Home / Beranda / Dari Puasa Teologis ke Transformatif

Dari Puasa Teologis ke Transformatif

Oleh Luqman Abdul Jabbar

puasa-mubarak
Secara teologis puasa Ramadan diyakini sebagai kewajiban bagi seluruh umat Islam. Puasa Ramadhan merupakan salah satu identitas keislaman, ia dikategorikan sebagai sebagai salah satu rukun Islam yang lima. Terlebih hal tersebut secara tegas juga diungkap dalam kitab suci, Q.S. al-Baqarah: 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa”.  Sehingga dengan ini muncul dorongan batin yang kuat sebagai bukti ketaatan pada perintah Allah SWT,  selain hal tersebut juga banyak dipertegas dengan berbagai argumentasi ulama. Puasa adalah kewajiban individual yang dibebankan kepada setiap muslim yang telah mencapai usia baligh. Oleh sebab itu berdosa bagi mereka yang dengan sengaja dan tanpa alasan yang dibenarkan (’uzur) meninggalkan ibadah puasa. Belum lagi di bulan ini, ada banyak janji-janji peluang pahala yang terbuka lebar bagi setiap orang yang melakukan kebajikan.

Ramadhan sepertinya telah menjadi semacam “magma sosial” yang menggairahkan “kesadaran ilahiyyah” umat Islam. Di bulan ini terjadi loncatan-loncatan semu penghambaan “manusia berpuasa” akan Tuhannya. Mendadak banyak sosok alim dan rajin yang bergegas memperlihatkan aktivitas mereka ke tempat ibadah. Bahkan semaraknya tidak hanya diperlihatkan oleh perorangan namun juga oleh beberapa institusi termasuk yang tak kalah adalah media massa pun berlomba-lomba menampakkan aktivitas yang bernuansa religius. Ramadhan seperti titian untuk mencapai garis tepi sehingga tak ayal harus dibuat banyak perbedaan dengan bulan sebelumnya dengan asumsi lebih baik.

Hal tersebut akan menjadikan pelaksanaan ibadah puasa kian terjebak lingkaran formal ritualistik. Puasa hanya sebatas dimaknai sebagai paket ibadah yang harus dijalani berdasar produk fiqh yang telah baku. Puasa dimaknai sebatas ibadah yang sesuai dengan terminologi fiqihnya menahan makan, minum, dan berhubungan intim dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Ramadhan telah menjadi siklus ritual manusia Indonesia dalam memperlakukan ibadah sebagai ritualisme demonstratif spiritual-religius yang hanya berdampak pada kesan estetik. Ia hanya menjadi sebuah simbol belaka, simbol yang mempertontonkan kuantitas religius umat.

Persoalan yang kemudian muncul adalah, bagaimana adegan teatrikal tersebut memiliki makna dalam konteks sosial. Puasa secara kualitatif adalah dengan “menghadirkan Tuhan” dalam diri kita di tengah kehidupan masyarakat. Konsekuensi etis dari ibadah puasa memang menjadi urusan Tuhan, tetapi konsekuensi moralnya menjadi tanggung jawab kita dalam interelasinya sebagai anggota masyarakat. Di sinilah implementasi ibadah puasa mendapat signifikansinya.

Dimensi teologis ibadah puasa harus ditransformasikan ke dalam dimensi sosiologis, agar kebahagiaan religius dapat dirasakan, baik secara etik maupun secara moral. Dengan demikian, puasa harus memberi kekuatan pada pelakunya untuk mengendalikan keinginan dan kepentingan individu atau kelompoknya. Inilah internalisasi logis dari pengalaman keagamaan yang bermuara pada prinsip tauhid, yang menolak disequilibrium ekonomi dan ketidakadilan sosial.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa pada bulan Ramadhan ada seorang wanita sedang mencaci-¬maki pembantunya. Rasulullah saw mendengarnya lantas beliau menyuruh seseorang untuk menyediakan makanan dan memanggil wanita tersebut, dan bersabda “Makanlah makanan ini!”, wanita tersebut menjawab “Saya sedang berpuasa ya Rasulullah” Rasulullah bersabda “Bagaimana mungkin kamu berpuasa padahal kamu mencaci-maki pembantumu. Sesungguhnya puasa adalah sebagai penghalang bagi kamu untuk tidak berbuat hal-hal yang tercela. Betapa sedikitnya orang yang berpuasa dan betapa banyaknya orang yang kelaparan.”

Hadits ini memberi kontribusi pelajaran berharga kepada kita, bahwa puasa tidaklah sekedar menahan makan dan minum. Di samping mengandung ketentuan-¬ketentuan fiqih, puasa juga membawa pesan mendalam tentang akhlak dan aspek sosial. Ketika seseorang hanya mampu menahan lapar dan dahaga, tetapi masih melakukan perbuatan tercela, maka tak lebih sekedar orang-orang yang lapar saja. Itulah yang disinyalir oleh Nabi saw, “betapa sedikitnya orang yang herpuasa dan betapa banyaknya orang yang kelaparan”.

Dalam riwayat lain, Nabi saw bersabda, “Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga.” Pesan moral apa yang terkandung dalam ibadah puasa. Jika kita tengok “perilaku” puasa dan hal-hal yang berkaitan dengannya, maka paling tidak kita temukan bahwa: pertama, puasa menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sosial. Salah satu bentuk kepedulian sosial yang menjadi pesan moral puasa adalah memperhatikan dan menyantuni fakir dan miskin. Perhatian serius terhadap mereka bisa dilakukan, jika kita mampu berempati terhadap kondisi mereka. Oleh karena itu, ibadah puasa mensyaratkan pelakunya untuk tidak minum dan makan mulai terbit fajar sampai tenggelamnya matahari, agar bisa merasakan dahaga dan kelaparan—suatu kondisi yang sering dialami fakir dan miskin.

Orang-orang yang tidak sanggup berpuasa, menurut sebagaimana yang termuat dalam Q.S. a-Baqarah: 184, diharuskan mengeluarkan fidyah buat orang-¬orang miskin. Jadi, kalaupun tidak sanggup menjalankan ritus puasa, paling tidak pesan moral puasa, yakni menyantuni fakir dan miskin, mampu diwujudkan. Demikian pula salah satu kifarat bagi orang yang batal puasanya karena melakukan hubungan suami istri pada siang hari, adalah membebaskan budak atau memberi makan enam puluh orang miskin. Perhatian dan santunan terhadap fakir dan miskin juga terlihat dari kewajiban mengeluarkan zakat fitrah sebagai penutup-penyempurna ibadah puasa.

Kepedulian sosial semacam ini secara tegas disebut Nabi saw sebagai ciri mukmin. Sabda beliau “Tidak dianggap sebagai orang beriman apabila seseorang yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara para tetangganya kelaparan di sampingnya.” (HR Bukhari).

Kedua, dalam puasa, makanan halal (harta kita) pun dilarang kita makan sebelum tiba waktunya. Ini mengandung pesan bahwa sesungguhnya harta yang ada pada kita, bukanlah sepenuhnya milik kita. Sebagian di dalamnya ada hak fakir dan miskin. Kata Ali r.a. “Tidak pernah aku melihat ada orang yang memperoleh harta yang berlimpah kecuali di sampingnya ada hak orang lain yang disia-siakan.”Ini artinya bahwa penghasilan kita (yang tinggi), tidak boleh kita makan semuanya walaupun itu hasil jerih payah kita sendiri. Ada kewajiban kita untuk menyantuni fakir dan miskin. Wallahu a’lam.

Check Also

Pontianak Helat Festival Seni Budaya Melayu

Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalimantan Barat menggelar Festival Seni Budaya Melayu VIII di Kota …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *