Grup Musik Tanjidor Gardu Kembayat

Oleh Asrul

Group Musik Tanjidor Gardu Kembayat, Sambas
Foto : Grup Musik Tanjidor Gardu Kembayat Saat Arak-arakan Pengantin

MABMonline.org, Sambas — Dum badum dung dung ciss… begitulah instrumen musik menggema di keramaian pesta perkawinan pagi itu, membuat suasana pesta terasa riang. Nada-nada yang dimainkan cukup akrab dengan telinga, itulah musik yang dimainkan oleh grup musik tanjidor.

Kabupaten Sambas bukan hanya memiliki panorama alam yang menarik, namun kawasan yang berada paling utara Kalbar dengan penduduk mayoritas Melayu ini, juga memiliki kebudayaan yang cukup menarik. Salah satu di antaranya adalah kesenian musik tradisional khususnya tanjidor.

Group musik yang terdiri dari terompet yang beraneka ukuran, drum (tanji) dan lain sebagainya. Grup musik yang identik dengan Betawi ini, tenyata ada di Kabupaten Sambas. Hampir setiap desa di kabupaten memiliki grup tanjidor, hal itu karena Sambas merupakan garda terdepan penghasil grup tanjidor yang didukung penuh oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas.

GrupTanjidor Gardu Kembayat merupakan satu di antara grup tanjidor yang ada di Kabupaten Sambas. Grup yang beranggotakan tujuh orang itu berdiri pada tahun 2000. Grup yang sudah beberapa kali berganti personil ini masih aktif sampai sekarang. Ketua sekaligus personil Grup Tanjidor Gardu Kembayat, Jupri (46) mengatakan, “biasanya tanjidor kami diundang saat acara pernikahan atau acara besar lainnya seperti final sepak bola antar kampung dan HUT RI.”

Pesta perkawinan tanpa tanjidor diibaratkan sayur tanpa garam, begitu kuatnya tradisi tanjidor bagi masyarakat Sambas sehingga ada yang menganggapnya demikian. Jupri mengakui, untuk latihan biasanya dilakukan pada setiap malam Kamis tergantung kesepakatan bersama, tidak mudah untuk memainkan sebuah lagu dengan menggunakan grup musik tanjidor. Oleh karena itu, para personil harus banyak latihan secara mandiri di rumah masing-masing.

Lagu-lagu yang dimainkan sangat beragam dari lagu yang lawas hingga lagu yang terbaru bisa dimainkan, lagu yang biasanya dimainkan adalah lagu Pengantin Baru, Gadis Rimbo, Kereta Malam, Cari Jodoh, dan lain-lain. Setiap anggota grup tanjidor yang terdiri tujuh orang, untuk sekali tampil biasanya dibayar Rp 80 ribu per orang. “Kami bertahan karena hobi saja.Kalau untuk penghasilan jangan ditanyalah,” sambungnya.

Iramanya yang khas membuat tanjidor banyak digemari masyarakat, setiap ada pernikahan dan acara besar lainya tanjidor selalu dihadirkan. Takkan hilang gema tanjidor dimakan teknologi. Semoga.

Seminar Tradisi dan Sejarah Melayu di Kubu Raya

Oleh Gusti Iwan

MABMonline.org, Pontianak — Pagi ini bertempat di Balai Kerja Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat (MABMKB) berlangsung kegiatan seminar, bertajuk “Seminar Hasil Penelitian : Pengumpulan Tradisi Lisan dan Sejarah Lokal Masyarakat Melayu di Kabupaten Kubu Raya“. Kegiatan ini dilaksanakan atas kerjasama MABMKB, PPKM Universitas Tanjungpura dan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya. 

Penelitian ini dinilai sangat penting karena Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi yang sangat strategis dan memainkan peranan yang sangat penting dalam percaturan politik, budaya dan perdagangan sejak zaman Kerajaan Kutai, Sriwijaya dan Majapahit.

Namun pada masa kolonial Belanda, Kalimantan Barat tidak dianggap sebagai kawasan yang penting dan strategis, sehingga Belanda tidak menenpatkan kekuatan pasukannya di wilayah ini. Catatan-catatan tentang masyarakat Melayu, sejarah, adat istiadat, sampai kepada artefak masyarakat lokal tidak dianggap penting. Implikasi dari fakta kolonial ini mengakibatkan seakan-akan orang Melayu itu dianggap sebagai pendatang, maka tidak perlu diteliti lebih mendalam.

Seminar Tradisi Melayu Kabupaten Kubu Raya  Foto Gusti Iwan
Seminar Tradisi Melayu Kabupaten Kubu Raya
(Foto Gusti Iwan)

Penelitian tradisi sastra lisan dan sejarah lokal di Kabupaten Kubu Raya ini diharapkan dapat memenuhi dahaga akademik dan pengetahuan budaya lokal yg msaih simpang siur dan kurang dipahami. Diantara hasil yang didapat dalam penelitian ini diantaranya informasi mengenai sejarah asal usul kampung, cerita rakyat dan adat istiadat masyarakat di Kabupaten Kubu Raya.

Melalui penelitian ini diharapkan dapat menghimpun dan melestarikan khazanah budaya masyarakat Melayu, terutama dalam menghadapi perubahan dan pergeseran kebudayan akibat arus globalisasi yang teramat cepat.

 

Permainan Tradisional Melayu (1)

Oleh Sabhan Rasyid

MABMonline.org— Permainan tradisional yang berkembang di masyarakat menjadi sebuah warisan budaya yang tidak bisa dibeli ataupun ditukarkan dengan apapun.  Artinya, keberadaan permainan tradisional tersebut bisa dianalogikan sebagai harta warisan yang tidak bisa dinilai dengan uang sebanyak apa pun. Pihak luar tidak dapat membeli apalagi mengklaim bahwa permainan khas yang ada di daerah kita merupakan milik mereka. Oleh karena itu, sebagai pemilik kekayaan tersebut sudah sepantasnyalah kita menjaga apa yang kita miliki.

Hampir semua daerah di Kalimantan Barat masih memiliki permainan tradisional yang sampai hari ini masih dimainkan. Sambas satu di antara daerah yang masih menyimpan unsur kebudayaan tersebut. Puluhan jenis permainan masih bisa ditemukan di sana. Namun, kita memang harus bersabar karena tidak semua permainan bisa dilihat secara langsung, tetapi hanya dalam bentuk cerita yang dituturkan oleh orang yang sangat tua. Saya tidak mengetahui apakah anak-anak Sambas masih bisa menuturkannya atau tidak.

Perjalanan saya dimulai dengan sebuah desa dari Kecamatan Selakau Timur sampai ujung Sambas di Kecamatan Sajingan Besar—berbatasan dengan Biawak Malaysia. Dari proses pengumpulan data yang saya lakukan terhadap permainan tradisional, saya berhasil menghimpun 30 jenis permainan tradisional yang pernah dan masih ada di Sambas. Keseluruhan data tersebut saya dapatkan dari 11 informan yang mengalami dan melaksanakan permainan tradisional di Kabupaten Sambas.

Data-data permainan yang saya dapatkan di Kabupaten Sambas  secara keseluruhan belum dapat saya simpulkan kesemuanya merupakan permainan yang asli “kepunyaan” Sambas. Hal ini disebabkan oleh beberapa bahkan sebagian besar data permainan yang saya kumpulkan juga dapat dijumpai di tempat-tempat lain. Akan tetapi, saya menemukan kekhasan permainan tradisional Melayu Sambas, yaitu  dari segi pelaksanaan, peristilahan, dan kandungan nilai moral, seta konvensi yang dapat dipetik dengan utuh oleh masyarakat dan kita semua.

Berikut beberapa deskripsi singkat permainan tradisional yang ada di Kabupaten Sambas.

1.    Sinyatu

Ilustrasi: Mandi di sungai (sumber: irfc.wordpress.com)
Ilustrasi: Mandi di sungai (sumber: irfc.wordpress.com

Permainan ini saya dapatkan ceritanya dari seorang informan di Tebas Kuala, yaitu Bapak Darmansyah. Beliau menyampaikan bahwa sejak dahulu masyarakat khususnya anak-anak sering memainkan permainan ini. Permainan ini dilaksanakan di sungai saat anak-anak mandi bersama di sore hari menjelang magrib. Anak-anak di Sambas sangat akrab dengan sungai karena sebagian besar wilayah sambas dekat dengan jalur sungai.

Permainan ini  tidak memerlukan banyak alat karena anak-anak melaksanakannya bersamaan dengan kegiatan berenang dan menyelam bersama di sungai. Sebelumnya, anak-anak akan  melakukan osom. Osom merupakan kegiatan menentukan pemain yang akan menjadi ”tumbal” dalam permainan. Para pemain akan menyepakati bentuk-bentuk dan makna dari bentuk tangan sebagai cara untuk menentukan pemain yang kalah di awal. Di tempat lain, osom dikenal dengan istilah hom pim pah.

Setelah melakukan osom dan didapatkan pemain yang kalah, pemain tersebut akan menjadi orang yang akan menebak satu barang yang di ambil dari permukaan sungai. Barang tersebut biasanya berupa potongan kayu kecil, plastik, sampah lainnya yang berukuran kecil. Barang yang telah diambil dari permukaan sungai tersebut akan dibawa oleh pemain lain (selain pemain yang kalah). Pemain lain akan menyelam dan menyembunyikan  barang yang telah ditemukan tadi di sela ibu jari dan jari telunjuk kaki. Setelah menyelam, para pemain tersebut akan timbul ke permukaan kembali dengan setiap pemain memiliki barang yang telah disembunyikan.

Setelah itu, pemain yang kalah di awal tadi harus menebak barang yang dijepit di jari kaki pemain lain. Jenis barang di sungai yang tidak terlalu beragam, biasanya kayu, gabus bekas, plastik, dan sebagainya. Jadi, peluang menebak dengan benar akan semakin besar. Namun, jika pemain tersebut salah menebak, pemain yang kalah tersebut akan terus menebak dan tidak merasakan sensasi menyelam dan menyembunyikan barang. Begitu seterusnya dilaksanakan sampai semuanya sepakat untuk mengakhiri permainan tersebut.

2.        Tuma’

Permainan ini merupakan permainan yang dilakukan oleh anak-anak ketika menjelang tidur. Permainan ini tergolong kegiatan yang dilakukan di ruangan. Permainan ini menuntut ketelitian dan ingatan yang kuat dari setiap pemainnya. Pasalnya, para pemain akan dituntut untuk menebak rekan bermainnya tanpa melihat sosok wajahnya.

Pelaksanaan permainan ini dilengkapi dengan perlengkapan, yaitu kain sarung untuk setiao pemain. Alasan memilih kain sarung karena sebagian besar anak-anak Melayu Sambas menggunakan sarung ketika tidur malam. Permainan tuma’ ini dilaksanakan biasanya dilakukan ketikan terdapat anak seumuran yang akan tidur beramai-ramai, biasanya ketika ada acara keluarga atau ada anak yang “tidur main” ke rumah temannya.

Permainan ini sangat sederhana. Para pemain akan melakukan osom untuk menentukan pemain yang akan menjadi penebak. Permainan ini merupakan permainan menebak teman yang seluruh bagian tubuhnya dari kepala sampai kaki ditutup menggunakan kain sarung. Pemain yang bertugas sebagai penebak hanya boleh meraba bagian tubuh pemain yang ada di dalam kain sarung (kepala sampai badan). Pemain harus tepat menebak nama pemain lain agar tersebebas dari menjadi pemain penebak.

Oleh karena itu, permainan ini menuntut para pemainnya untuk memiliki daya ingat dan akurasi yang tinggi. Permainan ini juga mengandung makna moral bahwa kita harus mengenal teman-teman kita secara utuh sehingga dapat tercipta keakraban. Permainan ini dilakukan untuk anak-anak yang berjenis kelamin sama. Setelah permainan tersebut dilaksanakan para anak-anak akan kelelahan karena tertawa dan akhirnya mereka tertidur dengan pulas.

Anggota Himbasi Lestarikan Permainan Rakyat

Anggota Himbasi lestarikan Permainan Rakyat

oleh Sabhan Rasyid
MABMonline.org, Pontianak— Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (Himbasi) FKIP Untan menggelar aksi permainan rakyat. Acara yang melibatkan anggotanya tersebut diberi nama APRAS (Aksi Permainan Rakyat Anak Sastra). Kegiatan tahunan ini dilaksanakan untuk mempererat jalinan silaturahmi antaranggota Himbasi FKIP Untan. Hal ini sesuai dengan tema yang diangkat panitia pelaksana, yaitu “Ciptakan Kebersamaan dan Sportivitas melalui APRAS 2014″.

Kegiatan internal himpunan tersebut dilaksanakan sejak 22 Maret sampai 28 Maret 2014. Kegiatan informal tersebut terdiri dari berbagai permainan rakyat yang diperlombakan. “Dalam kegiatan APRAS tahun ini terdapat beberapa permainan rakyat, seperti balap karung, makan kerupuk, balap kelereng, tarik tambang, bola dangdut, dan memasukkan paku dalam botol,” ujar Andika selaku ketua panitia saat dihubungi redaksi MABMonline.org.

Pelaksanaan APRAS ini juga melibatkan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari reguler B. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ajang penyegaran dan sarana dalam menciptakan kebersamaan yang semakin kuat di Himbasi. “Harapannya tercipta kebersamaan dan dapat memberikan penyegaran terhadapat anggota Himbasi,” tambah Andika.

Seperti pelaksanaan APRAS tahun sebelumnya, anggota Himbasi membawa kekuatan tim dari tiap-tiap perwakilan kelas. Kegiatan tersebut menjadi ajang kompetisi antarkelas yang selalu dinanti-nantikan oleh anggotanya. Selain sebagai sarana kompetisi, ajang ini juga bertujuan melatih mahasiswa baru dalam memanajemen kegiatan. “Saya sangat senang melihat mahasiswa baru sudah mulai belajar menjadi panitia dan APRAS ini memang dapat menjalin kekompakan kami,” ungkap Anggi selaku pengurus Himbasi.

Acara APRAS ini direncanakan panitia akan ditutup pada tanggal 5 April 2014 dengan menggelar pengumuman pemenang dan pembagian hadiah. Kegiatan ini diharapkan dapat terus dilaksanakan di tahun-tahun selanjutnya untuk mempererat kerja sama di Himbasi. “Kegiatan ini membuat kami dari pengurus menjadi lebih akrab dengan mahasiswa baru dan anggota lain,” pungkas Anggi.

Semoga kegiatan seperti ini tetap dapat terus dilaksanakan dan menjadi contoh bagi himpunan lain. Usaha ini dapat dipertahankan untuk menjaga eksistensi permainan rakyat agar tidak tergerus zaman.

Acara Adat Gunting Rambut Melayu Kubu Raya

Puji syukur kehadirat Allah SWT, kami panjatkan karena berkat rahmat-Nya sinopsis tentang pengenalan adat istiadat di Kabupaten Kubu Raya dapat terselesaikan walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana. Kami menyadari bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna dan tidak mustahil jika dalam penulisan synapsis acara adat istiadat gunting rambut ini banyak kekurangan, untuk itu kami sebagai penulis synapsis ini mengharapkan adanya kritik dan saran dari para pembaca, adapun adat istiadat gunting rambut ini penulis angkat dari adat istiadat melayu Kabupaten Kubu Raya berdasarkan sumber dari data-data masyarakat yang ada.

TATA CARA GUNTING RAMBUT

Untuk melaksanakan gunting rambut tersebut dilakukan dengan upacara tepung tawar yang dilakukan oIeh orang Melayu Kabupaten Kubu Raya. Sehingga menjadi adat Melayu Kabupaten Kubu Raya sampai sekarang. Adapun kegiatan tepung tawar dilakukan pada saat anak bayi berusia 40 hari sampai 1 tahun dan dipotong rambutnya oleh tokoh agama atau alim ulama sebanyak 7 (tujuh) orang.

Sebelum ditepung tawar dilaksanakan kening, telinga, tangan dan kaki anak bayi tersebut diberi minyak bau, selanjutnya rambut anak dipotong, rambut anak tersebut disimpan disebuah kendi yang terbuat dari kelapa muda yang telah dihiasai oleh daun kelapa muda. Setelah itu anak ditepung tawar dan dihamburkan bertih dan beras kuning. Setiap orang yang memotong rambut bayi tersebut diberikan setangkai pokok telor sebagai tanda ucapan terima kasih dan ditutup dengan pembacaan do’a bersama.

PERALATAN UPACARA ADAT TEPUNG TAWAR GUNTING RAMBUT

A.  PEMBACAAN SERAKAL AL-BARJANJI

Pembacaan Serakal AI-barjanji tersebut akan mendapat pahala serta safaat dari Nabi Muhammad SAW, pada saat potong rambut tersebut.

B.  KENDI KELAPA MUDA DAN DAUN KELAPA MUDA

Kendi kelapa muda dan daun kelapa muda serta bunga yang harum sebagai wadah tempat penabur rambut, agar rambut bayi tersebut tetap suci dan harum.

C.  MINYAK BAU

Penggunaan minyak bau tersebut agar tidak disenangi oleh setan dan iblis, maka minyak bau tersebut dioleskan pada kedua telinga, kening, tangan dan kaki anak agar tidak diganggu setan dan iblis.

D. GUNTING

Gunting untuk memotong rambut anak yang sudah dihias.

E. TEPUNG TAWAR

  • Daun Ribu-Ribu dan Daun Juang

Untuk melakukan tepung tawar dipersiapkan daun ribu-ribu dan daun juang serta diikat dengan kain kuning, maksudnya agar anak tersebut berani memperjuangkan kebenaran serta pandai merangkul atau mendekatkan diri pada semua orang baik yang besar maupun yang kecil, tua ataupun muda. Dan selanjutnya menjadi seorang pemimpin jujur dan beribawa.

  • Beras Kuning dan Bertih

Beras kuning dan bertih yang ditaburkan menandai ucapan selamat atas bayi tersebut.

  • Air Tepung Beras

Air tepung beras melambangkan kemakmuran serta kesejahteraan buat anak

  • Pembuangan rambut anak tersebut dibuang pada pohon pisang yang subur agar rambut anak tersebut tetap tumbuh dan subur seperti pohon pidang tersebut
  • Bunga rampai, permen dan uang logam menandai dimulainya acara tepung tawar gunting rambut.

PELAKSANAAN GUNTING RAMBUT

Upacara ini diawali dengan pembacaan serakal dan aI-barjanji. Bagi yang akan digunting rambutnya dipersiapkan sebagal berikut:

Rambut bayi diikat dengan benang, setiap ikatan diberi bunga dan daun pandan (3, 5 atau 7 ikatan) sesuai dengan jumlah dengan orang yang akan memotong rambut anak tersebut. Begitu pembacaan bersanji sampai pembacaan kasidah berjanji yang disambut dengan asrakal dimana semua tamu berdiri, maka sang bayi dibawa keluar dan ditaburi bunga rampai yang berisikan permen dan uang logam yang diperebutkan oleh anak-anak, penaburan bunga rampai ini dimaksudkan sebagai pemberitahuan dimulainya acara gunting rambut.

Selanjutnya bayi dibawa kepada orang yang dihormati baik dari segi usia, agama dan adat istiadat. Sebelum pemotongan rambut orang yang memotong rambut membaca do’a singkat untuk anak tersebut. Gunting rambut tersebut dilaksanakan sebanyak 3, 5 dan 7 orang dan setiap yang memotong rambut diberikan pokok telur. Setelah pengguntingan rambut selesai membacakan do’a bersama.

(Penulis:  Azuarni, A.Ma)

Upacara Adat Tepong Tawar Melayu Pontianak

MABMonline.org,

 

Sinopsis :
Ta
ta Laksana Upacara Adat Tepong Tawar Melayu Pontianak
GUNTING RAMBUT”

Assalamu’alaikum hadirin hadirat sekalian,
Puji syukur kehadirat Khalikulrahman,
Shalawat dan salam selalu kita sampaikan,
Keharibaan Baginda Rasul Akhirruzzaman.

Masjid Sultan awalnya kota,
Terletak di tepi sungai bercabang tiga,
Izinkan kami berucap kata,
Amanah diberikan MABM kota.

Intan Permata menghiasi puadai,
Diikat emas pula suasa,
Bukan kami cerdik dan pandai,
Hasrat mengangkat Budaya Bangsa.

Banyak kayu perkara kayu,
Kayu Eru ditepi bukit,
Tidakkan hilang Adat melayu,
Sebelum tertangkup bumi dan langit.

Corak insang beragam warna,
Tenunan asli kita lestarikan,
Ingin mengangkat budaya bangsa,
Upacara adat tepung tawar kami tampilkan.

Tepung tawar diatas dulang,
Resam adat suku melayu,
Seni cemerlang, melayu gemilang,
Tema: Festival Seni Budaya Melayu.

  • Tepung tawar adalah salah satu kebiasaan adat yang paling utama didalam masyarakat (puak) melayu, dipergunakan hampir didalam semua upacara baik perkawinan, khitanan, gunting rambut. upah-upah (orang yang selamat dari marabahaya atau perjalanan), maupun pindah rumah atau menempati rumah baru.
  • Upacara adat tepung tawar yang hendak diketengahkan ini ialah adat tepung tawar Gunting Rambut, menurut adat istiadat masyarakat budaya melayu khusus kota Pontianak. Yang dikatakan orang melayu itu indah. Mereka yang beragama islam, yang berbahasa sehari-harinya bahasa melayu dan yang melaksanakan adat istiadat budaya melayu.
  • Pada lazimnya pelaksanaan upacara GUNTING RAMBUT ini dilakukan apabila seorang anak (Putra atau putri) belum sampai berumur 40 hari. Bagi orang tua yang akan melaksanakan upacara gunting rambut selalu memilih bulan tahun hijriah seperti bulan rabiul awal (maulud) yang disebut masyarakat melayu bulan empat sename.
  • Gunting rambut merupakan acara tunggal yang tidak ada tahap-tahapnya. Upacara inii dapat diselenggarakan secara khusus. Namun dewasa ini upacara gunting rambut biasanya diikuti (ditumpangkan) pada upacara tradisional yang lain terutama pada acara pernikahan.
  • Adapun upacara gunting rambut ini diselenggarakan untuk mengikuti sunah nabi Muhammad SAW. Sunah merupakan perkataan atau perbuatan Baginda Rasul SAW. Siapa yang mengikuti sunah ini mendapat pahala dan yang meninggalkannya tidak mendapat dosa.
  • Upacara dimulai dengan pembacaan Al-Barzanji. Isi dari pada bacaan AI-Barzanji adalah Riwayat atau sejarah Baginda Nabi Muhammad SAW. Kalimat dalam kitab Al-Barzanji ini tersusun indah dan bersifat puitis.
  • System pembacaannya dibagi atas dua bagian yaitu Bagian As-Salam Yang dibacakan sambil duduk dan bagian Asyrakal yang dibaca sambil berdiri, dan diiringi dengan pukulan Tar (Rebana) atau tampa bunyi-bunyian.
  • Pada pembacaan AsyrakaI. semua hadirin berdiri dan ketika itu pula putra atau Putri yang akan digunting rambutnya digendong keluar oleh Ibu(bapaknya), diringi dua orang perempuan (laki-laki) membawa talam (baki) yang berisi perlengkapan (kahlatan) upacara.
  • Penguntingan rambut dimulai oleh tetua (tamu-tamu) yang dipandang paling terhormat kemudian diikuti oleh tamu-tamu lain di datangi (didekati) oleh pengendong anak itu berganti-ganti kesebelah kiri kanan dari yang mengunting pertama sampai diperoleh jumlah yang dikehendaki dengan hitungan ganjil. Kemudian daripada itu setiap yang mengunting mendapatkan setangkai pokok telur sebagai tanda ingat dari pemangku adat.

Adapun kahlatan (peralatan) dan perlengkapan Tepong Tawar Upacara Gunting Rambut terdiri dari:

  1. 1 (satu) buah Ceper/Talam yang berisikan
  2. Minyak Bau yakni sejenis wewangian yang diolah dari minyak kelapa dan rempah-rempah campurannya.
  3. Bereteh (Bertik) berupa padi yang digoreng tanpa minyak sehingga berwarna putih.
  4. Beras Kuning yaitu Beras diramas dengan kunyit hingga berwarna kuning.
  5. Tepong tawar adalah tepong yang terbuat dan beras yang digiling halus dan dicampur sedikit kunyit (sebagai pewarna) serta thaduk hingga berwama kuning, kemudian ditempatkan di dalam bokor. Disebut tawar, karena sebagai penepok atau penepasnya yang terdini dan daun-daunan sebanyak T-iga, lima atau Tujuh jenis daun yang disebut PENAWAR (TAWAR). Lazimnya daun-daunan yang digunakan terdini dan lima jenis daun karena mudah didapat dan rnakna atau tamsilnya ialah:
  • Daun SENTAWAR ditamsilkan sebagai penawar segala yang berbisa atau yang beracun (Pengobat bias racun sembilu)
  • Daun SEDINGIN bermakna sebagai penyejuk hati (agar penyakit segera berlalu/sembuh).
  • Daun GANDARUSA penolak segala penyakit dari luar buatan orang atau pengusir setan tembalang.
  • Daun ATI-ATI bermakna atau melambangkan bersikap hati-hati, cermat dan teliti dalam segala hal.
  • Daun AKAR RIBU-RIBU, akarnya liut kuat tertambat, tumbuhnya menjalar (merambat) ditamsilkan apabila putra atau putri menginjak dewasa akan bersikap tawakal menghadapi cobaan dengan tekad yang kuat.

Kelima daun tersebut diikat menjadi satu dengan kain kuning, yang digunakan sebagai penepong (penepas) tawar.

B.    1 (satu) buah Ceper/Talam berisikan : sebuah gunting dan sebuah Kelapa Muda yang tampoknya diukir bintang dan air kelapanya dibuang, diganti dengan air bunga tujuh atau lima jenis yang beraroma wangi-wangian. Serta sebatang lilin kuning yang dinyalakan. ini ditamsilkan bahwa kelak meningkat dewasa/remaja putra atau putri yang digunting rambutnya senantiasa terang hatinya dalam mengikuti pendidikan dan berbudi pekerti yang berlandaskan iman dan taqwa.

Adapun tata-laksana GUNTING RAMBUT dimulai:

  1. Minyak bau dioleskan pada kening (Jidat). dibalik telinga kanan maupun kiri dan dileher dengan maksud agar terhindar dari perbuatan jahat atau gangguan syaitan jembalang.
  2. Menepung (menepas) Tawar dikepala dengan maksud agar segala niat jahat maupun rasa hasat dan dengki yang tersirat dihati, apa bila kelak putra putri telah dewasa tidak akan terlaksana, sebagai mana jenis daun-daun yang digunakan menepas atau menepung tawar.
  3. Penguntingan ujung rambut yang kemudian dibuang atau dimasukan kedalam mangkok kelapa yang telah diisi air bunga tujuh atau lima jenis, sebagai tamsil agar kelak putra putri yang digunting rambutnya disenangi oIeh masyarakat didalam pergaulan.
  4. Dilanjutkan dengan menabur Berteh (bertik) dan beras kuning pada tubuh sang anak yang pertanda isyarat agar dilindungi dari perbuatan jahat dari orang dengan memohon perlindungan kepada ALLAH Azawajalah.

Pada hakekatnya upacara GUNTING RAMBUT selain merupakan Sunattul Rasul, juga mengingatkan kita supaya selalu mentaati atau mematuhi segala perbuatan yang dilaksanakan oleh tetua leluhur turun temurun untuk mendapatkan keridhaan serta keselamatan putra-putri yang digunting rambutnya.

Demikian sekelumit penjelasan tata-laksana kahlatan (peralatan) dan makna (tamsil) dari upacara adat TEPONG TAWAR dalam prosesi upacara GUNTING RAMBUT ini ditampilkan sebagaimana yang didapat dari tetuah-tetuah adat istiadat melayu terdahulu, dan sehingga kini masih lazim dilaksanakan oleh masyarakat Melayu Pontianak.

Semoga penjelasan ini dapat menjadikan acuan dalam pelaksanaan pagelaran ADAT MELAYU PONTIANAK yang sudah tentu merupakan salah satu upaya kita untuk melestarikan adat tradisi dan budaya bangsa dengan maksud meningkatkan pembinaan, sadar serta cinta akan budaya bangsa khususnya daerah, selain mungkin dapat mengenalkan dalam meningkatkan promosi dan pemasaran pariwisata dengan keaneka ragaman budava.

Pada akhirnya :

Patah tidak dirangka tumbuh
Rupa bertunas dibalik dahan
Adat disukat hendaklah penuh
Kalau terkhilaf mohon dimaafkan

Bang taufik membeli kopiah
Untuk dipakai sembahyang waktu
Billahitaufik walhidayah
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Pontianak, Shafar 1434 H / Desember 2012

Dokumentasi Festival Seni Budava Melavu VIII Tahun 2012
Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat Pontianak.

Upacara Adat Tepung Tawar Melayu Kapuas Hulu

SINOPSIS
TATA UPACARA ADAT TEPUNG TAWAR
MELAYU KAPUAS HULU
“MELAYU BERMARWAH DI BUMI BERTUAH,
HIDUP DENGAN BERMUSYAWARAH UNTUK MENCAPAI KERIDAAN ALLAH”

Mabmonline.org — Tepung tawar sudah menjadi tradisi khas atau kebiasaan orang Melayu yang merupakan adat istiadat sejak zaman dahulu sampai sekarang, dapat digunakan dalam acara gunting rambut bayi, perkawinan, pindah rumah, khitanan dan mendapat rejeki yang banyak dan lain-lain.

Salah satunya adalah adat tepung tawar gunting rambut bayi. Menurut adat dan tradisi Melayu Kabupaten Kapuas Hulu, seorang bayi yang baru lahir mempunyai pantangan rambutnya digunting sebelum melalui acara ini, namun dalam pelaksanaan dibedakan atas dua macam, yakni ada yang dilakukan tanpa biaya, pada waktu selamatan kelahirannya digunting dalam ayunan dikarenakan kurang adanya kemampuan ekonominya, tetapi jika orang tuanya mempunyai kemampuan ekonomi pada lazimnya dilakukan dengan cara tepung tawar (serakalan), dengan 12 lagu yang berbeda setiap bait.

Adapun rangkaian acara ini sebagai berikut.

Pertama-tama dilakukan dengan pembacaan berzanji 18 shalawat dan do’a, dengan pembacaannya dilakukan secara bergiliran, pada malam hari sebelum hari pelaksanan gunting rambut (Serakalan). Kedua membaca albarzanji tiga shalawat dan shalawat ke-empat langsung dilakukan Serakalan sekaligus pelaksanaan pengguntingan rambut secara bergiliran yang dilakukan oleh sesepuh masyarakat/pemuka agama dan pemuka adat, 7 orang tua laki-laki dan tujuh orang tua perempuan juga disertakan dengan alat perlengkapan sebagai berikut:

  1. satu buah bukur berisi kelapa muda yang dipotong berbunga-bunga di bagian atasnya yang gunanya untuk menyimpan potongan rambut
  2. satu buah ciper/talam berisi air tepung tawar, beras kuning, dan sepotong besi.
  3. bunga rampai yang terdiri dari daun pandan, bunga kenanga, dan bunga yang wangi-wangian.
  4. bunga telur yang terdiri dari 14 buah dan uang dalam amplop yang dalam pelaksanaannya dibagikan sebagai ucapan terimakasih kepada yang mengunting rambut.
  5. beras kuning yang bercampur uang logam ditaburkan sebagai rasa kegembiraan kepada tamu yang hadir pada acara tepung tawar gunting rambut.

Kesimpulannya, tamu yang hadir memberi do’a restu kepada shobibul hajat, dengan niat semoga bayi menjadi anak yang soleh dan soleha, berbakti kepada orang tua, nusa bangsa dan agama sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.

 

Pantun

Membeli baju harus ditawar
Jangan dibeli terlebih dahulu
Tata Upacara Adat Tepung Tawar
Dari Kabupaten Kapuas Hulu

Wabillah hitaufiq wal hidayah wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tradisi Lisan: Pintu Masuk Ajaran Islam di Kalimantan Barat

oleh Dedy Ari Asfar

ingat-ingat kau lalu-lalang
berlekas-lekas jangankan amang
Suluh Muhammad yugia kau pasang
supaya salim jalanmu datang

(Hamzah Fansuri)

Kita mafhum bahwa pembawa ajaran Islam tentunya orang luar (seperti Arab, Persia). Dakwah Islam oleh pendakwah tersebut tentu disampaikan secara lisan. Bahkan, ajaran tersebut diperkuat dengan unsur-unsur magis. Hal ini tergambar dengan jelas dalam Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai (lihat Samad Ahmad 1986:54—57; Parnickel 1995:39).

Pedagang Arab dan Persia membawa Islam dan memengaruhi masyarakat dan kerajaan tempatan untuk memeluk agama Islam. Situasi ini kemudian berkembang dengan menjadikan kerajaan Islam sebagai salah satu institusi resmi yang memainkan peranan penting dan strategis dalam menyebarkan teologi dan filosofi Islam di kawasan pesisir Nusantara. Oleh karena itu, Islam diidentikkan dengan pesisir dan kesultanan Melayu. Hal ini pula yang menyebabkan ramai orang di pantai pesisir Nusantara masuk Islam dengan cepat.

Dalam perspektif barat, Islam menjadi diminati oleh masyarakat di kawasan Nusantara ini disebabkan oleh faktor batiniah dan duniawi. Secara batiniah Islam dapat diterima karena Islam tidak mengenal kasta dan kelas sosial yang sebelumnya dianut masyarakat Nusantara melalui agama Hindu dan Budha sehingga banyak terjadi ketimpangan sosial dan menjadi jurang pemisah karena pengaruh agama sebelumnya (lihat Parnickel 1995:36).

Secara duniawi, orang yang masuk Islam mendapat kemudahan karena jaringan perdagangan Nusantara dibanjiri para pedagang Islam. Orang yang masuk Islam dengan sendirinya menjadi anggota umat Islam internasional dan mendapat bantuan dari saudara seagama dalam pelayaran dan perdagangan di mana-mana. Begitu juga dengan sebuah kerajaan yang konversi kepada Islam akan dikunjungi oleh saudagar-saudagar Islam. Bahkan, raja dari kerajaan tersebut dianggap setaraf dengan raja-raja lain dari dunia Islam, seperti Sultan Mughal dari India Utara atau Sultan Rom yang makin hebat pengaruhnya di Timur Dekat, Mesir, dan Eropa Timur (lihat Parnickel 1995:36). Selain itu, hal ini mungkin terjadi karena hubungan pelayaran yang langsung dan padat antara Asia Tenggara dan Laut Merah, dan polarisasi yang meningkat antara Darul Islam dan musuh-musuhnya (lihat Reid 1999:91).

Pandangan tentang Islamisasi perspektif barat ini dibantah oleh Syed Naguib Al-Attas (1972) menurutnya pandangan barat tersebut hanya kesan/faktor ‘luar’ sejarah. Padahal, yang penting dalam menafsirkan sejarah Islamisasi di Kepulauan Nusantara lebih sahih dengan melihat kesan/faktor ‘dalam’ sejarah, yaitu melalui bahasa dan sastra masyarakat Melayu.

Meluasnya pengaruh ajaran Islam oleh para pendakwah Arab kepada masyarakat disebabkan karena para pendakwah memanfaatkan bahasa Melayu sebagai lingua franca dan bahasa dakwah di Kepulauan Nusantara ini. Bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar utama Islam di seluruh Kepulauan Nusantara sehingga pada abad keenam belas bahasa Melayu telah berjaya menjadi bahasa sastra dan agama yang luhur dan sanggup menggulingkan kedaulatan bahasa Jawa dalam bidang ini (lihat Syed Naguib Al-Attas 1972:41—42; bandingkan Collins 1998). Pemilihan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar karena dianggap sesuai dan mampu menjelaskan konsep-konsep Islam dengan jelas dan mudah dibandingkan dengan bahasa Jawa.[1]

Bahasa Melayu melahirkan karya cipta sastra dakwah untuk masyarakat Nusantara. Hal ini memudahkan dalam menyebarkan dan mengenalkan khazanah kesusastraan dunia Islam di alam Nusantara. Misalnya, seni sastra Melayu lama tersebar dalam bentuk kitab dan hikayat. Sastra kitab memaparkan soal-soal ilmu kalam, fikih, dan tasawuf Nusantara yang rata-rata gubahan dari bahasa Arab dan Persia.

Sastra hikayat berupa gubahan dari cerita-cerita Islam berkenaan dengan nabi Muhammad saw. dan keluarganya, hikayat pahlawan-pahlawan Islam, dan sebagainya (bandingkan Syed Naguib Al-Attas 1969). Dua bentuk sastra ini disebarkan secara tulisan dan lisan. Bahkan, para pendakwah banyak menyampaikannya dengan cara lisan. Namun, secara pasti dapat dikatakan bahwa sastra kitab dan hikayat memainkan peran penting dalam proses membumikan ajaran Islam kepada masyarakat Nusantara. Kedua genre sastra ini mempunyai tujuan yang sama, yaitu menyempurnakan manusia melalui nilai-nilai yang terkandung di dalam teks tersebut (lihat Braginsky 1994a,b).  Selanjutnya …

Jum’at ini Panitia FSBM Gelar Seminar

Oleh : Achmad Sofian

MABMonline.org, Sambas.  Jumat, 30 Agustus 2013, bertepatan dengan 23 Syawal 1434. Hari keenam penyelenggaraan Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) IX. Hari ini panitia akan menggelar Lomba Merias dan Meyanggul Pengantin, Lomba Tari Jepin Tradisional. Juga mengadakan seminar yang berkenaan dengan kota Sambas.

IMG-20130829-00986
Jembatan Sambas, salah satu ikon kota.

Lomba Merias, menurut panitia akan diadakan di Aula Kantor Bupati Sambas, pada pagi hari pukul 8 hingga 11 siang. Lomba Tari Jepin Tradisional, diadakan malam harinya 19.30 sampai dengan jam 22.30.

Acara seminar akan diadakan di Hotel Pantura pada pada pagi hari pukul 8 hingga 11 siang. Menghadirkan tiga orang panelis yang sangat kompeten di bidangnya. Panelis pertama, Zairin Zain, Dosen Fakultas Teknik Untan yang akan mengetengahkan tema “Strategi Perlindungan Terhadap Arsitektur Tradisional Sambas Sebagai Upaya Pelestarian Cagar Dunia”. Panelis kedua, Erwin Mahrus, dosen STAIN Pontianak, yang akan membawakan makalah, ‘Tamadun Islam di Kerajaan Sambas (1631-1950), Mengagas Sambas Sebagai Kota Warisan Budaya Dunia”. Mira Sophia Lubis, seorang dosen dari Fakultas Teknik  Untan menjadi panelis ketiga yang akan membawakan tema, “Integritas  Antar Nilai Tradisiona; dan Nilai Modern dalam Perancangan Kota”.

Seminar yang menjadi rangkaian penyelenggaraan Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) IX ini terbuka bagi umum. Akan dimoderatori oleh AR Muzamil, seorang Penggiat Pemilu dan Demokrasi.