Home / Beranda / Dari Menjala Hingga Membuat Perahu

Dari Menjala Hingga Membuat Perahu

Ilustrasi Perahu (Sumber i-berita.com)
Ilustrasi Perahu (Sumber i-berita.com)

Oleh Hambali

MABMonline.org–Bekas tetesan hujan masih membasahi jalan desa.  Awan gelap masih terlihat di atas sana. Masyarakat mulai melanjutkan aktivitas yang sejenak terhenti. Tubuhku masih diterpa angin bercampur debu air. Di kala itu aku akan menghampiri seorang pembut perahu di Dusun Parit Bugis Desa Kapor, yaitu suatu desa yang dahulunya tempat pembuatan kapur makan.

Setiba di desa saya, bertanya kepada kakek yang hendak lewat. “Kek di sini orang yang biasa membuat perahu itu siapa ya?” ujarku.  “Owh banyak nak! hampir di sekitar ini pembuat sampan semua,” sambil iya menunjukan rumah-rumah orang pembuat perahu. Terjawab sudahlah di benakku tentang siapa pembuat perahu di desa ini. Dengan bergegas saya pun menuju satu di antara rumah yang ditunjukkan kakek tadi. Secara kebetulan ada seorang ibu di depan rumah itu sedang membilas pakaiannya. Tanpa berpanjang lebar saya memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud tujuan.”Ha ha ha ha ha”, ungkapan rasa lucu dalam benak hati karena memperkenalkan seperti seorang penyensus saja. Ibu itu pun mempersilakan masuk. Seorang bapak  dengan wajah baru bangun tidur tanpa berbaju, menggunakan kain sarung, dan bersenyum lebar menghapiri. Ia mengatakan bahwa dirinya bukan pembuat perahu tapi orang yang punya perahu  saja. “Saya pun membeli dengan orang Punggur,” tambahnya. Kemudian ia  menyampaiakan bahwa orang yang biasa membuat sampan itu ada di jalan gang samping rumahnya. Disuruhlah seorang anak untuk mebantu saya bertemu dengan  bapak yang biasa disapa “Pak Dul” atau nama lengkapnya Pak Abdul Rani.

Berjalan sambil melihat kepingan papan dan beberapa tiang  di pinggir jalan setapak akhirnya saya pun telah berada di depan rumah seorang pembuat perahu itu. “Itu bang rumah Pak Dul,” ungkap anak itu. Perasaan ini mulai yakin bahwa inilah dia tempat yang benar.

Assalamualaikum,” salam saya ketika berada di depan pintu rumah. Tiga orang di dalam rumah telihat kaget dan saling berbisik diantaranya “siapa itu ya”. Namun, satu orang masih telihat berbaring tanpa menghiraukan siapa yang datang. Seseorang pun datang menghampiri. “Bapak adalah Pak Dul ya, yang membuat perahu?” tanya saya. “Bukan! Tapi orangnya ada dan sedang nonton dia” ujarnya. Kemudian saya kembali memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud dan tujuan datang ke rumah Pak Dul. Iya pun mempersilakan masuk dan orang yang di dalam masih terlihat bingung bercampur kaget dan mungkin mengira saya adalah penyensus karena terlihat berpakaian rapi.

Terlihat langkah kaki seperti tak kuat untuk melangkah dan tubuh kurus yang uzur dan begitun lemah. Ia pun menuju kursi tamu di depan saya duduk. Ternyata ia adalah orang yang terbaring didepan televisi tadi atau Pak Dul.

Pembicaraan tentang perahu kami mulai. Sebelum berbicara panjang lebar ia menyampaikan “maaf ya penglihatan saya agak kurang jelas dan begitu pula dengan pendengaran saya,” ungkapnya. Ternyata Pak Dul sudah mulai sakit-sakitan sejak tiga belas tahun lalu. Dengan kehadiran seorang bapak yang menghampiri saya tadi dan duduk di sebelah Pak Dul dapat membantu menyampaikan maksud pertanyaan saya. Kemudian saya mulai berdiskusi menanyakan tentang pembuatan perahu.

Pak Dul mulai menceritakan awal ia belajar membuat perahu. Awal ia belajar membuat perahu ketika ia masih bujangan yang dikarenakan daerah tempat tinggalnya adalah daerah sungai, yaitu di Teluk Pakedai. Dengan lokasi daerah sungai maka apabila mau kemana-mana hendaklah menggunakan sampan dan apabila tidak ada sampan memang sangat susah sekali. Apalagi ia gemar menjala ikan di sungai. Hal ini, membuat ia belajar membuat perahu karena menurutnya perahu adalah bagian kebutuhan hidupnya. Perahu yang dibuat Pak Dul saat itu pun berhasil yang mana dalam pembuatannya dibantu oleh orang tuanya. Dengan berasilnya perahu buatanya maka beberapa orang mulai tertarik untuk meminta Pak Dul untuk membut perahu. Adapun perahu yang biasa dibuatnya adalah perahu biasa atau sampan yang biasa bermuatan empat orang. Kemudian ia biasa juga membuat perahu tongkang dan tempel yang biasa digunakan masyarakat untuk pergi ke Ketapang.

Menurut Pak Dul membuat perahu itu memerlukan waktu yang lumayan lama. Untuk perahu menggunakan papan 10 keping biasa mencapai tujuh hari pengerjaan. Untuk perahu yang mencapai dua puluh keping papan mencapai dua minggu. Hal ini juga dikarenakan perahu di kerjakan oleh pak dul sendiri.

Pembutan perahu memang berbahan dasar kayu katanya. Kayu yang digunakan juga tidak sembarangan. Untuk kualitas kayu yang kuat atau baik maka lebih lama atau tahanlah perahu itu untuk digunakan. Namun, untuk kayu yang biasa digunakannya yaitu kayu merabang atau merantik kalau dalam bahasa Pontianaknya. Kemudian bahan dasar kayu juga menyesuaikan dengan permintaan pembeli atau pemesan. Adapun untuk bahan dasar pembutan perahu berupa papan dan tiang yang sama panjang. Selain itu juga diperlukan tulang perahu.

“Apakah sampai sekarang masih melayani pembutan perahu,” tanya saya. “Iya sampai sekarang masih melayani pembuatan perahu dan namun tidak dapat sepenuhnya dilakukan,” ungkapnya. Hal ini dikarenakan keadaan dirinya yang sudah sakit-sakitan. “Untuk pemesanan dapat langsung bertemu denganya untuk merundingkan penggunan kayu dan ukuran perahu yang dipesan,” katanya.

Saat sekarang memang susah untuk menemukan pembuat perahu atau sampan. Begitu juga yang dinyatakan oleh Pak Dul bahwa di daerahnya memang susah orang yang  bisa membuat perahu apalagi yang anak mudanya memang sangat susah sekali. Dengan itu harapan saya semoga ada generasi yang bisa melanjutkan pembuatan perahu. Hal ini dikarenakan trasportasi di Kalimantan Barat tidak hanya menggunakan darat, tetapi juga menggunakan aliran sungai yang terbentang di bumi khatulistiwa ini.

 

Check Also

Tarian Tanda’ Sambas Wajib Dilestarikan Oleh Pemuda

Oleh Asmirizani MABMonline.org, Sambas— Workshop tarian Tanda’ Sambas dilaksanakan di pentas kantor Bupati Sambas pada …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *