Home / Beranda / Chairil Effendy: Mati Adat Ribut Senegeri

Chairil Effendy: Mati Adat Ribut Senegeri

Oleh: Gusti Iwan

Ketua Umum MABM Kalbar, Chairil Effendy (Foto: Iwan)
Ketua Umum MABM Kalbar, Chairil Effendy (Foto: Iwan)

MABMonline.org, Sambas — Pembukaan Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) IX 24 Agustus 2013 di Sambas berlangsung sukses dan khidmat. Ribuan masyarakat Sambas memadati Kompleks Istana Alwatzikoebillah Kerajaan Sambas sebagai tempat beduk bertalu-talu tanda FSBM IX resmi dibuka. Ketua Umum MABM Kalimantan Barat H. Chairil Effendy didaulat untuk memberikan sambutan. Chairil memulai pidatonya dengan menyampaikan ucapan “taqabbalallahu minkum, minal a-idin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.”

Mantan Rektor Universitas Tanjungpura ini mengutip peribahasa Melayu yang berbunyi “Mati anak ribut sekampung, mati adat ribut senegeri.” Menurut Chairil, secara sederhana dapat dikatakan bahwa bila ada anak seorang manusia mati atau meninggal dunia maka kematiannya adalah sesuatu yang biasa, sesuatu yang lumrah karena setiap yang bernyawa pasti akan mati setelah beberapa hari, kehidupan akan kembali berjalan seperti biasa. Lain halnya bila yang mati adalah adat. Adat adalah seperangkat nilai yang berkaitan dengan hukum. Hukum itu merupakan rujukan untuk berpikir dan berbuat. Kalau adat mati, kalau adat tidak lagi dipakai, kalau adat dipandang sebagai penghalang untuk berbuat apa saja maka masyarakat hidup di dalam ketidakberaturan, bahkan kekacauan (chaos).

Lebih lanjut Ketua Umum MABM KB dua periode ini melihat fenomena sosial budaya yang tengah terjadi di Indonesia saat ini membuktikan kebenaran petuah tersebut. “Kita tengah berada dalam situasi yang disebut sebagai anomie—satu situasi tidak adanya aturan, hukum, atau adat yang mengikat anggota masyarakat dalam tatasosial yang harmonis. Macam-macam penyakit sosial seperti  perkelahian, pembunuhan, perampokan, perselingkuhan, perzinahan, konsumsi narkoba, ketidaktertiban di jalan raya, tidak menghormati orang tua, korupsi uang negara, berkata bohong dan senang memfitnah, senang memuji diri sendiri dan selalu menjelekkan orang lain, senang bergunjing tentang hal-hal yang tidak baik, dan lain-lain menunjukkan bahwa adat sudah dikangkangi, diinjak-injak, bahkan dilupakan sama sekali,” jelas Chairil Effendy.

Profesor sastra ini pun mengajak masyarakat untuk menjunjung tinggi adat diri sendiri. “Itulah sebabnya tema FSBM IX ini berbunyi “Adat Dijunjung, Budaya Disanjung”. Akan tetapi, tema yang bagus ini tidak akan bermanfaat sama sekali apabila pengurus-pengurus MABM tidak melaksanakannya terlebih dahulu. Oleh sebab itu, dalam kesempatan ini saya mengajak seluruh warga MABM untuk menjunjung tinggi adat kita serta memelihara dengan sepenuh hati khazanah kebudayaan kita.”

Check Also

Memilih Peserta dengan Baik, Kunci Pontianak Juarai FSBM XII

mabmoline.org, sekadau—Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) XII telah resmi ditutup pada Sabtu (10/11) di Kabupaten …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *