Home / Opini / CSR Bukan Sekedar Sedekah

CSR Bukan Sekedar Sedekah

Oleh: Ismail Ruslan

Pada tulisan terdahulu, saya sudah mengdeskripsikan pentingnya Perda tentang CSR (Corporate Social Responsibility) yang akan dirumuskan oleh DPRD Provinsi Kalimantan Barat. Tulisan berikut sebagai ikhtiar untuk melengkapi analisis tentang CSR dalam perspektif yang berbeda.
“Masyarakat awam” yang pernah menerima bantuan dari perusahaan, BUMD atau Perbankan bersumber dari dana CSR, tidak semua mengerti, memahami  apakah dana yang diperoleh adalah dana CSR. Bagi masyarakat,  bantuan yang diberikan hanya didifahami, terjemahkan sebagai “shadaqah (charity) dari institusi yang peduli kepada “penderitaan” mereka. Bentuknya bantuan tersebut bermacam-macam, ada yang diwujudkan dengan format sunnatan masal, kawin masal, pembagian bingkisan kepada masyarakat miskin dan rumah ibadah dan lainnya.
Masyarakat pasti akan berterima kasih atas bantuan tersebut. Namun apakah perusahaan, BUMD dan Perbankan mengerti dan memahami bahwa dana CSR bukan hanya sebagai “oase” di tengah gurun, hanya sesat, setelah itu masyarakat kembali kepada kondisi semula. Bantuan itu hanya mengobati sesat penderitaan mereka, masih dan terus berlanjut.

CSR bukan Sedekah
CSR merupakan komitmen yang berkesinambungan dari kalangan bisnis, untuk berperilaku secara etis dan memberi kontribusi bagi perkembangan ekonomi masyarakat.Program-program CSR sejatinya untuk meningkatkan kualitas kehidupan dari karyawan dan keluarganya, serta komunitas lokal dan masyarakat luas pada umumnya.
Maka, jika ada yang mengartikan CSR sebagai sedakah (charity), sesungguhnya telah terjadi kekeliruan dalam pemaknaan. CSR bukan diartikan sebagai sedekah (charity) yang biasanya tanpa turut memikirkan bagaimana agar yang diberi sedekah dapat meningkat kehidupannya. Dalam kontek sedekah biasanya pemberi hanya berpamrih pada perolehan pahala dari Tuhan (Santoso, 2009).
Dalam konteks sosiologi ekonomi, apa yang diterima masyarakat dan apa yang mereka artikan tentang CSR tidak serta merta “kesalahan” mereka. Format bantuan dana CSR yang selama ini diberikan, disalurkan oleh institusi yang memiliki kewajiban bukan formal CSR yang ideal. Karena CSR merupakan tanggung jawab untuk memberdayakan masyarakat, member pancing bukan ikan.
Nur Aryani (2003) mengemukakan CSR lahir dari desakan masyarakat atas perilaku perusahaan yang mengabaikan tanggungjawab sosial seperti perusakan lingkungan, eksploitasi sumberdaya alam, ngemplang pajak dan menindas buruh. Pendeknya, perusahaan berdiri secara diametral dengan kehidupan sosial. Kesan perusahaan, terutama pemilik modal lebih menampakkan wajah yang a-sosial. Biasanya orang mengatakan pelit, tertutup, mau untungnya saja, menghalalkan segala cara dan tidak punya hati kepada karyawan. Ini kenyataan bahwa kaum kapitalis memang tegak berdiri diatas derita banyak orang.
Para ahli ilmu sosial memprediksi konflik di Indonesia (khususnya di Kalimantan barat) tidak hanya disebabkan oleh persoalan primordialisme, persoalan lahan akan menjadi akar dan sumber baru.

Pada tahun 2012, beberapa media mencatat telah terjadi Konflik Sengketa Lahan Warga dengan beberapa perusahaan. Misalnya konflik lahan antara warga Kelurahan Anjungan vs PT PSP (sumber: Tribun 19 September 2012). Kedua, sengketa lahan di desa seruat Dua (Kubu Raya) vs PT Sintang Raya (SR) tentang hutan adat 700 H dari 900 H diserobot (sumber: Kompas, 28 Mei 2012).
Fakta ini mengingatkan kepada stakeholder di semua level bahwa selain memperoleh keuntungan perusahaan juga memiliki tanggung jawab sosial (Social Responsibility). “Kemarahan” warga tidak serta merta diterjemahkan sebagai “kebencian” kepada perusahaan. Apalagi menggunakan paradigma Orde Baru, subversif. Setiap kemarahan adalah pembangkangan, dan setiap pembangkangan adalah hambatan dan harus dimusnahkan, ditangkap, disingkirkan.
Dalam Perspektif sosiologi, kemarahan warga tidak muncul begitu saja, pasti memiliki akar. Respon tersebut muncul karena perusahaan “tidak hadir” di tengah  kegelisahan warga.
Masyarakat Indonesia dikenal dunia dengan kesantunan, keramah tamahannya. Namun di tengah himpitan dan ketidakpedulian, membuat setiap orang akan bereaksi. “Semutpun jika dipijak akan menggigit”.
Elkington (1997), merumuskan Triple Bottom Line (TBL) atau tiga fokus utama perusahaan dalam beroperasi, yaitu manusia dan masyarakat, ekonomi, dan lingkungan. TBL ini juga sering dikenal dengan 3P yakni people, profit dan planet. Ketiga hal ini berkaitan satu dengan yang lain. Masyarakat tergantung pada ekonomi, dan ekonomi tergantung pada masyarakat dan lingkungan bahkan ekosistem global. Ketiga komponen TBL ini tidak stabil melainkan dinamik tergantung kondisi dan tekanan sosial, politik, ekonomi dan lingkungan serta kemungkinan konflik kepentingan (Santoso, 2009).
Pemikiran Elkington merupakan peringatan, bahwa eksplorasi hutan, tambang atau sumber daya alam lainnya bukan hanya persoalan  mengambil keuntungan materi saja, namun juga tetap melestarikan lingkungan (planet) dan memperhatikan kehidupan ekonomi warganya.
Salah satu faktor eksternal konflik di Aceh disebabkan oleh eksploytasi sumber daya alam yang dilakukan dengan kekerasan dan ketidakpedulian Industri mobil Oil Indonesia di bawah  Manajemen PT Arun. Kondisinya lebih menyedihkan bagi masyarakat sekitar, karena ia menjadi entitas ‘”yang terlepas”  sama sekali dengan masyarakat sekitarnya.
Konflik di tempat lain dan di bumi khatulistiwa akhir-akhir ini, memberikan pelajaran bagi pimpinan perusahaan-perusahaan di Kalimantan Barat bahwa dibalik keuntungan sesungguhnya ada hak orang lain yang juga harus diberikan.
Secara implisit pasal 33 UUD 45 menjelaskan bahwa; bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan diperuntukkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Lingkungan yang dimaksudkan adalah bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya, profit adalah kemakmuran yang diharapkan, dan rakyat adalah komponen masyarakat. Dengan demikian maka pengelolaan sumberdaya alam Indonesia seharusnya ditujukan untuk peningkatan kualitas manusia dan lingkungannya.
Perusahaan harus berbesar hati, sebagai pelaku bisnis, tidak akan bisa terus berkembang, jika menutup mata atau tidak mau tahu dengan situasi dan kondisi lingkungan sosial tempat ia hidup.Wallahu A’lam………….

Check Also

Kuching: Kota yang Mengapresiasi Sungai

….Teach the gifted children, teach them to have mercy, Teach them about sunsets, teach them …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *