Home / Jurnalisme Warga / Darah Akhwal vs Keturunan Syarif

Darah Akhwal vs Keturunan Syarif

Oleh Mellisa Jupitasari

MABMonline.org, Pontianak — Jumat, 7 Juni 2013. Deru suara motor dan mobil hinggap di telinga. Hiruk pikuk kota Pontianak mungkin selalu membuat lelah mata ketika memandangnya. Pukul 10.00 pagi matahari benar-benar menyibak langit kala itu. Sinar terangnya selalu membuat jelas keadaan disekitar. Matahari sudah mulai mengeluarkan hawa panas terhadap bumi. Hawa panas yang mulai terasa ketika menyentuh kulit para anak manusia. Jalanan di kota Pontianak terlihat seperti biasa selalu padat merayap, begitulah istilah yang sering dipakai untuk menggambarkan keadaan kota yang penuh sesak dengan kendaraan. Melewati aspal demi aspal aroma jalanan selalu tercium khas ditambah hawa panas yang ikut turut andil dalam terciptanya aroma jalanan itu. Melewati beberapa traffic light sampai juga perjalanan itu pada traffic light terakhir sebelum memasuki jalan Uray Bawadi, jalan yang terkenal dengan sebutan ‘Jalan Jawa’ itu berada di sebelah kanan jalan apabila arah perjalanan menuju Kotabaru.

Gereja yang cukup besar terlihat jelas tepat berada di hadapan ‘Jalan Jawa’ itu. Namanya Gereja Katolik Keluarga Kudus. Memasuki jalan Uray Bawadi yang berada tepat di sebelah kanan kantor Kehutanan Propinsi dan di sebelah kiri kantor Perindustrian dan Perdagangan, jalanan tampak terlihat tidak juga dikatakan ramai, dan juga tidak dikatakan sepi. Samping kiri kanan jalan terlihat banyak kedai makanan. Angin semilir menyapih dedaunan di pohon-pohon yang berdiri tegak di bibir Jalan Uray Bawadi. Setidaknya angin itu dapat mengobati panas matahari yang sudah semakin terik kala itu. Memasuki setapak demi setapak jalan Uray Bawadi, akhirnya perjalanan itu sampai juga pada sebuah toko yang bertuliskan “Tugiran”. Nama itu kental sekali dengan nama-nama peranakan Jawa pada umumnya. Dua motor berjejer di depan toko yang menjual berbagai bahan pokok makanan itu.

Kedatangan ke toko itu disambut baik dengan senyum sumringah para pemilik toko. Toko bercat putih itu memang tak terlalu besar. Sama seperti toko-toko Tionghoa pada umumnya, toko tersebut juga bersatu dengan rumah tempat bernaungnya para pemilik toko. Datangnya tamu kala itu benar-benar disambut baik oleh ‘Ibu Yah’ begitulah ia  sering dipanggil keponakan-keponakannya. Nama lengkapnya Syarifah Sofiah Al-ba’bud.  Seorang istri yang berwajah tidak tirus dan tidak juga oval. Anak ke 7 dari 8 bersaudara ini telah dikarunia 2 jagoan cilik. Ikhsan Adit Nugroho dan Arif Risky Rahmatullah nama 2 jagoan cilik itu. Anaknya tidak memiliki gelar seperti ibunya. Hal ini jelas karena suaminya adalah peranakan jawa dan tidaklah bergaris keturunan Rasulullah. Syarif dan Syarifah merupakan gelar kebangsawanan atau sebutan bagi keturunan Nabi Muhammad Saw. yang langsung dari Husein cucu dari Rasulullah. Apabila Syarifah menikah dengan orang yang bukan Syarif maka gelar Syarif dan Syarifah pun hilang seketika.

Masalah kontroversi antara boleh dan tidak bolehnya pernikahan campur antara Syarifah dengan akhwal begitulah sebutan bagi perisitilahan orang yang bukan keturunan Syarif,  mungkin bukan hal yang tabu lagi didengar orang awam. Bahkan hal ini sering menuai perdebatan panjang. Begitu pulalah yang terjadi dengan Syarifah Sofiah Alba’bud (36). “Awalnya tidak setuju, tapi akhirnya setuju,” ucap Sofiah sambil tertawa ketika menanggapi pertanyaan mengenai pernikahannya dengan suaminya. Menikah dengan Tugiran (35), seorang lelaki berdarah Jawa yang telah lama menetap di Pontianak ini bukanlah perkara mudah. Atas dasar ‘Islam’ saja, hal ini tak cukup dan tak bisa diterima oleh abah Sofiah. Tugiran bukanlah orang Syarif. Bukanlah orang yang bergaris keturunan Rosulullah. Dia hanyalah akhwal yang tulus mencintai seorang Syarifah.

1997 awal pertemuan itu dan awal perkenalan itu. Sofiah tahu jelas bahwa hubungan yang terjalin kala itu pasti tidak akan pernah disetujui oleh orangtuanya terutama abahnya yang masih kolot memegang tradisi. Tahun demi tahun berjalan, hubungan itu belum juga mendapat restu. Sampai akhirnya abahnya berinisiatif ingin menjodohkannya dengan seorang laki-laki Syarif. “Awalnya, abah sempat ingin menjodohkan saya sama orang Syarif, tapi saya tidak mau,” ujar Sofiah. Lagi-lagi masalah rezeki, kematian, dan jodoh manusia adalah sepenuhnya ketetapan Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Tidak ada yang dapat melebihkan dan mengurangi rezeki selain Allah, tidak ada yang dapat menangguhkan dan mempercepat kematian selain Allah, dan tidak ada yang dapat menetapkan jodoh selain Allah. 9 tahun lamanya Sofia menunggu restu. Akhirnya Sofia dan Tugiran direstui juga. “Pada saat itu, abah sedang sakit keras. Saya dan suami saya datang untuk meminta restu, dan akhirnya kami direstui,” ucap Sofiah kala itu. ‘Ya sudah terserahlah’ ucap abah Sofiah saat Sofiah menceritakan ucapan abahnya ketika menyetujui hubungannya bersama Tugiran.

Tugiran seorang sarjana teknik yang berdarah Jawa akhirnya berhasil mempersunting Syarifah Sofiah Alba’bud pada tanggal 9 Juli 2006. Berkantongkan persetujuan abahnya, itu  sudah cukup membuat Sofiah lega. “Alhamdulillah, semua keluarga datang pada saat pernikahan,” ucap perempuan berkulit sawo matang itu sambil tersenyum manis dengan lesung pipi yang menghiasi kiri dan kanan pipinya.

Hal yang kurang lebih sama terjadi juga pada Syarifah Syapinah (47). Anak kedua dari 6 bersaudara ini mungkin lebih beruntung dari Sofiah. Dia adalah anak yatim yang ditinggal pergi abahnya pada tahun 1982. Ibunya Syarifah Asmah Al idrus, memang tak sekolot abahnya Sofiah. Ibunya cukup legowo ketika mengetahui anaknya ingin menikah dengan Jumadi laki-laki berdarah Jawa, bungsu peranakan Kulon Progo, Yogyakarta. Pertemuan yang tak sengaja di sebuah toko mengantarkannya pada jalan jodoh yang telah diatur oleh Allah. 15 Desember 1991, akad nikah dilaksanakan yang diwalikan oleh adik laki-lakinya yang keempat. Pada kasus kali ini yang tidak setuju adalah paman dari sebelah ibunya, atau lebih tepatnya abang ibunya. Namun hal ini tak mengurungkan niatnya untuk tetap menikah dengan lelaki pilihannya. “Yang penting ibu saya setuju, masalah paman dan banyak keluarga saya yang tidak datang di acara pernikahan saya itu tidak masalah,” ujar Syapinah.

Syapinah juga sempat bertunangan dengan laki-laki Syarif bermarga Al-idrus, namun hubungan itu kandas di tengah jalan. “Dari pada memilih Syarif yang belum tentu baik, lebih baik memilih yang lain,” ucapnya. “Namun, kalau abah dan kakek masih hidup, mungkin saya tidak akan disetujui,” kenang Syapinah terhadap abah dan kakeknya.

Menelusuri sudut-sudut daerah Siantan perjalanan kembali memasuki daerah yang terkenal dengan tempat bernaungannya pabrik karet. 23 Juni, pada pukul 06.30 pagi, bau hangat  matahari pagi baru saja menghiasi pagi minggu yang cerah itu. Entah mengapa bau karet tak tercium pada saat itu, biasanya hidung selalu diasingkan dengan bau aneh ‘karet-karet’ itu, hanya bau-bau khas aspal saja yang menghiasi bibir jalan yang tercium kala itu. Memasuki Gang Selat Bangka, laki-laki kurus jangkung berkumis mengantarkan dua orang perempuan pada Gang Malaka, rumah seorang Habib yang cukup dihormati oleh orang sekitar. Pembicaraan baru bisa dimulai pukul 11.00 siang karena habib tersebut akan pergi pada acara walimahan tetangganya. Pukul 11.00 tiba, kali ini laki-laki kurus jangkung berkumis itu membawa sepupunya yang berpostur tubuh kurang lebih sama dengan lelaki kurus jangkung itu, hanya bedanya ia tidak berkumis dan sedikit lebih tinggi dari Syarif Hasan Alwi Alqadrie, begitulah nama lengkap lelaki kurus jangkung berkumis itu. Matahari cukup menyengat siang itu. Lelehan keringat menghiasi sisi terluar kulit tamu-tamu Habib itu, ketika sampai pada rumah yang masih bertekstur kayu dan belum ada sentuhan modernisasi itu.

Habib itu bernama Muhammad Al Hadad. ‘Habib Muhammad’, begitulah panggilan akrabnya, dinilai Syarif Hasan Alwi Alqadrie cukup berilmu untuk menjelaskan mengenai kejelasan boleh atau tidaknya pernikahan campur yang sering terjadi ini. Jelas saja, dia adalah mantan santri jebolan pesantren Darul Na’im yang terletak di daerah Ampera Kota Pontianak yang sempat menjadi pengajar di sana  selama 1 tahun dan sebentar lagi akan melanjutkan studinya ke Hadramaut, negara Yaman. Ditanya mengenai hukum pernikahan campur, laki-laki berkulit kuning langsat itu pun langsung menjelaskan dengan nada lantang. Suara yang awalnya lemah lembut dan datar tiba-tiba saja mengalami pembesaran volume. Sambil duduk, dia pun menjelaskan. Bicara masalah nikah, maka hal ini erat kaitannya mengenai kafa’ah atau kita sering mengenalnya dengan ‘sekufu’ atau sederajat.

Kafa’ah ini terbagi menjadi enam jelasnya lagi. Pertama, Kafa’ah ini ditinjau dari segi agama, misalnya pria yang mualaff yang lahir tidak dalam keadaan islam berarti tidak sederajatkan agamanya dengan wanita yang dari lahir telah beragama islam, namun apabila si mempelai wanita dan wali menyetujuinya maka pernikahannya sah dan gugur kafa’ahnya; Ke dua, Kafa’ah ini ditinjau dari kesehatan, misalnya ada lelaki yang berpenyakit impoten dijodohkan dengan wanita yang sehat dan tidak ada cacat sedikit pun namun apabila perempuan ini setuju dan wali meridhoinya maka pernikahan sah dan gugur kafa’ahnya; Ke tiga, Kafa’ah ini ditinjau dari iffah atau kehormataan, contoh seorang lelaki yang ahli maksiat dijodohkan  sama perempuan yang sholehah berarti itu tidak sekufu atau sederajat, tapi tatkala perempuan itu rela dan walinya ridho maka gugur itu kafa’ahnya dan pernikahan itu sah. Ke empat, kafa’ah ditinjau dari pekerjaan, contoh seorang lelaki anak tukang jahit, petani atau nelayan dijodohkan sama perempuan anak pejabat, presiden atau anak anggota DPR berarti itu tidak sederajat. Namun tatkala perempuan itu rela dan walinya ridho maka kafa’ahnya gugur dan pernikahan itu juga sah; Kelima, kafa’ah ditinjau dari kemerdekaannya walaupun sekarang tidak ada lagi yang berstatus budak, misalnya wanita yang merdeka dan dijodohkan dengan budak tentu itu tidak sekufu, namun lagi-lagi tatkala perempuan itu rela dan walinya ridho maka kafa’ahnya gugur dan pernikahan itu juga sah; Dan terakhir yang ke enam, yang tidak ada rukhsoh atau tidak ada keringannya dan  tidak ada dispensasinya ialah masalah nasab. Misalkan orang Arab yang perempuan dinikahkan dengan bukan orang Arab tapi masih bisa tatkala perempuannya rela dan walinya ridho maka kafaahnya gugur dan pernikahanya sah. Akan tetapi, apabila seorang wanita syarifah keturunan Nabi Muhammad yang mulia dijodohkan sama laki-laki yang non syarif yang bukan habib yang bukan syarif itu tidak boleh dan tidak sederajat karena ini keturunan nasab yang mulia, walaupun walinya ridho dan Syarifahnya ridho tetap saja kafa’ah itu tidak akan gugur untuk masalah ini, tapi masalah lain yang sebelumnya disebutkan itu masih bisa membuat kafa’ah itu gugur, itu mazhab Imam Syafiie yang sering dipakai seperti itu,” ucap laki-laki berwajah oval kelahiran Pontianak itu dengan mengebu-gebu bahkan setiap penjelasan mengenai bagian-bagian kafa’ah, ia selalu menepuk tangannya saking terlalu semangatnya ia menjelaskan mengenai kesetaraan dalam pernikahan.

Ada yang pro, ada juga yang kontra. Hal itu sudah menjadi suatu keniscayaan yang tak bisa dielakkan keberadaannya. Habib Muhammad adalah orang yang paling menentang pernikahan campur ini. “Bahkan ada yang mengatakan apabila syarifah menikah dengan orang akhwal atau non syarif maka anaknya itu dihukum anak zina yang dihalalkan, mengapa zina yang dihalalkan karena kalau zina yang asli biasanya orang merasa bersalah melakukannya namun zina ini dia merasa halal namun itu sebenarnya haram hukumnya dan itu tidak boleh,” ucap ustaz muda kelahiran tahun 1992 itu mempertegas perkataannya. “Kalau ditanya nash hadist dan alquran yang mengharamkan hal ini, memang tidak ada namun ada hadist yang bisa dianalogikan dalam masalah ini,” ucapnya lagi untuk memperkuat pendapatnya.

Segala ketidaksetujuan itu terjawab atas dasar sebuah pernyataan “tidak ada dosa yang paling besar, kecuali dosa memutuskan nasab keturunan aku,” ucap habib Muhammad yang mengatakan bahwa pernyataan itu adalah pernyataan langsung dari Rosullullah. Perempuan yang bertanya mengenai hal itu kemudian bertanya lagi mengenai perawi hadits tersebut agar pendapat itu jelas dan tidak timpang sebelah. Namun sayangnya Habib Muhammad lupa siapa perawi dari hadits yang dirunut sebagai pendapat yang dipakai. “Wah saya tidak lihat perawinya siapa, padahal itu penting. Saya hanya melihat terjemahan dari hadist itu, tapi insyaAllah itu hadits yang shohih,” ujarnya yakin dengan hadits tersebut.

Perempuan itu bertanya lagi mengenai hadits mengenai seorang lelaki yang datang menemui Al-Hasan bin Ali RA, meminta nasihat dengan lelaki yang bagaimanakah yang layak dikawinkan dengan putrinya. Ia berkata: “Anak perempuanku dipinang oleh beberapa orang lelaki, dengan siapakah yang sebaiknya aku mengawinkannya?” Al- Hasan menjawab: “Kawinkanlah dia dengan lelaki yang bertaqwa kepada Allah, sebab kalau ia mencintai isterinya ia pasti menghormatinya, tetapi kalau tidak menyukainya ia pasti tidak akan berlaku dzalim terhadapnya.” Serta kasus para lelaki Syarif yang kurang dalam agamanya. Sang habib membenarkan pernyataan itu dan sedikit menyalahkan Syarif yang kurang dalam mempelajari agama padahal dia adalah orang yang bergaris keturunan mulia. “Memang betul tapi tetap saja dia menyalahi aturan dengan memutus nasab nabi dan nabi akan meminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat, dengan menikah dengan syarif, setidaknya dia telah meneruskan nasab keturunan Nabi Muhammad Saw,” ujar habib Muhammad yang tetap saja taqlid terhadap hadits yang mendasari pernyataannya di atas, pernyataan tersebut seakan tidak mau memperdulikan hadits itu.

Kasus yang berbeda apabila Syarif menikahi akhwal menurutnya tidaklah mengapa, hal ini dikarenakan garis keturunan berasal dari laki-laki bukan perempuan. Akan tetapi, ada juga yang berpendapat bahwa apabila dalam keadaan darurat Syarifah boleh menikah dengan akhwal dengan syarat jika di sebuah kampung tidak ada orang Syarif atau tidak ada yang mau dengan si Syarifah, karena ditakutkan si Syarifah akan melakukan zina, maka hal itu diperbolehkan karena hal itu lebih baik daripada melakukan kemudharotan yang besar. Ada juga yang berpendapat bahwa akhwal yang ingin menikahi Syarifah itu harus memenuhi dua syarat yaitu akhwal tersebut harus meminta izin kepada seluruh ahlul bait atau keluarga Rosul diseluruh muka bumi ini dan akhwal tidak boleh memerintah Syarifah karena dia merupakan keturunan mulia, jelas Habib Muhammad.

Pendapat yang berbeda dinyatakan oleh Harfiani seorang wanita yang juga keturunan syarif yang lebih memilih seorang suami Ustaz dari keturunan Jawa dari pada memilih syarif yang kurang dalam agamanya. Saat ditemui di komplek perumahan Didis Permai yang tak jauh dari Pondok Pesantren Assalam yang terletak di pal 5, perempuan jebolan Universitas Brawijaya Malang ini pun sedikit bercerita mengenai pengalamannya yang akhirnya tidak memilih Syarif. “Awalnya saya sangat berkeinginan untuk bersuamikan orang syarif, apalagi abah saya,” ungkap perempuan bercadar yang telah dikaruniai seorang anak laki-laki itu. Lagi-lagi urusan jodoh memang telah menjadi hak prerogatif Yang Maha Kuasa. Harfiani dan abahnya mungkin punya harapan, namun Allahlah yang maha penentu garis kehidupan. Harfiani juga sempat mencari hadist mengenai pernikahan ahlul bait namun sepengetahuannya tak pernah ada hadist yang melarang mengenai pernikahan Syarifah dengan akhwal.  Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad Saw bersabda:

إِذَا أَتَا كُمْ مَن تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ، إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُن فِتْنَةٌ فِى اْلأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ

“Jika ( seorang lelaki) datang ( untuk meminang anak perempuan kamu) dan kamu berpuas hati dengan agamanya serta akhlaknya, nikahkanlah ia ( dengan anak perempuan kamu). Jika hal itu tidak kamu lakukan maka akan terjadi fitnah di (muka) bumi.”

Pernikahan itu pun terjadi, melalui taaruf Harfiani pun resmi dipersunting lelaki berdarah Jawa yang sering dikenal dengan sebutan Abu Dzar. Abu Dzar merupakan satu di antara ustaz pengajar di ponpes Assalam. “Saya sudah berusaha mencari orang syarif yang sesuai kriteria saya yang baik agamanya dan akhlaknya, mungkin ada tapi tidak saya temukan,” ujarnya sambil mengendong Ibrahim jagoan kecilnya. Untungnya abahnya tidak sekolot orang syarif pada umumnya. Atas dasar agama dan akhlak yang baik serta mau berkerja keras itu sudah cukup jadi pegangan abahnya dalam menerima calon jodoh anaknya. “Abah tidak pernah memaksakan, abah menyerahkan semuanya pada anak-anaknya, meskipun sebelumnya disuruh mencari yang syarif dulu” ujar perempuan kelahiran Pontianak, 29 Desember 1980 ini. Meskipun akhirnya berdampak pada suami yang dikucilkan oleh sebagian dari keluarganya, Harfiani tidak mempermasalahkan hal itu. “Dampaknya memang ke suami, suami pernah tidak mau disalami oleh satu diantara keluarga saya,” kenangnya yang sempat sedih saat mengingat kejadian itu. Namun lagi-lagi yang menentukan selamat dan tidak selamatnya seseorang di akhirat bukanlah anak keturunan siapa dan siapa tapi seberapa besarnya keimanan seseorang dimata Allah, bukankah Fatimah pernah menangis karena diperingatkan Rosulullah bahwa Dia tidak akan pernah dapat menolong Fatimah kelak di akhirat?

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, makamereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur: 55 ).

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Artinya: Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu ke dalam beberapa derajat (QS. Al-Mujadillah 58:11)

Perbedaan lagi-lagi adalah suatu keniscayaan yang mungkin tidak dapat dielakkan. Beda pemikirian maupun pendapat merupakan makanan manusia setiap harinya. Islam adalah agama yang tidak menyukai perpecahan belahan. Allah pernah berpesan dalam surah Al Anfal yakni, “Janganlah kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu.” (QS. Al-Anfal: 46)

Meskipun demikian perbedaan pendapat harus disyukuri karena merupakan suatu rahmat yang telah diberikan Allah kepada manusia di muka bumi ini. Selalu ada alternatif dari setiap perbedaan yang ada.

“Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)

Beda itu pasti, namun memiliki satu konsep yang searah itu wajib kita raih, agar tidak ada yang saling tersakiti dan segala perbedaan itu dapat teratasi. Wallahu a’lam.

Check Also

Pantia FSBM IX Sediakan 7 Stan Keamanan dan Kesehatan

Oleh Mariyadi MABMonline.org, Pontianak—Panitia penyelenggara Festifal Seni dan Budaya Melayu (FSBM) IX dalam rangka ulang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *