Home / Jurnalisme Warga / Eksotisme Kota Ketapang

Eksotisme Kota Ketapang

Oleh Zainal Abidin

MABMonline.org, Ketapang – Panas terik matahari tidak mematahkan semangat kami untuk melakukan perjalanan menuju Ketapang. Berangkat dari Kota Pelabuhan, Teluk Batang pukul 06.30 pagi, kami berharap mendapatkan udara yang sejuk lagi menyehatkan. Hari itu adalah hari Minggu, tanggal 6 Januari 2013. Kami berempat bergegas berangkat untuk menghindari hujan yang kami khawatirkan akan segera turun. Kota Ketapang merupakan Ibukota Kabupaten Ketapang dan cukup terkenal karena objek–objek wisatanya yang akan menyita perhatian siapa saja yang berkunjung kesana.

Lokasi Kota Ketapang tidak begitu jauh dari Teluk Batang, kurang lebih 145 km atau biasanya membutuhkan waktu 3 jam jika ditempuh menggunakan sepeda motor.

Jalan Menuju Ketapang dari Teluk Batang

Untuk menuju ke Ketapang, kita akan melewati Ibukota Kabupaten Kayong Utara, yakni Kota Sukadana yang terdapat di tepi laut. Perjalanan melalui tanjakan tajam yang tidak jauh beda saat kita melaju ke Kota Ngabang melalui gunung Sehak.

Untuk menjangkau Kota Ketapang, kami memilih menggunakan sepeda motor. Patut diperhatikan, kondisi kendaraan harus benar-benar prima untuk ‘melahap’ medan yang cukup berat, baik itu berupa turunan, tanjakan maupun tikungan yang terkadang tajam dan sempit. Di tengah perjalanan, banyak juga kami jumpai angkutan umum berupa bus yang melayani trayek Teluk Batang-Ketapang.

Rasa bingung pun mulai melanda, karena kami berempat belum pernah sekalipun ke Ketapang. Tapi karena keyakinan yang tinggi dan rasa tidak tahu malu, kami bertanya kepada orang di pinggiran jalan. Di setiap persimpangan jalan, saya selalu bertanya kepada orang sekitar. “Permisi, kalau ke Ketapang lewat arah mana ya?” ujar saya. Karena peribahasa pun mengatakan ‘malu bertanya sesat di jalan’. Jadi, artinya kita tidak boleh malu untuk bertanya kepada orang lain.

Saat kami melakukan perjalanan, sempat dihadang oleh kemacetan karena adanya kecelakaan lalu lintas diakibatkan sepeda motor yang mengangkut durian dengan sebuah truk. Maklumlah, saat itu sedang musim buah Durian di Kabupaten Kayong Utara, jadi banyak masyarakat yang menyempatkan diri dan mencari rezeki dengan berjualan Durian ataupun mengangkutnya ke Kota Ketapang. Biasanya para pengangkut Buah Durian ini menuju Kota Ketapang secara beriringan dengan kecepatan tinggi. Mereka bergerombol bersama teman-temannya yang sama-sama mengangkut Buah Durian. Walau terhambat oleh kemacetan, kami tak patah semangat untuk menikmati alam sekitar dan pemandangan selama perjalanan ke Ketapang yang sungguh indah.

Dalam bidang pariwisata di Propinsi Kalimantan Barat, mungkin Ketapang tidaklah setenar Singkawang ataupun Sanggau, tetapi ternyata pemandangan alam di Ketapang sungguh sangat indah dan menakjubkan. Jalanan menanjak, menikung, menurun dan bergelombang dengan hamparan laut kadang terlihat di sepanjang jalan menuju kesana. Hawa sejuk khas pegunungan membuat setiap orang yang lewat ingin berhenti sejenak dan menghirup hawa segarnya sambil menebar pandang ke kejauhan. Segar dan sejuk itulah yang terasa. Jalanan yang dihiasi oleh banyak jembatan dan sungai–sungai yang mengalir indah di bawahnya menambah takjub setiap kedipan mata.

Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 1 jam 30 menit, kami beristirahat sejenak di daerah perbukitan yang merupakan lokasi Pohon Durian banyak tumbuh dan berbuah, menikmati pemandangan hamparan kebun durian yang sangat teduh dan nyaman. Bertepatan musim Buah Durian, banyak pengunjung yang datang ke lokasi ini. Ada yang hanya sekadar melihat pemandangan dan menghirup udara bersih yang sulit didapatkan ketika kita hidup di perkotaan. Ada pula yang sibuk memilih–milih dan melahap Buah Durian, karena di daerah perkebunan ini, kita dapat makan Buah Durian dengan harga yang sangat terjangkau, bahkan cuma- cuma atau gratis.

Selain beristirahat sejenak, kami juga menyempatkan diri untuk mengambil foto serta menikmati durian yang di jual di pinggir jalan kebun tersebut. Durian yang dijual bermacam-macam, tergantung ukuran maupun jenis durian tersebut. Karena tidak memiliki banyak waktu, kami segera memilih Durian dan dengan lahap kami menyantapnya. Maklum, kami ini adalah pencinta durian.

Setelah puas menikmati indahnya pemandangan dan makan Buah Durian, kami melanjutkan kembali perjalanan ke Ketapang yang berada puluhan kilometer di depan kami. Semakin dekat dengan Ketapang, ternyata pemandangan semakin indah dengan dihiasi pepohonan nan rindang. 1 kilometer sebelum sampai, mulai turun rintik-rintik hujan. Karena semakin deras, kami memutuskan untuk singgah di sebuah stasiun pengisian bahan bakar sekaligus mengisi bahan bakar kendaraan kami.

Setelah hujan agak reda, walau rintik-rintik gerimis masih terasa menggoda, kami lanjutkan perjalanan menuju Kota Ketapang. Di bagian paling depan Kota ketapang terdapat sebuah gerbang yang lumayan tinggi dan diatasnya terdapat pahatan bentuk kerang raksasa yang terlihat aneh bagiku. Ternyata setelah dijelaskan panjang lebar oleh salah seorang temanku, aku baru mengerti tentang arti kerang tersebut yang masyarakat Ketapang sebut Ale-ale.

Tak lama kemudian sampailah kami di Kota Ketapang. Di sana kami langsung menuju sebuah ruko tempat Bang Hendra, salah seorang kenalanku telah menunggu kedatangan kami. Untuk selanjutnya, Bang Hendra inilah yang akan menjadi Tour Guide kami selama di Ketapang. Di ruko tempat ia bekerja tersebut, kami berlindung sejenak dari hujan yang masih agak deras di Kota Ketapang, sambil meregangkan otot-otot yang kaku selama perjalanan.

Cuaca dingin hari itu memaksa kami untuk beristirahat sejenak sambil menikmati hangatnya secangkir kopi yang dibuatkan oleh Bang Hendra. “Ini! Silahkan kalian rasakan enaknya. Saya yakin kalian pasti belum pernah nikmati kopi asli buatan orang Ketapang seperti saya ini,” celoteh Bang Hendra yang disambut gelak tawa kami.

Setelah itu, kami bergegas kembali untuk melanjutkan perjalanan di Kota Ketapang dengan mengunjungi Rumah Adat Melayu yang merupakan tempat tinggal Pak Morkes Efendi, mantan Bupati Kabupaten Ketapang. Oleh karena itu, tempat ini sebenarnya bukanlah tempat wisata. Namun, karena keindahannya, rasanya tempat ini sayang sekali kalau dilewatkan jika kita berkunjung ke Kota Ketapang. Suasana yang rindang dan cuaca yang sejuk menambah keindahan tempat ini. Rumah yang megah lengkap dengan ornamen – ornamen khas melayu serta sungai besar yang membentang di bagian belakang rumah bagaikan lukisan hidup yang sangat indah membuat sorot mata kami tidak kenal lelah menikmatinya dengan penuh takjub.

 Rumah Adat Melayu Ketapang
Kediaman Pak Morkes Efendi yang dirancang khusus seperti Rumah Adat Melayu

Sembari mengagumi indahnya tempat itu, kami sempatkan untuk berfoto ria bersama. Apalagi terdapat miniatur kapal Lancang Kuning dalam Rumah tersebut yang menjadi objek utama kami mengabadikan momen di Rumah Megah itu. Saat bersantai di tepi sungai, rasa lelah pun mulai terasa lunas terbayar, terlebih lagi saat percikan air sungai membasuh peluh di wajah.

Ketika Sang Surya mulai menampakkan wajahnya dan pancarkan kembali panasnya, kami berinisiatif untuk bergegas menuju pantai. Bang Hendra pun merekomendasikan Pantai Tanjung Belandang kepada kami dan langsung kami terima tawaran tersebut. Tak lama kemudian sampailah kami di kawasan pariwisata tersebut. Di sana kami langsung menuju tempat parkir. Hari itu, banyak juga pengunjung yang berasal dari luar kota, saya bisa mengetahuinya dari plat nomor kendaraan dan mobil yang ada di parkiran. Ada yang dari Pontianak, Sanggau, Mempawah, Nanga Pinoh, tetapi pengunjung terbanyak adalah dari Kayong Utara.

Pantai Tanjung Belandang memang merupakan satu diantara tempat wisata yang paling banyak dikunjungi di Ketapang, apalagi pantai ini di hiasi pondok-pondok kayu yang berderet indah serta air laut yang berombak. Pasir, bebatuan dan kayu besar seakan membisu memperhatikan derap langkah kami. Pohon-pohon yang rindang menambah kesejukan di pantai ini.

Dan sang surya semakin memancarkan sinarnya, orang-orang semakin ramai berdatangan untuk mengunjungi tempat wisata ini. Banyak muda-mudi yang berkunjung ke tempat ini untuk memadu kasih. “Konon, bagi pasangan yang datang ke pantai ini akan langgeng sampai tua.” Ungkap Bang Hendra dengan nada serius. Banyak juga yang berkunjung ke tempat ini hanya sekadar untuk menikmati hari bersama keluarga tercinta maupun kerabat.

Angin menderu kencang namun sejuk. Air laut menggulung terpecah di bibir pantai.Sayang sekali rasanya kalau kita berada di pantai dan melewatkan tanpa berenang. Kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan langka itu.Saya langsung membuka baju dan celana untuk bisa lebih merasakan sensasi kenyamanan di tempat ini.Hanya sepotong celana pendek hitam dan kaos dalam putih yang melekat dalam tubuh saya saat itu. Kesejukan air laut pun semakin terasa. Saya berjalan perlahan mendekati air laut.Tepat saat tubuh saya tersentuh air, hawa dingin menjalar ke seluruh tubuh, sampai-sampai gigi ini bergetar menahan sensasi sejuknya air laut dan benar – benar hilangkan segala kepenatan.

Tak henti-hentinya aku berdecak kagum atas keindahan panoramanya. Pesona eksotisnya berupa deburan ombak dan pemandangan disekitar pantai. Angin memberikan kesejukan dan rasa damai.Tak ada orang yang berwajah muram disini, semua tertawa lebar, merasakan kebahagiaan berada ditempat seindah ini. Tak terasa sudah lebih dari 1 jam kami berenang. Kami punmelanjutkan hari di pantai untuk mengisi tenggorokan yang sudah kekurangan air.

Gambar : Pantai Tanjung Belandang
Gambar : Pantai Tanjung Belandang

Kami mendatangi pedagang kelapa muda dan membeli beberapa buah kelapa muda.Kemudian kami bawa ke sebuah batang kayu besar dan panjang, cukup untuk duduk berlima sambil beristirahat menunggu matahari terbenam.

Setelah kami puas menyaksikan sunset, hari mulai menjadi gelap. Bang Hendra mengajak kami pulang dan menginap di rumahnya. Aku rasanya masih belum ingin pulang tapi mau bagaimana lagi, hari sudah semakin malam.Akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Tampak wajah teman – temanku semakin hitam karena berjam – jam bernain di pantai dan terkena sengatan matahari. Kami berbagi canda, sambil berjalan dan menutup cerita ini. Tak bisa aku lupakan namamu Pantai Tanjung Belandang, meski kutulis nama mu di pasir dan tersapu ombak. Kau tak akan hilang dari benakku. Kau akan selalu ku kenang sebagai pantai yang eksotis yang hanya ada di Ketapang.

Check Also

Sigondah: Meriam Dahsyat Peninggalan Kerajaan Mempawah

Oleh Kinanti Wulandari Hijau dan damai, kata yang dapat mewakili suasana di tempat ini. Suara burung-burung …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *