Home / Beranda / Hikayat Mempawah; Raja Kodung dan Putri Banyu

Hikayat Mempawah; Raja Kodung dan Putri Banyu

oleh Abang Yuda Saputra
raja mempawah
Ketika sampai di Mempawah, anda akan melihat sebuah tulisan besar yang berada di tepian sungai yang bertuliskan KABUPATEN MEMPAWAH. Terlebih ketika malam hari, dengan corak warna hijau dan dikhasi kelap-kelip lampu, serta pantulam cahaya yang tampak di sungai maka akan terlihat indah. Jika kita menyusuri Mempawah, maka kita akan disuguhkan banyak penambak ikan di tepi sungai yang mengisyaratkan bahwa masih banyak penduduk yang menggantungkan kehidupannya di aliran Sungai Mempawah ini. Tapi siapa menyangka ternyata ada misteri di balik Sungai Mempawah yang belum banyak orang tahu.

Di sebuah kerajaan Bangkule Rajank, negeri Mempawah Tua, bertahtalah seorang raja yang bernama Raja Kudong. Raja ini memiliki kesaktian yang luar biasa. Namun, dia memiliki cacat fisik, yaitu pada jari tangan yang tidak sempurna (buntung). Meskipun cacat Raja Kudong sangat terampil menebar jala, guna menagkap ikan yang merupakan kegemarannya.“Itu lah sebabnya dikatakan Raja Kudong, sebab jari tangannya buntung. Tetapi dia tidak kalah dengan yang lain. Tetap saja dia suka menjala, karena memamg kegemarannya,” kata Elias Suryani Soren (72), selaku orang tua yang mengetahui cerita Buaya Kuning di Mempawah ketika diwawancarai Jumat, (20/03).

Dia pun berusaha untuk mengobati cacat fisiknya tetapi belum bisa disembuhkan. Dia pun bersumpah pada dirinya sendiri, siapapun yang dapat menyembuhkan penyakitnya, jika ia seorang laki-laki maka akan dijadikan sebagai saudaranya, jika ia perempuan maka akan dijadikan sebagai istrinya. Pada suatu hari, Raja Kudong pergi ke sungai untuk menjala ikan. Ketika hendak menarik jala yang sudah ditebar, ternyata jalanya sangat berat sehingga sang raja tidak mampu untuk menariknya. Akhirnya sang raja memutuskan untuk menyelam ke dasar sungai. Betapa terkejutnya sang raja melihat jala yang berat tersebut ternyata dipegang oleh putri yang cantik jelita.

Ketika berbincang-bincang dengan sang putri, ternyata nama putri nan cantik itu adalah Putri Banyu Mustari. Putri ini pun mengajak sang raja ke Istana yang sangat indah dan megah yang terletak di dalam gua yang luas. Sang raja bertanya kepada putri mengapa dia sengaja menahan jala sang raja. Ternyata si putri sudah mengetahui permasalahan yang dialami sang raja serta dapat menyembuhkan penyakit sang raja dengan tidak mengingkari janji yang sudah diucapkan sang raja. Sang raja dengan yakin mengatakan kepada si putri bahwa sang raja siap memperistri si putri.

Dengan izin yang kuasa, maka jari sang raja pun sembuh. Sesuai dengan janjinya, maka Raja Kodungpun menikah Putri Banyu Mustari. Mereka dikaruniai beberapa anak dan hidup bahagia. Selang beberaa tahun, timbullah kerinduan sang raja dengan negerinya yang ada di daratan dan disampaikanlah kerinduannya itu kepada isterinya.
Sang raja meminta izin kepada isterinya untuk kembali ke darat dan berniat membawa istri dan anaknya untuk tinggal di darat. Namun isterinya tidak dapat menyanggupi permintaan sang raja karena daratan bukanlah alam isterinya. Sang raja berat untuk meninggalkan istri dan anak-anaknya karena begitu besar cinta dan sayangnya. Kewajiban sebagai seorang raja membuat Raja Kodung harus kembali ke darat untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang raja.

Sang raja menghargai keputusan isterinya dan meminta cara agar dapat bertemu isteri dan anak-anaknya ketika kerinduan datang, karena sang raja tidak mungkin bisa kembali lagi istana isterinya. Akhirnya Putri Banyu Lirih memberikan beberapa syarat agar sang raja tetap dapat melihat istrinya. Ketika Raja Kodung hendak ingin bertemu dengan istri dan anak-anaknya, maka Raja Kodung harus melemparkan sebutir telur ayam kampung yang masih mentah, sebatang paku, sebutir kemiri, seutas sirih, segenggam berteh padi dan beras kuning yang sudah dilumuri minyak wangi lalu dilemparkan ke Sungai Mempawah. “Sang Raja tadi, disuruh melemparkan sebutir telur ayam kampung yang masih mentah, sebatang paku, sebutir kemiri, seutas sirih, sejemput berteh padi dan beras kuning yang sudah dilumuri minyak wangi lalu dilemparkanlah ke Sungai Mempawah. Dari itulah yang kita kenal kata bebuang”, tambah Elias Suryani Soren.

Bace ga’: Upacara Setelah Melahirkan, Tradisi Keraton Mempawah

Ketika akan berpisah, Putri Banyu Lirih berpesan bahwa jika menemukan buaya kuning di hulu Sungai Mempawah, maka jangan diganggu, karena buaya kuning ini merupakan keturunan dari perkawinan antara Raja Kodung dan Putri Banyu Lirih. Sang rajapun memegang erat pesan yang disampaikan isterinya. Dengan rasa sedih dan haru, Raja Kodung meninggalkan Putri Banyu Lirih dan anak-anaknya.

Akhirnya Raja Kodung kembali ke kerajaan Mempawah Tua dan sangat ditunggu-tunggu kedatangannya oleh rakyatnya. Raja Kodung dikenal sebagai raja yang bijaksana dan tegas. Sehingga tidak heran jika pada saat itu rakyat sangat merindukan Raja Kodung.

“Apabila Raja itu hendak merindukan istri dan anak-anaknya, maka disiapkanlah perlengkapan yang sudah dibilang tadi untuk ditebarkan di Sungai Mempawah. Muncullah beberapa buaya kuning mendekati sang raja. Maka hilanglah rasa rindu sang raja ini kepada istri dan anak-anaknya. Hal inilah yang membuat keturunan raja-raja Mempawah tetap mengadakan (melestarikan) acara buang-buang itu. Dan karena pesan dari Putri Banyu Mustari untuk tidak menggangu buaya kuning, maka sang rajapun memerintahkan untuk semua keturunannya agar tidak mengacau (mengganggu) buaya kuning tersebut,” tambah Elias Suryani Soren menutup ceritanya.

Check Also

Pontianak Helat Festival Seni Budaya Melayu

Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalimantan Barat menggelar Festival Seni Budaya Melayu VIII di Kota …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *