Home / Jurnalisme Warga / Eksotika Sukadana

Eksotika Sukadana

Oleh Sabhan Rasyid

pulau datok kayong utara

MABMonline.org, Sukadana–Sore itu, tim perintis yang terdiri dari sepuluh orang mahasiswa berangkat menuju pelabuhan Rasau. Saya termasuk dalam tim yang diutus untuk mengurus perlengkapan PPM di Sukadana, Kayong Utara. Ketika itu hujan sedang mengguyur Pontianak. Hujan yang cukup deras membuat pakaian dan tas kami menjadi basah.

Selepas magrib, kapal Palung yang mengangkut sekitar 50 orang disertai kendaraan tersebut perlahan meninggalkan Pelabuhan Rasau. Saya dan rekan satu tim mulai menyusun dan merapikan barang yang kami bawa untuk keperluan dua minggu ke depan. Perjalanan terasa sangat lambat karena hanya suasana sunyi yang kami rasakan di awal perjalanan.

Malam mulai menguasai hari. Aktivitas di kapal mulai dipenuhi dengan obrolan, canda anak-anak, dan suara televisi berukuran empat belas inci di ruang istirahat. Saya dan rekan satu tim merasa bosan di tempat istirahat yang tampak penuh sesak. Tim perintis kali ini terdiri dari tujuh orang laki-laki dan tiga orang perempuan.

Anggota perempuan melepas lelah di ruang istirahat selepas kami semua ibadah dan makan malam. Kami anggota tim laki-laki mulai bertingkah di lantai dasar kapal. Di antara deretan sepeda motor yang tersusun rapi, kami menghabiskan waktu malam. Kami bernyanyi, bergurau, dan ada juga yang sakit perut karena diare. Pemandangan beberapa desa yang kami lewati sungguh tampak indah dengan lampu-lampu pijar di tengah kegelapan. Perahu-perahu kecil dengan lampu petromaks juga menambah keramaian lalu-lintas Sungai Kapuas.

Setelah melewati beberapa jam yang menyenangkan, kami pun tak sanggup lagi menahan udara yang semakin dingin dan kelopak mata yang semakin memaksa untuk menutup. Kami akhirnya kembali ke ruang istirahat. Tampak sesak memang, tetapi kami pandai untuk menyelipkan tubuh di antara penumpang lain dan kolong kursi. Laju kapal dan udara dingin terus beradu ditemani mimpi sepuluh orang yang akan memulai perjuangan keesokan harinya.

Jam menunjukkan pukul 05.00 WIB. Beberapa anggota tim melaksanakan ibadah solat magrib. Ada juga yang masih duduk dengan mata layu di depan televisi. Lima belas menit kemudian, kapal mulai bersandar di Pelabuhan Teluk Batang. Kapten kapal memberikan pengumuman bahwa perjalanan melalui sungai sudah berakhir. Para penumpang sibuk mengemasi barang bawaan mereka. Kami juga sibuk membawa tas dan perlengkapan tim. Beberapa puluh menit selanjutnya, semua penumpang beserta kendaraan sudah tidak berada di kapal. Kami mulai menghidupkan motor dan bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan menuju Sukadana.

Pengalaman pertama saya menginjakkan kaki di Kabupaten Kayong Utara membuat saya merasa asing. Namun, perjalanan mengejar fajar di kota 1 km2 tersebut membuat saya sangat bersemangat. Menggunakan lima buah sepeda motor, kami mulai menembus udara sejuk dengan kecepatan lumayan tinggi. Tepat pukul 06.30 kami tiba di rumah seorang rekan, yakni Mellisa yang asli Sukadana.

Pancaran mentari berkolaborasi dengan embun yang semakin memudar di balik bukit-bukti membuat saya terkesima. Sebuah kecamatan yang masih asri dengan pemandangan alam yang menakjubkan dan masyarakat yang ramah penuh senyum. Pagi itu juga kami melakukan rapat singkat dan tim mulai bergerak untuk berkoordinasi dengan dinas terkait untuk kegiatan PPM (Pengabdian Pada Masyarakat) Himbasi FKIP Untan yang akan diadakan satu minggu ke depan.

Kegiatan lobi dan koordinasi dengan pejabat setempat terjadi dengan sangat lancar. Keramahan dan sikap saling menghargai sangat saya rasakan di Sukadana. Selain mengunjungi dinas terkait, kami juga berkoordinasi dengan pihak keamanan dan pejabat desa yang juga memberikan perhatian penuh terhadap kami.

Kegiatan tim perintis tidak hanya berkaitan dengan pengurusan izin kegiatan. Saya dan rekan juga mempersiapkan penginapan dan segala sesuatu yang dibutuhkan peserta. Kami juga mempersiapkan kendaraan yang nantinya akan digunakan untuk menjemput peserta, panitia, dan dosen pendamping.

Jadwal persiapan yang padat tidak membuat kami menjadi lemah semangat. Pada waktu-waktu senggang kami juga menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat-tempat eksotis di Sukadana. Tempat-tempat tersebut, yaitu Pantai Pulau Datok, Gunung Lalang, dan Air Pauh.

Baca juga: Berwisata Ke Pantai Kijing

Pukul 05.00 di Minggu pagi, kami sudah bersiap-siap dengan anggota tim yang lengkap. Bukan untuk mendatangi dinas atau membersihkan penginapan, melainkan akan menikmati matahari terbit di Gunung Lalang. Gunung yang lebih tepat disebut bukit tersebut memang terdapat tumbuhan lalang di sebagian wilayahnya. Kami menghabiskan waktu lima belas menit untuk menuju ke sana. Saat matahari masih malu-malu untuk menampakkan dirinya, kami sudah berhasil menapak sampai ke sebuah batu besar. Kegiatan foto-foto dan bergurau kami lakukan dengan riang. Wisata dadakan ke Gunung Lalang cukup efektif membuat kami  merasa terpacu untuk giat menyiapkan perlengkapan kegiatan.

Setelah berwisata singkat ke Gunung Lalang, kami melanjutkan aktivitas di tempat penginapan. Kebetulan hari itu kami telah membuat janji dengan tim dari Dinas Sosial untuk mendirikan dua buah tenda untuk penginapan. Kegiatan tersebut sangat lancar karena kami dibantu oleh puluhan pemuda Sukadana yang dengan senang hati membantu kami mempersiapkan kebutuhan PPM.

Hari yang ditunggu akhirnya datang. Kehadiran peserta yang jumlahnya hampir seratus orang dan ditambah panitia serta dosen pendamping sangat kami tunggu-tunggu. Menggunakan beberapa mobil yang berhasil kami pinjam dari Pemerintahan Kabupaten Kayong Utara dan beberapa truk yang disewa, beberapa anggota tim menjemput peserta di Pelabuhan Teluk Batang.

Rangkaian kegiatan PPM dimulai keesokan harinya. Kesibukan yang melanda panitia sangat membuat saya dan rekan sebagai anggota tim perintis merasa sangat senang karena kami semua akhirya bisa bertemu dan bekerja bersama-sama. Kegiatan yang dilaksanakan pada waktu itu, yaitu penyuluhan pendidikan, seminar kebudayaan, permainan rakyat, bakti sosial, dan malam penutupan.

Seminggu telah berlalu dengan menyisakan kenangan dan kebahagiaan yang sangat mendalam. Keramahan masyarakat dan keindahan alam Sukadana yang memesona membuat kami semua tidak akan  melupakan semuanya. Terutama bagi saya yang baru pertama kali berkunjung ke sana. Perjalanan selama setengah hari memberikan kenangan yang sangat indah dan pengalaman yang sangat berharga.

Saya dan rekan-rekan lain akhirnya kembali menuju Kota Pontianak. Sore itu hujan mengguyur Sukadana. Kejadian yang sangat mirip ketika tim perintis akan berangkat menuju Sukadana. Sekitar pukul 08.00 kapal motor yang sering disebut klotok mulai meninggalkan pelabuhan Teluk Batang. Perjalanan dua belas jam mengarungi sungai kami tempuh dengan rasa letih yang mendera seluruh tubuh.

Pukul 06.00 pagi kami sampai di pelabuhan Rasau, tempat pertama kali tim perintis saling tunggu untuk berangkat ke Sukadana. Perjalanan berpetualang, berjuang, dan berwisata dadakan di Sukadana memang telah berakhir. Namun, sisa keindahan dan eksotika Sukadana masih terus ada dalam hati saya. Sebuah tempat yang sangat indah dan pelayanan yang paripurna. Eksotika Sukadana memang layak sebagai tempat tujuan wisata unggulan.

Check Also

Penulis Muda, Rohani Syawaliyah

Oleh Hira Wahyuni MABMonline.org, Pontianak — Rohani Syawaliah, seorang sastrawan yang berasal dari Jawai, Sambas, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *