Home / Cerita Rakyat / Hikayat Nenek Demang Nutup (Demang Bruik)

Hikayat Nenek Demang Nutup (Demang Bruik)

oleh: Yati Herdayanti

Dahulu kala, Bukit Belun yang berada di Nanga Tepuai dan Bukit Amapan yang berada di Nanga Pedian adalah dua bukit yang bersatu. Tingginya hampir mencapai langit. Untuk naik ke langit cukup menggunakan akar beruru (sejenis akar hutan). Akar beruru tersebut, sering digunakan oleh Demang Nutup (orang kayangan) untuk turun ke bumi.

Pada suatu hari anak Denang Nutup sangat ingin makan ikan. Karena hastrat anaknya tersebut turunlah Demang nutup ke bumi, menuju ke suatu lubuk yang bernama Sarai Dalip. Ia membawa perlengkapan seperti jala, beriut (sejenis anyaman dari rota yang berfungsi seperti tas) untuk membawa ikan ke kayangan.

Sesampai di lubuk Sarai dalip, Demang Nutup pun menebarkan jalanya ke sungai. Ia banyak sekali mendapatkan ikan tamun (sejenis ikan sepat). Setelah banyak mendapatkan ikan, ia kembali ke kayangan. Tiba di kayangan ia memasak ikan tamun tersebut. Selesai memasak, ia menyuruh anaknnya untuk makan. Anaknya pun mulai memakan ikan tamun tersebut. Karena kurang hati-hati, anaknya ketulangan ikan. Demang Nutup berusaha meneluarkan tulang ikan di kerongkongan anaknya, namun tidak berhasil. Melihat kejadian tersebut, Demang Nutup sangat marah. Karena marahnya Demang Nutup pun berniat untuk mengangkatkan bukit beluan untuk menutupi sungai Embau agar manusia tidak bisa melewati sungai tersebut.

Setelah jauh ia mengangkat bukit tersebut, ia bertemu dengan kawannya di Lokan Maram, kawannya tersebut memanggilnya.”O…. Demang Nutup hendak kemanakah engkau? singgahlah Demang Nutup ke tempat orang tersebut yang sedang duduk di Lokan Maram yang berada di belakang Nanga Pedian. mereka berdua pun bercerita. Ketikan Demang Nutup hendak meneruskan perjalanannya mengangkat bukit, tiba-tiba bukit tersebut terbenam di Lokan Maram dan tidak dapat diangkatnya lagi.

Kemudian Demang Nutup pun berangkat ke hilir Emabau dan singgah di Ntilang Bosi, nama suatu tempat di hilir Jongkong. Demang Nutup pun membuat pondok di tempat tersebut untuk bercocok tanam. Sambil bercocok taman, ia membuat membuat perahu untuk berangkat ke Jawa, karena ia ingin bertemu dengan raja Cina. Ia membuat perahu dari kayu tangkung bekakak. Laju perahu tersebut ibarat besi dijatuhkan dan haluan dapat ditangkap di kemudi perahu. Di bawah perahu tersebut ia membuat semacam sebuah tempat yang dapat digunakan untuk membawa peralatan.

Setelah perahu tersebut selesai, Demang Nutup menjemur padi di Ntilang Bosi. Kemudian ia berangkat ke Jawa. Setelah sampai ke tanah Jawa, ia disambut oleh raja Cina. Ia dijamu dengan makanan oleh raja Cina. Pada waktu jamuan makan tersebut, Demang Nutup ditanya oleh raja Cina nama serta asalnya. Demang Nutup menceritakan bahwa dia berasal dari Kalimantan Barat.

Setelah ia kembali dan hadapan raja tersebut, raja Cina memerintahkan kepada prajurit untuk memperlakukan Demang Nutup dengan baik. Pada suatu hari, pelayan raja Cina mengantar makanan Demang Nutup ke perahunya. Namun setelah selesai, semua peralatan makan yang ia gunakan tidak pernah dikembalikan. Rupanya piring tersebut dimasukannya ke bawah perahunya. Begiti seterusnya sampai beberapa hari.

Melihat kejadian tersebut, raja Cina curiga dan bertanya kepada Demang Nutup, kenapa piring, cawan yang engkau pakai tidak pernah engakau kembalikan kepada kami, Nenek Demang Nutup menjawab bahwa ia tidak tahu.

Karena curiga, Raja Cina menangkap dan menahan Demang Nutup. Dalam perjalanan ke tahanan Demang Nutup sempat mencabut keris Majapahit dan menancapkannya ke pohon pisang jawa. Seketika itu, hari pun menjadi gelap seolah-olah malam terus dan tidak pernah siang kembali. Melihat kejadian itu, raja Cina pun menjadi heran. Ia menduga pasti ini ada kaitan dengan kekuatan dari orang yang mereka tangkap.

Akhirnya Demang Nutup pun dibebaskan oleh mereka. Raja Cina bertanya kepadanya perihal penyebab hari yang terus-menerus gelap selama Demang Nutup berada dalam tahanan. Demang Nutup menjawab, baiklah kalau begitu, tapi aku memiliki syarat kepada kalian. Apa yang engkau syaratkan, kata raja Cina, keris Majapahit yang aku tancapkan di pohon pisang Jawa yang menyebabkan hari selalu gelap aku berikan kepada kalian. Piring yang aku pakai untuk makan, aku membawanya pulang ke Kalimantan. Raja Cina pun menyanggupi syarat tersebut. Kemudian Demang Nutup kembali ke Kalimantan dan singgah di Ntilang Bosi dan berumah tangga di tempat itu.

Anak-anak dari nenek Demang Nutup tidak ada yang menjadi manusia, tetapi menjadi buaya di Sungai Kapuas. Karena itu orang Embau tidak pernah mati dimakan buaya, karena asal keturunan mereka dari nenek Demang Nutup.

Check Also

Syair Tunjuk Ajar Melayu

oleh: Tenas Effendy 01. Wahai ananda hendaklah ingat Hidup di dunia  amatlah singkat Banyakkan amal …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *