Home / Jurnalisme Warga / Desa Jeruju Kampung Tempoe Doloe

Desa Jeruju Kampung Tempoe Doloe

Oleh Jumiatin Asri Rahmadhanti

MABMonline.org, Pontianak
— Saya mendapatkan tugas dari dosen jurnalistik untuk mencari sejarah jalan di Kalimantan Barat.  Terlintas di pikiran untuk mencari sejarah jalan Jeruju. Seminggu kemudian saya pergi ke Jeruju menggunakan sepeda motor dengan tujuan untuk mencari tahu sejarah jalan Jeruju, tetapi belum menemukan informan, karena sangat susah menemukan orang yang masih ingat sejarah Jeruju atau orang yang sudah lama menetap atau mempunyai cerita Jeruju. Yah, cuaca pada saat itu panas sekitar jam 2 siang.
Di tengah rasa haus yang menyerang, saya pun menepi ke sebuah warung untuk membeli minuman dan tiga pisang goreng. Sambil menunggu pisang goreng dan minuman datang, saya memainkan handphone. Ketika itu ada bapak-bapak duduk di dekat saya. Usia lelaki ini memang tidak muda, perawakan tubuhnya renta dan keriput di kulitnya menunjukkan ia seorang kakek. Mungkin ia berumur 70 tahun lebih. “Mau kemana dek?” kata Kakek  tersebut. Saya pun menceritakan tujuan ke Jeruju. Kemudian Kakek tersenyum. Beliau berkata saya juga sebenarnya tidak terlalu tahu. Tapi saya pernah mendengar dari sesepuh saya terdahulu dan ada sedikit cerita yang saya ketahui.
Saya pun tergelitik untuk mengorek lebih dalam apa yang pernah diceritakan oleh sesepuh kakek. Sebelum bertanya lebih dalam saya bertanya nama kakek tersebut dan si kakek berkata “Panggil saja saya Dato’. Dato’ pun mulai bercerita dulu sekitar pada tahun 1860 banyak masyarakat yang meninggalkan kampungnya  dan pergi ke daerah lain untuk mencari tempat tinggal baru. “Wah saya belum lahir itu,” canda saya ke Dato’. “Jangankan kamu, saya saja belum lahir, belum direncanakan pula sama orang tua saya atau mungkin orang tua saya belum bertemu,” ujar Dato’ ikut bercanda. Saya, Dato’ dan dua orang penjual di warung tertawa lepas mendengarkan candaan Dato’.
Dato’ pun melanjutkan ceritanya. Sejak saat itu banyak yang datang dan menetap. Masyarakat tersebut juga bertani, berkebun, dan beternak. Semakin banyak penduduk yang tinggal di suatu tempat yang belum ada namanya, penduduk berinisiatip untuk memberikan nama untuk tempat tinggal mereka. Ketika Dato’ asyik bercerita, pisang goreng dan minuman yang saya pesan datang, begitu juga dengan pesanan Dato’. Cerita Dato’ sempat terhenti karena kami sedang memakan gorengan yang masih hangat. Seteguk demi seteguk Dato’ meminum kopi pesanannya. Dato’ pun meletakkan gelas kopinya di atas meja dan  kopi tesebut sudah sisa setengah dari gelasnya. Dato’ pun melanjutkan ceritanya.
Awalnya mereka bingung ingin memberikan nama untuk kampung tersebut. Setelah ada seseorang yang dipandang bijak oleh penduduk setempat dia pun dijadikan pemimpin untuk pertemuan membahas nama dan pembentukan kampung. Nama pemimpin yang dipandang bijak tersebut adalah H. Mahmud. Warga kampung tersebut pun menggelar rapat. Dengan cara yang sederhana mereka melakukan kesepakatan melihat kondisi pada saat itu banyak tanaman sejenis pakis yang daun dan batangnya berduri yang tumbuh di rawa dan di pinggir sungai jeruju.
Nama tumbuhan sejenis pakis yang tumbuh di rawa dan di pinggir sungai serta rimbun dan besar. Akhirnya mereka pun memberi nama desa tersebut dengan nama “Jeruju Besar” yang kita kenal sekarang dengan nama Jeruju.
Sebelum tahun 1860 sekitar pada tahun 1840 sebenarnya kampung Jeruju ini pernah didiami oleh penduduk. Mereka juga bertanam, bertani, dan beternak. Namun keadaan mereka berubah saat tentara Jepang masuk ke kampung Jeruju Besar dan memaksa penduduk untuk membuat jalan di Pontianak sehingga tidak ada kesempatan untuk penduduk bertani, bertanam, dan beternak. “Wah kejam benar orang Jepang ya To’ di suruh kerja rodi, terus di suruh buat jalan?” ujar saya. “Sangat kejam, mereka tidak berprikemanusiaan,” jawab Dato’ dengan nada sedikit marah dan mengepalkan tangan. Tetapi pada tahun 1860 datang lagi penduduk baru ke kampung Jeruju Besar. Penduduk mulai menanam kembali kelapa, bertani, bertanam, dan beternak. Tahun 1886 tanaman kelapa mulai dipanen. Petani mulai meninggalkan tanaman padi karena lahan telah dipenuhi oleh tanaman kelapa dan aktifitas penduduk pada saat itu adalah memanen kelapa. Dulu juga rumah sudah banyak lahan pertanian yang mulai di bangun dengan rumah untuk tempat tinggal penduduk. Jadi penduduk hanya memanen kelapa yang tidak memerlukan tempat yang banyak. Kelapa juga mudah ditanami sehingga memudahkan penduduk dalam memanen kelapa.
Sejak saat itu diberitahukan kepada semua orang sebuah kampung baru dalam wilayah kekuasaan kesultanan Pontianak. Distrik sungai Kakap dan diresmikan kalau nggak salah bulan Agustus, kata Dato’. Ia lupa tanggal berapa diresmikannya yang Dato’ ingat hanya bulannya saja. H. Mahmud yang dipandang bijak tadi memimpin kampung Jeruju Besar. Sekitar 39 tahun beliau memimpin. Kemudian dilanjutkan oleh H. Yunus memimpin kampung Jeruju sekitar 32 tahun.
Kemudian dilanjutkan oleh Sy. Husin memimpin kampung Jeruju sekitar 24 tahun, kepemimpinan dilanjutkan lagi oleh H. Amin yang saat itu sebagai kepala kampung. Nah, pada saat H. Amin menjadi kepala kampung,  sejalan pada waktu terjadi perubahan nama dari kepala kampung menjadi kepala desa dan akhirnya pada tahun 1989 beliau selesai masa jabatan sebagai kepala desa Jeruju Besar. Kemudian dilanjutkan dengan orang-orang sekarang.

Kata Dato’ sekitar tahun 90-an prasarana jalan mulai dikembangkan melalui pengaspalan. Pada tahun 1997 terjadi krisis moneter di Indonesia, kondisi perekonomian Desa Jeruju relatif tetap alias tidak mengalami perubahan. Terus pada tahun tahun 1999 terjadi banjir besar selama dua hari yang disebabkan hujan besar dan air pasang, namun anehnya tidak berpengaruh terhadap produksi tanaman kelapa. “Seperti ada keajaiban,” ujarku lirih. Yah memang benar kelapa di Jeruju sangat banyak. Jeruju besar yang dulu terkenal dengan rawanya, kini terkenal juga dengan produksi kelapanya yang melimpah.Baca juga: Parit Bangseng: Nama yang Tergantikan

Cerita Dato’ pun selesai. Begitu juga dengan gorengan yang saya makan tanpa terasa sudah habis. Saya pun meminum pesanan saya. “Saya pulang dulu ya, sudah mau Ashar,” ujar Dato’. “Iya, makasih ya Dato’ sudah menceritakan ke saya tentang sejarah Jeruju.”Saya pun pulang ke rumah dengan membawa cerita Kampong Tempoe Doloe Desa Jeruju.

Check Also

Titik Nol Kilometer Indonesia: Pulau Weh?

Oleh Edi Yanto MABMonline.org, NAD —Dengan potensi bahari yang maha indah, Pulau Weh juga menarik …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *