Seribu Lebih Umat Muslim Penuhi Aula Makodam

Oleh Sabhan Rasyid

MABMonline.org, Kubu Raya—Dewan Pengurus Daerah (DPD) Pemuda Melayu Kabupaten Kubu Raya bekerja sama dengan Makodam XII Tanjungpura serta Pemerintah Kabupaten Kubu Raya menggelar acara Halal Bi Halal dan Silaturahmi Umat Muslim Kabupaten Kubu Raya, Sabtu (13/9). Acara tersebut mengangkat tema “Memperkuat Ukhuwah Islamiyah untuk Mewujudkan Rahmatan Lil Alamin”. Acara tersebut dihadiri oleh tokoh Melayu, anggota Pemuda Melayu KKR dan Kalimantan Barat, seniman Melayu, serta masyarakat muslim di Kabupaten Kubu Raya.

Lebih dari seribu undangan memadati Aula Makodam XI Tanjungpura saat mengikuti acara halal bi halal tersebut. Kegiatan dilengkapi dengan hiburan senandung Melayu dari grup musik Melayu Moresta.

Acara silaturahmi ini memiliki tujuan utama untuk memperkokoh persatuan umat Islam di Kalimantan Barat. “Mudah-mudahan kegiatan halal bi halal ini dapat menjadi momentum yang tepat bagi umat muslim untuk bersatu dan memperkokoh ukhuwah islamiyah,” ungkap Husin Syawiek Ketua Umum DPD Pemuda Melayu KKR yang juga Sekretaris Daerah Kubu Raya ini.

Silaturahmi yang diselenggarakan bertepatan dengan pelantikan anggota DPC Pemuda Melayu KKR ini dimeriahkan dengan hiburan-hiburan bernuansa Melayu. Para undangan dimanjakan oleh tarian persembahan, raddad hadrah, pantun, syair melayu, serta silat juadah. Selain seni-seni Melayu yang memukau, acara silaturahmi ini juga makin semarak dengan pakaian yang dikenakan oleh para undangan, yaitu telok belanga dan baju kurung khas Melayu Kalimantan Barat.

Acara yang baik dan bermanfaat ini menjadi suatu kegiatan yang penting demi menyatukan kembali semangat persatuan Melayu dan umat muslim di Kalimantan Barat khususnya di Kubu Raya. “Jika umat muslim bersatu, insyaallah Kubu Raya maju, insyallah Kalbar maju, insyallah dunia akan tenteram dan sejahtera,” pungkas Husin yang diikuti oleh tepuk tangan dari para undangan.

Masyarakat Galing Sambas : Adat Berbagi Setelah “Beranyi” yang Termakan Zaman

Gambar : Jailani bersama Anak dan Cucunya di hari lain di waktu santai.
Gambar : Jailani bersama Anak dan Cucunya di hari lain di waktu santai.

Oleh Mariyadi

MABMonline.org, Pontianak–Gelap dan sunyi mendominasi suasana saat itu. Tidak satupun aktivitas terdengar. Hanya jangkrik dan binatang malam lainnya bersahutan dengan suara khasnya masing-masing. Sementara itu, jarum pendek jam telah menunjukan angka 8, bersertaan dengan waktu istirahat bagi  penduduk Kampung Sagang, Tri Kembang, Galing, Sambas pada Jumat (30/11/2012), setelah sibuk beraktifitas. Di sebuah rumah yang terang oleh lampu putih, tampak dari kaca depan rumah tersebut,  Jailani, seorang tokoh masyarakat yang juga sebagai dukun kampung di Sagang sedang duduk bersantai bersama keluarga di ruang tamunya saat saya temui untuk wawancara perihal budaya Ruahan yang ada di daerah tersebut.

Jailani memakai baju putih bersatukan warna merah di lengannya dan mengenkan sarung puith bercorak batik. Di Usia paruh bayanya itu, ia masih kelihatan segar meski agak kurus. Rambutnya keputihan dan beberapa tidak lagi  tumbuh rambut di atas ubunnya. Beliau sangat antusias saat saya temui untuk diwawancara.

“Telah banyak adat menanam padi yang tidak lagi di laksanakan di desa ini” ujar Jailani.

Menurut Jailani, banyak hal yang mengenai adat menanam padi yang telah hilang di di Sagang. Termasuk juga adat Ruahan, Makan Nasi Baru, Ninggerkan yang dulunya tiap rumah di sagang melakukannya tiap tahun tepatnya setelah Beranyi (panen padi).

Ninggerkan  (makan nasi baru) dilakukan  setelah padi dipanen, akan ada budaya makan nasi baru di masyarakat. Ini dilakukan agar padi yang kita dapatkan tahun depan setelah di sedekahkan akan bertambah banyak. Di saat inilah warga yang telah memanen padinya untuk berbagi hasil panennya melalui makan-makan dengan masyarakat sekitar.

“ Kamilah yang di undang dan membacakan doa dalam acara tersebut” ujar Jailani.

Menurut Jailani ada beberapa mantra yang di baca di saat acara ruahan ini. Adapaun mantra dalam acara ini adalah:

Allahuma inni aulie

Tingkaseh allah akan die

Sifat kodrat dijadikan allah

Naik haji ke baitullah muhaaram

Dari makkah ke mahdinah

Dari kampong ke kampong

Nabi muhammad SAW

Akamane di dalam dunie yang tarrang

Intak jaohkan balla dari dunie sampai aherat

Tetutup pintu najis

Tebukak pintu yang kaye

Lahawala watailla illa ilazim amin.

Mantra tersebut dibacakan saat memulai ruahan. Pada acara tersebut para masyarakat akan berdoa bersama. Menurut Jailani acara tersebut adalah bersyukur dan berbagi hasil padi pada masyrakat. Dari berbagilah diharapkan hasil panen yang akan datang dapat memuaskan dan lebih banyak dari sebelumnya.

“ Jika hasil padi memuaskan maka orang diharapkan dapat membagi hasil padinya” ujar Jailani.

Jailani menjelaskan bahwa orang yang akan beruah  haruslah orang yang mendapatkan hasil padi yang memuaskan. Dan apabil tidak di lakukan hal tersebut maka hasil padi akan datang akan tidak seperti biasanya.

Begitulah kearifan lokal masyarakat yang ada saat dulu. Di masa yang modern ini hal tersebut telah termakan zaman. Tiada lagi adat memberi dan berbagi dilakukan oleh masyarakat. Ini disebabkan oleh kurangnya hasil padi dan kurangnya perhatian dari masyarakat terhadap budaya yang semakin lama semakin habis termakan zaman. Apakah budaya modern tidak mengajarkan berbagi dan memberi?

Fenomena Awan Bergaris Sambut Awal Tahun Kota Pontianak

Oleh Lia Nalita

MABMonline.org, Pontianak — Fenomena awan langka terjadi awal tahun ini, kali ini terjadi di Pontianak. Sejak pagi (27/03/2013) sejumlah warga Kelurahan Banjar Serasan menyaksikan fenomena bak awan yang membentuk pola garis-garis di atas langit Pontianak.

Fenomena alam berupa awan yang unik menarik perhatian warga Kelurahan Banjar Serasan. Awan berwarna putih itu melintang di atas cakrawala. Salah satu warga yang sempat mengabadikan gambar awan unik ini yang terlihat membentuk sejumlah garis panjang. “cobe liat, tak pernah-pernah awan tu kayak gitu. Ini fenomena alam…,” ujar Pak Amat, warga setempat kepada SerasanNews, 27 Febuari 2013.

Kejadian ini tampak sekitar pukul 07.50 WIB dan awan itu pun hanya 30 menit terlihat dan kemudian menghilang. Awan terlihat membentuk banyak garis dari arah barat ke timur. Jika hal ini dirasa menjadi suatu kejadian biasa, Pak Amat mengatakan mengapa baru kali ini terlihat sekarang.
“Biasenye awan tu kalau pon bergaris tapi tak beratoran, itu pon tak serapi kayak sekarang,” katanya.
Para warga pun menyatakan agak waswas mengenai fenomena awan ini terkait gempa bumi seperti yang pernah terjadi di Padang. Pada awalnya warga Padang melihat fenomena awan tegak lurus dan kemudian malam harinya terjadi gempa di selatan Jawa.

Sampai saat ini belum ada penjelasan pasti mengenai fenomena yang terjadi di langit Pontianak. Apakah ini merupakan fenomena biasa yang memang sudah sering terjadi di daerah- daerah lain atau kah ini hanya sebuah keindahan alam yang ingin ditunjukan kepada manusia sebagai pesan dari alam agar kita sebagai manusia dapat lebih santun kepada alam sekitar.