Kabar Terkini
Home » Kolom » Hidup Sampai Tua, Belajar Sampai Tua

Hidup Sampai Tua, Belajar Sampai Tua

oleh: Dedy Ari Asfar

Minggu pukul 10.30 saya dan teman-teman tiba di sekretariat Yayasan Asali. Di dalam bangunan yayasan yang di desain terbuka itu sudah menunggu seorang lelaki sepuh. Usia boleh tidak muda lagi, tetapi  lelaki sepuh itu masih tampak segar dan bugar. Ia menyambut kedatangan saya dan teman-teman yang berhasrat menulis tentang orang Tionghoa di Kalimantan Barat. Lelaki ini dikenal sebagai tokoh masyarakat Tionghoa Kalimantan Barat. Namanya Lie Sau Fat atau nama bekennya Xaverius Fuad Asali.

Lelaki Tionghoa ini sangat ramah. Pembicaraan kami tentang Tionghoa berjalan sangat lancar dan mengesankan. Lelaki sepuh ini bercerita bak air sungai mengalir. Kisah-kisah yang didiskusikan bercabang-cabang dan bermanfaat bagi kami yang sedang haus dengan pengetahuan tentang orang Cina di Kalimantan Barat. Petuah-petuah Cina muncul dalam diskusi. Ilmu ekonomi praktis orang Cina diajarkan. Sejarah Cina terurai. Bahkan, situasi Kalimantan Barat zaman Jepang dan Belanda pun masih diingatnya. Ia menegaskan keberhasilan Cina di Kalimantan Barat tidak terlepas dari kerja keras dan pendidikan.

Kerja keraslah yang telah mengantarkan X.F Asali menjadi Presiden Direktur PT Trio Constant Mandiri. Banyak lika-liku, pahit-manis, onak duri, dan suka-duka dilaluinya dalam menakluki kerasnya hidup di tanah Kalimantan Barat. Citra Cina yang kurang baik pada masa-masa kecil dan remaja tidak membuatnya surut dan kalah dengan keadaan. Ia berjuang keras dari  bawah. Pekerjaan sebagai petani pun pernah dilakoninya. Prinsipnya, “Semua bisa jadi uang, tidak ada yang menjadi sampah”. Sampai akhirnya, buah kerja keras dan kejujuran mengantarkannya menginjak tanah  negara-negara di lima benua, “Kecuali Afrika, saya belum pernah,” kata lelaki sepuh ini tersenyum. Rahasia paling penting bagi keberhasilan orang-orang Cina adalah mengutamakan pendidikan.

“Dulu, tiap-tiap desa ada sekolah Cina di Pemangkat. Itu yang membuat orang Cina maju,” tegas X.F.Asali

Asali masih ingat di dalam tubuhnya mengalir darah orang Dayak. Generasi pertama yang menjadi leluhurnya di Kalimantan Barat menikah dengan orang Dayak. Asali sendiri merupakan generasi keempat. Terlepas dari banyaknya fenomena dan pengetahuan kecinaaan yang diceritakannya. Hobi sosok lelaki Cina ini lebih menarik untuk diceritakan. Lelaki yang sangat menggilai dunia tulis-menulis dan membaca ini selalu mengupdate pengetahuannya. “Belajar tak ada batas, seperti pepatah Cina berbunyi Siek hai lu ya ‘seperti laut tanpa batas’”. Prinsip ini yang membuat Asali berkembang dan maju. Menurut Asali batasnya adalah rajin. Rajin akan membuat orang ingin tahu dan terus bekerja keras.

Asali adalah produk pendidikan berbahasa Belanda dan Mandarin. Tidak mengherankan, lelaki yang lahir tahun 1932 ini baru bisa bahasa Melayu dengan lancar pada tahun 1951. Itu setelah ia berhijrah dan menetap di Pontianak. Sebagai penutur berbahasa Ibu Hakka. Asali muda memang kesulitan mengerti  buku-buku berbahasa Indonesia. “Bisa baca tapi tak bisa mengerti,” kenang X.F. Asali. Dia bersikeras ingin mengikuti kursus bahasa Indonesia, tetapi dilarang oleh gurunya.  “Tak usah, Saufat kamu banyak baca surat kabar saja,” kata gurunya. Nasehat gurunya pun diikuti. Malahan, ia banyak membaca buku berbahasa Indonesia. Bacaan favorit yang mengantarkannya pandai berbahasa Indonesia pada tahun 1951 adalah buku berjudul Matahari Terbit jilid ketiga. Sampai sekarang pun buku menjadi oleh-oleh setiap datang dari luar negeri. “Saya harus bayar over weight karena beratnya buku.” Hasil membaca ini pula yang membuat lelaki Tionghoa ini menulis buku berjudul “Aneka Budaya Tionghoa di Kalimantan Barat”. Lelaki sepuh ini berbagi tips dalam belajar “Huak tau lau, siek tau lau ‘hidup sampai tua, belajar sampai tua’” tegas Asali. Prinsipnya, selama masih bernapas, selama itu pula ia harus belajar. Tidak mengherankan, tokoh Tionghoa yang sudah berusia 79 tahun ini masih ingin terus belajar. Benar juga kata pepatah Melayu “Belajarlah engkau sejak masih dalam ayunan sampai masuk ke liang kubur”. Artinya, kita harus belajar seumur hidup (long life education).

BIGTheme.net • Free Website Templates - Downlaod Full Themes