Grup Musik Tanjidor Gardu Kembayat

Oleh Asrul

Group Musik Tanjidor Gardu Kembayat, Sambas
Foto : Grup Musik Tanjidor Gardu Kembayat Saat Arak-arakan Pengantin

MABMonline.org, Sambas — Dum badum dung dung ciss… begitulah instrumen musik menggema di keramaian pesta perkawinan pagi itu, membuat suasana pesta terasa riang. Nada-nada yang dimainkan cukup akrab dengan telinga, itulah musik yang dimainkan oleh grup musik tanjidor.

Kabupaten Sambas bukan hanya memiliki panorama alam yang menarik, namun kawasan yang berada paling utara Kalbar dengan penduduk mayoritas Melayu ini, juga memiliki kebudayaan yang cukup menarik. Salah satu di antaranya adalah kesenian musik tradisional khususnya tanjidor.

Group musik yang terdiri dari terompet yang beraneka ukuran, drum (tanji) dan lain sebagainya. Grup musik yang identik dengan Betawi ini, tenyata ada di Kabupaten Sambas. Hampir setiap desa di kabupaten memiliki grup tanjidor, hal itu karena Sambas merupakan garda terdepan penghasil grup tanjidor yang didukung penuh oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas.

GrupTanjidor Gardu Kembayat merupakan satu di antara grup tanjidor yang ada di Kabupaten Sambas. Grup yang beranggotakan tujuh orang itu berdiri pada tahun 2000. Grup yang sudah beberapa kali berganti personil ini masih aktif sampai sekarang. Ketua sekaligus personil Grup Tanjidor Gardu Kembayat, Jupri (46) mengatakan, “biasanya tanjidor kami diundang saat acara pernikahan atau acara besar lainnya seperti final sepak bola antar kampung dan HUT RI.”

Pesta perkawinan tanpa tanjidor diibaratkan sayur tanpa garam, begitu kuatnya tradisi tanjidor bagi masyarakat Sambas sehingga ada yang menganggapnya demikian. Jupri mengakui, untuk latihan biasanya dilakukan pada setiap malam Kamis tergantung kesepakatan bersama, tidak mudah untuk memainkan sebuah lagu dengan menggunakan grup musik tanjidor. Oleh karena itu, para personil harus banyak latihan secara mandiri di rumah masing-masing.

Lagu-lagu yang dimainkan sangat beragam dari lagu yang lawas hingga lagu yang terbaru bisa dimainkan, lagu yang biasanya dimainkan adalah lagu Pengantin Baru, Gadis Rimbo, Kereta Malam, Cari Jodoh, dan lain-lain. Setiap anggota grup tanjidor yang terdiri tujuh orang, untuk sekali tampil biasanya dibayar Rp 80 ribu per orang. “Kami bertahan karena hobi saja.Kalau untuk penghasilan jangan ditanyalah,” sambungnya.

Iramanya yang khas membuat tanjidor banyak digemari masyarakat, setiap ada pernikahan dan acara besar lainya tanjidor selalu dihadirkan. Takkan hilang gema tanjidor dimakan teknologi. Semoga.

Tari Jepin Sengarong Dari Masa Ke Masa

Oleh Abang Yuda Saputra

Tari Jepin Sengarong
Tari Jepin Sengarong

Mabmonline.org, Sanggau — Lantunan khas alat musik gambus dan hentakkan kaki penari mewarnai malam yang berembun setelah turun hujan. Sang pelatih sekaligus pemain musik alat musik gambus menggeleng-gelengkan kepalanya serambi memetik gambus yang khas dengan musik Melayu. Abang Saka(63) bersama pemain musik lainnya seakan berlomba-lomba melantunkan alat musik mereka masing-masing. Ada yang bermain rebana, bermain kecrek, ada yang bermain jimbe, dan tentunya ada penyanyi yang melantunkan syair-syair yang bernuansa islami.

Tarian Jepin Senggarong merupakan pengaruh dari kebudayaan awal. Namun, tidak ada yang tahu kapan tepatnya tari ini masuk ke Kabupaten Sanggau. Diperkirakan Jepin Senggarong mulai dikenal pada tahun 1798 pada saat masa pemerintahan Gusti Muhamad Tahir I. Di sebut Jepin Sengarong karena gerakan tarian ini menggambarkan seseorang yang sedang berlayar mengarungi samudra. Gerakan tarian ini menggambarkan orang yang sedang mengayuh sampan dan meliuk-liuk seperti gelombang air.
“Mengapa disebut tari Sengarong? Karena memang tariannya seperti orang yang sedang mendayung sambil meliuk-liuk seperti ombak di sungai. Bahasa Indonesianya Senggarong, karena kita sesuaikan dengan bahasa Sanggau, jadilah Sengarong,” ujar Abang Saka (63)
Pada tahun 1970 tari Jepin mulai berkembang di Kabupaten Sanggau. Ade Ibrahim dan Saleh yang mengajarkan tari JepinSengarong ini. Hal inilah yang membuat tarian ini terkenal di Kabupaten Sanggau. Beliau mengajarkan tarianjepin tersebut dari Desa Kantu hingga desa-desa yang lain. Pada tahun 1972 Ade Ibrahim mengajarkan Jepin ini ke Desa Sami. Abang Saka merupakan murid dari Ade Ibrahim yang mempelajari tari Jepin Sengarong pada masa itu.

Pada tahun 1970 hingga 1980an merupakan masa kejayaan tari Jepin Sengarong di Kabupaten Sanggau. Karena pada saat itu banyak berdiri sanggar-sanggar etnis. Satu di antaranya adalah Sanggar Ratu Ayu yang didirikan oleh Ade Ibrahim. Sanggar ini terletak di Desa Kantu tepatnya di rumah Ade Ibrahim yang tidak jauh dari Keraton Surya Negara Kabupaten Sanggau. Pada masa itu Sanggar Ratu Ayu sering diminta untuk pertunjukkan pada acara keraton ataupun acara pernikahan.
Tari jepin pada masa itu merupakan tari pergaulan antara muda-mudi sebagai tari hiburan pada saat resepsi pernikahan ataupun acara besar lainnya. Satu di antara kesuksesan yang dialami seniman tarian ini adalah mendapatkan pujian dari Satarudin Ramli seorang seniman Pontianak yang pada waktu itu Sanggar Ratu Ayu menampilkan tarian Jepin Sengarong di Pontianak.
“Dulu yang memperkenalkan tarian ini adalah Ade Ibrahim. Beliau merupakan guru saya. Waktu itu tahun 72 saya masih tinggal di Sami. Pas pindah ke Sanggau, beliau buat sanggar, namanya Sanggar Ratu Ayu. Saya diajak masuk sanggar oleh beliau,” tambahnya.

Perkembangan yang semakin modern membuat tari tradisional mulai menghilang. Sanggar-sanggar tradisional sudah mulai tidak terdengar lagi namanya. Begitu pula yang terjadi pada Sanggar Ratu Ayu yang dipimpin oleh Ade Ibrahim. Pada tahun 2000-an seni tari tradisional mulai mengalami kemunduran. Hal ini tampak tidak adanya penampilan tari tradisional pada acara-acara besar karena kemunculan tari kreasi. Selain itu adanya pengaruh budaya asing menambah kurangnya minat masyarakat Sanggau akan tari tradisional.

Pada tahun 2004 Abang Saka pindah ke Desa Sungai Bungkok. Pada tahun 2007 beliau memilih bergabung bersama Sanggar Nurul Huda yang ada di Desa Sungai Bungkok. Di sanggar tersebut awalnya hanya ada kesenian hadrah. Atas perintah dari ketua sanggar, Abang Saka diminta untuk melatih Jepin Sengarong ini. Akhirnya Abang Saka yang bergabung di sanggar ini mengajarkan remaja-remaja yang bergabung dengan sanggar ini untuk menjadi pelatih tari Jepin Sengarong.

Latihan zapin ini dilakukan seminggu sekali di Sanggar Seni Melayu Nurul Huda Kabupaten Sanggau (tepatnya di Desa Sungai Bungkok kelurahan Tanjung Kapuas Kecamatan). Selain sebagai penyalur hobi serta untuk latihan pementasan, tari Jepin Sengarong ini juga sebagai sarana untuk melestarikan budaya lokal.Usia yang sudah tidak muda lagi tidak menyurutkan semangat bapak 3 orang anak ini. Tidak heran memang, karena Abang Saka inilah yang memperkenalkan Jepin Sengarong ini di Sanggar Nurul Huda sejak 2007 hingga sekarang.
“Sudah lama memang saya menjadi pelatih di sini (Sanggar Nurul Huda), sejak 2007 dulu, waktu saya pindah ke Sungai Bungkok ini. Saya langsung disuruh melatih jepin sama ketua sanggar,” ujarnya.

Abang Saka selaku pelatih dan pemusik yang ada di Sanggar Nurul Huda ini tidak mendapat bayaran sepeser pun. Begitu pun dengan pelatih dan pemusik yang lainnya. Hobi dan tekad untuk melestarikan budayalah yang membuat Abang Saka tetap bertahan dan dengan sukarela mengajarkan tari jepin kepada remaja-remaja yang tergabung di Sangar Nurul Huda ini. Uang yang didapat hanya pada saat pementasan saja. Namun bagi Abang Saka menjadi pelatih bukanlah untuk mencari uang, melainkan untuk berbagi pengalaman dan melestarikan budaya tradisional agar tidak hanya menjadi sejarah saja.
“Saya tidak dibayar di sini. Saya juga memang tidak minta bayaran. Saya hanya menyalurkan hobi serta melestarikan budaya tradisional yang sudah ada. selain itu kan kita juga berbagi pengalaman. Tiap tahun kita sering mentas di luar Sanggau, biasanya acara FSBMKB dan FBBK. Dari situlah kita berbagi pengalaman dengan yang muda-muda ini,” tambahnya.

Ketapang Menangkan Lomba Tangkai Syair Melayu

Oleh Asmirizani

MABMonline.org, Putussibau–Lomba tangkai syair Melayu putra dan putri dimenangkan oleh peserta dari kontigen Kabupaten Ketapang, Jumat (19/12). Syair yang dibawakan peserta dari Kabupaten Ketapang berupa syair gulung khas Ketapang. Syair yang didendangkan berbeda dengan syair daerah lain. Alunan syair yang lembut dan menyentuh hati dan terkadang bersemangat menggugah hati.

JURI: Juri membacakan pengumuman dan memberikan kritik saran bagi pemenang
JURI: Juri membacakan pengumuman dan memberikan kritik saran bagi pemenang

Pemenang satu tangkai syair putra dengan nomor undian sepuluh dari kontigen Kabupaten Ketapang mendapatkan total nilai 990. Sedangkan pemenang satu tangkai syair putri dengan nomor undian sepuluh dari kontigen Kabupaten Ketapang mendapatkan total nilai 1005. Nilai yang dihasilkan oleh kedua peserta merupakan nilai paling tertinggi dibandingkan dengan nilai peserta lain.

Juri syair terdiri dari Syarifah Aini Adni, Muwarna, dan Satarudin Ramli membacakan hasil pengumuman di atas panggung. Juri yang diwakili oleh Syarifah Aini Adni memberikan sambutan singkat berupa laporan pertanggung jawaban dan petuah pada peserta.

Kontigen Keta[ang, pemenang lomba tangkai syair Melayu
Kontigen Ketapang, pemenang lomba tangkai syair Melayu
Sebagai ketua juri, Syarifah Aini Adni memaparkan kesalahan peserta secara umum mulai dari rasa ketegangan yang sulit dihindari, pengambilan nada suara yang terlalu tinggi, dan pengucapan kata yang kurang jelas bahkan pemenggalan kata yang salah. Seperti yang diungkapkan Syarifah, ”Pertama, jangan diawali dengan ketengangan sehingga suara peserta pada waktu berikutnya menjadi kurang bagus. Kedua, Pengucapan dalam pemenggalan kata jangan salah sehingga menimbulkan salah pemaknaan.”

Juri juga mengajak masyrakat untuk melestarikan kebudayaan melayu yang satu ini, “Syair yang kita lombakan menjadi kepunyaan Melayu dinegeri kita sendiri yaitu Kalimantan Barat. Maka dari itu mari kita lestarikan dengan cara pembacaan syair dengan bagus,” ujar Syarifah.

Membaca syair Melayu di atas pentas
Pemenang lomba tangkai syair Melayu perempuan saat membaca syair di atas pentas

Menang dan kalah sudah menjadi hal yang biasa di dalam sebuah perlombaan. Juri menitipkan pesan supaya peserta yang menang tidak tinggi hati dan peserta yang kalah jangan berendah hati.

Peksimida Kalbar Resmi Digelar

Seorang peserta lomba membaca puisi sedang beraksi (Foto: Sabhan Rasyid)
Seorang peserta lomba membaca puisi sedang beraksi (Foto: Sabhan Rasyid)

Oleh Sabhan Rasyid

MABMonline.org, Pontianak— Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Kalimantan Barat resmi digelar hari ini, Selasa (6/5). Kegiatan tahunan tersebut dibuka oleh Pembantu Rektor IV Universitas Tanjungpura Pontianak di gedung Auditorium Untan pagi tadi. Dalam sambutannya, Purek IV Untan berpesan kepada seluruh mahasiswa dan dewan juri perlombaan untuk bersikap objektif dalam melakukan perlombaan dan penilaian. “Kita (mewakili panitia dan juri) semua harus selektif dan objektif dalam melakukan penilaian,” ungkap Purek IV ketika membuka Peksimida.

Pelaksanaan seleksi daerah Peksimida Kalimantan Barat tahun ini akan digelar mulai 6 s.d. 8 Mei 2014. Adapun lokasi yang dipilih sebagai tempat pelaksanaan, yaitu auditorium dan gedung anex Untan. Adapun cabang lomba yang diperlombakan, yaitu pop, dangdut, keroncong, vokal grup, baca puisi, monolog, dan fotografi. Keseluruhan lomba tersebut merupakan cabang-cabang lomba yang akan diperlombakan di Peksiminas (Pekan Seni Mahasiswa Nasional) yang akan dilaksanakan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. “Sesungguhnya Peksimida ini merupakan seleksi untuk Peksiminas nanti,” tambah Purek IV.

Peksimida kali ini yang digelar di kampus Untan tidak hanya melibatkan mahasiswa Untan, tetapi seluruh mahasiswa yang ada di Kalimantan Barat. Seusai pelaksanaan pembukaan pagi tadi, pihak panitia langsung menyelenggarakan dua cabang lomba, yaitu menyanyikan lagu pop dan membaca puisi.

Pelaksanaan lomba hari ini berjalan dengan lancar walaupun dari segi jumlah, peserta lomba menyanyi lagu pop menurun dari tahun kemarin. “Dari segi kuantitas tahun ini menurun, tetapi dari segi materi bernyanyi semua peserta sudah bagus,” ungkap seorang juri ketika lomba menyanyikan lagu pop berakhir.

Disdikbud Gelar FLS2N se-Kalbar

Oleh Gusti Iwan

Mabmonline.org, Pontianak — Pada hari Senin (28/4) kemarin Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar menggelar Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Kalbar di Rumah Radakng Jl. St. Syahrir Pontianak.

(foto Gusti Iwan)
(foto Gusti Iwan)

Kegiatan ini baru pertama kali digelar dengan melibatkan 13 sekolah perwakilan kabupaten/kota se-Kalbar. Kegiatan yang diadakan antara lain pameran dan berbagai perlombaan, di antaranya lomba menari, lomba tari berpasangan dan festival drum band.

(foto Gusti Iwan)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selasa (29/4) kemarin, para finalis drum band kembali bertanding untuk memperebutkan gelar juara. Finalis drum band yang bertanding berasal dari utusan SMK SMTI Pontianak, MA Darussalam Sengkubang, SMA Mujahidin Pontianak, SMA Bina Mulia, dan SMA Negeri 7 Pontianak.

(foto Gusti Iwan)
(foto Gusti Iwan)

 

 

 

 

 

 

 

 

Penonton yang menyaksikan pertandingan final terlihat sangat antusias, mereka yang datang terlihat kagum atas penampilan para finalis, dan diantara penonton juga tampak para pendukung masing-masing sekolah bersemangat bersorak memberikan dukungannya.

(foto Gusti Iwan)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mustarudin selaku Ketua Panitia yang juga menjabat Kepala Bidang Pendidikan Menengah Disdik Kalbar menyatakan bahwa kegiatan ini sebagai ajang atau kesempatan bagi siswa untuk berkompetisi dan menjadi langkah pembentukan karakter pelajar.

(foto Gusti Iwan)

Kesenian Mendu Hibur Pengunjung Malam Budaya

Oleh Mariyadi

Salah Satu Adegan Teater Mendu (Foto Gusti Iwan)
Salah Satu Adegan Teater Mendu, Dipadati Penonton
(Foto Gusti Iwan)


MABMonline.org, Pontinak—
Malam Budaya yang di isi dengan pementasan Kesenian Mendu, Jumat malam (6/12), dipadati pengunjung. Mereka merasa terhibur dengan teater yang ditampilkan saat itu. “Ceritanya lucu. Jarang-jarang acara seperti ini digelar,” ungkap Mursidin (20), mahasiswa Universitas Tanjungpura (Untan).

Menurut Mursidin, acaranya bagus, jarang-jarang di gelar malam budaya seperti ini. Apalagi penontonnya sebagian anak muda. Dengan cara ini setidaknya bisa mengenalkan budaya Melayu khususnya di tengah gemuran budaya luar.

Hal tersebut juga disampaikan Obi Samhudi (21) yang juga mahasiswa Untan. Ia mengaku sangat terhibur dengan pementasan yang diadakan oleh MABM. Ia juga mengatakan bahwa acara ini sangat bermanfaat selain sebagai ilmu pengetahuan mengenai budaya Melayu, juga sebagai bentuk pelestarian dan pencerdasan kepada generasi muda. “Ceritanya lucu dan Malam Budayanya sungguh bermanfaat,” tambahnya.

Kesenian Mendu yang disebut teater tradisional dan lazim disebut teater rakyat, karena bermula memang tumbuh dan berkembang di tengah kehidupan masyarakat pedesaan dan masyarakat mengakui kesenian ini. Ciri-ciri teater tradisionalnya adalah adanya keterpaduan musik, tari, lagu, dialog, dan banyolan/humor. Ada pula komunikasi antara pemain dan penonton dan beberapa dialog-dialog spontan melibatkan penonton, membuat suasana menjadi akrab. Suasana menjadi bertambah hidup dan asyik oleh tingkah pemain banyolan dengan berbagai perangainya. Figur jin yang ganas dan buas, raksasa, perkelahian, tergambar pada alur cerita, biasanya menjadikan tontonan semakin menarik.

“Judul teaternya Sekuntum Bunga Serai, karena bunga serai itu identik dengan sebuah bunga yang digunakan oleh masyarakat melayu untuk mengobati macam-macam penyakit,” ungkap Sattarudin Ramli, Sutradara teater.

Menurut Sattarudin, Bunga Serai menurut cerita yang ia dengar merupakan obat yang digunakan oleh masyarakat melayu untuk mengobati beberapa macam penyakit. Bunga serai juga sangat sulit didapatkan.

Sinopsi Teater Kesenian Mendu

Seni Teater Mendu malam itu menampilkan cerita yang berjudul “Sekuntum Bunga Serai” yang mengisahkan seorang raja yang putri tercitanya sedang sakit parah, sehingga sangat sulit untuk disembuhkan.Terkecuali bila diobati dengan Sekuntum Bunga Serai. Namun, bunga serai itu sulit didapatkan karena hanya ada di mulut gua di sebuah hutan yang amat lebat dan dijaga oleh jin-jin yang ganas buas. Akhirnya raja mengirim maklumat kepada seluruh rakyatnya untuk mencari bunga serai.

Terdengar juga oleh Mak Miskin dan anaknya yang tinggal di Ujung Tanjung. Si Bujang dan Mak Miskin berusaha mencari bunga serai tersebut. Dalam perjalanan di hutan, seorang Petale Guru dari khayangan turun ke bumi membantu si Bujang dengan memberinya kesaktian. Kera-kera putih yang berada di sekitar hutan itupun bersahabat dengan si Bujang.

Walhasil, bahwa si Bujang berhasil mendapatkan bunga serai setelah berperang melawan jin-jin yang ganas. Diperjalanan pulang, bunga serai dirampas oleh seorang putra mahkota dari negri seberang dan langsung membawanya pulang ke istana raja. Namun, kebenaran jualah di atas segalanya, sementara niat dan perbuatan curang tidak akan lepas dari Murka Tuhan. Bahwa si bujang berada dalam kasih sayang Tuhan.

Kesuksesan acara tidak hanya didukung oleh para pemain yang total dalam berperan, tetapi juga didukung dengan tata panggung yang kreatif. Dekorasinya sendiri dirancang oleh Yusuf Abu Bakar yang memang sudah kawakan sejak Mendu pertama kali berdiri pada tahun 1979. Yusuf sendiri turut ambil bagian dalam cerita ini dengan berperan sebagai Mak Miskin.

Nama Kesenian Mendu Diambil dari Teater Berjudul Dewa Mendu

Oleh Mariyadi

Sang Sutradara Teater Mendu (Foto Gusti Iwan)
Sang Sutradara Teater Mendu (Foto Gusti Iwan)

MABMonline.org, Pontianak—Menurut cerita, Kesenian Mendu di ambil dari nama sebuah kesenian yang berjudul Dewa Mendu. “Kesenian ini berasala dari Mempawah,” ungkap Satarudin Ramli, sang sutradara teater.

Satarudin Ramli, mengatakan, menurut sejarah, kesenian mendu telah ada sekitar tahun 1871 lalu. Kesenian tersebut diawali dengan 3 orang putra Mempawah dari kampung Malekian desa Semudun yang bernama Ahmad Antu, Ahmad, dan Kapot, mengabdikan diri guna memajukan masyarakat di lingkungannya dengan masing-masing keahlian atau keterampilan yang mereka kuasai. Ahmad Antu mengajar silat mengajar pencak silat. Ahmad memberantas buta huruf mengajarkan tulis baca abjad dan Kapot mengajar mengaji.

Satarudin menambahkan, pada waktu luang, selesai mereka mengabdi, mereka bersama murid-muridnya sering berlatih kesenian. Sampailah pada suatu ketika saat mereka menampilkan hasil berlatih, meraka kebingungan memberi nama kesenian yang akan mereka tunjukan saat itu. secara tidak kebetulan judul cerita yang diangkat saat itu adalah Dewa Mendu dan akhrinya mereka sepakat bahwa kesenian ini di beri nama kesenian mendu.

Selanjutnya kesenian Mendu terus berkembang serta hidup subur di kalangan masyarakat setempat hingga terdengar oleh pihak kerajaan Mempawah dan raja pun ingin menyaksikan Kesenian Mendu. Ternyata raja sangat tertarik dan menyukai sekaligus menyatakan bahwa kesenaian mendu merupakan kesenian milik rakyat di kawasan Mempawah. “Itulah sepintas kilas asal kesejarahan kesenian mendu,” pungkas Satarudin.

Kashmir: Karakter Bangsa Harus Ditanamkan

Oleh Mariyadi

Sambutan Ketua Harian MABMKB  (Foto Gusti Iwan)
Sambutan Ketua Harian MABMKB
(Foto Gusti Iwan)


MABMonline.org, Pontianak—
“Karakter bangsa bukan nasib, bukan takdir, bukan sesuatu yang tersedia dengan sendirinya.” Demikian ungkap Kashmir Bafiroes selaku Ketua Harian MABM KB dalam kata sambutannya pada pembukaan Malam Budaya yang diadakan Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat (MABM KB) dengan difasilitasi Ditjen Nilai Sejarah dan Budaya-Pusat Pengembangan SDM Kemendikbud RI, di Rumah Adat Melayu, Jumat malam (6/12),

Menurut Kashmir, karakter bangsa harus ditanamkan di dalam diri anak bangsa. Ia adalah ikhtiar, tugas yang harus dijalankan bersama oleh seluruh elemen bangsa. Beliau juga mengatakan karakter bangsa harus diinternalisasi, dibangun dan dibentuk di dalam diri anak bangsa terutama nilai-nilai budaya.

Kashmir mengatakan, acara malam ini sesuai dengan visi dan misi MABM KB  untuk terus menggali, melestarikan dan mengembangkan budaya Melayu yang belakangan ini mulai tergerus oleh era modernisasi. “Seperti yang kita tahu masyarakat saat ini sepertinya kehilangan jati diri dan lupa dengan budaya bangsanya,” pungkas Kashmir.

Kashmir juga mengatakan bahwa dalam kesempatan yang berbahagia ini, MABM KB mengajak mulai dari sekarang dan untuk kita semua, mari kita junjung tinggi budaya kita, budaya Melayu, cintai dan hargai budaya kita.

Teater Mendu Pukau Ribuan Penonton

Oleh Asmirizani

MABMonline.org, Pontianak – Tak seperti biasanya, Rumah Melayu dipadati manusia lebih awal, hari Jum’at (6/12), bukan Sabtu dan Minggu. Bukan juga di acara resepsi atau walimah. Masyarakat Pontianak tumpah ruah memenuhi rumah Melayu yang terletak di jalan Sutan Syahrir. Kerumunan orang tersebar di seluruh sudut Rumah Melayu. Mereka bersemangat menyaksikan seni tari Jepin dan teater Mendu. “Di luar ekspektasi,” demikian ungkap Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kalbar, Yusri Zainuddin yang seolah mewakili suasana batin panitia malam budaya tersebut.

Ratusan Penonton memenuhi Balairung Rumah Melayu (Foto Gusti Iwan)
Ribuan Penonton memenuhi Balairung Rumah Melayu (Foto Gusti Iwan)

Ahmad Yani (26), mahasiswa Stain Pontianak sengaja datang untuk menyaksikan teater Mendu. Selain ingin menyaksikan secara langsung, ia juga ingin mengetahui seperti apa teater Mendu itu. “Saya pernah mendengar teater Mendu, tapi saya tak pernah melihat secara langsung. Saya ke sini ingin tahu apa itu teater Mendu. Ternyata teater mendu sangat bagus dan menghibur.”

Ya, masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui teater tradisional Mendu. Bahkan masyarakat Melayu sendiripun juga tidak tahu. Mereka hanya pernah mendengarnya saja. Malam budaya yang menampilkan teater Mendu membuat masyarakat tertarik untuk menyaksikan dan mengetahui. “Saye diajak kawan pegi kesinek bang. Pas dengar kate Mendu, saye jadi penasaran ingin nonton. Ternyate penontonnye ramai. Bukan hanye orang lokal yang ade, orang Barat pun ade nonton gak bang,” kata Yuda, sambil menunjuk pada dua turis yang ikut menonton.

“Teater ini lain dari teater biasanya, teater Mendu banyak improvisasinya dan sangat menghibur penonton. Selain menghibur juga ada pesan yang disampaikan,” ujar Sidik (17) yang merupakan siswa SMA 1 Kubu Raya.

Mendu sendiri merupakan seni tradisional teater Melayu. Tak hanya di Pontianak, Mendu juga dikenal di kepulauan Riau. Improvisasi dan spontanitas menjadi darah bagi pementasannya. Hal ini juga mirip yang kita saksikan di pementasan lenong Betawi atau di acara populer TV Opera Van Java. Tak heran, pementasan yang sejatinya hanya berlangsung satu setengah jam, bisa molor menjadi dua jam-an.

Tak dipungkiri lagi teater ini mulai diminati masyarakat. Terlihat dari tepukan tangan dan gelak tawa penonton di sepanjang pementasan teater Mendu. Ribuan penonton seolah terhipnotis dengan penampilan pemain saat di atas panggung. Tak beranjak hingga pementasan berakhir di pukul sebelas malam.

Alhamdulillah…

*Bagi yang ingin mengetahui Mendu lebih mendalam, silakan simak video berikut:

Pemeran Teater Mendu dan Penari Siap Tampil di Seni Cemerlang-Melayu Gemilang

Oleh Asmirizani

MABMonline.org.Pontianak – Balairungsari Rumah Melayu Kalimantan Barat riuh dengan suara alunan musik melayu pada Selasa siang (26/11). Suara musik itu dihasilkan oleh kelompok pemusik teater mendu. Kelompok pemusik ini merupakan bagian dari kelompok mendu, yang merupakan kelompok teater mendu. Kelompok ini berlatih kembali untuk pemantapan pementasan yang akan dilaksakankan pada acara “Seni cemerlang-Melayu gemilang” mendatang.

Pemeran sebagai Jin beradu akting (Foto Gusti Iwan)
Pemeran sebagai Jin beradu akting (Foto Gusti Iwan)

Kelompok yang beranggotakan 20 orang ini terlihat antusias berlatih. Latihan ini terlihat berjalan lancar dan khidmat. Terlihat juga penampilan pemain telah hampir benar-benar siap tampil. Seperti halnya yang diungkapkan Satarudin Ramli sebagai sutradara, ”Persiapan kita sudah 90%. Ini hanya latihan pemantapan saja.”

Terlihat seorang pemain yang sedang memerankan Jin di atas panggung dengan totalitasnya. Tampak jelas latihan ini hanya pemantapan saja. “Saya sudah siap 90%. Ini hanya latihan penyesuaian saja.” Tutur pemain yang memerankan Jin, saat ditemui setelah latihan.

Dua ketua sanggar sedang bermusyawarah (Foto Gusti Iwan)
Dua ketua sanggar sedang bermusyawarah (Foto Gusti Iwan)

Sanggar teater mendu nanti akan menampilkan cerita berjudul “Sekuntum Bunga Serai”. Cerita yang berlatar tempat kerajaan. Cerita yang dibalut dengan musik dan tarian-tarian. Penari pun juga berlatih dengan serius dan terlihat telah mantap. Penari akan berkolaborasi dengan teater mendu. Penari akan membawakan tiga jenis tarian, yaitu tarian Bujang Dare Bekaseh, tarian Lenggak-lenggok Nak Dare, dan tarian Kipas.

“Kelompok penari sudah siap 80%, saya yakin nanti akan berjalan lancar dan sukses.” Ujar Kusmindari Triwarti sebagai ketua sanggar Andari.