Indonesia Prof. Andi Hamzah,  mengurai isi dakwaan kepada Hamid dengan ulasan pasal per pasal di mana kesimpulan beliau sebagai mantan jaksa bahwa semestinya putusan pada Hamid adalah bebas murni karena tidak terbukti makar! Hamid tidak terbukti menggerakkan pasukan, memberikan perlengkapan dst. Locus delicti Hamid juga sedang berada di Kota Pontianak bersama Muhammad Hatta. Prof Andi Hamzah juga menyarankan agar ahli waris melakukan Peninjauan Kembali alias PK kepada negara. Bukan untuk kepentingan Hamid karena beliau sudah meninggal dunia, namun untuk generasi muda Indonesia di hadapan hukum. Bahwa seseorang dihukum akibat perbuatannya, bukan pengadilan politik (politisasi) atau kriminalisasi sehingga terjadi penguburan masa depan seseorang. Pelurusan sejarah itu penting bagi masa depan Indonesia dalam berhukum.

Turiman Faturrachman Nur sebelum menyajikan makalahnya menampilkan film dokumenter Departemen Luar Negeri melalui Museum Konferensi Asia Afrika berdurasi 12 menit di hadapan 100 orang lebih peserta seminar. Di sana tampak peran Sultan Hamid II dalam merancang Lambang Negara dan diakui negara secara de-facto–hanya belum secara de-jure.

Turiman mendapat banyak applaus hadirin karena semangatnya. Salah satu applaus itu muncul ketika suaranya tercekat, “Mohon maaf saya gugup karena di sini bicara prihal pelurusan sejarah Lambang Negara namun di saat yang sama istri saya terbaring di rumah sakit. Namun begitulah perjuangan,” ungkapnya.

Nanang Hidayat dengan ulasan gaya “seniman” mengoreksi DPR/MPR. Bahwa sejak pertama masuk ke Senayan dia mendapati tiga “spesies” Garuda. Ada yang bahunya kotak, ada yang mengembang bagaikan ingin memeluk pahlawan revolusi di Lubang Buaya, dan ada yang standar. “Ini di rumah wakil rakyat, apalagi di tengah masyarakat! Ada ratusan spesies Garuda di tengah masyarakat kita. Kenapa? Karena lembaran negara tidak disebar sehingga orang tahu standar yang benar. Saya memotret hampir di setiap RT DIY ada Garuda yang kurus, gendut, bahkan loyo,” ujarnya disambut gelak tawa hadirin. Hal itu lanjutnya akibat Garuda Pancasila dikaburkan standarisasinya dalam struktur hukum tata negara. Padahal sebenarnya yang standar sudah ada tertuang di dalam lembaran negara ketika rancangan Hamid ditetapkan sebagai Lambang Negara oleh Presiden Soekarno. Yakni PP No 66. Akibat tak ada pakem standar, tak ayal sampai kini meruyaklah persoalan seperti Garuda Merah, kaos bola, bahkan sampai ke Zaskia Gotik maupun Teten Masduki.

Baca Juga: [PETISI] Perancang Lambang Negara Sultan Hamid II Sebagai Pahlawan Nasional

Seminar dilengkapi dengan testimoni peneliti perihal tuduhan pidana (Makar) kepada Hamid melalui Ketua Yayasan Sultan Hamid, Anshari Dimyati, SH, MH. Dia mengurai kronologi meluruskan sejarah siapa yang merancang gambar Garuda Pancasila, yakni dimulai pada penemuan disposisi Soekarno oleh tim reporter Mimbar Untan (1994), kemudian diteliti melalui tesis Turiman di UI, berlanjut ke seminar nasional bersama Ketua DPR RI Akbar Tandjung, pembuktian Hamid bebas dari tuduhan pidana melalui tesis Anshari Dimyati di bawah bimbingan Prof Andi Hamzah juga di UI, pameran Lambang Negara di Istana Negara dan berbagai daerah di Indonesia, peluncuran buku Biografi Politik Sultan Hamid II, serta akhirnya diterima Mensos Khofifah Indar Parawansa Jumat (15/4), di mana Khofifah setuju agar Sultan Hamid diusulkan sebagai PAHLAWAN NASIONAL karena jasa-jasanya yang luar biasa. Selain merancang lambang negara juga pengakuan kedaulatan oleh Belanda melalui Konferensi Meja Bundar. “Jika Hamid sebagai Ketua BFO tidak setuju dibentuknya RIS, maka pengakuan kedaulatan RI tak akan diperoleh,” tegasnya juga disambut tepuk riuh peserta. Hamid juga menjadi saksi saat Soekarno dilantik sebagai Presiden RIS di Keraton Sitinggil-Jogjakarta. Begitu nasionalismenya Hamid sehingga tidak perlu diragukan. Ia menjemput Soekarno dari penjara untuk kedaulatan Indonesia. Bahkan, traktat PBB membuktikan bahwa Daerah Istimewa Kalimantan Barat adalah entitas yang termuda bergabung ke NKRI. Di mana sebelumnya DIKB adalah negara merdeka yang setara dengan Negara Republik Indonesia sehingga dalam nomenklatur Perda di Kalbar semua berujung tahun termuda, yakni 1957. Jadi, Hamid membuktikan dirinya sangat nasionalis walaupun idenya memakmurkan Indonesia lewat pendekatan federalis. “Namun ide federalisme itu telah diserap lewat otonomi daerah era reformasi. Ini tanda bahwa pikiran Hamid sudah jauh melangkah ke depan melebihi zamannya. Ia diplomat cerdas dan menguasai 9 bahasa internasional,” tegas Turiman.

Selama seminar ada dua sesi dialog. Wakil rakyat dari DPR Fraksi Golkar, Ir Zulfadhli angkat bicara. Dia setuju Sultan Hamid dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional dan sebagai anggota Komisi yang berhubungan dengan bidang pendidikan dia akan turut mengawal. Ia juga mengusulkan agar MPR RI melakukan seminar besar soal Lambang Negara agar menjadi daya dorong kuat penetapan Hamid sebagai Pahlawan Nasional dan tertuang dalam revisi UU No 24 Tahun 2009 soal Bahasa, Bendera dan Lambang Negara. “UU No 24 sebagai turunan dari amandemen UUD 1945 memang belum matang karena saat itu DPR kejar tayang menjelang akhir masa jabatan. Saya saat itu belum menjadi anggota di Senayan namun saya cari tahu, kalau penyebabnya adalah kejar tayang. Sebab adalah lebih baik diundangkan lebih dahulu sembari mematangkan yang belum sempurna. Toh di dalam UU tersebut juga banyak nilai-nilai utama dan positif.” Zulfadhli juga setuju agar ahli waris melakukan PK sebagaimana saran Prof Andi Hamzah. Ia menunjuk, “Mumpung saksi sejarah masih ada seperti Max Jusuf Alkadrie.” Yang ditunjuk pun manggut-manggut. Namun di Kalbar ada tokoh Dayak yang juga saksi sejarah serta masih hidup yakni Baroamas Djabang Balunus Massuka Djanting. Massuka Djanting bahkan ikut rapat di Hotel Des Indes ketika Lambang Garuda Pancasila sedang digambar/dirumuskan oleh Sultan Hamid sebagai Menteri Negara Zonder Porto Folio.

Sejumlah wakil rakyat dari Kalbar juga angkat bicara seperti Luthfi A Hadi, Firdaus Zar’in, senator Nurbaeti serta Dekan Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Dr Hasyim Azizurrahman Alkadrie. Semua memberikan apresiasi dan kontribusi agar sejarah yang bengkok mesti diluruskan.

Acara seminar dibuka Sekretaris Fraksi Nasdem DPR RI, H Abdullah Alkadrie, SH, MH pada pukul 13.30 dan berakhir pada pukul 16.30 WIB. Saya yang turut mendengarkan seminar yakin, hakkul yakin, bahwa kebenaran pasti akan terungkap–sebab alam memang diciptakan Tuhan dengan sifat arif dan bijak. Apalagi coverage media nasional juga cukup paten. Selain ekspose detik.com, juga ada Metro-TV, Kompas, Jawa Pos dll…dan tentu viral Sosial Media. Selamat Hari Kartini… Habis gelap–terbitlah terang. Sejarah yang gelap pun jadi terang benderang…

Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman: Tetap Kokoh Membungkus Usia

oleh Anggi Windi Asih

MABMonline.org, Pontianak — Gerimis tipis mengawali perjalanan kami. Hawa dingin menyerang. Saya, Anita, Adi Supriadi, serta Al-Amin menunggangi kuda besi menuju masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman. Masjid ini terletak di Jalan Kampung Masjid, Tanjung Raya 1, Pontianak Timur. Untuk sampai ke masjid ini, kami membutuhkan waktu sekitar 45 menit karena jalanan yang macet akibat gerimis.

Masjid Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak
Sesampainya di masjid, kami disambut lantunan ayat suci oleh peserta MTQ yang tengah mengikuti seleksi tingkat kecamatan. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin dua tahunan yang dilaksanakan di masjid ini. Peserta yang mengikuti seleksi tetap bersemangat walaupun gerimis dan hawa dingin menyelimuti.

Sepintas lalu masjid ini tampak biasa saja. Tidak ada kemewahan yang menghiasi arsitektur masjid ini. Atap sirap masjid ini tampak menghitam. Dinding serta lantai masjid yang menggunakan papan menambah kesan sederhana pada masjid yang berdiri di tengah pemukiman warga.

Segera saja kami menemui jamaah yang tampak sedang asyik mengobrol. Kami pun mulai memperkenalkan diri. Lalu kami mulai membuka obrolan mengenai sejarah masjid ini. Tak disangka, Bapak Jafar, salah satu jamaah masjid mengetahui sejarah masjid ini. Beliau juga bersedia kami wawancara.

“Masjid ni berdiri pertame kali tanggal 23 Oktober 1771 M, pendiri masjid ni adalah Sultan Syarif Abdurrahman.” Bapak Jafar menjawab pertanyaan kami mengenai awal mula berdirinya bangunan ibadah umat Islam yang diklaim sebagai masjid tertua di Pontianak ini. Ternyata, desain arsitektur masjid ini mampu menyembunyikan usia masjid yang tahun ini genap berusia 242 tahun. (2013, red)

“Tiap kota Pontianak ulang tahun, masjid Sultan Syarif Abdurrahman juga ulang tahun,” jelas Bapak Jafar kembali dengan senyum yang menyamarkan usianya yang telah memasuki 60 tahun.

“Kami sengaje pertahankan arsitektur asli masjid untuk jage keaslian masjid, kami juga jage corak cat masjid yang terdiri dari warna kuning dan hijau, kan dulu kerajaan, jadi pake warna itu. Ada mimbar juga, mimbar tu asli, umur mimbar tu juga same dengan umur masjid karena sejak awal masjid ini dibangun, mimbar tu juga udah dibuat. Masjid ini kan juga model lantai panggung, untuk menonjolkan corak bangunan Melayu,” Bapak Jafar menjelaskan dengan runtut.

Mengenai dana perawatan masjid yang merupakan saksi bisu sejarah Islam sekaligus peninggalan budaya Melayu di Pontianak ini, Bapak Jafar menjawab “Untuk biaye perawatan masjid, Pemkot ade bantu, biase setahun sekali Pemkot ade kasi kite dane untuk ngerawat masjid. Selain tu, ade dane dari jamaah jugalah yang bantu sokong biaye perawatan masjid.”

Kami melanjutkan wawancara kami dengan santai. Saat ditanya mengenai posisi Bapak Jafar dalam kepengurusan masjid ia menjawab “Saye imam di masjid ini, udah 20 tahun saya jadi imam di sini, untuk ketue pengurus masjid ni masih keturunan dari Sultan Syarif Abdurrahman. Ketue kepengurusan masjid ni dijalankan secare turun temurun.” Ia menambahkan, “Saya senang karena bisa jadi imam, apalagi di masjid yang bersejarah macam masjid Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie ni, kita kan makhluk hidup, harus saling berbagi tentang ilmu yang kita punya, supaya hidup ni jadi bermanfaat bagi orang lain kan,” jelas Bapak Jafar sembari tersenyum kembali.

Sembari berbincang, kami berkeliling masjid untuk mengabadikan bagian-bagian masjid ini. Ketika kami berkeliling, kami menghitung ternyata masjid ini memiliki jumlah pintu yang tidak biasa. Terdapat 21 pintu secara keseluruhan dari bangunan masjid ini. Pintu-pintu ini dibagi menjadi 3 pintu besar, serta 18 pintu berukuran normal.

Sile bace ga’: Masjid Mujahidin: Rumah Ibadah atau Studio Foto?

Setelah mengabadikan beberapa bagian masjid, kami pun pamit pada Bapak Jafar. “Main-main jak lagi ke sini kalo ade yang mau ditanya,” pesan Bapak Jafar yang tempat tinggalnya tidak jauh dari masjid.

Setelah pamit kami kembali menjemput kuda besi kami yang kami kandangkan di istal area parkir masjid Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Perjalanan kali ini meninggalkan kesan mendalam bagi saya pribadi. Saya kagum dengan kekokohan masjid ini yang terbungkus kesederhanaan. Kesan mewah ternyata tidak selamanya menggambarkan sejarah suatu bangunan.

Sejarah Singkat Masjid Al-Jihad

Masjid Al-Jihad Pontianak (sumber: scyscapercity.com)
Masjid Al-Jihad Pontianak (sumber: scyscapercity.com)

 

oleh Adi Supriadi

MABMonline.org–Berbicara masalah masjid adalah hal yang saya sukai karena masjid adalah tempat ibadah yang Allah senangi dan masjid juga biasa saya gunakan sebagai tempat beristrirahat sejenak ketika badan terlalu letih menjalani aktivitas seharian sekaligus salat jika sudah masuk waktu salat. Ibarat kata sambil menyelam minum air. Jadi, saya bisa mendapatkan dua keutamaan, yaitu melakukan shalat dan badan menjadi lebih segar.

Seperti biasa ketika saya pulang kuliah dan belum melaksanakan shalat zuhur, saya singgah di sebuah masjid, yaitu masjid Al-jihad. Bangunan masjidnya unik karena bangunannya dominan menggunakan kayu. Akhirnya, saya mencoba mencari siapa orang yang banyak mengetahui bagaimana sejarah masjid yang bangunannya didominasi dengan menggunakan bahan-bahan kayu. Setelah mencoba bertanya kepada orang-orang yang berada tidak jauh dari masjid. Saya bertemu dengan Pak Juju, yaitu orang yang biasa mengurusi masjid Al-jihad ini selama puluhan tahun karena usia Pak Juju sendiri adalah 73 tahun. Kemudian saya banyak bertanya kepada Pak Juju.

“Bagaimana sejarah masjid Al-jihad ini pak?” tanya saya.

Masjid Al-Jihad adalah satu di antara masjid yang bercorak Melayu yang terdapat di Kota Pontianak. Masjid ini terletak di sudut pertemuan Jalan Sultan Abdurahman dan Jalan Sumatra yang sekarang nama jalannya adalah Jalan Gusti Johan Idris. Sejarah Masjid Al- jihad dimulai pada tanggal 12 maret 1964 dan diresmikan/pertama kali untuk shalat jumat pada tanggal 29 oktober 1964 . Pendiri awal atau sebagai ketua umum yang bertanggung jawab pada pembangunan masjid Al-jihad ini adalah Bapak Drs. Ahmad Din. Pada tahun 1965an dengan bertambahnya jamaah masjid Jihad diperluas dengan memanfaatkan halaman yang masih kosong. Perluasan yang dilakukan mengakibatkan masjid yang bentuk asalnya tidak tampak lagi. Dalam kurun waktu 25 tahun usianya, keadaan masjid sudah tidak memadai lagi ditinjau dari sudut kondisi bangunan maupun daya tampungnya. Maka pengurus masjid Jihad pada tahun 80an yang di ketuai oleh H Eddy Mangkuprawira, S.H. memutuskan untuk merombak bangunan lama dan mendirikan bangunan baru. Berkat bantuan berupa hibah tanah dari saudara Baromas Jabang Balunus ( non islam ) dan Wan Ali warga setempat luas tanah menjadi 850 m2.

Desain bangunan maupun arsiteknya sengaja dipilih bercirikan kebudayaan Kalimantan Barat. Keunikan masjid ini dibangun dengan memadukan tiga unsur budaya, yaitu Melayu, Dayak dan juga Jawa. Dari segi bangunan, masjid Jihad merupakan representasi bangunan Melayu, tetapi di ujung-ujung atap masjid terdapat ukiran-ukiran khas dayak dan tiang-tiangnya dibumbui ukiran-ukiran khas dari budaya jawa.

“Apa saja fasilitas yang terdapat di masjid ini?”

Di samping ruang shalat, masjid inipun dilengkapi pula dengan ruang tunggu khotib dan imam, ruang sound sistem, ruang kantor dan perpustakaan. Tersedia juga kamar mandi dan WC serta tempat wudhu tertutup asing-masing untuk pria dan wanita. Terdapat juga tempat wudhu terbuka pada dua tempat sekaligus bisa digunakan oleh 12 orang jama’ah.

“Apa saja fungsi dari masjid ini?” lanjut saya menggali informasi.

Fungsi masjid Al-jihad tidak hanya terbatas untuk shalat lima waktu dan shalat jum’at saja. Melainkan berfungsi pula sebagai sarana pendidikan TPA (Taman Pendidikan Al-qur’an), perpustakaan, tempat upacara pengislaman, akad nikah dan walimahan, merayakan hari besar islam dan untuk kegiatan IRMA (Ikatan Remaja Masjid).

“Apa harapan Bapak untuk masjid Al-jihad kedepannya?” tanya saya menutup wawancara singkat.

Harapannya karena masjid ini terbuat dari kayu maka biaya perawatannnya lebih besar daripada masjid-masjid yang  terbuat dari dinding semen. Diharapkan kepada para dermawan atau para donatur lebih memperhatikan masjid ini. Alasannya, karena masjid ini adalah satu diantara kecintaan kita terhadap kebudayaan tradisional Indonesia. Diantaranya masjid ini adalah perpaduan budaya Dayak, Melayu dan Jawa. Diharapkan masjid ini akan tampil memukau dan dapat bertahan sepanjang masa.

 

 

Parit Bangseng: Nama yang Tergantikan

lustrasi nama gang (sumber unnes.ac.id)
lustrasi nama gang (sumber unnes.ac.id)

Oleh Khalifah

Sore sehabis hujan mengguyur kota khatulistiwa, becek di sana-sini tidak bisa dihindari. Lalu lalang kendaraan yang setiap hari semakin menyesaki jalan yang bahkan sudah berpuluh-puluh tahun tidak bertambah lebar saling menghindari genangan-genangan air yang tampak kehijauan di lubang jalan yang berpuluh-puluh kali ditambal dinas pekerja umum.

Di sebuah gang yang beceknya bahkan saat hujan tidak menyentuh tanah Borneo ini bergantung ratusan makanan siap saji bersampul plastik dengan bungkusan warna-warninya. Tak ketinggalan pula barang kelontong yang siap menyambut pembeli yang mulai datang bahkan ketika ayam belum berkokok membangunkan tidur. Pasar Puring Siantan, Pontianak Utara. Pasar tradisional yang dibagian gangnya inilah akan kutemui pemilik toko penjahit baju. Toko penjahit yang sekaligus menjual berbagai aksesoris lain seperti tas yang tergantung di bagian depan dan beberapa alat tulis dan kancing-kancing baju yang tampak meriah dengan aneka warnanya di dalam lemari kaca.

Ko Acan, begitu panggilan akrabnya ini menyambut kedatanganku sore itu di tokonya. Tokonya berada di gang sebelum Kantor Pos Siantan di dekat penyebrangan. Tokonya berada di sebelah kiri dan berjeret beberapa toko dari muka gang. Tokonya tutup ketika jarum jam sempurna menghitung jari satu tangan. Sebentar lagi tokonya akan tutup, tetapi ia tetap menyambutku dengan nada ramah khas seorang pedagang Cina saat menyambut pembeli.

“Mau beli apa?” dengan logat Cinanya ia bertanya.

Sore yang hampir menjelang magrib itu menyaksikan kebingunganku menjawab pertanyaannya. Bingung karena memang tak ada sedikit pun niatku untuk membeli barang yang menyesaki toko Ko Acan ini. “Eeeee….saye ni bukan mau beli Ko, tapi mau nanya-nanya. Koko dulu tinggal di Parit Bangsengkan?” tanyaku menjawab pertanyaannya, “Koko tau nda ngape namenye Parit Bangseng Ko?” lanjutku.

Ko Acan yang sekarang tinggal di tokonya di Pasar Puring ini tahun 60-an merupakan etnis Cina yang mendiami Parit Bangseng. Pada tahun 85-an dia pindah untuk menempati tempatnya sekarang.

Parit Bangseng tempat yang tak jauh dari Pasar Puring Siantan. Parit Bangseng yang kini berganti nama menjadi Jalan Parit Makmur. Tempat yang dulunya dinamai sesuai dengan nama perintisnya.

Bangseng tu nama orang yang punya tempat itu. Semua tanah yang disana punya dia semua. Shim Ban Shin namanya. Dari depan tuh sampai lapangan bola itu tanah dia”, jawab Ko Acan yang berumur lebih dari setengah abad itu.

Shim Ban Shin, orang yang dulunya pemilik semua tanah di Parit Bangseng adalah keturunan Cina. Penyebutan Parit Bangseng tak lepas dari namanya dan parit besar yang ada di sana. Bang berarti besar dan Seng yang merupakan sebutan atau panggilan untuk Shin. Jadilah Parit Bangseng.

Parit Bangseng dulunya dihuni oleh etnis Cina. Namun, karena terjadi kerusuhan di daerah pedalaman Kalbar menyebabkan etnis lain memasuki tempat ini. Etnis Melayu dan Maduralah yang kemudian ikut menghuni tempat ini. Keberagaman pada akhirnya membuat etnis Cina tak lagi menjadi pemilik tunggal Parit Bangseng ini. Bahkan, sebagian besar etnis Cina yang mendiami tempat ini kemudian pindah ke tempat lain.

Parit Bangseng yang kini berganti nama menjadi Jalan Parit Makmur ini memiliki wilayah cukup luas. Luasnya kira-kira tiga hektar. Di bagian depan, kawasan ini dihuni oleh orang Cina, bergerak lebih dalam lagi akan dijumpai etnis Melayu dan Madura. Keberagaman inilah yang mencetuskan pergantian nama dari Parit Bangseng menjadi Parit Makmur.

Parit Makmur, ye karne di sini nih udah dihuni oleh banyak etnis. Depan-depan sanakkan banyak Cine, trus nak sini-sinik nih banyak Melayu sama Madure. Itulah die alasan e ngape Parit Makmur karena kite tuh makmur-makmur jak tak ade ape-ape macem kerusuhan gitukan.” Jawab Nurhayati warga Jalan Parit Makmur, Gang Karimun yang telah mendiami tempat ini sejak kecil. “Kalau dulukan nama e Paret Bangseng karne yang ngerintis e nama e Aseng jadi udahlah dikasi name Bangseng, tapikan kalau sekarang udah ramai dah,” tambahnya.

“Parit Bangseng”, nama ini sudah berganti menjadi Parit Makmur. Bukan sekadar nama untuk menandai suatu tempat. Akan tetapi, penanda yang diharapkan menjadi simbol tentang harapan yang telah terijabah. Parit Makmur mengganti Paret Bangseng.

Kisah Sungai Seberangkai, Dulu dan Sekarang

Oleh M. Na’im / Nur Arifin Na’im

Peta Jalan Panglima Aim (Sumber: Google)
Peta Jalan Panglima Aim
(Sumber: Google)

MABMonline.org, Pontianak — Di saat hujan rintik mengguyur Kota Pontianak, saya memutuskan untuk pergi ke salah satu Kecamatan Pontianak Timur yaitu di daerah Tanjung Raya 1 untuk  mencari informasi tentang asal usul nama gang. Setelah sampai di sana saya mendatangi seorang tetua yang ada di kampung itu, yaitu Bapak Haji Ahmad Nawi. Beliau sering dipanggil dengan sebutan Abah oleh masyarakat di sekitarnya. Ketika saya datang ke rumahnya, beliau tidak ada di rumah dan anak Abah ini mengatakan bahwa Abah sedang berada di masjid yang berdampingan dengan rumahnya tersebut. Saya pun segera  menyusulnya ke masjid. Sesampainya di dalam masjid, Abah ini rupanya sedang tertidur pulas dan saya tak tega untuk membangunkannya. Kebetulan sekali ketika saya datang ke masjid itu waktu sudah mau menjelang Ashar. Kemudian saya berinisiatif untuk berbincang-bincang setelah salat Ashar saja karena waktu saya menunggu Abah untuk berbincang-bincang tidak terlalu lama.  Setelah melaksakanakan salat Ashar saya pun langsung mendatangi Abah dan langsung berbincang-bincang.

Dalam perbincangan itu saya ditemani dengan dua teman saya yaitu Mursidin dan Novi. Saya pun memulai dengan pengenalan terhadap Abah atau Pak Haji Ahmad Nawi. Abah ini lahir tahun 1902. Sampai sekarang sudah berumur 111 tahun. Namun, fisiknya masih terlihat segar. Dulunya Abah ini berasal dari daerah Jawa Timur yang bersukukan Madura. Beliau pernah bertempur melawan penjajahan Belanda di Surabaya sampai akhirnya menuju kemerdekaan Bangsa Indonesia.  Kemudian pada tahun 50-an beliau merantau ke Pontianak tepatnya di desa Seberangkai. Setelah menjelaskan tentang identitasnya Pak Haji Ahmad Nawi mulai becerita mengenai asal usul Gang Seberangkai dan Sungai Seberangkai.

“Doloknye datanglah urang dari daerah Sanggau, yaitu urang Seberangkai ke kote Pontianak Timur ini. Jadi urang Seberangkai ni membukak paret nah begitu. Waktu itu pade masa Kesultanan Muhammad Wak Neku yang berasal dari kampong dalam. Jadi karene banyak urang Seberangkai datang ke daerah sini dan membukak paret yang seperti sungai besak nye, make dari itu  gang yang menuju ke dese Seberangkai ni digelarkan Gang Seberangkai dan karene yang bukak paret seperti sungai besaknye tu orang Seberangkai make digelarkan Sungai Seberangkai. Dolok di daerah sinik ade Gang Seberangkai 2, lamak-kelamakan gang ini berubah menjadi Gang Pelita, dan berubah agik menjadi Jalan Panglima Aim sampai sekarang namenye. Mungkin name Panglima Aim tu dari pemerintah  yang berikkannye tu. Jadi supaye ade kenangnye tentang orang Seberangkai makenye Gang Seberangkai ini masih ade sampai sekarang. Nah begitulah ceritenye,” cerita Haji Ahmad Nawi.

Saya sangat takjub setelah  mendengar penuturan cerita dari Haji Ahmad Nawi tentang asal-usul Gang Seberangkai dan Sungai Seberangkai. Dengan kondisi umur yang sebegitu tua nya beliau masih mempunyai daya ingat yang begitu kuat tentang cerita-cerita masa lalu. Sementara teman yang seangkatan dengan dia semuanya sudah berpulang kerahmatullah. Sementara orang yang mengetahui cerita asal usul Gang seberangkai dan Sungai Seberangkai ini sudah semakin sedikit bahkan menurut saya di kampung itu cuma Pak Haji Ahmad Nawi lah satu-satunya orang yang masih mengetahui asal-usul gang tersebut. Karena dari beberapa informan yang saya tanyai bahkan sampai ke RT-nya tak ada yang mengetahui cerita tentang asal-usul gang dan sungai tersebut.

Saya beruntung sekali masih bisa bertemu dengan Haji Ahmad Nawi ini. Karena berkat beliau, kami bisa mengetahui bahwa kampung yang sekarang kami injak ini merupakan kampung yang dulunya dihuni pertama kali oleh orang-orang Seberangkai. Akhirnya saya berhasil menggali sebuah asal-usul suatu gang yang terancam punah, yang tak lagi orang-orang tua  mengetahuinya apalagi generasi muda. Sehingga dari penuturan yang disampaikan beliau itu, saya bisa menambah wawasan untuk bekal membagi pengetahuan saya ke generasi muda selanjutnya.

(Dokumentasi Workshop Sejarah dan Nilai Budaya Melayu Kalimantan Barat 2013)

Haitami Salim: Nilai-nilai Islam dalam Upacara Adat Budaya Melayu Pontianak

Oleh Asmirizani

MABMonline.org, Pontianak – Peserta workshop di Balairungsari Rumah Melayu antusias mendengar pemaparan Haitami Salim (2/12). Haitami Salim memaparkan materi dengan judul “Nilai-nilai Islam dalam Upacara Adat Budaya Melayu Pontianak”. Beliau mengupas tuntas mengenai nilai-nilai islam yang berkaitan dengan adat budaya melayu Pontianak. Lelaki yang menggunakan pakaian hitam itu bersemangat saat memaparkan materi. Beliau menampilkan slide-slide materi yang menjadi fokus pembicaraan. Sesekali beliau memperagakan suatu adat yang masih ada di Pontianak pada para peserta.

Haitami memperagakan suatu adat di depan peserta (Foto Gusti Iwan)
Haitami memperagakan suatu adat di depan peserta (Foto Gusti Iwan)

Suatu kebudayaan memiliki nilai-nilai, begitu juga pada adat dan budaya Melayu. Nilai-nilai dominan yang terkandung dalam adat budaya Melayu, yaitu nilai keislaman. Nilai-nilai Islam ini berkesinambungan sekali dalam kehidupan sehari-hari orang melayu karena masyarakat melayu berlandaskan syara’ dan kitabullah, sesuai dengan ungkapan Haitami Salim, ”Adat Melayu bersandikan syara, syara bersandikan kitabullah.”

Peserta workshop bertanya (Foto Gusti Iwan)
Peserta workshop bertanya (Foto Gusti Iwan)

Pemaparan materi yang disampaikan Haitami memancing berbagai pertanyaan dari peserta sehingga terjadi suatu diskusi. Gusti Carma yang teranggota lembaga budaya REDAD, mempertanyakan mengapa ada sebagian Adat Budaya Melayu yang hilang? Inilah yang merupakan kerja keras orang Melayu untuk tetap mempertahankan budaya melayu, terutama adat yang masih mengandung nilai keislaman.

Budaya Melayu yang Kental dengan Nilai Islam Harus Dipertahankan

Oleh Asmirizani

MABMonline.org, Pontianak – Terlihat kerumunan pelajar, mahasiswa, dan guru di Rumah Melayu. Mereka hendak mengikuti workshop “Sejarah dan Nilai Melayu di Kalimantan Barat” (2/12). Peserta workshop telah berkumpul mulai pukul 08.00. Setelah mengisi buku kehadiran di depan pintu, peserta mendapat sebuah tas yang berisikan materi workshop dan alat tulis. Peserta duduk pada kursi yang disusun membentuk huruf U yang menghadap pemateri. Tiga pemateri dan satu pemandu acara telah duduk, bahkan telah siap memulai acara workshop dan memaparkan materi.

Antusias peserta workshop Sejarah dan Nilai budaya Melayu (Foto Gusti Iwan)
Antusias peserta workshop Sejarah dan Nilai budaya Melayu (Foto Gusti Iwan)

Pukul 08.30 acara workshop di mulai. Acara workshop dibuka dengan pembacaan doa secara khusuk. Peserta berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. AR Muzammil sebagai koordinator acara workshop memberikan kata sambutan dengan harapan-harapan yang baik. “Saya berharap peserta workshop mengikuti acara ini secara aktif sehingga terjadi diskusi-diskusi yang menarik. Saya juga berharap peserta menerapkan nilai-nilai dari hasil diskusi ini.”

Dr. H. Haitami Salim sebagai sekretaris Dewan Pemangku Adat MABM memberikan kata sambutan sekaligus membuka acara workshop. Pembukaan acara dilakukan dengan membaca basmalah dan beberapa ketukan palu. “Saya mengharapkan sejarah dan nilai budaya Melayu di Nusantara, khususnya di Kalimantan Barat harus tetap dipertahankan,” ujar Haitami Salim.

Workshop diawali dengan pemaparan materi oleh Haitami Salim, yang berjudul “Nilai-nilai Islam yang Terdapat di dalam Adat Budaya Melayu.” Beliau memaparkan nilai-nilai Islam yang berkaitan dengan adat budaya melayu, seperti barzanji, sunatan, potong rambut, dan upacara adat lainnya.

Pemaparan materi ke dua oleh Dr. Yusriadi jurnalis yang juga merupakan dosen di STAIN. Beliau memaparkan materi mengenai “Melayu di Pedalaman Kalimantan Barat”. Beliau memaparkan mengenai orang Melayu di daerah pedalaman. Budaya melayu asli yang belum tercampur baur dengan melayu lain. “Seharusnya budaya Melayu di pedalaman harus dilakukan penelitian lebih lanjut, dan perlu dipertahankan.” Ujar Yusriadi.

Dedy Ari Asfar saat memaparkan materi saat workshop (Foto Gusti Iwan)
Dedy Ari Asfar saat memaparkan materi saat workshop (Foto Gusti Iwan)

Pemaparan materi ke tiga oleh Dedy Ari Asfar yang merupakan dosen. Beliau memaparkan materi mengenai “Kesusastraan Melayu Abad ke 16-17: Cermin Pelajaran Karakter Melayu Nusantara. Beliau memaparkan masa-masa gemilang melayu pada abad ke 17 karena beberapa hal, yaitu banyaknya buku dan naskah dakwah pada masa itu, cerita yang bercorak Islam yang membangkitkan kesadaran beragama, dan hikayat klasik yang juga bercorak Islam.

Beliau juga mengajak para peserta workshop untuk mendokumentasikan budaya Melayu lokal ke dalam sebuah tulisan. Peserta dibagi menjadi kelompok kecil yang bertugas menuliskan satu topik budaya melayu di Kalimantan Barat dari hasil kunjungan. Peserta yang sebagian besar pelajar dan mahasiswa, terlihat antusias menerima tantangan ini.

Pukul 13.00 acara seminar telah selesai. Peserta workshop beristirahat dan menyantap makanan. AR Muzammil sebagai pemandu workshop berharap para peserta seminar bisa mempertahankan sejarah Melayu dan mengaplikasikan nilai-nilai yang ada di dalam budaya Melayu.

Membaca Sejarah Melayu

dedy-MABMoleh: Dedy Ari Asfar

Saya mendapat SMS yang menarik dan menggugah. Gara-gara SMS ini mau tidak mau saya membuka kembali lembar demi lembar buku yang pernah saya baca 7 tahun lalu. Saya yakin sang pengirim SMS sebenarnya juga tahu, hanya ingin memastikan saja dari orang lain. SMS tersebut berbunyi “Dalam Sejarah Melayu, di bukit apa di daerah Palembang dilahirkan calon Raja Melayu, siapa namanya?” Saya tahu di Bukit Si Guntang kisah tentang Raja Melayu ini bermula, tetapi saya lupa siapa namanya. Saya pun mencari buku Sejarah Melayu di rak buku rumah. Judul asal teks ini sebenarnya Sulalatus Salatin yang berarti Silsilah Raja-Raja. Teks ini berkisah tentang sejarah raja-raja di Nusantara. Mungkin ini yang menjadi alasan pengarang mengubah judul teks ini menjadi Sejarah Melayu. Teks Sejarah Melayu ini menurut beberapa ahli ditulis dalam tahun 1612 merupakan satu salinan teks yang kemudian dikarang dalam abad kesembilan belas.

Saya pun sigap membaca cepat teks Sejarah Melayu. Akhirnya, dapatlah dijawab bahwa Raja Melayu yang menjadi Raja di Palembang adalah Nila Utama yang muncul dari Bukit Si Guntang, satu kawasan yang mengalir di bawahnya Sungai Melayu. Nila Utama memiliki dua orang saudara kandung, yaitu Nila Pahlawan (saudara tertua) dan Krisyna Pandita (saudara tengah). Mereka merupakan anak dari Raja Suran dan cucu Raja Iskandar Zul-Karnain. Ketiga bersaudara ini kemudian dibawa oleh Demang Lebar Daun ke Palembang. Berita ketiga saudara kandung ini menyebar ke seluruh negeri di Nusantara. Pada waktu itu, datanglah Patih Suatang, Raja Minangkabau ke Palembang. Ia meminta seorang anak dari tiga bersaudara itu yang akan diangkatnya menjadi Raja di Alam Minangkabau. Demang Lebar Daun pun memberikan Nila Pahlawan kepada Patih Suatang untuk diangkat menjadi raja di Minangkabau dengan gelar Sang Si Perba. Tidak mau ketinggalan, sebuah negeri bernama Tanjung Pura yang telah kehilangan rajanya, diwakili oleh patihnya datang ke Palembang untuk meminta Krisyna Pandita menjadi raja di sana. Tinggallah Nila Utama di Palembang untuk dirajakan dengan gelar Seri Teri Buana. Raja Melayu Palembang ini kemudian berpindah ke Temasek (Singapura). Keturunan keempat Seri Teri Buana ini yang kemudian menjadi Raja di Melaka.

Menarik buat saya adalah kisah saudara tengah Nila Utama yang dirajakan di Tanjung Pura. Pertanyaan saya adalah, apakah Tanjung Pura Kalimantan Barat atau daerah lain? Seandainya ini Tanjung Pura yang ada di Ketapang dapat dikatakan bahwa kerajaan Tanjung Pura sudah sangat tua. Jauh sebelum Krisyna Pandita diangkat menjadi raja, Kerajaan Tanjung Pura sudah berdiri sebagai kerajaan. Dengan berkuasanya Krisyna Pandita di Tanjung Pura semakin membesarkan nama Tanjung Pura karena hubungan darah dan politik dengan kerajaan Melayu di Palembang dan Minangkabau.

Malangnya, tidak banyak cerita tentang Krisyna Pandita dalam teks Sejarah Melayu yang menggambarkan secara utuh Kerajaan Tanjung Pura masa dahulu kala. Akan tetapi, teks Sejarah Melayu mengindikasikan bahwa sang adik bungsu Nila Utama dikukuhkan sebagai Raja Palembang sekitar abad ke-11 atau 12. Hipotesis ini didapat karena pada awal abad ke-11 diperkirakan zaman melemahnya Kerajaan Sriwijaya akibat serangan Rajendra Chola I, Raja Chola dari Koromandel pada tahun 1025. Akibatnya, terjadi kevakuman kekuasaan pada masa itu. Dengan demikian, Demang Lebar Daun sebagai penguasa Palembang pun melantik Nila Utama dengan gelar Seri Teri Buana sebagai Raja Baru di bekas kekuasaan Sriwijaya tersebut. Oleh karena itu, boleh diduga Krisyna Pandita sebagai keturunan Raja Iskandar Zul-Karnain juga berkuasa di Tanjung Pura sekitar abad ke-11 atau 12.

Berbicara tentang sejarah kerajaan-kerajaan di tanah Borneo kita masih belum mendapatkan sumber rujukan terpercaya dan sahih yang bercerita tentang tahun-tahun penting kerajaan kuno di Kalimantan Barat. Ada banyak peristiwa penguasa-penguasa awal kerajaan kuno di Kalbar yang terputus (missing link) dan tak diketahui masa pengiktirafannya. Kasus Tanjung Pura membelajarkan kita bahwa pendiri Tanjung Pura bukan berasal dari Majapahit seperti yang diduga selama ini. Mengapa? Bukankah Kerajaan Majapahit baru muncul pada abad ke-13, yaitu tahun 1293. Kita bisa menduga berdasarkan teks Sejarah Melayu, Tanjung Pura lebih dahulu lahir daripada Majapahit, bukan? Kalau kemudian Tanjung Pura sebagai salah satu provinsi atau kekuasaan Majapahit itu memang tidak diragukan, tetapi bukan berarti keturunan Majapahit yang mendirikan Kerajaan Tanjung Pura? Anggapan saya mungkin salah karena ada sebagian ahli menganggap Sejarah Melayu hanya karya sastra yang direka-reka pengarangnya dan bukan catatan sejarah objektif yang dapat dijadikan dasar? Wallahu a’lam.

Kerja Sama Semua Pihak Wujudkan Sambas Sebagai Warisan Budaya Dunia

Oleh Asmirizani

MABMonline.org, Sambas -Pagi jumat, (30/8), peserta seminar memenuhi kursi kosong di aula DPRD Sambas. Peserta rela datang meski hujan gerimis membasahi Kabupaten Sambas. Peserta antusias mendengarkan pembukaan seminar dan mengikuti jalannya seminar dengan saksama. Gedung aula DPRD penuh diisi oleh peserta seminar dari beberapa perwakilan di antaranya MABM kabupaten/ kota, MABM Pusat, mahasiswa, pendidik, dan instansi terkait.

Acara seminar berlangsung pukul 08.00  hingga pukul 11.00 dan dilanjutkan setelah shalat Jum’at hingga sore hari. Seminar FSBM IX mengangkat tema “Menggagas Sambas Sebagai Kota Warisan Budaya Dunia.” Seminar dimoderatori oleh AR Muzamil, tokoh Kapuas Hulu yang merupakan mantan Ketua KPU Kalbar.

Dua orang panelis yang sangat kompeten di bidangnya memaparkan materi. Panelis pertama, Zairin Zain, Dosen Fakultas Teknik Untan, memaparkan judul makalah “Strategi Perlindungan Terhadap Arsitektur Tradisional Sambas Sebagai Upaya Pelestarian Cagar Dunia”. Panelis kedua, Erwin Mahrus, dosen STAIN Pontianak, memaparkan judul makalah, “Tamadun Islam di Kerajaan Sambas (1631-1950); Mengagas Sambas Sebagai Kota Warisan Budaya Dunia”

Harus adanya kerja sama antara pihak terkait dan masyarakat untuk menjadikan Sambas sebagai  kota warisan budaya dunia. “Saya sangat mendukung gagasan tersebut. Mudah-mudahan gagasan tersebut akan menjadi kenyataan. Harus ada kerjasama dari pihak terkait, eksekutif, legislatif, dan masyarakat. Kalau tidak ada kerja sama, kami yakin tidak akan terwujud. Tetapi kalau ada kerja sama yang baik, saya yakin itu bisa terwujud,” ungkap seorang anggota DPRD Sambas yang menghadiri seminar.

“Kita gandeng perguruan tinggi yang ada di daerah untuk memujudkan gagasan ini. Tentunya perlu kerja sama masyarakat dan pihak-pihak terkait,” ujar Pabali Musa, wakil bupati Sambas.