Home / FSBM IX / Chairil Effendy: Husna dan Jamal Sebagai Ruh Orang Melayu

Chairil Effendy: Husna dan Jamal Sebagai Ruh Orang Melayu

Chairil Effendy Selaku Ketua Umum MABM KB sedang memberikan kata sambutan dalam acara penutupan FSBM.
Chairil Effendy Selaku Ketua Umum MABM KB sedang memberikan kata sambutan dalam acara penutupan FSBM.

Oleh Mariyadi

MABMonline.org, Sambas—Saat penutupan Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) ke-IX di Sambas, Sabtu malam (31/08), Chairil Effendy selaku Ketua Umum Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalimantan Barat  dalam sambutannya mengatakan bahwa dua ruh Islam yang terdiri dari Husna dan Jamal harus menjiwai setiap aktifitas kehidupan orang melayu.

“Seni melayu dibentuk oleh dua unsur keindahan yang diambil dari bahasa arab yaitu Husen (Husna) dan Jamal,” ungkap Chairil Effendy.

Menurut Chairil Effendy, Husna adalah keindahan lahiriah yang dapat dilihat dari luar seperti cara berpakaian, gerak dan sebagainya. Sedangkan Jamal adalah keindahan hakiki yang tampak dari perilaku seseorang yang tercermin dari lubuk hatinya. Oleh karena itu jika kita ingin melayu tidak hilang dibumi maka ruh islam itu harus menjiwai seluruh aktifitas dan kehidupan kita.

“Kita Sering mendengar Takkan Melayu Hilang di Bumi, ucapan itu tidak akan bermakna  apa-apa kalau tidak ditindaklanjuti dengan  perbuatan-perbuatan nyata, amal-amal nyata, dan tindakan-tindakan yang nyata pula,” tambah Chairil Effendy.

Menurut Chairil Effendy, usaha kita bersama  didalam menggembangkan seni dan budaya melayu melalui FSBM ini adalah dalam rangka untuk menjawab pernyataan Takkan Melayu Hilang di Bumi. Yang lebih penting lagi adalah Takkan Melayu Hilang di Bumi jika orang melayu tidak meninggalkan identitasnya dan karakteristiknya sebagai orang melayu.

“Saya merasakan ada Gairah, ada ruh, ada denyut, ada elanvital dalam pelaksanaan FSBM di sambas ini,” ujar Chairil Effendy.

Kepada jajaran pantia dan segenap masyarakat yang selalu ikut meramaikan acara FSBM,  Chairil Effendy mengatakan bahwa ada girah, ada Gairah, ada ruh, ada denyut, dan ada elanvital dalam pelaksanaan FSBM di Sambas yang terbukti dari sejak malam ramah tamah, malam pembukaan, pawai taaruf, lomba-lomba, hingga  sampai saat ini masyarakat sambas selalu tumpah ruah menghadiri segala kegiatan yang sudah diagendakan oleh panitia. “Saya berterima kasih atas keseriusan kerja panitia sehingga kita bangga menjadi orang melayu,” pungkas Chairil Effendy.

Check Also

Sigondah: Meriam Dahsyat Peninggalan Kerajaan Mempawah

Oleh Kinanti Wulandari Hijau dan damai, kata yang dapat mewakili suasana di tempat ini. Suara burung-burung …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *